7cloud.asia – Fast fashion menempati posisi ketiga sebagai pencemar terbesar di dunia menurut 2021 Insight Report Forum Ekonomi Dunia. Industri fast fashion memicu beragam dampak buruk terhadap lingkungan, mulai dari polusi air hingga limbah tekstil dan emisi gas rumah kaca.
Fast fashion juga menguras sumber daya alam dalam jumlah besar setiap tahun, yakni sekitar 141 miliar meter kubik air – dan menyumbang 10 persen dari jejak karbon tahunan global.
Laporan Forum Ekonomi Dunia menyebut industri fast fashion merupakan masalah yang terus berkembang dan membutuhkan perhatian segera.
Ketergantungan industri yang tinggi pada bahan bakar fosil diperkirakan akan meningkatkan emisi gas rumah kaca sebesar 50 persen pada tahun 2030 kecuali ada tindakan yang segera diambil.
Sejumlah pemain besar seperti Zara dan H&M yang diperkirakan akan tetap dominan di sektr ini, mulai menghadapi tekanan yang semakin besar untuk mengadopsi praktik-praktik berkelanjutan.
Pada akhir 2023, Konferensi Iklim PBB atau COP 28 mulai memberikan tekanan kepada pelaku industri fast fashion untuk mengurangi emisinya.
Untuk pertama kalinya, KTT tersebut secara resmi mengakui perlunya beralih dari bahan bakar fosil dan akhirnya memberikan perhatian yang sangat dibutuhkan industri mode – meskipun masih terbatas.
COP 28 menampilkan Peragaan Busana Berkelanjutan perdananya sekaligus mengajak Stella McCartney dan para pemimpin mode berkelanjutan lainnya untuk memamerkan solusi generasi mendatang di industri ini.
Kesadaran ini, ditambah dengan tujuan Piagam Mode Perubahan Iklim PBB untuk membimbing industri menuju emisi nol pada tahun 2050, menyampaikan pesan yang jelas: industri mode harus segera mempercepat peralihannya menuju keberlanjutan.
Meskipun kita masih jauh dari menyembuhkan luka yang ditimbulkan oleh fast fashion di planet Bumi, ada solusi yang dapat dicapai. Energi terbarukan, khususnya, turut membantu industri ini, dengan perusahaan-perusahaan mode raksasa kini menyadari betapa pentingnya transisi menuju energi bersih.
Jadi, seperti apa energi terbarukan dalam ranah mode cepat?
Mesin hemat energi mengoptimalkan penggunaan energi dalam produksi tekstil melalui teknologi canggih seperti motor efisiensi tinggi dan kontrol cerdas.
Hal ini mengurangi konsumsi energi, menurunkan emisi, dan mendukung keberlanjutan sekaligus meningkatkan produktivitas dan kualitas output.
Tenaga surya dapat diintegrasikan ke dalam pabrik, gudang, dan toko ritel untuk menghasilkan listrik di lokasi. Peralihan ke tenaga surya dalam industri tekstil berdampak drastis terhadap emisi gas rumah kaca.
Proyek Photon MAS Holdings tahun 2017 di Sri Lanka membuktikan hal ini dengan pemasangan 67.000 panel surya di seluruh fasilitas MAS yang kini menghemat 18.000 ton karbon dioksida per tahun.
Ladang angin, baik di darat maupun di lepas pantai, menyediakan solusi yang terukur untuk memberi daya pada fasilitas produksi dan jaringan distribusi.
Menurut Laboratorium Energi Terbarukan Nasional (NREL), penggunaan energi angin dapat menghemat hingga 7,88 miliar galon air per tahun untuk setiap 3.000 megawatt (MW) kapasitas angin.
Mengingat betapa intensifnya penggunaan air dalam produksi tekstil dan pakaian jadi, energi angin merupakan solusi yang sangat tepat.
Tak perlu dikatakan lagi, mengintegrasikan solusi ini secara efisien ke dalam operasional merek lebih mudah diucapkan daripada dilakukan.
Penting untuk menyadari keterbatasan yang dihadirkan solusi ini, seperti hambatan infrastruktur dan biaya, terutama di negara-negara berkembang tempat sebagian besar produksi dilakukan.
Selain itu, sifat intermiten sumber terbarukan seperti tenaga surya dan angin membutuhkan solusi penyimpanan canggih untuk memastikan pasokan energi yang konsisten.

Leave a Reply