Tag: sampah

  • Greenpeace: RDF Rorotan Solusi Palsu Pengelolaan Sampah di Jakarta

    Greenpeace: RDF Rorotan Solusi Palsu Pengelolaan Sampah di Jakarta

    7cloud.asia – Greenpeace Indonesia melihat ada masalah serius terkait pengoperasian fasilitas Refuse Derived Fuel atau RDF di Rorotan, Jakarta Utara mulai April ini.

    Fasilitas RDF di Rorotan ini tetap berjalan meskipun belum ada solusi nyata untuk menghilangkan bau menyengat dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang dialami warga sekitar.

    Greenpeace menegaskan, ketimbang melanjutkan RDF di Rorotan pemerintah seharusnya berfokus pada solusi pengolahan sampah berbasis pemilahan dari sumbernya dan sesuai hierarki pengelolaan sampah, bukan sekadar mengandalkan RDF sebagai jalan keluar instan.

    Fasilitas RDF digunakan untuk mengolah sampah yang menumpuk dengan harapan dapat menghasilkan energi alternatif dari sampah. Namun, Greenpeace menilai bahwa cara ini hanyalah solusi palsu.

    “Selain tidak menyelesaikan akar masalah, proses RDF juga menghasilkan polusi udara yang signifikan, yang semakin memperburuk kondisi lingkungan dan kesehatan masyarakat,” papar Leonard Simanjuntak, Kepala Greenpeace Indonesia seperti dilansir di laman resmi Greenpeace.

    Leonard menegaskan mempertahankan operasional RDF di Rorotan tidak menjadi solusi dari masalah sampah di Jakarta.

    Baca: RDF di Rorotan akan beroperasi bulan depan

    Teknologi RDF dengan biaya fantastis di Bantargebang, hanya mampu mengolah 1500 – 2000 ton sampah per hari. Sementara limpahan sampah yang diterima mencapai 7500-8000 ton perhari.

    Selain itu, Riset International Pollutants Elimination Network menyebut pengolahan sampah melalui RDF rata-rata mengandung hingga 50 persen limbah plastik campuran, yang tergolong limbah berbahaya, yang pada akhirnya akan dibakar di kiln semen dan insinerator.

    Hal ini menyebabkan pencemaran udara saat dibakar, karena plastik dapat melepaskan zat berbahaya ke udara.

    “Pemerintah selalu mengandalkan teknologi mahal tanpa ada fokus pada pengurangan sampah dari sumbernya. Ini bukan solusi yang nyata dan justru memperburuk dampak lingkungan dan mengancam kesehatan masyarakat,” tegas Ibar Akbar, Juru Kampanye Isu Plastik dan Perkotaan Greenpeace Indonesia.

    Untuk itu, Greenpeace mendorong pemerintah untuk mampu beralih ke solusi yang lebih berkelanjutan, mulai dari pengelolaan sampah berbasis pemilahan hingga penerapan kebijakan yang ketat untuk mengurangi kemasan plastik sekali pakai.

    Penanggulangan sampah di hilir tidak akan berdampak signifikan, jika mata rantai sumber pencemarnya atau permasalahan di hulu tidak diputus terlebih dahulu.

    Baca: RDF di Rorotan tak beroperasi tapi warga sekitar tetap mencium bau sampah

    “Pemerintah harus serius dalam menerapkan regulasi pengurangan plastik sekali pakai, termasuk insentif untuk sistem guna ulang (reuse) sebagai langkah serius untuk mengurangi dampak limbah plastik,” jelas Ibar.

    Selain itu, solusi penggunaan deodorizer dan filter juga hanya akan mengurangi bau sampah tanpa penanganan yang signifikan terhadap polusi udara yang dihasilkan. Akibatnya, masyarakat tetap akan mengalami gangguan kesehatan yang lebih buruk.

    Bukan hanya ISPA dan iritasi mata sebagaimana dialami saat ini, gangguan kesehatan kulit seperti iritasi kulit, dermatitis kontak bahkan peningkatan risiko alergi pada kulit dan pernapasan juga mengancam masyarakat di sekitar lokasi RDF.

    Greenpeace Indonesia menegaskan bahwa akar permasalahan utama dari bau menyengat di RDF Rorotan adalah sampah yang tidak terpilah dan dalam kondisi yang kotor.
    Selain itu proyek RDF kurang transparan, tidak melibatkan partisipasi masyarakat, dan tanpa kajian mendalam sehingga mengorbankan warga.

    Jika pemerintah ingin benar-benar menangani krisis sampah dengan efektif, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah menerapkan sistem pengelolaan yang berbasis pemilahan dan pengolahan berkelanjutan.

    Pemerintah diminta tak sekadar mengandalkan teknologi mahal yang justru memperparah kondisi lingkungan dan berdampak buruk pada masyarakat sekitar.

  • Mengintip Bagaimana Kota-kota di Jepang Mengelola Sampah

    Mengintip Bagaimana Kota-kota di Jepang Mengelola Sampah

    7cloud.asia – Aturan soal sampah berbeda di masing-masing negara dan wilayah. Di Jepang, pembuangan sampah merupakan hal yang dianggap sangat serius.

    Sejak tahun 1990-an, pemerintah Jepang mematok target nasional untuk tidak menumpuk sampah di tempat pembuangan akhir. Saat itu mereka juga berambisi mengurangi sampah dan mempromosikan daur ulang.

    Dilansir BBC Indonesia, masing-masing pemerintah daerah menyelaraskan target nasional Jepang tersebut dengan cara mereka berbeda.

    Di Fukushima, kantong sampah harus diletakkan di tempat pengumpulan setiap pagi pukul 08.30. Namun, warga dilarang mengumpulkan sebelum waktu yang ditentukan.

    Berbagai jenis sampah dipilah berdasarkan jenisnya—mudah terbakar, tidak mudah terbakar, dan dapat didaur ulang.

    Baca: Kamikatsu kota di Jepang yang dikenal minim sampah

    Masing-masing jenis sampah dikumpulkan pada waktu yang berbeda. Warga yang ingin membuang sampah barang-barang dengan ukuran melebihi ketentuan—seperti peralatan rumah tangga dan mebel—wajib membuat jadwal khusus untuk membuang sampah-sampah tersebut.

    Salah satu kota di Jepang yang paling ambisius dalam mengelola sampah adalah Kota Kamikatsu. Warga di kota itu merasa bangga karena mereka memilah sampah menurut 45 kategori.

    Sementara itu, pemerintah Prefektur Kagoshima mewajibkan penduduk menulis nama di kantong sampah mereka.

    Dua tahun lalu kota Chiba menguji coba sistem berbasis kecerdasan buatan guna membantu warga membuang sampah dengan benar.

    Terakhir Kota Fukushima menerapkan sanksi yang ketat kepada warganya yang tidak tertib mengelola sampahnya.

    Baca: Cara mudah memilah sampah dari rumah

    Kota Fukushima bakal menerapkan kebijakan yang lebih ketat dengan mengumumkan nama pelanggar aturan soal sampah di situs pemerintah kota.

    Mulai Maret 2025, petugas kebersihan di Fukushima akan memeriksa kantong-kantong sampah yang dinilai melanggar aturan—seperti sampah yang belum disortir dengan benar, atau ukuran sampah yang melebihi batas—dan dalam beberapa kasus mengungkap pemiliknya secara publik.

    Tahun lalu, Fukushima melaporkan lebih dari 9.000 kasus sampah yang tidak sesuai peraturan.

    Menurut media setempat, Fukushima diyakini sebagai kota pertama di Jepang yang berencana untuk mengungkap nama individu dan pelaku usaha yang melanggar ketentuan soal sampah.

  • Jakarta Pelopori Penggunaan Truk Sampah Listrik di Indonesia

    Jakarta Pelopori Penggunaan Truk Sampah Listrik di Indonesia

    7cloud.asia – Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta mulai mengoperasikan truk sampah ramah lingkungan bertenaga listrik tipe compactor berkapasitas enam meter kubik yang sepenuhnya menggunakan tenaga listrik dan bebas emisi.

    Truk sampah ini menggunakan sistem plug-in dan mampu memadatkan sampah secara otomatis dengan pengoperasian yang minim kebisingan sehingga lebih ramah lingkungan.

    Langkah ini menjadikan Jakarta sebagai salah satu pelopor daerah di Indonesia yang menggunakan truk sampah listrik dalam kegiatan operasional pengelolaan sampahnya.

    Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Asep Kuswanto mengatakan, tahun ini pihaknya sudah mengadakan lima unit truk pengangkut sampah jenis compactor listrik yang ramah lingkungan dan bebas emisi.

    Menurutnya, langkah ini merupakan bagian dari upaya DKI Jakarta dalam mengurangi polusi udara dan emisi karbon dari sektor transportasi, khususnya armada pengangkut sampah.

    “Ini merupakan semangat mengurangi polusi udara dan emisi karbon. Kita mulai menggagasnya melalui operasional compactor listrik ke depannya. Tahun ini kami mengadakan lima unit compactor listrik termasuk charger-nya, dengan kapasitas enam sampai tujuh meter kubik,” ujar Asep, Senin (14/4/2025).

    Baca: RDF Rorotan disebut solusi palsu pengelolaan sampah di Jakarta

    Ia menyampaikan, unit compactor listrik ini memiliki spesifikasi teknis yang telah disiapkan secara matang untuk mendukung operasional pengelolaan sampah di wilayah DKI Jakarta.

    Asep menjelaskan, compactor ini berkapasitas enam meter kubik, sistem full elektrik, tanpa emisi dan tanpa kebisingan.

    Seluruh proses pengoperasian menggunakan tenaga listrik dengan sistem plug-in dan dapat memadatkan sampah secara otomatis.

    Adapun dimensi alat mencakup panjang 3.300 mm, lebar 1.700 mm, tinggi 1.950 mm, dan berat kosong lebih kurang 1.700 kilogram. Daya listrik yang dibutuhkan sebesar 1,5 kW, 3 phase.

    Compactor ini juga dilengkapi panel kendali digital, safety switch, serta hydraulic control unit yang menjamin pengoperasian alat secara aman dan efisien.

    Asep menyebut, pengadaan truk compactor listrik ini juga merupakan bagian dari peremajaan armada truk pengangkut sampah milik Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta.

    Baca: Pengolahan sampah menjadi energi terbarukan atau RDF

    Dengan mengganti sebagian armada lama berbahan bakar fosil ke kendaraan berbasis listrik, pihaknya berupaya membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih ramah lingkungan dan modern.

    “Seluruh sampah yang diangkut ke RDF Plant Rorotan menggunakan truk compactor, termasuk lima unit truk compactor listrik ini. Kedepannya kita akan terus tambah lagi,” katanya.

    Selain itu, Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) akan disiapkan di beberapa lokasi strategis seperti pool truk Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, RDF Plant Rorotan, dan TPST Bantar Gebang.

    Teknologi pengisian dayanya menggunakan sistem super fast charging, yang memungkinkan baterai kendaraan terisi penuh hanya dalam waktu 20 hingga 30 menit.

    “Kami juga telah melatih para operator untuk mengoperasikan compactor listrik ini. Pengoperasiannya cukup mudah dan tidak jauh berbeda dengan compactor konvensional berbahan bakar solar, sehingga adaptasi berjalan lancar,” ucapnya.

    Asep menambahkan, upaya ini menjadi bagian dari visi jangka panjang Pemprov DKI Jakarta dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang rendah karbon dan berkelanjutan.

    Dia optimistis seluruh armada truk sampah di Jakarta dapat menggunakan compactor listrik di masa depan, seiring dengan perkembangan teknologi dan infrastruktur pendukungnya.

    “Jakarta ingin menunjukkan bahwa transisi menuju kendaraan ramah lingkungan bukan hal yang mustahil. Semua bisa dimulai dari sekarang, dan bukan tidak mungkin ke depan seluruh truk sampah kami adalah truk listrik,” tandasnya.

     

  • Sedekah Sampah, Cara Unik Pemkab Agam Membangun Kepedulian Lingkungan

    Sedekah Sampah, Cara Unik Pemkab Agam Membangun Kepedulian Lingkungan

    7cloud.asia – Sedekah uang, makanan atau barang kebutuhan sehari-hari kerap dijumpai di berbagai tempat. Tetapi sedekah sampah? Mungkin hanya beberapa wilayah yang melakukannya. Salah satunya Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar).

    Ya, pemerintah Kabupaten Agam, Sumbar baru-baru ini meluncurkan program sedekah sampah. Program ini untuk membangun kepedulian lingkungan berbasis surau dan rumah ibadah sekaligus menjadi ladang pahala bagi masyarakat.

    Melansir Antaranews.com, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Agam, Afniwirman menjelaskan program sedekah sampah adalah salah satu upaya pemerintah dalam menangani sampah dengan berkolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan masjid.

    Baca: Puluhan bank sampah di Jakarta tak beroperasi

    “Sedekah sampah sebagai bagian dari dukungan terhadap program unggulan bangkit dari surau atau bangkit dari mushalla. Peluncuran program sedekah sampah telah dilakukan di Masjid Agung Nurul Falah Lubuk Basung, Rabu (16/4/2025) lalu,” jelas Afniwirman.

    Agar program sedekah sampah ini berjalan lancar, DLH Kabupaten Agam menyediakan tempat berupa kerangkeng di sekitar masjid.

    Kerangkeng ini untuk menampung sampah-sampah seperti botol plastik, botol kaleng, dan botol gelas bekas minuman yang berserakan yang masih memiliki nilai jual.

    Baca: Begini kota-kota di Jepang mengelola sampah

    Dengan demikian, pihaknya berharap masyarakat yang datang ke masjid atau melintasi masjid dapat berpartisipasi dengan niat sedekah sampah.

    “Bagi pengunjung yang sedang dalam perjalanan di atas mobil pun, kalau ada sampah kering bisa dimasukkan ke kerangkeng itu,” ujarnya.

    Jika sampah yang terkumpul sudah banyak, maka sampah tersebut akan dijual kepada pedagang dan hasilnya akan menjadi pemasukan untuk masjid.

    “Ada tiga manfaat dari program ini, yakni lingkungan jadi bersih, masyarakat yang memasukkan sampah mendapatkan pahala sedekah, masjid memperoleh uang dari hasil penjualan sampah itu,” terangnya.

    Dengan adanya program sedekah sampah ini, pihaknya berharap dapat menjadi contoh untuk daerah lainnya menjadi sebuah gerakan sederhana namun bermakna dalam membangun kepedulian lingkungan berbasis surau dan rumah ibadah.

     

     

     

  • Jangan Buang Kulit Jahe: Karena Menyimpan Begitu Banyak Manfaat

    Jangan Buang Kulit Jahe: Karena Menyimpan Begitu Banyak Manfaat

    7cloud.asia – Banyak orang memasak jahe dengan membuang kulit jahe sebagai sampah makanan karena mengira ini tidak bisa dimanfaatkan.

    Padahal kulit jahe inilah yang justru memberi jahe begitu banyak manfaat untuk kesehatan.

    Kulit jahe antara lain mengandung senyawa bioaktif yang memiliki sifat fitokimia yang mencakup efek antioksidan, antimikroba, dan antikanker.

    Kulit jahe merupakan sumber serat dan vitamin yang kaya, termasuk vitamin C, kalsium, zat besi, dan lainnya.

    Mungkin Anda bertanya, jika tidak akan membuang sampah organik yang satu ini, bagaimana cara menggunakan kulit jahe ini?

    Baca: Tak hanya sebagai bumbu, jahe menyimpan sederet manfaat

    Anda dapat menggunakan jahe seperti biasa, dengan kulitnya yang masih menempel (sebenarnya, sangat sedikit resep yang secara khusus mengatakan Anda harus menggunakan jahe yang sudah dikupas).

    Atau Anda juga dapat menggunakan kulit jahe dalam resep lain ataupun untuk membuat eko enzim.

    Masukkan jahe dengan kulitnya ke dalam sup untuk menambah rasa (tetapi angkat sebelum disajikan).

    Rebus jahe dengan air untuk membuat kaldu jahe, yang dapat disimpan di lemari es. Kaldu ini dapat ditambahkan ke smoothie, jus, koktail, air soda, atau digunakan untuk mengukus sayuran guna menambah rasa pedas.

    Baca: Jangan lagi membuang kulit buah yang Anda makan

    Atau untuk mendapatkan rasa yang kaya, panggang kulit jahe dengan api kecil dan giling hingga menjadi bubuk (bisa menggunakan blender dengan alat penggiling kecil atau penggiling kopi).

    Anda dapat menggunakan bubuk ini untuk menyeduh teh jahe yang lezat – pastikan Anda menyaringnya setelah diseduh.

    Bubuk dari kulit jahe ini juga dapat digunakan sebagai bumbu dalam memasak dan memanggang.

    Kiat lainnya agar manfaat kulit jahe ini tidak terbuang sia-sia, cobalah menggunakan sendok untuk mengupas jahe, daripada menggunakan pisau ataupun alat pengupas lainnya

  • Ketimbang Membuang Kulit Jeruk Jadi Sampah, Mending Diolah Menjadi Selai, Manisan Ataupun Sirup

    Ketimbang Membuang Kulit Jeruk Jadi Sampah, Mending Diolah Menjadi Selai, Manisan Ataupun Sirup

    7cloud.asia – Banyak orang belum tahu bahwa kulit buah-buahan bisa dimanfaatkan. Faktanya, kulit jeruk dan juga kulit banyak buah lainnya tidak hanya bisa dimakan, tetapi juga mengandung nutrisi bermanfaat.

    Faktanya, sebagian besar orang masih membuang kulit yang beratnya hampir sepertiga dari buah itu sendiri. Contohnya, sekitar 20 persen dari buah jeruk adalah kulit.

    Pada 2018, sekitar 15,1 juta ton kulit jeruk dihasilkan, menurut sebuah penelitian. Berat ini setara dengan hampir 80.000 paus biru atau 2.500 pohon redwood raksasa.

    Jadi jika Anda mempunyai tumpukan jeruk, daripada dibiarkan membusuk cobalah untuk mengolahnya menjadi berbagai makanan olahan seperti selai jeruk, manisan kulit jeruk dan sebagainya.

    Baca: Jangan lagi buang kulit buah

    Selain dari daging buah jeruk, selai jeruk juga bisa dibuat dari kulit jeruk. Resep “makanan klasik Inggris yang dipopulerkan oleh Paddington Bear” di BBC Good Food.

    Hanya ada tiga bahan yang dibutuhkan: jeruk (1,3 kilogram), perasan dua buah lemon, dan gula pasir dalam jumlah yang banyak (2,3 kilogram).

    Dan, membuat selai jeruk tidaklah cepat atau sederhana. Butuh waktu hampir tiga jam untuk membuat dua stoples dan melibatkan beberapa langkah.

    Dua jam pertama dihabiskan untuk merebus dan menyaring jeruk sehingga mengeluarkan pektin, yaitu pati alami yang membantu selai jeruk mengeras.

    Baca: Ekoenzim cairan ajaib untuk lingkungan

    Kemudian ke dalam pati alami ini ditambahkan gula dan irisan kulit jeruk, lalu merebus kembali campuran jeruk itu selama sekitar 45 menit hingga didapatkan tekstur yang diinginkan.

    Untuk menambahkan rasa yang unik, Anda dapat menambahkan yoghurt ataupun bahan lainnya.

    Selain selai jeruk, kulit jeruk juga bisa diolah menjadi manisan, camilan manis yang sempurna. Caranya, kulit jeruk dipotong lalu direbus dalam air mendidih selama 10 menit.

    Anda harus mengulangi proses ini tiga kali dan membilas kulit jeruk dengan air dingin untuk menghilangkan rasa pahit, sebelum mencampur gula dan air.

    Kulit jeruk juga bisa diolah menjadi sirup jeruk yang lezat untuk minuman. Jadi semangkuk jeruk menjadi selai jeruk, manisan kulit jeruk, segelas jus dan sirup jeruk.

    Baca: Kulit jahe punya banyak manfaat

  • Jangan Buru-buru Membuang Kulit Bawang: Manfaatkan untuk Bumbu Penyedap hingga Pewarna Alami

    Jangan Buru-buru Membuang Kulit Bawang: Manfaatkan untuk Bumbu Penyedap hingga Pewarna Alami

    7cloud.asia – Kulit bawang merupakan salah satu sampah rumah tangga yang sering dibuang begitu saja. Banyak orang hampir selalu membuang kulit bawang saat memasak.

    Mulai sekarang, jangan lagi lakukan itu karena kulit bawang menyimpan sederet manfaat dan dapat dimanfaatkan bagi tanaman dan kesehatan. Selain bisa dijadikan pupuk organik cair atau pestisida alami untuk tanaman,

    Seperti banyak kulit buah dan sayuran, kulit bawang mengandung zat kimia yang disebut flavonoid, yang memiliki sifat antioksidan dan antiperadangan.

    Jadi Anda bisa memanfaatkan khasiat ini, dengan mengolah kulit bawang menjadi bubuk yang selanjutnya dimanfaatkan untuk beragam hal baik sebagai herbal, bumbu ataupun pewarna kain.

    Di media sosial, sekelompok orang mengeringkan kulit bawang dan menggilingnya untuk menjadi bubuk. Jika Anda ingin mencoba, maka mulai sekarang sisihkan lapisan luar bawang yang biasa kita buang untuk dijadikan “bubuk”.

    Baca: Jangan lagi membuang kulit buah menjadi sampah

    Anda dapat mengeringkan kulit bawang selama beberapa jam di oven, lalu memasukkannya ke dalam food processor. Untuk hasil yang lebih memuaskan tambahkan garam.

    Ini akan meningkatkan rasa dan kemudian mencampur itu ke bumbu rempah-rempah umum untuk mengurangi rasa bawang.

    Anda juga dapat mencoba cara yang sama sekali berbeda. Flavonoid ini dapat direbus dan diekstraksi dari sayuran, menghasilkan pewarna berwarna yang kuat.

    Warna jingga, kuning, dan cokelat dapat diekstraksi dari kulit bawang dengan cara direbus dan digunakan untuk mewarnai kain.

    Tanin (jenis molekul yang sama yang memberi rasa kering pada anggur) juga ditemukan di lapisan luar bawang. Rasa pahitnya menghalangi makhluk yang lapar mengontaminasi.

    Baca: Eko Enzim cairan ajaib untuk lingkungan

    Namun, sama seperti tanin yang membuat noda anggur sulit dihilangkan, tanin dalam bawang juga dapat menjadi pewarna efektif untuk serat seperti katun dan linen, yang biasanya perlu diberi bahan dasar fiksatif yang disebut mordan untuk memastikan pewarna bertahan lama.

    Dan berikut pengalaman Francis Agustin memanfaatkan kulit bawang untuk pewarna, sebagaimana dilansir di BBC Indonesia:

    Pertama, saya mencuci kain (saya menggunakan kaus kaki bersih) dalam air hangat untuk menghilangkan minyak atau kotoran yang masih menempel, yang dapat menghambat efektivitas pewarna.

    Setelah mengeringkan kain, saya memasukkan kulit bawang ke dalam panci logam besar dan ditambah sekitar dua cangkir air (jumlah pewarna dan air tergantung pada seberapa besar kainnya).

    Dengan api sedang, didihkan kulit bawang, dan biarkan larutan mendidih selama sekitar 15 menit, hingga air berubah menjadi warna kuning tua.

    Baca: Manfaatkan kulit jahe semaksimal mungkin

    Saat kain hampir kering, matikan api dan angkat kulit bawang dengan sendok berlubang. Celupkan kain ke dalam larutan pewarna panas hingga seluruhnya tertutup dan biarkan selama 30 menit hingga satu jam.

    Tanpa memeras kain, biarkan di tempat yang dingin hingga kering. Jika warna kuning pada kain tidak cukup kuat, ulangi proses perendaman hingga mencapai warna yang diinginkan.

    Saya sangat terkejut dengan hasil percobaan menggunakan kulit bawang sebagai pewarna dan berencana untuk mencobanya lagi.

    Kaus kaki saya berwarna jingga musim gugur, tetapi dengan penggunaan berbagai jenis bawang atau bahan pengikat, warna kain dapat berubah mulai dari kuning sawi cerah hingga hijau pinus yang kalem.

  • Kemenhut Temukan 5 Lokasi Pembuangan Sampah Ilegal di Dalam Hutan di Karawang

    Kemenhut Temukan 5 Lokasi Pembuangan Sampah Ilegal di Dalam Hutan di Karawang

    7cloud.asia – Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menemukan lima titik yang diduga menjadi tempat pembuangan sampah ilegal di dalam kawasan hutan perhutanan sosial di sejumlah wilayah Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

    Direktur Pencegahan dan Penanganan Pengaduan Kehutanan, Yazid Nurhuda, dalam keterangannya yang diterima di Karawang, Rabu (30/4/2025) mengatakan, lokasi dugaan pembuangan sampah ilegal itu ditemukan di kawasan perhutanan sosial wilayah Kecamatan Ciampel, Pangkalan, Telukjambe Barat dan Kecamatan Telukjambe Timur, Karawang.

    Timbunan sampah yang ditemukan didominasi jenis sampah rumah tangga, kayu-kayu bekas, tumpukan semen, dan pecahan kaca bekas. Luas perkiraan timbunan sampah di setiap lokasi sekitar 500-1000 meter persegi.

    Ia mengatakan, temuan lima titik dugaan pembuangan sampah ilegal itu terungkap setelah pihaknya melakukan giat operasi terhadap penggunaan kawasan hutan secara ilegal untuk penimbunan sampah di dalam Izin Pemanfaatan Hutan Perhutanan Sosial (IPHPS) Perkumpulan Kelompok Tani Hutan Mandiri Telukjambe Bersatu (PKTHMTB) di wilayah Karawang.

    Operasi tersebut merupakan respons cepat tanggap terhadap aduan masyarakat pada isu kehutanan, guna mencegah dampak kerusakan hutan yang lebih besar.

    Baca Juga: Pengembangan Bank Sampah di Pulau Seribu Kurangi Sampah Hingga 80 Persen

    Yazid mengapresiasi partisipasi aktif masyarakat dalam turut serta memberikan perhatian terhadap isu-isu kehutanan yang menjadi tanggung jawab Ditjen Gakkum Kemenhut untuk kepentingan pelestarian hutan.

    Dalam operasi itu, Tim Ditjen Gakkum melakukan giat verifikasi lapangan sekaligus tindakan non-yustisi berupa pemasangan plang larangan/pengumuman di lokasi yang diduga merupakan areal penggunaan kawasan perizinan perhutanan sosial yang tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang kehutanan.

    Ditjen Gakkum Kemenhut akan mendalami pihak-pihak terkait yang terlibat dalam kegiatan ilegal di dalam kawasan hutan untuk meminta pertanggungjawaban hukum.

    Dalam hal berdasarkan hasil pendalaman terpenuhi unsur perbuatan pidana berupa penggunaan kawasan hutan secara ilegal sebagaimana diatur dalam pasal 78 ayat (3) jo pasal 50 ayat (2) huruf a UU Nomor 41/1999 tentang Kehutanan.

    Baca Juga: Puluhan Bank Sampah Unit di Jakarta Pusat Tidak Aktif Beroperasi

    Sebagaimana diubah terakhir dengan paragraf 4 pasal 36 angka 17 dan angka 19 UU Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Perppu Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja Menjadi Undang-Undang (UU Cipta Kerja).

    Ancaman hukuman terhadap pelanggaran tersebut maksimal pidana penjara 10 tahun dan pidana denda maksimal Rp7,5 Miliar, PPNS Ditjen Gakkum akan menindaklanjuti dengan langkah penegakan hukum.

    Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kemenhut, Januanto, menyampaikan, tindakan pemanfaatan perizinan di bidang kehutanan yang tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan merupakan pelanggaran hukum yang serius dan akan ditindak secara tegas.

    Langkah-langkah penertiban ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk menjaga kelestarian kawasan hutan dan mencegah kerusakan lingkungan.

  • Manfaatkan Kulit Nanas Jadi Kompos hingga Minuman yang Lezat

    Manfaatkan Kulit Nanas Jadi Kompos hingga Minuman yang Lezat

    7cloud.asia – Setiap kali makan nanas, mungkin Anda merasa sangat boros. Terlalu banyak limbah dari bagian inti, bagian atas dan kulit nanas daripada buah yang bisa dimakan.

    Untuk membuang rasa bersalah karena telah mengotori lingkungan, Anda dapat mencoba memanfaatkan kulit nanas dengan mengolahnya menjadi berbagai bahan yang berguna.

    Kulit nanas mengandung berbagai senyawa kimia seperti bromelain, flavonoid, dan tanin yang bermanfaat bagi kesehatan. Selain itu, kulit nanas juga kaya serat dan dapat digunakan dalam berbagai olahan makanan dan minuman. 

    Mengomposkan kulit nanas —alih-alih mengirimnya ke tempat pembuangan sampah—dapat membantu mengurangi jumlah metana yang dilepaskan ke atmosfer.

    Selain itu Anda juga dapat mengolah kulit nanaas menjadi eko enzym yang selanjutnya bisa dimanfaatkan menjadi beragam bahan yang berguna untuk lingkungan.

    Jika dua hal ini terlalu biasa, Anda dapat mengolah kulit nanas menjadi tepache. Dilansir BBC Environment, tepache adalah minuman fermentasi Meksiko yang sudah ada sejak zaman pra-Hispanik.

    Baca: Sampah kulit buah cemari dan bahayakan lingkungan

    Minuman ini tidak hanya memanfaatkan kulit nanas yang biasa dibuat, tetapi juga merupakan sumber probiotik yang sangat bermanfaat.

    Resep ini menyenangkan – dan mudah – untuk dibuat, tetapi berhati-hatilah jika Anda menghindari alkohol.

    Proses fermentasi berarti akan ada sedikit alkohol (meskipun biasanya kurang dari 1 persen, tergantung pada waktu fermentasi – semakin lama Anda memfermentasi minuman, semakin tinggi kandungan alkoholnya).

    Dalam tulisan di BBC, dijelaskan untuk membuat tepache antara lain dibutuhkan satu galon berukuran 3,8 liter, karet gelang besar, dan sepotong kain kasa untuk menutupi lubang stoples.

    Pertama-tama cuci dan kupas kulit dari buah nanas. Kemudian panaskan campuran air dan gula merah atau piloncillo (gula tebu tradisional yang tidak dimurnikan dari Meksiko).

    Selanjutnya, masukkan inti dan kulit nanas ke dalam toples, dan tuang campuran gula dan air saat masih hangat.

    Baca: Eko enzim cairan ajaib untuk lingkungan

    Kemudian tutup stoples dengan kain kasa, atau kain tipis lain, bisa dari handuk kecil atau tisu dapur – pada dasarnya Anda menginginkan sesuatu yang dapat menghalau lalat tetapi tetap membiarkan udara masuk.

    Selanjutnya, biarkan campuran tersebut berfermentasi. Saya disarankan untuk menjaga tepache pada suhu antara 21C-25C, dan terus memeriksanya.

    Setelah 24-36 jam, Anda akan melihat busa putih di atasnya yang berarti sedang berfermentasi. Semakin lama Anda membiarkannya – semakin kuat rasanya.

    Setelah siap, saring campuran itu. Cairannya lalu didinginkan ke kulkas. Ini akan jadi minuman yang menyegarkan di saat panas.

    Anda dapat menambahkan jahe, jeruk nipis, dan buah-buahan lain untuk menambah rasa. Namun, jika Anda menambahkan unsur asam, seperti lemon atau jeruk nipis, jangan tambahkan hingga campuran siap karena akan memperlambat proses fermentasi.

    Baca: Memanfaatkan kulit jeruk yang melimpah

  • KLH Tutup TPA Jatiwaringin Tangerang Karena Masih Terapkan Sistem Open Dumping

    KLH Tutup TPA Jatiwaringin Tangerang Karena Masih Terapkan Sistem Open Dumping

    7cloud.asia – Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menutup Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, Banten karena masih menerapkan sistem open dumping atau pembuangan terbuka.

    Langkah ini dilakukan, untuk mengatasi masalah pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh pembuangan sampah secara tidak terkontrol atas kelalaian pengawasan pihak pengelola oleh pemerintah daerah.

    “Kita sudah berikan sanksi sebenarnya, kami sudah meminta beliau sebagai pengelola untuk menyiapkan segala langkah selama 6 bulan,” kata Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq di Tangerang, Jumat (16/5/2025).

    Ia mengatakan, dalam upaya penutupan di TPA Jatiwaringin ini akan dilakukan secara total atau permanen karena menyebabkan pencemaran lingkungan yang serius. Selain itu juga terjadi kebakaran yang menimbulkan masalah serius.

    “Karena kejadian ini kan luar biasa, ada kebakaran, ini sudah tidak bisa kita toleransi,” katanya menegaskan.

    Baca: Pengelolaan sampah secara open dumping harus segera diakhiri

    Selain menutup TPA, dikatakan Hanif, Kementerian Lingkungan Hidup juga akan memanggil jajaran pejabat di Pemerintahan Kabupaten Tangerang untuk mengkonfirmasi terkait pelanggaran pencemaran lingkungan yang terjadi di TPA Jatiwaringin.

    Mereka adalah Bupati Maesyal Rasyid, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Fachrul Rozi dan pengelola TPA Jatiwaringin.

    “Saya akan segera panggil pak Bupati, Kadis lingkungan hidup, dan pengelola TPA Jatiwaringin, Bappeda untuk memberikan penjelasan terkait kasus Kali Cirarab,” ujarnya.

    Hal ini dilakukan, kata dia, sebagai tindak lanjut ditemukannya pelanggaran pencemaran kandungan air di hulu Kali Cirarab, tepatnya di TPA Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang yang mengandung logam melebih batas aman.

    Berdasarkan temuan di lapangan terdapat limbah yang mencemari aliran Kali Cirarab berasal dari salah satu pabrik pengolahan limbah B3 (Bahan Berbahaya Beracun).

    Baca: Ada 306 TPA layak ditutup karena terapkan sistem open dumping

    Kendati demikian, pihaknya akan segera melakukan proses penanganan hukum dengan mepidana beberapa orang yang dinilai sebagai penanggung jawab dari pengelola TPA tersebut.

    “Dan air di hulu itu berasal dari limbah di lokasi pengolahan limbah B3, makanya akan kita tindak lanjut, kita panggil orang-orang yang bersangkutan,” tuturnya.

    Kementerian LH tidak akan memberikan toleransi kepada pihak yang dinilai telah abai menangani pencemaran lingkungan. Karena, hal ini sudah melanggar perundang-undangan yang ada.

    “Mudah-mudahan tidak menimbulkan korban jiwa, karena di beberapa lokasi sempat ada korban jiwa. Namun kebakaran ini sudah cukup menunjukkan ada kerusakan serius dari penanganan lingkungan hidup kita,” kata dia.

    Baca: Lokasi pembuangan sampah ilegal di dalam hutan di Karawang ditutup