Tag: emisi gas rumah kaca

  • European Commission Sebut Indonesia Sumbang 2,3 Persen Emisi Gas Rumah Kaca Global

    European Commission Sebut Indonesia Sumbang 2,3 Persen Emisi Gas Rumah Kaca Global

    7cloud.asia – European Commission selaku badan eksekutif di Uni Eropa menyatakan bahwa volume emisi gas rumah kaca Indonesia sebesar 1,24 Gt CO2e atau setara 2,3 persen dari total emisi global pada tahun 2022.

    Data tersebut dilaporkan European Commission (EC) dalam GHG Emissions of All World Countries 2023 yang sekaligus juga menyatakan peningkatan emisi gas rumah kaca Indonesia capai 10 persen pada 2022 dibandingkan tahun sebelumnya.

    Dimintai tanggapannya, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyatakan akan mengkaji data emisi gas rumah kaca Indonesia dari EC tersebut.

    “Kami harus tahu metodologi apa yang digunakannya (EC) sehingga dikatakan berkontribusi 2,3 persen, dan akan disandingkan dengan data dan metodologi yang kami lakukan,” kata Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim KLHK, Laksmi Dhewanthi dikutip Antaranews.com.

    Laksmi menjelaskan, Indonesia bukan penyumbang emisi terbesar salah satunya dibuktikan melalui emisi per kapita Indonesia yang jauh lebih kecil dibandingkan negara maju sehingga data EC tersebut tidak seutuhnya akurat.

    Baca: Masyarakat paling terdampak emisi gas rumah kaca

    Ia menegaskan, Indonesia terus mengurangi emisi gas rumah kaca di lima sektor meliputi Energi, Limbah, Proses industri dan penggunaan produk (IPPU), Agrikultur, dan FOLU atau forest and other land.

    KLHK mencatat pengurangan emisi gas rumah kaca di Indonesia mencapai 47,3 persen pada 2020, kemudian 43,8 persen pada 2021, dan 41,6 persen pada 2022 dibandingkan dengan baseline tahunan.

    Pengurangan emisi gas rumah kaca ini berada di sekitar target NDC sebesar 43,2 persen dengan kerja sama internasional.

    Angka ini menurutnya jauh melebihi target kapasitas nasional sebesar 31,89 persen.
    Begitupun untuk tahun 2023 meski data masih dalam proses verifikasi yang dalam waktu dekat segera dipublikasikan.

    Namun, pihak KHLK menyakini hasilnya akan berbanding lurus dengan capaian penurunan emisi tahun sebelumnya.

    Baca: PLTU batubara dan emisi gas rumah kaca

    “Intervensi juga terus dilakukan termuat dalam RPJMN dan program yang ada, misalnya transisi energi ke yang lebih berkelanjutan, termasuk penghentian dini PLTU, penguatan sektor kehutanan demi meningkatkan serapan karbon, dan pengendalian sampah penghasil gas metana,” ujarnya.

    Dalam upaya ini KLHK menambahkan unsur hidrofluorokarbon atau HFC yang secara umum diproduksi oleh alat pendingin ruangan itu ke dalam dokumen Nationally Determined Contribution (NDC) kedua untuk menekan emisinya dan menghapuskan penggunaannya mulai tahun ini.

    Di samping itu, ia menegaskan, upaya pengendalian iklim juga semakin diperkuat dengan dukungan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang telah menginisiasikan pembangunan menara pemantau GRK dua dari enam unit menara yang ditargetkan.

    Keberadaan menara pantau GRK tersebut penting dalam keakurasian kebijakan pengendalian iklim karena memiliki kemampuan untuk mengklasifikasikan level kadar karbon perusak ozon utama.

    Gas rmah kaca itu seperti karbondioksida (CO2), belerang dioksida (SO2), nitrogen monoksida (NO), nitrogen dioksida (NO2), gas metana (CH4), dan hidrofluorokarbon.

    “Data hasil pemantauan GRK itu juga dapat diakses dalam layanan iklim dan karbon KLHK supaya publik tahu lebih jelas kondisi sebenarnya,” ujarnya.

  • BRIN: Butuh Waktu Ratusan Tahun untuk Pulihkan Hutan Mangrove yang Rusak

    BRIN: Butuh Waktu Ratusan Tahun untuk Pulihkan Hutan Mangrove yang Rusak

    7cloud.asia – Konversi atau alih fungsi hutan mangrove akan melepas karbon secara masif dan membutuhkan waktu hingga ratusan tahun untuk mengembalikan kondisi cadangan karbonnya sebelum terjadi pengalihan fungsi.

    Dalam diskusi Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) yang diikuti daring dari Jakarta, Jumat (26/7/2024), Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Virni Budi Arifanti mengatakan, mangrove memiliki kemampuan untuk menyerap dan menyimpan karbon dalam jumlah besar.

    Sehingga kerusakan ekosistem mangrove akan menghasilkan terlepasnya emisi gas rumah kaca (GRK) dalam jumlah besar.

     

    Baca: Seperempat hutan mangrove ada di Indonesia

    Merujuk kepada penelitian yang dilakukan BRIN di wilayah delta Sungai Mahakam, dia mengatakan konversi hutan mangrove dalam kondisi baik menjadi lokasi tambak, mengakibatkan emisi gas rumah kaca yang sangat besar.

    “Hampir 50 persen dari cadangan karbon mangrove yang masih bagus ini akan hilang apabila mangrove ini dikonversi menjadi tambak,” katanya dalam diskusi diadakan dalam rangka Hari Mangrove Sedunia, yang diperingati setiap 26 Juli.

    Dalam penelitiannya, dia menghitung bahwa jika tambak bekas lahan mangrove itu beroperasi selama 16 tahun, maka upaya pemulihan untuk bisa mengembalikan kondisinya seperti semula, dengan jumlah penyimpanan karbon di tanah yang sama, membutuhkan waktu sekitar 226 tahun.

    Baca: Kenali beragam jenis mangrove di Kebun Raya Surabaya

    “Ternyata memang kemampuan mangrove untuk melepaskan karbon ketika terganggu itu sangat tinggi sehingga upaya kita kalau kita mau mengembalikan kondisi tanah mangrove seperti dalam kondisi intact itu butuh waktu yang lama,” jelasnya.

    Di sisi lain, ekosistem mangrove yang sudah terdegradasi perlu dilakukan rehabilitasi dengan dilakukan penanaman kembali.

    Upaya rehabilitasi mangrove, jelasnya, akan dapat membantu mengembalikan biomassa permukaan atas tanah dan bawah tanah setidaknya untuk menyamai mangrove yang masih alami.

    Namun demikian, rehabilitasi mangrove tidak serta merta mengembalikan kondisi cadangan karbonnya seperti kondisi semula.

    Sumber:Antaranews.com

  • Seperti Ini Emisi Gas Rumah Kaca Memicu Gelombang Panas Ekstrem

    Seperti Ini Emisi Gas Rumah Kaca Memicu Gelombang Panas Ekstrem

    7cloud.asia – Akibat emisi gas rumah kaca, dunia baru saja melampaui ambang batas pemanasan global sebesar 1,5°C selama 12 bulan berturut-turut, dengan bulan Juni menjadi bulan Juni terpanas dalam sejarah – bulan ke-13 berturut-turut yang mencatatkan suhu yang memecahkan rekor.

    Peningkatan panas ekstrem ini merupakan akibat langsung dari emisi gas rumah kaca yang dipicu aktivitas manusia. Emisi gas rumah kaca inilah yang menyebabkan perubahan iklim.

    Ketika emisi gas rumah kaca memerangkap lebih banyak panas di atmosfer, gelombang panas –jenis peristiwa cuaca ekstrem yang paling mematikan– menjadi lebih lama dan lebih panas.

    Studi atribusi yang dilakukan oleh World Weather Attribution (WWA) menemukan bahwa gelombang panas yang melanda India dan Pakistan pada Maret 2022 sangat dipengaruhi oleh perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia

    Ini membuatnya setidaknya 30 kali lebih mungkin terjadi gelombang panas yang melanda Siberia pada tahun 2020, dan 600 kali lebih tinggi akibat perubahan iklim dibandingkan yang terjadi secara alami.

    Baca: Perubahan iklim membuat gelombang panas semakin ekstrem

    Vikki Thompson, ilmuwan iklim di Cabot Institute, Universitas Bristol pernah menjelaskan, perubahan iklim membuat gelombang panas menjadi lebih panas dan bertahan lebih lama di seluruh dunia.

    ”Para ilmuwan telah menunjukkan bahwa banyak gelombang panas tertentu menjadi lebih intens karena sinyal perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia bahkan dapat dideteksi dalam jumlah kematian yang disebabkan oleh gelombang panas,” ujarnya.

    Penjelasan ini sejalan dengan Laporan Penilaian ke-6 dari Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), yang menyatakan bahwa perubahan iklim telah meningkatkan frekuensi dan intensitas gelombang panas sejak tahun 1950-an.

    Diperkirakan kondisi ini akan terus meningkat seiring dengan pemanasan global yang terus berlanjut dan tidak diimbangi dengan pengurangan emisi gas rumah kaca.

    Baca: Apakah gelombang panas di Eropa dipicu perubahan iklim?

    Penyebab gelombang panas
    Gelombang panas biasanya berasal dari adanya sistem udara bertekanan tinggi yang disebut juga antisiklon.

    Kondisi atmosfer ini menyebabkan udara di atas suatu wilayah menumpuk dan terkompresi, sehingga mengakibatkan peningkatan suhu dan penurunan kadar air, memerangkap panas yang diserap di dalam lanskap.

    Secara bersamaan, sistem bertekanan tinggi menggantikan udara yang lebih dingin dan menyebarkan awan, sehingga sinar matahari tidak terputus mencapai permukaan tanah.

    Akibatnya, udara di dekat permukaan tanah terus-menerus dipanaskan hingga melampaui suhu rata-rata.

    Baca: Gegara panas ekstrem setengah juta penduduk dunia meninggal per tahunnya

    Daerah gelombang panas sangat umum terjadi di daerah kering seperti gurun Barat Daya dan di dataran tinggi, di mana pembentukan sistem tekanan tinggi lebih rentan terjadi.

    Kelembapan di dalam tanah dapat mengurangi dampak panas akibat sinar matahari, seperti halnya keringat mendinginkan tubuh melalui penguapan.

    Namun, ketika tanah, saluran air, dan jumlah vegetasi atau tumbuh-tumbuhan penahan air semakin terbatas, kapasitasnya untuk menyerap panas akan berkurang secara signifikan.

    Kondisi ini akan meninggalkan udara sebagai media utama untuk retensi atau penahan panas sehingga suhu panas berlangsung lebih lama.

    Artikel ini diterjemahkan dari earth.org, penulis: Jolin Li, pelaporan tambahan: Martina Igini.

  • Organisasi Lingkungan Minta Pemerintah Hentikan Promosi dan Implementasi Carbon Capture Storage, Ini Alasannya

    Organisasi Lingkungan Minta Pemerintah Hentikan Promosi dan Implementasi Carbon Capture Storage, Ini Alasannya

    7cloud.asia – Melalui pelaksanaan The International and Indonesia CCS Forum 2024, Carbon Capture Storage tengah dipromosikan sebagai bagian dari upaya penurunan emisi gas rumah kaca.

    Carbon Capture Storage juga disebut sebagai bagian dari aksi iklim untuk mencegah krisis akibat pemanasan global dan perubahan iklim.

    Melalui teknologi Carbon Capture Storage ini karbon dioksida (CO₂) dari berbagai sumber industri (PLTU batubara, PLTG, industri baja, industri migas, dll) akan dipisahkan, diolah, dan disimpan ke dalam lokasi penyimpanan jangka panjang, biasanya ke dalam formasi geologi di bawah tanah.

    Para promotor teknologi ini menyebut bertujuan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan dengan demikian memitigasi perubahan iklim.

    Baca: Apa itu carbon capture storage

    Namun faktanya, teknologi Carbon Capture Storage ini adalah teknologi yang sepanjang sejarahnya gagal mencapai tujuannya, atau gagal memenuhi ekspektasi.

    Carbon Capture Storage juga memberi tambahan beban finansial dalam operasinya, serta berpotensi memberi dampak buruk terhadap lingkungan dan kesehatan komunitas.

    Permasalahan pertama yang sangat nampak adalah bahwa Carbon Capture Storage memiliki sejarah panjang tantangan teknis dan finansial yang signifikan.

    Dilansir di laman walhi.or.id, kondisi ini telah mengakibatkan proyek-proyek Carbon Capture Storage berakhir dengan kegagalan, memiliki kinerja buruk dan mengakibatkan pembengkakan biaya.

    Permasalahan kedua yang muncul dari operasi proyek Carbon Capture Storage/CCUS adalah dampak lingkungan dari peningkatan tekanan air, pengasaman laut.

    Baca: Tanggapan DPR soal carbon capture storage

    Juga ada kemungkinan proyek CCS memicu gempa bumi akibat penginjeksian CO₂ ke bawah tanah, serta risiko kesehatan akibat risiko kebocoran CO₂.

    Selain itu masih ada sederet potensi masalah lain yang dipicu proyek ini yang justru bisa berdampak negatif pada lingkungan.

    Oleh karena itu, 18 organisasi lingkungan menandatangani pernyataan bersama ini meminta Pemerintah Republik Indonesia untuk berhenti mempromosikan Carbon Capture Storage/CCUS sebagai bagian dari upaya penurunan emisi gas rumah kaca.

    Organisasi tersebut juga meminta pemerintah idak menerapkan Carbon Capture Storage/CCUS dalam kebijakan dan program transisi energi serta penanganan krisis iklim.

    “Carbon Capture Storage/CCUS tidak lebih adalah solusi palsu dari upaya mencegah pemanasan global dan krisis iklim, yang hanya dipakai dalih oleh para pemain kongsi dagang krisis untuk bisa memperpanjang penggunaan bahan bakar fosil, terus memenuhi atmosfer dengan emisi gas rumah kaca, dan memperburuk dampak pemanasan global dan krisis iklim.” demikian pernyataan yang diunggah di laman resmi Walhi Indonesia.

  • Studi: Kebijakan ‘Pencemar Harus Membayar’ Efektif Turunkan Emisi Gas Rumah Kaca

    Studi: Kebijakan ‘Pencemar Harus Membayar’ Efektif Turunkan Emisi Gas Rumah Kaca

    7cloud.asia – Untuk mengetahui apa yang benar-benar berhasil saat banyak negara mencoba melawan perubahan iklim, para peneliti mengamati 1.500 cara yang telah dicoba oleh negara-negara untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.

    Jawaban mereka: Tidak banyak yang berhasil. Dan keberhasilan sering kali berarti seseorang harus membayar harga emisi gas rumah kaca yang dihasilkannya, baik di SPBU maupun di tempat lain.

    Menurut sebuah studi yang dilansir jurnal Science edisi Kamis (22/8/2024), para peneliti menemukan, sejak 1998 hanya 63 kasus yang menunjukkan kebijakan yang menghasilkan pengurangan emisi gas rumah kaca secara signifikan,

    Upaya untuk menghentikan penggunaan bahan bakar fosil dan mesin-mesin berbahan bakar gas, misalnya, belum berhasil dengan sendirinya.

    Namun, akan lebih berhasil jika dikombinasikan dengan semacam pajak energi atau sistem biaya tambahan.

    Baca: Kisah sukses penerapan pajak karbon di India

    Demikian kesimpulan yang didapat penulis studi dalam analisis mendalam tentang emisi global, kebijakan iklim, dan hukum.

    “Kunci utama jika Anda ingin mengurangi emisi adalah Anda harus memiliki harga dalam pembuatan kebijakan.” kata salah satu penulis studi, Nicolas Koch, seorang ekonom iklim di Institut Penelitian Dampak Iklim Potsdam di Jerman.

    “Jika subsidi dan regulasi diterapkan sendiri-sendiri atau dipadukan, Anda tidak akan melihat pengurangan emisi yang signifikan. Namun, jika instrumen harga diterapkan seperti pajak energi karbon, maka pengurangan emisi yang substansial akan tercapai.”

    Studi itu juga menemukan bahwa apa yang berhasil di negara-negara maju tidak selalu berhasil jika diterapkan di negara-negara berkembang.

    Namun, hal itu menunjukkan kekuatan finansial dalam memerangi perubahan iklim, seperti yang selalu diperkirakan oleh para ekonom, kata beberapa pakar kebijakan luar, ilmuwan iklim, dan ekonom yang memuji studi tersebut.

    “Kita tidak akan memecahkan masalah iklim di negara-negara maju sampai pencemar membayar,” kata Rob Jackson, ilmuwan iklim Universitas Stanford dan penulis buku Clear Blue Sky. “Kebijakan lain membantu, tetapi hanya sedikit.”

    Baca: Kisah sukses China turunkan emisi gas rumah kaca

    “Penetapan harga karbon membebankan tanggung jawab pada pemilik dan produk yang menyebabkan krisis iklim,” kata Jackson melalui email.

    Koch mengatakan, contoh terbaik dari strategi yang berhasil adalah di sektor kelistrikan di Inggris.

    Negara itu menerapkan gabungan dari 11 kebijakan berbeda mulai 2012, termasuk penghentian penggunaan batu bara dan skema penetapan harga yang melibatkan perdagangan emisi.

    Menurut Koch, gabungan kebijakan itu berhasil mengurangi hampir separuh emisi gas rumah kaca di Inggris.

    “Dampak yang sangat besar,” katanya.

    Dari 63 kisah sukses penanganan iklim, pengurangan terbesar terlihat di sektor bangunan Afrika Selatan, di mana kombinasi regulasi, subsidi, dan pelabelan peralatan mengurangi emisi hampir 54 persen.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Studi: Dari 1.500 Cara yang Telah Dicoba Hanya 63 Kasus yang Efektif Turunkan Emisi Gas Rumah Kaca

    Studi: Dari 1.500 Cara yang Telah Dicoba Hanya 63 Kasus yang Efektif Turunkan Emisi Gas Rumah Kaca

    7cloud.asia – Menurut sebuah studi yang dilansir jurnal Science edisi Kamis (22/8/2024), dari 1.500 cara yang telah dicoba oleh negara-negara untuk kurangi emisi, hanya 63 kasus yang efektif menurunkan emisi gas rumah kaca secara signifikan,

    “Kunci utama jika Anda ingin mengurangi emisi (gas rumah kaca) adalah Anda harus memiliki harga dalam pembuatan kebijakan,” kata salah satu penulis studi, Nicolas Koch, seorang ekonom iklim di Institut Penelitian Dampak Iklim di Potsdam Jerman.

    Studi itu juga menemukan bahwa apa yang berhasil di negara-negara maju tidak selalu berhasil jika diterapkan di negara-negara berkembang.

    Namun, hal itu menunjukkan kekuatan finansial dalam memerangi perubahan iklim, seperti yang selalu diperkirakan oleh para ekonom.

    Koch mengatakan, contoh terbaik dari strategi yang berhasil adalah di sektor kelistrikan di Inggris.

    Negara itu menerapkan gabungan dari 11 kebijakan berbeda mulai 2012, termasuk penghentian penggunaan batu bara dan skema penetapan harga yang melibatkan perdagangan emisi.

    Menurut Koch, gabungan kebijakan itu berhasil mengurangi hampir separuh emisi di Inggris.

    “Dampak yang sangat besar,” katanya.

    Baca: Kebijakan pencemar harus mebayar terbukti efektif potong emisi

    Dari 63 kisah sukses penanganan iklim, pengurangan terbesar terlihat di sektor bangunan Afrika Selatan, di mana kombinasi regulasi, subsidi, dan pelabelan peralatan mengurangi emisi hampir 54 persen.

    Satu-satunya kisah sukses di Amerika Serikat adalah di bidang transportasi. Emisi turun 8 persen dari 2005 hingga 2011 berkat perpaduan standar bahan bakar — yang berarti regulasi — dan subsidi.

    Namun, bahkan perangkat kebijakan yang tampaknya berhasil masih belum mampu mengurangi emisi karbon dioksida yang terus meningkat.

    Secara keseluruhan, 63 contoh kebijakan iklim yang berhasil memangkas 600 juta hingga 1,8 miliar metrik ton gas yang memerangkap panas, demikian temuan studi tersebut.

    Tahun lalu, dunia mengeluarkan 36,8 miliar metrik ton karbon dioksida saat membakar bahan bakar fosil dan proses pembuatan semen.

    Jika setiap negara besar bisa mengambil pelajaran dari analisis itu dan menerapkan kebijakan yang paling berhasil, hal itu hanya akan mempersempit “kesenjangan emisi” sebesar 26 persen dari 23 miliar metrik ton “kesenjangan emisi” dari seluruh gas rumah kaca yang dikalkulasi oleh PBB.

    Kesenjangan tersebut adalah perbedaan antara seberapa banyak karbon yang akan dilepaskan ke atmosfer pada 2030 dan jumlah yang akan menjaga pemanasan pada atau di bawah tingkat yang disepakati secara internasional.

    “Hal ini pada dasarnya menunjukkan bahwa kita harus melakukan pekerjaan yang lebih baik,” kata Koch, yang juga kepala laboratorium evaluasi kebijakan di Mercator Research Institute di Berlin.

    Baca: Kisah sukses penerapan pajak karbon di India

    Niklas Hohne dari Institut Iklim Baru Jerman, yang tidak terlibat langsung dalam penelitian tersebut mengatakan: “Dunia benar-benar perlu melakukan perubahan besar, beralih ke mode darurat dan menjadikan hal yang tidak mungkin menjadi mungkin.”

    Koch dan timnya mengamati emisi dan upaya untuk menguranginya di 41 negara antara 1998 dan 2022, yang mencakup 1.500 tindakan kebijakan.

    Jadi, pengamatan Koch tidak termasuk paket belanja penanggulangan iklim senilai hampir 400 miliar dolar atau setara Rp6 kuadriliun yang disahkan dua tahun lalu sebagai landasan kebijakan lingkungan Presiden Joe Biden.

    Mereka mengelompokkan kebijakan dalam empat kategori besar, yaitu penetapan harga, regulasi, subsidi, dan informasi serta menganalisis empat sektor ekonomi yang berbeda: listrik, transportasi, bangunan, dan industri.

    Tim tersebut menciptakan pendekatan yang transparan secara statistik yang dapat digunakan orang lain untuk memperbarui atau mereproduksi pendekatan tersebut, termasuk situs web interaktif tempat pengguna dapat memilih negara dan sektor ekonomi untuk melihat apa yang berhasil.

    Dan pendekatan tersebut pada akhirnya dapat diterapkan pada paket iklim Biden 2022, katanya. Paket tersebut sangat bergantung pada subsidi.

    John Sterman, profesor manajemen di MIT Sloan Sustainability Institute yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, mengatakan langkah politisi yang meloloskan kebijakan subsidi dan mempromosikan teknologi rendah karbon saja tidak cukup untuk memotong emisi gas rumah kaca.

    “Penting juga untuk mencegah penggunaan bahan bakar fosil dengan menetapkan harga yang mendekati biaya penuhnya, termasuk biaya kerusakan iklim yang ditimbulkannya,” katanya.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Carbon Capture Storage: Upaya Turunkan Emisi Gas Rumah Kaca yang Justru Bisa Mengancam Lingkungan

    Carbon Capture Storage: Upaya Turunkan Emisi Gas Rumah Kaca yang Justru Bisa Mengancam Lingkungan

    7cloud.asia – Melalui pelaksanaan The International and Indonesia CCS Forum 2024, Carbon Capture Storage tengah dipromosikan sebagai bagian dari upaya menurunkan emisi gas rumah kaca.

    Melalui teknologi Carbon Capture Storage ini karbon dioksida (CO₂) dari berbagai sumber industri (PLTU batubara, PLTG, industri baja, industri migas, dll) akan dipisahkan, diolah, dan disimpan ke dalam lokasi penyimpanan jangka panjang, biasanya ke dalam formasi geologi di bawah tanah.

    Para promotor teknologi Carbon Capture Storage menyebut cara ini bertujuan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan dengan demikian memitigasi perubahan iklim.

    Namun sesungguhnya teknologi Carbon Capture Storage adalah teknologi yang sepanjang sejarahnya gagal mencapai tujuannya, atau gagal memenuhi ekspektasi.

    Selain itu masih ada sederet potensi masalah lain di balik teknologi Carbon Capture Storage yang justru bisa berdampak negatif pada lingkungan.

    Baca: Banyak proyek Carbon Capture Storage yang gagal

    Dilansir dari laman resmi Walhi.or.id, operasi proyek Carbon Capture Storage/CCUS bisa memicu dampak negatif pada lingkungan.

    Hal ini dari peningkatan tekanan air, pengasaman laut, dan kemungkinan proyek Carbon Capture Storage memicu gempa bumi akibat penginjeksian CO₂ ke bawah tanah, serta risiko kesehatan akibat risiko kebocoran CO₂.

    Meskipun dikatakan teknologi Carbon Capture Storage telah dikembangkan sejak tahun 1970-an, sebetulnya penggunaannya secara umum dipakai untuk meningkatkan perolehan minyak (enhanced oil recovery/EOR), yaitu proses di mana CO₂ yang ditangkap disuntikkan ke ladang minyak untuk meningkatkan jumlah minyak mentah yang diekstraksi.

    Sehingga alih-alih menurunkan emisi karbon, praktek ini sesungguhnya justru mendorong peningkatan produksi bahan bakar fosil, yang pada akhirnya menyebabkan emisi karbon tambahan.

    Hal ini karena lebih dari 80 persen proyek Carbon Capture Storage digunakan untuk EOR, atau untuk produksi minyak dan gas.

    Baca: 18 Organisasi lingkungan minta kampanye Carbon Capture Storage dihentikan

    CO₂ yang terkompresi juga sangat berbahaya jika bocor dan terlepas ke permukaan, karena dapat mengakibatkan sesak napas pada manusia dan hewan.

    Pada tahun 2020, misalnya, jaringan pipa transportasi CO₂ yang merupakan bagian dari proyek EOR di Mississippi, AS mengalami kerusakan, yang kemudian mengakibatkan lebih dari 200 orang harus dievakuasi, dan 45 orang harus menjalani rawat inap karena keracunan karbon dioksida.

    Karena itu, 18 organisasi lingkungan menandatangani pernyataan bersama yang meminta Pemerintah Republik Indonesia untuk berhenti mempromosikan Carbon Capture Storage/CCUS sebagai bagian dari upaya penurunan emisi gas rumah kaca.

    Mereka juga meminta pemerintah tidak menerapkan Carbon Capture Storage/CCUS dalam kebijakan dan program transisi energi serta penanganan krisis iklim.

    “Carbon Capture Storage/CCUS tidak lebih adalah solusi palsu dari upaya mencegah pemanasan global dan krisis iklim, yang hanya dipakai dalih oleh para pemain kongsi dagang krisis untuk bisa memperpanjang penggunaan bahan bakar fosil, terus memenuhi atmosfer dengan emisi gas rumah kaca, dan memperburuk dampak pemanasan global dan krisis iklim.” demikian pernyataan yang diunggah di laman resmi Walhi Indonesia.

  • Rata-rata Suhu Global 2024 Kembali Catat Rekor: Dunia Diminta Segera Pangkas Emisi Gas Rumah Kaca

    Rata-rata Suhu Global 2024 Kembali Catat Rekor: Dunia Diminta Segera Pangkas Emisi Gas Rumah Kaca

    7cloud.asia – Suhu global kembali mencatat rekor tertinggi pada tahun ini. Tahun 2024 hampir dapat dipastikan menjadi tahun terpanas sepanjang sejarah sejak pencatatan suhu global mulai dilakukan pada 1850-an.

    Berdasarkan analisis terbaru dari lembaga pemantau perubahan iklim bentukan Uni Eropa, Copernicus Climate Change Service (C3S), bulan Oktober 2024 menjadi Oktober paling panas kedua setelah Oktober 2023.

    Menurut pemantauan Copernicus Climate Change Service atau C3S, rata-rata suhu global selama Oktober 2024 adalah 15,25°C.

    Temperatur tersebut lebih tinggi 0,80°C dibandingkan suhu global rata-rata bulan Oktober pada periode 1991 sampai 2020. Suhu rata-rata Oktober 2024 bahkan lebih tinggi 1,65 °C dibandingkan era praindustri.

    Baca: Copernicus Climate Change Service sebut suhu global 2024 catat rekor terpanas

    Terus naiknya suhu global tak lepas dari emisi gas rumah kaca yang terus meningkat akibat penggunaan bahan bakar fosil.

    Pembakaran batu bara, gas alam, dan minyak untuk menghasilkan listrik dan pemanas merupakan sumber emisi gas rumah kaca global yang terbesar.

    Hal inilah yang merupakan penyebab utama pemanasan global karena memerangkap panas di atmosfer dan meningkatkan suhu permukaan bumi.

    Badan Energi Internasional (IEA) terus mendesak negara-negara di dunia untuk menghentikan proyek ladang gas dan minyak baru.

    Baca: Dampak kenaikan suhu global makin terasa nyata

    Pasalnya, dihentikannya penggunaan gas dan minyak adalah satu-satunya cara untuk menjaga skenario emisi net-zero yang kompatibel dengan batas kenaikan suh global sebesar 1,5°C.

    Konsumsi bahan bakar fosil global meningkat lebih dari dua kali lipat dalam 50 tahun terakhir, seiring dengan upaya negara-negara di seluruh dunia untuk meningkatkan standar hidup dan output ekonomi mereka.

    Pada tahun 2023, konsentrasi ketiga gas rumah kaca yang paling kuat di atmosfer – karbon dioksida, metana, dan dinitrogen oksida – mencapai rekor tertinggi.

    Karena daya tahannya yang sangat lama di atmosfer, dunia kini “berkomitmen terhadap peningkatan suhu selama bertahun-tahun yang akan datang,” kata Ko Barret, Wakil Sekretaris Jenderal Organisasi Meteorologi Dunia.

    Baca: Banjir besar di Eropa bukti kenaikan suhu global

    Meningkatnya suhu atmosfer dan lautan, diyakini berhubungan langsung dengan kejadian cuaca ekstrem yang lebih sering dan parah, termasuk angin topan, banjir, gelombang panas, dan kekeringan.

    Kenaikan permukaan laut dan erosi pantai akibat pemanasan lautan, pencairan gletser, dan hilangnya lapisan es juga menandai kenaikan suhu global ini.

    Beberapa peristiwa cuaca ekstrem terbaru yang disebabkan oleh perubahan iklim yang disebabkan oleh ulah manusia, mulai dari badai Helene dan Milton yang dahsyat di AS hingga banjir mematikan di Valencia, Spanyol.

    Fakta-fakta ini seharusnya membuat pemimpin negara-negara di dunia untuk segera mengambil langkah nyata untuk menurunkan emisi gas rumah kaca.

  • Upaya Negara Selatan-selatan Wujudkan Ekonomi Hijau: Penggunaan Semen Rendah Emisi hingga Olah Limbah Pisang

    Upaya Negara Selatan-selatan Wujudkan Ekonomi Hijau: Penggunaan Semen Rendah Emisi hingga Olah Limbah Pisang

    7cloud.asia – Pada 9 Desember 2024 lalu, Kamboja, Kostarika, Ekuador, India, Mongolia, Pakistan, Peru, serta Trinidad dan Tobago sepakat untuk bersama-sama mendorong transformasi dan menghilangkan dampak lingkungan dari industri fesyen dan konstruksi.

    Selama ini industri fesyen dan konstruksi merupakan salah satu dari tiga sektor terbesar yang berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan akibat polusi, emisi gas rumah kaca (GRK), degradasi lahan, polusi air, dan hilangnya keanekaragaman hayati.

    Inisiatif senilai total 340 juta dolar ini akan mengubah proses dan material yang membutuhkan banyak sumber daya dengan alternatif yang lebih berkelanjutan dan mendorong rantai nilai yang sirkular dan kolaboratif.

    Program ini juga akan memperkuat kerja sama Selatan-Selatan, kolaborasi regional dan mengurangi risiko pengalihan beban serta mengubah fesyen dan konstruksi dari sumber kerusakan lingkungan menjadi pendorong perubahan positif.

    Upaya-upaya ini bertujuan untuk mencegah pelepasan 6 juta ton emisi gas rumah kaca dan 18.750 ton bahan kimia berbahaya ke dalam ekosistem.

    Baca: Alternatif selain fast fashion yang tak ramah lingkungan

    Pelepasan polutan organik yang persisten ke udara akan diminimalkan, sehingga menjaga kualitas udara. Selain itu,  seluas 825.000 hektar lahan dan ekosistem akan dipulihkan, sehingga akan merevitalisasi habitat alami.

    Melansir dari unep.org, pada tahun 2031, upaya ini diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi lingkungan yang dampaknya dirasakan oleh 2 juta orang di seluruh dunia.

    Menteri Lingkungan Hidup Kamboja mengatakan, kepindahan Kamboja dari status LDC memberikan peluang untuk meningkatkan sektor industrinya dan memastikan masa depan ekonomi yang lebih berkelanjutan.

    ”Dengan berpartisipasi dalam program ini, Kamboja tidak hanya akan menjaga lingkungan dan kesehatan masyarakat tetapi juga memperkuat posisinya di pasar global, menarik investasi asing, dan menciptakan peluang ekonomi baru bagi warganya,” ujarnya.

    Wakil Menteri Energi Kostarika, Ronny Rodríguez Chaves mengatakan bahwa penggunaan semen rendah karbon dan bangunan dengan material inovatif dan berbasis bio seperti miselium dan kayu merupakan peluang yang siap untuk diadopsi secara luas, jika lingkungan yang mendukung tersedia.

     

    Baca: Mengenal semen Non OPC yang lebih ramah lingkungan

    Sebagai negara yang berkomitmen terhadap keberlanjutan, lanjut Chaves, kami bangga memimpin upaya transformasi sektor konstruksi.

    Dia menambahkan, ”Dengan berfokus pada akses terhadap pendanaan dan insentif, program ini akan membantu Kosta Rika menjadi pemimpin global dalam konstruksi berkelanjutan”.

    “Inisiatif yang mengubah keadaan ini menunjukkan kemampuan unik GEF dalam menyatukan negara-negara dan sektor-sektor untuk memetakan jalur yang lebih sehat, aman – dan tidak kalah menguntungkannya,” kata CEO dan Ketua GEF, Carlos Manuel Rodriguez.

    “Kami bangga mendukung kepemimpinan yang berani dalam industri fesyen dan konstruksi dalam mewujudkan rantai pasokan dengan lebih sedikit bahan kimia berbahaya dan jejak karbon yang lebih rendah.

    Kebutuhan di sini mencerminkan betapa terhubungnya tantangan lingkungan hidup di dunia, dan bagaimana pendekatan terpadu GEF dalam mengatasi polusi, perubahan iklim, dan hilangnya alam dapat bersifat transformatif – dengan hasil yang cepat dan nyata pada skala yang dibutuhkan.”

    Baca: Dampak fast fashion kepada lingkungan dan kehidupan sosial

    Program ini bertujuan untuk mengubah setiap tahap dari dua rantai pasokan di masing-masing negara.

    Sebut saja mendesain ulang busana karnaval di Trinidad dan Tobago, membangun tempat pembakaran batu bata artisanal di Ekuador, menguji coba sertifikasi bangunan ramah lingkungan dan skema pelabelan ramah lingkungan di Kamboja.

    Sementara di Pakistan, inisiatif ini diwujudkan dalam bentuk transformasi limbah batang pisang menjadi serat yang layak secara ekonomi dan bermanfaat secara sosial.

    Untuk memastikan keselarasan dengan inisiatif dan mitra yang ada, Kelompok Penasihat Program global akan dibentuk.

    Kelompok ini akan memberikan panduan strategis, dengan perwakilan senior dari pemerintah, industri, masyarakat sipil, dan para ahli yang memberikan saran dan berbagi pengetahuan untuk mempercepat transisi menuju rantai pasokan berkelanjutan.

     

  • Emisi Gas Rumah Kaca Terus Meningkat, Saatnya Kurangi Penggunaan Bahan Bakar Fosil

    Emisi Gas Rumah Kaca Terus Meningkat, Saatnya Kurangi Penggunaan Bahan Bakar Fosil

    7cloud.asia – Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh badan observasi bumi Uni Eropa, Copernicus menunjukkan bahwa tahun 2024 bakal menjadi tahun terpanas sepanjang pencatatan suhu Bumi.

    Suhu rata-rata Bumi pada tahun 2024 diperkirakan akan mencapai lebih dari 1,55°C di atas suhu pra-industri, melampaui batas kritis pemanasan global yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris, yakni 1,5°C.

    Kondisi ini tak lepas dari masih tingginya penggunaan bahan bakar fosil. Penggunaan bahan bakar fosil seperti batu bara, gas alam, dan minyak untuk menghasilkan listrik dan pemanas merupakan sumber utama emisi gas rumah kaca global.

    Artinya, pembakaran bahan bakar fosil merupakan penyebab utama pemanasan global karena memerangkap panas di atmosfer sehingga meningkatkan suhu permukaan bumi.

    Badan Energi Internasional (IEA) telah mendesak negara-negara untuk menghentikan proyek ladang gas dan minyak baru, dengan alasan bahwa ini adalah satu-satunya cara untuk menjaga skenario emisi net-zero yang kompatibel dengan 1,5°C tetap berjalan.

    Baca: Mitigasi dan adaptasi jika pemanasan global mencapai 2°C

    Konsumsi bahan bakar fosil global meningkat lebih dari dua kali lipat dalam 50 tahun terakhir, seiring dengan upaya negara-negara di seluruh dunia untuk meningkatkan standar hidup dan pertumbuhan ekonomi mereka.

    Hal ini mendorong konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer terus meningkat yang kemudian mendorong pemanasan global.

    Pada tahun 2023, konsentrasi ketiga gas rumah kaca yang paling kuat di atmosfer, yakni karbon dioksida, metana, dan dinitrogen oksida, mencapai rekor tertinggi.

    Karena daya tahannya yang sangat lama di atmosfer, dunia kini “menuju ke arah peningkatan suhu selama bertahun-tahun yang akan datang,” kata Ko Barret, Wakil Sekretaris Jenderal Organisasi Meteorologi Dunia.

    Meningkatnya suhu atmosfer atau yang umum dikenal dengan pemanasan global membuat bencana hidrometeorologi menjadi semakin sering terjadi dan intensitasnya semakin parah.

    Baca: Ini yang terjadi pada lingkungan jika pemanasan global mencapai 2°C

    Meningkatnya suhu atmosfer dan suhu lautan berhubungan langsung dengan kejadian cuaca ekstrem yang lebih sering dan semakin parah intensitasnya.

    Cuaca ekstrem ini termasuk angin topan, banjir, gelombang panas, dan kekeringan serta kenaikan permukaan laut dan erosi pantai akibat pemanasan lautan, pencairan gletser, dan hilangnya lapisan es.

    Beberapa peristiwa cuaca ekstrem terbaru yang tercatat di seluruh dunia disebabkan oleh perubahan iklim yang disebabkan oleh ulah manusia, antara lain adalah badai Helene dan Milton yang dahsyat di AS hingga banjir mematikan di wilayah Valencia, Spanyol.

    Di, Indonesia dampak cuaca ekstrem ini antara lain memicu bencana banjir bandang di Sukabumi dan sejumlah wilayah lainnya. Hal ini diperburuk dengan kondisi lingkungan yang rusak.