7cloud.asia – Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh badan observasi bumi Uni Eropa, Copernicus menunjukkan bahwa tahun 2024 bakal menjadi tahun terpanas sepanjang pencatatan suhu Bumi.
Suhu rata-rata Bumi pada tahun 2024 diperkirakan akan mencapai lebih dari 1,55°C di atas suhu pra-industri, melampaui batas kritis pemanasan global yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris, yakni 1,5°C.
Kondisi ini tak lepas dari masih tingginya penggunaan bahan bakar fosil. Penggunaan bahan bakar fosil seperti batu bara, gas alam, dan minyak untuk menghasilkan listrik dan pemanas merupakan sumber utama emisi gas rumah kaca global.
Artinya, pembakaran bahan bakar fosil merupakan penyebab utama pemanasan global karena memerangkap panas di atmosfer sehingga meningkatkan suhu permukaan bumi.
Badan Energi Internasional (IEA) telah mendesak negara-negara untuk menghentikan proyek ladang gas dan minyak baru, dengan alasan bahwa ini adalah satu-satunya cara untuk menjaga skenario emisi net-zero yang kompatibel dengan 1,5°C tetap berjalan.
Baca: Mitigasi dan adaptasi jika pemanasan global mencapai 2°C
Konsumsi bahan bakar fosil global meningkat lebih dari dua kali lipat dalam 50 tahun terakhir, seiring dengan upaya negara-negara di seluruh dunia untuk meningkatkan standar hidup dan pertumbuhan ekonomi mereka.
Hal ini mendorong konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer terus meningkat yang kemudian mendorong pemanasan global.
Pada tahun 2023, konsentrasi ketiga gas rumah kaca yang paling kuat di atmosfer, yakni karbon dioksida, metana, dan dinitrogen oksida, mencapai rekor tertinggi.
Karena daya tahannya yang sangat lama di atmosfer, dunia kini “menuju ke arah peningkatan suhu selama bertahun-tahun yang akan datang,” kata Ko Barret, Wakil Sekretaris Jenderal Organisasi Meteorologi Dunia.
Meningkatnya suhu atmosfer atau yang umum dikenal dengan pemanasan global membuat bencana hidrometeorologi menjadi semakin sering terjadi dan intensitasnya semakin parah.
Baca: Ini yang terjadi pada lingkungan jika pemanasan global mencapai 2°C
Meningkatnya suhu atmosfer dan suhu lautan berhubungan langsung dengan kejadian cuaca ekstrem yang lebih sering dan semakin parah intensitasnya.
Cuaca ekstrem ini termasuk angin topan, banjir, gelombang panas, dan kekeringan serta kenaikan permukaan laut dan erosi pantai akibat pemanasan lautan, pencairan gletser, dan hilangnya lapisan es.
Beberapa peristiwa cuaca ekstrem terbaru yang tercatat di seluruh dunia disebabkan oleh perubahan iklim yang disebabkan oleh ulah manusia, antara lain adalah badai Helene dan Milton yang dahsyat di AS hingga banjir mematikan di wilayah Valencia, Spanyol.
Di, Indonesia dampak cuaca ekstrem ini antara lain memicu bencana banjir bandang di Sukabumi dan sejumlah wilayah lainnya. Hal ini diperburuk dengan kondisi lingkungan yang rusak.

Leave a Reply