2,2 Miliar Penduduk Dunia Sulit Mendapat Akses Air Bersih

Written by

in

7cloud.asia – Utusan Khusus bidang Air Sekretaris Jenderal PBB, Retno Lestari Priansari Marsudi mengatakan tantangan pemenuhan kebutuhan air di Indonesia sangat nyata.

Data menunjukkan bahwa kebutuhan air nasional diperkirakan akan meningkat 31 persen pada tahun 2045. ika tidak terpenuhi, hal ini dapat menghambat cita-cita besar kita menuju Indonesia Emas 2045.

Berbicara dalam Focus Group Discussion (FGD) dan seminar terkait Water Security, Jumat (15/8/2025) di Gedung Pusat UGM, mantan Menlu ini mengatakan ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengatasi persoalan tersebut.

Pertama, melakukan inovasi dan implementasi teknologi air, mulai dari hal-hal kecil seperti efisiensi penggunaan air sehari-hari, hingga inovasi besar dalam pertanian dan industri.

Baca: Polusi dan pengelolaan yang buruk dapat memicu krisis air global

Kedua, memperbanyak ahli dan SDM di sektor air, karena saat ini setengah dari tenaga ahli air dunia sudah mendekati masa pensiun, sementara kebutuhan justru meningkat.

“Peran universitas sangat penting untuk melahirkan inovasi dan mencetak ahli baru di bidang air. Kita harus bersiap, karena air bukan hanya isu teknis, tetapi menyangkut survival umat manusia,” terangnya.

Di awal pemaparannya, Retno menyebutkan, dunia menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari pertumbuhan penduduk, perubahan tata guna lahan, hingga perubahan iklim yang sangat mempengaruhi keberlanjutan sumber daya air.

Hampir seluruh negara di dunia sedang menghadapi ancaman krisis air. Data PBB menunjukkan lebih dari 2,2 miliar orang atau sekitar 1 dari 4 penduduk dunia tidak memiliki akses ke sumber air yang aman.

Baca: Krisis air global sudah di depan mata

“Sementara itu, lebih dari 3,5 miliar orang atau sekitar 4 dari 10 penduduk dunia tidak memiliki akses terhadap sanitasi yang layak,” kata Retno

Menurut Retno, bencana yang berhubungan dengan air setiap tahunnya menyebabkan kerugian mencapai 550 miliar dolar, dan 95 persen kerusakan infrastruktur di dunia disebabkan oleh bencana terkait air.

“Kita menghadapi tiga tantangan besar lain soal air, too much (banjir), too little (kekeringan), dan too polluted (pencemaran),” paparnya.

Rektor UGM, Ova Emilia berharap FGD ini menjadi langkah awal bagi UGM untuk memperkuat jejaring akademik dan kontribusi jangka panjang dalam isu ketahanan air di tingkat nasional maupun internasional.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *