Jadi Penghasil Sampah Plastik Terbanyak, Mungkinkah Terwujud Pasar Bebas Plastik?

Written by

in

 

7cloud.asia – Antusiasme masyarakat untuk mendukung Program Pasar Bebas Plastik sangat tinggi.

Program pasar bebas plastik merupakan kolaborasi antara Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP) dengan pengelola pasar tradisional di daerah (Jakarta, Bandung, Banjarmasin, Bogor, Surabaya, Denpasar, dan Gianyar).

Ujicoba program pasar bebas plastik ini sudah dimulai sejak Desember 2019 di Pasar Tebet Barat, Jakarta Selatan yang kemudian disusul di sejumlah daerah lainnya.

Baca: Tinggalkan lima jenis plastik sekali pakai ini tuk kurangi sampah plastik

Aktivitas utama program pasar bebas plastik antara lain adalah pelatihan tata cara bertransaksi bebas plastik antara pedagang dengan konsumen;  rampok plastik, bentuk edukasi yang dilakukan kepada konsumen dengan cara menukar kantong plastik yang digunakan dengan kantong guna ulang.

Selain itu, GIDP juga melakukan riset konsumsi plastik, menghitung penurunan atau peningkatan konsumsi plastik sekali pakai pada saat program berjalan.

Tak lupa GIDP menyebarluaskan informasi program pasar bebas plastik, baik kepada pedagang pasar maupun masyarakat luas yang menjadi konsumen di pasar tradisional. 

Baca: Tiga tuntutan koalisi Pawai Bebas Plastik tuk kurangi sampah plastik

Program uji coba Pasar Bebas Plastik secara spesifik menyasar pasar tradisional atau pasar rakyat.

Berdasarkan riset yang telah dilakukan oleh GIDKP, pasar rakyat merupakan salah satu sumber penghasil sampah plastik terbesar di Indonesia. Sebanyak 416 juta lembar kantong plastik dalam satu tahun dihasilkan oleh pasar rakyat.

“Angka ini berarti sekitar 45% dari keseluruhan sumber kantong plastik (selain dari pusat perbelanjaan, toko modern, dan restoran),” ujar Direktur Eksekutif GIDP Tiza Mafira seperti dikutip di laman dietkantungplastik.info.

Baca: Kenali jenis sampah plastik dan nilai ekonominya

Pasar tradisional dihuni oleh ratusan atau bahkan ribuan pedagang sektor informal. Kiosnya pun milik perorangan, sehingga intervensi yang harus dilakukan tidaklah mudah. 

“Tidak hanya memberikan tas ramah lingkungan, program pasar bebas plastik ini bertujuan untuk memahami karakter pedagang dan pengunjung pasar agar kita dapat mencari solusi jangka panjang untuk mengurangi sampah plastik,” imbuh Tiza.

Program pasar bebas plastik yang dilakukan Gerakan Diet Kantung Plastik (GIDP) di sejumlah daerah menunjukkan hasil yang menggembirakan.

Baca: Cara asyik kurangi sampah plastik

Program Pasar Bebas Plastik di Bali dimulai dari Pasar Sindu Sanur pada 2021. Program ini berhasil menciptakan trend pengurangan plastik sekali pakai di pasar tersebut.

Terakhir Pasar Seni Guwang, Sukawati juga menjadi pilot project Program Pasar Bebas Plastik ini. 

Program Pasar Bebas Plastik juga telah diujicobakan di empat pasar di Bandung dan Banjarmasin. Hasilnya, Pasar Kosambi dan Cihapit di Bandung mampu mengurangi penggunaan kantong plastik sekali pakai sebanyak 11% dan 19%.

Baca: Saatnya membangun ekosistem guna ulang untuk antisipasi larangan plastik sekali pakai 

Sementara di Pasar Pekauman dan Pandu di Banjarmasin penurunan penggunaan kantung plastik mencapai 18% dan 27%.

Pengendali Dampak Lingkungan Ahli Muda Sub Koordinator Kerjasama Teknis Operasional, Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung Deti Yulianti mengatakan, berkurangnya penggunaan kantong plastik tak hanya membantu lingkungan dan pengurangan sampah kota Bandung ke TPA.

“Itu juga membantu pedagang di pasar berhemat rata-rata Rp 300.000/bulan,” katanya. 

Baca: Konsep isi ulang dari Siklus ini efektif kurangi sampah plastik

Kepala Bidang Tata Lingkungan, Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjarmasin Dwi Naniek Muhariyani mengatakan mayoritas pedagang sebenarnya sudah paham bahwa penggunaan plastik berbahaya.

Tetapi mereka belum menemukan alternatif kemasan untuk komoditas basah.

“Melalui program ini, bersama dengan GIDKP, aktif melakukan berbagai macam edukasi, sosialisasi dan evaluasi agar pedagang dan pengunjung pasar lebih percaya diri untuk mengurangi ketergantungan pada plastik,” ujarnya.

Baca: Pengelolaan sampah dengan ditimbun sudah ketinggalan zaman

Hasil positif lain yang diraih oleh program ini adalah adanya perubahan perilaku dari pengunjung pasar.

Pembeli yang membawa kantong belanja ramah lingkungan di empat pasar tersebut meningkat hingga 21%.

Sebelum Program Pasar Bebas Plastik ini diujicobakan, sekitar 600 pedagang di pasar-pasar ini mendapatkan pelatihan mengenai tata cara bertransaksi bebas plastik dengan pelanggannya.

Baca: Sejumlah aplikasi yang layani konsep guna ulang

Uji coba Pasar Bebas Plastik di Bandung dan Banjarmasin berhasil mematahkan stigma bahwa pembeli dan pedagang pasar tradisional masih sulit melepas ketergantungan pada plastik sekali pakai.

“Saya harap hasil positif dari program ini menginspirasi pasar tradisional lain untuk segera membebaskan diri dari plastik dan menyukseskan Indonesia Bersih Sampah 2025,” ungkap Ujang Solihin Sidik, Kepala Sub Direktorat Tata Laksana Produsen, Direktorat Pengurangan Sampah, Kementerian LHK.

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *