Indonesia Mengirim Jemaah Haji Terbanyak, Tapi Penyelenggaraan Ibadah Hajinya Masuk Grade D

Written by

in

7cloud.asia – Kualitas penyelenggaraan ibadah haji Indonesia perlu ditingkatkan secara signifikan agar tidak terus dipandang sebelah mata oleh Pemerintah Arab Saudi.

Indonesia merupakan negara yang mengirimkan jumlah jemaah haji terbanyak di dunia adalah Indonesia, dengan kuota 221.000 orang untuk musim haji tahun 2025. Kemudian diikuti oleh Pakistan, India, Bangladesh, dan Nigeria.

Anggota Timwas Haji DPR Adies Kadir menyebut, saat ini penyelanggaraan ibadah haji Indonesia masuk kategori layanan haji grade D, padahal dengan penataan yang baik, Indonesia mampu naik ke grade B.

“Haji Indonesia sebenarnya bisa naik ke grade B. Sekarang ini kita masih dianggap grade D, jadi pemerintah Saudi pun menganggap kita remeh,” kata Adies kepada Parlementaria, di Mina, Makkah, Sabtu (7/6/2025).

Baca: Sejumlah masalah terkait penyelenggaraan ibadah Haji 2025

Wakil Ketua DPR ini mengungkapkan, salah satu penyebab rendahnya posisi Indonesia dalam sistem layanan haji internasional adalah struktur pembiayaan yang belum efisien dan penataan teknis yang masih lemah.

Ia mencontohkan, durasi penyelenggaraan haji selama ini selalu dipatok 40 hari tanpa perhitungan ulang yang berbasis kebutuhan aktual.

“Padahal bisa dihitung ulang—apakah cukup 29 atau 31 hari saja. Pengurangan hari itu bisa memangkas biaya cukup signifikan. Ini penting agar biaya haji efisien dan layanan meningkat,” ujar Politisi Partai Golkar ini.

Adies menekankan pentingnya pengaturan keberangkatan, penyesuaian jumlah hari di tiap lokasi ibadah (seperti Makkah, Mina, dan Muzdalifah), serta penerapan standar operasional prosedur (SOP) yang ketat.

Baca: Haji Furoda makin tak pasti, aturan haji harus direvisi

Dengan cara ini, ujarnya, biaya penyelenggaraan haji bisa ditekan tanpa menurunkan kualitas pelayanan.

Saat ditanya soal kemungkinan pembentukan Pansus Haji Jilid II, Adies menyatakan lebih memilih pendekatan dialog antara DPR dan pemerintah, terutama dengan Presiden Prabowo Subianto.

“Kalau bisa dibicarakan baik-baik, kenapa harus sampai ke Pansus? Saya yakin Presiden Prabowo juga ingin agar rakyatnya berhaji dengan nyaman, aman, dan bahagia serta kembali dengan haji yang mabrur,” ucapnya.

Menurut Adies, selama ada komitmen bersama antara pemerintah dan DPR, penataan sistem haji nasional bisa dilakukan tanpa harus melibatkan konflik politik.

“Ini urusan agama, semua bisa dirembukkan. Kalau urusan politik, baru sulit dirembukkan,” pungkasnya.

Baca: Dugaan penyalahgunaan kekuasaan dalam pengalihan kuota haji tambahan

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *