7cloud.asia – Aktivis lingkungan Swedia Greta Thunberg menyatakan pasukan Israel menculiknya selama misi bantuan ke Gaza
Dalam sebuah pidato video yang dipublikasikan pada Senin, Greta Thunberg menyerukan tekanan pada Swedia untuk mengupayakan kebebasan seluruh relawan.
“Kami telah dicegat dan diculik di perairan internasional oleh pasukan Israel atau pasukan yang mendukung Israel. Saya mendesak semua teman, keluarga, dan kawan saya untuk menekan pemerintah Swedia agar membebaskan saya dan yang lainnya sesegera mungkin,” kata Thurnberg dalam sebuah video yang dipublikasikan oleh Freedom Flotilla Coalition, yang mengoperasikan kapal tersebut.
Sebelumnya, Reuters melaporkan bahwa militer Israel menaiki kapal pesiar Madleen, yang ditumpangi Greta Thunberg dan relawan lainnya menuju Jalur Gaza, lalu saluran komunikasi dengan kapal tersebut terputus.
Otoritas luar negeri Israel kemudian mengatakan bahwa kapal tersebut berlayar menuju ke pantai Negeri Zionis itu, dan bahwa semua penumpang diharapkan untuk kembali ke negara mereka.
Baca: Warga Gaza diserang saat mengantri makanan di pusat bantuan
Israel menuduh Thunberg mencoba melakukan “provokasi media,” tetapi menyatakan bahwa bantuan kemanusiaan yang ada di kapal tersebut akan tetap dikirim ke Jalur Gaza melalui saluran kemanusiaan yang ada.
Selain Greta Thunberg, Madleen yang berbendera Inggris juga membawa sekitar sepuluh relawan pro-Palestina lainnya. Kapal tersebut berlayar ke Jalur Gaza dari Mesir.
Kapal bantuan Madleen berlayar membawa bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza, Palestina, dicegat pasukan Zionis Israel dan relawannya ditangkap pada Minggu (8/6/2025) demikian menurut Koalisi Freedom Flotilla.
“SOS! Para relawan di kapal ‘Madleen’ telah diculik pasukan Israel,” menurut organisasi internasional yang menyelenggarakan misi bantuan tersebut melalui Telegram.
Sementara, Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa Francesca Albanese yang berkomunikasi dengan nakhoda kapal Madleen mengatakan bahwa saat kapal dicegat Israel, tidak ada relawan yang terluka.
Baca: Jebakan Gaza Humanitarian Foundation tewaskan puluhan warga Palestina
“Sang nakhoda meminta saya merekam,” kata Albanese yang mengaku mendengar ucapan tentara Zionis di tengah panggilan dengan nakhoda sebelum sambungan komunikasi terputus.
“Koneksi saya dengan nakhoda terputus saat ia memberitahu saya bahwa ada kapal lain yang mendekat,” ucap Pelapor Khusus PBB itu.
Tentara laut militer Zionis Israel menaiki kapal Madleen yang masih berada di perairan internasional, menurut Koalisi Freedom Flotilla yang memastikan komunikasi dengan kapal bantuan tersebut telah terputus.
Siaran langsung di kapal tersebut memperlihatkan Madleen dikepung kapal-kapal Israel. Tentara Zionis yang menaiki Madleen juga memerintahkan para aktivis mengangkat tangan.
Otoritas luar negeri Israel menyatakan bahwa angkatan lautnya memerintahkan Madleen mengalihkan jalur dengan dalih bahwa kapal tersebut mendekati apa yang mereka sebut “kawasan terlarang”.
Baca: Israel kuasai 77 persen wilayah Gaza
Demi menerobos blokade terhadap Jalur Gaza dan mengirimkan bantuan kemanusiaan ke wilayah itu, Koallisi Freedom Flotilla meluncurkan misi kemanusiaan terbaru dengan kapal layar sepanjang 18 meter bernama Madleen.
Menurut organisasi tersebut, kapal Madleen membawa bantuan yang amat mendesak bagi warga Gaza, termasuk susu formula bayi, tepung, beras, popok, perangkat pemurni air, serta pasokan obat-obatan dan alat medis, kruk dan alat prostetik anak-anak.
Kapal tersebut berlayar dari Pelabuhan San Giovanni Li Cuti di Catania, Pulau Sisilia, Italia Selatan, pada 1 Juni.
Sebanyak 12 orang yang ikut serta dalam pelayaran tersebut, termasuk 11 aktivis dan seorang jurnalis. Di antara mereka ialah aktivis iklim Swedia Greta Thunberg, anggota Parlemen Eropa Rima Hassan yang berdarah Prancis-Palestina, dan jurnalis Al-Jazeera Mubasher dari Prancis, Omar Faiad.
Aktivis lainnya yaitu Yasemin Acar dari Jerman, Baptiste Andre, Pascal Maurieras, Yanis Mhamdi and Reva Viard dari France, Thiago Avila dari Brasil, Suayb Ordu dari Turki, Sergio Toribio dari Spanyol, dan Marco van Rennes dari Belanda.
Sumber: Antaranews.com/Anadolu-Sputnik-OANA

Leave a Reply