Tag: gaza

  • WHO: Serangan Israel Lumpuhkan Rumah Sakit Terakhir di Gaza

    WHO: Serangan Israel Lumpuhkan Rumah Sakit Terakhir di Gaza

    7cloud.asia – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa serangan Israel terhadap Rumah Sakit Kamal Adwan telah melumpuhkan “fasilitas kesehatan utama terakhir” di Jalur Gaza utara.

    Organisasi PBB itu juga menyerukan agar situasi yang mengerikan di Gaza itu segera dihentikan.

    Laporan awal menunjukkan bahwa beberapa fasilitas penting di Rumah Sakit Kamal Adwan tersebut rusak parah akibat kebakaran dan penghancuran selama serangan.

    Di platform X pada Jumat (27/12/2024), WHO mengatakan bahwa 60 tenaga kesehatan dan 25 pasien kritis, termasuk yang menggunakan ventilator, dilaporkan masih berada di Rumah Sakit Kamal Adwan itu.

    Pasien dengan kondisi sedang hingga berat dipaksa dipindahkan ke Rumah Sakit Indonesia yang sudah hancur dan tidak lagi berfungsi.

    “WHO sangat mengkhawatirkan keselamatan mereka,” kata organisasi itu.

    Baca: Tiga bayi meninggal di pengungsian Gaza karena kedinginan

    Menurut WHO, serangan terhadap RS Kamal Adwan terjadi setelah Israel menerapkan pembatasan akses lebih ketat bagi WHO dan para mitranya, serta serangan terus menerus terhadap Rumah Sakit itu sejak awal Oktober.

    Serangan-serangan itu menghentikan semua upaya dan bantuan agar fasilitas kesehatan itu tetap berfungsi secara minimal.

    “Penghancuran sistem kesehatan secara sistematis di Gaza adalah hukuman mati bagi puluhan ribu warga Palestina yang membutuhkan perawatan medis,” kata WHO.

    “Kengerian ini harus dihentikan dan layanan kesehatan harus dilindungi. Gencatan senjata sekarang!”

    Israel melancarkan serangan darat besar-besaran di Gaza utara sejak 5 Oktober dengan dalih mencegah kelompok perlawanan Palestina, Hamas, menggalang kekuatan lagi.

    Namun, warga Palestina menuduh Israel berupaya merebut wilayah itu dan mengusir penduduknya.

    Baca: Sekitar 1,2 juta pengungsi Gaza kekurangan makanan dan air

    Sejak saat itu, bantuan kemanusiaan seperti makanan, obat-obatan, dan bahan bakar tidak diizinkan masuk ke wilayah kantong Palestina itu.

    Kondisi tersebut membuat warga Palestina yang masih bertahan di Gaza utara terancam kelaparan.

    Agresi Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 45.400 warga Palestina dan menghancurkan sebagian besar wilayah itu sejak 7 Oktober 2023.

    Bulan lalu, Mahkamah Pidana Internasional mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap pemimpin Israel Benjamin Netanyahu dan mantan menteri pertahanannya, Yoav Gallant.

    Mereka dituduh telah melakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

    Israel juga tengah menghadapi gugatan kasus genosida di Mahkamah Internasional atas tindakannya dalam perang di wilayah kantong Palestina itu.

    Sumber: Antara/Anadolu

  • 258 Staf UNRWA Meninggal Selama Berlangsungnya Perang Gaza

    7cloud.asia – Komisaris Jenderal Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) Philippe Lazzarini mengungkapkan bahwa 258 staf mereka di Jalur Gaza tewas sejak perang meletus pada Oktober 2023 lalu.

    Ia menekankan sudah waktunya mencabut blokade di Gaza untuk mengizinkan akses masuk pasokan kemanusiaan, termasuk pasokan kebutuhan untuk musim dingin.

    Melalui pernyataan kepada media pada Selasa (31/12/2024) Lazzarini mengatakan terdapat hampir 650 insiden di gedung dan fasilitas UNRWA sejak awal perang.

    Ia menekankan bahwa lebih dari dua pertiga gedung UNRWA rusak atau hancur, yang sebagian besar difungsikan sebagai sekolah untuk anak-anak.

    Lazzarini menunjukkan sedikitnya 745 orang tewas di tempat penampungan lembaga tersebut selagi mencari perlindungan PBB.

    Ia juga mengungkapkan bahwa sedikitnya 20 staf UNRWA ditahan di pusat-pusat penahanan Israel, mengatakan: Sudah saatnya membebaskan seluruh pekerja kemanusiaan yang ditahan.

    Menurut UNRWA, tingkat malnutrisi akut di Jalur Gaza 10 kali lebih tinggi dibanding sebelum terjadi perang Israel di Jalur Gaza.

    “80 persen keluarga di Gaza memiliki sedikitnya satu anak yang tidak mendapat makanan cukup dan lebih dari 96 anak anak dan ibu hamil atau menyusui tidak mendapatkan gizi yang cukup,” katanya di platform X, menurut laporan UNICEF pada November.

    Badan PBB itu mendesak agar dilakukan gencatan senjata segera dan alur pasokan penting secara teratur guna memfasilitasi operasi bantuan kemanusiaan.

    Sumber: Antaranwes.com/WAFA

  • AS dan Qatar: Israel dan Hamas Hampir Mencapai Kesepakatan Gencatan Senjata di Jalur Gaza

    AS dan Qatar: Israel dan Hamas Hampir Mencapai Kesepakatan Gencatan Senjata di Jalur Gaza

    7cloud.asia – Amerika dan Qatar pada Selasa (14/1/2025) mengatakan bahwa perundingan gencatan senjata antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza hampir mencapai kesepakatan setelah berbulan-bulan perundingan menemui jalan buntu.

    Namun, rincian akhir kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas masih dalam penggarapan.

    Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Antony Blinken mengatakan dalam pidatonya di Washington, “Saya yakin kita akan mencapai gencatan senjata,”

    Ia menambahkan bahwa terserah pada Hamas untuk memberikan persetujuan akhirnya. “Itu hampir tercapai. Ini lebih dekat daripada sebelumnya.”

    Berbicara pada briefing mingguan, juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed al-Ansari menggambarkan pembicaraan yang sedang berlangsung berada pada “tahap akhir” dan pada “titik terdekat” untuk mencapai kesepakatan.

    Majed juga memperingatkan agar semua pihak tidak terlalu bersemangat sampai kesepakatan gencatan senjata tersebut diumumkan.

    Baca: Serangan Israel Lumpuhkan Rumah Sakit Terakhir di Gaza

    Qatar, Mesir dan Amerika Serikat telah memimpin upaya selama berbulan-bulan untuk mencoba menghentikan pertempuran tersebut, dan pembicaraan pada hari Selasa di Doha berfokus pada rincian terakhir dari kesepakatan tersebut.

    Hamas mengatakan pihaknya sedang menunggu peta dari Israel yang menunjukkan bagian mana dari Gaza yang akan ditarik pasukannya pada tahap awal gencatan senjata.

    Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar mengatakan Israel tidak akan berkompromi soal keamanan dan akan melakukan intervensi jika melihat ancaman dari Gaza di masa depan.

    Presiden Joe Biden mengatakan pada Senin bahwa kesepakatan itu berada di ambang “keberhasilan.”

    Dalam pidatonya di Departemen Luar Negeri untuk menyoroti pencapaian kebijakan luar negerinya, Biden mengatakan kesepakatan itu akan “membebaskan para sandera, menghentikan pertempuran, memberikan keamanan kepada Israel.

    “Dan memungkinkan kami untuk secara signifikan meningkatkan bantuan kemanusiaan kepada warga Palestina yang sangat menderita dalam perang yang dimulai oleh Hamas ini.”

    Baca: Kelangkaan Bahan Bakar di Gaza Akibatkan 1,2 Juta Orang Kekurangan Air

    Biden dan Presiden Mesir Abdel-Fattah el-Sissi berbicara tentang kemajuan dalam negosiasi pada hari Selasa.

    “Kedua pemimpin berkomitmen untuk tetap melakukan koordinasi erat secara langsung dan melalui tim mereka selama beberapa jam mendatang,” kata Gedung Putih dalam sebuah pernyataan setelah pembicaraan telepon kedua pemimpin tersebut.

    Parameter dasar proposal gencatan senjata akan melihat prosesnya berlangsung dalam beberapa tahap.

    Hamas akan membebaskan sandera yang mereka tahan sejak militan melakukan serangan terhadap Israel pada Oktober 2023, sementara otoritas Israel akan membebaskan tahanan Palestina.

    Pasukan Israel akan melakukan penarikan bertahap dari Gaza, dan beberapa warga Palestina yang mengungsi akibat konflik akan diizinkan kembali, seiring dengan peningkatan bantuan untuk warga sipil Palestina.

  • Sambut Positif Kesepakatan Gencatan Senjata, RI Tekankan Pentingnya Pemulihan Segera di Gaza

    Sambut Positif Kesepakatan Gencatan Senjata, RI Tekankan Pentingnya Pemulihan Segera di Gaza

    7cloud.asia – Pemerintah Republik Indonesia menyambut baik kesepakatan gencatan senjata di Gaza, seperti selama ini didorong Indonesia serta masyarakat internasional.

    Dalam pernyataan yang dirilis di akun resmi X @Kemlu_RI, Kementerian Luar Negeri RI menyatakan, implementasi kesepakatan gencatan senjata tersebut harus dilaksanakan segera dan secara menyeluruh demi terhentinya korban jiwa di Gaza.

    Indonesia menekankan pentingnya pemulihan kehidupan masyarakat di Gaza melalui akses penuh penyaluran bantuan kemanusiaan, termasuk pemulihan peran UNRWA, serta rekonstruksi Gaza.

    Perdamaian di Palestina tidak dapat dicapai tanpa penghentian penjajahan Israel, serta berdirinya Negara Palestina yang merdeka dan berdaulat, sesuai solusi dua negara berdasarkan parameter internasional yang telah disepakati.

    Kesepakatan gencatan senjata di Gaza, diumumkan Presiden AS Joe Biden pada Rabu (15/1/2025) waktu setempat di Gedung Putih, Washington DC.

    “Ini adalah sore yang sangat baik karena akhirnya, saya dapat mengumumkan gencatan senjata,” kata Biden saat mengumumkan kabar baik ini, seperti dilansir VOA Indonesia.

     

    Baca: Jalan panjang menuju kesepakatan gencatan senjata di Gaza 

    Ia menambahkan bahwa “kesepakatan soal sandera telah dicapai antara Israel dan Hamas.”

    Biden berbicara beberapa saat setelah Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, berbicara di Doha, mengatakan gencatan senjata akan mulai berlaku Minggu (19/1/2025).

    Kesepakatan tersebut, yang muncul setelah berminggu-minggu negosiasi yang melelahkan di ibu kota Qatar, menjanjikan pembebasan secara bertahap puluhan sandera yang ditahan Hamas.

    Serta pembebasan ratusan tahanan Palestina di Israel dan akan memungkinkan ratusan ribu orang terlantar di Gaza untuk kembali ke puing-puing rumah mereka.

    Biden mengatakan sandera Amerika akan menjadi bagian dari pembebasan sandera tersebut pada tahap pertama kesepakatan.

    Biden mengatakan kesepakatan gencatan senjata di Gaza ini disusun dalam tiga fase. Fase pertama akan berlangsung selama enam minggu.

    Baca: Serangan Israel lumpuhkan rumah sakit terakhir di Gaza 

    Ini mencakup gencatan senjata penuh dan menyeluruh pasukan Israel dari seluruh wilayah berpenduduk di Gaza, serta pembebasan sebagian sandera yang ditahan oleh Hamas, termasuk perempuan, orang tua, dan mereka yang luka-luka.

    ”Saya dengan bangga mengatakan Amerika akan menjadi bagian dari pembebasan sandera ini dan tahap pertama juga. Saya dan Wakil Presiden Kamala Harris tidak sabar untuk menyambut mereka,” kata Biden.

    Kesepakatan yang dicapai setelah perundingan yang melelahkan selama berminggu-minggu di ibu kota Qatar ini menjanjikan pembebasan puluhan sandera yang ditahan oleh Hamas secara bertahap.

    Juga pembebasan ratusan tahanan Palestina di Israel, serta memungkinkan ratusan ribu orang yang mengungsi di Gaza untuk kembali ke tempat tinggal mereka yang tersisa.

    Kesepakatan ini juga akan mengizinkan masuknya bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan oleh warga Gaza.

  • Israel Belum Sepenuhnya Terima Kesepakatan Gencatan Senjata di Gaza, Pakar Pesimis Bakal Terwujud Penuh

    Israel Belum Sepenuhnya Terima Kesepakatan Gencatan Senjata di Gaza, Pakar Pesimis Bakal Terwujud Penuh

    7cloud.asia – Meski telah secara resmi diumumkan, kabinet Israel masih belum sepenuhnya menerima kesepakatan gencatan senjata yang dicapai di Doha, Qatar pada Rabu (15/1/2025).

    Juru bicara pemerintah Israel David Mencer, Kamis (16/1/2025) mengatakan kepada Sky News bahwa Hamas telah “mundur” dari kesepakatan gencatan senjata yang telah dicapai sebelumnya.

    “Telah terjadi pengunduran diri dari aspek-aspek tertentu, (yaitu) aspek-aspek dari kesepakatan untuk membebaskan para sandera, yang telah disepakati sebelumnya. Namun kini ditinggalkan (tidak disepakati) Hamas,” kata Mencer dikutip VOA Indonesia.

    “Kesepakatan ini tidak dapat dibawa ke kabinet Israel untuk dilakukan pemungutan suara hingga benar-benar disepakati,” tambahnya.

    Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada hari Kamis mengatakan kabinetnya tidak akan menggelar pertemuan untuk menyetujui kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza dan pembebasan puluhan sandera. 

    Baca: RI sambut positif tercapainya kesepakatan gencatan senjata di Gaza

    Israel baru akan menerima kesepakatan gencatan senjata hingga Hamas mundur dari apa yang disebutnya sebagai “krisis di saat-saat terakhir.”

    Kantor Netanyahu menuduh Hamas mengingkari bagian-bagian dari perjanjian itu dalam upaya “memeras konsesi di menit-menit terakhir.” Ia tidak menjelaskan lebih lanjut.

    Kabinet Israel sedianya akan meratifikasi kesepakatan tersebut pada hari Kamis.

    Sementara itu serangan Israel di seluruh Jalur Gaza tetap berlangsung hingga Rabu (15/1/2025). Akibatnya, 48 orang tewas dan beberapa orang lainnya luka-luka.

    Dalam konflik selama 15 bulan terakhir ini kedua pihak telah meningkatkan operasi militer mereka pada saat-saat terakhir sebelum berlakunya gencatan senjata, sebagai cara untuk unjuk kekuatan.

    Baca: Jalan panjang menuju kesepakatan gencatan senjata di Gaza

    Pakar pesimis gencatan senjata terwujud penuh
    Hasbi Aswar, pengamat hubungan internasional dari Universitas Islam Indonesia mengatakan gencatan senjata di Jalur Gaza itu merupakan sebuah pencapaian yang bagus.

    Gencatan senjata, menurutnya, akan memungkinkan masuknya bantuan kemanusiaan, proses rekonstruksi Gaza akan bisa dilaksanakan, dan menghentikan jatuhnya korban.

    Meski demikian Hasbi mengatakan tetap pesimis Israel akan mematuhi kesepakatan gencatan senjata ini karena Israel pada dasarnya memang tetap tidak ingin keluar dari Gaza, sementara Hamas sudah berkuasa di sana dan Israel menilai keberadaan organisasi ini sebagai ancaman.

    Israel, tambah Hasbi, ingin menciptakan pemerintahan sipil di Gaza yang tidak Islamis, yang sejalan dengan kepentingan Israel.

    Yang menjadi masalah, Israel mengajak Fatah untuk memerintah di Gaza padahal Fatah sudah sepakat dengan Hamas untuk membentuk pemerintahan persatuan nasional tersendiri.

    “Apalagi kondisi di dalam Israel khan terbelah. Ada yang ingin gencatan senjata, tapi banyak pula – terutama pendukung Netanyahu – ingin perang tetap dilanjutkan karena mereka belum betul-betul yakin Hamas itidak akan mengancam mereka,” ujarnya.

    Menurut Hasbi, ada sejumlah faktor yang bisa membuat gencatan senjata di Gaza permanen, antara lain jika ada tekanan yang kuat dari Amerika; dan tentunya tekanan di dalam negeri.

  • Gencatan Senjata Dimulai, Ribuan Aparat Keamanan Gaza Dikerahkan

    Gencatan Senjata Dimulai, Ribuan Aparat Keamanan Gaza Dikerahkan

    7cloud.asia – Ribuan aparat keamanan Gaza mulai dikerahkan di beberapa area di wilayah kantong tersebut pada Minggu (19/01/2025) menyusul berlakunya gencatan senjata dengan Israel, demikian ungkap otoritas setempat.

    Kantor media pemerintah Gaza mengatakan pengerahan tersebut berdasarkan rencana untuk menjaga keamanan dan menegakkan aturan di seluruh wilayah.

    “Kota-kota mulai kembali beroperasi dan merehabilitasi jalan-jalan, tak lama setelah gencatan senjata dimulai,” tambahnya dalam sebuah pernyataan.

    Baca: Israel belum sepenuhnya terima kesepakatan gencatan senjata

    Selain itu, kementerian dan institusi pemerintah “sudah siap sepenuhnya untuk bekerja di bawah rencana pemerintah untuk memastikan kehidupan kembali normal secepatnya.

    Namun, otoritas tetap memberi peringatan kepada warga untuk tetap waspada selama melakukan perjalanan antar wilayah di Gaza.

    Sementara itu, pemulangan para pengungsi akan dilakukan tujuh hari setelah gencatan senjata berlaku.

    Baca: RI sambut positif gencatan senjata Israel-Hamas

    Perjanjian gencatan senjata Hamas-Israel mulai berlaku pada pukul 11.15 waktu setempat (16.15 WIB) pada Minggu setelah tertunda beberapa jam karena Israel menuduh Hamas menunda merilis daftar tawanan yang akan dibebaskan.

    Awalnya, perjanjian ini dijadwalkan mulai berlaku pada pukul 8.30 waktu setempat (13.30 WIB).

    Hamas kemudian mengatakan bahwa pihaknya telah menyerahkan daftar tiga tawanan perempuan Israel yang akan dibebaskan pada Minggu.

    Sumber: Anadolu

     

  • Bantah Relokasi Warga Gaza ke Indonesia, Kemenlu: Pemindahan Warga Gaza Tidak Dapat Diterima

    Bantah Relokasi Warga Gaza ke Indonesia, Kemenlu: Pemindahan Warga Gaza Tidak Dapat Diterima

    7cloud.asia – Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI hingga saat ini tidak pernah memperoleh informasi apapun, terkait relokasi sebagian dari 2 juta penduduk Gaza ke Indonesia.

    Sebelumnya informasi relokasi 2 juta warga Gaza ke Indonesia beredar luas di media sosial. Relokasi ini disebut sebagai salah satu bagian dari upaya rekonstruksi Gaza pasca tercapainya gencatan senjata.

    “Pemerintah menghindari berspekulasi tentang isu (relokasi warga Gaza, red) tersebut tanpa adanya informasi yang lebih jelas,” demikian disebutkan dalam keterangan tertulis Kemenlu yang diterima Selasa (21/1/2025)

    Kemenlu menegaskan, sikap Indonesia tetap tegas dengan posisi segala upaya untuk memindahkan warga Gaza tidak dapat diterima.

    Baca: Indonesia tekankan pentingnya pemulihan segera di Gaza

    Upaya untuk mengurangi penduduk Gaza hanya akan mempertahankan pendudukan ilegal Israel atas wilayah Palestina dan sejalan dengan strategi yang lebih besar yang bertujuan untuk mengusir orang Palestina dari Gaza.

    Ditegaskan, gencatan senjata di Gaza harus menjadi momentum untuk memulai dialog dan negosiasi guna mewujudkan solusi dua negara Israel dan Plaestina.

    “Hal ini sesuai hukum internasional dan parameter internasional yang telah disepakati,” demikian Kemenlu mengakhiri pernyataannya

    Seperti diketahui, gencatan senjata mulai diberlakukan di Gaza pada Minggu (19/1/2025) waktu setempat.

    Baca: Gencatan senjata mulai diberlakukan

    Kemenlu menyatakan, implementasi kesepakatan gencatan senjata tersebut harus dilaksanakan segera dan secara menyeluruh demi terhentinya korban jiwa di Gaza.

    Indonesia menekankan pentingnya pemulihan kehidupan masyarakat di Gaza melalui akses penuh penyaluran bantuan kemanusiaan, termasuk pemulihan peran UNRWA, serta rekonstruksi Gaza.

    Perdamaian di Palestina tidak dapat dicapai tanpa penghentian penjajahan Israel, serta berdirinya Negara Palestina yang merdeka dan berdaulat, sesuai solusi dua negara.

    Selain pertukaran sandera dan tahanan, gencatan senjata juga memungkinkan masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza.

    Gencatan senjata ini juga mengakhiri perang yang telah berlangsung 15 bulan dan menewaskan lebih dari 47.000 warga Palestina.

  • Donald Trump Ragu Kesepakatan Gencatan Senjata di Gaza Dapat Bertahan

    Donald Trump Ragu Kesepakatan Gencatan Senjata di Gaza Dapat Bertahan

    7cloud.asia – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan keraguannya kesepakatan gencatan senjata di Gaza dapat bertahan.

    Namun, sebelumnya ia membanggakan upaya diplomasinya dalam mewujudkan kesepakatan gencatan senjata di Gaza menjelang pelantikannya.

    Saat ditanya oleh seorang reporter setibanya di Gedung Putih apakah kedua pihak akan menjaga gencatan senjata dan melanjutkan perjanjian tersebut di Gaza, Trump menjawab, “Saya tidak yakin.”

    “Itu bukan perang kita; itu perang mereka. Namun, saya tidak yakin,” kata Trump pada Senin (20/1/2025) waktu setempat atau Selasa waktu Indonesia.

    Namun, Trump menyatakan bahwa ia percaya Hamas telah berhasil “dilemahkan” dalam perang yang dimulai dengan serangan besar-besaran di Gaza pada 7 Oktober 2023 terhadap Israel.

    Dilansir VOA Indonesia, gencatan senjata antara Israel dan Hamas masih bertahan pada Senin (20/1/2025). Kedua pihak berada pada tahap awal jeda pertempuran selama enam pekan yang dapat mengakhiri perang yang dimulai pada Oktober 2023.

    Baca: RI tolak relokasi warga Gaza

    Sejauh ini, tiga dari 99 sandera yang ditahan militan Hamas di Gaza telah dibebaskan, dengan 30 lainnya akan dibebaskan pada tahap pertama perjanjian.

    Israel juga telah membebaskan 90 warga Palestina yang dipenjarakan dan ditahan, semuanya perempuan dan remaja, menurut Hamas. Ratusan lainnya akan menyusul dibebaskan.

    Hamas pada Senin mengatakan bahwa mereka akan membebaskan sandera yang ditahan di Gaza pada hari Sabtu (25/1) sebagai dengan imbalan pembebasan orang-orang Palestina yang dipenjarakan dan ditahan oleh Israel.

    PBB telah meningkatkan bantuan pangan yang sangat dibutuhkan ke Gaza dan mengatakan bahwa mereka berencana untuk membawa masuk 150 truk makanan setiap hari untuk membantu warga sipil Palestina yang kehidupannya porak-poranda oleh pertempuran.

    Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan mengatakan 915 truk bantuan memasuki Gaza pada hari Senin.

    Lebih dari 1,8 juta orang membutuhkan tempat penampungan darurat di Gaza, menurut PBB, yang juga memperkirakan dalam sebuah laporan tahun lalu bahwa pembangunan kembali perumahan yang hancur di wilayah tersebut dapat memakan waktu hingga tahun 2040.

    Baca: Gencatan senjata mulai diberlakukan, Israel dan Hamas Bertukar Tahanan

    Gencatan senjata dimulai sekitar Minggu tengah hari. Beberapa jam kemudian, sebuah iring-iringan Palang Merah membawa sandera Romi Gonen, Emily Damari dan Doron Steinbrecher dengan selamat kembali ke Israel.

    Pada Senin pagi, Israel membebaskan 90 orang Palestina yang dipenjarakan dan ditahannya, dengan bus-bus besar membawa mereka dari penjara Ofer Israel di luar kota Ramallah, Tepi Barat.

    Warga Palestina memadati bus-bus, bernyanyi dan bersorak-sorai, sementara kembang api untuk merayakan pembebasan itu dinyalakan.

    Gencatan senjata tersebut tercapai setelah negosiasi berbulan-bulan yang dipimpin oleh AS, Mesir, dan Qatar. Pembicaraan semakin intensif selama beberapa pekan terakhir.

    Tim dari pemerintahan Presiden AS Joe Biden yang akan segera mengakhiri masa jabatannya dan tim presiden terpilih Donald Trump mendorong tercapainya kesepakatan sebelum pelantikan Trump pada hari Senin.

    Menurut laporan media, para mediator bersiap untuk mengatasi masalah apa pun yang mungkin timbul selama gencatan senjata.

    “Kesepakatan semacam ini tidak pernah mudah dipertahankan,” kata Majed al-Ansari, juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar.

  • Gencatan Senjata Berlaku di Gaza, Israel Halangi Truk Pembawa Bantuan Kemanusiaan

    Gencatan Senjata Berlaku di Gaza, Israel Halangi Truk Pembawa Bantuan Kemanusiaan

    7cloud.asia – Jumlah truk bantuan yang memasuki Jalur Gaza bagian utara sejak kesepakatan gencatan senjata baru mencapai 861 dari total 1.200 truk yang awalnya direncanakan.

    Dilansir Anadolu pada Kamis (23/1/2025), otoritas Gaza menyatakan, perbatasan Beit Hanoun (Erez) di Gaza Utara tetap ditutup dengan alasan jalanan rusak akibat pengeboman Israel.

    Sumber tersebut menyatakan, kondisi ini memerlukan intervensi untuk membuka kembali jalur tersebut sehingga semua truk pembawa bantuan bisa masuk Gaza.

    Sumber tersebut menekankan bahwa situasi kemanusiaan di Gaza Utara masih membutuhkan dukungan yang segera dan menyeluruh, termasuk pasokan bahan bakar dan kebutuhan dasar untuk membantu warga yang terdampak serangan Israel.

    Baca: Trump ragu gencatan senjata di Gaza berlaku sepenuhnya

    Ia juga menyoroti pentingnya percepatan pengiriman sisa truk bantuan guna memenuhi kebutuhan mendesak penduduk Gaza.

    Kesepakatan gencatan senjata antara Hamas dan Israel menetapkan masuknya 300 truk bantuan setiap hari ke wilayah utara.

    Namun, hambatan dari pihak Israel telah menghalangi implementasi penuh dari kesepakatan tersebut, sehingga menyebabkan kekurangan pasokan bantuan.

    Kantor Media Pemerintah di Gaza sebelumnya mengumumkan langkah-langkah untuk mengantisipasi kembalinya warga Palestina yang mengungsi dari wilayah selatan dan tengah ke Gaza City serta wilayah utara mulai Minggu mendatang.

    Baca: Tukar menukar tawanan saat gencatan senjata di Gaza

    Fase pertama gencatan senjata selama enam pekan mulai berlaku pada 19 Januari, menghentikan genosida Israel di Gaza yang telah menewaskan hampir 47.200 warga Palestina, yang sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak.

    Serangan Israel juga telah melukai lebih dari 111.160 orang dan menghancurkan sebagian besar wilayah Gaza sejak 7 Oktober 2023.

    Kesepakatan gencatan senjata tiga tahap ini mencakup pertukaran tahanan dan stabililtas berkelanjutan, dengan tujuan mencapai gencatan senjata permanen serta penarikan pasukan Israel dari Gaza.

    Serangan Israel juga menyebabkan lebih dari 11.000 orang hilang, dengan kehancuran luas dan krisis kemanusiaan yang merenggut nyawa banyak orang tua dan anak-anak, menjadikannya salah satu bencana kemanusiaan terburuk di dunia.

    Baca: Indonesia tolak relokasi warga dari Gaza

    Mahkamah Pidana Internasional mengeluarkan surat perintah penangkapan pada November tahun lalu untuk pemimpin otoritas Israel Benjamin Netanyahu dan mantan otoritas pertahanan Yoav Gallant atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

    Israel juga menghadapi kasus genosida di Mahkamah Internasional atas perang yang dilancarkan di wilayah tersebut.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

  • Sempat Dihambat, Akhirnya Ribuan Warga Palestina Kembali ke Gaza

    Sempat Dihambat, Akhirnya Ribuan Warga Palestina Kembali ke Gaza

    7cloud.asia – Warga Palestina mulai berdatangan kembali ke Kota Gaza pada Senin (27/1/2025) pagi, setelah berbulan-bulan tinggal di pengungsian.

    Dilaporkan VOA Indonesia, pasukan Israel membuka pos-pos pemeriksaan dan mengijinkan mereka kembali ke wilayah utara yang ditutup sejak awal perang Israel melawan Hamas.

    Puluhan ribu warga Gaza yang sebagian besar berjalan kaki, berada di jalan menuju kota Gaza yang mengalami kerusakan besar selama serangan darat dan udara Israel.

    Kota Gaza adalah salah satu dari banyak daerah yang berada di bawah perintah evakuasi Israel, sehingga mendorong warga Gaza mencari tempat yang aman di tengah perang.

    Ribuan warga Gaza terpaksa mengungsi beberapa kali dan bermukim di tenda-tenda pengungsian yang minim fasilitas.

    Baca: Hamas sebut Israel halangi pemulangan pengungsi Palestina

    Kembalinya warga Palestina ke kota Gaza berlangsung di tengah gencatan senjata antara Israel dan Hamas.

    Israel dan Hamas sepakat membebaskan beberapa sandera yang ditahan di Gaza, pembebasan tahanan Palestina yang ditahan oleh Israel, dan masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza.

    Perselisihan pada menit-menit terakhir mengenai lambatnya pembebasan seorang sandera Israel, menunda akses masuk tersebut

    Namun pada Senin (27/1/2025) pagi Qatar mengumumkan sebuah perjanjian telah tercapai, di mana Hamas akan membebaskan Arbel Yehoud dan dua sandera lainnya sebelum Jumat.

    Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memastikan adanya perjanjian itu dan mengatakan, tiga sandera tambahan juga akan dibebaskan hari Sabtu pekan ini.

    Baca: Israel halangi truk pembawa bantuan kemanusiaan ke Gaza

    Hamas telah memberi daftar status semua sandera yang akan dibebaskan pada tahap pertama gencatan senjata itu.

    Kesepakatan gencatan senjata mulai berlaku Minggu (19/1/2025). esepakatan tersebut, yang muncul setelah berminggu-minggu negosiasi yang melelahkan di ibu kota Qatar.

    Dalam perundingan Kelompok Hamas menjanjikan pembebasan secara bertahap puluhan sandera yang mereka tahan.

    Sebaliknya, Isarel membebaskan ratusan tahanan Palestina di Israel dan akan memungkinkan ratusan ribu orang terlantar di Gaza untuk kembali ke puing-puing rumah mereka.

    Kesepakatan gencatan senjata di Gaza ini disusun dalam tiga fase. Fase pertama akan berlangsung selama enam minggu.