Ini Alasan Mengapa Perempuan dan Kelompok Rentan Harus Dilibatkan dalam Mitigasi Bencana

Written by

in

 

7cloud.asia – Satu sore di bulan Desember 2022 lalu, hujan deras yang mengguyur Samigaluh, Kulonprogo mengakibatkan bencana tanah longsor.

Sebuah rumah yang ditinggali 4 orang, 3 orang perempuan yang salah satu di antaranya telah berusia 70 tahun tertimbun tanah longsor tersebut.

Saat berusaha menyelamatkan diri dan keluarganya dari bencana tanah longsor itu, Ning yang menjadi kepala keluarga di rumah itu sempat terjepit di antara reruntuhan. 

Ning dan keluarganya selamat, tapi akibat kejadian tanah longsor itu mereka kehilangan tempat tinggal.

Oleh warga dan aparat desa setempat, keluarga ini kemudian dibuatkan tenda seadanya sebagai tempat tinggal sementara. Namun, hingga Februari 2023 keluarga ini masih tinggal di tenda sementara itu. 

Baca: Dampak El Nio mulai dirasakan di sejumlah daerah

Lain lagi yang dialami Rahmia, dari Desa Ahu Majene, Sulawesi Barat. Saat terjadi bencana longsor, para perempuan harus tinggal di tenda terbuka yang bercampur antara laki-laki dan perempuan. 

“Sehingga ketika harus ganti baju kami agak sungkan,” ujarnya.

Saat bantuan diterima, lagi-lagi muncul masalah. Ketiadaan data terpilah membuat anak-anak dan kelompok rentan seperti lansia, anak-anak dan disabilitas tidak mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan.

Kisah Ning dan Rahmia ini terungkap dalam diskusi bertajuk “Kondisi dan Pemenuhan Hak Perempuan Dalam Situasi Bencana di Indonesia, Kamis (3/8/2023) yang diikuti secara daring.

Baca: Bencana kekeringan di Papua sering terjadi, perlu solusi jangka panjang

Seperti itulah kondisi perempuan dan kelompok rentan di Indonesia saat terjadi bencana alam.

Kasus Ning dan Rahmia ini adalah sedikit contoh dari ribuan kasus di Indonesia yang memang rawan bencana.  

Indonesia rawan bencana, baik tanah longsor, banjir, angin kencang, cuaca ekstrim, kekeringan, gempa bumi, gunung meletus, tsunami dan sebagainya. Ada banyak program dan upaya untuk penanggulangan bencana.

“Tetapi catatan kritisnya adalah bagaimana perempuan dilibatkan dalam kelompok-kelompok tersebut, ” ujar Joko Sulistyo, staf Kalyanamitra yang mendampingi warga desa rawan bencana di Kulonprogo. 

Baca: Kelompok rentan justru ditinggalkan dalam penanganan perubahan iklim

Joko menyebutkan, dalam rencana penanggulangan bencana di desa, perempuan disebutkan telah dilibatkan tetapi sering sekadar menjalankan perintah dari koordinator daerah setempat. 

Bukan menjalankan apa yang seharusnya dibutuhkan perempuan saat bencana. Perempuan lebih sering ditempatkan di sektor domestik.

Joko menegaskan, seharusnya saat terjadi bencana perempuan dan kelompok rentan seperti anak, lansia dan kelompok disabilitas harus dilihat secara interseksionalitas.

Hal ini karena dampak bencana yang dirasakan perempuan dan kelompok rentan ini lebih besar dibanding para pengambil keputusan.

Baca: Pentingnya pelibatan kelompok rentan dalam mitigasi perubahan iklim

“Ada pengalaman perempuan yang tidak akan pernah dirasakan laki-laki. Dan bagaimana pengalaman itu disuarakan dan dipenuhi itu penting,” tegas Joko.

Jika perempuan dan kelompok rentan tidak diberi kesempatan dan dilibatkan sejak awal, ujarnya, maka bagaimana kebutuhan mereka bisa dipenuhi. 

Joko mencontohkan, pelatihan penyelamatan dan mitigasi bencana sering tidak melibatkan perempuan.

Padahal sering perempuan menjadi yang terdepan saat terjadi bencana. Mereka akan berusaha menyelamatkan anaknya ketimbang dirinya sendiri.

Sehingga dalam kesempatan itu, Joko menegaskan pentingnya pelibatan yang partisipatoris dalam upaya mitigasi dan penanggulangan bencana, sehingga jika terjadi bencana semua kebutuhan kelompok rentan bisa dipenuhi.

Baca: Kelompok disabilitas paling rentan merasakan dampak perubahan iklim

 

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *