Mengapa Menara Air Balai Yasa Manggarai Layak Ditetapkan Menjadi Cagar Budaya

Written by

in

7cloud.asia – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui Dinas Kebudayaan resmi menetapkan Menara Air Balai Yasa Manggarai sebagai Bangunan Cagar Budaya, melalui Keputusan Gubernur DKI Jakarta nomor 403 Tahun 2025.

Menara Air Balai Yasa Manggarai yang dibangun tahun 1920 bergaya arsitektur Nieuwe Zakelikheid ini dinyatakan layak dilestarikan dan ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya setelah mendapat rekomendasi Tim Ahli Cagar Budaya pada 19 Mei 2020.

Menara Air Balai Yasa Manggarai setinggi 35 meter ini dibangun sekitar tahun 1918 oleh Staatsspoorwegen, perusahaan kereta api yang sepenuhnya dimiliki oleh Pemerintah Hindia Belanda.

Awalnya, Menara Air Balai Yasa Manggarai ini menggunakan prinsip bejana berhubungan untuk mengalirkan air dari sumbernya di Bogor ke dua tangki yang ada di dalam menara air ini.

Namun, menara air Balai Yasa ini kini memanfaatkan sumur bor yang digali di dekat SMPN 33 Jakarta untuk mengisi dua tangki tersebut

Baca: Pemprov DKI Jakarta tetapkan 305 objek menjadi cagar budaya dalam 4 tahun terakhir

Menara yang dimiliki dan dikelola PT KAI ini menjadi saksi perkembangan infrastruktur transportasi kereta api modern di Indonesia dan memiliki bentuk yang unik.

Struktur bangunan dua lantai berbentuk segi empat berukuran sekitar 8×8 meter persegi ini ditopang oleh tembok bata tebal dan hanya satu-satunya di Jakarta.

Untuk dapat naik ke atas menara, ada tangga besi di sisi barat selebar sekitar 80 sentimeter. Bangunan memiliki dua lantai dan di atasnya terdapat dua torn atau tempat penampungan air berkapasistas sekitar 50 ribu liter kubik.

Di setiap sisi bangunan terdapat enam lubang angin berukuran 80×80 sentimeter ada enam titik. Kemudian ada lubang angin berukuran lebih besar lagi sekitar 200×80 sentimeter di setiap sisi.

Bangunan ini masih digunakan untuk pengairan atau mencuci kereta api yang ada di Depo atau Balai Yasa Manggarai.

Baca: Menelusuri cagar budaya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat

Di atas bangunan juga terdapat dua toa atau alat pengeras suara milik Musala Nurul Iman yang sengaja dipasang di sana. Terkadang air dari torn itu juga digunakan untuk hajatan warga.

Penjaga menara, Marjono menyebut bahwa sebagian orang sebagai bangunan bersejarah, maka tak heran ada saja orang yang berkunjung. Biasanya mereka datang hanya ingin tahu sejarah bangunan tersebut.

Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Mochamad Miftahulloh Tamary mengatakan, menara air di kawasan Balai Yasa Manggarai tersebut dikenal sebagai salah satu infrastruktur vital pada masa kolonial.

Dan, hingga kini masih berdiri kokoh dan menjadi saksi perjalanan sejarah transportasi perkeretaapian di Jakarta.

Ia menyampaikan, dengan status baru ini, Menara Air Balai Yasa Manggarai mendapatkan perlindungan hukum agar terjaga keaslian bentuk, fungsi, serta nilai sejarahnya.

Baca: Kawasan Kebayoran Lama akan ditataulang

“Penetapan Menara Air Balai Yasa Manggarai sebagai Cagar Budaya diharapkan tidak hanya menjadi upaya pelestarian, tetapi juga membuka ruang bagi pengembangan kawasan bersejarah sebagai destinasi edukasi dan pariwisata kota Jakarta,” ujarnya, Kamis (18/9/2025).

Miftah menyampaikan, Dinas Kebudayaan DKI Jakarta akan melakukan monitoring secara berkala untuk memastikan keaslian bentuk dan fungsi menara tetap terjaga.

Ia menjelaskan, Dinas Kebudayaan DKI Jakarta akan melakukan pendampingan terhadap kegiatan pemugaran dan revitalisasi Cagar Budaya jika ada rencana pengembangan kawasan sebagai tujuan wisata.

Pembahasan perencanaan hal tersebut telah dilakukan dalam rapat Tim Ahli Pelestarian (TAP).

“Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga mengimbau masyarakat untuk ikut serta menjaga keberadaan bangunan tersebut sebagai bagian dari warisan budaya kota,” tandasnya.

Baca: Dinas Kebudayaan mengonservasi pedestal Patung Dirgantara Pancoran

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *