7cloud.asia – Dalam beberapa pekan terakhir ini, sejumlah kawasan perumahan di Kota Jambi dilanda banjir dengan ketinggian mencapai setengah meter.
Setiap kali hujan deras mengguyur selama satu jam lebih, hampir dipastikan banjir menggenangi pemukiman warga di ibu kota provinsi Jambi tersebut. Banjir ini, selain diakibatkan meluapnya Sungai Batanghari juga karena drainase yang buruk.
Pada pertengahan Maret lalu misalnya, sebanyak 1.279 kepala keluarga (KK) di kota Jambi terdampak banjir dengan jumlah warga mencapai 4.755 jiwa.
Banjir terjadi di tujuh kecamatan di mana terdapat 24 kelurahan yang terdampak, sehingga Pemerintah Kota Jambi menetapkan status darurat bencana.
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jambi menyebutkan bencana banjir yang melanda di permukiman di beberapa sudut Kota Jambi ini akibat pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) yang keliru.
Baca: Banjir Jabodetabek bukti nyata ancaman perubahan iklim dan kerusakan lingkungan
Direktur Walhi Jambi Abdullah Selasa (1/4/2025) mengatakan banjir yang menerjang perumahan warga di beberapa sudut kota Jambi ini merupakan dampak dari pengelolaan Sumber Daya Alam yang serampangan.
Abdullah mengingatkan, ancaman bencana lain yang bisa saja terjadi kapan saja sebagai dampak dari pengelolaan sumber daya alam yang serampangan dan tidak mematuhi kaidah pengelolaan lingkungan hidup.
“Banjir yang terjadi saat ini ketika intensitas hujan tinggi, di hari menjelang Idul Fitri dan di hari Idul Fitri merupakan dampak dari buruknya perencanaan pembangunan yang tidak memperhatikan aspek lingkungan,” kata Abdullah seperti dikutip Antaranews.com.
Drainase yang tidak memadai dibanding pembangunan infrastruktur pendukung telah menyebabkan bencana banjir di kota yang terus berulang.
Abdullah meminta pemerintah daerah segera bertindak dan mengevaluasi kembali proyek pembangunan pembangunan besar, seperti Jambi Bisnis Center (JBC), agar tidak merugikan warga dan lingkungan.
Baca: Banjir Jabodetabek dipicu tata ruang yang amburadul
“Karena hal ini terus saja berulang ketika curah hujan meningkat maka dampaknya banjir yang melanda rumah warga maka dari itu pembangunan harusnya disertai dengan perbaikan drainase yang memadai,” kata Abdullah.
Kemudian, air juga harus dapat mengalir dengan lancar, tentunya dengan pertimbangan teknis dan analisa yang lengkap yang seharusnya juga melalukan cek mendetail sebelum terjadi.
Abdullah mengingatkan jangan setelah kejadian baru sibuk untuk bertindak dan saling menyalahkan, buka dokumen Amdal dan kaji ulang, wilayah serapan air jangan dikonversi lagi menjadi pusat perbelanjaan, perumahan dan lainnya.
“Sudah waktunya memikirkan pembangunan yang berwawasan lingkungan, jangan hanya menjadi jargon, bahagia seperti apa dan mantap seperti apa ketika terus dihadapkan dengan bencana musiman seperti ini,” katanya.

Leave a Reply