Upaya Kota-kota di Dunia Mengatasi Panas Ekstrem yang Kian Menyengat

Written by

in

7cloud.asia – Alam telah mengirim sinyal yang tak dapat diabaikan, bahwa panas ekstrem semakin sering terjadi dan semakin tinggi intensitasnya. Panas ekstrem akibat perubahan iklim bukan hanya isu iklim, tetapi juga tentang ketidakadilan.

Dampak panas ekstrem tidak dirasakan sama oleh kelompok masyarakat. Kelompok lansia, anak-anak, masyarakat berpendapatan rendah dan pekerja lapangan merasakan dampak yang lebih besar.

Data Program Lingkungan PBB (UNEP) menyebut, 2,4 miliar pekerja (lebih dari 70 persen angkatan kerja, harus berjibaku menghadapi panas ekstrem hampir sepanjang tahun.

Sebaliknya, selapis tipis warga dunia yang memicu panas ekstrem ini justru lebih terlindungi karena uang dan previlege yang mereka miliki.

Karena itu, mengatasi panas ekstrem ini dibutuhkan kebijakan yang berpihak. UNEP mengatasi panas ekstrem dengan mempromosikan solusi pendinginan berkelanjutan.

UNEP memimpin upaya global seperti Cool Coalition dan Global Cooling Pledge, yang bertujuan untuk mengurangi emisi terkait pendinginan dan memperluas akses ke pendinginan yang berkelanjutan dan terjangkau.

UNEP mendukung negara dan kota melalui inisiatif seperti “Beat the Heat”, membantu mereka menilai risiko panas, mengadopsi pendinginan pasif dan berbasis alam, dll.

Kabar baiknya, sejumlah kota di dunia mulai menata diri dan merumuskan kebijakan untuk menahan laju pemanasan ini. Berikut upaya sejumlah kota dalam menangani panas ekstrem, seperti dilansir di laman resmi uneo.org:

Baca: Kematian Terkait Cuaca Panas Ekstrem di Negara Miskin Jauh Lebih Tinggi

Paris, Prancis: Mendesain Ulang Kota untuk Panas Ekstrem
Paris menunjukkan bagaimana kota dapat mempersiapkan diri menghadapi panas ekstrem dengan menggabungkan kesiapan dan transformasi perkotaan jangka panjang.

Melalui simulasi Paris pada 50°C, kota ini memobilisasi lembaga, mitra, dan penduduk untuk mensimulasikan skenario panas ekstrem, menguji sistem respons krisis, dan memperkuat kesiapan kolektif.

Pada saat yang sama, Paris menyesuaikan lingkungan perkotaannya dengan masa depan yang lebih panas melalui berbagai langkah pendinginan: memperluas hutan kota dan jalan-jalan yang teduh, menghijaukan sekolah dan perumahan.

Pemerintah Kota paris juga memperkenalkan fitur air, menggunakan bahan reflektif, meningkatkan aliran udara, dan memetakan lingkungan yang rentan untuk menargetkan intervensi.

India: Kesiapan dan Perlindungan Publik
Chennai dan kota-kota lain di seluruh India menerapkan Rencana Aksi Panas — strategi terkoordinasi untuk mempersiapkan dan menanggapi panas ekstrem.

Hal ini mencakup peringatan dini, kampanye kesadaran publik, tempat perlindungan pendingin, akses air, dukungan darurat untuk kelompok rentan, dan koordinasi antara rumah sakit, sekolah, dan otoritas lokal.

Chennai melangkah lebih jauh dari tindakan darurat dan mengarah pada tindakan jangka panjang terkait panas ekstrem

Kota ini berupaya mengintegrasikan ketahanan terhadap panas ke dalam rencana induk barunya — termasuk peningkatan cakupan alam dan mendorong pendinginan pasif di bangunan baru.

Baca: Kota Hijau Jadi Alternatif Atasi Suhu Panas Ekstrem

Kota ini juga menangani proyek-proyek prioritas tinggi seperti perumahan terjangkau dan sekolah untuk direnovasi dengan langkah-langkah pendinginan pasif guna memberikan bantuan bagi populasi yang rentan.

Pengalaman India juga menyoroti bahwa panas yang berbahaya bukan hanya tentang suhu puncak, tetapi juga tentang kelembapan, panas malam hari, kondisi perumahan, dan kemampuan tubuh untuk pulih.

Brasil: Alam sebagai infrastruktur pendingin
Kota-kota di Brasil seperti Teresina menggunakan hutan kota, taman, lahan basah, sungai, dan koridor hijau untuk mendinginkan lingkungan, mengurangi risiko banjir, meningkatkan kualitas udara, dan mendukung kesejahteraan.

Kebun komunitas, ruang publik yang teduh, dan sistem pendinginan berbasis air juga merupakan bagian dari pendekatan ini.

Brasil menyoroti bagaimana Solusi Berbasis Alam dapat menciptakan kota yang lebih sehat dan lebih layak huni.

Yangzhou, China: Mengintegrasikan adaptasi panas dalam skala besar
Yangzhou menanamkan adaptasi panas ke dalam perencanaan kota jangka panjang melalui restorasi ekologis, pengembangan kota spons, dan manajemen perkotaan yang tahan terhadap iklim.

Bekas lokasi TPA diubah menjadi taman ekologi dengan vegetasi asli, sementara proyek restorasi lahan basah dan tepi sungai skala besar di sepanjang Sungai Yangtze dan Grand Canal memperkuat penyangga ekologi dan mengurangi efek pulau panas perkotaan.

Baca: Menanam Pohon Terbukti Efektif Menurunkan Efek Pulau Panas Perkotaan

Sebagai kota percontohan nasional untuk pembangunan perkotaan yang tahan iklim, Yangzhou beralih dari pengelolaan limbah suhu tinggi dan mengembangkan pengelolaan limbah rendah karbon yang terintegrasi.

Kota ini juga memperluas langkah-langkah kota spons, termasuk taman hujan, permukaan permeabel, dan ruang publik hijau, untuk mengatasi panas ekstrem. Yangzhou menunjukkan bagaimana adaptasi dapat diintegrasikan di seluruh sistem perkotaan dalam skala besar.

Nigeria: Mengatasi efek pulau panas perkotaan
Di Nigeria, Lagos menjadi semakin panas karena suhu tinggi, kelembapan, dan pertumbuhan perkotaan yang pesat.

Untuk menanggapi hal ini, Badan Taman dan Kebun Negara Bagian Lagos menanam lebih dari 6,2 juta pohon dan mendirikan 327 taman dan kebun sejak tahun 2008.

Ini adalah program pohon perkotaan berkelanjutan terbesar yang dipimpin oleh pemerintah sub-nasional di benua ini. Program ini menciptakan sekitar 96.484 lapangan kerja.

Di bawah Rencana Adaptasi dan Ketahanan Iklim Lagos, salah satu tujuan utama adalah menanam 50.000 pohon tahan iklim setiap tahun dan memulihkan 300 taman kota untuk mengurangi suhu di seluruh kota.

Sistem peringatan dini juga akan dikembangkan untuk mempersiapkan warga dengan lebih baik menghadapi panas ekstrem

Rencana ini bertujuan untuk mengumpulkan dana antara 700 juta dolar dan 1,3 miliar dolar setiap tahun, dengan total pembiayaan yang diharapkan sekitar 9–16 miliar dolar pada tahun 2035.

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *