Tag: sampah plastik

  • Kurangi Sampah Plastik, AZWI Rekomendasikan Larangan terhadap 5 Jenis Plastik Sekali Pakai

    Kurangi Sampah Plastik, AZWI Rekomendasikan Larangan terhadap 5 Jenis Plastik Sekali Pakai

    7cloud.asia – Sampah plastik telah menimbulkan masalah serius bagi lingkungan. Dan, sebuah penelitian mengungkap, Indonesia merupakan salah satu produsen sampah plastik terbesar di dunia.

    Indonesia berada di peringkat kedua sebagai produsen sampah plastik yang dibuang ke laut dengan menghasilkan 1,3 juta ton per tahun (Jambeck, 2015).

    Tingginya sampah plastik ini sebagian besar dihasilkan dari penggunaan plastik sekali pakai. Sampah plastik dari plastik sekali pakai sangat problematik bagi lingkungan, karena hanya sekali digunakan lantas menjaid sampah yang butuh ratusan tahun untuk dapat terurai.

    Baca: Pawai Bebas Plastik usung tiga tuntutan tuk kurangi sampah plastik

    Meski demikian plastik sekali pakai masih sering dan banyak digunakan oleh masyarakat dengan alasan murah dan praktis.

    Mengingat ancaman besar yang ditimbulkan sampah plastik yang dipicu plastik sekali pakai pada lingkungan, sejumlah organisasi lingkungan yang tergabung dalam Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) sejak beberapa waktu lalu gencar mengampanyekan “Ban the Big 5”

    AZWI menyerukan pelarangan penggunaan 5 produk plastik sekali pakai terbesar diantaranya styrofoam, plastik sekali pakai, sedotan plastik, kemasan sachet, dan microbeads.

    Kemasan plastik, dan plastik multi-bahan sekali pakai lainnya seperti popok, juga merupakan sumber utama sampah plastik.

     

    Baca: 5 Perusahaan penghasil sampah plastik terbesar di dunia

    Untuk itu AZWI yang antara lain beranggotakan GIDKP, Komunitas Nol Sampah, PPLH Bali, Greenpeace Indonesia, ECOTON, Nexus3, ICEL, dan YPBB menargetkan perusahaan Fast Moving Consumer Goods (FMCG) untuk mengatasi masalah sampah plastik ini.

    Perusahaan harus ikut bertanggung jawab yang lebih besar atas limbah mereka, mendesain ulang kemasan, dan memikirkan kembali metode alternatif untuk penjualan produk dalam kemasan bulk.

    Dilansir di aliansizerowaste.id, AZWI menyebut pada Tahun 2019 pihaknya memberikan dukungan pengarahan kepada Provinsi Bali di Mahkamah Agung Republik Indonesia dalam kasus judisial review antara Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI) dengan Gubernur Bali.

    Baca: Kurangi sampah plastik dengan sistem isi ulang dari siklus

    Mahkamah Agung menegaskan bahwa pemerintah daerah memiliki kewenangan untuk melarang plastik sekali pakai melalui Putusan MK Nomor 29 P / HUM / 2019.

    Ini memberikan yurisprudensi penting sebagai amunisi hukum bagi advokasi kebijakan soal larangan plastik sekali pakai ke kota/kabupaten lainnya.

    Upaya menghindari plastik sekali pakai ini adalah langkah konkret pengurangan sampah plastik sesuai UU Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, yang dilakukan dengan cara melarang, dan/atau membatasi produksinya, distribusinya, penjualannya, dan/atau pemakaiannya.

    Baca: Kampanye guna ulang untuk kurangi sampah plastik

    Saat ini kantong plastik sekali pakai menjadi salah satu penyumbang terbanyak sampah di Indonesia. Pada tahun 2019 sekitar 9.52 juta ton sampah plastik telah dihasilkan.

    Sekitar 10.95 juta lembar sampah kantong plastik setiap tahun ‘hanya’ berasal dari 100 toko anggota APRINDO (Asosiasi Pedagang Ritel Indonesia). 

    Salah satu penanganan sampah plastik sekali pakai adalah melalui penerapan peraturan pemerintah daerah untuk membatasi penggunaan plastik sekali pakai.

    Saat ini sudah ada puluhan kota/kabupaten/provinsi yang menerapkan peraturan ini diantaranya yakni Provinsi DKI Jakarta, Kota Semarang, Kota Balikpapan, Kota Bekasi, Kota Bogor, Provinsi Bali, dan Kota Banjarmasin. 

    Baca: Yuk kenali jenis sampah plastik dan nilai ekonominya

     

  • Produsen Dinilai Tak Serius dan Tak Transparan Kelola Sampah Plastik

    Produsen Dinilai Tak Serius dan Tak Transparan Kelola Sampah Plastik

    7cloud.asia – Ini kisah sampah plastik. Di pedalaman Papua, para aktivis lingkungan dari Greenpeace menemukan botol air kemasan berbahan PET yang sebenarnya bisa didaurulang. 

    Tapi karena di Papua belum ada instalasi daur ulang sampah plastik, maka botol air kemasan bertahan menjadi sampah. 

    Temuan ini memicu tanda tanya tentang keseriusan produsen mengurangi sampah plastik yang mereka hasilkan. 

    Pasalnya, komitmen produsen dalam mengurangi sampah plastik sangat besar pengaruhnya pada produksi sampah nasional.

    Inisiatif masyarakat saja dinilai tidak cukup untuk menahan laju produksi sampah plastik jika tidka didukung dengan kebijakan dan kemauan produsen.

    Baca: Daftar lima produsen sampah plastik dunia

    Itu sebabnya, salah satu yang dituntut Koalisi Pawai Bebas Plastik dalam aksi mereka Minggu (30/7/2023) lalu adalah tanggung jawab produsen mengelola sampah plastik pasca konsumsi.

    Koalisi Bebas Plastik juga menuntut transparansi produsen terkait peta jalan pengurangan sampah plastik mereka.

    Muharram Atha Rasyadi, Pengkampanye Urban Greenpeace Indonesia dalam jumpa pers Pawai Bebas Plastik 2023 mengatakan transparansi penting, agar masyarakat bisa memantau langkah-langkah yang sudah dilakukan. 

    “Karena ketika transparan, peta jalan (pengurangan sampah plastik, red) bisa diakses oleh publik yang sebagian besar adalah konsumen produk mereka,” imbuh Atta.

    Baca: Konsep guna ulang dinilai lebih efektif kurangi sampah plastik

    Ketika kita bisa melihat, kita bisa mengevaluasi langkah pengurangan sampah yang dilakukan oleh masing-masing produsen. 

    “Dengan demikian mereka bisa memilih produsen yang program pengurangan sampahnya jauh lebih serius,” ujarnya. 

    Namun, sayangnya hingga saat ini pihak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) belum bersedia membuka data itu secara transparan dengan alasan konfidensial.

    Padahal, menurut Atta, yang dibutuhkan publik adalah data atau skema kasar tentang langkah mereka mengurangi sampah plastik yang diproduksi dan bukan sesuatu yang mendetail yang merupakan rahasia perusahaan.

    Baca: Dunia targetkan turunkan sampah plastik hingga 80 persen

    Kesadaran produsen di Indonesia dalam mengurangi sampah plastik mereka memang masih memprihatinkan.

    Pedoman pelaksanaan kewajiban produsen dalam pengurangan sampah termasuk sampah plastik telah dirilis sejak 2019.

    Pedoman itu diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. 75 Tahun 2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen.

    Tujuannya mendorong produsen mengurangi sampah terutama sampah plastik hingga 30 persen dibandingkan prediksi timbulan sampah plastik tahun 2029.

     
    Semula, Peta Jalan Pengurangan Sampah Plastik oleh Produsen rencananya terimplementasi penuh tahun 2023 ini.
     
     
    Namun, berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan KLHK, hingga Juni 2023, baru ada 42 produsen yang telah menyerahkan dokumen perencanaan pengurangan sampah plastik mereka.

    Dari angka tersebut, 16 di antaranya sudah mulai melaksanakan pilot project hingga tahap implementasi.

    “Tahun ini, diharapkan ada 408 produsen yang akan menyelesai dokumen perencanaan peta jalan pengurangan sampah,” kata Direktur Pengurangan Sampah KLHK, Vinda Damayanti Ansjar, seperti dikutip Liputan 6 beberapa waktu lalu.

    Baca: KLHK ajak warga ‘boikot’ produk yang tak peduli sampah plastik

     

  • Guna Ulang Dinilai Lebih Efektif Kurangi Sampah Plastik, Tapi Masih Diabaikan

    Guna Ulang Dinilai Lebih Efektif Kurangi Sampah Plastik, Tapi Masih Diabaikan

    7cloud.asia – Penerapan prinsip guna ulang menjadi salah satu isu yang diserukan Pawai Bebas Plastik 2023 untuk memerangi sampah plastik di Indonesia.

    Ada alasan mengapa Koalisi Pawai Bebas Plastik lebih menganjurkan guna ulang ketimbang daur ulang yang selama ini jauh lebih populer dalam menangani sampah plastik.

    Hal ini karena guna ulang nyaris tidak membutuhkan energi dan menghasilkan lebih sedikit sampah plastik.

    Berbagai kajian menunjukkan, selain efektif mengurangi sampah plastik, penerapan guna ulang bisa mengurangi emisi gas rumah kaca yang memicu terjadinya perubahan iklim.

    Penggiat persampahan, Hanifah Nurawaliah, dalam diskusi “Peran Pemuda dan Pemerintah Daerah Dalam Mendorong Gerakan Guna Ulang Dalam Pengelolaan Sampah” di  Bandung, Sabtu (27/7/2023) mengatakan, penerapan prinsip guna ulang bisa mengurangi emisi karbon hingga 54 persen.

    Baca: Pawai Bebas Plastik serukan penerapan guna ulang

    Sayangnya, pemerintah saat ini masih belum serius mendorong prinsip guna ulang ini. Prinsip guna ulang belum menjadi kewajiban bagi perusahaan FMCG yang banyak memproduksi sampah plastik.

    Guna ulang masih sebatas pilihan bagi perusahaan FMCG dalam peta jalan penghapusan sampah plastik di Indonesia.

    “Sehingga banyak perusahaan yang lebih memilih daur ulang karena dinilai lebih sesuai dengan situasi mereka,” ujar Muharram Atha Rasyadi, Pengkampanye Urban Greenpeace Indonesia dalam jumpa pers Pawai Bebas Plastik 2023 beberapa waktu lalu. 

    Perusahaan, lanjut Atta, juga cenderung memastikan bahwa kemasan mereka bisa didaur ulang. Masalahnya, untuk menghasilkan kemasan baru itu mereka masih menggunakan virgin plastik yang akan menghasilkan sampah plastik baru. 

    “Ini juga tidak memenuhi kaidah ekonomi sirkular yang sebenarnya, karena produk-produk mereka setelah diolah keluarannya adalah produk lain sementara tetap dihasilkan sampah plastik,” tandasnya.

    Baca: Seperti ini seharusnya ekonomi sirkular itu

    Direktur Eksekutif Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP) Tiza Mafira mengatakan bahwa guna ulang atau atau reuse merupakan hal mendasar dalam mengurangi sampah plastik. 

    Menurut Tiza, saat ini telah muncul berbagai inisiatif dari masyarakat untuk menerapkan prinsip guna ulang. Sayangnya hal ini belum diwadahi oleh sistem yang memadai.

    Salah satu inisiatif tersebut antara lain ditunjukkan oleh Siklus, yang menjual berbagai produk kebutuhan rumah tangga seperti cairan pencuci piring, sabun, sampo, deterjen, minyak goreng, kopi dengan sistem isi ulang.

    Saat ini Siklus masih terbatas operasinya yakni di Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia saja.

    Selain itu juga ada Komunitas Guna Ulang Aja yang berdiri di Bandung sejak bulan Maret 2023 lalu.

    Baca: Kurangi sampah plastik dengan sistem isi ulang dari Siklus

    Dilansir wartaekonomi.com, Guna Ulang Aja berfokus pada kampanye dan edukasi pengurangan sampah melalui praktik guna ulang.

    “Karena faktanya kondisi persampahan kita cukup menyedihkan. Pada tahun 2022 lalu misalnya, produksi sampah nasional mencapai 69 juta ton, hanya 74 persen saja yang terkelola. Sementara Masyarakat Kota Bandung memproduksi sekitar 1.500 ton sampah per hari,” kata koordinator Guna Ulang Aja Muhammad Farhan Rizky.

    Ada juga Izifill, perusahaan penyedia stasiun air minum isi ulang dengan menggunakan dispenser.

    Pendiri Izifill, Ichsan Mulia belakangan berkembang tren di kalangan kaum muda untuk menggunakan wadah yang bisa dipakai berulang-ulang, misalnya tumbler. Dia menuturkan, Izifill didirikan untuk merespons hal itu.

    “Mereka membawa tumbler, kalau tidak ada stasiun pengisian airnya, terus bagaimana,” kata dia.

    Beroperasi sejak Juni 2022, Izifill kini meliilki delapan unit stasiun air minum isi ulang di Bandung dan Jakarta. Ichsan mengklaim, telah mendistribudikan hampir 2000 liter air, dikonsumsi 820 orang, mengurangi lebih dari 5000 botol plastik.

    Baca: Tiga tuntutan Pawai Bebas Plastik 2023

     

     

     

     

  • Sumber Sampah Plastik Sekali Pakai dan Dampaknya Bagi Lingkungan

    7cloud.asia – Sampah plastik sekali pakai hingga saat ini masih menjadi masalah lingkungan yang serius di Indonesia.

    Hal ini karena dibutuhkan waktu ratusan tahun agar sampah plastik sekali pakai bisa terurai.

    Sampah plastik sekali pakai umumnya dihasilkan dari kemasan produk makanan dan minuman, produk perawatan tubuh, serta produk kebersihan rumah tangga.

    Jenis sampah plastik sekali pakai bisa terdiri dari kemasan plastik foam, atau terdapat juga kemasan multilapis seperti sachet atau pouch.

    Baca: Dunia targetkan produkti sampah plastik turun 80 persen 

    Dampak Buruk Sampah Plastik Sekali Pakai

    Dilansir di laman resmi Gerakan Diet Kantung Plastik, sampah plastik sekali pakai tak hanya berdampak pada kualitas lingkungan saja, tapi juga mempengaruhi kesehatan manusia.

    Sampah plastik sekali pakai tidak bisa diolah menjadi kompos, tetapi terurai menjaid mikroplastik yang bisa membahayakan kesehatan manusia. 

    Mikroplastik ini bersifat layaknya transporter, memiliki kecenderungan mengikat racun yang membahayakan kesehatan manusia. 

    Baca: Baru segelintir perusahaan yang serius tangani sampah plastiknya

    Jurnal Environment International yang berjudul  “Discovery and Quantification of Plastic Particle Pollution in Human Blood” pada tahun 2022 mendeteksi adanya mikroplastik dalam darah manusia. 

    Lalu, terdapat studi terbaru yang diterbitkan pada jurnal Polymers yang menganalisis mikroplastik mengalir dalam air susu ibu. 

    Sebanyak 75 persen dari 34 ibu sehat di Roma, Italia terdeteksi menghasilkan ASI dengan kandungan mikroplastik seminggu setelah melahirkan.

    Baca: KLHK ajak warga ‘boikot’ produk yang tak peduli sampah plastiknya

    Kurangi Sampah Plastik dengan Guna Ulang

    Salah satu upaya mengurangi sampah plastik sekali pakai adalah dengan cara guna ulang.

    Dengan semakin seriusnya sampah plastik, maka tidak ada lagi alasan untuk menunda larangan plastik sekali pakai dan menggencarkan sistem guna ulang.

    Guna ulang dianggap sebagai solusi yang paling tepat untuk mengatasi timbulan sampah plastik sekali pakai.

    Baca: Pawai Bebas Plastik serukan konsep guna ulang

    Guna ulang juga sudah mulai banyak diaplikasikan di seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia.

    Masyarakat Indonesia sebenarnya sudah banyak mengenal kebiasaan yang menerapkan sistem guna ulang.

    Misalnya, kebiasaan untuk membeli jamu dari mbok jamu yang keliling di depan rumah dengan menggunakan gelas yang bisa digunakan kembali, membeli mie bakso dari pedagang gerobak keliling yang menggunakan piring yang kita miliki di rumah, hingga membeli minuman yang dikemas dengan gelas atau botol kaca.

    Sudah saatnya kebiasaan baik ini mulai kita terapkan kembali untuk kurangi sampah plastik.

    Baca: Daftar perusahaan penghasil sampah plastik terbesar di dunia

     

     

  • Dosen UGM Usulkan Sistem Pengelolaan Sampah Berbayar tuk Atasi Masalah TPA Piyungan

    Dosen UGM Usulkan Sistem Pengelolaan Sampah Berbayar tuk Atasi Masalah TPA Piyungan

    7cloud.asia – Penutupan Tempat Pembuangan Akhir atau TPA Piyungan memicu darurat sampah di sejumlah wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta atau DIY.

    TPA Piyungan adalah  tempat pemrosesan akhir sampah dari Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, dan Kabupaten Bantul, yang terletak di Dusun Ngablak dan Watugender, Desa Sitimulyo, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul.

    TPA Piyungan berdiri sejak sekitar 40 tahun lalu. Memiliki luas 16 hektare menggunakan sistem sanitary landfill.

    Pengelolaan sampah di TPA Piyungan dilakukan dengan cara membuang dan menumpuk sampah di lokasi tertentu dengan harapan agar terurai dan mengalami dekomposisi.

    Baca: Kurangi sampah plastik dengan tinggalkan 5 jenis plastik sekali pakai

    Berubahnya gaya hidup kemudian mempengaruhi karakteristik sampah yang dibuang ke TPA Piyungan.

    Jika sekitar 40 tahun yang lalu sampah didominasi oleh sampah organik, sejak tahun 1980-an mulai banyak sampah plastik yang dibuang ke TPA Piyungan. 

    Akibatnya, sampah plastik yang tidak bisa cepat terurai membuat kapasitas TPA Piyungan turun dengan cepat. Sampah plastik yang ditumpuk begitu saja berpotensi longsor dan juga memicu masalah ekologi lainnya. 

     

    Untuk mengatasi kondisi ini, penggiat persampahan dari Universitas Gadjah Mada Dr. Mohammad Pramono Hadi, M.Sc mengusulkan diterapkannya konsep  pengelolaan sampah berbayar.

    Baca: Tiga tuntutan Pawai Bebas Plastik 2023

    “Konsep dari sampah berbayar ini adalah jika satu keluarga ingin membuang sampah dengan membayar sedikit, maka harus mengelola sampahnya sendiri,” terangnya sebagaimana dikutip ugm.ac.id.

    Konsep pengelolaan sampah berbayar ini, lanjut Pramono, dapat dilakukan dengan melakukan pemilahan sampah secara mandiri.

    Sampah dari bahan organik dapat dikelola sendiri dengan dijadikan kompos, kemudian sampah dari kertas disisihkan sendiri serta sampah plastik juga disisihkan sendiri yang nantinya akan ada pihak ketiga yang akan mengambil.

    Harapannya nanti yang diambil adalah residunya saja sehingga volume sampah yang dibuang ke TPA menjadi lebih sedikit.

    Baca: Kenali jenis sampah plastik dan nilai ekonominya

    “Namun pasti akan ada masyarakat yang mampu membayar lebih banyak dikarenakan tidak sempat mengelola sampahnya sendiri,” imbuh Pramono.

    Konsep pengelolaan sampah berbayar ini akan mendorong masyarakat untuk menerapkan proses 3R (Reduce, Reuse, Recycle) untuk menghemat uang yang harus dikeluarkan untuk sampah.

    Pramono mencontohkan, proses 3R antara lain dilakukan dengan mengumpulkan sampah-sampah sisa makanan di suatu daerah tertentu akan dikumpulkan untuk bahan makan maggot.

    Hal-hal semacam ini, ujar Praono yang merupakan dosen Fakultas Geografi UGM tersebut, diharapkan akan muncul dengan sendirinya.

    Baca: Cara mudah memilah sampah dari rumah

    Konsep pengelolaan sampah berbayar ini, lanjutnya, juga diterapkan pada masyarakat yang membuang sampah sembarangan bisa diadukan dan dijerat dengan tindak pidana ringan dan dijatuhi sanksi.

    Metode sampah berbayar menurut Parmono, adalah solusi untuk masalah hulu yaitu pada masyarakat.

    Di sisi hilir, perlu adanya penerapan teknologi Refuse Derived Fuel atau RDF untuk pengelolaan sampah di TPA Piyungan.

    Dengan teknologi ini, sampah yang terkumpul sebanyak 600 ton perhari di TPA Piyungan dapat dikelola dengan dicacah, dikompres, dan diangin-anginkan kemudian dikemas maka akan menjadi bahan bakar.

    Baca: Ketimbang bangun ITF Sunter, Pemprov DKI Jakarta lebih pilih sistem RDF

    Plastik, ujarnya, memiliki kalori untuk menggantikan fungsi batubara pada prosesnya.

    Dengan sistem ini, sampah di TPA Piyungan bisa ditambang sedikit demi sedikit kemudian dipilah dan diolah satunya menjadi pupuk dan satunya menjadi bahan bakar.

    Cara ini diyakini akan bisa memfungsikan lagi luas TPA Piyungan. Namun langkah ini harus dilakuksn secara terintegrasi dan terencana dengan matang, dan  dilindungi dengan Perda yang kuat

    “Proses secara mekanistik dari sampah siap menjadi bahan bakar dihitung membutuhkan biaya berapa sehingga nanti dapat ditentukan ongkos sampah berbayarnya menjadi berapa,” pungkasnya. 

    Baca: Teknologi pengelolaan sampah ini mampu ubah sekilo sampah seharga segram emas

     

     

  • Dorong Nol Sampah, Klub Pantai Potato Head Bali Bangun Fasilitas Pengolahan Sampah Plastik

    Dorong Nol Sampah, Klub Pantai Potato Head Bali Bangun Fasilitas Pengolahan Sampah Plastik

    7cloud.asia – Potato Head, sebuah klub pantai kelas atas di Bali telah lama mendorong upaya nol sampah dengan membuat furnitur dan ornamen dekorasi sendiri dari sampah plastik. 

    Kursi, kalung, kotak tisu, dan tatakan gelas di klub pantai Potato Head yang berlokasi di Seminyak Bali ini, dibuat di fasilitas yang mereka bangun sendiri dengan menggunakan berkilo-kilo  sampah plastik. 

    Menurut Chief Experience Officer Potato Head, Simon Pestridge, usaha untuk mengatasi sampah termasuk sampah plastik di Bali sebetulnya sudah mulai dilakukan klub pantai itu sejak didirikan.

    Baca: Rumah plastik di Bali ini dibangun warga negara Prancis

    Sejak mendirikan Potato Head 12 tahun lalu, ujar Simon, pihaknya memanfaatkan 6 ribu daun jendela bekas dari berbagai penjuru Indonesia untuk kebutuhan dekorasi.

    “Idenya adalah kami harus terus mencari cara-cara baru memanfaatkan apa yang selama ini dianggap sampah untuk sesuatu yang bisa menciptakan pengalaman yang indah. Jadi itu sudah mendarah daging di Potato Head sejak awal,” jelasnya.

    Pestridge mengatakan, perhatian klub pantainya mulai terfokus pada sampah plastik pada tahun 2016, ketika sampah jenis itu mencemari banyak pantai di Indonesia, terutama Bali, dan merusak kehidupan laut.

    Baca: Cara Robries memberi nilai lebih pada sampah plastik

    Sampah, termasuk sampah plastik itu, katanya, berasal dari sungai-sungai yang dipenuhi polutan plastik. Ia dan timnya merasa terpanggil untuk melakukan sesuatu untuk mengatasinya.

    “Ini benar-benar sebuah proses yang didasarkan pada kreativitas, jadi kami melihat limbah yang dihasilkan dan kemudian kami mencoba untuk berkreasi tentang apa yang dapat kami lakukan dengannya, menggunakan sains, desain, berbagai elemen,” imbuhnya.

    Dari Juni tahun 2022 hingga April 2023, Potato Head, menurut Prestidge telah mendaur ulang sekitar seribu kilogram sampah plastik untuk berbagai proyek ramah lingkungan.

    Baca: Guna ulang lebih disarankan ketimbang daur ulang, mengapa?

    Tidak hanya sampah plastik, Potato Head juga, berupaya meminimalisir sampah lainnya seperti minyak bekas dan botol anggur kosong.

    Kedua barang itu, contohnya, digunakan, untuk membuat lilin yang dibutuhkan untuk dekorasi dan penerangan. Pestridge mengaku, apa yang dilakukan klub pantainya mendapat sambutan positif para pelanggannya.

    “Kami memilik etos, indah dan berkelanjutan. Oleh karena itu apa yang kami ciptakan harus indah dan menciptakan pengalaman yang lebih baik bagi para tamu tapi mendukung keberlanjutan lingkungan. Dan mereka menanggapi positif hal ini,” komentarnya.

    Baca: Kurangi sampah plastik, kurangi 5 jenis sampah plastik ini

    Pantai-pantai ikonik Bali dalam beberapa tahun terakhir kerap dipenuhi sampah plastik, terutama saat musim hujan mencapai puncaknya.

    Tak sedikit di antaranya berasal dari kiriman pulau di dekatnya, Jawa. Angin kencang dan hujan menyapu sampah dari Jawa ke Bali.

    Meski demikian, penduduk lokal dan banyak wisatawan optimistis bahwa Bali bergerak ke ‘arah yang benar’.

    Baca: Tuntutan Pawai Bebas Plastik 2023 untuk kurangi sampah plastik

    Napas Vongkusolkit, turis asal Thailand, mengatakan, “Sungguh mengesankan inisiatif orang Bali, hotel, dan apa yang dilakukan kebanyakan orang di sekitar sini dalam hal mengumpulkan dan mendaur ulang sampah.”

    Upaya yang dilakukan pemerintah daerah untuk mengurangi sampah plastik di Bali antara lain melalui pelarangan penggunaan kantong plastik di supermarket-supermarket.

    Polusi yang diakibatkan sampah plastik mengancam eksistensi banyak spesies laut, dan mikroplastik kini telah menjadi bagian dari rantai makanan mereka.

    Kelompok-kelompok lingkungan memperingatkan sampah plastik menimbulkan konsekuensi yang parah bagi kehidupan dan planet ini.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Pegiat Lingkungan Asal Prancis Bangun Rumah dari Sampah Plastik di Bali

    Pegiat Lingkungan Asal Prancis Bangun Rumah dari Sampah Plastik di Bali

    7cloud.asia – Sejumlah pegiat lingkungan di Bali yang peduli pada sampah plastik menggelar berbagai cara untuk mengatasi limbah yang sulit terdekomposisi itu.

    Para pegiat lingkungan di Bali mendaur ulang sampah plastik menjadi berbagai benda yang bermanfaat dan bahkan sama sekali berbeda dengan bentuk asalnya.

    Untuk tahu rasanya tinggal dalam rumah yang hampir semuanya terbuat dari sampah plastik, kita bisa berkunjung ke rumah aktivis lingkungan asal Prancis yang kini tinggal di Bali, Gary Bencheghib.

    Baca: Sumber terbesar sampah plastik yang cemari lingkungan

    Rumah seluas 12 meter persegi yang dinamai “Pondok Alit” itu sepenuhnya terbuat dari sampah plastik. Tempat tidur, kamar mandi dan dapur dibuat dari sampah plastik yang dikumpulkan dari sungai dan kemudian diproses

    “Kita menggunakan 35.000 kantong keresek plastik yang kita olah menjadi papan yang dibutuhkan untuk membuat dinding, lantai, dan atap (rumah ini),” jelasnya.

    Telah lebih dari setengah tahun, Bencheghib, mengaku tidur di rumah bergaya minimalis itu. Jadi jangan harap pengunjung menemukan benda mewah atau moderen di sana.

    Baca: Guna ulang lebih efektif kurangi sampah plastik, tapi diabaikan

    Untuk mengatasi udara Bali yang panas, rumah dari sampah plastik ini mengandalkan sistem ventilasi udara alami.

    “The inspiration behind this is really to show that apapun dari sampah palstik yang paling kotor bisa menjadi karya kreatif bila kita giving them the second life,” komentarnya.

    Penerima penghargaan bergengsi Ramon Magsaysay Award tahun 2022 ini adalah pendiri organisi nirlaba “Sungai Watch”.

    Baca: Kurangi sampah plastik dengan sistem isi ulang dari Siklus

    Sungai Watch didirikan pada tahun 2020 ini memiliki tujuan utama membersihkan sungai-sungai yang tersumbat, pantai-pantai yang kotor, dan tempat-tempat pembuangan sampah ilegal di sekitar Bali dan Jawa.

    Target utama organisasi itu adalah menghentikan sampah, khususnya sampah plastik, dibuang masuk ke laut.

    Sampah plastik memang menjadi masalah serius bagi lingkungan di Indonesia, termasuk di Bali. 

    Baca: Robries memberi nilai lebih pada sampah plastik

    Kementerian Kehutanan dan Lingkungan mencatat, sepanjang tahun 2021 saja Bali memproduksi 915.500 ton sampah yang sebagian besar berupa sampah plastik.

    Kondisi ini membuat Bali provinsi penghasil sampah terbesar ke-8 di Indonesia. Namun kini berbagai upaya telah dilakukan untuk mengurangi sampah plastik ini.

    Setelah menyelesaikan rumah pertamanya yang terbuat dari sampah plastik yang didaur ulang, Bencheghib ingin mengembangkan lebih lanjut model rumah itu dan memproduksinya secara massal untuk korban bencana alam.

    Baca: Baru dua produsen yang serius garap sampah plastiknya

    Namun, ia mengaku, usahanya itu masih berliku mengingat tidak murahnya upaya mendaur ulang sampah plastik menjadi bahan baku rumah.

    Ia hanya berharap, jika teknologi memungkinkan, rumah plastik kelak dibuat secara massal di pabrik.

    “Apakah bisa jadi seperti prefab, artinya dibuat di pabrik sehingga di lapangan kita hanya tinggal merakitnya,” jelasnya.

    Baca: Dunia targetkan turunkan sampah plastik hingga 80 persen pada 2040

    Tidak hanya Gary dan Sungai Watch yang berusaha mendaur uang sampah plastik untuk menyelamatkan lingkungan di Bali.

    Salah satu klub pantai kelas atas di Bali juga mendorong upaya nol sampah dengan membuat furnitur dan ornamen dekorasi sendiri dari sampah plastik.

    Kursi, kalung, kotak tisu, dan tatakan gelas di klub pantai Potato Head dibuat di fasilitas mereka sendiri dengan menggunakan berkilo-kilo sampah plastik.

    Namun detail seperti apa yang dilakukan Potato Head dalam mengolah sampah plastik, ikuti di tulisan selanjutnya. 

    Sumber: VOA Indonesia

     

  • Antisipasi Larangan Plastik Sekali Pakai, Ekosistem Guna Ulang Harus Dibangun dari Sekarang

    Antisipasi Larangan Plastik Sekali Pakai, Ekosistem Guna Ulang Harus Dibangun dari Sekarang

    Foto: cleanomics

    7cloud.asia – Bersiap menghadapi pelarangan plastik sekali pakai pada tahun 2030, Gerakan Indonesia Diet Kantung Plastik (GIDP) kian menggencarkan kampanye guna ulang sebagai solusi sampah plastik.

    Dalam menjalankan program tuk atasi sampah plastik ini, GIDP merilis Reuse Infrastructure Grid yang menggambarkan ekosistem dan peran/relasi pelaku inisiatif guna ulang dalam kerangka sirkularitas yang berkelanjutan.

    Model ini mencoba untuk menawarkan satu pandangan yang holistik tentang jaringan ekosistem guna ulang tuk kurangi sampah plastik yang diisi oleh berbagai pihak yang terkait.

    Pihak-pihak yang harus terlibat dalam sistem guna ulang ini adalah rumah tangga/konsumen, transportasi dan logistik, jasa pencucian, industri manufaktur, jasa pengelola wadah guna ulang, ritel, serta pengambil kebijakan.

    Baca: Guna ulang leboh efektif kurangi sampah plastik

    Pada saat bersamaan, organisasi Break Free From Plastic dan University of Portsmouth, Inggris meluncurkan laporan berjudul “Making Reuse A Reality”, yang memaparkan empat tahap penting untuk mewujudkan sistem guna ulang.

    Laporan yang diterjemahkan ke dalam bahasan Indoensia dengan judul “Mewujudkan Sistem Guna Ulang” itu diluncurkan pada Kamis (3/8/2023) yang diselenggarakan GIDP dengan mengundang sejumlah pemangku kepentingan.

    Langkah pertama membangun sistem guna ulang adalah dari kebijakan pemerintah yang antara lain dengan melarang plastik sekali pakai.

    Sedangkan tahap tertingginya adalah menciptakan kondisi yang memungkinkan untuk membuat sistem guna ulang menjadi norma yang baru.

    Dalam laporan ini, dijabarkan mengenai definisi guna ulang sebagai sistem, dan bukan soal produk ataupun alternatif pengganti plastik sekali pakai.

    Baca: Menyoal galon sekali pakai, solusi atau masalah bangi lingkungan

    “Reuse adalah sebuah sistem. Sistem yang mendorong banyak penggunaan kemasan secara berulang, dan ini adalah sistem yang sebenarnya tidak mengalihkan kepemilikan kemasan kepada konsumen,” ujar Tiza Mafira, Direktur Eksekutif GIDP dalam diskusi tersebut.

    Tiza menegaskan, konsumen hanya membutuhkan produk, sehingga seharusnya hanya kepemilikan produk yang berpindah ke konsumen. Dalam sistem guna ulang, operatorlah yang menjadi pemilik kemasan.

    “Pemilik kemasan lah yang bertanggung jawab untuk mengambil kembali kemasan itu untuk dicuci demi menjaga higienitas, mengisi kembali produk ke dalam kemasan dan mendistribusikannya,” tandas Tiza.

    Baca: Mengapa guna ulang lebih disarankan ketimbang daur ulang

    Dalam ranah kebijakan nasional, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) juga telah memiliki Peraturan Menteri LHK No P75/2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen yang juga mendorong sistem guna ulang.

    Vinda Damayanti Ansjar, Direktur Pengurangan Sampah KLHK mengatakan praktik guna ulang sebenarnya sudah dilakukan sejak lama oleh produk lokal atau skala UMKM.

    Artinya masyarakat sudah bisa terima dan welcome dengan inisiatif seperti ini. Idealnya, sistem guna ulang ini juga bisa diberlakukan untuk merek-merek yang sudah established.

    Menurut Vinda, penerapan guna ulang di lapangan sangat memungkinkan. Bahkan guna ulang ini adalah bentuk tradisi yang kita miliki.

    Baca: Produsen dinilai tak serius dan tak transparan soal pengelolaan sampah plastik

    Misalnya seperti mbok jamu keliling dan tukang minyak curah yang sejak dulu sudah kita gunakan.

    “Untuk itu, kami juga mendorong para produsen untuk bersedia mengadopsi sistem guna ulang dalam bisnisnya,” ujarnya.

    Namun, sayangnya hingga kini sistem guna ulang ini belum menjadi manadatory atau kewajiban bagi perusahaan. 

    Secara global, perumusan solusi bersama atas sampah plastik telah dibicarakan  dalam perjanjian internasional polusi plastik atau dikenal dengan Global Plastic
    Treaty. Dalam treaty itu, guna ulang juga sebagai salah satu solusi. 

    Sehingga sudah selayaknya pemerintah lebih serius dalam membangun ekosistem guna ulang dari sekarang, sehingga Indonesia lebih siap menghadapai larangan plastik sekali pakai pada 2030. 

    Baca: Penerapan sistem guna ulang dari SIKLUS

     

  • Jadi Penghasil Sampah Plastik Terbanyak, Mungkinkah Terwujud Pasar Bebas Plastik?

    Jadi Penghasil Sampah Plastik Terbanyak, Mungkinkah Terwujud Pasar Bebas Plastik?

     

    7cloud.asia – Antusiasme masyarakat untuk mendukung Program Pasar Bebas Plastik sangat tinggi.

    Program pasar bebas plastik merupakan kolaborasi antara Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP) dengan pengelola pasar tradisional di daerah (Jakarta, Bandung, Banjarmasin, Bogor, Surabaya, Denpasar, dan Gianyar).

    Ujicoba program pasar bebas plastik ini sudah dimulai sejak Desember 2019 di Pasar Tebet Barat, Jakarta Selatan yang kemudian disusul di sejumlah daerah lainnya.

    Baca: Tinggalkan lima jenis plastik sekali pakai ini tuk kurangi sampah plastik

    Aktivitas utama program pasar bebas plastik antara lain adalah pelatihan tata cara bertransaksi bebas plastik antara pedagang dengan konsumen;  rampok plastik, bentuk edukasi yang dilakukan kepada konsumen dengan cara menukar kantong plastik yang digunakan dengan kantong guna ulang.

    Selain itu, GIDP juga melakukan riset konsumsi plastik, menghitung penurunan atau peningkatan konsumsi plastik sekali pakai pada saat program berjalan.

    Tak lupa GIDP menyebarluaskan informasi program pasar bebas plastik, baik kepada pedagang pasar maupun masyarakat luas yang menjadi konsumen di pasar tradisional. 

    Baca: Tiga tuntutan koalisi Pawai Bebas Plastik tuk kurangi sampah plastik

    Program uji coba Pasar Bebas Plastik secara spesifik menyasar pasar tradisional atau pasar rakyat.

    Berdasarkan riset yang telah dilakukan oleh GIDKP, pasar rakyat merupakan salah satu sumber penghasil sampah plastik terbesar di Indonesia. Sebanyak 416 juta lembar kantong plastik dalam satu tahun dihasilkan oleh pasar rakyat.

    “Angka ini berarti sekitar 45% dari keseluruhan sumber kantong plastik (selain dari pusat perbelanjaan, toko modern, dan restoran),” ujar Direktur Eksekutif GIDP Tiza Mafira seperti dikutip di laman dietkantungplastik.info.

    Baca: Kenali jenis sampah plastik dan nilai ekonominya

    Pasar tradisional dihuni oleh ratusan atau bahkan ribuan pedagang sektor informal. Kiosnya pun milik perorangan, sehingga intervensi yang harus dilakukan tidaklah mudah. 

    “Tidak hanya memberikan tas ramah lingkungan, program pasar bebas plastik ini bertujuan untuk memahami karakter pedagang dan pengunjung pasar agar kita dapat mencari solusi jangka panjang untuk mengurangi sampah plastik,” imbuh Tiza.

    Program pasar bebas plastik yang dilakukan Gerakan Diet Kantung Plastik (GIDP) di sejumlah daerah menunjukkan hasil yang menggembirakan.

    Baca: Cara asyik kurangi sampah plastik

    Program Pasar Bebas Plastik di Bali dimulai dari Pasar Sindu Sanur pada 2021. Program ini berhasil menciptakan trend pengurangan plastik sekali pakai di pasar tersebut.

    Terakhir Pasar Seni Guwang, Sukawati juga menjadi pilot project Program Pasar Bebas Plastik ini. 

    Program Pasar Bebas Plastik juga telah diujicobakan di empat pasar di Bandung dan Banjarmasin. Hasilnya, Pasar Kosambi dan Cihapit di Bandung mampu mengurangi penggunaan kantong plastik sekali pakai sebanyak 11% dan 19%.

    Baca: Saatnya membangun ekosistem guna ulang untuk antisipasi larangan plastik sekali pakai 

    Sementara di Pasar Pekauman dan Pandu di Banjarmasin penurunan penggunaan kantung plastik mencapai 18% dan 27%.

    Pengendali Dampak Lingkungan Ahli Muda Sub Koordinator Kerjasama Teknis Operasional, Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung Deti Yulianti mengatakan, berkurangnya penggunaan kantong plastik tak hanya membantu lingkungan dan pengurangan sampah kota Bandung ke TPA.

    “Itu juga membantu pedagang di pasar berhemat rata-rata Rp 300.000/bulan,” katanya. 

    Baca: Konsep isi ulang dari Siklus ini efektif kurangi sampah plastik

    Kepala Bidang Tata Lingkungan, Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjarmasin Dwi Naniek Muhariyani mengatakan mayoritas pedagang sebenarnya sudah paham bahwa penggunaan plastik berbahaya.

    Tetapi mereka belum menemukan alternatif kemasan untuk komoditas basah.

    “Melalui program ini, bersama dengan GIDKP, aktif melakukan berbagai macam edukasi, sosialisasi dan evaluasi agar pedagang dan pengunjung pasar lebih percaya diri untuk mengurangi ketergantungan pada plastik,” ujarnya.

    Baca: Pengelolaan sampah dengan ditimbun sudah ketinggalan zaman

    Hasil positif lain yang diraih oleh program ini adalah adanya perubahan perilaku dari pengunjung pasar.

    Pembeli yang membawa kantong belanja ramah lingkungan di empat pasar tersebut meningkat hingga 21%.

    Sebelum Program Pasar Bebas Plastik ini diujicobakan, sekitar 600 pedagang di pasar-pasar ini mendapatkan pelatihan mengenai tata cara bertransaksi bebas plastik dengan pelanggannya.

    Baca: Sejumlah aplikasi yang layani konsep guna ulang

    Uji coba Pasar Bebas Plastik di Bandung dan Banjarmasin berhasil mematahkan stigma bahwa pembeli dan pedagang pasar tradisional masih sulit melepas ketergantungan pada plastik sekali pakai.

    “Saya harap hasil positif dari program ini menginspirasi pasar tradisional lain untuk segera membebaskan diri dari plastik dan menyukseskan Indonesia Bersih Sampah 2025,” ungkap Ujang Solihin Sidik, Kepala Sub Direktorat Tata Laksana Produsen, Direktorat Pengurangan Sampah, Kementerian LHK.

     

  • Menggunakan Tumbler, Langkah Kecil yang Berdampak Besar bagi Lingkungan

    Menggunakan Tumbler, Langkah Kecil yang Berdampak Besar bagi Lingkungan

    7cloud.asia – Tumbler, mungkin banyak dari kita yang mengenggap enteng benda sederhana ini. Padahal menggunakan tumbler punya dampak besar dalam mengurangi sampah plastik. 

    Pernahkah kamu menghitung berapa sampah plastik yang kamu hasilkan dari wadah minuman maupun sedotan plastik? Dan coba hitung berapa sampah plastik yang bisa kamu kurangi dengan menggunakan tumbler? 

    Ada dua jenis sampah plastik yang bisa dkurangi dari penggunaan tumbler, yakni wadah minuman baik itu botol maupun gelas plastik, dan juga sedotan plastik. 

    Jadi dengan menggunakan tumbler, secara tak sadar kita telah menerapkan konsep guna ulang yang sangat efektif mengurangi sampah plastik.

    Sampah plastik dari wadah minuman merupakan salah satu sumber sampah terbesar selain knatung plastik sekali pakai.

    Baca: Infrastruktur guna ulang mulai dibangun sejak sekarang

    Jadi mulai sekarang gunakan tumbler untuk mengurangi sampah plastik. Tak hanya itu dengan menggunakan tumbler juga bisa membantu kamu berhemat. 

    Pasalnya, saat ini saat ini sejumlah gerai minuman yang memberikan potongan harga hingga 50 persen untuk pembeli yang menggunakan tumbler.

    Salah satunya adalah Starbucks, gerai kopi asal AS ini berkomitmen untuk secara signifikan mengurangi sampah plastik dengan beberapa langkah “hijau”.

    Langkah hijau yang sudah dilakukan adalah “Tumbler Day” pada tanggal 22 setiap bulannya. Pembeli yang membawa tumbler akan mendapatkan potongan harga hingga 50 persen.

    “Program ini merupakan inisiatif Starbucks di tanggal 22 setiap bulannya yang terinspirasi dari Hari Bumi yang dirayakan tanggal 22 April,” demikian tulis Starbucks di laman resminya.

    Baca; Sistem guna ulang lebih efektif kurangi samaph ketimbang daur ulang

    Tumbler Day jadi cukup spesial karena selain memberikan potongan 30-50% setiap hari Kamis dan tanggal 22 setiap bulan untuk minuman favorit kepada pelanggan jika membawa tumbler official Starbucks.

    Program ini juga merupakan salah satu langkah Starbucks untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai di gerai.

    Potongan harga bagi pembeli yang membawa tumbler juga diberikan oleh gerai kopi Caffini. Pembeli dengan tumbler –baik tumbler official maupun tumbler bukan official– akan mendapatkan potongan harga sebesar 10 persen.

    “Potongan harga ini berlaku setiap hari,” ujar petugas kafe yang ditemui 7cloud.asia beberapa waktu lalu. 

    Jadi mulai sekarang, gunakan tumbler sebagai langkah kecil untuk lingkungan dan isi dompet kamu. 

    Baca: Sejumlah aplikasi yang membantu penerapan konsep guna ulang