Tag: air

  • Cinta Laura Ingatkan Krisis Air Akan Jadi Masalah Besar Jika Tidak Ada Kesadaran

    Cinta Laura Ingatkan Krisis Air Akan Jadi Masalah Besar Jika Tidak Ada Kesadaran

    7cloud.asia – Duta Komunikasi World Water Forum ke-10 yang juga aktris, Cinta Laura krisis iklim terutama krisis air akan semakin jadi masalah besar. Karena itu, perlu adanya kesadaran mengenai pentingnya kebutuhan dan akses air bersih.

    “Kalau perasaan kepedulian tidak ada, tidak akan mungkin orang mengambil aksi dan kalau aksi tidak diambil tidak akan ada perubahan nyata yang terjadi,” ujar Cinta seperti yang dilansir Antaranews.

    Memang ia menyadari bahwa isu kemanusiaan dan kualitas hidup belum menjadi prioritas. Sebab masih banyak masyarakat Indonesia yang kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

    “Jadi sebagai communication ambassadorrole (peran) aku di sini adalah menyosialisasikan isu krisis air ini kepada masyarakat secara luas, terutama anak muda. Karena merekalah yang bisa merubah habit (perilaku) mereka agar kita bisa mencapai goals (sasaran) kita dalam 20 tahun ke depan,” jelasnya.

    Baca: Cinta Laura jadi duta World Water Forum

    Dia mengungkapkan upaya keberlanjutan termasuk dari sektor air sudah tercantum dalam Peta Jalan Ekonomi Biru yang akan mulai dilaksanakan tahun 2025 sampai tahun 2045.

    Aktris berdarah Jerman ini menjelaskan bahwa upaya tersebut membutuhkan banyak sumber daya termasuk air untuk meningkatkan Produk Domestik Bruto.

    Namun, disisi lain kesejahteraan masyarakat harus menjadi perhatian utama. Menurutnya kesejahteraan masyarakat bisa dimulai dengan mencegah krisis air melalui langkah sederhana.

    Diantaranya dengan memilah sampah dan tidak membuang sampah ke sungai atau laut yang dapat mencemari kualitas air. Selain itu, masyarakat dapat mendaur ulang sampah agar bernilai ekonomi.

    Baca: World Water Forum resmi dibuka

    Saat ini, lanjut Cinta, dirinya tengah aktif membuat program-program dan membangun kerja sama dengan organisasi-organisasi agar kesadaran di kalangan masyarakat kita bisa meningkat.

    “Agar mereka sadar bahwa jika mereka ingin mencari kualitas hidup yang lebih tinggi di keesokan hari, mereka harus melibatkan isu lingkungan, isu krisis air. Inilah yang akan sangat berdampak terhadap kesejahteraan sosial dan ekonomi kita di masa depan,” tuturnya.

    World Water Forum yang digelar di Nusa Dua, Bali merupakan forum internasional yang melibatkan sejumlah pemangku kepentingan di berbagai sektor sumber daya air.

    Baca: Air bersih adalah hak asasi manusia

    Mulai dari pemerintah, parlemen, pemimpin politik, lembaga multilateral, politisi, akademisi, masyarakat sipil, pelaku usaha, dan lain sebagainya.

    Ada beberapa sub-tema yang diusung dalam WWF ke-10 ini, yaitu ketahanan dan kesejahteraan air, air untuk manusia dan alam, pengurangan dan pengelolaan risiko bencana.

    Selain itu, sub-tema lainnya adalah tata kelola, kerja sama, dan hidro-diplomasi, pembiayaan air berkelanjutan, dan pengetahuan dan inovasi.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Kegiatan People Water Forum Dibubarkan Massa Ormas Patriot Garuda Nusantara, Ketua Komnas HAM Batal Hadir

    Kegiatan People Water Forum Dibubarkan Massa Ormas Patriot Garuda Nusantara, Ketua Komnas HAM Batal Hadir

    7cloud.asia – Kegiatan Peoples Water Forum (PWF) yang rencananya diselenggarakan di Bali pada 21-23 Mei 2024 dibubarkan oleh massa Ormas Patriot Garuda Nusantara (PGN) pada Senin, 20 Mei 2024.

    Puluhan orang anggota ormas ini juga melakukan rangkaian intimidasi, kekerasan dan teror pada panitia penyelenggara dan warga yang hadir di acara Peoples Water Forum

    Peoples Water Forum adalah agenda masyarakat sipil dari berbagai negara yang dilakukan untuk merespon agenda World Water Forum ke 10 yang juga diselenggarakan di Bali.

    Forum ini ditujukan sebagai ruang untuk mengkritisi privatisasi air, dan mendorong pengelolaan air untuk kesejahteraan rakyat.

    Agenda Peoples Water Forum di Bali menghadirkan perwakilan organisasi masyarakat sipil dan perwakilan Lembaga HAM Negara salah satunya Komnas HAM.

    Baca: World Water Forum ke-10 resmi dibuka

    Dilansir di laman resminya thepeopleswaterforum.org, People’s Water Forum merupakan gerakan keadilan air.

    Masyarakat sipil dari seluruh dunia akan berkumpul di People’s Water Forum 2024 di Bali, Indonesia pada tanggal 21-23 Mei.

    People’s Water Forum diselenggarakan untuk menantang gambaran korporasi mengenai tata kelola air global di WWF, mengkonsolidasikan jaringan global gerakan keadilan air.

    People’s Water Forum juga memperjuangkan alternatif air publik dan komunitas yang benar-benar dapat mewujudkan keadilan air bagi semua.

    People’s Water Forum menilai agenda World Water Forum mengancam kontrol demokratis atas air dan akses yang adil bagi masyarakat akar rumput.

    Baca: Ini yang akan dilakukan Indonesia di World Water Forum ke-10

    Petani kecil, masyarakat pedesaan, masyarakat miskin perkotaan dan kelompok masyarakat yang terpinggirkan dan rentan lainnya sering tidak dilibatkan.

    Ancaman-ancaman ini semakin mengerikan dalam konteks dunia yang sedang berjuang untuk keluar dari dampak buruk bencana alam Pandemi Covid-19 di tengah kekacauan iklim, krisis ekonomi dan konflik yang semakin meluas.

    Terkait penyelenggaraan People’s Water Forum di Bali ini, penyelenggara mengundang Komnas HAM untuk memberikan sambutan pada Hari Selasa, 21 Mei 2024.

    Sebelumnya, pada tanggal 19 Mei, Ketua Komnas HAM telah menyetujui untuk hadir pada forum tersebut.

    Sayangnya, Pada tanggal 21 Mei 2024, Ketua Komnas HAM melalui staf pribadinya secara mendadak menyampaikan bahwa dia tidak dapat hadir.

    Baca: Akses air bersih adalah hak asasi manusia

    Ketua Komnas HAM meminta untuk mengisi forum dengan format luring atau melalui aplikasi zoom.

    Panitia penyelenggara sangat mengharapkan kedatangan Komnas HAM, terlebih dalam kondisi ruang kegiatan saat ini yang sedang diteror dan dikepung oleh Ormas PGN yang tetap meminta acara dibubarkan.

    Permintaan dan sikap dari Ketua Komnas HAM ini sangat disayangkan mengingat posisi Komnas HAM yang seharusnya menjadi pihak paling depan dalam melakukan komunikasi dengan Ormas terkait juga Negara.

    Karena itu warga negara pendukung agenda the People’s Water Forum dengan ini mendesak dan meminta Komnas HAM selaku lembaga negara untuk:

    1. Memberikan perhatian dan segera memastikan agenda the People’s Water Forum di Bali tidak dibatasi dan dibubarkan;

    2. Melakukan komunikasi dan upaya advokasi untuk memastikan bahwa warga dan panitia penyelenggara tidak mendapatkan intimidasi, kekerasan dan teror yang berulang.

  • Deklarasi Hari Danau Sedunia: Respon terhadap Persediaan Air yang Kian Menipis

    Deklarasi Hari Danau Sedunia: Respon terhadap Persediaan Air yang Kian Menipis

    7cloud.asia – Inisiatif Indonesia untuk aksi penyelamatan danau sebagai upaya menjaga keberlanjutan sumber daya air global menjadi salah satu klausul Deklarasi Menteri di World Water Forum Ke-10 Bali, Rabu (22/5/2024).

    Deklarasi yang dihadiri oleh 106 delegasi negara dan 27 organisasi internasional itu sekaligus membuka peluang bagi para pemangku kepentingan dalam merespons persediaan air yang kian menipis.

    Danau selama ini terbentuk secara alami pada sejumlah ruas sungai hingga membentuk basin yang sangat luas. Fungsi utamanya sebagai wadah penampung air dan pendukung ekosistem perairan darat.

    WWF, yang kini menginjak usia 30 tahun, semakin menyadari bahwa danau memiliki multifungsi untuk memainkan peran penting dalam siklus makanan, pemurnian air, iklim, keanekaragaman hayati, serta mendukung kegiatan rekreasi, dan tradisional.

    Dewan Sumber Daya Air Nasional (DSDAN) dalam laporannya menyebutkan jumlah danau di Indonesia dalam kurun 3 tahun terakhir sebanyak 840 danau besar dan 735 danau kecil berupa telaga, ranu, dan situ.

    Baca Juga: Warna Air Danau Kawah Gunung Dempo Berubah Menjadi Keputihan, Ini Penjelasan ESDM

    Jumlah danau besar terbanyak berada di Sumatera sebanyak 170, sedangkan di Kalimantan (139), Jawa dan Bali (31), Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat (14), Sulawesi (30), Maluku (10), dan Papua sebanyak 127 danau.

    Dari total tersebut, DSDAN memperkirakan danau di Indonesia ditaksir mampu menampung hingga 500 miliar meter kubik air.

    Di sisi lain, kondisi danau saat ini mengalami degradasi karena kerusakan daerah tangkapan air dan pemanfaatan yang berlebihan yang berpotensi menimbulkan dampak bagi lingkungan danau, berupa sedimentasi, pencemaran, hingga penurunan biodiversitas.

    Contohnya, fenomena eutrofikasi eceng gondok dan pendangkalan yang banyak terjadi di berbagai danau, salah satunya di Danau Rawa Pening, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

    Danau alami dengan luas sekitar 2.670 hektare itu, hampir separuhnya dipenuhi dengan tumbuhan bernama bahasa Latin alga blooming.

    KLHK melaporkan danau alami maupun buatan, menyediakan 87 persen dari air tawar di permukaan Bumi.

    Baca Juga: Riset: Pemanasan Global Akibatkan Separuh Danau di Dunia Mengering

    Volume danau air tawar juga dilaporkan menurun hingga setengahnya, dengan lebih dari setengah danau terbesar di dunia mengalami penyusutan akibat tekanan besar dari penggunaan air dan cekungan yang berlebihan serta krisis iklim.

    Komitmen penyelamatan danau dalam WWF membuka peluang berbagi pemikiran pemangku kepentingan dalam merespons isu penting ekosistem danau yang sangat rentan terhadap tekanan di sekitarnya.

    Dalam diskusi panel bertajuk “Too much, too little, too polluted – Water Security for Resilient, Livable Cities”, di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Selasa (21/5/2024), mengungkap bahwa bencana kekeringan setiap musim kemarau dan banjir pada musim hujan di berbagai belahan dunia adalah fakta dari sistem manajemen air yang lemah.

    Indonesia sebagai negara kepulauan tropis di dunia, menangkap curah hujan tinggi berkisar 1.000 hingga 4.000 milimeter per tahun sebagai cadangan air tanah yang bisa bermanfaat bagi kehidupan pada musim kemarau.

    Zero Delta Q menjadi salah satu praktik regulasi manajemen air di Indonesia dalam mempertahankan keseimbangan daerah aliran sungai (DAS) secara nonstruktural.

    Prinsip kerjanya memberikan ruang untuk air pada DAS lewat kebijakan penataan ruang.

    Baca Juga: Pemkab Bangli Bersihkan Danau Batur dengan Menggunakan Eco Enzyme

    Peraturan Pemerintah (PP) No. 13 Tahun 2017 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional mengharuskan setiap bangunan tidak boleh menjadi penyumbang bertambahnya debit air ke sistem saluran drainase atau sistem aliran sungai.

    Regulasi itu mensyaratkan para pengembang perumahan, perkantoran, hingga industri memasang instalasi pembuangan air mengarah ke dalam tanah melalui fasilitas sumur resapan, embung, polder, hingga danau.

    Skema itu diharapkan dapat menambah cadangan air tanah yang berguna bagi kebutuhan hidup masyarakat pada musim kemarau, selain sebagai mitigasi dari bencana banjir akibat luapan sungai.

    Deklarasi Hari Danau Sedunia lahir dari diskusi panel WWF bertajuk “Seruan Mendesak untuk Menyelamatkan Danau Kita: Mempromosikan Agenda Global dan Upaya Kolaboratif untuk Pengelolaan Danau Berkelanjutan, serta Meningkatkan Momentum Hari Danau Sedunia.”

    Baca Juga: Komunitas Peduli Lingkungan Tuang 1.300 Larutan Eco Enzyme ke Danau Buyan

    Usulan penetapan Hari Danau Sedunia juga didukung penuh oleh Presiden Majelis Umum PBB Dennis Francis, yang sebelumnya telah mengadakan pertemuan bersama Menteri PUPR Basuki Hadimuljono.

    Pemerintah Indonesia selaku tuan rumah penyelenggaraan WWF Ke-10 segera bekerja untuk menyiapkan berbagai data dan argumentasi yang mendukung inisiatif tersebut lewat peran Kementerian Luar Negeri dan duta besar di luar negeri.

    Dokumen hasil deklarasi Hari Danau Sedunia di World Water Forum Ke-10 di Bali segera diajukan ke Majelis Umum PBB untuk proses penetapan agar dapat diperingati masyarakat sedunia. Proses itu sekaligus membahas tanggal peringatan.

    Peringatan Hari Danau Sedunia tentunya tidak sekadar simbolis, namun perlu dipahami sebagai salah satu kunci untuk memperkuat kemitraan strategis antarabangsa dalam menjamin kelestarian danau.

    Kekeringan sebagai dampak krisis air sudah menjadi perhatian dunia sejak tahun 1979, semakin menguat dan kian menjadi perhatian penting di periode 2018-2022.

    WWF, salah satunya melihat hal ini untuk memitigasi krisis air melalui pengelolaan air bersama yang berkeadilan dan berkelanjutan.

    Sumber:Antaranews.com

  • Kelebihan Mandi Pagi Versus Mandi Sore, Mana yang Lebih Baik?

    Kelebihan Mandi Pagi Versus Mandi Sore, Mana yang Lebih Baik?

     

    7cloud.asia – Belakangan mengurangi frekuensi mandi disarankan agar lebih ramah lingkungan. Pasalnya, mengurangi frekuensi mandi akan mengurangi konsumsi air dan limbah yang dihasilkan.

    Nah, bagi Anda yang ingin mandi satu kali saja dalam sehari demi lingkungan, mungkin akan bertanya-tanya kapan sebaiknya kita melakukan ritual harian ini

    Sebaiknya mandi di pagi hari, sore, atau bahkan malam hari sebelum tidur?

    “Tidak ada jawaban pasti bagi populasi global mengenai apakah lebih baik mandi sore atau mandi pagi,” kata dokter kulit Alok Vij, MD dikutip Kompas.com.

    Menurutnya setiap individu memiliki kebiasaan, pilihan dan kebutuhan masing-masing dalam urusan mandi ini.

    Baca Juga: Jika Mandi Cukup Sekali Sehari: Mana yang Lebih Baik, Mandi Pagi atau Mandi Sore

    Melansir  Health Essentials Cleveland Clinic Kompas.com menulis, baik mandi pagi maupun mandi sore, mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

    Jadi, apakah memilih mandi di pagi hari, sore hari, atau keduanya, semua tergantung pilihan, kebutuhan, dan kebiasaan masing-masing.

    Namun, Society of Pediatric Dermatology dan American Academy of Pediatrics merekomendasikan orang tua untuk memandikan anak mereka di sore hari sejak bayi.

    ”Hal ini untuk membantu membentuk siklus tidur yang normal,” jelas Dr. Vij.

    Jadi, lebih baik mandi malam atau pagi hari? Secara keseluruhan, Dr. Vij mengatakan bahwa menentukan waktu terbaik untuk mandi terserah kebutuhan kita.

    Jika kamu memerlukan tambahan kesegaran dan semangat sebelum memulai hari, mandi di pagi hari mungkin lebih cocok.

    Baca Juga: Ubah Cara Kamu Keramas Rambut Agar Lebih Ramah Lingkungan

    Kelebihan mandi di pagi hari:

    1. Membersihkan tubuh.
    Seprai kita memiliki sisa sel kulit, keringat, dan bakteri.

    “Dengan mandi di pagi hari, kita membersihkan diri sebelum mengenakan pakaian baru dan keluar rumah,” kata Dr. Vij.

    2. Membantu merasa lebih segar.
    Aliran air yang stabil membantu membangunkan kita dan membuat merasa lebih waspada.

    “Saya mandi di pagi hari untuk benar-benar bangun, untuk merasa hidup merasa kurang segar jika belum mandi.” ,” cerita Dr. Vij.

    3. Mempersiapkan kulit untuk perawatan.
    Mencuci muka saat mandi dapat membantu rutinitas perawatan kulit.

    “Mandi membantu membersihkan dan mempersiapkan kulit sebelum kita mulai menggunakan toner atau tabir surya untuk hari yang baru,” kata Dr. Vij.

    Baca Juga: Brian Szcabo Populerkan Tidak Mencuci Celana Jin Raw Denim, Gaya atau Demi Lingkungan?

    4.Mengurangi kusut pada kulit dan rambut.
    Kulit kepala menghasilkan minyak sepanjang hari. Dan minyak melapisi rambut, menjaganya tetap berkilau.

    “Tetapi minyak yang menempel setelah tidur semalaman bisa membuat rambut menjadi kusut sehingga lebih sulit untuk ditata.Mencuci rambut di pagi hari akan membantu mendapatkan ‘aktivitas’ segar sepanjang hari,” jelas Dr. Vij.

    Kelebihan mandi di sore atau malam hari
    1. Menghilangkan debu dan kotoran.
    “Mandi membantu membersihkan semua kotoran, racun lingkungan, dan polutan yang mungkin berdampak negatif pada kulit,” kata Dr. Vij.

    2. Memudahkan kita untuk tidur.
    Seperti yang telah disebutkan, mandi di malam hari dapat menjadi bagian dari rutinitas malam hari dan membantu kita mendapatkan tidur malam yang nyenyak.

    “Pengondisian emosi merupakan keuntungan besar bagi sebagian orang,” kata Dr. Vij.

    3. Menghilangkan sisa produk perawatan kulit.
    Selain menghilangkan kotoran dari tubuh, mandi di sore hari membantu menghilangkan produk perawatan kulit seperti tabir surya yang kita gunakan sepanjang hari.

    “Ini membantu kita tidur dengan bersih,” kata Dr. Vij.

    Baca Juga: Trend Tidak Mencuci Pakaian: Perempuan Lebih Bisa Menerima Jika Alasannya Demi Lingkungan

  • Riset BRIN: Sumber Air Baku Hulu Sungai Citarum Masih Aman

    Riset BRIN: Sumber Air Baku Hulu Sungai Citarum Masih Aman

    7cloud.asia – Tim peneliti dari Pusat Riset Sumber Daya Geologi (PRSDG) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyimpulkan sumber air baku masyarakat di wilayah hulu Daerah Aliran Sungai Citarum masih alamiah.

    Hasil data ilmiah BRIN berupa konsentrasi bromide alami pada sumber air baku di wilayah hulu Sungai Citarum di bawah ambang batas bromida pada air tanah adalah 0.5 mg/L (Permenkes RI No 2 Tahun 2023; WHO 2009).

    Sumber air baku masyarakat yang terletak pada wilayah hulu Sungai Citarum yang masih alamiah, di daerah hulu masih relatif aman, jauh dari pengaruh antropogenik dan tidak terdeteksi dari pencemaran bromida.

    “Namun di beberapa titik sumber air di wilayah yang dekat dengan wilayah pertanian dan industri aktif memiliki nilai bromida di atas ambang batas dan perlu penelitian lebih lanjut,” jelas Rizka Rizka Maria, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Sumber Daya Geologi (PRSDG) dilansir laman resmi BRIN.

    BRIN, ujar Rizka, melakukan penelitian terhadap kumpulan sampel air tanah untuk memahami konsentrasi bromida dalam air tanah dan untuk mengidentifikasi sumbernya.

    Baca Juga: Ekspedisi BRIN Temukan Polusi Mikroplastik di Sungai Citarum Sudah Mengkhawatirkan

    Penelitian ini merupakan penelitian pendahuluan untuk mengetahui distribusi bromida alami pada air tanah.

    “Hasil penelitian ini berfungsi sebagai informasi data dasar untuk mengetahui jejak perunutan bromida pada air tanah dan sebagai pelacak jika ditemukan nilai bromat yang melebihi ambang batas pada air minum dalam kemasan,” terang Rizka.

    Penggunaan air minum dalam kemasan menjadi salah satu hal yang sangat penting dalam pemenuhan kebutuhan air minum pada masyarakat. Kualitas air minum dalam kemasan menjadi salah satu hal utama yang harus diperhatikan.

    Akhir akhir ini isu pencemaran bromat pada air minum dalam kemasan sangat meresahkan masyarakat.

    Senyawa bromat (BrO3–) bukan senyawa almiah yang normal berada di air. Bromat memiliki ciri khas tidak berasa, tidak berwarna dan terbentuk pada saat air minum disterilkan dengan proses ozonasi.

    Baca Juga: BRIN Temukan Kontaminasi Bahan Aktif Obat di Sungai Citarum

    “Bromida alami yang terdapat dalam sumber air minum bereaksi dengan ozon pada saat proses disinfeksi akan menghasilkan senyawa bromat,” sebut Rizka.

    Rizka menjelaskan bahwa beberapa faktor yang mempengaruhi pembentukan bromat pada air minum, antara lain kandungan pH sumber air, pada air dengan pH tinggi maka reaksi pembentukan bromat akan lebih cepat dibandingkan pada air dengan suhu rendah.

    Konsentrasi ion bromida juga berpengaruh. Semakin tinggi ion bromide maka makin besar kemungkinan terbantuk bromat pada saat proses ozonasi.

    Jumlah ozon yang digunakan saat proses disinfeksi dan waktu reaksi dan durasi kontak antara ozon dan ion bromida juga berpengaruh.

    “Semakin lama waktu reaksi maka semain banyak bromate yang terbentuk,” ucap Rizka.

    Pencemaran air tanah oleh bromida biasanya bersumber dari proses fumigasi di sektor pertanian.

    Baca Juga: World Water Forum ke-10: UNDP Luncurkan Alat Pengolahan Air di Sungai Citarum

    Salah satu alasan penghentian atau penghapusan penggunaan metil bromid adalah karena adanya fakta bahwa gas methyl bromide merusak atmosfer bumi sehingga dalam jangka panjang berdampak pada kerusakan lingkungan secara global.

    Selain itu metil bromide juga berdampak serius kepada kesehatan bagi mereka yang terpapar dalam waktu lama. Dampaknya bagi kesehatan bisa ditandai dengan mual-mual, kelelahan yang berlebihan, gangguan mental dan bahkan efek neurologis lainnya.

    Dilansir health.ny.gov,kandungan bromat dalam air minum berpengaruh pada kesehatan. Penelitian mengungkap, orang yang menelan bromat dalam jumlah besar mengalami gejala gastrointestinal seperti mual, muntah, diare, dan nyeri perut.

    Bromat dalam konsentrasi tinggi juga berpengaruh pada ginjal, sistem saraf, dan gangguan pendengaran. Namun, orang-orang ini terpapar bromat dalam kadar ribuan kali lebih banyak daripada yang didapat dari air minum pada standarnya.

    Paparan bromat dalam kadar tinggi dalam jangka panjang juga menyebabkan kanker pada tikus. Apakah bromat dapat menyebabkan kanker pada manusia masih belum diketahui.

    Baca Juga: Maraknya Industri Air Minum dalam Kemasan Sembunyikan Krisis Air Global

    Beberapa orang mungkin berisiko lebih tinggi mengalami dampak kesehatan akibat paparan bromat atau memiliki kekhawatiran terhadap kehamilan atau bayi yang sedang disusui.

    Karena bromat dapat menyebabkan dampak kesehatan pada ginjal, ada kemungkinan bahwa mereka yang memiliki kondisi ginjal yang sudah ada sebelumnya dapat berisiko lebih tinggi.

    Informasi tentang dampak bromat pada kesehatan reproduksi terbatas, tetapi tidak menunjukkan adanya kekhawatiran pada tingkat yang mendekati standar air minum.

    Selain kesehatan manusia, potensi dampak lingkungan dari pembentukan bromat dalam sistem perairan juga mendorong penelitian.

  • Berebut Air di IKN dan Sekitarnya: Bagaimana Agar Pengelolaannya Lebih Adil?

    Berebut Air di IKN dan Sekitarnya: Bagaimana Agar Pengelolaannya Lebih Adil?

    7cloud.asia – Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) menambah tantangan baru dalam pengelolaan sumber daya air di Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur.

    Tanpa IKN, kawasan ini sebetulnya rentan mengalami kekeringan. Secara tren, jumlah hari hujan di kabupaten ini semakin menurun.

    Curah hujan juga kian berkurang. Di Kecamatan Penajam dan Sepaku pada 2019 masing-masing sebesar 116 dan 122 mm per tahun. Ini jauh menurun dengan curah hujan pada 2010 sebesar 239,5 dan 177,2 mm per tahun.

    Selain itu, ada pula risiko kebutuhan air yang lebih besar di Penajam Paser Utara, dibandingkan dengan kapasitas produksinya.

    Dengan proyeksi pertambahan penduduk di kawasan Penajam Paser Utara sebesar 2,45 persen, kebutuhan air yang diperlukan mencapai 257,61 liter per detik.

    Sementara itu, kapasitas produksi air bersih di kawasan ini hanya mencapai 76,09 liter per detik. Kota terdekat selain IKN yang juga mengalami peningkatan jumlah penduduk dan kebutuhan airnya adalah Balikpapan.

    Dengan adanya IKN, maka jumlah penduduk yang bermukim di wilayah tersebut akan semakin banyak.

    Pun dengan kebutuhan airnya. Pemerintah perlu merancang berbagai upaya pengelolaan air berkelanjutan agar ibu kota baru tidak semakin menyulitkan masyarakat sekitar berikut penduduk IKN nantinya.

    Mengelola pasokan air
    Bibit-bibit persoalan air di IKN sudah mulai terlihat. Proyek Bendungan Sepaku-Semoi untuk kebutuhan penduduk ibu kota baru, misalnya, menahan akses masyarakat ke air Sungai Sepaku dari hulu untuk keperluan irigasi.

    Biasanya, meskipun kemarau, warga masih bisa memanfaatkan air dari Sungai Sepaku.

    Pada Juni 2024 lalu, bendungan sudah beroperasi. Pekerjaan rumah berikutnya bagi pemerintah adalah memastikan bendungan bermanfaat bagi IKN dan sekitarnya.

    Dari segi kapasitas, misalnya, pemerintah perlu melakukan pembersihan sedimen dan pengerukan. Tujuannya adalah untuk mengangkut dan mengeluarkan sedimen yang menghambat aliran air, sehingga aliran air menjadi lebih lancar dan jernih.

    Jika upaya ini tidak dilakukan, kapasitas waduk menampung air dapat berkurang hingga 50 persen pada 2072.

    Bendungan Sepaku Semoi juga memerlukan pemeliharaan rutin karena berisiko tinggi mengalami keruntuhan karena rekahan. Ini biasanya terjadi karena tekanan air, perubahan suhu, pergerakan tanah sekitar bendungan.

    Bila pemeliharaan tidak dijalankan, tepian bendungan di beberapa sisi berisiko runtuh sehingga menghambat akses air dan menimbulkan kerugian hingga Rp17 miliar.

    Angka ini dihitung dari kerugian bangunan, jalan, tata guna lahan, dan penduduk.

    Menjaga kualitas air
    Pemerintah juga perlu mengelola sumber air lain di daerah aliran sungai (DAS) Kabupaten Penajam Paser Utara.

    Pasalnya, DAS ini terindikasi tercemar oleh limbah domestik dan tembaga. Alhasil, air dari sumber ini perlu diolah sebelum dimanfaatkan oleh masyarakat.

    Untuk menjaga kualitas air, pemerintah sepatutnya membangun sistem pengelolaan air limbah domestik dan instalasi pengolahan air bersih.

    Pasalnya, Penajam Paser Utara memiliki ribuan lubang bekas tambang yang dapat menambah beban pencemar di air sekitar.

    Terlebih, pengembangan IKN akan menciptakan banyak proyek infrastruktur sehingga menambah beban pencemar kawasan tersebut.

    Untuk memastikan kualitas air tanah, otoritas IKN dapat menanam tanaman-tanaman lokal sebagai instalasi lahan basah buatan. Area ini dimaksudkan untuk meniru fungsi alami lahan basah yang mengurangi beban pencemar sebelum masuk ke badan air (sungai, embung, waduk, dll).

    Tanaman-tanaman, selada air, bayam, atau kangkung dapat mereduksi kandungan nitrat, fosfor, maupun zat berbahaya bekas tambang dan proyek. Teknik ini dikenal sebagai fitoremediasi.

    Keadilan bagi kota lainnya
    Selain penduduk IKN, penduduk lokal terdekat yang mengalami kekeringan selama dua dekade terakhir adalah Balikpapan. Balikpapan memiliki tingkat risiko kekeringan yang tinggi.

    Persoalan krisis air baku di Balikpapan telah menjadi perhatian sejak tahun 2010, termasuk opsi pengambilan air dari Bendungan Sepaku Semoi yang masuk dalam rencana jangka panjang.

    Pembangunan Bendungan Sepaku Semoi sebenarnya sudah lama direncanakan. Pada awalnya, pemerintah merencanakan Bendungan Sepaku Semoi untuk mencukupi kebutuhan air Balikpapan sebesar 2.000 liter per detik dan Penajam Paser Utara sebesar 500 liter per detik.

    Namun, alokasi tersebut berbalik. Balikpapan kini hanya mendapatkan 500 liter per detik. Pasokan 2.000 liter per detik diperuntukkan bagi Penajam Paser Utara sebagai lokasi IKN.

    Dengan kondisi alokasi sebesar itu, pemerintah Balikpapan selayaknya melakukan beberapa strategi untuk memenuhi kebutuhan akses air warganya secara berkeadilan.

    Pertama, pemerintah Balikpapan perlu bernegoisasi ulang dengan pemerintah pusat terkait alokasi air Bendungan Sepaku Semoi untuk Balikpapan.

    Konsultasi publik pembangunan SPAM Sepaku Semoi pada 10 Juli 2023 terkait rencana untuk Kota Balikpapan direncanakan memiliki kapasitas 1000 liter per detik untuk kebutuhan air minum penduduk. Angka tersebut dua kali lipat dari pasokan saat ini.

    Langkah kedua, pemerintah Balikpapan dapat berkolaborasi dengan pemerintah daerah atau swasta untuk membantu mengidentifikasi solusi inovatif dari distribusi air yang lebih adil.

    Kolaborasi ini juga bisa mencakup investasi bersama dalam proyek infrastruktur air yang dapat menguntungkan banyak pihak.

    Ketiga, melibatkan masyarakat dalam proses perencanaan dan pengelolaan sumber daya air dapat meningkatkan transparansi dan akuntabilitas.

    Publikasi hasil konsultasi publik dan sosialisasi rencana pembangunan SPAM Sepaku Semoi dapat membantu masyarakat memahami situasi dan mendukung upaya pemerintah Balikpapan.

    Memastikan keadilan akses
    Pemerintah perlu mengelola air di IKN agar lebih menguntungkan dan terjangkau bagi masyarakat Penajam Paser Utara dan Balikpapan yang saat ini rentan kekeringan.

    Akses terhadap air merupakan hak dasar setiap warga negara yang diakui secara universal.

    Studi melaporkan bahwa pembangunan bendungan di Sepaku berdampak pada terganggunya pasokan air bersih untuk masyarakat lokal. Sebagian penduduk yang telah tinggal di Sepaku dalam waktu yang lama—baik masyarakat adat maupun pendatang dari Jawa dan Sulawesi—bahkan harus membeli air bersih untuk kebutuhan harian.

    Pemerintah perlu melihat langsung situasi akses air warga saat ini, terutama komunitas di sekitar DAS. Pemerintah perlu mengutamakan pendekatan kerja yang partisipatif dan menyelenggarakan dialog secara berkala dengan penduduk lokal untuk meredam dampak sosial keberadaan bendungan dan jalannya IKN.

    Saat ini, sungai Sepaku yang menjadi jalur aliran air bersih ke IKN pada dasarnya memiliki fungsi ekonomi yang penting bagi penduduk lokal.

    Masyarakat yang mengelola kebun buah-buahan tropis di sepanjang tepi sungai turut menggunakan Sungai Sepaku sebagai jalur transportasi hasil kebun.

    Proyek pembangunan untuk kepentingan bersama tidak boleh meminggirkan seorangpun. Kita perlu mengambil pelajaran dari peristiwa Waduk Kedung Ombo—proyek pengadaan air untuk minum dan industri pada masa Orde Baru—yang menggusur tiga puluh tujuh desa pada tiga Kabupaten di Jawa Tengah.

    Alih-alih melibatkan penduduk, proyek ini justru membuat rugi karena mereka tak menerima kompensasi dan ganti rugi yang adil.

    Mengingat kebutuhan air akan bertambah seiring dengan perkembangan IKN, perlu ada penyesuaian kebijakan jangka panjang yang memastikan distribusi air tetap adil. Ini termasuk perencanaan yang adaptif untuk mengantisipasi perubahan kebutuhan air di masa depan.

    Penulis:
    Rian Mantasa Salve Prastica
    PhD student studying urban stormwater management, Environmental Engineering research group, School of Civil Engineering, The University of Queensland

    Bhakti Eko Nugroho
    Staf Pengajar Departemen Kriminologi, Universitas Indonesia

  • Musim Kemarau, Wilayah Banyumas Mulai Kekeringan

    Musim Kemarau, Wilayah Banyumas Mulai Kekeringan

    7cloud.asia – Musim kemarau tengah melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Beberapa wilayah mengalami kekeringan, seperti yang terjadi di Banyumas, Jawa Tengah.

    Menurut Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyumas, Budi Nugroho wilayah yang terdampak kekeringan di wilayah tesebut mencapai 28 desa yang tersebar di 13 kecamatan.

    “Bahkan, RSUD Banyumas juga turut terdampak kekeringan pada musim kemarau tahun ini,” ungkap Budi Nugroho seperti yang dilansir Antaranews pada Rabu (28/08/2024).

    Selanjutnya Budi menjelaskan, kekeringan ini berdampak pada 7.575 keluarga yang terdiri atas 23.846 jiwa.

    Baca: Kekeringan melanda Yogyakarta

    Karena itu, lanjut Budi, pihaknya telah menyalurkan bantuan air bersih yang bersumber dari APBD Kabupaten Banyumas sebanyak 133 tangki setara dengan 665.000 liter.

    Bantuan air bersih ini akan disalurkan kepada warga di 28 desa yang terdampak kekeringan termasuk juga RSUD Banyumas.

    Selain BPBD, bantuan air bersih juga disalurkan oleh PMI Kabupaten Banyumas sebanyak 44 tangki setara dengan 220.000 liter dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy sebanyak 1 tangki atau 5.000 liter.

    Pada kesempatan itu Budi mengatakan kekeringan tidak hanya berdampak pada manusia, tetapi juga berdampak pada hutan yang menjadi rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Banyumas.

    Baca: Sejumlah wilayah di Aceh berpotensi kekeringan hingga September

    Data yang dihimpun BPBD Banyumas selama musim kemarau tahun 2024 telah terjadi 12 kejadian karhutla di 12 desa/kelurahan dengan total luas lahan yang terbakar mencapai 30,914 hektare.

    Karena itu, BPBD mengimbau masyarakat agar tidak membakar sampah atau rumput di lahan maupun hutan serta tidak membuang puntung rokok sembarangan agar tidak terjadi karhutla.

    “Apalagi saat sekarang sedang puncak musim kemarau dan angin juga cukup kencang, sehingga sekecil apapun api yang dibuat akan berisiko terhadap terjadinya karhutla,” ujarnya.

  • Peneliti BRIN: Ketidakpedulian Konservasi Tanah dan Air Picu Kerusakan di Banyak Aliran Sungai Indonesia

    Peneliti BRIN: Ketidakpedulian Konservasi Tanah dan Air Picu Kerusakan di Banyak Aliran Sungai Indonesia

    7cloud.asia – Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof Subarudi mengatakan kondisi sungai di Indonesia secara umum menghadapi banyak tantangan.

    Sebagai salah satu sumber utama air untuk masyarakat, sungai di Indonesia justru sering diposisikan menjadi halaman belakang.

    Bahkan, tidak jarang sungai menjadi tempat pembuangan sampah dan limbah. Itu sebabnya, Indonesia memiliki salah satu sungai paling tercemar di dunia yaitu Sungai Citarum.

    Penelitian yang dilakukan BRIN menemukan bahwa sampah plastik yang banyak ditemukan mencemari sungai di Indonesia bersumber dari kegiatan manusia termasuk berasal dari rumah tangga, lalu lintas, TPA, industri dan lain sebagainya.

    “Dengan pencemar utamanya adalah limbah plastik dan limbah hasil pemrosesan pabrik yang tercampur menjadi satu di sungai,” ujar Subarudi dalam diskusi daring yang diikuti dari Jakarta, Kamis (29/8/2024).

    Baca: Ekspedisi BRIN temukan cemaran mikroplastik di Sungai Citarum sudah mengkhawatirkan 

    Rusaknya ekosistem sungai, kata Subarudi, seringkali menjadi faktor penyebab peningkatan erosi, penurunan produktivitas, dan percepatan degradasi lahan serta banjir.

    “Jadi sebenarnya gampang kalau kita lihat sungai itu, kalau sungai itu merah saat hujan berarti pengolahan lahan di atas itu tidak berjalan sesuai dengan konservasi tanah dan air,” katanya.

    Selain itu Subarudi juga menyoroti isu pengelolaan DAS di Tanah Air, termasuk pemahaman yang masih rendah masyarakat yang kebanyakan tinggal di sekitar bantaran sungai.

    Hal itu menjadi salah satu penyebab tidak optimalnya penerapan aturan terkait DAS yang sudah dimiliki oleh Indonesia.

    Tidak hanya itu, kata dia, masih ada tumpang tindih peraturan perundangan antar-sektor dan belum adanya rencana terstruktur terkait pengelolaan DAS sebagai pedoman yang disertai dengan sistem informasi terpadu.

    Baca: Upaya Komunitas Tunas merawat Kali Angke

    Karena itu menurutnya, perlunya memperhatikan kaidah konservasi tanah dan air dalam pengelolaan lahan, mengingat perannya dalam menjaga kondisi hidrologis Daerah Aliran Sungai (DAS).

    “Kerusakan kondisi hidrologis DAS itu sebagai dampak perluasan lahan budi daya dan pemukiman yang tidak terkendali, kadang-kadang dia tidak peduli adanya konservasi tanah dan air,” kata Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN itu.

    Dibutuhkan kelembagaan pengelolaan DAS yang kuat, mengingat banyak instansi yang terlibat dalam pengelolaan DAS di Indonesia saat ini, mulai dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Kementerian Dalam Negeri dan pemerintah daerah serta berbagai unsur masyarakat.

    Selain dari sisi tata kelola kelembagaan, perubahan pola pikir dan sudut pandang masyarakat perlu juga menjadi perhatian, mengingat masih ada masyarakat yang menganggap sungai sebagai “halaman belakang” tempat untuk membuang sampah yang menjadi salah satu sumber pencemar aliran sungai.

    “Kalau bagian belakang pasti jadi tempat sampah, kalau dianggap bagian muka dia akan malu untuk membuang sampah,” jelasnya.

    Strategi diperlukan karena kondisi sungai-sungai di Indonesia yang beberapa bagiannya berada dalam kondisi tercemar. Termasuk Sungai Citarum di Jawa Barat, yang masuk dalam daftar sungai paling tercemar di dunia.

    Sumber:Antaranews.com

  • Memasuki Kemarau Kualitas Air Sungai Ciujung, Serang Memburuk: Berubah Jadi Hitam dan Berbau Menyengat

    Memasuki Kemarau Kualitas Air Sungai Ciujung, Serang Memburuk: Berubah Jadi Hitam dan Berbau Menyengat

    7cloud.asia – Warga Desa Masigit, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, mengeluhkan kondisi Sungai Ciujung yang airnya menghitam dan berbau menyengat diduga akibat tercemar oleh limbah perusahaan.

    Pantauan ANTARA di lokasi, warna air Sungai Ciujung di Desa Masigit tampak hitam seluruhnya dan mengeluarkan aroma yang tidak sedap.

    Menurut warga, sungai yang mengalir ke laut bagian utara Banten itu menghitam semenjak musim kemarau dan hujan semakin jarang turun.

    Martini warga Desa Masigit, Kecamatan Carenang, Kabupaten Serang, Kamis (5/9/2024), mengatakan sudah sekitar dua bulan Sungai Ciujung berwarna kehitaman.Sebelumnya, air sungai Ciujung ini masih berwarna kecokelatan.

    “Air sungai ini biasa digunakan warga untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi, mencuci piring sampai baju,” katanya.

    Baca: Separuh ekosistem air tawar dunia terdegradasi

    Ia mengatakan sungai tersebut juga mengeluarkan aroma bau seperti amoniak setiap memasuki musim kemarau.

    “Kalau musim kemarau ya begini baunya tidak enak. Tapi mau gimana lagi kita sehari-hari di sini jadi udah biasa meski memang tidak nyaman,” katanya.

    Menanggapi kondisi ini, Ketua DPRD Kabupaten Serang, Bahrul Ulum, mengatakan bahwa pengawasan selalu dilakukan baik oleh Pemerintah Kabupaten Serang maupun DPRD.

    Namun demikian, hal tersebut selalu muncul kembali ketika memasuki musim kemarau. Menurut dia, kondisi Sungai Ciujung ini karena adanya industri dan rumah tangga yang membuang limbah langsung ke sungai.

    Beberapa perusahaan memang sudah ada yang melakukan pengolahan limbahnya secara mandiri. 

    Baca: Jakarta dalam bayang-bayang krisis air bersih

    Ia menegaskan, pemerintah daerah harus menindak tegas perusahaan “nakal” yang masih membuang limbah tanpa mengolahnya sehingga mencemari Sungai Ciujung

    Selama ini, daerah aliran Sungai Ciujung kurang baik, selain airnya tidak sehat dan tercemar juga bisa menimbulkan banjir dan longsor.

    Di musim penghujan Sungai Ciujung hampir selalu menimbulkan banjir hingga menggenangi Tol Merak-Jakarta.

    Untuk itu, mencegah kerusakan daerah aliran sungai Ciujung tersebut diperlukan perbaikan mulai dari hulu hingga hilir.

    Sebab perbaikan sungai itu tidak bisa diperbaiki hanya di kawasan hulu saja,tetapi harus dilakukan hingga hilir.

    Sumber:Antaranews.com

  • PBB: “Militerisasi air” oleh Israel Merupakan Diskriminasi Air terhadap Warga Palestina

    PBB: “Militerisasi air” oleh Israel Merupakan Diskriminasi Air terhadap Warga Palestina

    7cloud.asia – Militerisasi air oleh Israel di wilayah Palestina khususnya Gaza merupakan bagian dari kebijakan apartheid atau diskriminasi air dan teritorial.

    Hal ini diungkapkan pelapor khusus PBB tentang hak asasi manusia untuk air minum yang aman dan sanitasi, Pedro Arrojo-Agudo dalam sebuah konferensi pers di Jenewa pada Senin (16/9/2024)

    Arrojo-Agudo menyebutkan bahwa populasi Gaza saat ini hidup dengan rata-rata 4,7 liter air per orang per hari.

    Dia mengingatkan bahwa angka tersebut jauh di bawah kebutuhan jumlah minimal yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam situasi darurat, yakni 15 liter per orang per hari.

    “Militerisasi air di wilayah Palestina yang diduduki telah menjadi inti dari kebijakan apartheid air dan teritorial selama 50 tahun terakhir, termasuk penghancuran infrastruktur air dasar Palestina,” katanya.

    Baca: PBB sebut dunia gagal lindungi masyarakat sipil Gaza

    Arrojo-Agudo mengatakan sumber air tawar alami satu-satunya adalah akuifer pesisir. Dan 2,3 juta orang di Gaza terpaksa memompa air tiga kali lebih banyak daripada yang diterima akuifer melalui pengisian alami yang mengakibatkan intrusi laut yang intens dan salinisasi.

    Selain itu, Israel telah memblokir 70 persen bahan yang dibutuhkan untuk membangun dan mengoperasikan pabrik pengolahan air limbah karena penggunaan ganda.

    “Kondisi ini menghambat pengolahan limbah yang tepat yang menyebabkan kontaminasi feses (kotoran pembuangan dari saluran pencernaan) secara progresif pada air tanah,” ujarnya.

    Pejabat tersebut menekankan bahwa bahkan sebelum 7 Oktober, 40 persen dari populasi sudah diberi pasokan air minum.

    Namun, saat perang pecah, Israel secara radikal memutus pasokan air tersebut dan pasokan listrik, serta menghancurkan pabrik desalinasi.

    Baca: PBB minta Israel lindungi wilayah kemanusiaan di Palestina

    Mengenai penyakit yang meledak akibat kekurangan air bersih, Arrojo-Agudo mengatakan sebanyak 1,7 juta kasus penyakit menular, termasuk diare, disentri, hepatitis A, polio, cacar, telah dilaporkan.

    Semua ini, diperburuk dengan kurangnya perawatan medis, mengakibatkan kematian, terutama bayi dan anak-anak

    “Menjadikan kelangkaan dan kontaminasi air sebagai bom diam yang jauh kurang terlihat daripada bom yang menghancurkan bangunan dan telah membunuh puluhan ribu warga sipil, namun bom ini tidak kalah mematikan,” ucapnya.

    Lebih lanjut Arrojo-Agudo menyampaikan rakyat Palestina tidak memiliki akses ke Sungai Yordan dan tidak dapat membangun sumur atau infrastruktur air di wilayah mereka sendiri.

    Penduduk Palestina hanya memiliki 70 liter per orang per hari dan banyak komunitas pedesaan hanya memiliki 20 liter.

    “Sementara populasi Israel rata-rata memiliki empat kali lebih banyak dan pemukim ilegal menerima serta menggunakan 18 kali lebih banyak air untuk tanaman dan kolam renang mereka,” tambahnya.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu