Tag: palestina

  • Serangan Israel untuk Bebaskan 4 Sandera Tewaskan 210 Warga Palestina

    Serangan Israel untuk Bebaskan 4 Sandera Tewaskan 210 Warga Palestina


    7cloud.asia – Sedikitnya 210 warga Palestina tewas dan lebih dari 400 lainnya terluka dalam serangan udara Israel untuk membebaskan empat sandera di Jalur Gaza tengah pada Sabtu (8/6/2024).

    Khalil Al Dakran, Direktur Rumah Sakit Al Aqsa di Deir Al Balah, Gaza tengah, mengatakan kepada Xinhua bahwa banyak warga Palestina yang luka-luka dilarikan ke rumah sakit tersebut akibat serangan bom Israel yang intens di kamp Nuseirat dan Kota Deir Al Balah.

    Beberapa di antara para korban tersebut dikonfirmasi tewas.

    Warga Palestina yang luka-luka terus berdatangan, membuat rumah sakit tersebut kewalahan di tengah kurangnya tempat tidur, obat-obatan, perlengkapan medis sekali pakai, dan bahan bakar untuk mengoperasikan generator darurat utama, kata Al Dakran.

    Saksi mata Palestina mengatakan kepada Xinhua bahwa pesawat Israel menyasar wilayah tersebut dengan tembakan yang intensif.

    Baca Juga: AS Ingatkan Israel, Dampak Negatif Jika Membiarkan Otoritas Palestina Runtuh

    Sedangkan tim pertahanan sipil setempat dan ambulans tidak dapat menjangkau beberapa orang yang terluka tepat waktu.

    Menurut narasumber dan saksi mata setempat, asap mengepul dari seluruh wilayah Gaza tengah akibat serangan udara dan pembombardiran artileri yang belum pernah terjadi sebelumnya atas area-area tersebut.

    Narasumber keamanan Palestina mengatakan bahwa bentrokan mematikan terjadi di darat antara militan Palestina dan tentara Israel yang menyerbu kamp Nuseirat di tengah pembombardiran artileri dan serangan udara.

    Tentara Israel menarik diri setelah membunuh beberapa militan. Ismail Haniyeh, kepala biro politik Hamas, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa serangan Israel menargetkan anak-anak dan perempuan.

    Dia menekankan bahwa rakyat Palestina “tidak akan menyerah, dan kelompok perlawanan akan terus mempertahankan hak-hak mereka.”

    Baca Juga: WHO Sebut 7 Ribu Pasien Palestina Perlu Evakuasi Medis Darurat

    Juru Bicara Kepresidenan Palestina Nabil Abu Rudeina mengatakan bahwa serangan yang diluncurkan di kamp Nuseirat tersebut merupakan kelanjutan dari perang “genosida” terhadap rakyat Palestina.

    Dia menyebut Israel dan pemerintah Amerika harus “bertanggung jawab penuh”.

    Perang ini akan “menghancurkan segalanya dan mendorong segala sesuatunya ke arah yang berbahaya yang tidak akan membuat terwujudnya keamanan atau perdamaian bagi siapa pun,” tutur Abu Rudeina dalam pernyataan pers yang diterbitkan oleh kantor berita Palestina, WAFA.

    Abu Rudeina meminta Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan komunitas internasional untuk menghentikan perang “berdarah” di Gaza ini.

    Tentara, aparat keamanan, dan otoritas intelijen Israel Shin Bet mengatakan dalam sebuah pernyataan bersama bahwa personel mereka telah “menyerang struktur teroris” di wilayah tersebut dan membebaskan empat sandera Israel.

    Baca Juga: Perwakilan 38 Negara Serukan Pengakuan Dua Negara untuk Akhiri Konfik di Palestina

    Pernyataan itu menyebutkan bahwa orang-orang yang diculik tersebut telah diselamatkan dalam keadaan hidup oleh personel Shin Bet dan Unit Kepolisian Khusus dari dua wilayah terpisah di jantung Nuseirat.

    Orang-orang yang diselamatkan tersebut telah dibawa ke Rumah Sakit Tel Hashomer di Israel untuk menjalani pemeriksaan medis, papar pernyataan itu.

    Tentara Israel melakukan serangan berskala besar di Gaza sejak 7 Oktober 2023, setelah Hamas melancarkan serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya di kota-kota Israel yang berdekatan dengan Jalur Gaza.

    Dalam serangan Hamas tersebut, sekitar 1.200 orang tewas dan sekitar 250 lainnya disandera.

    Usai penyelamatan keempat orang tersebut, 120 warga Israel masih disandera di Jalur Gaza, dengan 43 di antaranya oleh pihak Israel dianggap telah tewas.

    Sumber:Antara/Xinhua

  • Doa Jemaah Haji untuk Palestina: Semoga Gencatan Senjata Segera Terwujud di Gaza

    Doa Jemaah Haji untuk Palestina: Semoga Gencatan Senjata Segera Terwujud di Gaza

    7cloud.asia – Para jemaah haji dari seluruh dunia yang mulai tiba di Makkah, Arab Saudi mengatakan mereka berdoa agar gencatan senjata untuk mengakhiri perang di Gaza segera tercapai.

    Alia Asmaa, seorang insyinyur sipil dari India yang tiba di Makkah bersama kedua orang tuanya pada Minggu (9/6/2024), berharap bahwa gencatan senjata akan segera terwujud di Gaza.

    Ia juga berharap perang di Gaza yang sudah berlangsung lebih 9 bulan ini bisa “segera berakhir.”

    “Doa kami selau bersama Gaza dan sangat sedih melihat orang-orang meninggal duni setiap harinya sehingga harapan saya untuk Gaza adalah perang ini segera berakhir,” ujarnya dikutip Reuters.com.

    Baca: Operasi pembebasan 4 warga Israel yang disandera tewaskan lebih dari 200 warga Palestina

    Menurut pejabat kesehatan Gaza, lebih dari 37.000 warga Palestina telah tewas terbunuh dalam serangan Israel sejak Oktober lalu.

    Sementara itu, jemaah asal Mesir Sameh Al-Zaini mengatakan Gaza selalu ada di pikirannya.

    Al-Zaini mengatakan, kekhawatiran terbesar yang masuk dalam doanya adalah warga Gaza. Gaza ada di hati, ujarnya, Gaza ada dalam luka kami yang terus menganga.

    “Saya berdoa kepada Tuhan untuk meringankan situasi yang dialami orang-orang di Gaza sehingga kesulitan dan kemalangan mereka segera berakhir,” ujar Al-Zaini seusai menjalankan thawaf atau mengelilingi Ka’bah di Masjidil Haram.

    Baca: Israel diingatkan bahayanya jika biarkan otoritas Palestina ambruk

    Senada dengan Asmaa dan Al-Zaini, jemaah asal Amerika Serikat, Obada Al-Kadri, juga mendoakan khusus bagi orang-orang di Gaza dalam ibadahnya kali ini.

    Kami, ujarnya, merasakan sakitnya [luka yang dialami orang-orang di Gaza] sebagai sesama manusia dan juga sebagai sesama Muslim.

    Dia mengatakan, serangan Israel yang brutal, dan apa yang terjadi pada anak-anak dan perempuan di Gaza sema sekali tidak dapat dibenarkan.

    “Dan sebagai bagian dari jemaah [haji] di sini adalah berdoa untuk orang-orang di Gaza. Kami bersama kalian dan insyaallah, Tuhan akan membebaskan kalian dari penindasan segera,” pungkas Al-Kadri.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Kantor HAM PBB: Israel dan Hamas Mungkin Lakukan Kejahatan Perang dalam Insiden Nuseirat di Gaza

    Kantor HAM PBB: Israel dan Hamas Mungkin Lakukan Kejahatan Perang dalam Insiden Nuseirat di Gaza

    7cloud.asia – Kantor komisaris tinggi PBB untuk hak asasi manusia (HAM) menuduh Israel dan Hamas sama-sama melakukan tindakan yang “mungkin merupakan kejahatan perang”.

    Pernyataan ini diungkapkan Kantor HAM PBB terkait operasi militer Israel untuk membebaskan empat sandera di kamp pengungsi Nuseirat di Gaza, yang menewaskan lebih dari 200 warga Palestina pada Sabtu (8/6/2024) lalu.

    “Kami sangat terkejut akan dampak operasi pasukan Israel terhadap warga sipil,” kata Jeremy Laurence, juru bicara komisaris tinggi HAM PBB, Selasa (11/6/2024).

    Baca: Operasi Israel bebaskan 4 sandera tewaskan lebih dari 200 warga Palestina

    Ia menambahkan bahwa ratusan warga Palestina, “banyak dari mereka adalah warga sipil, dilaporkan tewas dan terluka.”

    Menurut Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas, 274 warga Palestina tewas dan 698 terluka di Kamp Pengungsi An Nuseirat dalam serangan Israel itu.

    “Kantor kami juga sangat sedih karena kelompok bersenjata Palestina terus menyandera banyak orang, kebanyakan dari mereka adalah warga sipil. Ini dilarang oleh hukum kemanusiaan internasional,” kata Laurence.

    Ia menambahkan, “Semua tindakan yang dilakukan kedua pihak mungkin merupakan kejahatan perang.”

    Baca: AS peringatkan Israel jika biarkan otoritas Palestina runtuh

    Militer Israel menanggapi kritik terhadap operasinya dengan mengatakan bahwa mereka telah menyerang “ancaman terhadap pasukan kami di wilayah itu”

    Militer Israel juga menyebut, seorang perwira pasukan khusus tewas dalam operasi tersebut.

    Menteri Luar Negeri Israel, Israel Katz, tanpa tedeng aling menegur para pengecam dengan mengunggah pernyataan bahwa “hanya musuh-musuh Israel yang mengeluhkan jatuhnya korban teroris Hamas dan kaki tangan mereka.”

    Sekitar 120 sandera Israel dilaporkan masih ditahan Hamas di Gaza, dan 43 orang dinyatakan tewas.

    Baca: PM Israel kecilkan prospek gencatan senjata di Gaza

    Total, 116 dari sekitar 250 sandera yang diculik Hamas dalam serangan terhadap Israel pada 7 Oktober, telah dibebaskan.

    Menanggapi “gambar-gambar kematian dan kehancuran yang mengerikan” pasca operasi militer Israel, kepala kemanusiaan PBB Martin Griffiths menggambarkan kamp Pengungsi Nuseirat sebagai “pusat trauma seismik yang terus diderita warga sipil di Gaza.”

    “Melihat mayat-mayat bergelimpangan, kita diingatkan bahwa tidak ada tempat yang aman di Gaza,” ujar Griffiths dalam sebuah unggahan di media sosial.

    Pasca serangan Israel pada 8 Juni, Organisasi Kesehatan Dunia melakukan misi penilaian ke Rumah Sakit Al Aqsa di Gaza Tengah.

    Misi itu mendapati 270 petugas kesehatan memberikan perawatan kepada sekitar 700 pasien. Sebelum perang, Al Aqsa melayani sekitar 150 pasien rawat inap setiap hari.

    Sumber:VOAIndonesia

  • Hasil Komisi Penyelidikan PBB: Israel Bersalah Melakukan Pemusnahan Massal di Jalur Gaza

    Hasil Komisi Penyelidikan PBB: Israel Bersalah Melakukan Pemusnahan Massal di Jalur Gaza

    7cloud.asia – Komisi Penyelidikan Internasional Independen (COI) PBB menyimpulkan Israel bersalah karena melakukan pemusnahan massal sejak agresi di Jalur Gaza, Palestina, 7 Oktober 2023 lalu.

    Hasil investigasi yang diumumkan pada 12 Juni tersebut terungkap Israel tak hanya melakukan pemusnahan massal, tetapi juga melakukan penyiksaan, dan kekerasan seksual di Gaza.

    “Kejahatan terhadap kemanusiaan berupa pemusnahan; pembunuhan; penganiayaan gender yang menyasar laki dan anak laki-laki Palestina,” demikian isi laporan COI, seperti yang dilansir Al Jazeera.

    Dalam hasil investigasi tersebut, COI menyatakan Israel bersalah atas kejahatan perang dan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan agresi di Gaza.

    Baca: Israel bebaskan sandera, lebih dari 200 warga Palestina tewas

    Laporan itu lalu berlanjut, “(Kejahatan lain termasuk) pemindahan paksa; dan penyiksaan serta perlakuan tak manusiawi dan kejam telah dilakukan.”

    COI menetapkan pemimpin Israel bertanggung jawab atas kelaparan yang dialami warga Palestina di Gaza dan ‘menghasut’ pola serangan pemukim di Tepi Barat yang diduduki.

    Dalam penyelidikannya, Israel tak bekerja sama dengan COI sebab dianggap punya bias anti negara Zionis.

    Sebelumnya COI memang sempat menyebut Israel menghalangi pekerjaan dan mencegah penyelidik mengakses negara itu dan wilayah pendudukan Palestina.

    Baca: Serangan Israel bisa sebabkan lebih dari 1 juta warga Palestina kelaparan

    COI didirikan oleh Dewan Hak Asasi Manusia PBB pada tahun 2021 untuk menyelidiki pelanggaran luas terhadap hukum kemanusiaan dan hak asasi manusia internasional yang dilakukan Israel di wilayah pendudukan Palestina.

    Dalam laporan tersebut disebutkan sejumlah besar korban sipil dan kehancuran infrastruktur sipil di Gaza adalah akibat tak terelakkan dari strategi yang dilakukan.

    Tujuannya menyebabkan kerusakan maksimal, mengabaikan prinsip-prinsip pembedaan, proporsionalitas, dan tindakan pencegahan yang memadai.

    Berdasarkan hasil investigasi tersebut, COI mengecam serangan Israel yang hingga kini masih berlajut di jalur evakuasi sipil dan daerah aman.

    Baca: PM Israel sebut peluang kecil untuk gencatan senjata

    COI menganggap otoritas Israel dengan sengaja mempersenjatai pengepungan tersebut dan menggunakan penyediaan kebutuhan untuk menunjang kehidupan.

    Termasuk memutus air, makanan, listrik, bahan bakar, dan bantuan kemanusiaan, untuk keuntungan strategis dan politik.

    Karena itu COI merekomendasikan pemerintah Israel segera melakukan gencatan senjata, mencabut blokade terhadap Gaza, menghentikan serangan terhadap warga sipil dan infrastruktur.

    Selain itu COI juga merekomendasikan pemerintah Israel mengizinkan masuknya bantuan kemanusiaan tanpa hambatan dan mematuhi sepenuhnya keputusan Mahkamah Internasional (ICJ).

    “Israel harus segera menghentikan operasi dan serangan militernya di Gaza, termasuk serangan terhadap Rafah, yang telah memakan korban jiwa ratusan warga sipil dan kembali membuat ratusan ribu orang mengungsi ke lokasi yang tidak aman tanpa layanan dasar dan bantuan kemanusiaan,” jelas Navi Pillay, ketua komisi penyelidikan dalam siaran pers.

    Baca: Israel masuk dalam daftar hitam PBB

    Dalam laporan tersebut COI juga menyalahkan Hamas karena melakukan kejahatan perang di tahap awal. Temuan PBB berasal dari rangkaian laporan yang fokus terkait serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 dan respons militer Israel.

    Laporan investigasi ini muncul saat Israel melancarkan agresi di Gaza sejak Oktober 2023. Selama operasi, pasukan bersenjata Israel menggempur habis-habisan warga dan objek sipil seperti rumah sakit hingga kamp pengungsian.

     Akibatnya lebih dari 37.200 orang tewas dan ratusan ribu tempat tinggal warga hancur. Rencananya laporan tersebut akan disampaikan kepada Dewan Hak Asasi Manusia PBB minggu depan.

    Laporan investigasi COI ini muncul hanya beberapa hari setelah Sekretaris Jenderal PBB mengumumkan rencana untuk memasukkan Israel ke dalam daftar hitam negara-negara dan kelompok bersenjata ekstremis yang merugikan anak-anak di zona konflik.

    Penulis: Nurakhmayani/berbagai sumber

     

     

  • Agresi Israel ke Gaza, Akibatkan Ribuan Warga Palestina Gagal Berhaji Tahun Ini

    Agresi Israel ke Gaza, Akibatkan Ribuan Warga Palestina Gagal Berhaji Tahun Ini

    7cloud.asia – Agresi Israel ke Jalur Gaza dan pendudukan Israel atas perbatasan Rafah yang menghubungkan Gaza dengan Mesir mengakibatkan ribuan warga Palestina gagal berhaji tahun ini.

    “Penutupan titik penyeberangan Rafah dan konflik yang masih berlangsung menyebabkan 2,500 jamaah haji Gaza, termasuk misi pendampingnya, tak bisa berangkat haji,” demikian juru bicara Kementerian Wakaf Gaza, Ikrami Al-Mudallal.

    Ia mengatakan, 2.500 jamaah haji tersebut mewakili 38 persen dari 6.600 jamaah haji asal Palestina tahun ini.

    Agresi Israel yang terus berlangsung juga menghalangi usaha kementerian terkait mempersiapkan pelaksanaan haji bagi jamaah Gaza tahun 2024 ini.

    “Hal ini termasuk menandatangani kontrak transportasi di Mesir dan Arab Saudi serta mengatur akomodasi di Makkah dan Madinah,” kata dia.

    Baca: Israel bersalah lakukan pemusnahan massal di Gaza

    Al-Mudallal mengatakan pihaknya saat ini terus berkomunikasi dengan otoritas Arab Saudi dan Mesir untuk menangani “pelanggaran terang-terangan” atas hak rakyat Palestina untuk berhaji ini, serta mencari cara supaya jamaah tetap dapat berangkat.

    Ia juga memastikan jamaah haji Gaza yang tak bisa berangkat tahun ini akan diprioritaskan untuk pemberangkatan tahun depan.

    Apalagi, ucapnya, banyak dari mereka yang telah menunggu bertahun-tahun, dan 70 persen dari mereka adalah lansia atau mengalami sakit.

    Sementara itu, ia mengatakan bahwa ada sebanyak 500 kuota undangan haji khusus dari Raja Salman dari Arab Saudi tahun untuk keluarga korban meninggal serta korban cedera dari agresi Israel di Jalur Gaza, yang diberikan kepada keluarga yang berada di luar Gaza.

    Sebelumnya, pada 6 Juni lalu Kerajaan Arab Saudi mengundang secara khusus 1.000 jamaah haji tambahan dari Gaza.

    Baca: Operasi Israel bebaskan 4 sandera tewaskan lebih dari 200 warga Palestina

    Inisiatif ini diselenggarakan oleh Kementerian Urusan Islam Saudi di bawah arahan Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud sebagai bagian dari Program Tamu Penjaga Dua Masjid Suci, menurut Saudi Press Agency (SPA)

    Program tersebut akan mencakup semua pengaturan logistik, mulai dari kedatangan mereka di Arab Saudi hingga kepulangan mereka ke Palestina.

    Arahan Raja mengikuti arahan serupa yang dikeluarkan pada Mei, menjadikan jumlah total jamaah haji dari Palestina untuk tahun ini menjadi 2.000 jamaah, menurut laporan Arab News.

    Menteri Urusan Islam Saudi Abdullatif bin Abdulaziz Al-Sheikh mengatakan tindakan Raja Salman tersebut menegaskan komitmen Kerajaan Arab Saudi untuk mendukung para keluarga Palestina, dan perjuangan Palestina yang lebih luas.

    Jamaah haji terpilih adalah mereka yang berada di luar Gaza akibat mengungsi dari perang atau menerima perawatan medis, ucap Al-Mudallal.

    Baca: AS ingatkan Israel agar tak biarkan otoritas Palestina ambruk

    Kementerian Wakaf Gaza sampai harus menyelenggarakan undian pada Maret 2023 untuk memilih jamaah haji yang akan berangkat tahun 2023 dan 2024 karena terbatasnya kuota haji dan blokade Israel.

    Lansia dan penderita sakit diutamakan mendapatkan undian itu. Al-Mudallal mengatakan bahwa pihaknya telah mengecam penutupan titik perbatasan Rafah sejak 7 Mei yang menyebabkan jamaah haji dari Gaza gagal berangkat.

    Hal tersebut merupakan “pelanggaran yang jelas terhadap kebebasan beragama dan hukum kemanusiaan internasional,” ucapnya.

    Pihaknya juga mendesak Mesir dan Arab Saudi untuk menekan pihak terkait, khususnya Israel, supaya mengizinkan warga Palestina di Gaza berangkat haji tahun ini.

    Agresi Israel ke Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 telah menewaskan lebih dari 37.200 warga sipil, yang sebagian besar merupakan wanita dan anak-anak, serta melukai lebih dari 84.900 jiwa.

    Menurut PBB, agresi Israel telah menyebabkan 85 persen penduduk Gaza terusir dari tempat tinggalnya, 60 persen infrastruktur di Gaza rusak dan hancur, serta menyebabkan kelangkaan makanan, air bersih, dan obat-obatan yang parah.

    Sumber: Antara/Anadolu/OANA

  • Perang Akibatkan Warga Palestina Tak Dapat Rayakan Hari Raya Kurban

    Perang Akibatkan Warga Palestina Tak Dapat Rayakan Hari Raya Kurban

    7cloud.asia – Terus berkecamuknya perang dan kelaparan akut karena terbatasnya bantuan kemanusiaan yang masuk, membuat warga Palestina di Jalur Gaza tidak dapat merayakan hari raya Kurban.

    Musim panas lalu warga Palestina di Jalur Gaza masih bisa merayakan hari raya Kurban sebagaimana mestinya, yakni membagikan daging kurban pada mereka yang kurang mampu.

    Namun, tahun ini, setelah berkecamuknya perang Israel-Hamas selama lebih dari delapan bulan, banyak keluarga Palestina yang kini terpaksa hanya makan makanan kaleng di tenda-tenda pengungsian yang penuh sesak.

    Stok daging hampir tidak ada di pasar lokal. Tidak ada lagi uang untuk membeli makanan di Gaza, Palestina ini.

    Baca Juga: Agresi Israel ke Gaza, Akibatkan Ribuan Warga Palestina Gagal Berhaji Tahun Ini

    Warga Palestina hanya menyaksikan perang, kelaparan, dan penderitaan, yang belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.

    “Tidak ada Iduladha tahun ini,” ujar Nadia Hamouda, yang putrinya tewas terbunuh dalam perang.

    Hamouda terpaksa meninggalkan rumahnya di bagian utara Gaza beberapa bulan lalu dan tinggal di sebuah tenda di pusat Kota Deir al Balah.

    “Yang ada hanya kesedihan, tragedi, mereka yang mati syahid, semua kematian, rasa kehilangan orang-orang yang kami cintai. Kami tidak ada di rumah sendiri. Tidak ada Idul Adha tahun ini,” ujarnya dengan suara lirih.

    Umat Muslim di seluruh dunia merayakan Hari Iduladha, atau yang juga dikenal sebagai Hari Raya Kurban, selama empat hari.

    Baca Juga: Doa Jemaah Haji untuk Palestina: Semoga Gencatan Senjata Segera Terwujud di Gaza

    Perayaan ini dimulai pada hari yang berbeda, dengan beberapa negara memulainya pada Minggu (16/6/2024) dan yang lainnya pada Senin (17/6/202).

    Hari raya Kurban memperingati ketaatan Nabi Ibrahim AS yang bersedia mengorbankan putranya, Ismail, sebagaimana diceritakan dalam Al-Qur’an.

    Sementara itu, dalam tradisi Yahudi dan Kristen, Ibrahim diminta untuk mengorbankan putranya yang lain, Isak.

    Sebelum perang Israel-Hamas pecah, Gaza memang merupakan wilayah yang miskin dan terisolasi, tetapi warga masih tetap dapat merayakan Hari Iduladha dengan memasang dekorasi berwarna-warni, memberikan hadiah kejutan bagi anak-anak.

    Warga juga membeli daging atau memotong hewan kurban untuk kemudian dibagikan kepada mereka yang kurang beruntung. 

    Baca Juga: AS Ingatkan Israel, Dampak Negatif Jika Membiarkan Otoritas Palestina Runtuh

    Hamouda mengenang perayaan Iduladha tahun lalu dengan mengatakan “ada kegembiraan dan suka cita di antara kami.”

    Perang Israel-Hamas menghancurkan sebagian besar produksi pangan dan pertanian, membuat warga Palestina harus bergantung pada bantuan kemanusiaan.

    Warga Palestina juga tertahan dalam berbagai pembatasan yang diberlakukan Israel dan terus berkecamuknya perang.

    Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, wilayah yang dikelola oleh Hamas, mengatakan sedikitnya 37.266 warga Palestina tewas dan lebih dari 85.000 lainnya luka-luka akibat serangkaian serangan Israel sejak Oktober tahun lalu.

    Sumber:VOAIndonesia

  • Prihatin! Warga Gaza Salat Idul Adha di Tengah Puing Bangunan

    Prihatin! Warga Gaza Salat Idul Adha di Tengah Puing Bangunan

    7cloud.asia – Ratusan orang di Gaza pada Minggu (16/6) melaksanakan salat Idul Adha di tengah puing-puing dan bangunan yang hancur.

    Mereka melaksanakan salat Idul Adha dalam suasana muram yang ditandai dengan berlanjutnya agresi Israel dan tidak adanya kegembiraan pada hari raya tersebut.

    Koresponden kantor berita Palestina, WAFA, melaporkan bahwa ratusan jamaah melaksanakan salat Idul Adha di berbagai wilayah Gaza, di atas puing-puing, di sisa-sisa bangunan mesjid, dan di tempat terbuka, sambil membawa serta anak-anak mereka.

    Baca: Israel pasang besi penghalag di gerbang masjid Al Aqsha

    Semangat perayaan Idul Adha yang lazim tidak ada karena agresi Israel yang tiada henti yang telah berlangsung selama sembilan bulan.

    Para pemimpin salat Idul Adha menekankan pentingnya menjenguk keluarga dari kerabat mereka yang sudah meninggal, korban luka, dan narapidana untuk menjaga tali silaturahmi.

    Mereka menekankan perlunya memberikan kebahagiaan kepada anak-anak yatim piatu, serta anak-anak korban luka dan tahanan.

    Sumber: WAFA

  • UNRWA Sebut Lebih dari 50 Ribu Anak di Jalur Gaza Kekurangan Gizi Akut

    UNRWA Sebut Lebih dari 50 Ribu Anak di Jalur Gaza Kekurangan Gizi Akut

    7cloud.asia – Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) melaporkan pada Sabtu (15/6/2024), lebih dari 50.000 anak di Jalur Gaza sangat membutuhkan perawatan karena kekurangan gizi akut.

    “Lebih dari 50.000 anak memerlukan pengobatan karena kekurangan gizi akut,” kata UNRWA melalui sebuah pernyataan.

    Badan tersebut mengatakan bahwa dengan berlanjutnya pembatasan akses kemanusiaan, masyarakat di Gaza terus menghadapi tingkat kelaparan yang sangat parah.

    “Tim UNRWA bekerja tanpa kenal lelah untuk menjangkau keluarga-keluarga dengan bantuan tetapi situasinya sangat buruk,” ucap badan tersebut.

    Baca: Israel masuk dalam daftar hitam PBB

    Hampir 37.300 warga Palestina telah terbunuh oleh pasukan Israel di Gaza sejak Oktober tahun lalu.

    Sebagian besar dari korban adalah perempuan dan anak-anak, dan hampir 85.200 lainnya terluka, menurut otoritas kesehatan setempat.

    Lebih dari delapan bulan setelah serangan Israel, sebagian besar wilayah Gaza hancur akibat blokade makanan, air bersih, dan obat-obatan.

    Israel dituduh melakukan genosida di Mahkamah Internasional yang keputusan terbarunya memerintahkan Tel Aviv untuk segera menghentikan operasinya di Rafah.

    Baca: Serangan Israel tewaskan lebih dari 15 ribu anak Palestina

    Tempat ini lebih dari 1 juta warga Palestina mencari perlindungan dari perang sebelum diserbu pada 6 Mei.

    Adapun Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) mengesahkan resolusi untuk mewujudkan gencatan senjata serta penyelesaian secara komprehensif konflik di Jalur Gaza akibat agresi Israel yang berlangsung sejak Oktober 2023.

    Resolusi DK PBB nomor 2735 tahun 2024 yang disahkan pada Senin (10/6/2024) tersebut didukung oleh 14 negara anggota DK PBB, termasuk Amerika Serikat sebagai negara pengusul.

    Sementara itu, Rusia menyatakan abstain terhadap usulan tersebut.

    Sumber : Anadolu

  • Armenia Resmi Akui Negara Palestina, Turki: Pengakuan Negara Palestina adalah Keharusan

    Armenia Resmi Akui Negara Palestina, Turki: Pengakuan Negara Palestina adalah Keharusan

    7cloud.asia – Pemerintah Armenia, Jumat (21/6/2024) resmi mengumumkan pengakuannya terhadap Negara Palestina.

    Armenia menjadi negara terbaru di antara sederetan negara yang mengakui Negara Palestina selama berkecamuknya perang di Gaza.

    Sebulan lalu, pada Rabu (22/5/2024), Irlandia, Norwegia dan Spanyol juga  resmi mengumumkan pengakuan mereka terhadap negara Palestina.

    Belum ada tanggapan resmi dari Israel atas keputusan Armenia ini. Namun pengakuan negara Palestina oleh sejumlah negara lain sebelumnya menuai teguran keras dari para pejabat Israel.

    Baca: Sejumlah negara Eropa akui Palestina

    Dalam pernyataannya, Armenia juga menyatakan bahwa negara itu menentang “kekerasan terhadap penduduk sipil.“

    “Menegaskan komitmennya terhadap hukum internasional, kesetaraan bangsa, kedaulatan dan hidup berdampingan secara damai, Republik Armenia mengakui Negara Palestina,” kata pernyataan Kementerian Luar Negeri Armenia seperti dilansir VOA Indonesia.

    Dalam pengumuman itu, Armenia menegaskan kembali komitmennya pada prinsip-prinsip kesetaraan, kedaulatan, dan hidup berdampingan secara damai.

    Kementerian juga mengatakan Armenia sebelumnya mendukung resolusi Majelis Umum PBB yang menyerukan gencatan senjata segera di Jalur Gaza.

    Baca: Sebanyak 142 negara dukung Palestina jadi anggota PBB

    Perang di Gaza telah menewaskan lebih dari 37 ribu warga Palestina dan melukai puluhan ribu lainnya sejak 7 Oktober 2023.

    Kementerian juga mengutuk serangan Israel terhadap infrastruktur sipil dan kekerasan terhadap penduduk sipil.

    Pernyataan itu menambahkan bahwa Armenia “benar-benar ingin membangun perdamaian dan stabilitas jangka panjang di Timur Tengah.”

    Pemerintah Turki menyambut baik keputusan Armenia untuk mengakui Negara Palestina, kata Kementerian Luar Negeri Turki dalam sebuah pernyataan.

    Baca: Mungkinkah mewujudkan Palestina merdeka

    “Kami menyambut baik keputusan Armenia yang mengakui Negara Palestina, menyusul negara-negara seperti Spanyol, Irlandia, Norwegia dan Slovenia,” kata pernyataan itu.

    Pengakuan terhadap negara Palestina adalah suatu keharusan demi hukum, keadilan dan hati nurani internasional, tambahnya.

    Pernyataan tersebut menyimpulkan bahwa Ankara akan melanjutkan upayanya untuk mengakui Palestina oleh lebih banyak negara.

     

    Sumber: Antara/Anadolu

  • Sejak Serangan Israel Oktober Tahun Lalu, Hampir 38 Ribu Warga Palestina Tewas

    Sejak Serangan Israel Oktober Tahun Lalu, Hampir 38 Ribu Warga Palestina Tewas

    7cloud.asia – Sedikitnya 60 warga Palestina tewas dalam serangan Israel di Jalur Gaza, Rabu (25/6), sehingga menambah jumlah korban tewas di daerah kantung Palestina yang terkepung itu secara keseluruhan menjadi 37.718 orang sejak 7 Oktober 2023.

    Pernyataan dari Kementerian Kesehatan di Gaza itu menambahkan bahwa sekitar 86.377 orang lainnya terluka dalam serangan gencar tersebut.

    “Pasukan Israel membunuh 60 orang dan melukai 140 lainnya dalam empat pembantaian para keluarga dalam 24 jam terakhir,” kata kementerian itu.

    “Banyak orang masih terjebak di bawah reruntuhan dan di jalan karena tim penyelamat tidak dapat menjangkau mereka,” tambahnya.

    Mengabaikan resolusi Dewan Keamanan PBB yang menuntut gencatan senjata segera, Israel menghadapi kecaman internasional di tengah serangan brutal yang terus berlanjut di Gaza sejak serangan kelompok Palestina Hamas pada 7 Oktober 2023.

    Lebih dari delapan bulan setelah perang Israel, sebagian besar wilayah Gaza hancur akibat blokade yang melumpuhkan makanan, air bersih, dan obat-obatan.

    Israel dituduh melakukan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ).

    Keputusan terbaru ICJ memerintahkan Tel Aviv untuk segera menghentikan operasi militernya di kota selatan Rafah, tempat lebih dari satu juta warga Palestina mencari perlindungan dari perang sebelum diserbu pada 6 Mei.

    Sumber: Anadolu