7cloud.asia – Para peneliti dari Climate Impact Lab mengatakan, angka kematian terkait cuaca panas ekstrem di masa yang akan datang bergantung pada dampak langsung dari pemanasan iklim dan investasi dalam adaptasi iklim, termasuk pendingin ruangan dan pusat pendinginan.
Studi Climate Impact Lab mengungkap, negara-negara miskin akan mengalami angka kematian yang jauh lebih tinggi akibat panas ekstrem dibandingkan negara-negara kaya.
Dilansir earth.org, laporan itu menyebut, hal ini dikarenakan perubahan iklim yang disebabkan aktivitas manusia terus meningkatkan suhu secara global.
Laporan itu menyebut, gelombang panas adalah jenis cuaca panas ekstrem yang paling mematikan. Antara tahun 2000-2019, sekitar 489.000 orang meninggal setiap tahunnya akibat panas ekstrem di seluruh dunia.
Sebanyak 45 persen dari korban jiwa ini terjadi di Asia, wilayah yang paling sering dilanda bencana cuaca dan iklim di dunia; 36 persen terjadi di Eropa, benua yang paling cepat mengalami pemanasan di dunia.
Di Eropa angka kematian terkait panas telah meningkat sekitar 30 persen dalam dua dekade terakhir. Namun, sebuah makalah baru yang diterbitkan pada Senin (23/3/2026) menemukan bahwa negara-negara berpenghasilan rendah akan paling menderita.
Para peneliti di Climate Impact Lab memperkirakan bahwa diperkirakan 10 kali lebih banyak orang akan meninggal setiap tahun di negara-negara berpenghasilan rendah (sekitar 391.000 orang) dibandingkan di negara-negara berpenghasilan tinggi (sekitar 39.000 orang) akibat perubahan suhu.
Hal ini karena negara-negara berpenghasilan rendah kurang siap untuk menghadapi ancaman yang semakin meningkat akibat perubahan iklim dibandingkan negara-negara maju.
Pada pertengahan abad ini, kematian akibat panas ekstrem diperkirakan akan meningkat hingga 60 atau lebih kematian per tahun per 100.000 orang di negara-negara di wilayah Sahel Afrika seperti Niger dan Burkina Faso.
Angka ini lebih tinggi daripada angka kematian akibat serangan malaria saat ini di benua tersebut.
Bolivia bagian tenggara mungkin akan mengalami peningkatan kematian akibat panas hingga 30 orang per 100.000 – setara dengan angka kematian akibat diabetes.
Dan di Pakistan, angka kematian diperkirakan akan meningkat hingga 51 kematian per 100.000 orang, sebanding dengan angka kematian akibat tuberkulosis dan stroke di negara tersebut saat ini.
Menurut studi tersebut, wilayah yang lebih panas seperti Afrika Utara, Timur Tengah, dan Asia Barat Daya diproyeksikan akan mengalami lebih banyak kematian.
Perbedaan juga akan sangat mencolok di negara-negara dengan iklim yang sangat beragam seperti AS dan Bolivia. Sementara itu, beberapa iklim dingin seperti Alaska, Kanada, dan Greenland akan mengalami penurunan kematian akibat panas.
Temuan laporan yang belum ditinjau ini didasarkan pada proyeksi risiko kematian akibat peningkatan suhu di masa depan yang disebabkan oleh perubahan iklim yang telah ditinjau oleh tim lain di Climate Impact Lab.
Perkiraan menunjukkan bahwa satu hari yang panas –ketika suhu rata-rata melebihi 35°C (95°F)– meningkatkan angka kematian sebanyak empat kematian per 1 juta orang.
“Laporan ini mengungkap salah satu ironi paling kejam dari perubahan iklim—diproyeksikan akan membunuh jutaan orang di negara-negara yang umumnya paling sedikit berkontribusi terhadapnya,” kata Michael Greenstone, salah satu pendiri Climate Impact Lab dan Direktur Institut untuk Iklim dan Pertumbuhan Berkelanjutan serta Institut Kebijakan Energi di Universitas Chicago.
Makalah ini muncul ketika PBB pekan inimenyatakan bahwa iklim Bumi lebih tidak seimbang daripada kapan pun dalam sejarah yang tercatat seiring dengan percepatan pemanasan global.

Leave a Reply