7cloud.asia – Pengamat perkotaan, Nirwono Joga mendukung rencana Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk membangun ruang terbuka hijau mikro di kawasan kumuh di Jakarta.
Dijumpai di acara Local Media Summit 2025 di Jakarta beberapa waktu lalu, Nirwono Joga mengatakan kebijakan ini akan sangat efektif menambah luasan ruang terbuka hijau di Jakarta yang masih sangat minim.
Jika mengikuti aturan, maka sebuah ruang terbuka hijau minimal memiliki luas 250 meter persegi. Hal ini tak mudah diwujudkan di Jakarta.
“Dengan keterbatasan lahan di Jakarta untuk mendapatkan lahan seluas itu tidak mudah, ini yang kemudian didorong adanya ruang terbuka hijau mikro di mana setiap kelurahan memiliki minimal taman seluas 50 meter persegi,” terangnya.
Pakar kota hijau ini menambahkan, meskipun secara satuan luasannya kecil tetapi jika tersebar di 267 kelurahan di Jakarta maka setidaknya akan ada tambahan ruang terbuka hijau hingga 15.000 meter persegi atau sekitar 1,5 hektare.
Angka ini memang tidak terlalu besar, namun menurutnya secara teknis ini sebuah terobosan besar untuk membuat Kota Jakarta yang lebih hijau.
Karena itu, dia sangat mendukung rencana Pemprov DKI Jakarta ini dan mendorong agar setiap keluarahan wajib menyediakan minimal 50 meter persegi lahan ruang terbuka hijau.
“Tentu arahannya dari Pemprov tetapi secara administrasi lahan itu ada di Kelurahan. Oleh karena itu pak Gubernur dengan dibantu jajarannya di 44 kecamatan memandatkan Kelurahan menyediakan lahan terutama yang dekat dengan pemukiman,” imbuhnya.
Dosen Universitas Trisakti ini memaparkan, ada tiga manfaat yang dapat dipetik jika ruang terbuka hijau mikro ini bisa diwujudkan.
Yakni, menjadi tempat interaksi warga, menjadi oase di tengah pemukiman padat dan menambah ruang terbuka hijau di Jakarta yang masih sangat kurang. Pada saat-saat tertentu, ruang ini bisa menjadi tempat evakuasi bencana
Lantas, bagaimana seharusnya ruang terbuka hijau ini didesain agar dapat berfungsi secara optimal? Nirwono menegaskan, lahan seluas 50 meter persegi tersebut sebaiknya benar-benar di tengah pemukiman padat.
“Lalu dijadikan taman sederhana, tidak perlu mewah-mewah, cukup ada pohon, rumput, batu yang bisa digunakan untuk anak-anak bermain, dan warga berkumpul,” terangnya.
Nirwono menambahkan, fungsi ruang terbuka hijau ini makin maksimal, jika antar RTH terhubung dengan jalur hijau. Sehingga jalur hijau ini, ujarnya, akan menjadi koridor yang menghubungkan satu taman dengan taman lain, atau taman dengan pemukiman, atapun taman dengan hutan kota.
Jalur hijau ini, imbuhnya, bisa difungsikan menjadi AC alami yang mendorong aliran udara sehingga menurunkan suhu panas perkotaan.
Lebih dari itu, keberadaan ruang terbuka hijau yang terhubung dengan jalur hijau ini juga mengembalikan habitat atau tempat migrasi burung atau satwa liar lainnya.
“Jalur hijau ini juga akan menghubungkan satu pusat dengan pusat lainnya, sehingga terbentuklah green infrastruktur hijau kota,” pungkasnya.
7cloud.asia – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terus berupaya menambah ruang terbuka hijau yang saat ini masih terbilang minim.
Saat ini, luas ruang terbuka hijau di Jakarta mencapai 36,001,003.33 m2 (2025) atau sekitar 6 persen dari total luas Jakarta, padahal idealnya ruang terbuka hijau sebuah kota adalah 30 persen dari lahan yang ada.
Untuk menambah luasan ruang terbuka hijau, Pemprov DKI Jakarta dihadapkan pada kendala keterbatasan lahan, mahalnya harga lahan serta terbatasnya dana yang tersedia.
Untuk mengatasi kondisi ini, 7cloud.asia mewawancari pengamat perkotaan yang juga pakar kota hijau Nirwono JogaNirwono Joga
Dijumpai di acara Local Media Summit 2025 di Jakarta beberapa waktu lalu, Nirwono mengatakan ada banyak hal yang bisa dilakukan Pemprov DKI Jakarta untuk menambah luasan ruang terbuka hijau.
Dia lantas menyebut, Jakarta mempunyai 13 sungai besar, punya 13 koridor jalur kereta api, punya 109 situ/danau. Semua itu, ujarnya, menjadi potensi lahan yang jika dimanfaatkan akan menambah ruang terbuka hijau.
Dengan mengoptimalkan potensi ini, menurutnya, akan jauh lebih murah ketimbang harus membebaskan lahan yang cukup besar
“Bisa badan sungainya dilebarkan, ditataulang dan dibuat taman sehingga dari ke-13 sungai yang ada, Jakarta bisa menambah ruang terbuka hijau,” ujarnya.
Hal yang sama juga bisa dilakukan di sepanjang jalur kereta api. Kiri kanannya dibebaskan dari bangunan dan pemukiman, lantas dijadikan jalur hijau sehingga akan menambah ruang terbuka hijau.
Demikian juga dengan 109 danau dan situ yang ada, jika lahannya bebas bangunan maka bisa menjadi ruang terbuka hijau. Hal ini, ujarnya, sudah diterapkan di waduk Pluit.
Selain itu Pemprov DKI Jakarta juga bisa mengolah kolong jalan tol/LRT/MRT menjadi taman yang dapat menambah ruang terbuka hijau.
Jika itu masih kurang, Pemprov DKI Jakarta juga bisa memanfaatkan potensi menghijaukan pantai dengan penanaman mangrove di sepanjang garis pantai dari Marunda hingga Muara Angke.
Garis pantai yang memiliki panjang 32 kilometer bisa dibangun Giant Mangrove Wall yang sekaligus berfungsi untuk menahan abrasi.
“Itu semua tergantung pada kreatifitas dan inovasi dari instasi berwenang, sehingga dengan keterbatasan lahan yang ada dan dana yang dimiliki, jika potensi-potensi tadi dioptimalkan maka akan ada penambahan ruang terbuka hijau yang signifikan,” tandas dosen Jurusan Teknik Arsitektur di Universitas Trisakti tersebut.
Nirwono mengatakan, pada 1985 Jakarta memiliki ruang terbuka hijau yang cukup besar yakni 25,8 persen mendekati 30 persen. Menurutnya, ini berarti Jakarta memiliki potensi untuk menambah ruang terbuka hijau.
7cloud.asia – Ruang terbuka hijau (RTH) seperti taman kota, hutan kota maupun jalur hijau merupakan elemen penting dalam tata ruang kota yang berkelanjutan.
Ruang terbuka hijau tidak hanya menghadirkan manfaat ekologis dan estetika, tetapi juga merupakan infrastruktur sosial dan adaptif terhadap krisis iklim.
Selain berfungsi sebagai paru-paru kota yang membantu menyerap polusi dan mengatur suhu udara, ruang terbuka hijau juga memiliki peran vital dalam menjaga kesehatan mental dan memperkuat ikatan sosial masyarakat.
Berbagai penelitian internasional membuktikan bahwa keberadaan ruang terbuka hijau dapat mengurangi stres, memperbaiki suasana hati, meningkatkan konsentrasi, serta memfasilitasi interaksi sosial.
Dilansir di laman resmi BMKG, ruang terbuka hijau juga menawarkan manfaat psikologis bagi warga kota. Paparan terhadap lingkungan hijau terbukti mampu menurunkan hormon stres dan mempercepat pemulihan mental.
Teori psikologi lingkungan terkemuka: Stress Reduction Theory (Ulrich, 1984) menunjukkan bahwa pasien yang memiliki akses visual ke pemandangan alam cenderung pulih lebih cepat dibandingkan yang hanya melihat lingkungan urban.
Sementara, teori restorative environment dari Kaplan & Kaplan (1989) menjelaskan bagaimana alam dapat membantu otak untuk mengembalikan fokus dan kreativitas.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ruang hijau berperan penting dalam menurunkan risiko gangguan mental seperti depresi dan kecemasan, serta meningkatkan kualitas hidup warga kota.
Ruang terbuka hijau juga menyediakan ruang berkumpul yang mendorong interaksi sosial dan memperkuat solidaritas antarwarga.
Peters et al. (2010) menemukan bahwa taman kota membantu membangun rasa komunitas yang inklusif, sekaligus mengurangi isolasi sosial yang kerap terjadi di wilayah perkotaan.
Di sisi lain, perubahan iklim dan pesatnya pembangunan perkotaan memunculkan tantangan baru bagi tata kelola lingkungan, khususnya di wilayah rawan bencana.
Di sinilah peran ruang terbuka hijau menjadi sangat penting, terlebih jika disinergikan dengan sistem monitoring iklim dan peringatan dini sebagaimana diusulkan oleh BMKG kepada Bappenas dalam audiensi mereka.
Pada Mei 2024, BMKG mengajukan usulan kepada Bappenas agar seluruh Proyek Strategis Nasional (PSN) terintegrasi dengan sistem monitoring iklim dan peringatan dini.
Tujuannya adalah meningkatkan ketahanan infrastruktur terhadap perubahan iklim, banjir, cuaca ekstrem, dan risiko hidrometeorologi lainnya.
Usulan ini mencakup integrasi sensor iklim, radar cuaca, serta optimalisasi pemanfaatan data klimatologis dalam desain PSN seperti bendungan, kawasan ekonomi khusus (KEK), dan jalur transportasi strategis.
Inisiatif tersebut memiliki kaitan erat dengan pentingnya keberadaan RTH di kawasan perkotaan—khususnya di Kota Palu dan sekitarnya—karena RTH juga berperan dalam mitigasi bencana alam dan adaptasi iklim perkotaan.
7cloud.asia – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, meresmikan Taman Roci (Rorotan–Cilincing) di Kelurahan Rorotan, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, pada Jumat (30/1/2026).
Kehadiran taman ini menjadi bagian dari upaya Pemerintah Provinsi atau Pemprov DKI Jakarta dalam meningkatkan jumlah dan kualitas ruang terbuka hijau (RTH) di wilayah padat penduduk di Jakarta.
Taman Roci dirancang sebagai ruang publik yang mengintegrasikan fungsi ruang terbuka hijau dengan fungsi ekologis, khususnya untuk mendukung pengelolaan air dan menjaga keseimbangan lingkungan.
Kehadiran Taman Roci diharapkan meningkatkan kualitas lingkungan di Jakarta, terutama di kawasan Rorotan–Cilincing, Jakarta Utara.
Gubernur Pramono menyampaikan, pengembangan ruang terbuka hijau tidak hanya difokuskan pada taman berskala besar, tetapi juga taman-taman berskala kecil agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Taman Roci diharapkan menjadi ruang terbuka hijau yang memberikan manfaat sosial, ekologis, sekaligus rekreasi, khususnya bagi warga sekitar.
“Kalau dulu yang dibuat besar-besar, sekarang yang kecil pun selama membawa manfaat bagi masyarakat saya izinkan untuk dikembangkan. Taman Roci ini salah satu contohnya,” ujar Gubernur Pramono.
Pramono menambahkan, kalau semuanya diresmikan, hampir setiap minggu pasti ada peresmian ruang terbuka hijau semacam ini karena jumlahnya banyak sekali
Ia juga menekankan, pembangunan taman-taman kecil menunjukkan kolaborasi yang kuat antara Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Utara, Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta, serta masyarakat.
Kolaborasi tersebut menjadi bukti bahwa penataan lingkungan dapat dilakukan secara terencana dan berkelanjutan.
Sebelum dibangun, kawasan Taman Roci merupakan lahan terbuka yang kurang tertata. Pramono Anung berharap taman yang telah dibangun ini dapat dirawat dan dijaga dengan baik oleh masyarakat.
“Alhamdulillah, sekarang bisa menjadi ruang terbuka hijau yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Dan yang paling penting, taman ini harus dirawat dan dijaga, jangan sampai kemudian hanya menjadi seremonial,” tegasnya.
Taman Roci dibangun di atas lahan seluas 2.700 meter persegi. Taman ini dilengkapi berbagai fasilitas pendukung, seperti kolam retensi, area bermain anak, gazebo, plaza, area urban farming, toilet, serta shelter.
Selain itu, juga terdapat area tematik kelinci yang dihadirkan sebagai sarana edukasi lingkungan, khususnya bagi anak-anak.
Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Pramono juga menyerahkan bantuan secara simbolis kepada warga terdampak angin kencang dari enam RW di Kelurahan Rorotan, dengan total 100 pemilik bangunan sebagai penerima bantuan.
7cloud.asia – Bertambah satu lagi ruang terbuka hijau di Jakarta, setelah pada Kamis (12/2/2026) Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, meresmikan Maroedja Sport Park di Kembangan, Jakarta Barat.
Maroedja Sport Park yang semula bernama Lapangan Ki Amat berdiri di atas lahan seluas 22.635 meter persegi atau sekitar 2,2 hektare. Kawasan ini menjadi ruang terbuka hijau (RTH) baru yang dilengkapi berbagai fasilitas olahraga dan ruang publik bagi warga.
Lahan seluas kurang lebih 2,2 hektare yang ada dimanfaatkan sebagai fasilitas publik. Fasilitas tersebut meliputi lapangan basket, jogging track, serta sarana olahraga lainnya.
Maroedja Sport Park dirancang dengan prinsip Sponge City Infrastructure yang mengacu pada perencanaan kota yang meniru proses hidrologi alami untuk menyerap, menyimpan, memurnikan, dan menggunakan kembali air hujan menggunakan infrastruktur hijau dan biru.
Komponen utama prinsip ini meliputi perkerasan yang dapat menyerap air, atap hijau, lahan basah buatan, taman hujan, dan saluran drainase biologis. Sistem ini mengurangi banjir, mengisi kembali air tanah, dan mengurangi efek pulau panas perkotaan.
Maroedja Sport Park dibangun dalam dua tahap dengan empat zona utama, yakni zona penerima, zona olahraga, zona rekreasi, dan zona penyerapan air.
Pada zona penerima terdapat gerbang utama, area parkir, dan toilet. Zona olahraga dilengkapi lapangan basket, mini soccer, dan jogging track. Zona rekreasi mencakup forest cafe, playground, lapangan voli, serta plaza Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Sementara pada zona penyerapan air, tersedia kolam retensi dan forest walk. Transformasi Lapangan Ki Aman menjadi Maroedja Sport Park melibatkan tiga konsultan ternama.
Pramono mengatakan, pembangunan taman olahraga ini merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dengan berbagai pihak.
Penataan dilakukan untuk mengoptimalkan lahan agar dapat dimanfaatkan sebagai fasilitas publik yang representatif.
“Memang ini baru tahap pertama, nanti akan diselesaikan pada tahap kedua. Hal ini sekaligus menjadi bagian dari penataan Kawasan Koridor Meruya untuk meningkatkan ketersediaan ruang terbuka hijau publik serta menjadi wadah interaksi sosial di Jakarta,” ujarnya.
Ia menjelaskan, total anggaran pembangunan mencapai Rp10,9 miliar dari kebutuhan sekitar Rp12 miliar. Pemprov DKI Jakarta pun mendorong agar pembangunan tahap kedua segera direalisasikan.
Ditambahkan, jika nanti tidak bisa diselesaikan, Pemerintah DKI Jakarta dalam hal ini Balai Kota akan turun tangan untuk menyelesaikan.
Hal ini karena kita tengah berupaya mengembangkan ekosistem olahraga yang berkelanjutan, sekaligus memperkuat peran Jakarta sebagai destinasi sport tourism terkemuka di kawasan regional,” jelasnya.
Menurut Pramono, lokasi Maroedja Sport Park tergolong strategis dan sangat dibutuhkan masyarakat sekitar. Ke depan, fasilitas tersebut akan dilengkapi sistem pencahayaan dan videotron agar dapat digunakan hingga malam hari.
“Oleh karena itu, dengan kehadiran fasilitas umum ini, kami mengajak warga untuk turut merawat Maroedja Sport Park sebagai bagian dari jati diri kota di tengah pembangunan Jakarta yang terus berkembang,” pungkasnya.
7cloud.asia – Selama satu tahun kepemimpinan Pramono Anung-Rano Karno, pemerintah provinsi (Pemprov) DKI Jakarta berhasil memperbanyak ruang publik dan ruang terbuka hijau
Tercatat, sejak dilantik setahun lalu Pemprov DKI juga telah menambah 21 ruang terbuka hijau (RTH) baru.
“Yang kecil-kecil sebenarnya banyak banget. Seperti ini, Taman Bendera Pusaka ini adalah Ruang Terbuka Hijau yang kita gabungkan, di tempat ini 5,6 hektare,” terang Pramono Anung di sela acara syukuran bertajuk “Satu Tahun Membangun Jakarta dari Bawah” di Taman Ayodia, Jakarta Selatan, Jumat (20/2/2026).
Acara ini juga menjadi momentum refleksi sekaligus pemaparan capaian kinerja setahun dalam membenahi ibu kota.
Pembangunan ruang terbuka hijau ini ditujukan untuk mengurangi polusi udara di Jakarta yang dilakukan bersamaan dengan penataan sektor transportasi publik yang kini menempati peringkat ke-17 dunia untuk infrastruktur transportasi.
Beberapa terobosan yang dilakukan oleh pasangan Pramono-Rano yakni memperluas layanan TransJabodetabek hingga daerah penyangga hingga memberikan layanan gratis bagi 15 golongan masyarakat.
Dalam sambutannya, Pramono menyampaikan komitmen Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk menuntaskan berbagai persoalan yang hingga kini masih belum selesai.
“Memang persoalan-persoalan dasar masih ada. Kemacetan masih ada, banjir masih ada, kemudian persoalan polusi masih ada. Dan itulah yang secara khusus ingin minimal bisa dikurangi dari apa yang terjadi saat ini,” ujar Pramono.
Karena itu, ia memaparkan berbagai program Pemprov DKI yang tengah dijalankan untuk menyelesaikan persoalan tersebut.
Seperti masalah banjir, Pemprov DKI melakukan normalisasi Sungai Ciliwung, Cakung Lama, dan Krukut, serta pengerukan sungai-sungai di Jakarta Barat.
Pramono kemudian menyampaikan capaian posisi Jakarta dalam peringkat Global City yang mengalami kenaikan dari urutan 74 menjadi 71 dalam waktu 10 bulan kepemimpinannya.
Sementara terkait ketimpangan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi, Pramono menyebut kini telah mengalami perbaikan. Pramono menegaskan prioritas utamanya dalam meningkatkan kesejahteraan melalui bantuan sosial pendidikan yang diberikan Pemprov DKI.
Berbagai program untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat juga terus dilanjutkan meskipun APBD DKI mengalami penurunan dari tahun sebelumnya.
Di bawah kepemimpinan Pramono-Rano, Pemprov DKI berkomitmen untuk melanjutkan penyaluran program Kartu Lansia Jakarta, Kartu Penyandang Disabilitas Jakarta, dan Kartu Anak Jakarta.
Di sektor kesehatan, Pemprov DKI terus berupaya menyediakan kemudahan layanan kesehatan bagi masyarakat melalui layanan Pasukan Putih. Saat ini, Jakarta telah memiliki 31 rumah sakit, 44 Puskesmas Kecamatan, dan 292 Puskesmas Pembantu di tingkat Kelurahan.
Untuk memperbanyak akses layanan kesehatan bagi masyarakat, Pemprov DKI akan membangun lagi dua rumah sakit, yakni Rumah Sakit Royal Batavia Cakung dan rumah sakit di lahan Sumber Waras.
Selain itu, Pramono dan Rano juga berkomitmen untuk melanjutkan dan menyelesaikan berbagai program pemerintahan sebelumnya yang belum tuntas. Pramono mencontohkan dilakukannya reaktivasi Planetarium, pembongkaran tiang monorel, pembangunan JPO yang menghubungkan JIS-Ancol, serta pembangunan rumah sakit internasional di lahan RS Sumber Waras.
Pramono juga ingin menjadikan Jakarta rumah bagi keberagaman agama. Ia ingin toleransi, kerukunan, dan kebersamaan terus tumbuh dan terjaga di Jakarta.
Sementara Wakil Gubernur Rano Karno menambahkan, dari 40 program Quick Wins yang dijalankan sudah terealisasi sekitar 97 persen. Menurutnya, masih ada tiga masalah utama Jakarta yang belum terselesaikan hingga saat ini, yakni banjir, kemacetan, dan kemiskinan.
“Dari 40 program, Alhamdulillah mungkin 97 persen selesai. Hanya ada tiga poin yang belum sempat selesai karena memang memerlukan waktu yang cukup panjang,” ujar Rano.
Rano pun menegaskan komitmennya bersama Gubernur Pramono untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang belum tuntas tersebut.
“Jadi artinya saya sangat yakin, di tahun kedua ini, kami sudah mempunyai program apa yang akan kita lakukan. Tentu program itu harus kita lakukan tahun per tahun,” tandas Rano.
7cloud.asia – Pemerintah Kota Yogyakarta terus berupaya mengoptimalkan pemanfaatan ruang terbuka hijau (RTH) di wilayahnya.
Saat ini, Kota Yogyakarta memiliki 64 ruang terbuka hijau publik. Adapun proporsi ruang terbuka terbuka hijau tercatat 23,351 persen dari total luas Kota Yogyakarta.
Untuk mendekati target ideal 30 persen dari luas kota, Pemkot Yogyakarta terus mendorong optimalisasi pemanfaatan lahan yang ada serta kolaborasi dengan sektor privat.
Sejalan dengan tujuan ini Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo, menegaskan ruang terbuka hijau publik harus memiliki fungsi terintegrasi.
“Ruang terbuka hijau publik harus punya fungsi lingkungan, sosial, dan juga ekonomi. Anak-anak mendapatkan haknya untuk bermain, warga punya tempat rekreasi dan bertemu, UMKM bisa ada ruang, dan bisa dimanfaatkan untuk Unit Pupuk Organik (UPO),” tegasnya.
Dengan pendekatan tersebut, ruang terbuka hijau di Kota Yogyakarta diarahkan menjadi ruang produktif yang tidak hanya memperbaiki kualitas lingkungan, tetapi juga memperkuat jejaring sosial dan ekonomi warga.
Ruang terbuka hijau diharapkan tidak lagi sekadar menjadi elemen penghijauan, tetapi benar-benar berfungsi sebagai ruang aktivitas warga, pusat edukasi lingkungan, hingga penguatan ekonomi masyarakat.
Dengan demikian keberadaan ruang terbka hijau dapat memberi dampak langsung bagi kualitas hidup warga.
Melalui Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta, Pemkot mendorong pengembangan ruang terbuka hijau publik berbasis kampung agar dapat dimanfaatkan untuk kegiatan sosial, pertanian kota, hingga pengelolaan pupuk organik.
Kepala Bidang Ruang Terbuka Hijau Publik DLH Kota Yogyakarta, Rina Aryati Nugraha, menjelaskan RTH mencakup seluruh area hijauan di wilayah kota yang memiliki fungsi ekologis sekaligus sosial.
“Jadi RTH itu seluruh hijauan yang ada di kota itu. Tapi yang terpenting bagaimana ruang tersebut bisa dimanfaatkan masyarakat,” ujarnya dikutip di laman resmi Pemkot Yogyakarta.
Tahun 2026 ini, ujar Rina, akan ada dua lokasi baru di Prenggan dan Tegalgendu yang ditata dengan pendekatan lanskap yang memungkinkan pemanfaatan lebih luas, termasuk untuk edukasi dan kegiatan warga.
Ruang terbuka hijau Tegalgendu dirancang dengan konsep integrated farming. Di dalamnya akan terdapat area pertanian kota yang memanfaatkan pupuk organik hasil olahan masyarakat.
“Nanti ada pertanian, dan pupuknya dari hasil olahan organik di situ. Sekalian untuk edukasi juga, jadi masyarakat bisa belajar bagaimana pertanian di kota itu,” jelas Rina.
Selain menjadi ruang edukasi lingkungan, ruang terbuka hijau juga difungsikan sebagai ruang bermain anak, tempat interaksi sosial, hingga lokasi penyelenggaraan kegiatan masyarakat.
“Biar anak-anak bisa tumbuh kembang dengan sehat. Kalau di rumahnya sempit, mereka bisa berlarian di RTH dengan udara yang lebih segar,” katanya.
Secara ekologis, vegetasi di RTH berperan menyerap cemaran udara, menghasilkan oksigen, serta meningkatkan daya resap air hujan di kawasan perkotaan yang padat.
7cloud.asia – Revitalisasi ruang terbuka hijau Taman Bendera Pusaka, yang merupakan hasil integrasi tiga taman di Jakarta Selatan, yakni Taman Ayodya, Taman Leuser, dan Taman Langsat resmi dioperasikan pada Sabtu (14/3/2026).
Dengan luas kawasan mencapai 5,6 hektare, Taman Bendera Pusaka menjadi bagian dari upaya Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menghadirkan ruang publik yang nyaman, inklusif, dan mudah diakses masyarakat.
Peresmian tersebut turut dihadiri Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung-Rano Karno, serta Presiden ke-5 Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri.
“Dengan luas sekitar 5,6 hektare dan jogging track sepanjang 1,2 kilometer, taman ini diharapkan menjadi salah satu pilihan ruang publik bagi warga Jakarta untuk berolahraga maupun beraktivitas,” ujar Pramono Anung.
Desain Taman Bendera Pusaka terinspirasi dari filosofi Sang Saka Merah Putih. Konsep tersebut diwujudkan melalui dua zona utama, yakni zona merah yang aktif dan dinamis serta zona putih yang lebih tenang dan reflektif.
Kedua zona itu dihubungkan oleh jalur pedestrian, jembatan penghubung, serta ruang terbuka yang memungkinkan pengunjung menikmati taman secara menyeluruh.
Desain Taman Bendera Pusaka mengintegrasikan sistem drainase dan infrastruktur hijau untuk memaksimalkan daya resap air dan sirkulasi udara.
Di sepanjang badan air yang ada dibangun infrastruktur pengendali banjir, berupa pintu air, Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), saringan sampah, dan sediment trap.
Selain itu, taman ini dilengkapi berbagai elemen vegetasi. Terdapat 12 jenis tanaman dengan total sekitar 285 pohon, termasuk sejumlah pohon langka seperti menteng, eboni, cempaka, dan kecapi.
Beragam fasilitas olahraga dan rekreasi juga tersedia untuk menunjang aktivitas masyarakat. Di antaranya lapangan padel, lapangan multifungsi yang dapat digunakan untuk basket, tenis, maupun bulu tangkis.
Tak ketinggalan dibangun sebuah amphitheater yang dapat difungsikan untuk kegiatan komunitas dan pertunjukan.
Taman Bendera Pusaka juga dilengkapi terowongan penghubung antartaman yang memudahkan pengunjung menjelajahi seluruh kawasan.
Di kawasan taman tersebut juga berdiri patung Ibu Fatmawati sebagai bentuk penghormatan kepada sosok yang menjahit Bendera Pusaka Merah Putih.
Patung Fatmawati ini merupakan karya pematung Teguh Ostenrik, sementara desain arsitektur kawasan dirancang oleh arsitek Yori Antar.
“Mudah-mudahan taman ini memberikan manfaat besar bagi warga Jakarta. Selain menjadi ruang rekreasi dan olahraga, taman ini juga diharapkan menjadi ruang publik yang memperkuat interaksi sosial masyarakat,” kata Pramono.
Taman Bendera Pusaka akan dibuka selama 24 jam dan dilengkapi CCTV serta sistem keamanan untuk memastikan kenyamanan dan keselamatan pengunjung.
Pemprov DKI Jakarta mengimbau masyarakat memanfaatkan transportasi publik saat berkunjung ke taman Bendera Pusaka tersebut.
Selain keterbatasan fasilitas parkir, lokasi taman berada di kawasan yang terhubung dengan jaringan transportasi publik, termasuk akses dari kawasan Blok M yang relatif dekat.
“Kami mengimbau masyarakat yang ingin berkunjung ke taman ini sebaiknya menggunakan transportasi publik. Aksesnya cukup mudah dari berbagai arah. Jika semua datang dengan kendaraan pribadi, tentu kapasitas parkir yang tersedia tidak akan mencukupi,” ujar Pramono.
Pramono menegaskan bahwa proyek ini tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
“Pembangunan taman ini sepenuhnya merupakan hasil kerja sama dengan pihak swasta melalui mekanisme Koefisien Lantai Bangunan (KLB) dan Surat Persetujuan Prinsip Pembebasan Lokasi/Lahan (SP3L), sehingga tidak menggunakan dana APBD,” jelasnya.
7cloud.asia – Berbagai tanaman produktif, seperti matoa dan nangka cempedak bakal menghijaukan wilayah RW 05, Kelurahan Rawa Terate, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur.
Penanaman pohon produktif ini salah satunya dilakukan di sepanjang jalur hijau Jalan Krama Yudha.
Bendahara RW 05, Kelurahan Rawa Terate, Nurhasan mengatakan bahwa penanaman pohon ini tak hanya akan memperbanyak ruang hijau, tapi juga melestarikan tanaman endemi nusantara
“Pohon matoa dan nangka cempedak sudah tergolong jarang ditemui. Padahal, ini merupakan bagian dari tanaman khas Indonesia,” ujarnya, Senin (13/4/2026) dikutip beritajakarta.id
Nurhasan menjelaskan, saat ini sudah sebanyak 10 pohon ditanam di Jalan Krama Yudha. Warga berharap pohon-pohon ini dapat tumbuh besar agar mampu menghadirkan lingkungan yang lebih hijau sekaligus memberikan manfaat ekonomi melalui hasil buahnya.
“Sebelumnya, warga juga telah melakukan penghijauan dengan menanam tanaman hias pucuk merah yang merupakan bantuan dari PT Jakarta Industrial Estate Pulogadung (JIEP),” terangnya.
Ia menambahkan, program penghijauan akan terus dilanjutkan secara bertahap agar kawasan RW 05, Kelurahan Rawa Terate semakin asri dan nyaman bagi masyarakat.
“Kami ingin lingkungan ini tidak hanya hijau, tetapi juga memberikan rasa aman dan sejuk bagi warga,” ungkapnya.
Sementara itu, salah seorang warga RT 03/05 Kelurahan Rawa Terate, Oman (48) mengapresiasi upaya pengurus lingkungan yang dinilai terus berinovasi dalam membangun wilayahnya.
“Kami sangat mendukung program ini. Apalagi yang ditanam pohon buah, sehingga hasilnya nanti bisa dinikmati bersama,” ucapnya.
Ia menambahkan, warga turut berkontribusi dalam merawat tanaman yang telah ditanam. Setiap hari, ia menyirami pohon-pohon tersebut agar dapat tumbuh dengan baik.
“Saya biasa mangkal di pangkalan ojek di ujung jalan, jadi sekalian ikut merawat tanaman agar tetap subur,” tandasnya.
Penghijauan dan penanaman pohon di jalur hijau terus digalakkan pemerintah provinsi (Pempro) DKI Jakarta untuk menyiasati keterbatasan lahan untuk ruang terbuka hijau.
7cloud.asia – Kalau berkunjung ke Tebet Eco Park, Taman Literasi Blok M, kompleks Gelora Bung Karno (GBK) atau tempat-tempat terbuka (outdoor) lainnya, kamu akan menemukan banyak anak muda—terutama Gen Z dan Milenial—yang asyik nongkrong di sana.
Fenomena ini menyiratkan satu hal: anak-anak muda haus akan ruang terbuka hijau (RTH) di tengah padatnya kota dalam kepungan beton dan kaca.
Berbagai studi membuktikan, selain penting untuk keberlangsungan ekosistem kota, ruang terbuka hijau juga bisa meredam stres, meningkatkan kesehatan mental dan fisik lewat interaksi sosial dan beragam aktivitas yang bisa dilakukan di sana.
Jadi wajar apabila setiap momen munculnya ruang publik baru selalu jadi buruan muda-mudi metropolitan. Sayangnya, di tengah tingginya kebutuhan dan minat akan ruang terbuka hijau, eksistensinya justru semakin tergerus pembangunan kota yang kian masif.
Potret ruang hijau di lima kota besar
Saya melakukan riset pemetaan perubahan tutupan ruang terbuka hijau di lima kota besar Indonesia; Jakarta Pusat, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Semarang. Penelitian ini menggunakan citra satelit “remote sensing” Sentinel-2 dan indeks vegetasi NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) serta EVI (Enhanced Vegetation Index).
Analisis dilakukan dalam tiga rentang waktu: 2019–2020, 2021–2022, dan 2023–2024.
Hasil riset menunjukkan tidak semua kota memenuhi standar menyediakan area hijau minimal 30% dari luas wilayahnya, seperti ketentuan yang berlaku. Ruang hijau di semua kota justru menyusut bersamaan dengan berkurangnya tutupan hijau.
1. Jakarta Pusat
Dalam kurun waktu 25 tahun terakhir, tutupan hijau di jantung Ibu Kota menurun drastis dari 45persen menjadi hanya 20 persen. Begitu pun dengan ruang hijau.
Pada 2013, porsi ruang hijau di kawasan padat penduduk ini hanya 4,65% dari total wilayah. Tren sempat membaik: naik menjadi 7,12 persen pada 2022, tapi kembali menurun tipis jadi 7,02 persen pada 2024. Itu pun berupa kantong-kantong kecil yang tersebar dan tak saling terhubung.
2. Bandung
Kota Bandung terbilang punya luas wilayah dan kondisi alami yang mendukung adanya ruang hijau. Data satelit menunjukkan tren peningkatan area hijau sekitar 532 hektare pada periode 2019–2024, tapi sebarannya tidak merata. Vegetasi hijau kebanyakan ada di pinggiran kota, sementara di pusat kota, ruang hijau cenderung terpecah dan terisolasi.
Persentase ruang hijau publik sempat naik dari 6,26% (2019–2020) menjadi 9,23 persen (2021–2022), lalu turun lagi ke angka 6,99 persen (2023–2024).
Secara umum, urban sprawl atau perluasan wilayah perkotaan yang masif terus mengancam bentang alam sekitar wilayah ini.
3. Yogyakarta
Kota budaya ini awalnya memiliki tutupan hijau cukup merata pada 2019–2020. Namun, sejak 2023, ruang hijau mulai terpecah-pecah akibat pesatnya pembangunan. Ruang hijau publik sempat naik dari 13,60 persen pada 2019-2020 ke 18,22 persen pada 2021–2022, tapi kembali menyusut ke 14,25 persen pada 2023–2024.
4. Surabaya
Kota ini pernah mencatat tutupan vegetasi yang cukup baik, bahkan melampaui Jakarta dan Yogyakarta. Tapi pada 2023–2024, sekitar 1.190 hektare area hijau hilang karena ekspansi industri dan perumahan.
Meski masih memiliki vegetasi sekitar 46 persen dari total wilayah (turun dari 49 persen di 2022), tekanan urbanisasi tetap tinggi. Akibatnya, persentase ruang hijau publik pun menurun dari 49,35 persen (2021–2022) menjadi 45,94 persen pada 2023–2024.
5. Semarang
Ibu kota Provinsi Jawa Tengah ini awalnya berhasil memperluas ruang hijau sekitar 1.747 hektare antara 2019–2022 lewat berbagai program penghijauan dan rehabilitasi mangrove. Alhasil, ruang hijau publik Semarang sempat naik dari 44,51 persen pada 2019-2020 ke 49,37% pada 2021–2022.
Namun, pada 2023–2024, ruang hijau justru kembali menyusut ke 45,95 persen. Kami menemukan, belakangan semakin banyak ruang hijau dikonversi menjadi lahan pembangunan.
Temuan riset ini mengonfirmasi bahwa tren ruang terbuka hijau semakin menyusut. Kota-kota dengan wilayah sempit dan padat seperti Jakarta Pusat dan Yogyakarta menghadapi krisis ruang hijau.
Sementara kota besar yang masih punya banyak ruang hijau juga terus tertekan pembangunan seperti yang terjadi di Bandung, Surabaya, dan Semarang. Situasi ini menjadi alarm serius untuk pembenahan tata kelola dan perencanaan kota.
Di Indonesia, Undang-Undang No.26/2007 tentang Penataan Ruang menetapkan 30% dari luas wilayah kota harus berupa ruang hijau (dengan 20% RTH publik).
Namun dalam praktiknya, kota-kota di Indonesia belum memenuhi kedua standar ini. Ruang-ruang hijau masih belum dianggap prioritas di negara kita karena kalah desakan ekonomi.
Gaji tak kunjung naik. Promosi mesti pindah perusahaan. Skripsi belum juga ACC. Diet ketat, berat badan tak turun juga. Lingkungan kerja toxic, bosnya narsistik. Gaji bulan ini mesti dibagi untuk orang tua dan anak. Mau sustainable living, ongkosnya mahal. Notifikasi kantor berdenting hingga tengah malam. Generasi Zilenials hidup di tengah disrupsi teknologi, persaingan ketat, dan kerusakan lingkungan.
Kalau kita melihat negara kecil seperti Singapura, mereka bisa konsisten dengan konsep “garden city” dan mengalokasikan lebih dari 50% wilayahnya untuk ruang terbuka hijau di tengah lahan mereka yang terbatas. Ini jelas menunjukkan bahwa ruang hijau yang banyak bisa terwujud jika ada kemauan politik yang besar.
Kalau mau, pemerintah kota sebenarnya juga tak perlu pusing sendiri. Peran swasta melalui program corporate social responsibility (CSR) sebenarnya bisa didorong, misalnya dengan mengajak mereka membangun bersama taman tematik atau hutan kota mini.
Pemerintah kota juga bisa membuka ruang partisipasi warga, mulai dari menyampaikan kebutuhan ruang hijau di lingkungannya sampai terlibat langsung dalam proses perencanaan.
Contoh suksesnya bisa dilihat pada Taman Literasi Blok M dengan pendekatan place making yang melibatkan komunitas mampu menghadirkan ruang publik yang sangat hidup.
Ruang hijau yang ideal tentu bukan cuma soal seberapa luas, tapi apakah benar-benar fungsional dan bermanfaat serta berkualitas secara desain dan pemeliharaan. Selain itu, ruang ini juga harus mudah diakses, tersebar merata, dilengkapi fasilitas beragam, inklusif, mengedepankan aspek keberlanjutan ekologis, aman, dan terintegrasi dengan sistem transportasi serta tata kota.
Menghadirkan kembali ruang hijau ke tengah kota adalah langkah wajib menuju keberlanjutan. Dan generasi muda kita sudah memberi sinyal kuat bahwa itulah yang mereka butuhkan untuk kualitas hidup yang lebih baik di masa depan.