7cloud.asia – Setiap tanggal 7 September, masyarakat dunia merayakan Hari Udara Bersih Sedunia sebagai upaya meningkatkan kesadaran akan bahaya polusi udara pada kelestarian lingkungan
Dalam tulisan sebelumnya telah diulas konsekuensi polusi udara yang tidak bisa dianggap enteng. Polusi udara berdampak sangat buruk pada kesehatan dan bahkan dapat menyebabkan kematian.
Tak hanya itu, polusi udara juga menjadi pemicu utama krisis iklim. Dilansir di unep.org, banyak zat yang sama yang menyebabkan penyakit juga memerangkap panas di permukaan bumi, yang selanjutnya panas ini akan memicu krisis iklim.
Penelitian menunjukkan bahwa apa yang disebut polutan super ini –yang meliputi metana (CH4) dan karbon hitam– bertanggung jawab atas sebagian besar pemanasan global hingga saat ini.
Mengurangi polusi udara dapat menyelamatkan nyawa dan membantu mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Baca: Polusi udara mengakibatkan 8,1 juta kematian dini pada 2021
Seperti diketahui, 17 tujuan pembangunan berkelanjutan tersebut merupakan cetak biru umat manusia untuk masa depan yang lebih baik dan beberapa di antaranya bergantung pada pengurangan polusi udara.
Pengendalian polutan yang meracuni udara, dapat membantu meningkatkan kesehatan masyarakat (SDG3). Hal ini juga dapat menanggulangi kemiskinan (SGD1) dengan memungkinkan pekerja menjadi lebih produktif dan mengurangi jumlah hari kerja yang hilang.
Menekan polusi udara juga dapat membantu mengurangi ketimpangan (SDG10) karena kelompok rentan, termasuk anak-anak dan lansia, cenderung paling menderita akibat udara kotor.
Menangani polusi udara bahkan dapat membantu mengatasi kelaparan (SDG2). Pasalnya, salah satu polutan udara yang umum, ozon permukaan tanah, menghambat pertumbuhan tanaman.
Mengakhiri polusi udara membutuhkan kerja sama internasional. Polutan udara dapat melintasi batas negara, dengan ozon dan beberapa jenis partikulat yang mampu memancar hingga ratusan atau ribuan kilometer dari sumbernya.
Itulah sebabnya para ahli mengatakan satu-satunya cara untuk mengatasi polusi udara dalam skala besar adalah dengan berbagi pengetahuan, menyelaraskan strategi, dan memobilisasi sumber daya mereka dalam kemitraan satu sama lain.
Baca: Udara bersih adalah hak warga negara
Polusi udara dapat dihindari.
Karena polusi udara hadir dalam berbagai bentuk, tidak ada solusi yang cocok untuk semua. Namun, ada beberapa hal sederhana dan hemat biaya yang dapat dilakukan kota dan negara untuk mulai mengatasi masalah ini.
Hal-hal tersebut meliputi:
1. Membangun sistem pemantauan polusi udara yang kuat untuk menginformasikan kebijakan berbasis data dan sistem peringatan dini;
2. Memanfaatkan data global dan ilmu pengetahuan yang andal untuk membuat keputusan guna melindungi kesehatan manusia;
3. Membagikan data kualitas udara secara real-time kepada publik dengan cara yang mudah dipahami;
4. Membatasi emisi dari sumber polusi yang diketahui melalui undang-undang dan peraturan;
5. Memetakan manfaat ekonomi dari mengatasi polusi udara, yang seringkali jauh melebihi biayanya; dan memperkuat lembaga yang dirancang untuk mengatasi polusi udara.
Baca: Polusi udara pengaruhi produktivitas pekerja
Wakil Direktur Divisi Industri dan Ekonomi Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP), Steven Stone mengatakan, pelaku usaha dan individu juga memiliki peran penting dalam kampanye melawan polusi udara.
“Kita membutuhkan semua orang untuk bekerja sama jika kita ingin memenangkan perlombaan menuju udara bersih,” ujarnya.
Laporan terbaru dari Bank Dunia menemukan bahwa kebijakan terpadu yang menargetkan sektor pemanas, memasak, transportasi, pertanian, dan limbah dapat mengurangi separuh jumlah orang di dunia yang terpapar polusi udara tingkat tinggi yang berbahaya.
Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menghabiskan puluhan tahun membantu negara, kota, dan masyarakat mengatasi krisis ini.
Kemitraan di antara para pemangku kepentingan utama telah sangat kuat dalam mendukung upaya penanggulangan polusi udara. Inisiatif tersebut mencakup Koalisi Iklim dan Udara Bersih dan BreatheLife.

Leave a Reply