Tag: perempuan

  • Memotret Aktivitas Perempuan Kader Bank Sampah Sekarwangi di Jalanan

    Memotret Aktivitas Perempuan Kader Bank Sampah Sekarwangi di Jalanan

    7cloud.asia – Para perempuan kader bank sampah Sekarwangi menjadikan Sekretariat Rt 16 RW 08 Jalan Bakti Pulo Gebang, Cakung Jakarta Timur sebagai pusat kegiatan merek ayang dilakukan setiap Hari Jumat. 

    Seperti apa kesibukan para perempuan kader bank sampah Sekarwangi, Pulo Gebang, Jakarta Timur ikuti foto-foto berikut ini.

    Para perempuan kader bank sampah Sekarwangi, Pulo Gebang Jakarta Timur menjemput sampah ke rumah penduduk dengan menggunakan sepeda motor.

    Para perempuan kader bank sampah Sekarwangi, Pulo Gebang Jakarta Timur sedang mengumpulkan sampah kertas/kardus setoran warga.  

     

    Para perempuan kader bank sampah Sekarwangi, Pulo Gebang Jakarta Timur sedang memilah sampah plastik yang disetor warga.

     

    Seperti inilah para perempuan kader bank sampah Sekarwangi, Pulo Gebang Jakarta Timur bekerja setiap minggunya.

    Meski menggunakan jalan dalam menjalankan operasinya, bank sampah Sekarwangi Pulo Gebang Jakarta Timur ini pernah menjadi juara bank sampah tingkat DKI Jakarta.

  • Trend Tidak Mencuci Pakaian: Perempuan Lebih Bisa Menerima Jika Alasannya Demi Lingkungan

    Trend Tidak Mencuci Pakaian: Perempuan Lebih Bisa Menerima Jika Alasannya Demi Lingkungan

    Ilustrasi mencuci pakaian Foto: samsung

    7cloud.asia – Trend tidak mencuci pakaian yang dikampanyekan Brian Szabo ternyata tak begitu saja diikuti oleh para perempuan. 

    Setidaknya fakta itu dituturkan oleh Mac Bishop, pendiri perusahaan pakaian Wool& Prince untuk mereka yang tidak suka mencuci pakaian.

    Dia menjelaskan, ketika mempromosikan merek perempuan Wool& dia mengubah fokusnya pada “kenyamanan dan kesederhanaan”, yang selaras dengan konsumen laki-laki, “terutama mereka yang sudah tidak suka mencuci pakaian”.

    Sebagai korban iklan pencucian seksis selama puluhan tahun, menurutnya perempuan lebih sulit diperkenalkan pada pikiran untuk tidak mencuci pakaian mereka. Riset mengatakan bahwa untuk perempuan, alasan lingkungan akan lebih mudah diterima.

    Baca: Brian Szabo kenalkan gaya tidak mencuci pakaian

    Setelah terpapar iklan binatu seksis selama berabad-abad, para perempuan menjadi kurang responsif terhadap gagasan tidak mencuci pakaian, menurut dia.

    Dan penelitian yang mendukungnya, menunjukkan bahwa untuk para perempuan, lingkungan hidup adalah alasan yang lebih efektif.

    Saat ini, merek Wool& menjual pakaian wol dari domba merino, dengan “menantang” pelanggan mengenakan pakaian yang sama setiap hari selama 100 hari.

    Pelajaran yang diambil adalah “berkurangnya jumlah cucian karena mengenakan merino setiap hari,” menurut Rebecca Eby dari Wool&.

    Baca: Slow fashion, gaya berpakaian yang lebih ramah lingkungan

    Salah satu pelanggan Wool& adalah Chelsea Harry dari Connecticut, Amerika Serikat. Kepada BBC Culture, ia mengaku dibesarkan di sebuah rumah tempat semuanya dicuci setelah digunakan.

    “Handuk dicuci setelah sekali pakai, piyama setelah sekali pakai.” katanya menjelaskan sikapnya soal tidak mencuci pakaian.

    Suatu musim panas, Harry tinggal bersama neneknya, yang mengajarinya untuk meletakkan piyamanya di bawah bantal di pagi hari dan memakainya lagi pada malam berikutnya.

    Belakangan, dia bertemu dengan suaminya, yang katanya, “hampir tidak pernah mencuci pakaian.”

    Baca: Dampak fast fashion pada lingkungan

    Kemudian, selama pandemi, Harry mulai mendaki. Inilah saat segalanya benar-benar berubah.

    “Jelas Anda tidak bisa mandi setelah berjalan sepanjang hari dan tidur di tempat tidur gantung atau tenda,” katanya.

    Orang lain di komunitas hiking merekomendasikan pakaian dalam ExOfficio, yang bisa dipakai keesokan harinya atau dicuci dan dikeringkan dengan cepat.

    Setelah menggunakan merek pakaian itu dan pakaian wol lainnya, Harry menemukan dia bisa mendaki dan melakukan perjalanan selama berhari-hari dan tetap merasa nyaman.

    “Kemudian,” katanya, “Saya mulai berpikir: Mengapa saya tidak melakukan ini dalam kehidupan sehari-hari?”

    Baca: Thrifting, beli pakaian bekas demi lingkungan

    Harry tidak khawatir dengan bau. “Saya mempercayai hidung saya,” katanya.

    Mengenakan pakaian baru dengan campuran wol yang berbeda, dia bisa mencium bau dirinya sendiri – sesuatu yang tidak pernah terjadi pada pakaiannya yang lain, katanya, bahkan saat dia bepergian ke daerah tropis seperti Timur Tengah di musim panas.

    Seperti Brian Szabo, dia menggunakan trik untuk tidak mencuci pakaian. Yakni dengan menganginkan pakaiannya semalaman, menyemprotkan cuka atau vodka ke ketiaknya.

    “Saya sangat suka, ketika di penghujung hari saya menggantung pakaian berbahan wol, legging wol, kaus kaki wol,” katanya. “Saya menggantungnya di jendela, kemudian mandi, memakai pakaian dalam ExOfficio, dan di pagi hari, saya memakai baju-baju itu lagi.”

    “Salah satu hal terburuk bagi daya tahan pakaian adalah pencucian,” demikian kata Mark Sumner, dosen mode berkelanjutan di University of Leeds.

    Saat dicuci, ia menambahkan, pakaian bisa robek, menyusut, dan kehilangan warna.

    Baca: Bahaya mikroplastik untuk kesehatan

    Bersama rekannya Mark Taylor, Sumner mempelajari bagaimana serat mikro dari cucian rumah tangga berakhir pada hewan laut.

    Dia memang mengatakan mengurangi frekuensi mencuci pakaian adalah pilihan yang tepat untuk lingkungan, tapi dia tidak mendukung gerakan tidak mencuci sama sekali.

    “Kami tidak ingin orang berpikir bahwa mereka tidak bisa mencuci karena pencucian menghancurkan planet ini,” kata Sumner kepada BBC Culture.

    “Ini soal mencoba mendapatkan keseimbangan dengan benar.”

    Mencuci pakaian penting untuk alasan medis dan kebersihan, katanya, misalnya untuk penderita eksim yang berusaha menghindari iritasi yang disebabkan oleh bakteri alami kulit yang berkembang biak di dalam pakaian kita.

    Baca: Tidur siang sejenak bagus untuk kesehatan otak

     

    Penting juga untuk harga diri orang agar “tidak merasa malu dengan pakaiannya karena kotor atau bau”.

    Jika Anda terpengaruh orang lain untuk menentukan seberapa sering Anda perlu mencuci pakaian, pikirkan lagi.

    Mengenai kebiasaan mencuci, kata Sumner dan Taylor, tidak ada rata-rata: Kita semua menggunakan suhu pencucian, siklus pencucian, dan kombinasi warna dan kain yang berbeda.

    Dan para ilmuwan sendiri menghadapi teka-teki yang sama seperti kita semua. “Saya sudah berkutat dalam industri tekstil kira-kira selama 30 tahun,” kata Sumner.

    “Dan saya tahu bahan katun perlu dipisahkan dari bahan sintetis, dan warna putih dipisahkan dari warna lain… Tapi terus terang, saya tidak punya waktu.”

    Baca: Ini yang terjadi jika kita tak cukup tidur

    Tampaknya, pendekatan terbaik adalah bersikap fleksibel. “Jika pakaian tidak berbau, jangan repot-repot [mencucinya],” kata Sumner.

    “Dan saat mencuci, lakukan apa yang diperlukan untuk membersihkan, tapi dengan cara yang paling efektif.”

    Ia menyarankan untuk mencuci pakaian pada suhu yang lebih rendah, atau mencuci pakaian sebentar tanpa deterjen.

    Selain itu – terlalu sering mencuci pakaian bisa menghabiskan waktu dalam hidup Anda. Siapa yang punya waktu?

    “Saya sangat tertarik dengan isu keberlanjutan, pengelolaan lingkungan dan sumber daya alam,” kata Harry. “Tapi saya juga peduli dengan waktu.”

    Brian Szabo juga peduli dengan keberlanjutan, tetapi juga memiliki alasan lain untuk tidak terlalu bersemangat mencuci pakaian.

    “Saya punya hal lain yang harus dilakukan,” katanya. “Saya punya anjing untuk diajak jalan-jalan.”

    Anda dapat membaca versi asli tulisan ini dengan judul The rise of the ‘no-wash’ movement di BBC Culture.

  • KCIF 2023 Menyoroti Nasionalisme yang Makin Meminggirkan Tubuh Perempuan

    KCIF 2023 Menyoroti Nasionalisme yang Makin Meminggirkan Tubuh Perempuan

    7cloud.asia – First Annual Kartini Conference on Indonesian Feminisms atau KCIF 2023 yang menyorot berbagai masalah perempuan resmi ditutup pada Minggu 23 Juli 2023.

    KCIF 2023 ini berlangsung selama 4 hari dengan menghadirkan pemikiran tentang perempuan, inklusivisme dan feminisme, mengangkat masalah bangsa.

    KCIF 2023 juga mempertemukan berbagai kelompok masyarakat dari akademisi, aktivis, peneliti, hingga kelas buruh untuk merumuskan persoalan-persoalan perempuan.

    Prof. Sylvia Tiwon, Ph.D. dari Department of South and Southeast Asian Studies, University of California Berkeley, Amerika Serikat berbicara dalam KCIF 2023 dengan topik “Dari Sejarah Perempuan dan Gender Nusantara ke Feminisme Indonesia yang Plural dan Inklusif”.

    Di pembukaan KCIF 2023 ia menyorot tentang pentingnya melihat kaitan feminisme dan nasionalisme dalam perjalanan sejarah Indonesia.

    Baca: Membaca pemikiran Kartini lewat surat-suratnya

    Sylvia Tiwon melihat bahwa perjuangan feminisme menjadi berat ketika feminisme dianggap sebagai ide yang berasal dari Barat, padahal di satu sisi Indonesia membuka penanaman modal dari asing.

    Diskursus tentang feminisme di Indonesia semakin lama justru semakin meminggirkan tubuh perempuan yang penting sekali untuk dibahas.

    Kondisi ini menyebabkan tubuh perempuan dianggap tidak penting, termasuk tubuh para korban.

    Sylvia melihat, sudah seharusnya kita membongkar sekat-sekat tubuh perempuan dengan tubuh yang lain, karena pengakuan atas tubuh perempuan ini sangat penting dalam sejarah di Indonesia.

    “Feminisme yang plural dan inklusif adalah feminisme yang mengangkat kembali tubuh-tubuh dan merangkul segala perbedaan, ini berarti dikembalikannya seksualitas ke dalam teori, praktik dan wacana,” ujarnya seperti dalam keterangan tertulis yang diterima Minggu (23/7/2023)

    Baca: Partai politik masih setengah hati penuhi kuota keterwakilan perempuan

    Ia menekankan pentingnya membuat networking, tidak hanya berkomunikasi dan membuat paguyuban saja, tetapi juga harus keluar dari safe space atau ruang aman gerakan itu sendiri.

    Problem lain yang terangkum dalam KCIF 2023 ini adalah Kartini yang sering dianggap tidak bisa mewakili Indonesia karena Kartini dianggap tidak mengenal nasionalisme, padahal

    Kartini di akhir abad 19 sudah mengatakan bahwa ia akan mati, tetapi semangatnya akan diselamatkan oleh zaman.

    Persoalan perempuan lain yang terangkum dalam konferensi ini antara lain soal krisis ekologi yang mengorbankan perempuan, kekerasan seksual dan kekerasan berbasis gender online, hak dan keadilan reproduksi, kekerasan dalam rumah tangga.

    Masalah perempuan yang disorot adalah keragaman gender dan seksual, pendidikan seks dan seksualitas, gerakan feminisme digital, childfree, gerakan perempuan adat, perempuan buruh, care work dan pekerja rumah tangga, anak yang menjadikan mereka menjadi korban.

    Baca: Peringati hari buruh, pekerja perempuan tolak no work no pay

    KCIF 2023 juga menyorot ekerasan yang dialami perempuan yang mengalami kehamilan yang disembunyikan padahal perempuan tersebut menjadi korban.

    Kekerasan itu seperti yang dialami buruh perempuan, para anak-anak perempuan dan perempuan di desa yang mengalami kehamilan tak diinginkan seperti menjadi korban kekerasan seksual

    Pemilu dan kondisi parlemen juga menjadi salah satu yang dibahas secara khusus dalam konferensi ini. Dalam diskusi terdapat data pemilih muda di Indonesia di Pemilu 2024 yang jumlahnya lebih dari 50%,

    “Ini artinya penting untuk memberikan pendidikan politik bagi anak muda karena anak muda bisa berpartisipasi dalam teknologi digital di Pemilu, dan ini pentingnya memperjuangkan feminisme digital sebagai bahan wacana bagi anak-anak muda,” kata Diah Irawaty.

    Dalam konferensi ini terdapat 118 judul paper dan 31 tema diskusi, baik dalam bentuk keynote speech, sesi panel, roundtable discussion, dan plenary session dalam KCIF 2023 yang membahas soal-soal ini.

    Baca: Perang gender di Korea, mengapa perempuan Korea enggan menikah

    KCIF 2023 juga diisi sesi tentang pentingnya kontekstualisasi Kartini dalam gerakan feminisme dengan narasumber feminis pegiat HAM dan keadilan sosial, Kamala Chandrakirana dan pendiri Yayasan Pulih dan Guru Besar Psikologi, Universitas Indonesia, E. Kristi Poerwandari.

    Kamala menggarisbawahi pentingnya Kartini sebagai praxis perlawanan politik gender dan menjadikannya inspirasi gerakan sosial terutama gerakan feminisme di dunia yang sedang banyak mengalami pancaroba.

    Kristi Poerwandari menggarisbawahi gerakan feminisme untuk memperhatikan berbagai persoalan yang muncul karena perkembangan internet, termasuk pada perilaku kekerasan digital yang marak terjadi.  

    Diah Irawaty, selanjutnya menyatakan bahwa konferensi selanjutnya akan dilakukan setahun sekali setiap tahunnya karena konferensi ini bisa menjadi ruang wacana dan pemetaan praktik yang sudah dilakukan para peneliti, akademisi, aktivis, dan praktisi.

    Hasil dari KCIF 2023 ini akan disosialisasikan sebagai bagian dari perjuangan dan sejarah perempuan yang bergerak.

    Baca: Aktivisme perempuan lokal untuk lingkungan global

     

     

     

     

     

  • Krisis Global Picu Resesi Seks, Banyak Perempuan Menunda Pernikahan

    Krisis Global Picu Resesi Seks, Banyak Perempuan Menunda Pernikahan

    7cloud.asia – Ketidakstabilan ekonomi global tidak hanya menciptakan ketakutan atas daya tahan negara dari krisis, tetapi juga berimplikasi pada mindset kolektif tentang seksualitas, makna pernikahan, dan memiliki keturunan. Termasuk resesi seks.

    Masalah bertumpuk-tumpuk terkait kesetaraan gender, ketimpangan ekonomi global dan pendidikan, dan masih kentalnya budaya patriarki telah menciptakan kekhawatiran bagi perempuan di banyak negara untuk membina rumah tangga dan memiliki anak. Kekhawatiran ini lalu mendorong makin meluasnya resesi seks.

    Resesi seks ini ditandai menurunnya aktivitas seks untuk tujuan reproduksi sebagai konsekuensi dari keputusan untuk tidak memiliki keturunan (childfree) dan menunda menikah (waithood).

    Gerakan waithood ini banyak dilakukan oleh generasi milenial, terutama kaum perempuan.

    Baca Juga: Dinilai Diskriminatif, Komnas Perempuan Desak MA Cabut SEMA tentang Perkawinan Beda Agama

    Di Indonesia, negara yang ditopang oleh kultur religius dan spirit kekeluargaan, tanda-tanda terjadinya fenomena reseksi seks mulai terlihat khususnya pada penurunan data pernikahan.

    Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), dalam 10 tahun terakhir, tren pernikahan di Indonesia terus menurun secara tajamAngka pernikahan nasional terendah tercatat pada 2022, yakni sebanyak 1,7 juta pernikahan, turun dari setahun sebelumnya yang 1,79 juta.

    Terakhir kali angka pernikahan ada di titik tertinggi adalah pada 2011, yaitu sebanyak 2,31 juta pernikahan.

    Data BPS juga menunjukkan bahwa persentase pemuda (baik laki-laki maupun perempuan) yang belum menikah di Indonesia, per 2022, mencapai 64,56% dari total 65,82 juta pemuda (atau 24% dari total populasi) secara nasional. Angka ini naik 3,47% dibandingkan setahun sebelumnya yang sebesar 61,09%.

    Baca Juga: Perang Gender: Mengapa Perempuan Korea Menolak Menikah?

    Hanya ada 34,33% pemuda yang sudah menikah di negeri ini pada 2022, menurun 3,36% dari tahun 2021 yang 37,69%. Mayoritas atau 76,68% pemuda yang belum menikah berasal dari Jakarta.

    Salah satu penyebab penurunan ini, menurut BPS, adalah adanya pergeseran persepsi para kaum muda tentang pernikahan dan korelasinya dengan kualitas hidup, terutama terkait pendidikan dan status ekonomi.

    Sementara itu, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengungkap bahwa usia perempuan menikah cenderung semakin delay alias mundur. Rata-rata usia perempuan menikah sekarang 22 tahun atau lebih.

    Padahal tahun-tahun sebelumnya, terutama sebelum tahun 2020, lebih banyak yang menikah sebelum usia 22 tahun.

    BKKBN juga mendata bahwa rata-rata perempuan hanya praktis melahirkan satu anak perempuan. Artinya, satu perempuan meninggal digantikan satu perempuan lahir. Ini nantinya membuat sustainability kualitas hidup akan lebih terjaga.

    Studi literatur saya menemukan bahwa perempuan Indonesia mulai menunda untuk menikah pada usia matang. Ini sebagian besar dapat dimaknai bahwa hasrat seks dan memproduksi keturunan dengan seorang laki-laki dalam rumah tangga bagi perempuan mulai bergeser.

    Baca Juga: Jumlah Penduduk Jepang Terus Turun dan Makin Tua, Peran Tenaga Kerja Asing Kian Penting

    Setidaknya ada empat alasan utama perempuan milenial memilih menunda menikah.

    1. Identitas digital masyarakat

    Pengaruh digitalisasi di Indonesia pada kehidupan masyarakat telah memberi ruang publik bagi perempuan untuk mengekspresikan diri.

    Wacana kebebasan perempuan untuk memilih antara peran domestik, kosmopolitan atau menjalani keduanya, sekaligus mendobrak stereotip perempuan yang kerap dicap ‘kaum terbungkam’.

    Pengetahuan yang dimiliki oleh perempuan membuat pola pikir mereka menjadi lebih luas dan terbuka dalam memaknai hidup dan membentuk ‘kuasa’ atas kontrol dirinya sendiri.

    Ini menjadikan mereka lebih mandiri dan terbuka berbagai dengan pilihan hidup, termasuk menunda menikah.

    Media digital juga berkontribusi memproduksi berbagai macam ideologi melalui gerakan aktivisme yang dapat memengaruhi cara pandang individu terhadap makna kebahagiaan, termasuk soal menikah.

    Di kanal-kanal media sosial, seperti Instagram misalnya, mudah ditemukan akun–akun aktivisme gerakan sosial yang lantang menyuarakan isu kesetaraan gender, seperti @indonesiafeminisme, @lawanpatriarki, dan @perempuanbergerak.

    Generasi digital ini sangat berkaitan erat dengan fenomena waithood. Mereka lebih lantang mengemukakan identitas diri, dianggap memiliki wawasan yang luas, menyukai kebebasan dan ingin memiliki kontrol atas dirinya.

    Baca Juga: Pemerintahan Taliban Tutup Ratusan Salon di Afghanistan

    2. Beban sebagai sandwich generation

    Suatu studi menyebutkan bahwa faktor ekonomi menjadi penyebab paling masuk akal berkembangnya fenomena waithood. Sebab, kondisi ekonomi global yang terus merosot telah memicu kekhawatiran terhadap kesenjangan kondisi keuangan seseorang ketika sudah menikah.

    Apalagi jika posisi perempuan dalam keluarga adalah sebagai tulang punggung finansial. Pada banyak kasus, perempuan memiliki beban tanggung jawab atas masa depan adik–adiknya, termasuk untuk membayar tagihan sekolah dan keperluan rumah tangga. Situasi ini disebut sandwich generation.

    Ini membuat tidak sedikit perempuan yang melupakan sejenak prioritas untuk menikah. Selain keinginan untuk membahagiakan keluarga dulu, status sebagai generasi sandwich membuat mereka khawatir akan kehidupan finansial mereka jika menikah.

    Hasil kajian demografis tentang generasi sandwich di Indonesia menemukan bahwa 6,42% dari 7.009 rumah tangga yang diteliti termasuk ke dalam generasi sandwich, sekitar 10,9-11,3% merupakan perempuan bekerja. 

    Beberapa studi mengungkapkan bahwa status sebagai generasi sandwich, terutama bagi perempuan, memberikan dampak negatif terhadap kondisi pernikahan.

    Baca Juga: Penurunan Kemiskinan Ekstrem Jadi Poin Evaluasi Kepala Daerah, Seperti Ini Hasilnya

    3. Berpendidikan dan bekerja: bentuk kontrol diri perempuan

    Indonesia dapat dikatakan berhasil dalam mencapai kesetaraan gender selama satu dekade terakhir meskipun tidak sepenuhnya membebaskan perempuan pada belenggu patriarki.

    Ini terlihat dari meningkatnya literasi, angka partisipasi sekolah, dan keterlibatan perempuan di dunia kerja.

    Bahkan dari bidang pendidikan, perempuan Indonesia telah mampu menyaingi laki–laki. Laporan BPS tahun 2021 menunjukkan persentase data pendidikan yang signifikan antara perempuan dan laki–laki: perempuan berusia 15 tahun ke atas yang memiliki ijazah perguruan tinggi lebih banyak ketimbang laki–laki.

    Ada sekitar 10,06% perempuan yang menamatkan perguruan tinggi, menyalip jumlah laki-laki yang sebanyak 9,28%.

    Terbukanya akses pendidikan bagi perempuan membuat mereka bisa meraih status sosial dan ekonomi yang mampu memberikan kuasa atas hidupnya.

    Orientasi perempuan pada pendidikan tak jarang membuat mereka menganggap pernikahan bukan prioritas hidup, sehingga mereka berani memutuskan untuk menunda atau tidak nikah.

    Studi menunjukkan bahwa melanjutkan karier merupakan salah satu alasan perempuan untuk menunda menikah. Ini karena perempuan merasa lebih leluasa dalam mengejar karier tanpa ada beban dan tanggung jawab dalam ikatan pernikahan.

    Selain itu, menunda menikah dan lebih memilih meniti karier bisa termasuk dalam upaya perempuan dalam menyiapkan kesiapan sosial ekonomi mereka sebelum memasuki pernikahan nantinya.

    Dunia pekerjaan dan pendidikan telah mendorong perempuan untuk menemukan identitas dirinya dan mengaktualisasi serta mengekspresikan diri mereka. Perempuan yang berpendidikan tinggi dan mapan secara ekonomi membuat mereka lebih mampu memutuskan pilihan hidupnya.

    Baca Juga: Mengenal Kota Salatiga, Salah Satu Kota Terindah dan Tertua di Indonesia

    4. Trauma masa lalu, KDRT dan perceraian

    Studi menunjukkan bahwa kekecewaan terhadap suatu hubungan pernikahan juga bisa menjadi alasan perempuan dewasa menunda menikah. Misalnya, mereka lahir dan besar dari keluarga yang tidak harmonis atau lingkungan sosial yang hanya memperlihatkan sisi buruk pernikahan.

    Situasi tersebut juga berkaitan erat dengan kekerasan berbasis gender, yang termasuk kekerasan verbal dan fisik, yang kerap terjadi dalam keluarga.

    Menurut teori feminisme, lembaga pernikahan seringkali menjadi tempat bersarangnya kasus–kasus kekerasan pada perempuan.

    Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan mencatat bahwa selama 2021, ada sebanyak 459.094 kasus kekerasan terhadap perempuan dan 73% (335.399 kasus) di antaranya adalah kekerasan ranah personal. Mayoritas kasus masuk kategori kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

    Selain KDRT, kasus perceraian juga mendorong kekhawatiran perempuan untuk menikah. BPS mencatat pada 2022 terjadi lonjakan angka perceraian, yakni mencapai 516.334 kasus. Ini merupakan angka tertinggi dalam lima tahun terakhir. Pada 2017, jumlah perceraian masih di angka 374.516.

    Waithood oleh kaum perempuan dapat dikatakan sebagai imbas dari banyaknya kasus KDRT dan perceraian tersebut. Posisi perempuan lebih rentan menjadi korban kekerasan dibandingkan laki-laki menambah sisi gelap dari sebuah pernikahan.

    Perempuan yang memilih menunda, bahkan tidak mau sama sekali menikah, biasanya memiliki krisis kepercayaan terhadap lembaga pernikahan.

    Banyak pakar feminisme yang memandang bahwa lembaga pernikahan cenderung melanggengkan budaya patriarki. Ini karena perempuan selalu disudutkan perihal standar usia ideal menikah dan kesehatan reproduksinya (terkait kemampuannya melahirkan keturunan).

    Semakin banyak juga perempuan yang menganggap bahwa menikah adalah menerjunkan diri ke dalam masalah karena mereka harus menyerahkan diri pada laki-laki. Hal itu akan menghambat mereka dalam mengembangkan diri.

    Baca Juga: Teknologi Pengelolaan Sampah Masaro, Mengubah 1 Kilogram Sampah Jadi Senilai 1 Gram Emas

    Pada akhirnya, maraknya fenomena waithood oleh perempuan saat ini tak hanya didorong dari tuntutan perempuan untuk mendapatkan hak yang setara dengan laki–laki.

    Ada juga dorongan sosial dan praktik–praktik budaya maskulin yang selalu menjadikan perempuan sebagai “korban”.

    Fenomena waithood tidak hanya menunjukkan terjadinya transformasi sosial yang kian berkembang pada masyarakat, tetapi juga sebagai bentuk perjuangan perempuan melawan kuatnya budaya patriarki.

    Dengan memilih untuk menunda menikah, banyak perempuan yang merasa dapat lebih mengembangkan kualitas dirinya dan menyiapkan kemandirian diri secara emosional dan finansial.

    Kesiapan emosional dan finansial perempuan akan dapat membantu mereka lebih mudah untuk melawan kekerasan berbasis gender di dalam lembaga pernikahan dan masyarakat.

    Artikel ini sudah tayang di The Conversation, Penulis: , Dosen Sosiologi Islam, Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon

  • 39 Tahun Ratifikasi CEDAW: Perempuan dan PRT Masih Belum Terlindungi

    39 Tahun Ratifikasi CEDAW: Perempuan dan PRT Masih Belum Terlindungi

    7cloud.asia – Berdekatan dengan 39 tahun ratifikasi konvensi CEDAW atau Convention on Elimination of All Forms of Discrimation Againts Women, ada kejadian yang menyesakkan yang dialami perempuan pekerja rumah tangga (PRT) bernama SK.

    Di tengah persiapan peringatan 39 tahun ratifikasi CEDAW, para aktivis perempuan pada Senin (24/7/2023) mendapat info bahwa Majelis hakim PN Jakarta Selatan menjatuhkan vonis maksimal 4 tahun pada para pelaku kekerasan terhadap PRT SK.

    Dari sekian penderitaan yang telah dialami oleh  PRT SK dan dampaknya jangka panjang ke depan, Putusan tersebut sama sekali tidak mencerminkan rasa keadilan yang diamanatkan CEDAW.

    Perempuan PRT SK mengalami penganiayaan, penyiksaan, eksploitasi, dan kekerasan seksual dan oleh majelis hakim diputuskan mendapat total restitusi sebesar Rp 275,042 juta.

    Putusan tersebut menunjukkan perspektif dan sikap aparat penegak hukum yang masih belum tuntas memperhatikan pengalaman, diskriminasi dan ketimpangan relasi sosial yang dialami oleh perempuan yang telah dimandatkan PERMA No. 3 tahun 2017 tentang Penanganan Perkara Perempuan berhadapan dengan Hukum.

    Baca Juga: Dinilai Diskriminatif, Komnas Perempuan Desak MA Cabut SEMA tentang Perkawinan Beda Agama

    Termasuk dalam kasus ini adalah perempuan PRT SK yang menghadapi relasi kuasa timpang sehingga pemberi kerja bersikap sewenang-wenang serta tidak menghormati harkat dan martabat pekerja rumah tangga.

    Perspektif dan sikap aparat penegak hukum ini menunjukkan bahwa setelah 39 tahun CEDAW diratifikasi melalui Undang-undang No. 7 tahun 1984, masih terdapat berbagai diskriminasi terhadap perempuan yang belum dihapuskan, dalam hal ini adalah diskriminasi dalam proses peradilan.

    Pasal 2 CEDAW secara jelas memandatkan bahwa negara harus melakukan upaya penghapusan diskriminasi terhadap perempuan dalam segala bentuknya, diantaranya untuk menegakkan perlindungan hukum terhadap hak-hak perempuan atas dasar yang sama dengan kaum laki-laki dan untuk menjamin melalui pengadilan nasional yang kompeten dan badan-badan pemerintah lainnya.

    Negara juga wajib memberikan perlindungan kaum perempuan yang efektif terhadap setiap tindakan diskriminasi, Negara juga tidak boleh melakukan suatu tindakan atau praktik diskriminasi terhadap perempuan, dan untuk menjamin bahwa pejabat-pejabat pemerintah dan lembaga-lembaga negara akan bertindak sesuai dengan kewajiban tersebut.

    Dalam kasus SK dan juga yang dialami PRT lainnya, aparat penegak hukum juga belum memperhatikan mandat CEDAW Pasal 14, yaitu negara wajib memperhatikan masalah-masalah khusus yang dihadapi oleh perempuan di daerah pedesaan dan peranan yang dimainkan perempuan pedesaan demi kelangsungan hidup keluarga mereka di bidang ekonomi.

    Baca Juga: Kembali dari Sidang PBB, Komnas Perempuan Tekankan Pentingnya UU Masyarakat Adat

    Ini termasuk pekerjaan mereka pada sektor ekonomi bukan penghasil uang, dan wajib membuat peraturan-peraturan yang tepat untuk menjamin penerapan ketentuan-ketentuan.

    Para PRT mayoritas perempuan yang berasal dari pedesaan atau kelompok miskin kota telah mengalami diskriminasi ganda sepanjang hidupnya, tidak hanya pada aspek akses sumberdaya ekonomi yang timpang namun juga diskriminasi gender.

    Berbagai kasus lain yang kami cermati menunjukkan bahwa masih banyak perspektif dan sikap aparat penegak hukum yang belum mencerminkan dilaksanakannya mandat CEDAW untuk menjadikan pengalaman ketidakadilan struktural baik berbasis gender maupun berbagai bentuk relasi sosial lainnya yang dialami oleh perempuan berhadapan dengan hukum yang berpengaruh pada situasi dan posisinya dalam suatu perkara.

    Dalam kasus anak AG, misalnya, hakim masih mengabaikan posisi AG sebagai perempuan anak dalam mempertimbangkan Putusan sehingga menempatkannya pada Lapas anak sehingga sama sekali tidak mencerminkan pemahaman terhadap kepentingan terbaik bagi anak juga tidak memperhatikan situasi perempuan anak yang rentan mengalami kekerasan dalam Lapas anak.

    Begitu pula mengabaikan kekerasan seksual yang dialami AG dari aspek adanya faktor relasi kuasa antara orang dewasa dengan perempuan anak yang jelas-jelas sesuai dengan hukum di Indonesia merupakan tindak pidana kekerasan seksual dan melanggar Undang-undang Perlindungan Anak,

    Baca Juga: KCIF 2023 Menyoroti Nasionalisme yang Makin Meminggirkan Tubuh Perempuan

    Harusnya diperhatikan adanya kerentanan anak menjadi korban eksploitasi orang dewasa sehingga tindakan hubungan seksual orang dewasa terhadap anak adalah pidana yang tidak perlu dibuktikan adanya persetujuan atau tidak (statutory rape).

    Kasus-kasus di atas adalah kasus yang telah menjadi perhatian publik, dan ini belum termasuk berbagai kasus yang tidak terpublikasi di media massa, yang tidak dikawal oleh masyarakat atau minim dukungan untuk memperoleh proses hukum yang adil. 

    Bahwa jaminan kesetaraan sebagai warga negara, termasuk di muka hukum, bebas dari kekerasan dan ketidakadilan, telah dijamin dalam UUD 1945 serta berbagai peraturan perundang-undangan lain setelah ratifikasi CEDAW antara lain UU No. 39 tahun 1999 tentang HAM, UU No. 12 tahun 2005 tentang ratifikasi hak sipil dan politik.

    Berbagai peraturan perundang-undangan yang dapat memperkuat akses keadilan bagi perempuan berhadapan dengan hukum memang telah diterbitkan yang tak lepas dari dorongan masyarakat sipil baik dalam bentuk Undang-undang seperti UU PKDRT, UU TPPO, UU Perlindungan Anak, UU Penyandang Disabilitas, dan terakhir UU TPKS,

    selain itu peraturan perundangan diantaranya Perkapolri No. 10 tahun 2007 mengenai Unit PPA dan PERMA No. 3 tahun 2017 mengenai penanganan perkara perempuan berhadapan dengan hukum.

    Baca Juga: Aktivisme Lokal Perempuan untuk Lingkungan Global

    Meski begitu, masih terdapat peraturan perundang-undangan yang kontraproduktif, seolah netral, namun melemahkan bahkan dapat digunakan untuk mengkriminalkan perempuan korban kekerasan yang sedang memperjuangkan keadilan,

    diantaranya Pasal 27 ayat (1) dan ayat (3) mengenai transmisi elektronik bermuatan kesusilaan dan mengenai pencemaran nama baik, Pasal 2 KUHP mengenai hukum yang hidup,

    Pasal 411 KUHP baru pada unsur perluasan perzinaan, juga perspektif diskriminatif yang seringkali timbul dari dampak pembakuan peran gender dalam Pasal 34 UU Perkawinan.

    Dari kajian dari berbagai kasus dan juga pengalaman para pendamping perempuan berhadapan dengan hukum yang telah kami cermati, proses penegakan hukum masih seringkali mengabaikan pengalaman ketidakadilan gender perempuan beserta aspek interseksionalitasnya, sehingga masih perlu upaya lebih massif oleh negara untuk melakukan penguatan sebagai wujud dimandatkan oleh CEDAW.

    Baca Juga: Parpol Masih Setengah Hati Penuhi Keterwakilan Perempuan di Panggung Politik

    Oleh karena itu, kami organisasi masyarakat yang tergabung dalam Koalisi Sipil untuk UU PPRT, Asosiasi LBH APIK Indonesia, CEDAW Working Group Indonesia,  LBH Masyarakat serta berbagai organisasi yang tergabung dalam penyataan ini, menyampaikan tuntutan sebagai berikut :

    1. Mendesak DPR segera membahas  dan mengesahkan RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (UU PPRT) sebagai bagian dari komitmen menghapus diskriminasi terhadap posisi pekerja rumah tangga dan jaminan kesetaraan di muka hukum.
    2. Pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh mengenai pelaksanaan CEDAW dalam bidang penegakan hukum serta menyusun peraturan dan strategi percepatan implementasi CEDAW dengan melibatkan unsur masyarakat sipil, terutama pendamping perempuan berhadapan dengan hukum, dalam rangka memastikan pengalaman ketidakadilan gender yang dialami perempuan dengan berbagai ragam identitasnya diakomodasi;
    3. Pemerintah melakukan upaya revisi dan atau penghapusan terhadap peraturan perundang-undangan yang berpotensi melemahkan perempuan korban, diantaranya Pasal 27 ayat (1) dan (3) UU ITE, termasuk potensi dari dampak peraturan perundang-undangan yang diskriminatif, atau seolah netral namun berdampak dan atau berpotensi diskriminatif baik nasional maupun daerah, seperti Pasal 2 dan 411 KUHP

    Penulis: Koalisi Sipil untuk UU PPRT

  • Ini Alasan Mengapa Perempuan dan Kelompok Rentan Harus Dilibatkan dalam Mitigasi Bencana

    Ini Alasan Mengapa Perempuan dan Kelompok Rentan Harus Dilibatkan dalam Mitigasi Bencana

     

    7cloud.asia – Satu sore di bulan Desember 2022 lalu, hujan deras yang mengguyur Samigaluh, Kulonprogo mengakibatkan bencana tanah longsor.

    Sebuah rumah yang ditinggali 4 orang, 3 orang perempuan yang salah satu di antaranya telah berusia 70 tahun tertimbun tanah longsor tersebut.

    Saat berusaha menyelamatkan diri dan keluarganya dari bencana tanah longsor itu, Ning yang menjadi kepala keluarga di rumah itu sempat terjepit di antara reruntuhan. 

    Ning dan keluarganya selamat, tapi akibat kejadian tanah longsor itu mereka kehilangan tempat tinggal.

    Oleh warga dan aparat desa setempat, keluarga ini kemudian dibuatkan tenda seadanya sebagai tempat tinggal sementara. Namun, hingga Februari 2023 keluarga ini masih tinggal di tenda sementara itu. 

    Baca: Dampak El Nio mulai dirasakan di sejumlah daerah

    Lain lagi yang dialami Rahmia, dari Desa Ahu Majene, Sulawesi Barat. Saat terjadi bencana longsor, para perempuan harus tinggal di tenda terbuka yang bercampur antara laki-laki dan perempuan. 

    “Sehingga ketika harus ganti baju kami agak sungkan,” ujarnya.

    Saat bantuan diterima, lagi-lagi muncul masalah. Ketiadaan data terpilah membuat anak-anak dan kelompok rentan seperti lansia, anak-anak dan disabilitas tidak mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan.

    Kisah Ning dan Rahmia ini terungkap dalam diskusi bertajuk “Kondisi dan Pemenuhan Hak Perempuan Dalam Situasi Bencana di Indonesia, Kamis (3/8/2023) yang diikuti secara daring.

    Baca: Bencana kekeringan di Papua sering terjadi, perlu solusi jangka panjang

    Seperti itulah kondisi perempuan dan kelompok rentan di Indonesia saat terjadi bencana alam.

    Kasus Ning dan Rahmia ini adalah sedikit contoh dari ribuan kasus di Indonesia yang memang rawan bencana.  

    Indonesia rawan bencana, baik tanah longsor, banjir, angin kencang, cuaca ekstrim, kekeringan, gempa bumi, gunung meletus, tsunami dan sebagainya. Ada banyak program dan upaya untuk penanggulangan bencana.

    “Tetapi catatan kritisnya adalah bagaimana perempuan dilibatkan dalam kelompok-kelompok tersebut, ” ujar Joko Sulistyo, staf Kalyanamitra yang mendampingi warga desa rawan bencana di Kulonprogo. 

    Baca: Kelompok rentan justru ditinggalkan dalam penanganan perubahan iklim

    Joko menyebutkan, dalam rencana penanggulangan bencana di desa, perempuan disebutkan telah dilibatkan tetapi sering sekadar menjalankan perintah dari koordinator daerah setempat. 

    Bukan menjalankan apa yang seharusnya dibutuhkan perempuan saat bencana. Perempuan lebih sering ditempatkan di sektor domestik.

    Joko menegaskan, seharusnya saat terjadi bencana perempuan dan kelompok rentan seperti anak, lansia dan kelompok disabilitas harus dilihat secara interseksionalitas.

    Hal ini karena dampak bencana yang dirasakan perempuan dan kelompok rentan ini lebih besar dibanding para pengambil keputusan.

    Baca: Pentingnya pelibatan kelompok rentan dalam mitigasi perubahan iklim

    “Ada pengalaman perempuan yang tidak akan pernah dirasakan laki-laki. Dan bagaimana pengalaman itu disuarakan dan dipenuhi itu penting,” tegas Joko.

    Jika perempuan dan kelompok rentan tidak diberi kesempatan dan dilibatkan sejak awal, ujarnya, maka bagaimana kebutuhan mereka bisa dipenuhi. 

    Joko mencontohkan, pelatihan penyelamatan dan mitigasi bencana sering tidak melibatkan perempuan.

    Padahal sering perempuan menjadi yang terdepan saat terjadi bencana. Mereka akan berusaha menyelamatkan anaknya ketimbang dirinya sendiri.

    Sehingga dalam kesempatan itu, Joko menegaskan pentingnya pelibatan yang partisipatoris dalam upaya mitigasi dan penanggulangan bencana, sehingga jika terjadi bencana semua kebutuhan kelompok rentan bisa dipenuhi.

    Baca: Kelompok disabilitas paling rentan merasakan dampak perubahan iklim

     

     

  • Hari Masyarakat Adat Sedunia: Masih Ada Pengabaian Identitas dan Budaya Masyarakat Adat

    Hari Masyarakat Adat Sedunia: Masih Ada Pengabaian Identitas dan Budaya Masyarakat Adat

    Foto: Aliansi Masyarakat Adat Nusantara

    7cloud.asia – Memperingati Hari Masyarakat Adat Sedunia, Komnas Perempuan menyampaikan sejumlah catatan.

    Komnas Perempuan menyerukan agar Hari Masyarakat Adat yang jatuh setiap 9 Agustus, dijadikan momentum untuk terus menguatkan upaya-upaya pengakuan dan perlindungan terhadap masyarakat adat khususnya perempuan adat.

    Keteguhan perempuan masyarakat adat, dan peran penting perempuan masyarakat adat sebagai penjaga garda depan dalam merawat bumi hingga kini masih diabaikan.

    Pun demikian dengan peran perempuan masyarakat adat dalam menjaga keseimbangan kehidupan manusia dan alam semesta di tengah perubahan iklim.

    Baca: Peran pemuda adat dalam menjaga budaya 

    Komnas Perempuan juga mengakui perempuan masyarakat adatmemiliki peran vital merawat nilai-nilai luhur tradisi yang melekat kuat.

    Namun di sisi lain, masyarakat adat khususnya perempuan rentan mengalami berbagai diskriminasi dan kekerasan yang berdampak pada situasi rentan dan kemiskinan.

    “Sebab hingga saat ini masih terjadi pengabaian terhadap pengakuan identitas, kebudayaan dan keyakinan masyarakat adat,” ujar komisioner Komnas Perempuan Dewi Kanti dalam keterangan tertulis yang diterima Kamis (10/8/2023).

    Dari berbagai konsultasi yang dilakukan oleh Komnas Perempuan, perempuan masyarakat adat menghadapi lapisan persoalan serius.

    Baca: Sambut Hari Masyarakat Adat KLHK akui 15 hutan adat di Gunung Mas Kalimantan

    Beberapa masalah yang dihadapi perempuan masyarakat adat antara lain belum adanya payung hukum untuk pengakuan dan perlindungan masyarakat adat, termasuk pada pemenuhan dan pengakuan hak identitas.

    Di tingkat nasional, tumpang tindihnya UU di berbagai sektor merentankan dan menggerus kehidupan perempuan masyarakat adat dan potensi pemidanaan pada perempuan masyarakat adat.

    “UU Pertambangan Minerba, UU Cipta Kerja, UU Agraria, UU perkebunan, UU Kehutanan, dan lainnya adalah beberapa contoh kebijakan yang merentankan masyarakat adat khususnya perempuan adat,” imbuh Dewi Kanti.

    Komnas Perempuan juga mencatat bahwa suara dan pengalaman perempuan masyarakat adat masih belum menjadi pijakan dalam tata kelola kebangsaan, dan pembangunan berkelanjutan.

    Baca: Dampak pembangunan IKN terhadap masyakarat adat setempat

    Akibatnya berbagai situasi konflik yang dihadapi perempuan masyarakat adat terkait dengan sumber daya alam, tata ruang wilayah membawa situasi kerentanan berlapis yang dapat membawa perempuan masyarakat adat menghadapi krisis ekstrim.

    Veryanto Sitohang Komisioner Komnas Perempuan menjelaskan bahwa Catatan Tahunan 2023 Komnas Perempuan mencatat perempuan masyarakat adat menjadi salah satu kelompok yang sangat rentan mengalami dampak lanjutan atas berbagai kebijakan yang dilahirkan dengan mengabaikan pengakuan dan perlindungan serta pengalaman perempuan masyarakat adat.

    Komnas Perempuan juga mencatat, pembangunan dan politik infrastruktur yang ekspansif dan massif yang tidak diiringi dengan ketidakpatuhan dalam memenuhi due dilligence tanggung jawab negara pada pemenuhan hak asasi manusia.

    “Termasuk adanya impunitas dan supremasi korporasi memberikan kontribusi besar melahirkan bentuk-bentuk kekerasan dan diskriminasi yang dialami perempuan masyarakat adat,” ujar Veryanto.

    Baca: Negara akui suku Punan batu sebagai masyarakat hukum adat

    Beberapa kasus yang dihadapi perempuan masyarakat adat di tahun 2023 antara lain kasus Pertambangan di Pulau Kecil dan Wilayah Pesisir, Konstruksi Pertambangan Timah Hitam dan Seng di Kabupaten Dairi Provinsi Sumatera Utara.

    Juga Deforestasi dan Perampasan Tanah di Wilayah Sumatera Utara, Pembangunan Bendungan sebagai Proyek Strategis Nasional di Nusa Tenggara Timur

    Komnas Perempuan mencatat terdapat ketidaksesuaian peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah serta perlakuan dan pelayanan yang diskriminatif terhadap perempuan penganut agama leluhur. Beberapa di antaranya adalah

    a. Pelayanan di Kementerian Agama hanya fokus pada agama mayoritas;

    b. Pencatatan perkawinan penganut agama leluhur/kepercayaan dapat dicatat dengan syarat pemuka agama terdaftar dalam organisasi yang disahkan oleh negara; 

    c. Kolom layanan/aplikasi masih belum termasuk hambatan pemakaman.

    d. Hambatan pencatatan perkawinan bagi perempuan berdampak lebih jauh dalam memperoleh dokumen penting lainnya (akte kelahiran anak, KK, dll), yang juga berdampak pada akses pelayanan publik seperti kesehatan, pendidikan, politik, dll. yang membutuhkan dokumen-dokumen yang diperlukan. 

    Berpijak dari persoalan itu, Komnas Perempuan mendesak Pemerintah dan DPR segera membahas dan mengesahkan RUU Masyarakat Adat yang mencantumkan perlindungan secara khusus terhadap perlindungan perempuan masyarakat adat.

    Baca: Komnas Perempuan desak RUU Masyarakat Adat segera disahkan

     

  • Menjalani Hidup yang Berkualitas Bagi Perempuan yang Memasuki Menopause

    7cloud.asia – Memasuki usia menopause, tak berarti membuat hidup seorang perempuan menurun kualitasnya.

    Kualitas hidup tetap bisa dirasakan perempuan yang memasuki usia menopause jika dia menerapkan pola makan hingga olahraga sesuai rekomendasi dokter secara rutin.

    Berbicara pola makan, Ketua Persatuan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) wilayah Jakarta Barat dr Ni Komang Yeni Dhana Sari, mengingatkan tak ada pantangan khusus bagi perempuan yang memasuki usia menopause. 

    Ni Komang hanya meganjurkan perempuan yang emmasuki usia menopause untuk mengurangi jumlah konsumsi sejumlah makanan termasuk kopi atau kafein.

    Baca: Kenali gejala depresi terselubung pada lansia

    Perempuan yang menopause biasanya mengalami keluhan sulit tidur sehingga perlu mengurangi jumlah asupan kafein dan membatasi waktu minumnya agar tak melebihi pukul 18.00.

    Minuman mengandung kafein seperti kopi dan teh bisa menyulitkan tidur, membuat jantung berdebar-debar, dan meningkatkan kecemasan.

    “Kondisi ini bisa memunculkan rasa tidak nyaman khususnya bagi perempuan di masa menopause,” ujarnya.

    Selain kafein, konsumsi jahe merah dan bawang juga sebaiknya secukupnya karena bila berlebihan menyebabkan tubuh lebih terasa panas.

    Baca: Matematika perempuan, meski terkesan seksis tetap dibutuhkan

    Perempuan yang menopause sebenarnya sudah mengalami hot flashes atau wajah, leher dan dada terasa hangat serta mengeluarkan banyak keringat.

    Selanjutnya, memenuhi asupan makro dan mikronutrien sesuai kebutuhan tubuh. Kuncinya makan hidangan beragam terutama bila tidak memiliki alergi atau penyakit-penyakit tertentu yang melarang untuk makan sesuatu.

    Usahakan pada setiap kali makan, ada banyak warna di piring, semisal sayuran dengan berbagai warna, kemudian lauk pauk.

    Khusus untuk karbohidrat, Ni Komang yang menjabat sebagai Wakil Ketua Perkumpulan Menopause Indonesia Cabang Jakarta Raya (PERMI Jaya) itu menyarankan untuk menguranginya.

    Baca: Lima prinsip utama frugal living

    Pasalnya, perempuan pada usia menopause akan mengalami pelambatan proses  metabolisme dan terjadi peningkatan berat badan berlebihan.

    Sebaliknya, asupan serat harus tinggi karena tubuh sudah mengalami susah buang air besar akibat metabolisme usus melambat.

    Selain pola makan, olahraga juga perlu dilakukan rutin pada masa menopause sama halnya sebelum masa menopause. Kegiatan ini merupakan satu upaya yang penting dari semua pencegahan dasar penyakit degeneratif.

    Dengan kata lain, olahraga sangat penting di usia berapapun termasuk saat perempuan memasuki usia menopause.

    Baca: Meski kaya raya aktor ini tetap jalani hidup sederhana

    Khusus perempuan  yang sudah mengalami menopause sebaiknya memilih yang low impact atau tidak menekankan beban pada persendian seperti pilates, yoga, jalan kaki.

    Selain itu, perempuan yang memasuki usia menopause untuk tidak lupa memasukkan latihan angkat beban untuk mempertahankan otot-otot dan kekompakan tulang.

    Ni Komang mengingatkan, beban yang diangkat disesuaikan dengan kemampuan masing-masing orang.

    Bagi mereka yang baru mulai berolahraga di masa menopause, disarankan memilih beban yang rendah terlebih dulu.

    Disarikan dari artikel di Antaranews.com

  • Perempuan 35 Tahun Perlu Lebih Peduli Gaya Hidup Sehat untuk Cegah Menopause Cepat

    Perempuan 35 Tahun Perlu Lebih Peduli Gaya Hidup Sehat untuk Cegah Menopause Cepat

    7cloud.asia – Perempuan diminta mulai lebih memperhatikan gaya hidup yang dijalaninya saat memasuki usia 35 tahun. Karena gaya hidup tidak sehat bisa mempercepat datangnya menopause. 

    Rata-rata perempuan mulai mengalami gejala menopause pada usia 48 tahun hingga 52 tahun. Tapi gaya hidup bisa membuat menopause datang lebih cepat,

    Menopause merupakan fase berakhirnya siklus menstruasi seorang perempuan yang biasanya ditandai dengan tidak terjadinya menstruasi selama 12 bulan berturut-turut.

    Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menopause pada perempuan disebabkan oleh hilangnya fungsi folikel ovarium dan penurunan kadar estrogen dalam darah yang bersirkulasi.

    Baca: Kiat untuk jalani hidup berkualitas saat masuki masa menopause

    Gaya hidup tidak sehat, seperti konsumsi hidangan cepat saji, makanan rendah nutrisi, lebih banyak konsumsi minuman dengan gula ketimbang air putih menjadi salah satu penyebab perempuan mengalami menopause lebuh cepat. 

    Minuman beralkohol, begadang, merokok, juga sangat berpengaruh menyebabkan gejala menopause lebih berat dibandingkan orang-orang yang menerapkan gaya hidup sehat.

     

    Sejumlah gejala yang bisa dialami perempuan saat memasuki masa menopause antara lain brain fog atau kabut otak, sulit konsentrasi yang juga akibat penuaan.

    Selain itu perempuan menopause mulai sering pusing dan migrain tanpa penyebab jelas, mengalami masalah di gusi, mulut, sensasi rasa berkurang, lelah tidak jelas alasannya padahal hasil laboratorium normal.

    Baca: Kenali gejala depresi terselubung yang sering dialami lansia

    Menopause pada perempuan juga ditandai dengan adanya peningkatan berat badan, adanya gejala pencernaan seperti susah buang air besar sering terjadi, kesemutan di jari-jari tangan.

    Sering berkemih, sulit menahan keinginan berkemih, kekeringan pada daerah vagina dan nyeri saat berhubungan intim juga menjadi masalah yang dialami perempuan yang sudah memasuki masa menopause.

    Gejala menopause lainnya adalah kulit gatal, kulit terasa sangat kering, osteoporosis, nyeri-nyeri sendi terutama lutut, kuku-kuku tidak sehat dan berkilau lagi.

    Kadang, menopause juga ditandai dengan munculnya alergi yang dulu tak dialami, mudah tersinggung, moody atau mood swing dan rambut rontok.

    Baca: Masa krisis bagi kesehatan mental

    Gejala menopause juga termasuk kecemasan berlebihan, bahkan hingga depresi yang tidak disadari penderitanya. karena itu dukungan dari orang terdekat sangat dibutuhkan. 

    Menopause pasti akan dialami semua perempuan, sekalipun dia tidak menikah atau tak memiliki anak.

    Perempuan perlu menerima kondisi ini dan saat mengalami gejala perlu segera berkonsultasi ke dokter untuk mencari pertolongan sehingga gejala tak semakin memberat.

    Yeni yang juga ambasador dan anggota senior dari European Society of Aesthetic Gynecology (ESAG) Indonesia mengingatkan perempuan agar tidak menganggap remeh keluhan.

    Baca: Mengenal aktivis perempuan Iran yang raih Nobel Perdamaian 2023

    Terutama yang mengalami gejala kecemasan berlebihan, itu bisa jatuh pada keadaan depresi bila tidak diobati segera. Pada tahap depresi, pengobatan akan lebih lama dan lebih banyak lagi yang perlu dilakukan.

    Di sisi lain, perempuan di masa menopause juga membutuhkan dukungan dari keluarga, seperti suami dan anak-anaknya.

    Suami dan anak-anak harus memahami dan memaklumi saat istri atau ibu sudah mulai cerewet, banyak komplain, bila sudah memasuki usia menjelang menopause.

    Cukup banyak terjadi perceraian saat wanita berada pada usia menjelang menopause, sementara suaminya mengalami andropause dengan gejala yang sama.

    Disarikan dari artikel di Antaranews.com

     

  • The Girl Fest Roadshow Bandung Resmi Ditutup, Bahas Insecure yang Sering Dialami Perempuan

    The Girl Fest Roadshow Bandung Resmi Ditutup, Bahas Insecure yang Sering Dialami Perempuan

    7cloud.asia – Gelaran The Girl Fest Roadshow Bandung 2023 yang berlangsung selama tiga hari 28-30 Oktober 2023 di Kota Bandung, Jawa Barat berjalan sukses.

    Sejak hari pertama hingga hari ketiga, ribuan pengunjung perempuan meramaikan acara The Girl Fest Roadshow Bandung 2023 ini. 

    Pengunjung yang didominasi perempuan muda tidak mau melewatkan tawaran diskon besar dari setiap brand kecantikan, fashion, serta F&B yang ditawarkan di acara The Girl Fest Roadshow Bandung 2023 ini. 

    The Girl Fest Roadshow Bandung 2023 ini merupakan hasil kolaborasi Rahasia Gadis yang berkolaborasi dengan RANS Entertainment pada tahun 2023 ini.

    Selain pesta diskon produk kecantikan, The Girl Fest Roadshow Bandung 2023 hari ketiga juga menyajikan talkshow inspiratif dengan sosok perempuan inspiratif yakni Atalia Praratya.

    Baca: Keseruan The Girl Fest Roadshow Bandung hari ke-1

    Acara di panggung utama dibuka dengan sesi games dari Rahasia by Rahasia Gadis yang mengadakan sesi permainan interaktif dimana para pengunjung diajak untuk menebak wangi parfum.

    Para pemenang yang beruntung pada sesi ini mendapatkan produk kecantikan berupa parfum dan toner pad gratis dari Rahasia by Rahasia Gadis.

    Setelah bermain game dengan pengunjung, panggung utama The Girl Fest Bandung makin dipenuhi oleh perempuan muda yang bersemangat untuk menonton talkshow Atalia Praratya, istri mantan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil.

    Tak sendirian atalia yang juga , yang juga merupakan Komisaris PT Urbane Indonesia,  ditemani oleh Co-Founder Camille Beauty, Nadya Shavira untuk sharing dalam sesi ‘LetsTalkAbout: Girls Know Your Worth’.

    Keduanya saling bercerita bagaimana perempuan sering dianggap sebelah mata dalam bisnis maupun karier yang mengakibatkan munculnya rasa insecure.

    “Ketika merasa insecure kita harus selalu melihat ke bawah dan juga melihat kelebihan diri, jangan melihat kekurangan terus… serta (jangan lupa untuk) menjadi pribadi yang selalu bersyukur,” kata Atalia.

    Baca: Keseruan The Girl Fest Roadshow Bandung hari ke-2

    Masih dari panggung yang sama, The Girl Fest Roadshow Bandung kehadiran seorang content creator bernama Virgiana Setiawan atau yang dikenal dengan nama panggung ‘Bu Hajat’.

    Ia hadir dalam talkshow ‘LetsTalkAbout: Ask Anything About Healthy Skin’ bersama AMURA Beauty.

    Pada sesi ini, ia bercerita tentang serba-serbi kehidupan sebagai influencer serta awal mula lahirnya karakter ‘Bu Hajat’ yang dibuat untuk menghibur para ibu-ibu Indonesia.

    Virgiana juga membagikan perjalanannya dalam meningkatkan kepercayaan diri, salah satunya dengan merawat diri sendiri menggunakan perawatan dari produk AMURA Beauty.

    Obrolan tentang content creator tak berhenti sampai situ, karena ada Clarice Cutie, influencer muda yang meramaikan panggung untuk mengisi sesi ‘LetsTalkAbout: From Like and Share to FYP’.

    Di balik konten-kontennya yang sering viral pada aplikasi TikTok, Clarice membagikan perjuangannya dalam membagi waktu untuk membuat konten sambil menempuh pendidikan.

    Baca: Dampak fast fashion pada lingkungan

    Ia terutama bercerita bagaimana membagi waktu di tengah kesibukannya belajar bahasa Korea, demi menggapai mimpinya untuk go international.

    Menuju puncak acara, pengunjung ditemani oleh penampilan dari Christie yang tampil anggun dengan membawakan lagu ‘Walau Ku Jauh’ yang membuat penonton ikut bernyanyi. 

    Usai dihibur Christie, selanjutnya pengunjung The Girl Fest Roadshow Bandung 2023 ini. diajak seru-seruan bersama Dira Sugandi atau yang lebih dikenal dengan DIRA.

    Penyanyi kelahiran 29 Juli ini dengan energik mengajak penonton untuk menikmati malam terakhir acara The Girl Fest Roadshow Bandung.

    Dira menyanyikan lagu miliknya yang berjudul ‘Pelangi’ dan mengajak penonton untuk bergembira atas perbedaan yang dimiliki masing-masing orang. “(Seperti pelangi) kita itu beda-beda loh, tapi indah ya,” ujar DIRA di sela-sela penampilannya.

    The Girl Fest Roadshow Bandung 2023 kemudian ditutup dengan sesi karaoke bersama para pengunjung dengan tema Taylor Swift Karaoke Night yang dipersembahkan khusus untuk Swifties, sebutan fans Taylor Swift.

    Baca: Di balik gemerlap tersimpan nasib buram buruh perempuan

    The Girl Fest Roadshow Bandung didukung oleh sponsor utama yaitu Cessa dan Peau Jeune Beaute, serta sponsor lainnya termasuk Indomilk, Chitato Lite, MS Glow, dan Sentral Cargo.

    Acara roadshow dari The Girl Fest yang sudah diselenggarakan di dua kota besar seperti Surabaya dan Bandung ini resmi menutup perjalanan dan akan memulai kembali perjalanan baru di tahun 2024 mendatang dengan menghadirkan pengalaman yang tak kalah seru dan fresh. (*advertorial)