7cloud.asia – Jika tugas pertama Anda hari ini adalah memilah kotak masuk email yang penuh pada pukul 6 pagi, maka Anda tidak sendirian.
Sebuah laporan Microsoft terbaru yang berjudul “Memahami Hari Kerja Tanpa Batas” menemukan bahwa 40 persen pengguna Microsoft 365 yang online pada jam tersebut sudah memindai email mereka—dan rata-rata pekerja akan menerima 117 email sebelum jam menunjukkan tengah malam.
Belum cukup sampai di situ, pukul 8 pagi notifikasi Microsoft Teams melampaui email bagi sebagian besar pekerja. Rata-rata seorang pekerja menerima 153 pesan obrolan sepanjang hari.
Di Indonesia, situasi ini mirip dengan banjir notifikasi pesan WhatsApp, platform yang paling banyak digunakan di negara ini, termasuk oleh para pekerja.
Lebih lanjut, laporan Microsoft tersebut menyatakan bahwa meski rapat kerap mengambil waktu di pukul 9–11 pagi, interupsi tetap datang setiap dua menit sekali.
Beban kerja yang terus-menerus ini berarti sepertiga kalangan profesional harus membuka kembali inbox email mereka dan menjawab lebih banyak email pada pukul 10 malam.
Singkatnya, kajian Microsoft tentang “tiga termin penting” harian ini (pagi sekali, siang hari, dan larut malam) menggambarkan siklus ritme kerja yang tak pernah berhenti.
Dari perspektif psikologi okupasi, statistik ini lebih dari sekadar hal sepele yang menarik. Statistik ini menandakan serangkaian bahaya psikososial.
Baca: Transisi Karier semakin ‘random’
Teori Batas menyatakan bahwa pemulihan bergantung pada batasan yang jelas dan tegas—baik secara psikologis maupun waktu—antara pekerjaan dan kehidupan lainnya.
Temuan Microsoft menunjukkan batasan tersebut menghilang. Ini mencakup 29 persen pengguna yang memeriksa email setelah pukul 10 malam.
Sebuah studi kepada para profesional Belanda juga menemukan bahwa penggunaan ponsel pintar yang lebih intensif setelah jam kerja memprediksi dampak psikis dan kelelahan yang lebih buruk keesokan harinya.
Hal ini dapat memiliki konsekuensi yang lebih luas. Ketika orang-orang sibuk, terburu-buru, atau tertekan, salah satu hal pertama yang terganggu adalah regulasi perilaku daring mereka.
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa pesan digital yang ambigu atau singkat muncul saat kita sedang terkuras energi. Hal ini jelas dapat mengganggu ketenangan jiwa penerimanya.
Dalam sebuah studi tahun 2024 terhadap para pekerja di Inggris dan Italia, ketidaksopanan dalam email antar rekan kerja memprediksi konflik kehidupan kerja dan kelelahan melalui “invasi teknologi”.
Hal tersebut merupakan hasil kalkulasi kondisi seorang pekerja yang terpapar banjir pesan yang tidak menyenangkan secara terus-menerus.
Penelitian doktoral penulis meneliti bagaimana pekerja merespons pesan yang mereka terima, dan mengungkap nuansanya pada berbagai platform komunikasi.
Baca: Prioritas dan yang dicari Gen Z di dunia kerja
Di antara 300 pekerja di Inggris yang terlibat, pesan yang identik dinilai lebih tidak sopan di email dibandingkan di Teams, terutama ketika bersifat informal.
Para pekerja tersebut menafsirkan 50 persen pesan yang mereka terima di email bernuansa tidak sopan. Adapun di Microsoft Teams hanya 30 persen pesan yang dianggap tidak sopan.
Temuan ini menunjukkan bahwa pilihan platform secara signifikan memengaruhi bagaimana pesan diterima dan ditafsirkan.
Dengan menggunakan wawasan ini, organisasi dapat membuat keputusan yang tepat tentang saluran komunikasi, dan berpotensi mengurangi stres di tempat kerja serta meningkatkan kesejahteraan karyawan dalam prosesnya.
Microsoft menganggap AI akan menyelamatkan pekerja dari kondisi ini. Para bos agen ini dapat meringkas kotak masuk, menyusun balasan, dan membebaskan manusia untuk pekerjaan yang lebih rumit.
Namun, data tersebut mengungkap kontradiksi budaya. Manajer memberi tahu staf untuk berhenti bekerja, tetapi lembar kerja penilaian mereka menunjukkan hal yang berbeda.
Dalam satu rangkaian eksperimen, atasan yang memuji detoks digital di akhir pekan tadi juga menilai mereka yang melakukan detoks kurang mudah dipromosikan dibandingkan rekan kerja yang terpaku pada kotak masuk mereka.
Tidak heran jika data Microsoft sendiri menunjukkan puncak larut malam yang sama, meskipun ada panduan kesejahteraan untuk berhenti bekerja setelah jam kerja.
Tanpa mengubah cara komitmen ditandai dan diberi penghargaan, alat yang lebih cepat berisiko mempercepat pekerjaan alih-alih menghancurkannya. Lantas, adakah cara untuk mengatasi kondisi ini? Temukan jawabannya dalam tulisan selanjutnya.
Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris, Penulis: Marc Fullman (Docotoral Researcher in Organisational Behaviour, University of Sussex Business School, University of Sussex)

Leave a Reply