Tag: bahagia

  • Banyak Orang Lajang Merasa Bahagia, Tapi Hidup Melajang Tak Selalu Sukses

    Banyak Orang Lajang Merasa Bahagia, Tapi Hidup Melajang Tak Selalu Sukses

    7cloud.asia – Jumlah orang dengan status lajang atau tidak menikah terus meningkat di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

    Orang melajang karena berbagai alasan: ada yang memilih untuk tetap single, ada yang fokus pada tujuan dan aspirasi pribadi, ada yang mengatakan bahwa berkencan menjadi lebih sulit, dan beberapa menjadi lajang lagi karena putusnya hubungan.

    Banyak orang yang melajang merasa lebih bahagia, namun, tidak semua orang berhasil dalam kehidupan lajangnya. Studi yang dilakukan di Kanada menunjukkan bahwa faktor krusial penentunya adalah gaya keterikatan seseorang.

     

    Orang lajang bisa merasa aman maupun tidak
    Dalam penelitian terbaru tersebut, tim psikolog sosial dan klinis meneliti gaya keterikatan orang lajang dan bagaimana kaitannya dengan kebahagiaan dan kesejahteraan mereka.

    Tim yang terdiri dari berbagai universitas melakukan dua penelitian, satu terhadap 482 orang yang masih single di usia muda dan yang lainnya terhadap 400 orang yang sudah lama melajang.

    Tim menemukan, secara keseluruhan 78 persen dikategorikan “insecure”, dan 22 persen lainnya dikategorikan “secure” atau yakin terhadap diri dan pilihannya.

    Baca Juga: Apakah Orang Tetap Bahagia Meski Lama Melajang?

    Pengamatan lebih dekat atas hasil ini menunjukkan empat subkelompok lajang yang berbeda:

    Orang dengan status lajang yang secure relatif nyaman dengan keintiman dan kedekatan dalam hubungan. Kelompok ini mencapai 22 persen dari responden yang diteliti.

    Sedangkan para lajang yang cemas anxious) mempertanyakan apakah mereka dicintai oleh orang lain dan khawatir ditolak, ini mencapai 37 persen.

    Para lajang yang menghindar (avoidant) merasa tidak nyaman berada dekat dengan orang lain dan memprioritaskan kemandirian mereka (23 persen dari para lajang yang lebih muda dan 11 persen dari para lajang yang lebih tua dan sudah lama tinggal)

    Para lajang yang takut (fearful) memiliki kecemasan akan pengabaian, namun sekaligus merasa tidak nyaman dengan keintiman dan kedekatan (16 persen dari para lajang yang lebih muda dan 28 persen dari para lajang yang lebih tua dan sudah lama lajang).

    Kehidupan lajang itu menantang, tetapi para lajang juga bisa merasa aman dan berkembang.

    Baca Juga: Generasi Muda yang Menunda Menikah di Indonesia Terus Meningkat

    Temuan kami juga mengungkapkan bahwa subkelompok lajang yang berbeda-beda ini memiliki pengalaman dan hasil yang berbeda pula.

    Para lajang yang secure dan merasa senang menjadi lajang memiliki lebih banyak hubungan nonromantis dan hubungan yang lebih baik dengan keluarga dan teman.

    Mereka memenuhi kebutuhan seksualnya di luar hubungan romantis dan merasa lebih bahagia dengan kehidupan mereka secara keseluruhan.

    Menariknya, kelompok ini memiliki minat yang moderat untuk menjalin hubungan romantis di masa depan.

    Para lajang yang cemas cenderung menjadi orang yang paling khawatir menjadi lajang, tak percaya diri, merasa kurang didukung oleh orang-orang terdekat, dan memiliki tingkat kepuasan hidup yang paling rendah di antara semua subkelompok.

    Para lajang yang menghindar menunjukkan minat yang paling kecil untuk menjalin hubungan romantis dan dalam banyak hal tampak puas dengan kehidupan lajang.

    Baca Juga: Perang Gender: Mengapa Perempuan Korea Menolak Menikah?

    Namun, mereka juga memiliki lebih sedikit teman dan hubungan dekat, dan umumnya kurang puas dengan hubungan ini dibandingkan para lajang yang secure.

    Para lajang yang menghindar juga melaporkan bahwa hidup mereka kurang bermakna dan cenderung kurang bahagia dibandingkan para lajang yang aman.

    Para lajang yang merasa takut mengalami lebih banyak kesulitan dalam menjalani hubungan dekat dibandingkan para lajang yang merasa aman.

    Misalnya, mereka kurang mampu mengatur emosinya, dan kurang puas dengan kualitas hubungan dekat mereka agar tetap melajang. Mereka juga melaporkan tingkat kepuasan hidup terendah di seluruh subkelompok.

    Temuan-temuan ini harus dipertimbangkan bersamaan dengan beberapa poin yang relevan. Pertama, meskipun sebagian besar lajang dalam sampel kami merasa insecure (78%), cukup banyak orang yang merasa aman dan bahagia (22%).

    Baca Juga: Remaja Diajak Mencegah Kasus Stunting dengan Menunda Usia Perkawinan

    Lebih jauh lagi, menjalin hubungan romantis bukanlah obat mujarab. Berada dalam hubungan yang tidak bahagia dikaitkan dengan kepuasan hidup yang lebih buruk dibandingkan menjadi lajang.

    Penting juga untuk diingat bahwa orientasi keterikatan tidak selalu tetap. Orientasi bisa berubah sebagai respons terhadap peristiwa kehidupan.

    Demikian pula, perilaku sensitif dan responsif dari orang terdekat dan merasa dicintai dan diperhatikan oleh orang terdekat dapat meredakan kekhawatiran mendasar akan keterikatan dan menumbuhkan keamanan keterikatan seiring berjalannya waktu.

    Penelitian kami adalah penelitian pertama yang meneliti keragaman gaya keterikatan di antara orang dewasa lajang. Temuan kami menyoroti bahwa banyak orang lajang merasa aman dan berkembang.

    Namun, lebih banyak lagi upaya yang dapat dilakukan untuk membantu para lajang yang merasa tidak aman menjadi lebih aman dan bahagia.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis:

    Christopher Pepping
    Associate Professor in Clinical Psychology, Griffith University

    Geoff Macdonald
    Professor of Psychology, University of Toronto

    Tim Cronin
    Lecturer in Clinical Psychology, La Trobe University

    Yuthika Girme
    Associate Professor, Department of Psychology, Simon Fraser University

  • Apakah Orang Tetap Bahagia Meski Lama Melajang?

    Apakah Orang Tetap Bahagia Meski Lama Melajang?

    7cloud.asia – Status lajang sedang meningkat di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia.

    Di Kanada, tempat penulis artikel ini mengajar, status lajang di kalangan dewasa muda berusia 25-29 tahun meroket dari 32% pada 1981 menjadi 61% pada 2021.

    Jumlah orang yang tinggal sendirian atau lajang juga menanjak dari 1,7 juta orang pada tahun 1981 menjadi 4,4 juta orang pada 2021.

    Orang melajang karena berbagai alasan: ada yang memilih untuk tetap single, ada yang fokus pada tujuan dan aspirasi pribadi, ada yang mengatakan bahwa berkencan menjadi lebih sulit, dan beberapa menjadi lajang lagi karena putusnya hubungan.

    Apakah semua orang lajang merasa insecure? Banyak orang berpikir tentang orang-orang yang sudah lama melajang, kita mungkin berasumsi bahwa itu karena para lajang tersebut memiliki rasa tak yakin dengan dirinya sendiri sehingga sulit menemukan pasangan atau mempertahankan hubungan.

    Baca Juga: Generasi Muda yang Menunda Menikah di Indonesia Terus Meningkat

    Namun, benarkah demikian? Bisakah orang yang sudah lama melajang merasa aman dan berkembang?

    Penelitian terbaru kami yang dipublikasikan di Journal of Personality menunjukkan bahwa hal tersebut mungkin.

    Namun, tidak semua orang berhasil dalam kehidupan lajangnya. Studi kami menunjukkan bahwa faktor krusial penentunya adalah gaya keterikatan seseorang.

    Orang-orang juga mungkin tetap melajang karena gaya keterikatan mereka.

    Teori keterikatan adalah model tentang bagaimana kita membentuk hubungan dengan orang lain yang populer dan banyak diteliti.

    Pencarian Amazon untuk teori keterikatan menghasilkan ribuan judul. Di TikTok saja, tagar #attachmenttheory telah dilihat lebih dari 140 juta kali.

    Baca Juga: Perang Gender: Mengapa Perempuan Korea Menolak Menikah?

    Kata teori keterikatan tentang hubungan
    Teori keterikatan menunjukkan bahwa hubungan kita dengan orang lain dibentuk oleh tingkat “kecemasan” (attachment anxiety) dan “penghindaran” (attachment avoidance).

    Kecemasan terhadap keterikatan adalah jenis perasaan tak aman yang membuat orang merasa cemas tentang hubungan dan khawatir ditinggalkan.

    Sementara, penghindaran terhadap keterikatan membuat orang merasa tidak nyaman dengan keintiman dan kedekatan.

    Orang yang memiliki tingkat kecemasan dan penghindaran keterikatan yang rendah dianggap “terikat secara aman”. Mereka merasa nyaman bergantung pada orang lain, termasuk dalam hal memberi dan menerima keintiman.

    Orang lajang sering kali distereotipkan sebagai orang yang terlalu melekat atau tidak bisa berkomitmen.

    Baca Juga: Pernikahan Anak Banyak Berakhir Perceraian, Orang Tua Diminta Siapkan Anak dengan Baik Sebelum Menikah

    Penelitian yang membandingkan orang lajang dan berpasangan menunjukkan bahwa orang lajang memiliki tingkat ketidakamanan keterikatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang sedang menjalin hubungan.

    Pada saat yang sama, bukti menunjukkan banyak orang lajang memilih untuk terus sendirian dan tetap menjalani hidup bahagia.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, penulis:

    Christopher Pepping
    Associate Professor in Clinical Psychology, Griffith University

    Geoff Macdonald
    Professor of Psychology, University of Toronto

    Tim Cronin
    Lecturer in Clinical Psychology, La Trobe University

    Yuthika Girme
    Associate Professor, Department of Psychology, Simon Fraser University

  • Pesan Bhante Dhammavuddho di Hari Tri Suci Waisak: Sifat Serakah Membuat Manusia Tak Bahagia

    Pesan Bhante Dhammavuddho di Hari Tri Suci Waisak: Sifat Serakah Membuat Manusia Tak Bahagia

    7cloud.asia – Ada pesan mendalam yang disampaikan pemuka agama Buddha Bhante Dhammavuddho di sela perayaan Tri Suci Waisak beberapa waktu lalu.

    Bhante Dhammavuddho mengatakan manusia harus berani mengakui adanya sifat keserakahan dalam dirinya untuk bisa berdamai dengan segala keadaan dalam hidup.

    Sebagai manusia, ujarnya, kita harus menyadari bahwa kehidupan ini adalah kita sebagai manusia memiliki sifat keserakahan, kita punya kebencian, kita juga menyadari bahwa kita punya kebodohan.

    ”Tiga hal ini adalah hal yang membuat kita sering suffering atau menderita,” kata Bhante Dhammavuddho di Jakarta, Kamis (23/5/2024)

    Baca Juga: Seperti Ini Dampak Gaya Hidup Konsumtif pada Lingkungan

    Menanggapi makna kehidupan yang harus disadari sebagai umat beragama, Bhante Dhammavuddho menyatakan seluruh manusia pasti menginginkan kebahagiaan dalam hidupnya.

    Namun tak jarang, cara yang dipilih untuk meraih kebahagiaan tersebut ditempuh dengan cara yang salah.

    Bhante Dhammavuddhovmencontohkan pasti ada waktu di mana manusia senang melihat orang lain mengalami rasa sakit.

    Bahkan dalam beberapa kasus yang ekstrem, manusia memilih mengikuti keinginan hatinya untuk bahagia dengan membunuh.

    Baca Juga: Gaya Hidup Minimalis, Kaitannya dengan Lingkungan dan Kesehatan Mental

    Hal tersebut, katanya, amat tidak dibenarkan oleh Sang Buddha karena kebencian dan sifat serakah tidak akan pernah memberikan kedamaian dalam diri seseorang apalagi untuk bahagia.

    “Ini adalah hal yang keliru oleh karena itu di dalam rangka memperingati Waisak tahun ini, kita juga menyebutkan hindari kemarahan atau kebencian dari keserakahan dan hindari kebutuhan batin yaitu egois, supaya kita bebas dari sebab penderitaan itu sendiri,” kata Bhante.

    Menurut Bhante, segala perilaku dan tindakan yang diambil dalam hidup seorang manusia selalu didasari oleh adanya kesadaran diri.

    Sayangnya, banyak orang tidak sadar ketika memilih pilihan yang salah untuk menjalankan hidup (khilaf).

    Baca Juga: Orang Ini Sederhanakan Hidupnya dengan Gaya Hidup Minimalis, Hasilnya Ia Lebih Bahagia

    Dengan demikian, Bhante meminta seluruh umat untuk sama-sama menyatukan persepsi bahwa hidup harus dijalankan berdasarkan niat, moral dan perbuatan yang baik.

    Sebab adanya kesadaran yang positif dapat mendorong seseorang untuk mempertahankan pilihan hidupnya menjalankan perbuatan yang baik sebagaimana ajaran Tuhan.

    “Kesadaran yang positif yang membuat nilai dalam hidup kita bertambah. Jadi ini kesadaran-kesadaran yang positif yang kita lakukan dalam hal melalui agama Buddha yang bilang untuk melakukan perbuatan baik,” katanya.

    Sumber:Antaranewscom

  • Simak! Hal-hal yang Dapat Dipelajari dari Negara-negara Paling Bahagia di Dunia

    7cloud.asia – Finlandia kembali dinobatkan sebagai negara paling bahagia di dunia untuk kedelapan kalinya secara berturut-turut.

    Finlandia kembali menempati posisi teratas dengan skor rata-rata 7,736 dari total nilai 10, mengungguli tiga negara Nordik lainnya dalam Laporan Kebahagiaan Dunia 2025 yang disponsori PBB.

    Para ahli menyebut mudahnya akses untuk menikmati alam dan sistem kesejahteraan yang mumpuni disebut sebagai kunci mengapa Finlandia dinobatkan menjadi negara paling bahagia.

    Studi tersebut juga menemukan bahwa orang asing dua kali lebih baik dari yang dipikirkan orang. Studi tersebut mengukur kepercayaan terhadap orang yang tidak dikenal dengan sengaja menghilangkan dompet.

    Hal ini untuk melihat berapa banyak dompet dan isinya yang dikembalikan, dan membandingkannya dengan berapa banyak orang yang mengira akan mengembalikannya.

    Tingkat pengembalian dompet hampir dua kali lebih tinggi dari yang diperkirakan orang dan studi tersebut, yang mengumpulkan bukti dari seluruh dunia, menemukan bahwa kepercayaan terhadap kebaikan orang lain lebih erat kaitannya dengan kebahagiaan daripada yang diperkirakan sebelumnya.

    John F. Helliwell, seorang ekonom di University of British Columbia dan salah satu pendiri editor laporan tersebut, mengatakan bahwa data eksperimen dompet menunjukkan “orang-orang jauh lebih bahagia tinggal di tempat yang menurut mereka orang-orang peduli satu sama lain”.

    Pertanyaan yang lebih besar adalah: apa hakikat dari kebahagiaan itu sendiri? Apa yang bisa kita lakukan untuk menjadi lebih bahagia?

    Baca: Finlandia kembali dinobatkan sebagai negara paling bahagia di dunia

    Perasaan bahagia sebetulnya dapat dijelaskan melalui sains. Tubuh kita membutuhkan keseimbangan empat hormon penting: dopamin, oksitosin, serotonin, dan endorfin.

    Semua orang pasti pernah berhadapan dengan tantangan kesehatan mental. Akan tetapi, sebenarnya ada langkah-langkah sederhana untuk menyeimbangkan kondisi kimia tubuh dan meningkatkan ketentraman.

    Owen O’Kane, psikoterapis dan penulis buku Addicted to Anxiety, mengurangi stres adalah yang paling utama. Dia menyebut kesibukan masa kini membuat orang-orang cenderung tidak bahagia.

    “Selama bertahun-tahun, yang menjadi perbincangan adalah melakukan lebih banyak hal—budaya kerja dengan produktivitas yang lebih tinggi,” ujarnya.

    “Padahal sudah ada banyak bukti tentang manfaat dari melakukan lebih sedikit serta mempraktikkan meditasi dan kesadaran penuh [mindfulness].”

    O’Kane menekankan budaya “selalu aktif” memicu generasi yang cemas dan kecanduan akan proses kecemasan.

    “Bagi kebanyakan orang, kecanduan…datang dengan rangsangan dan janji untuk ditenangkan, atau pelarian,” imbuhnya.

    “Kecemasan datang dengan janji untuk membuatmu aman.”

    Baca: Sederhanakan hidup dengan minimalisme agar lebih bahagia

    Dia menjelaskan bahwa orang-orang terjebak dalam pemikiran berlebihan dan perilaku yang menyertainya.

    Mereka merasa bahwa, tanpa proses kecemasan, sesuatu yang salah akan terjadi dan “hidup dengan tingkat kekhawatiran yang terus bertambah” adalah hal yang normal.

    Mengenali ambang batas stres
    Dr. Claire Plumbly, psikoterapis dan penulis buku Burnout: How to Manage Your Nervous System Before it Manages You, memperingatkan bahwa stres bisa menumpuk seiring berjalannya waktu.

    Artinya, satu kejadian kecil saja bisa memecah stres di kepala. Tiba-tiba saja Anda berteriak pada orang asing atau menangis tersedu-sedu karena sebuah lagu.

    Dr. Plumbly mengatakan bahwa ‘ledakan’ ini bisa menjadi tanda peringatan: “Keletihan psikologis [burnout] pada dasarnya adalah reaksi stres. Ini adalah perasaan terkuras, lesu, kelelahan emosional ketika Anda kehilangan seluruh spektrum pengalaman Anda.”

    Rasa jengkel berubah menjadi perasaan lepas atau tidak acuh. Anda pun menjadi terlalu lelah untuk memberikan kasih sayang. Bagi orang tua atau pengasuh, ini bisa sangat meresahkan.

    Baca: 10 Obsesi yang layak dibuang demi kehidupan yang lebih bahagia

    Untuk mencegahnya sejak dini, Dr. Plumbly menyarankan untuk mengukur perasaan Anda dengan skala burnout 1-5 dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), untuk mendapatkan perspektif.

    “Siapa pun yang mendapat skor di atas tiga berada dalam rentang burnout,” tambahnya.

    Stres kronis akan terasa dalam tubuh, menurut ahli saraf. Mereka menyarankan orang-orang untuk mempelajari tanda-tanda fisik ketika stres meningkat.

    O’Kane mengatakan masalah tekanan darah dan himpitan dada adalah tanda-tanda yang umum terjadi. Ini karena tubuh dapat merasa “terbatas dan waspada, menunggu untuk menghadapi ancaman”.

    Rasa nyeri, kabut otak, bahkan sesak napas atau sakit kepala juga bisa terjadi.

    O’Kane mengajarkan teknik untuk melepaskan ketegangan ke klien-kliennya.

    Dia menyarankan untuk berjalan-jalan atau mengulangi mantra yang dapat membantu menenangkan otak.

    “Biarkan tubuh rileks, meski hanya beberapa menit dalam satu waktu,” ujarnya.

     

  • PBB Umumkan Negara Paling Bahagia: Finlandia Kembali Juara, Indonesia Peringkat 83

    PBB Umumkan Negara Paling Bahagia: Finlandia Kembali Juara, Indonesia Peringkat 83

    7cloud.asia – Finlandia kembali dinobatkan sebagai negara paling bahagia di dunia untuk kedelapan kalinya secara berturut-turut.

    Finlandia kembali menempati posisi teratas dengan skor rata-rata 7,736 dari total nilai 10, mengungguli tiga negara Nordik lainnya dalam Laporan Kebahagiaan Dunia 2025 yang disponsori PBB.

    Dari Amerika Latin, Kosta Rika dan Meksiko berhasil masuk 10 besar untuk pertama kalinya.

    Inggris dan Amerika Serikat mengalami penurunan peringkat, masing-masing ke posisi 23 dan 24 (posisi terendah sepanjang sejarah untuk AS). Adapun Indonesia berada di posisi 83 atau turun tiga peringkat dari tahun sebelumnya.

    Laporan Kebahagiaan Dunia tahunan ke-13, yang dirilis untuk menandai Hari Kebahagiaan Internasional PBB ini, memberi peringkat negara-negara paling bahagia di dunia dengan meminta orang-orang untuk mengevaluasi kehidupan mereka.

    Para ahli menyebut mudahnya akses untuk menikmati alam dan sistem kesejahteraan yang mumpuni disebut sebagai kunci mengapa Finlandia dinobatkan menjadi negara paling bahagia.

    Baca: Sekolah-sekolah di Riihimaki Finlandia mulai tinggalkan laptop 

    Hampir 90 persen orang Finlandia pergi ke sauna setiap minggu, suatu aktivitas yang dianggap baik untuk kesehatan fisik dan mental

    Para ahli mengatakan ikatan keluarga merupakan faktor dalam peningkatan peringkat Kosta Rika dan Meksiko.

    Studi yang diterbitkan oleh Pusat Penelitian Kesejahteraan Universitas Oxford ini meminta orang untuk menilai kehidupan mereka sendiri pada skala 0-10 – nol adalah kehidupan terburuk yang mungkin terjadi dan 10 adalah kehidupan terbaik yang mungkin terjadi.

    Peringkat negara didasarkan pada rata-rata tiga tahun dari skor tersebut. 10 teratas adalah:

    1. Finlandia

    2. Denmark

    3. Islandia

    4. Swedia

    5. Belanda

    6. Kosta Rika

    7. Norwegia

    8. Israel

    9. Luksemburg

    10. Meksiko

    Baca: Sederhanakan hidup dengan minimalisme agar lebih bahagia

    Laporan Kebahagiaan Dunia 2025 juga menemukan:
    1. Penurunan kebahagiaan dan kepercayaan sosial di AS dan beberapa bagian Eropa digabungkan untuk menjelaskan munculnya dan arah polarisasi politik;

    2. Berbagi makanan dengan orang lain sangat terkait dengan kesejahteraan di seluruh dunia;

    3. Ukuran rumah tangga sangat terkait dengan kebahagiaan, dengan empat hingga lima orang yang tinggal bersama menikmati tingkat kebahagiaan tertinggi di Meksiko dan Eropa

    Jeffrey D. Sachs, presiden Jaringan Solusi Pembangunan Berkelanjutan PBB, mengatakan temuan tersebut menegaskan kembali “kebahagiaan berakar pada kepercayaan, kebaikan, dan hubungan sosial”.

    “Sebagai individu dan warga negara yang berbudi luhur, kita harus menerjemahkan kebenaran penting ini ke dalam tindakan positif, yang dengan demikian menumbuhkan kedamaian, kesopanan, dan kesejahteraan di masyarakat di seluruh dunia,” katanya.

    Jan-Emmanuel De Neve, direktur Pusat Penelitian Kesejahteraan Oxford, menambahkan: “Di era isolasi sosial dan polarisasi politik ini, kita perlu menemukan cara untuk menyatukan orang-orang di meja perundingan lagi – melakukan hal itu sangat penting bagi kesejahteraan individu dan kolektif kita.”

  • Tiga Cara Sederhana untuk Membuat Hidup Lebih Bahagia

    Tiga Cara Sederhana untuk Membuat Hidup Lebih Bahagia

    7cloud.asia – Menandai Hari Kebahagiaan Internasional, PBB baru-baru ini merilis Laporan Kebahagiaan Dunia tahunan ke-13 yang memberi peringkat negara-negara paling bahagia di dunia dengan meminta orang-orang untuk mengevaluasi kehidupan mereka.

    Para ahli menyebut mudahnya akses untuk menikmati alam dan sistem kesejahteraan yang mumpuni, serta ikatan keluarga menjadi faktor yang membuat orang merasa bahagia.

    Lantas, apa sebenarnya arti bahagia? Perasaan bahagia sebetulnya dapat dijelaskan melalui sains. Tubuh kita membutuhkan keseimbangan empat hormon penting: dopamin, oksitosin, serotonin, dan endorfin.

    Semua orang pasti pernah berhadapan dengan tantangan kesehatan mental. Akan tetapi, sebenarnya ada langkah-langkah sederhana untuk menyeimbangkan kondisi kimia tubuh dan meningkatkan ketentraman.

    Dilansir BBC Indonesia, Owen O’Kane, psikoterapis dan penulis buku Addicted to Anxiety, mengurangi stres adalah yang paling utama. Dia menyebut kesibukan masa kini membuat orang-orang cenderung tidak bahagia.

    “Selama bertahun-tahun, yang menjadi perbincangan adalah melakukan lebih banyak hal—budaya kerja dengan produktivitas yang lebih tinggi,” ujarnya.

    “Padahal sudah ada banyak bukti tentang manfaat dari melakukan lebih sedikit serta mempraktikkan meditasi dan kesadaran penuh [mindfulness].”

    Dan, berikut beberapa cara sederhana yang bisa dilakukan untuk membuat hidup lebih bahagia, sebagaimana dilansir dari BBC Indonesia.

    Baca: Hal yang dapat dipelajari dari negara paling bahagia di dunia

    Luangkan lebih banyak waktu di alam
    Hampir seperlima warga AS kini menghabiskan kurang dari lima belas menit di luar ruangan dalam satu hari, menurut data Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA).

    Padahal, menyempatkan diri berada di alam terbuka, meski hanya sesaat seperti jam makan siang, memberikan manfaat besar bagi kesehatan mental.

    “Tambahkan lima menit di sela-sela kegiatan sehari-hari, misalnya saat menjemput anak dari sekolah atau berjalan kaki ke kantor,” saran Dr. Plumbly.

    “Tinggalkan ponsel Anda saat keluar, dan luangkan lima menit tambahan di luar dalam perjalanan.”

    Menyisipkan momen-momen kecil ini memberi kita kesempatan untuk menenangkan diri.

    “Sistem saraf kita secara alami mengenali tanda-tanda alam sebagai tempat aman, bahkan sebelum kita menyadarinya,” jelasnya.

    “Memang ini bukan solusi instan, tapi seiring waktu ini akan meningkatkan kesejahteraan.”

    Dr. Plumbly menambahkan, “Sistem saraf otonom kita selalu waspada terhadap ancaman, tetapi ini juga terhubung untuk merasakan keamanan di alam. Jadi, bahkan melihat foto pemandangan atau gambar yang menenangkan pun bisa membantu kita rileks.”

    Baca: Finlandia delapan kali dinobatkan menjadi negara paling bahagia di dunia

    Senada Owen O’Kane, mengatakan menghabiskan waktu di alam memungkinkan kita menikmati momen yang ada.

    “Biarkan otak beristirahat dan mengisi ulang, pasti kita akan merasa lebih baik,” ujarnya.

    O’Kane menyarankan agar kita menyisipkan “momen-momen kecil” ini dalam jadwal harian.

    Berbagai penelitian menunjukkan bahwa detoksifikasi digital dan menghabiskan lebih banyak waktu di alam dapat mengurangi stres.

    Sebuah studi tahun 2023 yang diterbitkan di jurnal The Lancet oleh universitas-universitas Jepang menemukan bahwa “mandi hutan” memberikan efek “penyembuhan” dan pemulihan bagi pekerja kantor Jepang yang stres.

    Bernyanyi untuk meningkatkan fungsi otak Anda
    Penelitian dari University College London (UCL) menunjukkan bahwa bernyanyi tidak hanya meningkatkan kapasitas paru-paru, tetapi juga memperbaiki suasana hati.

    Bersenandung dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh, membantu mengontrol tekanan darah, bahkan mengurangi dengkuran.

    Dr. Daisy Fancourt, profesor madya psikobiologi dan epidemiologi di UCL, dalam wawancara dengan Michael Mosley untuk Radio 4, mengatakan dirinya telah melakukan studi tentang ini.

    Eksperimen Dr. Fancourt pada kelompok penyanyi mengungkapkan penurunan hormon stres, kortisol, setelah bernyanyi. Selain itu, terjadi penurunan peradangan dalam sistem kekebalan tubuh mereka.

    “Kami mengukurnya dengan melihat pembawa pesan kimia yang disebut sitokin, yang mengatur respons peradangan kami,” katanya.

    Baca: Minimalisme mengantar orang hidup lebih bahagia

    “Ini penting karena kami tahu peradangan terkait dengan kesehatan mental, khususnya gejala depresi kami.”

    Walau suara Anda mungkin tidak merdu, bernyanyi dapat memberi Anda kesenangan alami. Penelitian menunjukkan bahwa bernyanyi bahkan dapat memiliki efek yang mirip dengan ganja.

    Endokannabinoid adalah kelas senyawa kimia yang baru ditemukan, yang secara alami ditemukan di dalam tubuh dan memiliki tindakan yang mirip dengan komponen aktif tanaman ganja.

    Bernyanyi lebih sering dan dalam kelompok tidak hanya mengurangi isolasi sosial, tetapi juga dapat membantu memperkuat “cadangan kognitif” Anda.

    Ahli saraf menggambarkan cadangan kognitif sebagai persediaan yang diandalkan otak Anda untuk melewati masa-masa sulit. Ibaratnya seperti punya dana darurat ketika ekonomi sulit.

    Sebuah studi yang diterbitkan oleh jurnal Neurology pada tahun 2022 menemukan bahwa sejumlah hobi seperti mempelajari bahasa kedua atau alat musik, menciptakan cadangan ini yang dapat melindungi otak yang menua dari serangan demensia.

    Batasi penggunaan media sosial
    Berbagai penelitian dalam dekade terakhir menunjukkan bahwa penggunaan media sosial dapat memperkuat relasi.

    Di sisi lain, media sosial juga dapat menyebabkan stres yang luar biasa. Gawai ini bisa memicu tekanan untuk membandingkan diri dengan orang lain, serta meningkatkan kesedihan dan perasaan terisolasi.

    Semua ini menimbulkan risiko serius bagi kesehatan mental Anda. Studi Universitas Leeds tahun 2022 menunjukkan bahwa lebih dari separuh orang yang mengikuti survei menggunakan ponsel lebih sering dibandingkan sebelum masa pandemi.

    Jadi, tinggalkan kebiasaan menggulir berita buruk di media sosial. Sebagai gantinya, lebih seringlah membangun hubungan dengan teman dan keluarga di kehidupan nyata.

    Psikiater Robert Waldinger, direktur studi terlama tentang kebahagiaan dari Universitas Harvard, memperingatkan tentang hal ini. Temuan Waldinger dari analisisnya tentang kebahagiaan dan kepuasan sejati yang memakan waktu 86 tahun mengungkapkan pesan yang jelas.

    “Hubungan yang baik membuat kita lebih bahagia dan sehat, dan kesepian bisa membunuh. Dampaknya sama kuatnya dengan merokok atau alkoholisme,” paparnya.

    Pidato TED Waldinger kini telah ditonton lebih dari 13 juta kali dan dia yakin bahwa orang yang lebih terhubung secara sosial “secara fisik lebih sehat dan hidup lebih lama.”

    Jadi, alih-alih menggulir foto teman dan keluarga di ponsel Anda, cetaklah lebih banyak dan gantungkan di tempat yang akan Anda lihat setiap hari di sekitar rumah. Niscaya ini mengingatkan Anda untuk tetap menjaga hubungan baik dengan mereka.

    Baca: Obsesi yang layak dibuang demi kehidupan yang lebih bahagia

     

  • Berhenti Membandingkan Diri dengan Orang Lain dan Berbahagia Pada Apa yang Kita Miliki

    7cloud.asia – Kadang, kita merasa tidak bahagia dengan apa yang kita miliki. Apalagi kita hidup di dunia yang penuh ketidakadilan dan kekejaman di berbagai lapisan lingkungan kita.

    Bukan cuma itu, beberapa orang terdekat yang penulis kenal juga merupakan sosok yang denial: teguh menolak hal yang sulit diubah.

    Kita pun hidup di tengah sistem ekonomi yang mengambil keuntungan dari perasaan pribadi seperti merasa kurang (insecure), menginginkan sesuatu, dorongan membandingkan diri dengan orang lain, dan rasa iri.

    Perasaan iri kerap membuat kita merasa kurang dan menginginkan sesuatu, bukan kebalikannya. Ini terjadi berkat kepiawaian iklan: memunculkan kebutuhan yang “dipersepsikan” alias kebutuhan semu.

    Kita melihat seseorang yang hidupnya “ideal”—seru, seksi, kreatif, kemudian menginginkan apa yang mereka miliki: sepatu, jam tangan, liburan, atau apa pun itu.

    Perasaan iri tak akan muncul tanpa adanya perbandingan. Sementara perbandingan memerlukan standar pengukuran untuk mengukur diri kita.

    Baca: Hal-hal yang dapat dipelajari dari negara-negara paling bahagia di dunia

    Kultur pop menawarkan beberapa standar. Mulai dari seberapa menarik kita sebagai objek seksual (jumlah match di aplikasi kencan) atau seberapa eksis kita di dunia digital (jumlah pengikut atau likes).

    Semua ukuran ini memengaruhi konsep kesuksesan atau kegagalan kita yang kemudian melahirkan ‘standar palsu’

    Terkadang, standar-standar tersebut menjadi ukuran kesuksesan palsu yang dapat mengakibatkan efek negatif.

    Pikirkanlah salah satu contoh, misalnya seorang “pria yang punya high-value”. Di internet, sosok tersebut sama dengan pria yang banyak uang, pertemanan luas, dan berguna bagi banyak orang.

    Ujung-ujungnya, definisi itu mendorong individu mengejar capaian materi dan peningkatan diri yang palsu untuk mencapai kesuksesan atau daya tarik seksual. Lagu TikTok yang viral, I’m Looking for a Man in Finance, cukup menggambarkan standar tersebut.

    Asumsi tersembunyi di standar ini adalah: semakin banyak “hal keren” yang kita miliki, semakin bernilai pula kita sebagai individu.

    Baca: Sederhanakan hidup agar bisa lebih bahagia

    Di balik asumsi tersebut terdapat konsep terselubung: kita hanya bisa “memiliki” sesuatu yang bernilai dalam hidup—alih-alih menjadi sesuatu yang bernilai.

    Asumsi ini biasanya berakar dari perasaan tak pantas (shame): perasaan bahwa diri kita saja tidaklah cukup. Kita seakan-akan tak layak untuk menentukan standar kesuksesan atau kegagalan dalam hidup kita sendiri.

    Merasa malu dengan diri sendiri sebenarnya tak melulu buruk. Perasaan negatif yang sehat membuat kita sadar ketika membuat kesalahan atau melakukan tindakan yang tak sesuai dengan standar moral kita sendiri.

    Perasaan rendah diri ini sering mengingatkan dan memacu kita untuk melakukan perubahan.

    Rasa tak pantas yang menyakitkan
    Versi yang tak sehat dari rasa malu adalah perasaan tak pantas. Perasaan ini lebih dalam dari sekadar malu atau keraguan moral.

    Peneliti sifat rentan (vulnerability) Brené Brown mendefinisikannya sebagai “perasaan menyakitkan yang intens atau keyakinan bahwa diri kita penuh kekurangan sehingga tak layak mendapatkan cinta”.

    Baca: Obsesi yang layak dibuang untuk hidup yang lebih bahagia

    Perasaan tak pantas itu benar-benar mencengkeram sehingga bisa membuat kita melakukan apa saja agar tak menyadari kehadiran perasaan tersebut.

    Sikap denial tersebut dapat terbentuk saat kita mendengar suara hati (akibat pengalaman pahit masa lalu) yang seakan-akan menjadi nyata karena kita membandingkannya dengan sekitar kita.

    Suara yang begitu menghakimi itu kemudian memberi tahu bahwa kita bukan sedang mengalami suatu kegagalan, tapi kita adalah orang gagal. Konsep ini sering disebut “proyeksi”.

    Di sisi lain, meski kita menyadari perasaan tak pantas itu, tak jarang kita malah bernegosiasi dengannya. Kita mengupayakan perbaikan ke lingkungan sekitar kita, sebagai penebusan akan perasaan tak berharga yang kita alami.

    Di masa yang lebih kelam, perasaan tak pantas ini bisa mengambil alih kehidupan kita, membuat kita merasa tak berdaya, dan mendorong kita menjauhi setiap relasi yang ada.

    Perasaan tak pantas bisa jadi sangat sulit untuk kita hadapi. Mengenali dan berefleksi terkait perasaan tersebut bisa menjadi langkah yang bermanfaat. Mengubah cara memahami diri dan hubungan kita dengan orang lain juga dapat membantu.

    Sebenarnya ada banyak cara yang bisa dilakukan, Apa saja yang bisa dilakukan akan diulas dalam tulisan selanjutnya.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris, Penulis: Joshua Forstenzer (Senior Lecturer in Philosophy and Co-Director of the Centre for Engaged Philosophy, University of Sheffield)

  • Tiga Cara Sederhana Agar Bisa Menerima Kekurangan Diri

    Tiga Cara Sederhana Agar Bisa Menerima Kekurangan Diri

    7cloud.asia – Versi yang tak sehat dari rasa malu adalah perasaan tak pantas. Perasaan ini lebih dalam dari sekadar malu atau keraguan moral.

    Peneliti sifat rentan (vulnerability) Brené Brown mendefinisikannya sebagai “perasaan menyakitkan yang intens atau keyakinan bahwa diri kita penuh kekurangan sehingga tak layak mendapatkan cinta”.

    Perasaan tak pantas itu benar-benar mencengkeram sehingga bisa membuat kita melakukan apa saja agar tak menyadari kehadiran perasaan tersebut.

    Sikap denial tersebut dapat terbentuk saat kita mendengar suara hati (akibat pengalaman pahit masa lalu) yang seakan-akan menjadi nyata karena kita membandingkannya dengan sekitar kita.

    Perasaan tak pantas bisa jadi sangat sulit untuk dihadapi. Mengenali dan berefleksi terkait perasaan tersebut bisa menjadi langkah yang bermanfaat. Mengubah cara memahami diri dan hubungan kita dengan orang lain juga dapat membantu.

    Ada banyak cara yang bisa dilakukan, Namun, agar lebih mudah dijelaskan, ada tiga pilihan yang cukup berkesan menurut penulis.

    Baca: Obsesi yang layak dibuang untuk hidup yang lebih bahagia

    1. Stoikisme
    Stoikisme (stoicism) merupakan sebuah aliran filsafat yang intinya meyakini bahwa sifat bawaan kita seharusnya menjadi pribadi yang stabil. Oleh karena itu, tujuan dari hidup kita seharusnya adalah memenuhi kestabilan tersebut serta mengembangkan diri.

    Sering kali kita menilai diri berdasarkan keadaan imajiner (“kalau saya lebih kurus, lebih bagus”) dan kepercayaan bahwa tindakan tertentu akan membuat imajinasi tersebut jadi nyata (“diet cokelat akan mengembalikan bentuk tubuh saya seperti saat remaja”).

    Kedua hal tersebut bisa menyesatkan. Sebab, hal-hal yang kita inginkan bisa berdampak buruk untuk diri kita. Kita pun tak bisa mengendalikan masa depan seperti yang kita bayangkan.

    Para Stoik berpendapat bahwa seseorang harus menyelaraskan kondisi emosionalnya dengan hal-hal yang mereka kejar. Agar bisa berkembang, kita juga perlu terus-menerus mengendalikan diri.

    Untuk mencapai tujuan tersebut, pendekatan stoikisme mendorong kita untuk mengenali dan mengembangkan kebiasaan yang mendorong kita dekat dengan lingkungan dan dunia secara lebih luas.

    Ini dimulai dari diri kita sendiri, lalu keluarga, komunitas, negara, kemanusiaan secara luas dan bahkan alam semesta.

    Baca: Sederhanakan hidup agar kita lebih bahagia

    2. Eksistensialisme
    Berkebalikan dengan stoikisme, eksistensialisme justru percaya bahwa tak ada tujuan hidup hakiki dalam hidup manusia.

    Tak ada hal apa pun yang bisa mendefinisikan diri kita. Kita memiliki sesuatu yang tak bisa diambil oleh siapa pun: kapasitas mengubah diri, menyambut hal baru, hingga memulai gebrakan unik.

    Perasaan hampa yang terkadang muncul setelah menggapai target yang lama diimpikan (misalnya mendapat promosi jabatan yang signifikan) bisa terasa membingungkan.

    Namun, perasaan ini justru yang menjadi pengingat bahwa tak ada yang membatasi kita untuk mencapai satu tujuan saja. Semuanya bergantung pada diri kita sendiri.

    Kita harus menghadapi kenyataan bahwa kita merupakan individu yang bebas sehingga kita juga bertanggung jawab untuk hal-hal yang kita lakukan dan makna yang kita berikan pada hal tersebut.

    Baca: Tiga cara sederhana untuk membuat hidup lebih bahagia

    3. Psikoterapi humanistik
    Perspektif psikoterapi humanistik menawarkan jalan tengah dari dua pandangan sebelumnya. Pandangan ini mengajak kita memandang diri dengan cinta kasih.

    Sebab, kita adalah individu yang kompleks dan penuh tanggung jawab, sekaligus tak sempurna dan penuh kerentanan. Kita pun selalu berada dalam hubungan yang terus berkembang sehingga memberi kita makna dan tujuan hidup.

    Dalam pendekatan ini, baik hubungan yang kita jalin maupun perhatian yang kita berikan dan terima akan menjawab pertanyaan hidup terpenting: “Siapa kita?”—terutama saat kita mengalami krisis.

    Menjawab pertanyaan itu akan membutuhkan ketulusan, kebaikan, serta kejujuran kita dalam menjalin hubungan apa pun.

    Dengan begitu, kita melihat diri sendiri dan orang lain bukan sekadar individu dengan kelemahan, tetapi sosok unik yang terus berkembang.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris, Penulis: Joshua Forstenzer (Senior Lecturer in Philosophy and Co-Director of the Centre for Engaged Philosophy, University of Sheffield)