Paradigma Pariwisata Berubah: Pemerintah Diminta sesuaikan Diri

Written by

in

7cloud.asia – Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI), Azril Azhari mengatakan sejak sebelum tahun 1980 paradigma pariwisata selalu bergeser mengikuti perkembangan zaman.

Pergeseran paradigma itu mulai dari pariwisata yang melibatkan jumlah kunjungan yang amat besar (mass tourism) sampai dengan customized tourism.

Belakangan ini, Azril menilai bahwa wisatawan membutuhkan pariwisata yang konsepnya berbasis pada minat khusus.

Contohnya seperti pengalaman pariwisata yang lebih dalam dan berarti (slow tourism), pariwisata kesehatan (health tourism) hingga pariwisata budaya (culture tourism).

Baca: Perubahan pola kerja dorong perkembangan slow traveling

Sebagai contoh slow tourism adalah pariwisata yang fokus pada pengalaman yang lebih dalam dan lebih berarti, dengan interaksi dengan masyarakat lokal, lingkungan, dan budaya.

”Lain halnya dengan pariwisata massal yang dianggap merusak lingkungan dan budaya lokal,” ujar dia dikutip dari Antaranews.com, Kamis (10/4/2025)

Dengan adanya tren tersebut, pemerintah diminta untuk lebih menghargai lingkungan, budaya lokal dan mampu berinteraksi dengan masyarakat lokal setempat.

Hal itu bertujuan agar para wisatawan yang datang bisa mendapatkan pengalaman yang sangat berkesan melalui pariwisata yang berkelanjutan.

Azril menekankan pentingnya bagi pemerintah untuk mengikuti pergeseran paradigma pariwisata agar dapat meningkatkan kunjungan wisatawan baik secara domestik maupun internasional.

Baca: Slow traveling bikin liburan jadi lebih bermakna

“Kita belum sadar bahwa sudah terjadi pergeseran paradigma pariwisata. Di tahun 2023-2025 itu terjadi customized tourism, sementara di tahun 2025 dan seterusnya bisa saja krisis ekonomi jilid dua dimulai?” katanya.

Azril turut menyarankan upaya yang dapat pemerintah lakukan selanjutnya adalah membuat kebijakan yang mengacu pada paradigma pariwisata yang sudah bergeser seiring dengan pergeseran juga pada perilaku pengunjung.

Di sisi lain, ia turut mengingatkan bahwa kebersihan, keamanan dan keselamatan lingkungan (K3L) merupakan suatu pra-syarat untuk membangun sebuah destinasi wisata.

“Artinya bukan merupakan suatu gerakan atau imbauan tapi pra-syarat. Lakukanlah penghargaan dan hukuman melalui monitoring dan evaluasi. Hal ini merupakan indikator dasar di Travel and Tourism Development Index (TTDI),” kata Azril.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *