Tag: panas ekstrem

  • AC Dibutuhkan Saat Panas Ekstrem, Tapi Keberadaannya Perburuk Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Panas ekstrem adalah “bencana paling mematikan dari semua bencana terkait iklim.” Kabar buruknya, panas ekstrem akan semakin sering terjadi akibat perubahan iklim.

    Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan sekitar 489.000 kematian akibat panas terjadi secara global setiap tahun antara tahun 2000 dan 2019, dengan 45 persen di antaranya di Asia dan 36 persen di Eropa.

    Janet Doorduin, dalam tulisannya di Earth.org menyebut bahwa dengan semakin seringnya suhu panas ekstrem di seluruh dunia, solusi pendinginan menjadi penting untuk menjaga kesehatan dan produktivitas kerja masyarakat selama bulan-bulan musim panas tropis.

    Permintaan akan alat pendingin udara atau AC meningkat bahkan di tempat-tempat yang baru mengalami panas ekstrem, seperti Inggris.

    Saat ini, diperkirakan ada sekitar 2 miliar AC di seluruh dunia, dengan jumlah tersebut diperkirakan akan meningkat hampir tiga kali lipat menjadi 5,6 miliar pada tahun 2050.

    Menurut laporan Badan Energi Internasional (IEA) tahun 2018, pertumbuhan ini terutama didorong oleh negara-negara dengan iklim hangat seperti China dan India, di mana lebih banyak orang kini mampu membeli AC.

    Baca: Dunia Makin Serius Kurangi Emisi dari Sektor Pendinginan

    Namun, akses ke ruang dalam ruangan yang sejuk tetap menjadi kemewahan bagi masyarakat yang paling rentan terhadap panas ekstrem karena kepemilikan AC merupakan yang terendah di antara mereka.

    Menurut IEA, kurangnya pendinginan dalam ruangan yang efisien menempatkan sekitar 2-4 miliar orang pada risiko stres panas, terutama di belahan bumi selatan.

    Dampak Lingkungan
    Pada saat yang sama, AC semakin berkontribusi terhadap pemanasan global. Pada tahun 2050, pendinginan akan menyumbang 10 persen dari emisi gas rumah kaca global, menurut laporan PBB.

    Pemanasan yang dihasilkannya terutama terkait dengan penggunaan hidrofluorokarbon (HFC) pada AC yang ada. Emisi gas-gas sintaksis ini terutama terjadi ketika peralatan mengalami kebocoran, misalnya karena perawatan atau pembuangan yang tidak tepat.

    HFC adalah gas-gas sintaksis yang memiliki dampak yang jauh lebih besar terhadap pemanasan global daripada karbon dioksida.

    Lebih lanjut, suhu yang memecahkan rekor juga meningkatkan permintaan listrik karena unit pendingin menggunakan banyak energi. Secara global, permintaan diperkirakan akan meningkat hingga 40 persen pada tahun 2030, menurut IEA.

    Baca: Bumi makin panas, permintaan alat pendingin udara bakal melonjak

    Memenuhi permintaan sepenuhnya selama bulan-bulan musim panas yang terik dengan energi terbarukan masih menjadi tantangan, dengan bahan bakar fosil masih mengisi sebagian besar kesenjangan tersebut.

    Secara global, permintaan batu bara meningkat 1 persen pada tahun 2024, dengan gelombang panas yang intens di China dan India, yang mendorong peningkatan kebutuhan pendinginan – menyumbang lebih dari 90 persen dari total peningkatan tahunan.

    Meskipun efisiensi dan kinerja sistem pendingin meningkat, emisi karbon tidak langsung dari pendingin udara dan sistem pendingin lainnya meningkat pesat.

    Emisi ini hampir tiga kali lipat sejak tahun 1990, mencapai lebih dari 1 miliar ton CO2 pada tahun 2022, meningkat 2 persen dibanding tahun sebelumnya.

    Cara kita saat ini dalam mendinginkan lingkungan dalam ruangan menyebabkan suhu meningkat lebih jauh. Di perkotaan, efek ini bahkan lebih terasa.

    Kurangnya ruang terbuka hijau, kepadatan bangunan, dan banyaknya beton, dikombinasikan dengan limbah panas dari transportasi, proses industri, dan pendingin udara, menyebabkan kota-kota di seluruh dunia memanas dua kali lebih cepat dari laju rata-rata global.

    Fenomena ini dikenal sebagai efek pulau panas perkotaan.

    Baca: Kota-kota di dunia didorong perbanyak hutan kota untuk atasi pulau panas perkotaan

  • Panas Ekstrem Makin Intens: Adakah Alat Pendinginan yang Ramah Lingkungan?

    Panas Ekstrem Makin Intens: Adakah Alat Pendinginan yang Ramah Lingkungan?

    7cloud.asia – Permintaan alat pengkondisian atau pendinginan udara (AC) terus meningkat seiring dengan panas ekstrem yang semakin sering terjadi di banyak kota di dunia.

    Meski sangat membantu melindungi warga dari panas ekstrem, penggunaan AC secara masif akan memperburuk perubahan iklim karena emisi yang dikeluarkannya.

    Kabar baiknya, alternatif pendinginan yang lebih berkelanjutan sudah tersedia, tetapi untuk mengurangi kebutuhan akan pendingin udara, diperlukan pendekatan pendinginan yang lebih holistik.

    Di kota-kota beriklim hangat seperti Dubai (Uni Emirat Arab) pendinginan kawasan merupakan alternatif berkelanjutan yang terbukti efektif untuk menjaga suhu tetap rendah, hanya membutuhkan setengah energi dibandingkan dengan pendingin udara.

    Air dingin dialirkan melalui pipa-pipa berinsulasi dari instalasi pendingin pusat ke gedung-gedung. Air tersebut kemudian didistribusikan ke unit-unit penanganan udara, yang mendinginkan gedung.

    Baca: AC dibutuhkan saat panas ekstrem, tapi keberadaannya perburuk krisis iklim

    Setelah air menyerap panas, air tersebut mengalir kembali ke instalasi pendingin pusat untuk didinginkan dan digunakan kembali.

    Di Eropa, semakin banyak kota yang mempertimbangkan pendinginan kawasan untuk menjaga suhu tetap rendah sekaligus menjaga emisi tetap rendah. Paris memiliki salah satu sistem pendinginan distrik terbesar di Eropa.

    Lebih dari 800 lokasi di kota itu, termasuk Museum Louvre, tetap sejuk dengan air dingin dari Sungai Seine.

    Dilansir Earth.org, otoritas kota Paris berencana untuk memperluas sistem ini lebih lanjut, menghubungkan rumah sakit, panti jompo, dan tempat penitipan anak di seluruh kota.

    Kota Hijau sebagai solusi
    Solusi pendinginan berbasis alam seperti menciptakan ruang hijau seperti taman dan hutan kota, merestorasi lahan basah juga mulai dilakukan banyak kota.

    Baca: Bumi makin panas, kebutuhan alat pendingin udara melonjak

    Juga penerapan infrastruktur hijau seperti atap dan dinding hijau dapat membantu menurunkan suhu di area perkotaan yang terlalu panas, dan mengurangi kebutuhan pendinginan penghuninya secara keseluruhan.

    Namun, dengan penerapan teknik pendinginan pasif dan area perkotaan yang lebih hijau sekalipun, AC akan tetap menjadi solusi pendinginan yang penting di masa mendatang.

    Oleh karena itu, mengurangi jejak karbon dari peralatan pendinginan udara sangatlah penting.

    Refrigeran yang ramah lingkungan dan lebih hemat energi dapat menggantikan gas sintetis berbahaya, dan dengan berlakunya Amandemen Kigali pada tahun 2019, penggunaan HFC berbahaya dalam peralatan pendingin secara bertahap dihapuskan.

    Para penandatangan amandemen telah berkomitmen untuk mengurangi penggunaan HFC lebih dari 80 persen selama 30 tahun. Diperkirakan hal ini dapat mencegah peningkatan suhu global sebesar 0,5°C selama abad ini.

    Baca: Dunia makin serius kurangi emisi dari sektor pendinginan

    Apa yang dapat dilakukan konsumen?
    Kebiasaan konsumen yang sadar juga dapat membuat perbedaan dalam mengendalikan konsumsi energi saat suhu meningkat. Misalnya, menyetel AC ke 26°C, alih-alih 24°C, mengonsumsi energi sekitar 30 persen lebih sedikit.

    Termostat pintar juga dapat digunakan untuk menyesuaikan suhu secara otomatis saat Anda tidak di rumah, sehingga mencegah pemborosan pendinginan.
    Membersihkan atau mengganti filter udara secara teratur untuk memastikan unit beroperasi secara efisien dan tidak perlu bekerja lebih keras dari yang seharusnya.

    Selain itu konsumen dapat memilih model dengan peringkat Rasio Efisiensi Energi Musiman (SEER) yang tinggi – yang dirancang untuk menggunakan lebih sedikit energi – merupakan cara lain untuk mengurangi jejak karbon kita.

    Dalam hal ini, pemerintah harus berbuat lebih banyak untuk membantu konsumen membeli peralatan pendingin yang paling hemat energi.

    Menurut IEA, konsumen di seluruh dunia cenderung membeli AC dengan efisiensi hanya setengahnya dibandingkan dengan unit berkinerja terbaik yang tersedia di toko.

    Di Uni Eropa dan Amerika Serikat (AS), penerapan standar kinerja energi dan label efisiensi energi telah membantu mengurangi konsumsi energi AC hingga 50 persen.

    Artikel ini diterjemahkan dari Earth.org, baca artikel aslinya di sini

  • Kota Hijau Jadi Alternatif Atasi Suhu Panas Ekstrem

    Kota Hijau Jadi Alternatif Atasi Suhu Panas Ekstrem

    7cloud.asia – Permintaan alat pengkondisian atau pendinginan udara (AC) terus meningkat seiring dengan panas ekstrem yang semakin sering terjadi di banyak kota di dunia.

    Namun, konsumsi energi alat pendinginan ini sangat besar sehingga penggunaan AC secara masif akan mendongkrak emisi yang kemudian akan memperburuk krisis iklim.

    Untuk menurunkan emisi dari penggunaan alat pendinginan ini diperlukan pendekatan pendinginan yang lebih holistik dan mencakup skala luas.

    Di kota-kota beriklim hangat seperti Dubai (Uni Emirat Arab) pendinginan kawasan merupakan alternatif berkelanjutan yang terbukti efektif untuk menjaga suhu tetap rendah, hanya membutuhkan setengah energi dibandingkan dengan pendingin udara.

    Air dingin dialirkan melalui pipa-pipa berinsulasi dari instalasi pendingin pusat ke gedung-gedung. Air tersebut kemudian didistribusikan ke unit-unit penanganan udara, yang mendinginkan gedung.

    Setelah air menyerap panas, air tersebut mengalir kembali ke instalasi pendingin pusat untuk didinginkan dan digunakan kembali.

    Baca: Menanam pohon terbukti efektif menurunkan efek pulau panas perkotaan

    Di Eropa, semakin banyak kota yang mempertimbangkan pendinginan kawasan untuk menjaga suhu tetap rendah sekaligus menjaga emisi tetap rendah. Paris memiliki salah satu sistem pendinginan distrik terbesar di Eropa.

    Lebih dari 800 lokasi di kota itu, termasuk Museum Louvre, tetap sejuk dengan air dingin dari Sungai Seine.

    Dilansir Earth.org, otoritas kota Paris berencana untuk memperluas sistem ini lebih lanjut, menghubungkan rumah sakit, panti jompo, dan tempat penitipan anak di seluruh kota.

    Kota Hijau sebagai solusi
    Solusi pendinginan berbasis alam seperti menciptakan ruang hijau seperti taman dan hutan kota, merestorasi lahan basah juga mulai dilakukan banyak kota.

    Juga penerapan infrastruktur hijau seperti atap dan dinding hijau dapat membantu menurunkan suhu di area perkotaan yang terlalu panas, dan mengurangi kebutuhan pendinginan penghuninya secara keseluruhan.

    Solusi pendinginan pasif seperti naungan, insulasi, dan peningkatan ventilasi alami semuanya dapat membantu mengurangi suhu dalam ruangan tanpa AC.

    Baca: Menurunkan emisi gas rumah kaca dengan prinsip bangunan hijau

    Pendinginan pasif dapat membantu mengurangi emisi sebesar 1,3 miliar ton pada tahun 2050, menurut beberapa perkiraan.

    Atap dingin atau atap hijau adalah salah satu solusi pendinginan pasif yang paling sederhana dan paling hemat biaya.

    Inisiatif yang dipimpin masyarakat di empat kota di India menunjukkan bahwa, dibandingkan dengan atap tradisional, atap dingin menurunkan suhu dalam ruangan sebesar 2 hingga 5°C.

    Di ibu kota Korea Selatan, Seoul, banyak sungai yang mengalir melalui kota menawarkan tempat mencari udara sejuk selama musim panas.

    Contohnya adalah sungai Cheonggyecheon di kota tersebut, yang suhunya 3-6°C lebih dingin dibandingkan dengan jalan lain di area yang sama.

    Hal ini merupakan hasil dari peningkatan aliran air sungai, penambahan pepohonan dan tanaman, serta penghapusan jalan tol di dekatnya. Transformasi hijau sungai ini juga mendorong pertumbuhan bisnis dan pariwisata.

    Di Medellín, Kolombia, 30 koridor hijau menawarkan akses udara sejuk bagi jutaan orang setiap harinya.

    Program koridor hijau kota ini dimulai pada tahun 2016, dan mengurangi efek pulau perkotaan sebesar 2°C dalam waktu sekitar tiga tahun. Pada tahun 2044, kota ini memperkirakan penurunan sebesar 4-5°C.

    Baca: Alam menawarkan cara berkelanjutan untuk menurunkan panas perkotaan

  • Cuaca Panas Menyengat di Beberapa Kota, Mengapa?

    Cuaca Panas Menyengat di Beberapa Kota, Mengapa?

    7cloud.asia – Beberapa hari terakhir ini masyarakat di sejumlah wilayah Indonesia merasakan cuaca panas ekstrem. Bahkan suhu udara mencapai 36 derajat celsius. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan beberapa faktor penyebabnya.

    Dalam rilisnya, BMKG mengungkapkan cuaca panas ekstrem yang terjadi saat ini dipengaruhi oleh pergeseran semu matahari ke selatan Indonesia. Hal ini memicu peningkatan intensitas radiasi matahari di wilayah Indonesia bagian selatan.

    Deputi Bidang Meteorologi BMKG,  Guswanto menjelaskan faktor lainnya adalah minimnya tutupan awan yang membuat sinar matahari langsung menyentuh permukaan bumi tanpa banyak hambatan.

    Baca: Kota Hijau Jadi Alternatif Hadapi Cuaca Panas Ekstrem

    Kondisi cuaca di IIndonesia yang saat ini tengah berada pada musim pancaroba (peralihan musim kemarau ke musim hujan) juga menjadi faktor pemicu terjadinya cuaca panas ekstrem.  

    BMKG memprediksi cuaca panas ekstrem ini akan mulai mereda pada akhir Oktober hingga awal November 2025, seiring dengan meningkatnya tutupan awan dan datangnya musim hujan.

    Berdasarkan hasil pemantauan BMKG beberapa hari terakhir, wilayah DKI Jakarta suhu tertinggi mencapai 35 derajat celsius.  Demikian juga wilayah Bali dan Nusa Tenggara, suhu tertinggi sekitar 35 derajat celsius.

    Kemudian wilayah Semarang, Grobogan, dan Sragen (Jawa Tengah) suhu tertinggi antara 34-35 derajat celsius. Sedangkan wilayah Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur suhu tertinggi mencapai 36 derajat celsius.

    Baca: Kota Semakin Panas, Warga Miskin Semakin Menderita

    Dengan kondisi cuaca panas ekstrem seperti ini, BMKG mengimbau masyarakat untuk menghindari paparan langsung sinar matahari antara pukul 10.00 hingga 16.00 WIB dengan menggunakan pelindung diri seperti topi, payung, dan sunscreen.

    Masyarakat juga diimbau untuk memperbanyak konsumsi air putih agar terhindar dari dehidrasi.

    “Bagi masyarakat yang banyak beraktivitas di luar ruangan, sebaiknya mengurangi kegiatan fisik berat pada siang hari, terutama bagi anak-anak dan lansia,” imbau Guswanto.

     

  • BMKG: Suhu Udara Panas Menyengat Akan Berlangsung hingga November 2025

    BMKG: Suhu Udara Panas Menyengat Akan Berlangsung hingga November 2025

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan suhu udara yang panas di sejumlah wilayah di Indonesia saat ini akan berlangsung hingga akhir Oktober atau awal November 2025.

    Perkiraan ini seiring dengan dimulainya musim hujan yang berbeda di masing-masing daerah. Puncak musim hujan juga berbeda-beda setiap daerah.

    Di sebagian besar wilayah Sumatera dan Kalimantan puncak musim hujan terjadi pada bulan November hingga Desember 2025.

    Sedangkan wilayah Jawa, Bali, Sulawesi, Maluku dan Papua puncak musim hujan diprediksi terjadi pada bulan Januari dan Februari 2026.

    Baca: Penjelasan BMKG Tentang Musim Hujan 2025

    Dalam akun instagram resminya, BMKG membantah kondisi cuaca panas yang merupakan akibat Gelombang Panas (Heatwave) seperti yang terjadi di negara-negara subtropis.

    Suhu di Indonesia saat ini masih dalam batas wajar meski terasa sangat panas dan tidak nyaman. Kondisi cuaca seperti ini juga biasa terjadi saat musim peralihan dari musim kemarau ke musim hujan (pancaroba).

    BMKG menjelaskan saat ini, gerak semu matahari sudah berada sedikit di selatan ekuator. Akibatnya wilayah Indonesia bagian tengah dan selatan menerima penyinaran matahari yang sangat intens.

    Faktor lainnya adanya angin timuran yang bertiup dari Benua Australia membawa massa udara kering. Udara kering inilah yang membuat awan sulit terbentuk, sehingga panas matahari terasa lebih terik di permukaan.

    Baca: Udara Panas Menyengat di Beberapa Kota, Ini Penyebabnya

    Memang sebagian wilayah di Indonesia saat ini telah memasuki musim hujan. Namun pembentukan awan hujan di beberapa wilayah masih minim sehingga panas matahari langsung memancar ke permukaan bumi tanpa penghalang.

    Hal inilah yang membuat suhu udara terasa jauh lebih panas terutama saat siang hari.

    Karena itu BMKG mengimbau masyarakat agar menjaga kesehatan dan cukup minum air putih. Selain itu masyarakat juga sebaiknya menghindarai paparan langsung sinar matahari terlalu lama.

    Masyarakat juga harus mewaspadai potensi hujan disertai petir dan angin kencang yang kerap terjadi secara mendadak.

  • Cuaca Panas Ekstrem, BMKG Imbau Masyarakat untuk Tidak Keluar Pada Jam Tertentu

    Cuaca Panas Ekstrem, BMKG Imbau Masyarakat untuk Tidak Keluar Pada Jam Tertentu

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofiska (BMKG) mengimbau masyarakat untuk tidak beraktivitas di luar ruangan antara pukul 10 pagi hingga 16.00. Imbauan ini berlaku sampai akhir Oktober atau awal November2025.

    Pada waktu tersebut cuaca panas ekstrem masih melanda sebagian wilayah di Indonesia. Direktur Meteorologi Publik Andri Ramdani menjelaskan rentang waktu jam 10 pagi hingga 4 sore merupakan saat paling beresiko terkena paparan sinar matahari.

    Pada periode itu radiasi ultraviolet mencapai tingkat yang sangat tinggi dan dapat mengganggu kesehatan seperti heat stroke atau kelelahan akibat terpapar panas matahari terlalu lama.

    Baca: Cuaca Panas Ekstrem, Ini Penyebabnya

    Data BMKG menunjukkan cuaca panas ekstrem bahkan mencapai lebih dari 38 derajat celsius melanda mayoritas Pulau Jawa.

    Di Karanganyar, Jawa Tengah suhu udara rata-rata 38,2 derajat celsius, Majalengka, Jawa Barat suhu udara rata-rata 37,6 derajat celsius, Boven Digoel, Papua suhu udara rata-rata 37,3 derajat celsius, Surabaya, Jawa Timur suhu udara rata-rata 37 derajat celsius.

    Sementara suhu udara rata-rata di Banten 35, 2 derajat celsius, Kemayoran, Jakarta Pusat suhu rata-rata 34,2 derajat celsius, Halim, Jakarta Timur rata-rata suhu udara  34-34,9 derajat celsius.

    Baca: Suhu Udara Panas Menyengat, Sampai Kapan?

    Demikian juga di wilayah Curug, Jawa Barat suhu udara rata-rata 33,5-34,6 derajat celsius,Tanjung Priok suhu udara rata-rata 32,8-34,4 derajat celsius, wilayah Jawa Barat dan Jabodetabek suhu udara rata-rata antara 33,6-34 derajat celsius.

    Meski demikian menurut BMKG suhu di Indonesia saat ini masih dalam batas wajar meski terasa sangat panas dan tidak nyaman. Kondisi cuaca seperti ini juga biasa terjadi saat musim peralihan dari musim kemarau ke musim hujan (pancaroba).

    Saat ini, gerak semu matahari sudah berada sedikit di selatan ekuator. Akibatnya wilayah Indonesia bagian tengah dan selatan menerima penyinaran matahari yang sangat intens.

    Baca: BMKG Keluarkan Peringatan Dini untuk Sejumlah Wilayah

    Faktor lainnya adanya angin timuran yang bertiup dari Benua Australia membawa massa udara kering. Udara kering inilah yang membuat awan sulit terbentuk, sehingga panas matahari terasa lebih terik di permukaan.

    Memang beberapa wilayah di Indonesia saat ini telah memasuki musim hujan. Namun pembentukan awan hujan di beberapa wilayah masih minim.

    Hal ini mengakibatkan panas matahari langsung memancar ke permukaan bumi tanpa penghalang. Hal inilah yang membuat suhu udara terasa jauh lebih panas terutama saat siang hari.

  • Kematian Terkait Cuaca Panas Ekstrem di Negara Miskin 10 Kali Lipat Dibanding Negara Maju

    Kematian Terkait Cuaca Panas Ekstrem di Negara Miskin 10 Kali Lipat Dibanding Negara Maju

    7cloud.asia – Para peneliti dari Climate Impact Lab mengatakan, angka kematian terkait cuaca panas ekstrem di masa yang akan datang bergantung pada dampak langsung dari pemanasan iklim dan investasi dalam adaptasi iklim, termasuk pendingin ruangan dan pusat pendinginan.

    Studi Climate Impact Lab mengungkap, negara-negara miskin akan mengalami angka kematian yang jauh lebih tinggi akibat panas ekstrem dibandingkan negara-negara kaya.

    Dilansir earth.org, laporan itu menyebut, hal ini dikarenakan perubahan iklim yang disebabkan aktivitas manusia terus meningkatkan suhu secara global.

    Laporan itu menyebut, gelombang panas adalah jenis cuaca panas ekstrem yang paling mematikan. Antara tahun 2000-2019, sekitar 489.000 orang meninggal setiap tahunnya akibat panas ekstrem di seluruh dunia.

    Sebanyak 45 persen dari korban jiwa ini terjadi di Asia, wilayah yang paling sering dilanda bencana cuaca dan iklim di dunia; 36 persen terjadi di Eropa, benua yang paling cepat mengalami pemanasan di dunia.

    Di Eropa angka kematian terkait panas telah meningkat sekitar 30 persen dalam dua dekade terakhir. Namun, sebuah makalah baru yang diterbitkan pada Senin (23/3/2026) menemukan bahwa negara-negara berpenghasilan rendah akan paling menderita.

    Para peneliti di Climate Impact Lab memperkirakan bahwa diperkirakan 10 kali lebih banyak orang akan meninggal setiap tahun di negara-negara berpenghasilan rendah (sekitar 391.000 orang) dibandingkan di negara-negara berpenghasilan tinggi (sekitar 39.000 orang) akibat perubahan suhu.

    Hal ini karena negara-negara berpenghasilan rendah kurang siap untuk menghadapi ancaman yang semakin meningkat akibat perubahan iklim dibandingkan negara-negara maju.

    Pada pertengahan abad ini, kematian akibat panas ekstrem diperkirakan akan meningkat hingga 60 atau lebih kematian per tahun per 100.000 orang di negara-negara di wilayah Sahel Afrika seperti Niger dan Burkina Faso.

    Angka ini lebih tinggi daripada angka kematian akibat serangan malaria saat ini di benua tersebut.

    Bolivia bagian tenggara mungkin akan mengalami peningkatan kematian akibat panas hingga 30 orang per 100.000 – setara dengan angka kematian akibat diabetes.

    Dan di Pakistan, angka kematian diperkirakan akan meningkat hingga 51 kematian per 100.000 orang, sebanding dengan angka kematian akibat tuberkulosis dan stroke di negara tersebut saat ini.

    Menurut studi tersebut, wilayah yang lebih panas seperti Afrika Utara, Timur Tengah, dan Asia Barat Daya diproyeksikan akan mengalami lebih banyak kematian.

    Perbedaan juga akan sangat mencolok di negara-negara dengan iklim yang sangat beragam seperti AS dan Bolivia. Sementara itu, beberapa iklim dingin seperti Alaska, Kanada, dan Greenland akan mengalami penurunan kematian akibat panas.

    Temuan laporan yang belum ditinjau ini didasarkan pada proyeksi risiko kematian akibat peningkatan suhu di masa depan yang disebabkan oleh perubahan iklim yang telah ditinjau oleh tim lain di Climate Impact Lab.

    Perkiraan menunjukkan bahwa satu hari yang panas –ketika suhu rata-rata melebihi 35°C (95°F)– meningkatkan angka kematian sebanyak empat kematian per 1 juta orang.

    “Laporan ini mengungkap salah satu ironi paling kejam dari perubahan iklim—diproyeksikan akan membunuh jutaan orang di negara-negara yang umumnya paling sedikit berkontribusi terhadapnya,” kata Michael Greenstone, salah satu pendiri Climate Impact Lab dan Direktur Institut untuk Iklim dan Pertumbuhan Berkelanjutan serta Institut Kebijakan Energi di Universitas Chicago.

    Makalah ini muncul ketika PBB pekan inimenyatakan bahwa iklim Bumi lebih tidak seimbang daripada kapan pun dalam sejarah yang tercatat seiring dengan percepatan pemanasan global.

  • Cuaca Makin Terik? WMO Prediksi Dunia Memasuki Era Panas Ekstrem

    Cuaca Makin Terik? WMO Prediksi Dunia Memasuki Era Panas Ekstrem

    7cloud.asia – Cuaca terasa lebih panas akhir-akhir ini? Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memprediksi kondisi ini akan terus berlanjut dalam beberapa tahun ke depan.

    Dalam laporan Global Annual-to-Decadal Climate Update,  memprediksi suhu rata-rata global akan tetap berada pada atau mendekati level tertinggi yang pernah tercatat hingga 2030.

    WMO memperkirakan suhu rata-rata global pada periode 2026-2030 akan berada 1,3 hingga 1,9 derajat Celsius di atas rata-rata era pra-industri (1850-1900).

    Laporan tersebut menyebutkan terdapat peluang 86 persen bahwa salah satu tahun antara 2026 hingga 2030 akan melampaui rekor panas tahun 2024 (sebagai tahun terpanas yang pernah tercatat).

    Baca: Kematia Terkait Cuaca Panas Ekstrem di Negara Miskin Lebih Tinggi 10 Kali Lipat

    WMO juga memperkirakan peluang 91 persen suhu global akan melampaui ambang 1,5 derajat Celsius setidaknya dalam satu tahun selama periode tersebut.

    Bahkan, kemungkinan rata-rata suhu lima tahunan 2026-2030 melebihi 1,5 derajat Celsius mencapai 75 persen.

    Penulis utama laporan, Dr. Leon Hermanson, dalam rilis WMO mengatakan prediksi kemunculan fenomena El Niño pada akhir 2026 berpotensi mendorong 2027 menjadi tahun pemecahan rekor suhu global berikutnya.

    Baca: Skenario Terburuk El Nino 2026, Neraka Panas yang Mengancam

    “Ada prediksi El Niño pada akhir tahun 2026, yang meningkatkan peluang tahun berikutnya, 2027, menjadi tahun pemecahan rekor berikutnya,” kata Leon.

    Selain itu, kawasan Arktik diprediksi mengalami pemanasan jauh lebih cepat dibandingkan rata-rata global. Suhu musim dingin di wilayah tersebut diperkirakan mencapai 2,8 derajat Celsius di atas rata-rata periode 1991-2020, disertai penyusutan es laut di sejumlah wilayah utama.

    WMO menegaskan bahwa peningkatan suhu sementara di atas 1,5 derajat Celsius tidak otomatis berarti target jangka panjang dalam Perjanjian Paris gagal tercapai.

    Namun, frekuensi kejadian tersebut diperkirakan akan semakin sering seiring terus meningkatnya suhu bumi akibat perubahan iklim.

    Baca: Mengenal Lebih Jauh Godzilla El Nino

    Sementara di Indonesia, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau 2026 di Indonesia pada Agustus mendatang.

    Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani menerangkan pada musim kemarau kali ini, Indonesia akan memasuki fenomena El Niño dengan intensitas lemah hingga moderat pada Juli.

    Kondisi ini memperkuat terjadinya musim kemarau hingga mencapai puncaknya pada Agustus mendatang.  “Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus dan akan dirasakan di banyak daerah,” ungkap Faisal.

    Selanjutnya Faisal menjelaskan, sebenarnya musim kemarau telah dimulai pada April dan akan berlangsung lebih panjang dari tahun-tahun sebelumnya.

    “Musim kemarau mulai dari April, Mei hingga Juni, dan banyak wilayah masuk pada Mei,” katanya.

    Baca: BMKG Prediksi Puncak Musim Kemarau Agustus Mendatang

    Musim kemarau pada April akan lebih dahulu terjadi di wilayah timur Indonesia, seperti Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Bali.

    Bulan-bulan selanjutnya musim kemarau mulai meluas ke Pulau Jawa, terutama wilayah pesisir dan dataran tinggi, hingga ke Sumatera bagian selatan.

    BMKG menyebut ada enam provinsi yang diprediksi paling terdampak, yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.

     

     

  • Upaya Kota-kota di Dunia Mengatasi Panas Ekstrem yang Kian Menyengat

    Upaya Kota-kota di Dunia Mengatasi Panas Ekstrem yang Kian Menyengat

    7cloud.asia – Alam telah mengirim sinyal yang tak dapat diabaikan, bahwa panas ekstrem semakin sering terjadi dan semakin tinggi intensitasnya. Panas ekstrem akibat perubahan iklim bukan hanya isu iklim, tetapi juga tentang ketidakadilan.

    Dampak panas ekstrem tidak dirasakan sama oleh kelompok masyarakat. Kelompok lansia, anak-anak, masyarakat berpendapatan rendah dan pekerja lapangan merasakan dampak yang lebih besar.

    Data Program Lingkungan PBB (UNEP) menyebut, 2,4 miliar pekerja (lebih dari 70 persen angkatan kerja, harus berjibaku menghadapi panas ekstrem hampir sepanjang tahun.

    Sebaliknya, selapis tipis warga dunia yang memicu panas ekstrem ini justru lebih terlindungi karena uang dan previlege yang mereka miliki.

    Karena itu, mengatasi panas ekstrem ini dibutuhkan kebijakan yang berpihak. UNEP mengatasi panas ekstrem dengan mempromosikan solusi pendinginan berkelanjutan.

    UNEP memimpin upaya global seperti Cool Coalition dan Global Cooling Pledge, yang bertujuan untuk mengurangi emisi terkait pendinginan dan memperluas akses ke pendinginan yang berkelanjutan dan terjangkau.

    UNEP mendukung negara dan kota melalui inisiatif seperti “Beat the Heat”, membantu mereka menilai risiko panas, mengadopsi pendinginan pasif dan berbasis alam, dll.

    Kabar baiknya, sejumlah kota di dunia mulai menata diri dan merumuskan kebijakan untuk menahan laju pemanasan ini. Berikut upaya sejumlah kota dalam menangani panas ekstrem, seperti dilansir di laman resmi uneo.org:

    Baca: Kematian Terkait Cuaca Panas Ekstrem di Negara Miskin Jauh Lebih Tinggi

    Paris, Prancis: Mendesain Ulang Kota untuk Panas Ekstrem
    Paris menunjukkan bagaimana kota dapat mempersiapkan diri menghadapi panas ekstrem dengan menggabungkan kesiapan dan transformasi perkotaan jangka panjang.

    Melalui simulasi Paris pada 50°C, kota ini memobilisasi lembaga, mitra, dan penduduk untuk mensimulasikan skenario panas ekstrem, menguji sistem respons krisis, dan memperkuat kesiapan kolektif.

    Pada saat yang sama, Paris menyesuaikan lingkungan perkotaannya dengan masa depan yang lebih panas melalui berbagai langkah pendinginan: memperluas hutan kota dan jalan-jalan yang teduh, menghijaukan sekolah dan perumahan.

    Pemerintah Kota paris juga memperkenalkan fitur air, menggunakan bahan reflektif, meningkatkan aliran udara, dan memetakan lingkungan yang rentan untuk menargetkan intervensi.

    India: Kesiapan dan Perlindungan Publik
    Chennai dan kota-kota lain di seluruh India menerapkan Rencana Aksi Panas — strategi terkoordinasi untuk mempersiapkan dan menanggapi panas ekstrem.

    Hal ini mencakup peringatan dini, kampanye kesadaran publik, tempat perlindungan pendingin, akses air, dukungan darurat untuk kelompok rentan, dan koordinasi antara rumah sakit, sekolah, dan otoritas lokal.

    Chennai melangkah lebih jauh dari tindakan darurat dan mengarah pada tindakan jangka panjang terkait panas ekstrem

    Kota ini berupaya mengintegrasikan ketahanan terhadap panas ke dalam rencana induk barunya — termasuk peningkatan cakupan alam dan mendorong pendinginan pasif di bangunan baru.

    Baca: Kota Hijau Jadi Alternatif Atasi Suhu Panas Ekstrem

    Kota ini juga menangani proyek-proyek prioritas tinggi seperti perumahan terjangkau dan sekolah untuk direnovasi dengan langkah-langkah pendinginan pasif guna memberikan bantuan bagi populasi yang rentan.

    Pengalaman India juga menyoroti bahwa panas yang berbahaya bukan hanya tentang suhu puncak, tetapi juga tentang kelembapan, panas malam hari, kondisi perumahan, dan kemampuan tubuh untuk pulih.

    Brasil: Alam sebagai infrastruktur pendingin
    Kota-kota di Brasil seperti Teresina menggunakan hutan kota, taman, lahan basah, sungai, dan koridor hijau untuk mendinginkan lingkungan, mengurangi risiko banjir, meningkatkan kualitas udara, dan mendukung kesejahteraan.

    Kebun komunitas, ruang publik yang teduh, dan sistem pendinginan berbasis air juga merupakan bagian dari pendekatan ini.

    Brasil menyoroti bagaimana Solusi Berbasis Alam dapat menciptakan kota yang lebih sehat dan lebih layak huni.

    Yangzhou, China: Mengintegrasikan adaptasi panas dalam skala besar
    Yangzhou menanamkan adaptasi panas ke dalam perencanaan kota jangka panjang melalui restorasi ekologis, pengembangan kota spons, dan manajemen perkotaan yang tahan terhadap iklim.

    Bekas lokasi TPA diubah menjadi taman ekologi dengan vegetasi asli, sementara proyek restorasi lahan basah dan tepi sungai skala besar di sepanjang Sungai Yangtze dan Grand Canal memperkuat penyangga ekologi dan mengurangi efek pulau panas perkotaan.

    Baca: Menanam Pohon Terbukti Efektif Menurunkan Efek Pulau Panas Perkotaan

    Sebagai kota percontohan nasional untuk pembangunan perkotaan yang tahan iklim, Yangzhou beralih dari pengelolaan limbah suhu tinggi dan mengembangkan pengelolaan limbah rendah karbon yang terintegrasi.

    Kota ini juga memperluas langkah-langkah kota spons, termasuk taman hujan, permukaan permeabel, dan ruang publik hijau, untuk mengatasi panas ekstrem. Yangzhou menunjukkan bagaimana adaptasi dapat diintegrasikan di seluruh sistem perkotaan dalam skala besar.

    Nigeria: Mengatasi efek pulau panas perkotaan
    Di Nigeria, Lagos menjadi semakin panas karena suhu tinggi, kelembapan, dan pertumbuhan perkotaan yang pesat.

    Untuk menanggapi hal ini, Badan Taman dan Kebun Negara Bagian Lagos menanam lebih dari 6,2 juta pohon dan mendirikan 327 taman dan kebun sejak tahun 2008.

    Ini adalah program pohon perkotaan berkelanjutan terbesar yang dipimpin oleh pemerintah sub-nasional di benua ini. Program ini menciptakan sekitar 96.484 lapangan kerja.

    Di bawah Rencana Adaptasi dan Ketahanan Iklim Lagos, salah satu tujuan utama adalah menanam 50.000 pohon tahan iklim setiap tahun dan memulihkan 300 taman kota untuk mengurangi suhu di seluruh kota.

    Sistem peringatan dini juga akan dikembangkan untuk mempersiapkan warga dengan lebih baik menghadapi panas ekstrem

    Rencana ini bertujuan untuk mengumpulkan dana antara 700 juta dolar dan 1,3 miliar dolar setiap tahun, dengan total pembiayaan yang diharapkan sekitar 9–16 miliar dolar pada tahun 2035.

     

  • Berita Terpopuler Pekan Ini: Upaya Kota Atasi Panas Ekstrem hingga Penyakit Akibat Gaya Hidup

    Berita Terpopuler Pekan Ini: Upaya Kota Atasi Panas Ekstrem hingga Penyakit Akibat Gaya Hidup

    7cloud.asia – Artikel mengenai upaya kota-kota di dunia menghadapi panas menjadi berita yang paling banyak dibaca atau berita terpopuler pekan ini.

    Artikel ini menjadi berita terpopuler bersama sejumlah artikel terkait isu lingkungan lainnya seperti dampak panas ekstrem terhadap pengemudi ojek online serta inovasi mengolah puntung rokok menjadi barang berguna

    Artikel terkait isu kesehatan gusi dan penyakit yang diakibatkan gaya hidup juga masuk dalam daftar berita terpopuler pekan ini di 7cloud.asia

    Berikut lima berita terpopuler pekan ini di 7cloud.asia:

    1. Upaya kota-kota di dunia atasi panas ekstrem
    Alam telah mengirim sinyal yang tak dapat diabaikan, bahwa panas ekstrem semakin sering terjadi dan semakin tinggi intensitasnya. Panas ekstrem akibat perubahan iklim bukan hanya isu iklim, tetapi juga tentang ketidakadilan.

    Dampak panas ekstrem tidak dirasakan sama oleh kelompok masyarakat. Kelompok lansia, anak-anak, masyarakat berpendapatan rendah dan pekerja lapangan merasakan dampak yang lebih besar.

    Data Program Lingkungan PBB (UNEP) menyebut, 2,4 miliar pekerja (lebih dari 70 persen angkatan kerja, harus berjibaku menghadapi panas ekstrem hampir sepanjang tahun.

    Baca berita selengkapnya di sini

    2. Gusi berdarah bisa memicu penyakit serius
    Masalah gusi kerap dianggap gangguan ringan. Padahal, gusi yang tidak terawat dapat menjadi sumber peradangan kronis yang berisiko memengaruhi organ tubuh lainnya.

    Di sela-sela acara Pepsodent Gum Expert Lab di Jakarta beberapa waktu lalu, drg. Ines Augustina Sumbayak, menjelaskan, infeksi pada gusi yang dibiarkan terus menerus dapat memicu peningkatan sel inflamasi dalam tubuh.

    “Gusi yang tidak terawat secara terus menerus itu, bakteri dan produk-produk peradangan akan terus berada di dalam aliran darah. Dengan kondisi itu, inflamasi akan semakin tinggi dan bisa berdampak menjadi fokus infeksi,” jelas Ines.

    Baca berita selengkapnya di sini

    3. Dampak panas ekstrem pada pengemudi ojek online
    Perubahan iklim membuat anomali cuaca di berbagai kota besar, terutama di Jakarta, makin menjadi-jadi. Ketika panas tiba-tiba hujan, ketika hujan tiba-tiba panas. Semuanya tak menentu.

    Bagi para pekerja kantoran, kondisi ini masih bisa diacuhkan karena mereka bekerja di ruangan tertutup dan ber-AC. Namun, beda cerita bagi para pengemudi ojek online (ojol) atau pun kurir, mereka tidak bisa mengeluh terhadap panas terik maupun hujan.

    Dengan tempat berteduh yang sangat minim, bahkan tanpa risiko iklim sekalipun, para pengemudi ojol sudah mengalami kelelahan ekstrem.

    Baca berita selengkapnya di sini

    4. Penyakit akibat gaya hidup mengintai anak-anak
    Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A (K) menyebut perubahan pola hidup menjadi pemicu penyakit tersebut.

    Dia menjelaskan peningkatan kasus obesitas, hipertensi, hingga diabetes melitus tipe 2 pada anak menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian serius.

    “Penyakit akibat gaya hidup ini menjadi epidemi. Seharusnya penyakit tidak menular itu ya tidak menular, tetapi secara global terjadi tren peningkatan obesitas, peningkatan kasus anak dengan hipertensi, dan diabetes melitus tipe 2 yang muncul di usia semakin muda,” ujar Piprim.

    Baca berita selengkapnya di sini

    5. Parongpong RAW Lab sukses mengolah puntung rokok
    Parongpong RAW Lab yang dikenal sukses mengolah sampah menjadi beragam produk. Salah satunya, Parongpong RAW Lab sukses mendaur ulang sampah puntung rokok menjadi aneka perabot rumah tangga.

    Presiden Direktur Parongpong RAW Lab Rendy Aditya Wachid mengatakan, sampah puntung rokok digunakan sebagai salah satu bahan untuk pengganti serat fiber yang harganya cukup tinggi.

    “Dengan puntung rokok kami bisa membuat produk seperti tatakan, asbak, bahkan sampai kursi dan harganya pun cukup tinggi,” kata Rendy seperti dikutip Antaranews.com.

    Baca berita selengkapnya di sini