7cloud.asia – Dulu, Dusun Sangurejo di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) lekat dengan citra PaKuMis alias padat, kumuh dan miskin. Tapi, itu dulu.
Sejak 2022, Dusun Sangurejo mulai bersolek. Berbagai gerakan lingkungan yang dilakukan warga beberapa tahun terakhir mengantarkan Dusun Sangurejo meraih penghargaan Program Kampung Iklim (ProKlim) Utama dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI pada Agustus 2024 lalu.
Untuk memperkuat pemahaman masyarakat, terutama anak-anak muda tentang urgensi pelestarian lingkungan, LDII juga melakukan langkah kaderisasi untuk mencetak kader-kader pro-lingkungan.
Kelompok remaja kompleks masjid dan majelis taklim mendapatkan pelatihan Da’i Program Kampung Iklim atau Da’i ProKlim—program yang telah dicanangkan LDII sebelumnya.
Salah satu materi pelatihannya adalah mengupas dalil-dalil alquran dan hadis berkenaan dengan isu-isu lingkungan.
Usai pelatihan, warga yang dianggap sudah memiliki kemampuan berdakwah selanjutnya akan didorong untuk menjadi mubaligh atau pendakwah lingkungan.
Baca: Di Dusun Sangurejo ‘framing’ agama ampuh gerakkan aksi lingkungan
Dalam dakwah, mereka memakai narasi bahwa pelestarian lingkungan adalah bagian dari ibadah, mendatangkan pahala, dan menjadi amal jariyah yang akan terus mengalir setelah seseorang wafat.
Dalam observasi kami, bahasa-bahasa agama seperti ini ternyata “sampai di hati” masyarakat setempat yang memang mayoritas beragama Islam.
Program-program pengelolaan sampah yang identik dengan Islam, seperti “sedekah sampah” membuatnya dekat dengan masyarakat, sehingga mereka terdorong untuk terlibat dalam berbagai kegiatan pelestarian lingkungan.
‘Framing’ agama memperkaya solusi lingkungan
Berdasarkan temuan survei PPIM, persoalan lingkungan masuk dalam urutan tiga teratas dari persoalan yang dikhawatirkan masyarakat Indonesia, namun partisipasi aksi lingkungan publik relatif rendah.
Sebanyak 49,51 persen responden mengaku tidak pernah berpartisipasi dalam kegiatan terkait peningkatan kesadaran terhadap lingkungan.
Beberapa kajian mengungkapkan, kesenjangan antara atensi dan aksi ini terjadi akibat kurangnya framing atau bingkai bahasa yang tepat dalam isu lingkungan. Hal tersebut membuat isu ini sulit dipahami dan diterima oleh masyarakat umum.
Baca: Bagaimana agama dan gender menyokong adaptasi iklim warga Pantura
Isu lingkungan sering berada pada kondisi hipokognisi—kekurangan ide-ide atau konsep yang relevan untuk menjelaskan suatu isu—sehingga masyarakat bersikap acuh atau antipati terhadap persoalan lingkungan.
Framing agama membuat solusi pelestarian lingkungan semakin kaya. Penggunaan bahasa agama untuk membingkai isu lingkungan memberikan bobot etis pada proses penguatan kebijakan tentang lingkungan yang selama ini cenderung dianggap sekuler.
Aktivis lingkungan dan tokoh agama yang mampu mengemas bahasa agama dalam isu lingkungan memiliki kemampuan berharga untuk meredefinisi, mengevaluasi ulang, dan merekonstruksi ajaran religius agar relevan dengan tantangan ekologis masa kini.
Sebuah studi yang meneliti framing keagamaan dalam kampanye lingkungan oleh 50 aktor agama global menunjukkan bahwa pendekatan berbasis agama mampu menggabungkan berbagai dimensi perubahan iklim yang saling terkait ke dalam kerangka kerja moral dan agama.
Temuan itu juga mengungkapkan bahwa pendekatan berbasis agama dapat meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam aksi lingkungan secara signifikan.
Ilmu pengetahuan tentu penting untuk menggambarkan dan mengukur masalah-masalah lingkungan, namun budaya dan agama juga memainkan peran krusial dalam mendorong perubahan di tingkat masyarakat. Dan hal ini, tampaknya sering dilupakan.
Dari Sangurejo, kita belajar bahwa tokoh agama tidak sekadar mengimpor konsep lingkungan dan perubahan iklim dari narasi-narasi global, tetapi juga sukses mengadaptasinya dalam kearifan lokal. Pendekatan ini menghasilkan solusi yang lebih riil dan relevan.
Potensi ini perlu ditangkap serius oleh pihak-pihak yang berkepentingan, termasuk pemerintah, organisasi masyarakat sipil, dan juga organisasi masyarakat keagamaan.
Kampanye lingkungan harus lebih kreatif dengan bahasa-bahasa yang dekat dengan mayoritas masyarakat serta melibatkan tokoh-tokoh setempat. Dengan begitu, gerakan pelestarian lingkungan bisa semakin meluas dan berkelanjutan.
Artikel ini merupakan bagian dari serial Jejak Islam Lestari The Conversation, Penulis: Savran Billahi (Dosen, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta)

Leave a Reply