Berbagai Upaya Melacak dan Menjaga Kandungan Nutrisi Ikan Salmon

Written by

in

 

7cloud.asia – Untuk menilai takaran penggunaan ikan sebagai pakan dalam akuakultur, perlu menghitung rasio “ikan masuk ikan keluar” (Fifo) layaknya konsep yang mengukur rasio biomassa ikan yang termasuk dalam pakan ikan terhadap biomassa ikan yang akhirnya diproduksi untuk konsumsi.

Tujuannya adalah agar lebih banyak ikan yang diproduksi untuk konsumsi manusia daripada yang digunakan sebagai pakan, dan ini akan menghasilkan Fifo kurang dari 1.

Lembaga sertifikasi seperti Aquaculture Stewardship Council dan Best Aquaculture Practices telah mengadopsi berbagai bentuk metrik Fifo.

Akan tetapi, hingga saat ini, Fifo belum membahas salah satu alasan mendasar untuk memasukkan bahan-bahan laut ke dalam pakan akuakultur, yakni menyediakan kebutuhan omega-3 bagi konsumen.

Tidak ada pertimbangan kandungan omega-3 dalam pakan ikan, maupun dalam produk akhir dalam kedua sertifikasi tersebut.

Baca: Kandungan nutrisi ikan salmon budi daya turun drastis

Demikian pula, penelitian retensi nutrisi pada salmon hanya sebatas meneliti tingkat retensi pakan hingga ikan yang dibudidayakan. Omega-3 yang hilang dalam proses bahan baku ikan menjadi pakan saat ini belum diukur.

Dengan memperkenalkan ukuran baru kami, nutrisi Fifo (nFifo), nutrisi dapat dilacak dari penangkapan ikan liar, pemisahannya menjadi tepung dan minyak, hingga produk akhir yang dijual kepada konsumen.

Metode yang digunakan dalam nFifo lebih mengutamakan penggunaan sumber daya produk sampingan daripada bahan baku murni.

Alhasil, makanan yang mengandung produk sampingan menerima nFifo yang lebih rendah. Secara teori, hal ini seharusnya mendorong inisiatif ekonomi sirkular.

Pembelajaran tersebut penting dalam pengembangan industri bahan makanan laut. Makanan laut sangat mudah rusak, terutama produk sampingannya. Namun, makanan laut juga merupakan sumber omega-3 terkaya, seperti dari ikan haring atau makarel.

Baca: Populasi ikan salmon anjlok akibat pencemaran lingkungan

Akan tetapi, biaya untuk mempertahankan, menstabilkan, menyimpan, dan mengangkut produk sampingan kerap mahal. Ini terutama berlaku di atas kapal penangkap ikan, karena ruang sangat terbatas dan produk sampingan sering kali dibuang ke laut.

Adaptasi metrik yang mencegah pemborosan sumber daya hayati sangat penting untuk produksi pangan berkelanjutan.

Pakan salmon saat ini mengandung sekitar 20 persen hingga 25 persen bahan laut, tetapi hanya sekitar 5 persen yang berasal dari produk sampingan. Hal ini menghasilkan nFIFO sebesar 2,17.

Penggunaan bahan laut yang bersumber dari produk sampingan mengurangi nFifo tersebut hingga di bawah 0,5. Yang terpenting, hal ini tetap memberikan tingkat omega-3 yang sama kepada konsumen.

Jika industri makanan laut serius mengarah pada produksi berkelanjutan, industri tersebut perlu jauh lebih efisien dalam mengelola sumber daya.

Baca: Mikroplastik jadi tantangan serius kesehatan laut

Metrik nFifo menghubungkan penggunaan ikan liar dengan omega-3 yang dikonsumsi dalam salmon yang dibudidayakan untuk pertama kalinya—tetapi metrik ini juga dapat diterapkan pada spesies dan nutrisi lain.

Metodologi ini serupa dengan yang digunakan untuk mengukur dampak lingkungan terhadap perubahan iklim, penggunaan lahan atau air. Metodologi ini memungkinkan untuk menilai pertukaran dari penyertaan dan penggantian bahan-bahan laut dalam makanan ikan di berbagai titik produksi.

Misalnya, meskipun bahan-bahan laut dapat menimbulkan kekhawatiran tentang dampaknya terhadap perikanan, bahan-bahan tersebut memiliki jejak karbon yang relatif rendah dan hampir tidak meninggalkan jejak dibandingkan dengan bahan-bahan nabati.

Hal ini berpotensi mengarah pada pendekatan yang lebih seimbang dan berkelanjutan terhadap produksi makanan laut.

Harapannya, metrik nFifo dan alat yang mudah diakses untuk menghitungnya (tersedia di situs web Blue Food Performance, akan diadopsi oleh lembaga sertifikasi.

Ini juga dapat mendorong agar indikator keberlanjutan yang lebih kompleks menjadi arus utama, yang memungkinkan konsumen membuat pilihan yang lebih bijak berdasarkan nilai gizi dan dampak lingkungan dari produk yang mereka beli.

Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris, Penulis: Richard Newton (Lecturer in Aquaculture, University of Stirling) dan Dave Little (Professor of Aquatic Resources Development, University of Stirling)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *