7cloud.asia – Banjir yang melanda Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek) pada awal Maret 2025 merupakan bencana ekologis yang diakibatkan akumulasi krisis ekologi.
Krisis ekologi ini dipicu oleh ketidakadilan dan gagalnya sistem pengelolaan sumber daya alam sehingga mengakibatkan hancurnya lingkungan baik pemukiman maupun ekosistem yang ada.
Dilansir di laman resminya pada 7 Maret 2025, WALHI menilai faktor utama yang memperparah banjir Jabodetabek ini adalah eksploitasi lingkungan yang tidak terkendali di daerah hulu.
Hutan di kawasan Puncak dan sekitarnya yang seharusnya menjadi daerah resapan air telah banyak berubah menjadi pemukiman, villa, serta destinasi wisata.
WALHI Jawa Barat mencatat tingkat kerusakan lingkungan di kawasan ini meningkat dari 45 persen menjadi 65 persen dalam lima tahun terakhir.
Baca: Rekomendasi IAI Jakarta agar banjir besar Jabodetabek tak terulang
Alih fungsi lahan ini sering kali terjadi dengan mengesampingkan daya dukung dan daya tampung lingkungan, serta tanpa memperhatikan analisis dampak lingkungan (AMDAL) di kawasan rawan bencana.
WALHI Jawa Barat melihat banyak izin usaha properti dan wisata dikeluarkan tanpa pengawasan ketat. Selain itu, aktivitas pertambangan pasir dan batu ilegal semakin memperburuk kondisi tanah, membuatnya lebih rentan terhadap erosi dan longsor.
Kawasan bogor (Puncak, Jonggol, Cikeas, Sentul, Hambalang dll) yang seharusnya menjadi daerah resapan air beralih fungsi yang kemudian limpahan air banjir terus mengalir hingga membuat daerah Bekasi sampai Jakarta pun terdampak banjir.
Dari citra satelit berkala, yang dapat diakses publik secara luas, terlihat perubahan nyata tutupan lahan di bagian selatan Jabodetabek yang memicu banjir besar menenggelamkan Jabodetabek, padahal curah hujan harian tahun 2025 kali ini belum sebesar curah hujan harian banjir besar tahun 2020.
Dari citra satelit juga terlihat ada pertambangan karst/batuan yang cukup luas di Kabupaten Bogor yang aliran sungainya mengarah ke DAS Kali Bekasi. Bukaan lahan dari pertambangan ini sangat jelas terlihat dalam citra satelit berkala.
Baca: Kerugian akibat banjir Jabodetabek diperkirakan mencapai Rp5 triliun
Dari analisa citra Landsat 8, terlihat jelas perbedaan kondisi pada tahun 2020 dengan tahun 2025 di mana pembangunan wilayah hulu yang masif dan amburadul baik di daerah resapan air wilayah Bogor (hulu) maupun wilayah Bekasi (hilir).
Masifnya pembangunan di wilayah hulu yang tidak mempertimbangkan daya dukung dan daya tampung lingkungan (wilayah serap air) menyebabkan banjir yang berkepanjangan di wilayah hilir (wilayah kedap) air yang berlarut-larut.
Terlihat jelas berbagai pembukaan lahan di wilayah hulu untuk kepentingan perumahan, perindustrian bahkan juga investasi dalam skala besar.
Manajer Kampanye Infrastruktur dan Tata Ruang WALHI Eksekutif Nasional, Dwi Sawung menyatakan bahwa banjir besar yang terjadi di Jabodetabek kali bukan hanya karena krisis iklim.
”Tetapi oleh karena perubahan tata ruang baik di hulu maupun di hilir DAS oleh kepentingan-kepentingan komersial jangka pendek tanpa memperimbangkan keselamatan dan lingkungan dalam jangka panjang,” ujarnya.
Baca: Banjir Jabodetabek jadi bukti nyata ancaman krisis iklim
Alih fungsi ruang tersebut harus segera dihentikan bahkan harus dikembalikan ke kondisi semula apabila kita tidak ingin mendapatkan bencana yang sama bahkan lebih parah di masa depan.
Sementara Direktur Eksekutif WALHI Jawa Barat, Wahyudin Iwang menuturkan, sejak dua tahun terakhir, pihaknya telah menyampaikan sikap kritis kepada Kabupaten/Kota Bogor, Cianjur dan Sukabumi agar segera menertibkan bangunan liar dan berhenti mengeluarkan izin-izin tambang dan properti.
”Banjir bandang dan banjir yang mengepung DKI adalah kesalahan pemerintah, akibat ketidakpatuhan dan tidak taatnya mereka menjalankan kebijakan Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang mana kawasan puncak hingga kawasan Gunung Mas salah satu kawasan resapan air dan kawasan yang harus dilindungi,” ujarnya.
Namun faktanya izin-izin tambang, pembangunan villa, hotel dan juga pengembangan kawasan wisata terus dikeluarkan. Hingga saat ini, praktek itu masih ditemukan.
WALHI mendesak pemerintah membuat tim investigasi untuk pelaku-pelaku perusahaan yang tidak taat dan patuh menjalankan peraturan, sehingga keadilan dapat diwujudkan dengan cara salah satunya, penjarakan pelaku yang merusak alam.”
Bencana banjir yang terjadi di wilayah Jakarta, Bekasi dan sekitarnya dalam beberapa hari terakhir disebabkan oleh Degradasi lingkungan yang terjadi di wilayah hulu/wilayah penyangga yaitu Kabupaten Bogor.
Baca: Sodetan Ciliwung belum efektif cegah banjir