7cloud.asia – Kota Salatiga kembali menduduki peringkat teratas Indeks Pembangunan Manusia (IPM) se-Provinsi Jawa Tengah.
Keberhasilan capaian makro Kota Salatiga tersebut dinilai tidak lepas dari kuatnya modal sosial masyarakat yang mampu mempertahankan predikat sebagai kota paling toleran selama delapan kali berturut-turut.
Anggota Badan Aspirasi Masyarakat (BAM) DPR Cellica Nurrachadiana mengapresiasi keberhasilan ini dan menyatakan bahwa menaikkan angka IPM bukanlah perkara mudah.
Pasalnya, pengukuran IPM melibatkan berbagai parameter kompleks seperti pendidikan, kesehatan, pendapatan per kapita, hingga infrastruktur.
Berdasarkan pemaparan pemerintah daerah, Kota Salatiga kini mencatatkan angka IPM di atas 86, dengan angka pengangguran terbuka serta tingkat kemiskinan yang cukup rendah.
Persentase penduduk miskin di Kota Salatiga berada di angka 4,20 persen. Angka ini setara dengan 8,66 ribu orang dan menempatkan Salatiga sebagai salah satu daerah dengan tingkat kemiskinan terendah kedua di Provinsi Jawa Tengah.
Baca: Mengenal Kota Salatiga, Salah Satu Kota Terindah dan Tertua di Indonesia
Menurut Cellica, menaikkan IPM satu digit itu sangat tidak mudah, karena parameternya dari pendidikan, dari kesehatan, termasuk juga dari pendapatan per kapita ekonomi kerakyatan.
“Jadi secara parameter keberhasilan kota Salatiga kami melihat ini sudah cukup berhasil untuk membangun daerah,” ujar Cellica di sela-sela kunjungan kerja di Salatiga, Minggu (21/6/2026).
Menurut Cellica, stabilitas ekonomi dan pembangunan tersebut bisa diraih karena masyarakat Salatiga yang terdiri dari sekitar 30 etnis mampu hidup berdampingan secara damai dan kompak.
Kondisi lingkungan yang aman dan kondusif inilah yang membuat roda perekonomian dan program pemerintah daerah berjalan optimal.
Dia menyoroti warga Kota Salatiga yang guyub, masyarakatnya kompak, konsisten, komitmen untuk menjaga keberagaman baik dari etnis karena ada tiga puluh etnis di kota Salatiga ini.
“Ini memberikan salah satu alasan kenapa indeks pembangunan manusia dan juga pencapaian-pencapaian terbaiknya ini diraih oleh kota Salatiga karena ini sebagai kota toleran yang delapan kali berturut-turut,” tambah legislator tersebut.
Baca: Makna Sumbu Filosofi dalam Tata Kota Yogyakarta
Saat ditanya mengenai resep di balik bertahannya predikat tersebut, Cellica menegaskan bahwa capaian ini bukanlah hasil kerja instan atau kelompok tertentu saja, melainkan sinergi total dari akar rumput hingga pemangku kebijakan.
Komitmen bersama ini menjadi motor penggerak utama yang menjaga iklim toleransi di Salatiga tetap konsisten.
Saya rasa, ujarnya, ini kaitannya yang pertama adalah komitmen dan konsistensi dari forum kerukunan umat beragama, para tokoh-tokoh agama, para tokoh-tokoh budayawan termasuk juga seluruh masyarakat kota Salatiga dan pastinya dukungan dari pemerintah daerah.
“Jadi ini bukan kerja satu dua kelompok satu dua orang tapi ini kerja keras dari seluruh masyarakat kota Salatiga untuk terus berkomitmen dan konsisten itu kuncinya,” tutup Cellica.

Leave a Reply