7cloud.asia – Kulit bawang merupakan salah satu sampah rumah tangga yang sering dibuang begitu saja. Banyak orang hampir selalu membuang kulit bawang saat memasak.
Mulai sekarang, jangan lagi lakukan itu karena kulit bawang menyimpan sederet manfaat dan dapat dimanfaatkan bagi tanaman dan kesehatan. Selain bisa dijadikan pupuk organik cair atau pestisida alami untuk tanaman,
Seperti banyak kulit buah dan sayuran, kulit bawang mengandung zat kimia yang disebut flavonoid, yang memiliki sifat antioksidan dan antiperadangan.
Jadi Anda bisa memanfaatkan khasiat ini, dengan mengolah kulit bawang menjadi bubuk yang selanjutnya dimanfaatkan untuk beragam hal baik sebagai herbal, bumbu ataupun pewarna kain.
Di media sosial, sekelompok orang mengeringkan kulit bawang dan menggilingnya untuk menjadi bubuk. Jika Anda ingin mencoba, maka mulai sekarang sisihkan lapisan luar bawang yang biasa kita buang untuk dijadikan “bubuk”.
Baca: Jangan lagi membuang kulit buah menjadi sampah
Anda dapat mengeringkan kulit bawang selama beberapa jam di oven, lalu memasukkannya ke dalam food processor. Untuk hasil yang lebih memuaskan tambahkan garam.
Ini akan meningkatkan rasa dan kemudian mencampur itu ke bumbu rempah-rempah umum untuk mengurangi rasa bawang.
Anda juga dapat mencoba cara yang sama sekali berbeda. Flavonoid ini dapat direbus dan diekstraksi dari sayuran, menghasilkan pewarna berwarna yang kuat.
Warna jingga, kuning, dan cokelat dapat diekstraksi dari kulit bawang dengan cara direbus dan digunakan untuk mewarnai kain.
Tanin (jenis molekul yang sama yang memberi rasa kering pada anggur) juga ditemukan di lapisan luar bawang. Rasa pahitnya menghalangi makhluk yang lapar mengontaminasi.
Baca: Eko Enzim cairan ajaib untuk lingkungan
Namun, sama seperti tanin yang membuat noda anggur sulit dihilangkan, tanin dalam bawang juga dapat menjadi pewarna efektif untuk serat seperti katun dan linen, yang biasanya perlu diberi bahan dasar fiksatif yang disebut mordan untuk memastikan pewarna bertahan lama.
Dan berikut pengalaman Francis Agustin memanfaatkan kulit bawang untuk pewarna, sebagaimana dilansir di BBC Indonesia:
Pertama, saya mencuci kain (saya menggunakan kaus kaki bersih) dalam air hangat untuk menghilangkan minyak atau kotoran yang masih menempel, yang dapat menghambat efektivitas pewarna.
Setelah mengeringkan kain, saya memasukkan kulit bawang ke dalam panci logam besar dan ditambah sekitar dua cangkir air (jumlah pewarna dan air tergantung pada seberapa besar kainnya).
Dengan api sedang, didihkan kulit bawang, dan biarkan larutan mendidih selama sekitar 15 menit, hingga air berubah menjadi warna kuning tua.
Baca: Manfaatkan kulit jahe semaksimal mungkin
Saat kain hampir kering, matikan api dan angkat kulit bawang dengan sendok berlubang. Celupkan kain ke dalam larutan pewarna panas hingga seluruhnya tertutup dan biarkan selama 30 menit hingga satu jam.
Tanpa memeras kain, biarkan di tempat yang dingin hingga kering. Jika warna kuning pada kain tidak cukup kuat, ulangi proses perendaman hingga mencapai warna yang diinginkan.
Saya sangat terkejut dengan hasil percobaan menggunakan kulit bawang sebagai pewarna dan berencana untuk mencobanya lagi.
Kaus kaki saya berwarna jingga musim gugur, tetapi dengan penggunaan berbagai jenis bawang atau bahan pengikat, warna kain dapat berubah mulai dari kuning sawi cerah hingga hijau pinus yang kalem.

Leave a Reply