Simak! Hal-hal yang Dapat Dipelajari dari Negara-negara Paling Bahagia di Dunia

Written by

in

7cloud.asia – Finlandia kembali dinobatkan sebagai negara paling bahagia di dunia untuk kedelapan kalinya secara berturut-turut.

Finlandia kembali menempati posisi teratas dengan skor rata-rata 7,736 dari total nilai 10, mengungguli tiga negara Nordik lainnya dalam Laporan Kebahagiaan Dunia 2025 yang disponsori PBB.

Para ahli menyebut mudahnya akses untuk menikmati alam dan sistem kesejahteraan yang mumpuni disebut sebagai kunci mengapa Finlandia dinobatkan menjadi negara paling bahagia.

Studi tersebut juga menemukan bahwa orang asing dua kali lebih baik dari yang dipikirkan orang. Studi tersebut mengukur kepercayaan terhadap orang yang tidak dikenal dengan sengaja menghilangkan dompet.

Hal ini untuk melihat berapa banyak dompet dan isinya yang dikembalikan, dan membandingkannya dengan berapa banyak orang yang mengira akan mengembalikannya.

Tingkat pengembalian dompet hampir dua kali lebih tinggi dari yang diperkirakan orang dan studi tersebut, yang mengumpulkan bukti dari seluruh dunia, menemukan bahwa kepercayaan terhadap kebaikan orang lain lebih erat kaitannya dengan kebahagiaan daripada yang diperkirakan sebelumnya.

John F. Helliwell, seorang ekonom di University of British Columbia dan salah satu pendiri editor laporan tersebut, mengatakan bahwa data eksperimen dompet menunjukkan “orang-orang jauh lebih bahagia tinggal di tempat yang menurut mereka orang-orang peduli satu sama lain”.

Pertanyaan yang lebih besar adalah: apa hakikat dari kebahagiaan itu sendiri? Apa yang bisa kita lakukan untuk menjadi lebih bahagia?

Baca: Finlandia kembali dinobatkan sebagai negara paling bahagia di dunia

Perasaan bahagia sebetulnya dapat dijelaskan melalui sains. Tubuh kita membutuhkan keseimbangan empat hormon penting: dopamin, oksitosin, serotonin, dan endorfin.

Semua orang pasti pernah berhadapan dengan tantangan kesehatan mental. Akan tetapi, sebenarnya ada langkah-langkah sederhana untuk menyeimbangkan kondisi kimia tubuh dan meningkatkan ketentraman.

Owen O’Kane, psikoterapis dan penulis buku Addicted to Anxiety, mengurangi stres adalah yang paling utama. Dia menyebut kesibukan masa kini membuat orang-orang cenderung tidak bahagia.

“Selama bertahun-tahun, yang menjadi perbincangan adalah melakukan lebih banyak hal—budaya kerja dengan produktivitas yang lebih tinggi,” ujarnya.

“Padahal sudah ada banyak bukti tentang manfaat dari melakukan lebih sedikit serta mempraktikkan meditasi dan kesadaran penuh [mindfulness].”

O’Kane menekankan budaya “selalu aktif” memicu generasi yang cemas dan kecanduan akan proses kecemasan.

“Bagi kebanyakan orang, kecanduan…datang dengan rangsangan dan janji untuk ditenangkan, atau pelarian,” imbuhnya.

“Kecemasan datang dengan janji untuk membuatmu aman.”

Baca: Sederhanakan hidup dengan minimalisme agar lebih bahagia

Dia menjelaskan bahwa orang-orang terjebak dalam pemikiran berlebihan dan perilaku yang menyertainya.

Mereka merasa bahwa, tanpa proses kecemasan, sesuatu yang salah akan terjadi dan “hidup dengan tingkat kekhawatiran yang terus bertambah” adalah hal yang normal.

Mengenali ambang batas stres
Dr. Claire Plumbly, psikoterapis dan penulis buku Burnout: How to Manage Your Nervous System Before it Manages You, memperingatkan bahwa stres bisa menumpuk seiring berjalannya waktu.

Artinya, satu kejadian kecil saja bisa memecah stres di kepala. Tiba-tiba saja Anda berteriak pada orang asing atau menangis tersedu-sedu karena sebuah lagu.

Dr. Plumbly mengatakan bahwa ‘ledakan’ ini bisa menjadi tanda peringatan: “Keletihan psikologis [burnout] pada dasarnya adalah reaksi stres. Ini adalah perasaan terkuras, lesu, kelelahan emosional ketika Anda kehilangan seluruh spektrum pengalaman Anda.”

Rasa jengkel berubah menjadi perasaan lepas atau tidak acuh. Anda pun menjadi terlalu lelah untuk memberikan kasih sayang. Bagi orang tua atau pengasuh, ini bisa sangat meresahkan.

Baca: 10 Obsesi yang layak dibuang demi kehidupan yang lebih bahagia

Untuk mencegahnya sejak dini, Dr. Plumbly menyarankan untuk mengukur perasaan Anda dengan skala burnout 1-5 dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), untuk mendapatkan perspektif.

“Siapa pun yang mendapat skor di atas tiga berada dalam rentang burnout,” tambahnya.

Stres kronis akan terasa dalam tubuh, menurut ahli saraf. Mereka menyarankan orang-orang untuk mempelajari tanda-tanda fisik ketika stres meningkat.

O’Kane mengatakan masalah tekanan darah dan himpitan dada adalah tanda-tanda yang umum terjadi. Ini karena tubuh dapat merasa “terbatas dan waspada, menunggu untuk menghadapi ancaman”.

Rasa nyeri, kabut otak, bahkan sesak napas atau sakit kepala juga bisa terjadi.

O’Kane mengajarkan teknik untuk melepaskan ketegangan ke klien-kliennya.

Dia menyarankan untuk berjalan-jalan atau mengulangi mantra yang dapat membantu menenangkan otak.

“Biarkan tubuh rileks, meski hanya beberapa menit dalam satu waktu,” ujarnya.

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *