Tag: transportasi

  • Pemprov DKI Jakarta Perluas Layanan TransJabodetabek Hingga Depok dan Bogor

    Pemprov DKI Jakarta Perluas Layanan TransJabodetabek Hingga Depok dan Bogor

    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terus memperluas layanan TransJabodetabek dan jangkauan masyarakat dengan membuka sejumlah rute baru.

    Setelah Alam Sutera dan Bekasi, terbaru, Pemprov DKI akan membuka rute baru TransJobodetabek dari Bogor ke Blok M dan dari Depok-Sawangan ke Lebak Bulus.

    “Bang Doel (Rano Karno) nanti akan membuka dari Depok, Sawangan ke Lebak Bulus. Saya akan membuka rute baru dari Bogor ke Blok M,” ujar Pramono Anung, Gubernur DKI Jakarta di Balai Kota, Selasa (3/6/2025).

    Dikatakan Pramono, Pemprov DKI juga juga tengah menyiapkan rute baru lainnya yang diminati masyarakat, yakni dari Ancol ke Blok M.

    Pramono Anung menambahkan, rute-rute baru Transjabodetabek tersebut untuk melayani tingginya kebutuhan mobilitas masyarakat.

    Baca: Rute baru TransJakarta PIK-Blok M

    “Kami sedang mempersiapkan dari Blok M ke Ancol. Karena selama ini, itu yang menjadi kebutuhan yang cukup tinggi di masyarakat,” ucapnya.

    Dengan penambahan rute-rute baru ini, Transjakarta secara bertahap akan bertransformasi menjadi Transjabodetabek yang lebih terintegrasi dan menjangkau wilayah Jakarta.

    Pramono Anung menegaskan bahwa persiapan untuk rute-rute baru ini telah dilakukan secara matang untuk mempermudah akses mobilitas warga.

    “Transjakarta yang mudah-mudahan secara perlahan akan menjadi Transjabodetabek kita atur, kita persiapkan sejak awal secara baik,” jelas Pram.

    Sebelumnya Pemprov DKI telah membuka sejumlah trayek baru Transjabodetabek, seperti Alam Sutera-Blok M, PIK 2-Blok M, dan Vida Bekasi-Cawang.

    Baca: Layanan TransJakarta diperluas menjadi TransJabodetabek

    Dengan adanya trayek baru Transjabodetabek serta hub baru Jakarta di Blok M, maka masyarakat akan dengan mudah mengunjungi Jakarta.

    “Jakarta akan lebih mudah untuk dikunjungi. Siapa saja mau datang ke Jakarta, mau ke Blok M nantinya,” tuturnya.

    Pramono menambahkan, pembukaan rute baru Transjabodetabek ini mendapatkan respons positif dan antusiasme yang tinggi dari masyarakat.

    Pramono meyakini, rute-rute baru ini akan memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk saling berinteraksi.

    “Pengalaman dari yang sudah dibuka termasuk Vida Bekasi ke Cawang, Alhamdulillah semuanya mendapatkan respons publik yang luar biasa,” tandasnya

    Baca: Warga Jakarta dan sekitarnya masih enggan gunakan transportasi publik

     

  • Transportasi Masih Menjadi Penyumbang Terbesar Pencemaran Udara di Jabodetabek

    Transportasi Masih Menjadi Penyumbang Terbesar Pencemaran Udara di Jabodetabek

    7cloud.asia – Pencemaran udara di Jabodetabek masih tinggi. Kementerian Lingkungan Hidup (KLH)/ Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) mencatat sektor transportasi masih menjadi penyumbang terbesar pencemaran udara.

    Data KLH dari Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKUA) dari 1 Mei hingga 3 Juni 2025 menunjukkan parameter kuning atau status tidak sehat.

    Direktur Perlindungan dan Pengelolaan Mutu Udara KLH/BPLH, Nixon Pakpahan menjelaskan nilai konsentrasi PM 2,5 di atas 100 PPM.

    Angka ini lebih tinggi dari standar pemerintah. Total ada 35 titik SPKUA di Jabodetabek yang terpantau mengalami peningkatan skor PM 2.5.

    Baca: Kementerian Lingkungan Hidup perlu perkuat regulasi

    Melansir Antaranews, Nixon menerangkan pihaknya telah melakukan kajian dan ada sejumlah sumber pencemaran udara. Sumber terbesar adalah sektor transportasi.

    Sektor ini menyumbang 32-41 persen polusi udara Jabodetabek saat musim hujan dan 42-57 persen ketika musim kemarau.

    Kemudian posisi kedua adalah emisi dari sektor industri terutama yang menggunakan batu bara, menyumbang 14 persen.

    Baca: Ini dia sumber polusi udara di Jakarta

    Emisi pembakaran sampah terbuka atau ilegal atau pembersihan lahan pertanian 11 persen di musim hujan dan 9 persen di musim kemarau, debu konstruksi bangunan 13 persen dan aerosol sekunder 6-16 persen saat musim hujan dan 1-7 persen pada musim kemarau.

    “Berbicara lingkungan, mari bereskan, prioritas, bereskan dulu sumbernya. Itu lebih penting daripada membahas siklus, cuaca, arah angin dan seterusnya. Bereskan dulu sumbernya,” jelasnya.

    Karena itu, pihaknya telah berkoordinasi dengan Kementerian ESDM, Kementerian Keuangan dan PT Pertamina agar dapat menyediakan bahan bakar rendah sulfur.

    Baca: Hanya tujuh negara yang penuhi standar kualitas udara WHO

    Selain itu, penggunaan sistem pemantau emisi untuk mencapai 80 persen pada akhir tahun 2025, penggunaan gas di kawasan industri, pemantauan langsung di kawasan industri serta pendekatan melalui penegakan hukum.

    Nixon juga mengajak semua pihak termasuk masyarakat di wilayah Jabodetabek untuk ikut serta menangani masalah pencemaran udara.

    “Tidak saling menyalahkan, tapi artinya semua harus bekerja sama. Karena kita hidup di satu bumi yang sama, menghirup udara yang sama, kebutuhan yang sama,” kata Nixon.

     

  • Transjabodetabek Akan Tambah Dua Rute Baru: Ancol-Blok M dan Bekasi-Dukuh Atas

    Transjabodetabek Akan Tambah Dua Rute Baru: Ancol-Blok M dan Bekasi-Dukuh Atas

    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta kembali akan membuka dua rute baru Transjabodetabek dalam waktu dekat.

    Kedua rute baru Trasjabodetabek yang akan dibuka tersebut yakni Bekasi-Dukuh Atas via Becakayu dan Ancol-Blok M.

    Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung meyakini bahwa pembukaan trayek baru Transjabodetabek ini akan menjadi rute favorit dan dipadati oleh penumpang.

    “Untuk rute baru yang sudah diputuskan, yang pertama adalah Bekasi lewat Becakayu sampai Dukuh Atas. Dan ini saya yakin akan menjadi rute yang padat,” ujar Pramono di Kantor Sekretariat RW 07 Kelurahan Kelapa Gading Barat, Jakarta Utara, Kamis (26/6/2025).

    Baca: Layanan Transjabodetabek disambut antusias masyarakat

    Dengan hadirnya rute baru lainnya yakni Ancol-Blok M, Pramono berharap seluruh konektivitas transportasi akan semakin terintegrasi.

    Sebelumnya, Pramono menyampaikan bahwa kemacetan di ibu kota tidak bisa diselesaikan hanya dengan layanan Transjakarta.

    Untuk itu, Pemprov DKI akan memperluas layanan transportasi publik Transjabodetabek dengan membuka 10 rute baru.

    “Untuk Transjabodetabek ini, wilayah yang bersinggungan langsung dengan Jakarta adalah Jawa Barat dan Banten. Maka kami akan membuka kurang lebih 10 rute baru,” tandas Pram

    Baca: Layanan TransJakarta diperluas hingga Bodetabek

    Hingga saat ini, lima rute baru Transjabodetabek telah beroperasi. Di antaranya yakni Blok M-Alam Sutera, Blok M-PIK 2, Blok M-Bogor, Terminal Sawangan-Blok M, dan Vida Bekasi-Cawang Sentral.

    Perluasan rute Transjabodetabek ini diambil untuk meningkatkan konektivitas antarwilayah dan mendukung konsep pengembangan Blok M Hub sebagai hub transportasi utama di Jakarta.

    Blok M juga akan dijadikan pusat aktivitas dan interaksi masyarakat yang mudah dijangkau.

    “Yang kedua adalah menghubungkan Ancol dengan Blok M. Sehingga seluruh konektivitas kalau itu sudah bisa dilakukan, maka betul-betul Blok M menjadi Blok M Hub baru,” jelasnya.

    Dengan banyaknya aksesibilitas dan konektivitas transportasi, maka warga akan dengan mudah menjangkau Blok M yang kini semakin banyak dikunjungi.

    Baca: Rute Transjakarta yang bersinggungan dengan jalur MRT akan dihapus

  • Lewat ‘Open Top Tour of Jakarta’ TransJakarta Tawarkan Pengalaman Berbeda dalam Menikmati Kota Jakarta

    Lewat ‘Open Top Tour of Jakarta’ TransJakarta Tawarkan Pengalaman Berbeda dalam Menikmati Kota Jakarta

    7cloud.asia – TransJakarta memperkenalkan program baru yakni ‘Open Top Tour of Jakarta’ sebagai layanan wisata baru menggunakan bus tingkat berkonsep atap terbuka.

    Program ‘Open Top Tour of Jakarta’ ini ditujukan bagi warga Jakarta, wisatawan domestik, maupun wisatawan mancanegara yang ingin menikmati ibu kota dari perspektif berbeda.

    Lewat program ‘Open Top Tour of Jakarta’ ini wisatawan berkesempatan mengakrabi landmark Jakarta dalam sudut pandang baru dalam wisata perkotaan yang memadukan budaya, sejarah, dan kehidupan kota modern.

    Rute perdana program ‘Open Top Tour of Jakarta’ ini merupakan hasil kolaborasi dengan Brightspot bertajuk Jakarta Skyline, yang mengeksplorasi area Sudirman hingga Bundaran HI.

    Kolaborator kedua adalah Sarinah melalui rute Jakarta Heritage, yang membawa penumpang melewati berbagai lokasi bersejarah seperti Bundaran HI, Museum Nasional, dan Sarinah sebagai pusat perbelanjaan legendaris di Jakarta.

    Baca: Free Walking Tour merasakan serunya menjelajahi Kota Tua Jakarta

    Buat kamu yang tertarik, untuk mendapatkan tiket layanan ini, bisa diperoleh melalui aplikasi TJ: Transjakarta.

    Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno saat menjajal pengalaman menaiki bus tingkat atap terbuka ‘Open Top Tour of Jakarta’ pada Sabtu (5/7/2025) menilai kehadiran bus wisata ini menambah sudut pandang baru dalam menikmati wajah Jakarta.

    “Ini menambah pengalaman, mungkin bagi masyarakat Jakarta yang sudah tahu tentang kota ini, jadi nilai tambah karena dari sudut yang lain Jakarta bisa dilihat,” ujar Rano usai tur singkat tersebut.

    Rano bersama rombongan memulai perjalanan dari Ratu Plaza, Jalan Jenderal Sudirman, menuju Bundaran HI dan kembali ke titik awal keberangkatan.

    Baca: Konsep slow city untuk kota yang berkelanjutan

    Rano menyampaikan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta telah menunjukkan komitmennya dengan menghadirkan fasilitas transportasi publik yang juga menjadi daya tarik wisata.

    Menurutnya, inovasi sektor transportasi ini juga mendukung citra Jakarta sebagai kota global.

    Rano mendorong masyarakat untuk memanfaatkan layanan ini, sembari berharap ke depan  program ini terus dikembangkan.

    “Layanan ini masih bisa diperluas baik dari segi armada maupun cakupan rute demi menjangkau lebih banyak destinasi wisata di Jakarta,” tandasnya.

    Baca: Pusat kota Tirano Italia ditutup untuk kendaraan

     

     

  • Pola Transportasi Masyarakat Berubah, Keberadaan Terminal Besar Perlu Dievaluasi

    Pola Transportasi Masyarakat Berubah, Keberadaan Terminal Besar Perlu Dievaluasi

    7cloud.asia – Era digital turut mengubah pola transportasi masyarakat. Saat ini semakin banyak yang beralih ke layanan angkutan berbasis daring sehingga keberadaan terminal bus besar makin jarang dibutuhkan.

    Hal ini disampaikan Anggota Komisi V DPR, Hanan A. Rozak, dalam Rapat Kerja Komisi V DPR bersama Menteri Perhubungan terkait Pembicaraan Pendahuluan RKA K/L dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun Anggaran 2026, yang digelar di Gedung Nusantara, Senayan, Jakarta, Selasa (8/7/2025).

    Dalam kesempatan itu, Hanan menyoroti keberadaan terminal tipe A yang telah dibangun, tetapi tidak termanfaatkan secara optimal akibat perubahan pola transportasi masyarakat.

    Karena itu, Hanan meminta Kementerian Perhubungan untuk terlebih dahulu melakukan evaluasi terhadap terminal-terminal tipe A di seluruh Indonesia yang telah dibangun pada tahun-tahun anggaran sebelumnya, sebelum memulai pembangunan baru pada 2026.

    “Saya lihat di 2026 ada pembangunan terminal-terminal tipe A. Sebelum ini direalisasikan, saya mohon terminal-terminal yang sudah terbangun di tahun-tahun sebelumnya ini tolong dievaluasi,” ujarnya.

    Baca: Revitalisasi Terminal Baranangsiang Bogor

    Ia mencontohkan kondisi terminal di daerah kediamannya di Lampung yang saat ini tampak tidak difungsikan sebagaimana mestinya.

    Menurutnya, banyak terminal besar kini sepi dan kosong karena pergeseran sistem transportasi yang beralih ke layanan angkutan berbasis daring.

    Akibatnya, kendaraan umum seperti bus tidak lagi masuk ke terminal, dan malah berhenti di simpang-simpang jalan untuk menjemput penumpang.

    “Investasi beratus-ratus miliar, tapi terminalnya kosong. Mohon maaf, saya sampaikan ada terminal dekat kediaman saya di Lampung, terminalnya besar, sekarang kosong, tidak digunakan bus-bus. Mobil-mobil kecil malah parkirnya di perempatan-perempatan untuk jemput penumpang,” tegas Hanan.

    Baca: Reformasi transportasi publik di Kota Bandung akan hapus sistem trayek

    Ia pun mendesak agar fenomena ini dikaji lebih mendalam untuk mengetahui akar permasalahan dan memastikan bahwa pembangunan infrastruktur transportasi betul-betul tepat guna.

    Meski demikian, Hanan A. Rozak menyatakan dukungan terhadap usulan tambahan anggaran sebesar Rp13,2 triliun untuk Kementerian Perhubungan dalam RKA 2026.

    Ia menilai kebutuhan ideal Kemenhub mencapai Rp48 triliun, sementara pagu indikatif baru sebesar Rp24 triliun lebih.

    “Kami sangat mendukung usulan tambahan Rp13,2 triliun untuk 2026. Supaya kerja Kementerian Perhubungan bisa maksimal dan optimal, ini perlu kita perjuangkan, terutama kawan-kawan di Badan Anggaran dari Komisi V,” pungkas politisi Partai Golkar ini.

    Baca: Save The Children kampanyekan naik transportasi publik

  • MRT Jakarta Kaji Perluasan Jalur Hingga Tangerang Selatan

    MRT Jakarta Kaji Perluasan Jalur Hingga Tangerang Selatan

    7cloud.asia – PT MRT Jakarta (Perseroda) tengah melakukan studi pendahuluan untuk memperluas jangkauan rute hingga Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Banten.

    Dilansir beritajakarta.id, proyek perluasan MRT ini dirancang untuk dibiayai melalui skema non-APBD seperti Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU).

    Direktur Pengembangan Bisnis PT MRT Jakarta, Farchad Mahfud mengatakan, pihaknya berupaya memulai studi awal atau penjajakan, serta strategi pembangunan jalur tersebut tanpa melibatkan pendanaan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

    “Kalau yang ke Tangsel, kita juga terus melakukan upaya untuk memulai. Kami ingin mengembangkan jalur dengan pembiayaan tanpa melibatkan dana pemerintah, atau paling tidak dengan skema KPBU (Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha),” ujar Farchad, Minggu (13/7/2025).

    Ia menyampaikan, pengembangan MRT lintas provinsi seperti ke Tangsel tidak hanya membutuhkan studi teknis, namun juga pendekatan sosial, fiskal, dan regulasi yang berbeda dari pengembangan di wilayah DKI Jakarta.

    Baca: Progres pembangunan MRT Fase 2 Bundaran HI-Kota

    “Kita masuk ke area provinsi lain. Kapasitas fiskalnya berbeda, karakter sosialnya juga berbeda. Ini yang sedang kita jajaki dalam waktu dekat,” katanya.

    Farchad memastikan pembahasan dan komunikasi telah berjalan, dan studi diperkirakan akan dimulai dalam waktu dekat. Namun, proses ini masih berada pada tahap awal analisis dan belum ada angka anggaran yang konkret.

    “Komunikasi antara Pemprov DKI Jakarta dan Pemerintah Kota Tangerang Selatan telah dilakukan, studi penjajakan bisa dimulai dalam waktu dekat. Tunggu saja ya, mungkin di pertemuan berikutnya sudah bisa kita sampaikan,” ucap Farchad.

    Sebagai informasi, pengembangan MRT Jakarta ke Tangerang Selatan sebelumnya telah masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025 melalui Perpres Nomor 12/2025.

    Rencana ekspansi MRT Jakarta ke Tangerang Selatan telah lama menjadi pembahasan sebagai salah satu solusi untuk mengurai kemacetan antar wilayah Jabodetabek.

    Baca: Jalur MRT akan dikembangkan menjadi kawasan TOD

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bahkan telah menyiapkan komitmen modal awal sebagai sinyal keseriusan. Jalur MRT fase selanjutnya diharapkan dapat memperkuat konektivitas lintas kota dengan moda transportasi publik yang lebih efisien dan terintegrasi.

    Namun hingga saat ini, pembangunan masih berada pada tahap penjajakan, belum memasuki estimasi biaya maupun pelaksanaan teknis.

    Saat ini sedang berlangsung pembangunan MRT fase 2 Bundaran Hotel Indonesia (HI)-Kota dengan panjang 5,6 kilometer. Hingga Mei 2025, perkembangan proyek MRT Jakarta fase 2A pengerjaannya telah mencapai 48,14 persen.

    Proyek MRT fase 2 merupakan kelanjutan dari fase 1 yang sebelumnya menghubungkan stasiun MRT di Lebak Bulus hingga Bundaran HI yang beroperasi sejak 2019.

    Adapun untuk fase 2 yang terbagi menjadi fase 2A dan 2B ditargetkan bisa mulai beroperasi pada 2029. Adapun, pembangunan jalur MRT lanjutan dari Kota hingga depo di Ancol diharapkan rampung pada 2030.

    Baca: Metamorfosa Jakarta lewat penataan transportasi publik

  • Transisi ke Kendaraan Listrik Turunkan Emisi di Perkotaan, Tapi Picu Polusi di Lokasi Penghasil Nikel dan Pembangkit Listrik

    Transisi ke Kendaraan Listrik Turunkan Emisi di Perkotaan, Tapi Picu Polusi di Lokasi Penghasil Nikel dan Pembangkit Listrik

    7cloud.asia – Transisi ke kendaraan listrik digadang pemerintah sebagai salah satu cara menurunkan emisi gas rumah kaca di sektor transportasi guna mewujudkan emisi nol pada 2060.

    Sebuah penelitian menyebut, karena tidak menggunakan bahan bakar fosil, kendaraan listrik mampu memangkas hingga 50 persen emisi karbon, karena itu dinilai berkontribusi positif terhadap lingkungan.

    Pemerintah, dalam pemaparan di IEA’s 9th Global Conference On Energy Efficiency (GCEE) di Nairobi, Kenya pada April 2024 lalu, menargetkan 2 juta unit mobil listrik dan 13 juta unit kendaraan listrik roda dua mengaspal pada tahun 2030.

    Dari target tersebut, diharapkan terjadi penghematan energi sebesar 29,79 million barrel oil equivalent (MBOE) dan penurunan emisi gas sebanyak 7,23 juta ton setara karbondioksida atau CO2e.

    Untuk mencapai target tersebut pemerintah memberikan insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Ditanggung Pemerintah (DTP) atas penjualan Kendaraan Bermotor Listrik (KBL) berbasis baterai roda empat tertentu dan Kendaraan Bermotor Listrik

    Baca: Transisi ke Kendaraan Listrik bukan solusi tepat polusi udara

    Namun demikian, sejumlah kalangan menilai transisi ke kendaraan listrik ini bukan solusi yang tepat untuk menurunkan emisi dari sektor transportasi.

    Transisi ke kendaraan listrik dinilai hanya memindahkan emisi dari kawasan perkotaan ke daerah penghasil nikel dan lokasi pembangkit listrik. Pasalnya, mayoritas pembangkit listrik di Indonesia masih menggunakan batu bara.

    Tanpa transisi ke sumber energi terbarukan berkelanjutan secara paralel, penggunaan kendaraan listrik hanya akan memindahkan emisi dari asap knalpot ke cerobong pembangkit listrik.

    Penelitian yang dilakukan tim dari Universitas Padjadjaran mengungkap, untuk benar-benar menurunkan emisi, transisi ke kendaraan listrik harus dibarengi bauran energi terbarukan dengan pertumbuhan di atas 65 persen per tahun.

    Dan yang penting dicatat, seluruh rantai pasok kendaraan listrik dan energinya juga harus dijamin bersih dan berkelanjutan.

    Baca: Limbah baterai kendaraan listrik bisa memicu masalah serius bagi lingkungan

    Dalam diskusi di sela peluncuran film dokumenter “Limbah Nikel dan Mimpi Energi Bersih” beberapa waktu lalu terungkap transisi ke kendaraan listrik ternyata memicu kerusakan alam yang luar biasa.

    Pembukaan hutan untuk tambang nikel serta pengolahan bijih nikel dengan menggunakan teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL) selain tinggi emisi juga menghailkan limbah beracun yang membahayakan lingkungan.

    Lantas bagaimana membuat kendaraan listrik jadi solusi transisi energi? Transisi energi, khususnya di sektor transportasi, tidak cukup sekadar mengganti mesin berbahan bakar fosil ke baterai.

    Langkah ini menuntut transformasi besar yang membutuhkan paradigma baru dalam membangun sistem transportasi yang efisien, terjangkau, dan rendah karbon.

    Kepada konsumen, Direktur Eksekutif Aksi Ekologi dan Emansipasi Rakyat/AEER, Pius Ginting mengajak untuk tidak begitu saja mengamini kebijakan transisi ke kendaraan listrik ini.

    ”Alih-alih beralih ke kendaraan listrik, jauh lebih baik beralih ke transportasi publik,” ujarnya di akhir diskusi.

    Baca: Komisi VII DPR soroti kesiapan pengolahan limbah baterai

     

  • Mengapa Penataan Transportasi Penting untuk Mewujudkan Kota yang Lebih Ramah Lingkungan

    Mengapa Penataan Transportasi Penting untuk Mewujudkan Kota yang Lebih Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Pada tahun 2023, kota-kota di seluruh dunia bergulat dengan kemacetan lalu lintas yang parah, dengan kecelakaan lalu lintas merenggut 3.260 nyawa setiap hari.

    UN Habitat juga mencatat, emisi terkait transportasi menyumbang hampir seperempat dari seluruh emisi gas rumah kaca di sektor energi.

    Untuk mengatasi tantangan ini, terdapat kebutuhan mendesak akan sistem transportasi yang lebih aman, lebih terjangkau, mudah diakses, terintegrasi, dan berkelanjutan yang memanfaatkan teknologi terkini untuk mengurangi kemacetan.

    Reformasi di sektor transportasi juga diharapkan dapan menekan angka kecelakaan, dan menurunkan polusi udara.

    Namun, kenyataannya banyak kota merespons kebutuhan transportasi secara tradisional yakni memperluas infrastruktur yang berpusat pada mobil untuk mengakomodasi permintaan mobil yang terus meningkat.

    Baca: Konsep slow city untuk wujudkan kota yang lebih memanusiakan

    Pendekatan ini terbukti hanya memperburuk masalah transportasi dan juga memperparah kerusakan lingkungan. Pendekatan ini memicu perluasan kota, meningkatkan ketergantungan pada mobil, dan memicu siklus permintaan infrastruktur yang terus meningkat.

    Untuk memutus siklus ini membutuhkan pergeseran transformatif menuju solusi mobilitas perkotaan yang berpusat pada manusia dengan memprioritaskan transportasi publik, dan ketahanan iklim untuk kota yang lebih layak huni dan berkelanjutan.

    Untuk mengatasi tantangan mobilitas perkotaan, pergeseran paradigma dalam perencanaan perkotaan sangatlah penting. Fokusnya haruslah pada penciptaan kota-kota yang kompak dengan pemanfaatan lahan yang beragam untuk meningkatkan aksesibilitas dan mengurangi kebutuhan perjalanan.

    Perencanaan perkotaan harus berpusat pada masyarakat, yang bertujuan untuk meminimalkan jarak tempuh, meningkatkan pangsa moda berkelanjutan, dan mengoptimalkan emisi, mengikuti kerangka kerja ASI (Hindari-Pergeseran-Tingkatkan).

    Elemen penting dari pergeseran ini adalah Pembangunan Berorientasi Transit (TOD), yang dikembangkan di sekitar pusat transportasi umum.

    Baca: Konsep “Kota 15 Menit” mungkinkan warganya berktivitas tanpa kendaraan bermotor

    TOD mendorong kehidupan bebas mobil dengan menjadikan transportasi umum yang berkualitas tinggi, mudah diakses, dan berkelanjutan sebagai tulang punggung mobilitas perkotaan.

    Sistem transportasi umum harus menawarkan kapasitas tinggi, jangkauan luas, dan emisi rendah, sehingga mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi.

    Dalam konteks ini, kota harus mengembangkan transportasi umum yang aksesibel, terjangkau, dan efisien bagi seluruh penduduk, terutama masyarakat berpenghasilan rendah.

    Mengingat sebagian besar perjalanan melibatkan beberapa moda transportasi, kota harus berinvestasi dalam sistem multimoda dan memastikan integrasi yang lancar.

    Moda transportasi berkapasitas tinggi, seperti metro atau BRT, harus terhubung dengan layanan pengumpan dan terintegrasi dengan baik dengan moda mobilitas aktif untuk memaksimalkan efisiensi.

    Baca: Kota di Kolombia ini dulang sederet manfaat dari penerapan konsep TOD

    Meningkatkan “akses jarak dekat” adalah kunci untuk memastikan bahwa penduduk dapat dengan mudah terhubung ke layanan transportasi umum.

    Lebih lanjut, ruang perkotaan perlu didesain ulang untuk memprioritaskan keselamatan, terutama bagi pengguna jalan yang rentan, seperti pejalan kaki dan pesepeda.

    Jalan-jalan harus dirancang dengan jalur khusus untuk pejalan kaki, dilengkapi dengan penyeberangan yang aman, dan jalur sepeda.

    Singkatnya, untuk mentransformasi mobilitas perkotaan, kota harus mengadopsi pendekatan holistik dan berkelanjutan yang mengintegrasikan tata guna lahan, mobilitas aktif, transportasi umum, dan langkah-langkah keselamatan.

    Pendekatan ini akan menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih tangguh, aksesibel, manusiawi dan layak huni.

    Baca: Kota-kota di Afrika berlomba kembangkan jalur untuk pesepeda dan pejalan kaki

  • Biaya Transportasi di Indonesia Tergolong Tinggi, Ini Rekomendasi Pustral UGM

    Biaya Transportasi di Indonesia Tergolong Tinggi, Ini Rekomendasi Pustral UGM

    7cloud.asia – Kementerian Perhubungan mencatat pengeluaran masyarakat untuk transportasi masih relatif tinggi yaitu mencapai 12,46 persen per bulan dari total biaya hidup.

    Padahal menurut standar Bank Dunia, seharusnya biaya transportasi tidak lebih dari 10 persen dari total biaya hidup dalam satu bulan.

    Tingginya biaya transportasi ini terutama dialami warga yang harus menggunakan moda transportasi yang berbeda.

    Menanggapi kondisi ini, Peneliti Pusat Studi Transportasi dan Logistik atau Pustral UGM, Dwi Ardianta Kurniawan mengatakan ada beberapa aspek yang harus diperhatikan untuk menekan biaya transportasi yang dikeluarkan masyarakat.

    Pertama, diperlukan perencanaan permukiman yang matang. Dwi mengatakan, di wilayah padat direkomendasikan adanya akses yang mudah ke tempat aktivitas utama untuk mengurangi jarak tempuh dan menekan biaya bahan bakar serta operasionalnya.

    “Penyediaan sarana dan prasarana transportasi yang memadai juga menjadi aspek penting untuk mengurangi kemacetan, sehingga biaya perjalanan tidak membengkak,” katanya, Kamis (11/9/2025) seperti dilansir ugm.ac.id

    Baca: Penataan transportasi penting untuk wujudkan kota ramah lingkungan

    Kedua, penyediaan angkutan umum yang terjangkau. Pada kawasan yang padat penduduk dan dan dihadapkan pada kemacetan yang akut, masyarakat lebih membutuhkan angkutan umum.

    “Penggunaan angkutan umum jadi pilihan rasional, subsidi yang diberikan jadi efektif karena penggunanya tinggi,” ucapnya.

    Namun, pada wilayah yang belum terlalu padat, pilihan menggunakan angkutan umum masih belum terlalu menarik. Selain tarif yang terjangkau diperlukan juga insentif lain seperti kemudahan akses, ketersediaan halte, rute, headway untuk lebih menarik minat masyarakat.

    Ketiga, integrasi antar moda menjadi hal penting untuk mengatasi inefisiensi biaya. Integrasi moda diperlukan pada perjalanan yang relatif jauh.

    Dwi mengatakan, inefisiensi disebabkan oleh beberapa faktor seperti jarak perjalanan, jenis moda yang digunakan, dan interkoneksi yang buruk.

    Baca: “Kota 15 Menit” mungkinkan warganya melakukan aktivitas tanpa kendaraan

    Contoh penerapan integrasi tarif antar moda di Jakarta pada layanan TransJakarta, MRT Jakarta, dan LRT Jakarta dengan tarif maksimum Rp10.000 untuk perjalanan lintas moda selama tiga jam.

    “Tarif ini sudah cukup efektif untuk menekan biaya daripada harus membayar terpisah,” ujarnya.

    Terakhir, peran penting penggunaan digitalisasi pembayaran. Penggunaan digitalisasi pembayaran dalam transportasi umum tidak hanya sekadar mempermudah transaksi, tetapi memudahkan dalam proses evaluasi dan perencanaan transportasi yang lebih baik.

    Adanya transaksi yang terkontrol dan tercatat, pihak terkait dapat melakukan analisis mendalam mengenai pola pergerakan masyarakat.

    “Ekosistem digital membuat proses bisnis jauh lebih transparan. Hal ini sangat membantu dalam pengambilan keputusan strategis di masa depan, karena semuanya didasarkan pada data yang transparan,” pungkasnya.

    Baca: Konsep slow city untuk kota yang lebih berkelanjutan

  • Transportasi Publik Belum Memadai Membuat Masyarakat Indonesia Tergantung pada Kendaraan Pribadi

    Transportasi Publik Belum Memadai Membuat Masyarakat Indonesia Tergantung pada Kendaraan Pribadi

    7cloud.asiaInstitute for Transportation and Development Policy (ITDP) menyebut tingkat kepemilikan kendaraan bermotor pribadi di Indonesia tergolong tinggi.

    Di Jakarta, sebagai wilayah perkotaan yang menjadi pusat ekonomi Indonesia, tingkat kepemilikan kendaraan pribadi mencapai 1.077 kendaraan per 1.000 penduduk.

    Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan kota global lainnya, seperti Singapura (133 kendaraan per 1.000 penduduk1) dan New York (235 kendaraan per 1.000 penduduk2).

    Tidak hanya di kota besar, tingkat kepemilikan kendaraan pribadi yang tinggi juga terjadi di kota menengah-kecil seperti Surakarta, yaitu sebesar 771 kendaraan per 1.000 penduduk.

    Tingginya tingkat kepemilikan kendaraan pribadi di Indonesia ini mencerminkan ketergantungan masyarakat pada sepeda motor atau mobil pribadi untuk bermobilitas sehari-hari.

    Dalam tulisannya berjudul Belum Merdeka Bermobilitas: Transportasi Berkelanjutan Masih di Luar Jangkauan, Mizandaru Wicaksono, Urban Mobility Manager ITDP Indonesia menyebut, salah satu alasan ketergantungan akan kendaraan bermotor pribadi ini adalah belum tersedianya transportasi publik yang dapat diandalkan masyarakat.

    Dari 98 kota di Indonesia, baru 25 kota yang saat ini telah mengoperasikan sistem transportasi publik massal. Tidak hanya itu, cakupan maupun kualitas layanan transportasi publik di kota-kota tersebut pun secara umum masih belum ideal.

    Peta layanan transportasi publik saat ini
    Pekanbaru misalnya, salah satu kota dengan komitmen kuat untuk mengembangkan transportasi publik. Pemerintah Kota Pekanbaru telah mengoperasikan Trans Metro Pekanbaru secara mandiri selama 16 tahun terakhir.

    Meskipun telah memiliki sistem transportasi publik, mode share transportasi publik di Kota Pekanbaru diperkirakan masih di bawah 3 persen pada tahun 2021.

    Salah satu penyebabnya adalah cakupan layanan yang masih terbatas, yang baru mencakup 16 persen dari keseluruhan luas wilayah Kota Pekanbaru.

    Lain halnya dengan Jakarta. Berbagai macam transportasi publik telah tersedia di Jakarta, antara lain TJ, MRT, LRT, dan KRL. Cakupan layanan transportasi publik di Jakarta pun sudah cukup tinggi, terjangkau dalam radius 500 meter oleh 85 persen penduduk Jakarta3.

    Akan tetapi, baru 11 persen masyarakat Jakarta yang menggunakan transportasi publik untuk bermobilitas harian.

    Hasil survei ITDP di tahun 2023 menunjukkan alasan utama masyarakat Jakarta dan kota sekitarnya belum mau menggunakan transportasi publik adalah karena kondisi transportasi publik yang masih kurang nyaman akibat penuh sesak dengan penumpang, terutama di jam sibuk.

    Padatnya layanan transportasi publik di Jakarta
    Bukan hanya terbatasnya ketersediaan transportasi publik yang andal dan nyaman, ketergantungan terhadap kendaraan pribadi juga terjadi karena belum tersedianya infrastruktur pejalan kaki dan pesepeda yang aman dan inklusif di kebanyakan kota di Indonesia.

    Tidak jarang masyarakat perlu berbagi jalan dengan kendaraan bermotor untuk berjalan kaki maupun bersepeda.

    Padahal, berjalan kaki dan bersepeda seharusnya bisa menjadi moda andalan masyarakat untuk perjalanan jarak dekat (di bawah 500 meter) dan menengah (hingga 5 kilometer).

    Selain trotoar dan jalur sepeda, fasilitas penyeberangan yang aman dan inklusif juga merupakan bagian penting dari jaringan infrastruktur pejalan kaki dan pesepeda yang sering kali luput dari perhatian pemangku kepentingan.

    Lalu bagaimana kota dapat menyediakan transportasi publik dan infrastruktur transportasi tidak bermotor yang baik?

    Perkembangan teknologi telah membuka peluang baru dalam penyediaan fasilitas transportasi berkelanjutan. Dalam penyediaan transportasi publik, eksplorasi model kontrak selain Buy-the-Service (atau pembelian layanan) berpeluang menurunkan kebutuhan anggaran hingga 24 persen.

    Selain itu, penggunaan bus listrik juga diperkirakan dapat mengurangi biaya operasional tambahan sebesar 5 persen.

    Dalam penyediaan infrastruktur transportasi tidak bermotor, penyediaan pelican crossing selain lebih inklusif juga berpotensi mengurangi kebutuhan biaya jika dibandingkan dengan penyediaan JPO.

    Selain itu, penyediaan trotoar dan jalur sepeda juga perlu dimulai dari wilayah prioritas, yaitu wilayah yang terkoneksi dengan transportasi publik dan fasilitas umum lainnya.

    Kemerdekaan seharusnya tidak hanya tentang penjajahan, tapi juga tentang tersedianya pilihan. Peningkatan kualitas ekonomi Indonesia seharusnya dapat dimanfaatkan untuk memperkaya pilihan bermobilitas yang berkelanjutan dan inklusif bagi masyarakat Indonesia.

    Saat masyarakat Indonesia memiliki pilihan untuk menggunakan transportasi publik yang andal, berjalan kaki dengan nyaman, bersepeda dengan aman, atau bahkan tinggal dekat dengan tempat bekerja, barulah Indonesia dikatakan merdeka bermobilitas, yaitu merdeka dari kebutuhan akan kendaraan bermotor pribadi.