Tag: el nino

  • Bantu Warga Terdampak Kekeringan Akibat El Nino, Belasan Tangki Air Bersih Dikirim ke Bandung Barat

    Bantu Warga Terdampak Kekeringan Akibat El Nino, Belasan Tangki Air Bersih Dikirim ke Bandung Barat

    7cloud.asia – Kekeringan sebagai imbas El Nino mulai dirasakan warga di sejumlah wilayah di Tanah Air.

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut, sejak pertengahan Juli 2023, 63 persen wilayah Indonesia sudah masuk musim kemarau sehingga warga diingatkan untuk bersiap menghadapi kekeringan yang dipicu El Nino ini.

    Kekeringan atau krisis air bersih akibat El Nino antara lain dirasakan warga dua desa wilayah Kecamatan Ngamprah dan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

    Baca: Kekeringan imbas El Nino bisa turunkan produksi beras

    Mayoritas sumur warga yang menjadi sumber air bersih mengering akibat kemarau panjang yang disebabkan El Nino.

    Sudah dua bulan ini warga kesulitan mendapatkan air bersih, sehingga untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga harus membeli air.

    Untuk membantu meringankan beban warga, pemerintah dengan dibantu organisasi masyarakat sipil setempat mengirim belasan tangki dan ratusan ribu liter air bersih ke dua kabupaten/kota.

    Baca:  Petani di Ciamis mulai rasakan dampak kekeringan imbas El Nino

    Bantuan 120.000 liter air bersih disalurkan di beberapa titik sudah disalurkan ke lima desa yang berada di Bandung Barat dan Kabupaten Sukabumi oleh lembaga swadaya masyarakat Golden Future Indonesia.

    “Dropping air bersih ini bertahap dan sisanya menyusul. Penyaluran air bersih bisa sedikit meringankan beban masyarakat terdampak kekeringan,” kata Kepala Divisi Program Rizkya Insan Kamil, Minggu (20/2023) seperti dikutip Antaranews.com 

    Para penerima bantuan merasa sangat terbantu dengan adanya bantuan air bersih. Setidaknya dalam satu bulan ke depan mereka tidak akan kesulitan air bersih lagi.

    Baca: Ini penyebab El Nino dan dampaknya pada lingkungan

    Khaeriyah, warga Desa Pakuhaji, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung mengaku senang dan bersyukur mendapat bantuan air bersih ini. 

    “Alhamdulillah dengan bantuan tersebut kami terbantu,” katanya.

    Namun demikian warga diminta berhemat, karena menurut prediksi BMKG musim hujan baru terjadi sekitar bulan November mendatang. 

    Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan puncak musim kemarau akan terjadi pada pertengahan Agustus hingga September ini.

    Baca: Pemerintah siapkan dana Rp 8 Triliu untuk antisipasi dampak El Nino

     

     

  • El Nino Picu Kenaikan Harga Beras, Warga Rangkasbitung mulai Beralih ke Palawija

    El Nino Picu Kenaikan Harga Beras, Warga Rangkasbitung mulai Beralih ke Palawija

    7cloud.asia – Musim kemarau panjang akibat fenomena El Nino berdampak pada menurunnya produksi padi yang berimbas pada naiknya harga beras.

    Dampak El Nino ini juga dirasakan warga Lebak, Banten. Sebagian masyarakat di sana mulai beralih ke palawija sebagai makanan pendamping beras. 

    Yayah(45) warga Rangkasbitung Lebak mengatakan, memasuki Agustus yang disebut sebagai puncak El Nino ini, ia dan keluarganya kini terbiasa sarapan pagi dengan mengkonsumsi palawija sebagai makanan pendamping beras.

    “Kami di tengah El Nino hanya satu kali mengkonsumsi nasi, karena pagi hari cukup ubi kayu juga terkadang jagung,” jelas Yayah seperti dikutip Antaranews.com.

    Baca: Dampak El Nino, warga Bandung Barat mulai kesulitan air bersih

    Yayah mengatakan, kadang ubi kayu itu diolah menjadi kue bolu. Selama ini, kue bolu ubi dari ubi kayu bisa bertahan hingga enam jam, sehingga bisa mengurangi konsumsi beras.

    Peningkatan permintaan palawija juga dirasakan oleh Ahmad, pedagang di Rangkasbitung, Lebak yang sehari-hari menjual ubi jalar. 

    Ahmad menjelaskan selama sepekan terakhir dia bisa menjual dua ton ubi jalar dengan harga Rp7.000/kilogram.

    “Sehingga omzet naik menjadi Rp14 juta, padahal sebelumnya hanya Rp7 juta sepekan.,” ujarnya

    Baca: El Nino picu kekeringan, produksi beras dikhawatirkan minus

    Meningkatnya permintaan ubi jalar ini, menurut Ahmad, untuk dijadikan makanan pendamping beras menyusul musim kemarau, di mana harga beras jenis medium terjadi lonjakan.

    Karena itu, masyarakat banyak membeli ubi jalar untuk dijadikan makanan pendamping beras itu.

    “Kami mendatangkan ubi jalar itu dari petani langsung,” kata Ahmad.

    Hingga saat ini Pemerintah Kabupaten Lebak beleum menetapkan status darurat meski kekeringan dan krisisis air bersih mulai dirasakan warga.

    Bahkan beberapa waktu lalu juga dilaporkan setidaknya 50 hektare sawah di wilayah ini mengalami gagal panen. 

    Baca: Langkah Kementan antisipasi kemungkinan gagal panen akibat El Nino

    Pemkab Lebak mengatakan akan terus berupaya memenuhi ketersediaan palawija sebagai makanan pendamping beras.

    “Kita menjamin ketersediaan makanan pendamping beras dari komoditas palawija mencukupi dan tidak terdampak El Nino,” urai Kepala Produksi Dinas Pertanian Kabupaten Lebak Deni Iskandar di Lebak. 

    Deni memastikan selama musim kemarau akibat El Nino ini, persediaan palawija sebagai makanan pendamping beras relatif aman dan mencukupi kebutuhan masyarakat.

    Deni menyebut, hasil produksi palawija dari Januari hingga pertengahan Agustus 2023 sebanyak 11. 971 ton terdiri dari jagung 2.800 ton, kedelai 185 ton, kacang tanah 131 ton, kacang hijau 13 ton, ubi kayu 10.346 ton dan ubi jalar 1.481 ton.

    Lebak, ujarnya, juga memasok palawija tersebut ke luar daerah, seperti Tangerang dan Jakarta.

    Baca: Antisipasi kekeringan akibat El Nino, pemerintah siapkan dana Rp 8 triliun

    Melimpahnya produksi palawija, kata Deni, karena tanaman palawija yang tidak membutuhkan air banyak seperti tanaman padi sawah.

    Sehingga produksi komoditas tanaman palawija itu di saat musim kemarau juga tetap memanen. “Saya kira makanan pendamping itu bisa menjadi makanan pokok karena kandungan karbohidratnya sama dengan beras,” terangnya.

    Seperti yang diberitakan sebelumnya, Menteri Pertanian atau Mentan, Syahrul Yasin Limpo memperkirakan dampak El Nino tahun ini diperkirakan berpotensi mengakibatkan produksi pertanian Indonesia turun.

    Mentan menyebut, El Nino akan mengakibatkan Indonesia kekurangan stok beras antara 380 ribu ton hingga 1,2 juta ton.

    Baca: Mengenal fenomena alam El Nino dan dampaknya pada lingkungan

    Penulis: Nurakhmayani

  • El Nino Percepat Laju Lelehnya Salju Abadi Gunung Puncak Jaya

    El Nino Percepat Laju Lelehnya Salju Abadi Gunung Puncak Jaya

    Foto: ilmugeografi.com

    7cloud.asia – Pemanasan global mengancam keberadaan salju abadi atau tutupan es di Gunung Puncak Jaya, Papua. Fenomena El Nino memperparah kondisi ini.

    Fenomena El Nino yang terjadi saat ini diperkirakan akan turut mempercepat kepunahan tutupan es di Puncak Jaya tersebut.

    Dampak El Nino pada keberadaan salju abadi di Puncak Jaya ini diungkapkan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati dalam seminar berjudul ”Salju Abadi Menjelang Kepunahan: Dampak Perubahan Iklim?” di Jakarta, Selasa (22/8/2023).

    Baca: KLHK temukan sejumlah spesies baru di hutan Indonesia

    Melelehnya salju abadi di Puncak Jaya juga mengancam ekosistem yang ada di sekitar salju abadi tersebut. 

    “Perubahan iklim juga berdampak pada kehidupan masyarakat adat setempat yang telah lama bergantung pada keseimbangan lingkungan dan sumber daya alam di wilayah tersebut,” jelas Dwikora seperti yang dilansir Antaranews.

    Dwikorita menjelaskan Indonesia menjadi salah satu lokasi unik di wilayah tropis karena memiliki salju abadi.

    Dwikorita memaparkan salju abadi di Puncak Jaya ini adalah sebuah keajaiban alam yang menarik banyak perhatian dari kalangan ilmuwan, peneliti, serta pecinta alam. 

    Baca: Mengenal hari spesies terancam punah sedunia

    Sayangnya, dalam beberapa dekade terakhir, terjadi penurunan drastis luas area salju abadi tersebut.

    Ia memaparkan, sejak tahun 2010, Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) BMKG bersama Ohio State University, AS, telah melakukan studi terkait analisis paleo-klimatologi berdasarkan inti es (ice core) pada gletser Puncak Jaya.

    BMKG dengan didukung PT Freeport Indonesia kemudian terus melakukan kegiatan pemantauan secara berkala terhadap luas dan tebal gletser di Puncak
    Jaya. 

    Baca: Mengenal ekosistem lamun yang bisa jernihkan pesisir

    Hasilnya, sejak pengamatan dilakukan sampai saat ini, tutupan es di Puncak
    Jaya mengalami pencairan dan menuju kepunahan.

    Pada 2010, tebal es diperkirakan mencapai 32 meter dan laju penipisan es sebesar 1 meter per tahun terjadi pada tahun 2010-2015.

    Kemudian saat terjadi El Nino kuat pada tahun 2015-2016, penipisan es pun mencapai 5 meter per tahun. 

    Baca: Pendidikan yang memberikan solusi bagi perubahan iklim

    Dengan kondisi seperti itu, Dwikorita mengajak semua pihak perlu meningkatkan
    kesadaran tentang pentingnya menjaga dan melindungi lingkungan.

    Upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim harus dilakukan bersama baik oleh pemerintah, masyarakat, maupun sektor swasta dan pihak terkait lainnya.

    Selain itu, upaya lain yang perlu dilakukan adalah pengurangan emisi Gas Rumah
    Kaca dan penerapan energi baru atau terbarukan.

    ”Kita perlu terus menjaga dan mengendalikan laju kenaikan suhu dengan cara mentransformasikan energi fosil menjadi energi yang lebih ramah lingkungan,” katanya.

    Baca: Ekspor pasir laut mengancam kelestarian ekosistem pesisir

    Sebelumnya, dalam Dialog untuk Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka
    Panjang Nasional di BAPPENAS, BMKG mengimbau perlunya program yang lebih sistematis dan berkelanjutan untuk pemantauan terhadap parameter lingkungan.

    Donaldi Sukma Permana, Pakar Klimatologi BMKG yang memimpin Studi Dampak Perubahan Iklim pada Gletser di Puncak Jaya menjelaskan dalam rentang waktu tahun 2016-2022, laju penipisan es terjadi sekitar 2,5 meter per tahun.

    Sedangkan luas tutupan es pada tahun 2022 sekitar 0,23 kilometer persegi dan
    terus mengalami pencairan. Hal ini lanjut Donaldi, sebagai salah satu faktor yang
    ikut berkontribusi terhadap peningkatan tinggi muka laut secara global.

    Reporter: Nurakhmayani disarikan dari berbagai sumber

  • Imbas El Nino, Petani di Banjarsari Ciamis, Jawa Barat Tunda Masa Tanam

    Imbas El Nino, Petani di Banjarsari Ciamis, Jawa Barat Tunda Masa Tanam

    7cloud.asia – Hujan yang tak kunjung turun akibat fenomena El Nino, membuat para petani di Ciamis Jawa Barat harus menunda musim tanamnya.

    Tak hanya itu, kemarau panjang imbas El Nino juga mengakibatkan palawija yang ditanam petani juga tak bisa tumbuh dengan baik.  

    Imbas El Nino ini angat dirasakan para petani di Banjarsari, Ciamis, Jawa Barat. Salah satunya Isla, 64 tahun. Petani asal desa Kawasen ini terpaksa melewatkan musim tanam yang harusnya dilakukan akhir Agustus lalu. 

    “Ya gimana lagi? Ga hujan-hujan, tanahnya juga kering kurang air dan zat asamnya,” kata Isla ketika ditemui 7cloud.asia pada Kamis (31/08/2023).

    Dengan kondisi seperti ini, ia harus menunggu 3 bulan lagi untuk menanam padi. Itu pun kalau hujan, lanjutnya, kalau masih kemarau ya harus mundur lagi.

    Baca: Kekeringan di NTB masuk level awas

    Di saat musim kemarau seperti saat ini, Isla menjelaskan para petani banyak yang menanam palawija. Namun, banyak juga yang gagal menanam palawija karena kondisi tanahnya sudah terlalu kering.

    Dia pun juga mencoba menanam kacang, tetapi tanaman ini belum sempat dipanen karena mati dalam beberapa hari saja.

    “Petani mah sekarang susah, mau tanam apa-apa juga susah. Mati semua,” keluhnya.

    Musim kemarau banyak membuat petani gagal panen atau hasil panennya
    berkurang jauh. Seperti yang Isla alami.

    Baca: Imbas El Nino, harga beras naik warga mulai konsumsi palawija

    Dia menjelaskan pada musim panen akhir Juli lalu, hasil gabah yang ia dapat hanya 6 kuintal. Padahal ia biasa mendapat 8 kuintal setiap panennya dari 2 petak sawah yang ia miliki.

    Meski demikian, ia masih bersyukur karena bisa menjual gabah dengan harga tinggi, yaitu Rp7000 per kilogram. Biasanya ia hanya menjual dengan harga Rp4500 hingga Rp5000 per kilogram.

    Sebelumnya, Menteri Pertanian atau Mentan Syahrul Yasin Limpo telah
    memperkirakan dampak El Nino tahun ini mengakibatkan produksi pertanian Indonesia turun.

    Mentan menyebut, El Nino akan mengakibatkan Indonesia kekurangan stok beras
    antara 380 ribu ton hingga 1,2 juta ton.

    Baca: Imbas El Nino, produksi padi nasional bisa kurang hingga 1,2 juta ton

    Kementerian Pertanian telah mengantisipasi dampak El Nino dengan menggenjot produksi dan produktivitas petani.

    Antisipasi tersebut dimulai dari perencanaan hingga implementasi di sawah dan
    ladang yang senantiasa dipantau secara seksama yang sudah dilakukan jauh-jauh
    hari sebelum El Nino memuncak di bulan-bulan ini.

    Namun, pada musim kemarau tahun ini, Indonesia harus dihadapkan dengan
    fenomena El Nino yang berdampak pada intensitas panas yang lebih tinggi yang
    berakibat pada kekeringan dan kurangnya ketersediaan air.

    “Melalui analisa data dan lapangan bahwa kita sudah siap, sekeras apapun El Nino, kekurangan kita antara 380 ribu ton-1,2 juta ton,” ucapnya.

    Baca: Imbas El Nino, produksi beras di Ciamis menurun

    Untuk mengatasi hal ini Kementan telah mempersiapkan booster kegiatan
    penanaman lebih dari 500 ribu hektar selain dari reguler yang ada.

    Penambahan penanaman padi di 500 ribu hektar ini berada di daerah hijau, yakni
    daerah dengan cadangan air yang mencukupi.

    Reporter: Nurakhmayani

  • BRIN: El Nino Berlangsung Hingga Mei 2024, Kapan Hujan Mulai Turun?

    BRIN: El Nino Berlangsung Hingga Mei 2024, Kapan Hujan Mulai Turun?

    7cloud.asia – Hampir seluruh wilayah Indonesia saat ini mengalami musim kemarau dan kekeringan sebagai dampak fenomena El Nino.

    Diperkirakan situasi yang dipicu fenomena El Nino ini akan terus berlangsung hingga pertengahan tahun 2024 mendatang.

    “El Nino mencapai nilai di bawah 0,5 derajat Celsius sekitar Mei 2024,” kata  
    peneliti ahli utama pusat riset iklim dan atmosfer dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Eddy Hermawan seperti dikutip Antaranews.

    Baca: Kekeringan landa Bogor 

    Fenomena El Nino, lanjut Eddy, merupakan fenomena global yang juga dialami oleh negara-negara lain yang terletak pada garis ekuator dan negara Indonesia
    merupakan salah satunya.

    Suhu permukaan laut merangkak naik diatas 0,5 derajat Celsius sekitar bulan Mei
    2023. Kondisi ini akan terus naik hingga mencapai puncaknya pada bulan November hingga Desember 2023.

    Ketika El Nino sudah mencapai puncak, maka ia akan meluruh kembali sekitar bulan Mei 2024.

     

    Baca: Warga diminta berhemat air karena kemarau masih berlanjut

    “Bila melihat catatan sebelumnya, El Nino punya durasi panjang antara 9 hingga 12 bulan. Jadi, fenomena ini adalah wajar,” ucapnya.

    Eddy menjelaskan sebelum terjadi El Nino, sudah terjadi La Nina yang berlangsung sekitar 30 bulan sejak Agustus 2020 hingga akhir Januari 2023.

    Tetapi karena ada fenomena El Nino, maka musim hujan pada Desember, Januari dan Februari menjadi lebih kering. Hal ini membuat musim kemarau menjadi terasa lebih panjang. Sebab, yang biasanya 3 bulan kini menjadi 9 bulan.

    Baca: El Nino percepat melelehnya salju abadi di Puncak Jaya

    “Nanti Desember, Januari dan Februari mestinya kita musim hujan. Tetapi karena ada El Nino, kita mengalami musim kemarau. Bisa dikatakan hujan hanya rintik-rintik saja atau hanya berlangsung satu hingga dua hari saja,” urai Eddy.

    Karena itu, Eddy mengimbau masyarakat untuk dapat menghemat air serta
    mengganti tanaman padi menjadi palawija.

    Hal ini merupakan mitigasi hadapi  musim kemarau panjang akibat fenomena El Nino.

    Baca: Imbas El Nino, produksi beras bisa minus 1,2 juta ton

    El Nino merupakan fenomena cuaca yang terjadi akibat peningkatan suhu permukaan air di Samudra Pasifik Tengah dan Timur yang menjadi lebih hangat dari biasanya. Biasanya terjadi setiap 5 atau 7 tahun sekali.

    Fenomena alami ini menyebabkan perubahan pola cuaca global, yang berdampak
    signifikan pada iklim di berbagai wilayah di dunia, termasuk di Indonesia.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Kekeringan di Kota Serang Meluas, Lebih Dari 3 Ribu Jiwa Terdampak

    Kekeringan di Kota Serang Meluas, Lebih Dari 3 Ribu Jiwa Terdampak

    7cloud.asia – Kekeringan akibat fenomena El Nino di kota Serang, Banten sudah berlangsung sejak bulan Agustus lalu.

    Kini lokasi kekeringan di Kota Serang semakin meluas. Tercatat 27 titik lokasi yang mengalami kekeringan.

    Akibat kekeringan ini, sebanyak 3.408 jiwa, dari 2.308 kepala keluarga (KK) di Kota Serang terdampak kekeringan dan krisis air bersih.

    Dilansir dari Pikiran Rakyat, Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Serang, Diat Hermawan menjelaskan sejak Agustus 2023 hingga saat ini, BPBD telah mendistribusikan air bersih sebanyak 150.000 liter di 27 titik di Kota Serang.

    Baca: BMKG sebut kekeringan di NTB sudah masuk level awas

    “Total yang terdampak kekeringan ada sekitar 3.408 jiwa dan 2.308 kepala keluarga, yang tersebar di beberapa wilayah kecamatan, terutama Kasemen. Pengiriman air yang sudah kami distribusikan di 27 titik sebanyak 150.000 liter,” katanya.

    Dari 27 titik wilayah yang terdampak kekeringan, Kecamatan Kasemen paling banyak yang terdampak. Seperti di Kelurahan Kilasah, Margaluyu, Mesjid Priyai, Terumbu, dan Kelurahan Bendung.

    Di Kelurahan Cibendung, Kecamatan Taktakan sebanyak 342 jiwa dari 120 kepala keluarga yang terdampak kekeringan.

    Baca: BMKG sebut musim hujan 2023/2024 akan mundur

    Termasuk di Kecamatan Walantaka, Kelurahan Teritih, khususnya Komplek Persada Banten di dua blok perumahan, sebanyak 450 kepala keluarga atau sekitar 600 rumah yang terdampak.

    Kalau totalnya, ada sekitar 1.231 rumah yang terdampak. Untuk di Kecamatan Walantaka dan Taktakan, saat ini berdasarkan data baru satu kelurahan yang mengalami kondisi kekeringan atau krisis air bersih.

    “Kami distribusikan air 10 ribu liter, dan lima ribu liter di Taktakan,” jelas Diat.

    Baca: Penyebab El Nino dan dampaknya pada lingkungan

    BPBD Kota Serang juga telah mengajukan surat status siaga darurat kepada Pemerintah Kota Serang, karena titik atau lokasi kekeringan saat ini semakin meluas.

    “Saya sudah bersurat ke pak wali terkait status kebencanaan kekeringan sekarang. Tapi masih menunggu arahan dari beliau, jadi sementara statusnya menuju siaga darurat,” ungkapnya.

    Sementara itu, Wakil Wali Kota Serang, Subadri Ushuludin mengatakan, saat ini Pemkot Serang masih mengkaji mengenai status kedaruratan kekeringan di Kota Serang.

    Baca: BRIN sebut El Nino bakal berlangsung hingga Mei 2024

    “Kami masih mengkaji, tapi tentu karena ini menyangkut kepentingan dan kebutuhan masyarakat. Kami menekankan kepada dinas terkait untuk memberikan bantuan air bersih, sebagai tanggung jawab kami. Tentunya, kami pun fokus untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” jelas Subadri.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Rawan Kekeringan dan Kebakaran Hutan, Kabupaten Penajam Paser Utara Dinyatakan Darurat El Nino

    Rawan Kekeringan dan Kebakaran Hutan, Kabupaten Penajam Paser Utara Dinyatakan Darurat El Nino

    7cloud.asia – Fenomena El Nino mencapai puncaknya pada bulan Agustus dan September ini. Akibatnya kekeringan dan kebakaran hutan melanda sejumlah wilayah di Indonesia dan menyatakan status darurat El Nino.

    Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur salah satu daerah yang dinyatakan darurat El Nino

    “Dengan adanya dampak kebakaran hutan dan lahan, serta kekeringan, Kabupaten Penajam Paser Utara masuk darurat El Nino,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Penajam Paser Utara, Budi Santoso seperti yang dikutip Antaranews.

    Baca: BRIN sebut El Nino akan berlangsung hingga Mei 2024

    Selanjutnya Budi memaparkan pihaknya telah melakukan kajian serta pengamatan terkait dengan fenomena El Nino. Hasilnya, ada potensi kekeringan yang dihadapi masyarakat.

    Berdasarkan laporan Perusahaan Umum Daerah (Perunda) Air Minum Danum Taka Kabupaten Penajam Paser Utara, cekungan penampung air (embung) untuk air baku di sejumlah instansi pengolahan air bersih mengalami penyusutan yang signifikan.

    Bahkan operasional sejumlah instalasi pengolahan air bersih kini dihentikan karena sumber air baku sudah tidak memungkinkan untuk mendistribusikan air bersih terus menerus.

    Baca: Dampak El Nino musim hujan 2023/2024 mundur

    “Berdasarkan laporan Direktur Perumda Air Minum Danum Taka, sudah terjadi penyusutan air baku untuk pengolahan air bersih,” ujarnya.

    Karena itu, lanjut Budi, pihaknya akan membahas masalah ini bersama instansi terkait mengenai penetapan status siaga darurat bencana kekeringan akibat musim kemarau.

    Rencana penetapan status siaga bencana kekeringan ini karena ada potensi kekeringan dengan adanya musim kemarau panjang atau El Nino.

    Baca: Karhutla terjaid di mana-mana

    Penetapan status siaga darurat bencana kekeringan berkaitan dengan ketersediaan air bersih serta kejadian kebakaran hutan dan lahan yang berdampak bagi warga.

    Selain itu penetapan status siaga darurat bencana ini sebagai antisipasi bebagai bencana lainnya yang akan terjadi sebagai dampak adanya fenomena El Nino hingga Januari 2024.

    El Nino merupakan fenomena cuaca yang terjadi akibat peningkatan suhu permukaan air di Samudra Pasifik Tengah dan Timur yang menjadi lebih hangat dari biasanya. Biasanya terjadi setiap 5 atau 7 tahun sekali.

    Baca: Imbas El Nino, kekeringan di NTB masuk level awas

    Fenomena ini adalah fenomena global yang juga dialami oleh negara-negara lain yang terletak pada garis ekuator dan negara Indonesia merupakan salah satunya.

    Fenomena alam ini menyebabkan perubahan pola cuaca global, yang berdampak
    signifikan pada iklim di berbagai wilayah di dunia, termasuk di Indonesia.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Selama 60 Hari Hujan Tak Turun, Sejumlah Wilayah di Pulau Jawa Kekeringan

    Selama 60 Hari Hujan Tak Turun, Sejumlah Wilayah di Pulau Jawa Kekeringan

    7cloud.asia – Fenomena El Nino yang memasuki puncaknya mengakibatkan wilayah di Pulau Jawa mengalami hari tanpa hujan selama 60 hari.

    Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari mengatakan imbas dari El Nino terjadi kekeringan dan masyarakat kesulitan air bersih. 

    “Akibat El Nino ada kabupaten kota yang menyampaikan tidak hujan lebih dari dua setengah sampai 3 bulan. Jadi mengakibatkan kekeringan yang dialami oleh masyarakat daerah,” ungkap Abdul.

    Dengan kondisi kekeringan ini, lanjut Abdul, membuat eskalasi bencana kebakaran di pulau Jawa dapat terjadi serta meluas.

    Baca: Kabupaten Penajem Paser Utara dinyatakan darurat El Nino

    Dia mencontohkan beberapa kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di kawasan pegunungan dalam dua pekan terakhir.

    Belum lagi masalah kekeringan yang masih berlanjut di Pulau Jawa. Ia mengakui banyak petugas BPBD yang tidak mencatatkan kejadian tersebut pada pekan pencatatan kejadian bencana 4-10 September 2023.

    “Padahal sebenarnya di Jawa Barat ada 13 kabupaten/kota yang signifikan kekeringan. Di Jawa Tengah lebih, setidaknya 18 kabupaten/kota. Di Jawa Timur setidaknya 19 kabupaten/kota yang terdampak kekeringan,” urainya.

    Baca: BRIN sebut El Nino akan berlangsung hingga Mei 2024

    Kondisi kekeringan ini tidak hanya terjadi di Pulau Jawa. Di Kalimantan Selatan juga terjadi hari tanpa hujan selama lebih dari 2 bulan.

    Namun, situasinya di sana lebih cepat terkendali dan kebakaran hutan juga cepat 
    tertangani agar tidak mengganggu udara di negara tetangga.

    Sebaliknya, di wilayah Pulau Sumatera yang terletak di atas garis khatulistiwa justru terjadi banjir.

    Baca: BMKG perkirakan musim hujan 2023/2024 mundur ke November

    Hal ini terjadi karena masih menerima kumulatif awan hujan dari fenomena gelombang ekuator yang menyebabkan curah hujan menjadi tinggi.

    Provinsi yang melaporkan bencana banjir diantaranya Aceh, Sumatera Barat dan Riau.

    Sebelumnya Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) perkirakan awal musim hujan akan mundur hingga bulan November 2023. Namun, musim hujan tahun ini tidak berlangsung serentak di semua wilayah Indonesia.

    Baca: Hujan deras landa Hong Kong

    “Curah hujan yang turun pada periode musim hujan 2023/2024 pada umumnya diprediksi akan normal dibandingkan biasanya,” urai Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati beberapa waktu lalu.

    Meski demikian, beberapa Zona Musim (ZOM) telah terkonfirmasi mulai alami musim hujan. ZOM ini terbagi menjadi beberapa wilayah.

    Pada bulan September ini sebagian Sumatera Barat dan Riau bagian Selatan mulai diguyur hujan.

    Baca: Gelombang panas di Eropa parah tahun ini

    Di bulan berikutnya, Oktober wilayah Jambi, Sumatera Selatan bagian Utara, Jawa Tengah bagian Selatan, sebagian Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah bagian barat, sebagian besar Kalimantan Timur diprediksi turun hujan.

    Pada bulan November, hujan mulai mengguyur lebih banyak wilayah lagi. Yaitu Wilayah Sumatera Selatan, Lampung, sebagian besar Banten, Jakarta, Jawa Barat, sebagian besar Jawa Tengah, sebagian Jawa Timur, Bali.

    Selain itu hujan juga diperkirakan akan turun di sebagian kecil NTB, sebagian
    kecil NTT, Sulawesi Utara, Gorontalo, sebagian Sulawesi Tengah, sebagian
    Sulawesi Selatan, Maluku Utara bagian Utara dan Papua Selatan bagian selatan.

    Reporter: Nurakhamayani

  • Kekeringan Melanda, Menteri Agama Imbau Salat Istisqa

    Kekeringan Melanda, Menteri Agama Imbau Salat Istisqa

    7cloud.asia – Kekeringan melanda sebagian besar wilayah Indonesia sebagai dampak fenomena El Nino. Akibatnya banyak warga yang kesulitan mendapatkan air bersih hingga gagal panen.karena itu Kementerian Agama (Kemenag) mengajak umat Islam untuk menggelar Shalat Istisqa atau shalat meminta hujan.

    “Kementerian Agama mengajak umat Islam untuk melaksanakan Salat Istisqa atau salat meminta hujan,” ujar Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas seperti dikuti Antaranews, Jumat (15/09/2023).

    Salat Istisqa ini sebagai salah satu bentuk upaya manusia sekaligus bentuk penghambaan kepada Allah SWT.

    “Memohon agar Allah menurunkan hujan yang lebat merata, mengairi, menyuburkan, bermanfaat tanpa mencelakakan, segera tanpa ditunda. Amin,” harapnya.

    Pelaksanaan Salat Istisqa sama dengan Salat Idul Fitri dan Idul Adha. Sesudah Takbiratul Ihram, melakukan takbir tujuh kali pada rakaat pertama, dan lima kali takbir pada rakaat kedua.

    Setelah membaca Surat Al-Fatihah dan lainnya, lalu rukuk, sujud hingga duduk tahiyyat kemudian salam.

    Khatib lalu menyampaikan khutbah sama seperti khutbah Idul Fitri dan Idul Adha. Khutbah dianjurkan mengajak umat Islam untuk bertobat, meminta ampun atas segala dosa, serta memperbanyak istighfar dengan harapan Allah SWT mengabulkan apa yang menjadi kebutuhan umat Islam dan makhluk hidup lainnya pada saat kemarau panjang.

    Pada kesempatan yang berbeda, Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Sukabumi, Jawa Barat, bersama ribuan umat Muslim menggelar Salat Istisqa atau salat meminta hujan kepada Allah SWT.

    Shalat Istisqa ini merupakan upaya, khususnya umat Muslim, di Kota Sukabumi dengan cara berdoa kepada Allah SWT agar menurunkan hujan.

    “Kegiatan keagamaan ini sesuai tuntunan Islam, untuk itu Pemkot Sukabumi bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Sukabumi menggelar Shalat Istisqa yang juga diikuti oleh ribuan warga,” kata Wali Kota Sukabumi, Achmad Fahmi di Sukabumi.

    Sebelum pelaksanaan Salat Istisqa, pihaknya telah mengeluarkan surat edaran yang mengajak warga muslim di Sukabumi melaksanakan Salat Istisqa.

    Dengan demikian ia berharap, hujan dapat segera turun karena kekeringan di Sukabumi kian meluas membuat warga kesulitan mendapatkan air.

    “Hanya Allah SWT yang bisa menurunkan hujan, maka dari itu ikhtiar yang kami lakukan ini diharapkan bisa dikabulkan oleh Allah SWT dengan menurunkan hujan, khususnya di wilayah Kota Sukabumi,” harapnya.

    Repoter: Nurakhmayani

  • Situbondo Kekeringan, Warga Harus Masuk Hutan Mencari Air

    Situbondo Kekeringan, Warga Harus Masuk Hutan Mencari Air

    7cloud.asia – Kekeringan akibat fenomena El Nino masih terjadi di beberapa wilayah. Kabupaten Situbondo, Jawa Timur salah satu yang mengalami krisis air bersih.

    Akibatnya, warga harus berjalan jauh masuk hutan untuk mendapatkan air bersih. Kekeringan yang mengakibatkan krisis air bersih ini terjadi dalam dua bulan ini.

    Salah seorang warga, Sumirah menjelaskan, untuk memenuhi kebutuhan air bersih ia harus mengambil ke sumber mata air yang jaraknya cukup jauh dan juga bergiliran atau antre dengan warga lainnya.

    “Kalau belum mendapatkan distribusi air bersih kami ya mengambil air di sumber mata air berjalan kaki. Apalagi kebutuhan air bersih dibutuhkan sehari-hari untuk kepentingan memasak, mandi, dan mencuci,” urai Sumirah seperti dikutip Antaranews.

    Baca Juga: Krisis Air Bersih di Muara Angke, Warga Harus Siapkan Rp400 Ribu untuk Beli Air Bersih

    Sementara itu Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, terus mendistribusikan air bersih secara bergiliran tiga hari sekali ke sejumlah wilayah terdampak kekeringan guna memenuhi kebutuhan air bersih. 

    Kepala Pelaksana BPBD Situbondo, Sruwi Hartanto mengemukakan pada hari ini petugas melakukan pengiriman air bersih di dua titik terdampak kekeringan, yakni di Dusun Bandusa dan Dusun Polay, Desa Jatisari, Kecamatan Arjasa.

    “Hari ini kami mendistribusikan air bersih ke dua dusun di Desa Jatisari, masing-masing dusun satu armada truk tangki kapasitas 5.000 liter, jadi sehari dua titik wilayah kekurangan air bersih kami kirim 10.000 liter,” jelas Sruwi.

    Selanjutnya Sruwi mengungkapkan ada dua dusun Desa Jatisari menjadi langganan terdampak kekeringan dan kekurangan air bersih setiap memasuki musim kemarau.

    Baca Juga: Selama 60 Hari Hujan Tak Turun, Sejumlah Wilayah di Pulau Jawa Kekeringan

    Kedua dusun itu terletak di atas perbukitan sehingga saat memasuki kemarau sumber mata air semakin mengecil dan tidak mampu memenuhi kebutuhan warga setempat.

    “Dusun Polay dan Bandusa ini masuk kategori terpencil dan memang menjadi langganan lokasi kekeringan,” ujar Sruwi.

    Berdasarkan data BPBD Situbondo hingga kini ada tujuh dusun yang mengalami kekurangan air bersih akibat sumber mata air mengecil.

    Ketujuh dusun tersebut adalah Dusun Sokaan Utara (wilayah barat dan timur) Desa Gunung Putri, Kecamatan Suboh tercatat sebanyak 2.793 jiwa tersebar di enam RT.

    Kemudian Dusun Bandusa dan Dusun Polay Taman, Desa Jatisari, Kecamatan Arjasa tercatat ada 800 jiwa tersebar di enam RT mengalami kekurangan air bersih akibat sumber mata air di dua dusun tersebut mengecil.

    Baca Juga: BMKG: Musim Hujan Tahun 2023/2024 Akan Mundur

    Selanjutnya Dusun Sekar Putih dan Dusun Curah Temu, Desa Sumberanyar, Kecamatan Banyuputih tercatat ratusan jiwa juga mengalami kekurangan air bersih karena sumber air di sumur bor berkurang.

    Sedangkan di Dusun Jerugan, Desa Selomukti, Kecamatan Mlandingan, ada 673 jiwa kekurangan air bersih, karena sumur bor bantuan pemerintah di dusun tersebut rusak.

    Reporter: Nurakhmayani