7cloud.asia – Penutupan Tempat Pembuangan Akhir atau TPA Piyungan memicu darurat sampah di sejumlah wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta atau DIY.
TPA Piyungan adalah tempat pemrosesan akhir sampah dari Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, dan Kabupaten Bantul, yang terletak di Dusun Ngablak dan Watugender, Desa Sitimulyo, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul.
TPA Piyungan berdiri sejak sekitar 40 tahun lalu. Memiliki luas 16 hektare menggunakan sistem sanitary landfill.
Pengelolaan sampah di TPA Piyungan dilakukan dengan cara membuang dan menumpuk sampah di lokasi tertentu dengan harapan agar terurai dan mengalami dekomposisi.
Baca: Kurangi sampah plastik dengan tinggalkan 5 jenis plastik sekali pakai
Berubahnya gaya hidup kemudian mempengaruhi karakteristik sampah yang dibuang ke TPA Piyungan.
Jika sekitar 40 tahun yang lalu sampah didominasi oleh sampah organik, sejak tahun 1980-an mulai banyak sampah plastik yang dibuang ke TPA Piyungan.
Akibatnya, sampah plastik yang tidak bisa cepat terurai membuat kapasitas TPA Piyungan turun dengan cepat. Sampah plastik yang ditumpuk begitu saja berpotensi longsor dan juga memicu masalah ekologi lainnya.
Untuk mengatasi kondisi ini, penggiat persampahan dari Universitas Gadjah Mada Dr. Mohammad Pramono Hadi, M.Sc mengusulkan diterapkannya konsep pengelolaan sampah berbayar.
Baca: Tiga tuntutan Pawai Bebas Plastik 2023
“Konsep dari sampah berbayar ini adalah jika satu keluarga ingin membuang sampah dengan membayar sedikit, maka harus mengelola sampahnya sendiri,” terangnya sebagaimana dikutip ugm.ac.id.
Konsep pengelolaan sampah berbayar ini, lanjut Pramono, dapat dilakukan dengan melakukan pemilahan sampah secara mandiri.
Sampah dari bahan organik dapat dikelola sendiri dengan dijadikan kompos, kemudian sampah dari kertas disisihkan sendiri serta sampah plastik juga disisihkan sendiri yang nantinya akan ada pihak ketiga yang akan mengambil.
Harapannya nanti yang diambil adalah residunya saja sehingga volume sampah yang dibuang ke TPA menjadi lebih sedikit.
Baca: Kenali jenis sampah plastik dan nilai ekonominya
“Namun pasti akan ada masyarakat yang mampu membayar lebih banyak dikarenakan tidak sempat mengelola sampahnya sendiri,” imbuh Pramono.
Konsep pengelolaan sampah berbayar ini akan mendorong masyarakat untuk menerapkan proses 3R (Reduce, Reuse, Recycle) untuk menghemat uang yang harus dikeluarkan untuk sampah.
Pramono mencontohkan, proses 3R antara lain dilakukan dengan mengumpulkan sampah-sampah sisa makanan di suatu daerah tertentu akan dikumpulkan untuk bahan makan maggot.
Hal-hal semacam ini, ujar Praono yang merupakan dosen Fakultas Geografi UGM tersebut, diharapkan akan muncul dengan sendirinya.
Baca: Cara mudah memilah sampah dari rumah
Konsep pengelolaan sampah berbayar ini, lanjutnya, juga diterapkan pada masyarakat yang membuang sampah sembarangan bisa diadukan dan dijerat dengan tindak pidana ringan dan dijatuhi sanksi.
Metode sampah berbayar menurut Parmono, adalah solusi untuk masalah hulu yaitu pada masyarakat.
Di sisi hilir, perlu adanya penerapan teknologi Refuse Derived Fuel atau RDF untuk pengelolaan sampah di TPA Piyungan.
Dengan teknologi ini, sampah yang terkumpul sebanyak 600 ton perhari di TPA Piyungan dapat dikelola dengan dicacah, dikompres, dan diangin-anginkan kemudian dikemas maka akan menjadi bahan bakar.
Baca: Ketimbang bangun ITF Sunter, Pemprov DKI Jakarta lebih pilih sistem RDF
Plastik, ujarnya, memiliki kalori untuk menggantikan fungsi batubara pada prosesnya.
Dengan sistem ini, sampah di TPA Piyungan bisa ditambang sedikit demi sedikit kemudian dipilah dan diolah satunya menjadi pupuk dan satunya menjadi bahan bakar.
Cara ini diyakini akan bisa memfungsikan lagi luas TPA Piyungan. Namun langkah ini harus dilakuksn secara terintegrasi dan terencana dengan matang, dan dilindungi dengan Perda yang kuat
“Proses secara mekanistik dari sampah siap menjadi bahan bakar dihitung membutuhkan biaya berapa sehingga nanti dapat ditentukan ongkos sampah berbayarnya menjadi berapa,” pungkasnya.
Baca: Teknologi pengelolaan sampah ini mampu ubah sekilo sampah seharga segram emas

Leave a Reply