7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan kabut di sebagian wilayah di Jabodetabek dalam beberapa hari terakhir disebabkan cuaca yang lebih dingin dari biasanya serta kelembapan udara.
Berdasarkan data BMKG, suhu udara di Jabodetabek lebih rendah dari kondisi normal “terutama pada malam hingga dini hari”.
Ketua Tim Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG, Ida Pramuwardhani dikutip BBC Indonesia mengatakan, beberapa wilayah seperti Kota Baru Cikampek di Bekasi dan Jakarta Utara tercatat mencapai 23,1°C, sementara Jakarta Timur 23,3°C, dan Depok 22,1°C.
“Kondisi ini tidak terlepas dari situasi cuaca yang terjadi sejak siang hari sebelumnya,” kata Ida.
“Pada 28 Juni, Jabodetabek diguyur hujan merata dari siang hingga malam, yang kemudian berlanjut pada 29 Juni dengan hujan ringan dan tutupan awan tebal sepanjang hari.”
Menurut Ida, curah hujan yang persisten dan tutupan awan tebal menjadi pemicu utama kabut.
“Sinar matahari terhalang oleh lapisan awan tebal, sehingga tanah dan udara di sekitarnya tidak memperoleh cukup energi panas. Selain itu, proses turunnya hujan juga disertai aliran udara dari lapisan atas atmosfer menuju ke bawah, yang membawa udara dingin ke permukaan,” papar Ida.
“Suhu yang rendah ini kemudian bertahan lebih lama karena kondisi kelembapan udara yang sangat tinggi dan angin yang berembus pelan.”
BMKG mencatat kelembapan udara mencapai lebih dari 90 persen di beberapa lokasi, yang kemudian memicu terbentuknya kabut tipis pada malam hari.
Ida menyebut kabut ini menjadi indikator bahwa udara di dekat permukaan berada dalam kondisi dingin dan lembap yang stabil.
Apakah polusi menjadi penyebab fenomena kabut?
Pihak BMKG menanggapi komentar warganet tentang polusi sebagai penyebab utama kabut pada akhir pekan.
“Pada dasarnya, jika kabut terjadi pada periode yang masih banyak kejadian hujan seperti sekarang ini, hampir dapat dipastikan bahwa kabut tersebut bukan disebabkan oleh polusi,” tutur Koordinator Bidang Analisis Variabilitas Iklim BMKG, Supari, dalam pernyataan kepada BBC News Indonesia.
Supari menyebut kabut yang disebabkan polusi “umumnya muncul pada kondisi kering, ditandai dengan tidak turunnya hujan selama beberapa hari sehingga atmosfer tidak mengalami proses pencucian”.
“Akibatnya, partikel polutan tetap melayang di udara dan tidak terendapkan ke permukaan bumi,” ujarnya.
Lebih lanjut, Supari mengatakan polusi udara cenderung lebih tinggi pada musim kemarau yang kering alih-alih musim hujan.
Polusi dari pembakaran lahan dan sampah serta aktivitas industri dan transportasi menumpuk akibat tidak adanya “pencucian atmosfer” oleh curah hujan. Udara kering dan stabil pada musim kemarau membuat polutan terjebak dekat permukaan tanah.
“Karena tidak ada hujan dan pergerakan udara terbatas, polusi pun menumpuk dan menyebabkan kualitas udara memburuk,” jelasnya.
Terlepas dari adanya penjelasan fenomena kabut tipis oleh BMKG dari sudut pandang meteorologi, isu polusi tetap menjadi perbincangan di media sosial.
Artikel ini memuat konten yang disediakan X. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca X kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah ‘terima dan lanjutkan’.
Nafas Indonesia, perusahaan aplikasi yang bergerak di bidang solusi kualitas udara, menyebut kabut yang dilihat warga pada akhir pekan mengandung polusi.
Data dari jaringan sensor Nafas memperlihatkan kualitas udara sejak Mei 2025 hingga Senin (30/6/2025) cenderung memburuk, menurut Nidaa Fauziyyah, analis data Nafas Indonesia.
Nidaa berkata, situasi seperti ini terjadi seiring masuknya musim kemarau di mana kecepatan angin dan curah hujan berkurang sehingga pergerakan polusi udara lebih sulit untuk terdispersi.
“Kabut itu bukan hanya berisi uap air, tapi ada polusi yang terperangkap di atmosfer akibat akumulasi dari sumber polusi,” ujar Nidaa.

Leave a Reply