Empat Rekomendasi UNESCO untuk Pengelola Geopark Kaldera Toba

Written by

in

7cloud.asia – Badan Pendidikan dan Kebudayaan PBB,  UNESCO memberikan empat rekoemdasi kepada pengelola Geopark Kaldera Toba untuk kembali mendapatkan kartu hijau sebagai UNESCO Global Geopark.

Seperti diketahui, pada Oktober 2023 lalu UNESCO memberi peringatan kepada pengelola geopark Kaldera Toba setelah tim penilai yang beranggotakan dua orang berkunjung ke situs itu pada 31 Agustus-4 September 2023.

Empat rekomendasi UNESCO itu dipaparkan Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana membeberkan empat rekomendasi yang diberikan oleh dalam rapat bersama Komisi VII DPR di Jakarta, Rabu (9/7/2025)

Widiyanti mengatakan rekomendasi pertama yakni pengelola Kaldera Toba diminta untuk melakukan diversifikasi cerita geologi dan survei yang lebih luas untuk mencakup lebih banyak situs geologi.

Pengelola juga diminta untuk memilih singkapan yang baik dan mudah diakses yang menunjukkan batuan dasar masing-masing dari empat letusan besar dan fitur struktural destinasi tersebut, serta mempromosikan Kaldera Toba sebagai situs geologi baru.

Setiap situs harus dijelaskan dengan panel penjelasan yang baik secara ilmiah dan dan dipromosikan dalam peta yang komprehensif, di situs dan media lainnya.

Baca: Kartu kuning untuk pengelola Geopark Kaldera Toba

Informasi pada panel dan media lainnya harus bisa dipahami oleh masyarakat umum terutama bagi siswa sekolah.

Rekomendasi kedua yakni melakukan identifikasi dan investarisasi warisan alam, warisan budaya dan warisan takbenda yang tidak ditetapkan dalam geopark dan buat hubung kait di antara semua situs dalam sebuah cerita geopark yang komprehensif.

UNESCO, katanya, juga merekomendasikan untuk meningkatkan visibilitas Geopark Kaldera Toba secara umum, yakni dengan meningkatkan sejumlah panel penjelasan atau interprestasi di wilayah tersebut.

“Berikan perhatian khusus pada visibilitas dan informasi yang disediakan di lokasi mitra penting seperti kawasan pelestarian monyet dan gajah, resor Kaldera Toba dan tempat penting lainnya yang dapat mendukung komunikasi dan daya tarik Geopark yang visibilitasnya masih sangat rendah,” ujar Widiyanti.

Ia menyampaikan perbaruan konten pada akun media sosial juga perlu digencarkan dengan memperkaya konten situs website Geopark.

Website resmi Geopark Kaldera Toba juga harus dilengkapi dengan informasi yang menggunakan versi bahasa Inggris atau bahkan bahasa ketiga, dengan catatan tidak bergantung pada terjemahan otomatis.

Baca: Langkah pengelola Geopark Kaldera Toba terkait peringatan dari UNESCO

Selain logo UGGp dan logo Geopark, pengelola dan pemerintah juga perlu menjelaskan jaringan geopark regional dan global jika relevan pada panel interprestasi, brosur promosi geopark, selebaran, buku, peta dan lainnya.

Materi itu harus dipastikan benar dari sudut pandang ilmiah dan tata bahasa. Kebijakan promosi dikembangkan dengan kriteria yang terperinci dan konkret untuk geopark dan mitranya.

“Uraikan kriteria kemitraan dengan mendefinisikan tugas, tanggung jawab, konsekuensi dan lainnya secara jelas. Berikan pelatihan mitra dan pertukaran ide yang teratur,” tambahnya.

Kemudian terkait dengan jejaring dan pelatihan, Geopark Kaldera Toba diminta untuk bekerja sama dengan geopark lain yang ada di Indonesia dan meningkatkan jaringan geopark regional (APGN) dan global (GGN) dan mempertimbangkan untuk melakukan kemitraan dengan UGGp lainnya.

Perlu pula memastikan bahwa anggota badan pengelola dan pengelola geosite berpartisipasi dalam kursus pelatihan nasional dan regional serta acara peningkatan kapasitas untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang berbagai aspek pengelolaan geopark.

Adapun assessment baru dari pihak UNESCO terhadap Geopark Kaldera Toba akan dilakukan pada 15 Juli 2025 atau pekan depan.

Baca: 12 Geopark di Indonesia yang masuk dalam daftar UNESCO Global Geopark

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *