Ilustrasi mencuci pakaian Foto: samsung
7cloud.asia – Trend tidak mencuci pakaian yang dikampanyekan Brian Szabo ternyata tak begitu saja diikuti oleh para perempuan.
Setidaknya fakta itu dituturkan oleh Mac Bishop, pendiri perusahaan pakaian Wool& Prince untuk mereka yang tidak suka mencuci pakaian.
Dia menjelaskan, ketika mempromosikan merek perempuan Wool& dia mengubah fokusnya pada “kenyamanan dan kesederhanaan”, yang selaras dengan konsumen laki-laki, “terutama mereka yang sudah tidak suka mencuci pakaian”.
Sebagai korban iklan pencucian seksis selama puluhan tahun, menurutnya perempuan lebih sulit diperkenalkan pada pikiran untuk tidak mencuci pakaian mereka. Riset mengatakan bahwa untuk perempuan, alasan lingkungan akan lebih mudah diterima.
Setelah terpapar iklan binatu seksis selama berabad-abad, para perempuan menjadi kurang responsif terhadap gagasan tidak mencuci pakaian, menurut dia.
Dan penelitian yang mendukungnya, menunjukkan bahwa untuk para perempuan, lingkungan hidup adalah alasan yang lebih efektif.
Saat ini, merek Wool& menjual pakaian wol dari domba merino, dengan “menantang” pelanggan mengenakan pakaian yang sama setiap hari selama 100 hari.
Pelajaran yang diambil adalah “berkurangnya jumlah cucian karena mengenakan merino setiap hari,” menurut Rebecca Eby dari Wool&.
Baca: Slow fashion, gaya berpakaian yang lebih ramah lingkungan
Salah satu pelanggan Wool& adalah Chelsea Harry dari Connecticut, Amerika Serikat. Kepada BBC Culture, ia mengaku dibesarkan di sebuah rumah tempat semuanya dicuci setelah digunakan.
“Handuk dicuci setelah sekali pakai, piyama setelah sekali pakai.” katanya menjelaskan sikapnya soal tidak mencuci pakaian.
Suatu musim panas, Harry tinggal bersama neneknya, yang mengajarinya untuk meletakkan piyamanya di bawah bantal di pagi hari dan memakainya lagi pada malam berikutnya.
Belakangan, dia bertemu dengan suaminya, yang katanya, “hampir tidak pernah mencuci pakaian.”
Kemudian, selama pandemi, Harry mulai mendaki. Inilah saat segalanya benar-benar berubah.
“Jelas Anda tidak bisa mandi setelah berjalan sepanjang hari dan tidur di tempat tidur gantung atau tenda,” katanya.
Orang lain di komunitas hiking merekomendasikan pakaian dalam ExOfficio, yang bisa dipakai keesokan harinya atau dicuci dan dikeringkan dengan cepat.
Setelah menggunakan merek pakaian itu dan pakaian wol lainnya, Harry menemukan dia bisa mendaki dan melakukan perjalanan selama berhari-hari dan tetap merasa nyaman.
“Kemudian,” katanya, “Saya mulai berpikir: Mengapa saya tidak melakukan ini dalam kehidupan sehari-hari?”
Harry tidak khawatir dengan bau. “Saya mempercayai hidung saya,” katanya.
Mengenakan pakaian baru dengan campuran wol yang berbeda, dia bisa mencium bau dirinya sendiri – sesuatu yang tidak pernah terjadi pada pakaiannya yang lain, katanya, bahkan saat dia bepergian ke daerah tropis seperti Timur Tengah di musim panas.
Seperti Brian Szabo, dia menggunakan trik untuk tidak mencuci pakaian. Yakni dengan menganginkan pakaiannya semalaman, menyemprotkan cuka atau vodka ke ketiaknya.
“Saya sangat suka, ketika di penghujung hari saya menggantung pakaian berbahan wol, legging wol, kaus kaki wol,” katanya. “Saya menggantungnya di jendela, kemudian mandi, memakai pakaian dalam ExOfficio, dan di pagi hari, saya memakai baju-baju itu lagi.”
“Salah satu hal terburuk bagi daya tahan pakaian adalah pencucian,” demikian kata Mark Sumner, dosen mode berkelanjutan di University of Leeds.
Saat dicuci, ia menambahkan, pakaian bisa robek, menyusut, dan kehilangan warna.
Bersama rekannya Mark Taylor, Sumner mempelajari bagaimana serat mikro dari cucian rumah tangga berakhir pada hewan laut.
Dia memang mengatakan mengurangi frekuensi mencuci pakaian adalah pilihan yang tepat untuk lingkungan, tapi dia tidak mendukung gerakan tidak mencuci sama sekali.
“Kami tidak ingin orang berpikir bahwa mereka tidak bisa mencuci karena pencucian menghancurkan planet ini,” kata Sumner kepada BBC Culture.
“Ini soal mencoba mendapatkan keseimbangan dengan benar.”
Mencuci pakaian penting untuk alasan medis dan kebersihan, katanya, misalnya untuk penderita eksim yang berusaha menghindari iritasi yang disebabkan oleh bakteri alami kulit yang berkembang biak di dalam pakaian kita.
Penting juga untuk harga diri orang agar “tidak merasa malu dengan pakaiannya karena kotor atau bau”.
Jika Anda terpengaruh orang lain untuk menentukan seberapa sering Anda perlu mencuci pakaian, pikirkan lagi.
Mengenai kebiasaan mencuci, kata Sumner dan Taylor, tidak ada rata-rata: Kita semua menggunakan suhu pencucian, siklus pencucian, dan kombinasi warna dan kain yang berbeda.
Dan para ilmuwan sendiri menghadapi teka-teki yang sama seperti kita semua. “Saya sudah berkutat dalam industri tekstil kira-kira selama 30 tahun,” kata Sumner.
“Dan saya tahu bahan katun perlu dipisahkan dari bahan sintetis, dan warna putih dipisahkan dari warna lain… Tapi terus terang, saya tidak punya waktu.”
Tampaknya, pendekatan terbaik adalah bersikap fleksibel. “Jika pakaian tidak berbau, jangan repot-repot [mencucinya],” kata Sumner.
“Dan saat mencuci, lakukan apa yang diperlukan untuk membersihkan, tapi dengan cara yang paling efektif.”
Ia menyarankan untuk mencuci pakaian pada suhu yang lebih rendah, atau mencuci pakaian sebentar tanpa deterjen.
Selain itu – terlalu sering mencuci pakaian bisa menghabiskan waktu dalam hidup Anda. Siapa yang punya waktu?
“Saya sangat tertarik dengan isu keberlanjutan, pengelolaan lingkungan dan sumber daya alam,” kata Harry. “Tapi saya juga peduli dengan waktu.”
Brian Szabo juga peduli dengan keberlanjutan, tetapi juga memiliki alasan lain untuk tidak terlalu bersemangat mencuci pakaian.
“Saya punya hal lain yang harus dilakukan,” katanya. “Saya punya anjing untuk diajak jalan-jalan.”
Anda dapat membaca versi asli tulisan ini dengan judul The rise of the ‘no-wash’ movement di BBC Culture.

Leave a Reply