Cegah Menumpuknya Limbah Elektronik, Konsumen Perlu Suarakan “Hak untuk Memperbaiki“

Written by

in

7cloud.asia – Memperbaiki teknologi dan perangkat elektronik yang rusak tidak selalu mudah. ​​Semakin banyak produsen yang sengaja merancang produk dengan masa pakai yang pendek

Perbaikan perangkat elektronik yang rusak saat ini menjadi lebih sulit karena kurangnya panduan dan suku cadang untuk melakukan perbaikan. Kondisi ini tanpa disadari telah memicu masalah serius bagi lingkungan, yakni menumpuknya limbah teknologi.

Virginia McAll dalam tulisannya di earth.org menulis, gerakan “hak untuk memperbaiki” pun mulai didengungkan di sejumlah negara.

Gerakan ini bertujuan untuk mengubah hal ini dengan mendorong produsen untuk menciptakan produk perangkat elektronik yang lebih mudah diperbaiki.

Hal ini dapat dilakukan dengan memperpanjang siklus hidup suatu produk dan menghilangkan hambatan perangkat lunak yang menghalangi perbaikan oleh pihak ketiga dan memungkinkan perbaikan sendiri.

Baca: Dampak limbah elektronik pada lingkungan

Gerakan ini menarik perhatian pada dampak limbah elektronik, atau e-waste, terhadap planet ini dengan mempromosikan hak konsumen untuk memperpanjang siklus hidup suatu produk melalui perbaikan.

Gerakan ini telah menarik berbagai pendukung, termasuk aktivis teknologi, bisnis perbaikan independen, dan organisasi akar rumput.

Perdebatan meluas ke berbagai aspek teknologi, termasuk peralatan rumah tangga, perangkat, peralatan medis, dan kendaraan.

Dengan digitalisasi yang mendorong permintaan perangkat, proses produksi mengonsumsi bahan mentah. Misalnya, telepon pintar terdiri dari lebih dari 70 komponen yang memanfaatkan lebih dari 60 logam berbeda.

Seiring dengan pertumbuhan digitalisasi, limbah elektronik pun ikut tumbuh. Pada tahun 2022 saja, 14 metrik ton (Mt) limbah elektronik telah dibuang.

Baca: Cara cerdas mengelola sampah elektronik

18 metrik ton ditangani di negara-negara berpendapatan rendah dengan infrastruktur pengelolaan yang tidak memadai; sementara tingkat daur ulang global mencapai 22,3 persen.

Pada tahun 2030, limbah elektronik dunia diproyeksikan akan terus bertambah menjadi 74,7 metrik ton.

Inovasi membuat infrastruktur dan produk elektronik lebih tahan lama dan mudah diperbaiki, tetapi kita juga perlu mempertahankan hak kita untuk menegakkan langkah-langkah ini.

Dan berkat gerakan yang berkembang ini, seruan untuk undang-undang yang lebih besar guna mempertahankan hak konsumen untuk memperbaiki akhirnya membuahkan hasil.

Sejumlah negara, seperti Amerika Serikat, Kanada, Australia dan Uni Eropa telah mengadopsi tuntutan ini dan menyediakan aplikasi layanan secara daring di repair.org.

Baca: Cara cerdas kurangi jejak karbon perangkat elektronik

 

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *