7cloud.asia – Yeni Rosa Damayanti dari Perhimpunan Jiwa Sehat (PJS) mengharapkan Indonesia Climate Justice Summit (ICJS) yang akan diselenggarakan pada 26-28 Agustus 2025 meng-highlight pengalaman-pengalaman kelompok rentan yang selama ini jarang diperbincangkan.
Kelompok rentan terkait dampak krisis iklim itu, baik disabilitas, warga miskin maupun warga pesisir dan pulau kecil.
Kelompok masyarakat rentan ini merupakan kelompok yang paling terdampak krisis iklim, tetapi sering terabaikan dalam berbagai pengambilan kebijakan iklim.
“Kami, penyandang disabilitas, sering kali tidak dianggap sebagai bagian dari pembicaraan iklim, padahal kami menghadapi risiko yang jauh lebih besar saat krisis iklim terjadi, misalnya ketika terjadi bencana,“ ujar Yeni dalam briefing media yang dihelat pada Selasa (5/8/2025) di Jakarta.
Erwin Suryana dari Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) menambahkan, warga pesisir selama ini hidup berdampingan dengan laut.
Baca: ARUKI jaring aspirasi masyarakat terdampak krisis iklim
“Tapi sekarang laut kian mendekat dan merampas ruang hidup kami. Krisis iklim bukan sekadar isu global bagi kami, ini kenyataan kami sehari-hari,“ ujar Erwin.
Erwin menambahkan, perlu ada ruang yang dapat mengakomodasi kondisi warga pesisir dan mendorong solusi yang nyata terkait dampak krisis iklim.
ICJS akan dihadiri oleh 500–1000 peserta dari berbagai komunitas, termasuk masyarakat adat, perempuan, penyandang disabilitas, petani, nelayan, buruh, masyarakat miskin kota, dan orang muda
Acara ini antara lain akan diisi dengan pleno, lokakarya tematik, panggung ekspresi rakyat, hingga aksi bersama.
ICJS yang dihelat pada 26-28 Agustus 2025 ini dimaksudkan untuk menghimpun aspirasi masyarakat terdampak krisis iklim di Indonesia.
Baca: Negara maju dan negara berkembang beda pendapat terkait penanganan krisis iklim
Aspirasi tersebut akan dikumpulkan melalui kegiatan ICJS yang mengusung tema “Gerakan Rakyat, Solusi Rakyat: Mengukur Keadilan Iklim dari Lokal ke Global.”
Ketua Panitia Pelaksana ICJS, Puspa Dewy, menyatakan bahwa tema tahun ini menegaskan pentingnya suara komunitas terdampak langsung sebagai kunci perjuangan keadilan iklim.
“Nanti juga ada rumusan-rumusan untuk terwujudnya keadilan iklim, termasuk memperkuat posisi rakyat Indonesia menjelang COP30, bahkan di agenda-agenda atau forum-forum internasional lainnya dalam mewujudkan keadilan iklim,” kata Dewy, dalam briefing media pada Selasa (5/8/2025).
Dewy menegaskan bahwa ICJS menjadi forum strategis untuk memperkuat solidaritas antarrakyat dan komunitas, serta mengembangkan solusi riil berbasis masyarakat, terutama mereka yang paling terdampak oleh krisis iklim.
ICJS diharapkan menjadi ruang bersama untuk merumuskan tuntutan rakyat atas keadilan iklim dan mendorong keterlibatan bermakna masyarakat dalam pembentukan RUU Keadilan Iklim serta agenda Konferensi Iklim COP 30 di Brasil.

Leave a Reply