7cloud.asia – Transisi ke kendaraan listrik digadang pemerintah sebagai salah satu cara menurunkan emisi gas rumah kaca di sektor transportasi guna mewujudkan emisi nol pada 2060.
Sebuah penelitian menyebut, karena tidak menggunakan bahan bakar fosil, kendaraan listrik mampu memangkas hingga 50 persen emisi karbon, karena itu dinilai berkontribusi positif terhadap lingkungan.
Pemerintah, dalam pemaparan di IEA’s 9th Global Conference On Energy Efficiency (GCEE) di Nairobi, Kenya pada April 2024 lalu, menargetkan 2 juta unit mobil listrik dan 13 juta unit kendaraan listrik roda dua mengaspal pada tahun 2030.
Dari target tersebut, diharapkan terjadi penghematan energi sebesar 29,79 million barrel oil equivalent (MBOE) dan penurunan emisi gas sebanyak 7,23 juta ton setara karbondioksida atau CO2e.
Untuk mencapai target tersebut pemerintah memberikan insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Ditanggung Pemerintah (DTP) atas penjualan Kendaraan Bermotor Listrik (KBL) berbasis baterai roda empat tertentu dan Kendaraan Bermotor Listrik
Baca: Transisi ke Kendaraan Listrik bukan solusi tepat polusi udara
Namun demikian, sejumlah kalangan menilai transisi ke kendaraan listrik ini bukan solusi yang tepat untuk menurunkan emisi dari sektor transportasi.
Transisi ke kendaraan listrik dinilai hanya memindahkan emisi dari kawasan perkotaan ke daerah penghasil nikel dan lokasi pembangkit listrik. Pasalnya, mayoritas pembangkit listrik di Indonesia masih menggunakan batu bara.
Tanpa transisi ke sumber energi terbarukan berkelanjutan secara paralel, penggunaan kendaraan listrik hanya akan memindahkan emisi dari asap knalpot ke cerobong pembangkit listrik.
Penelitian yang dilakukan tim dari Universitas Padjadjaran mengungkap, untuk benar-benar menurunkan emisi, transisi ke kendaraan listrik harus dibarengi bauran energi terbarukan dengan pertumbuhan di atas 65 persen per tahun.
Dan yang penting dicatat, seluruh rantai pasok kendaraan listrik dan energinya juga harus dijamin bersih dan berkelanjutan.
Baca: Limbah baterai kendaraan listrik bisa memicu masalah serius bagi lingkungan
Dalam diskusi di sela peluncuran film dokumenter “Limbah Nikel dan Mimpi Energi Bersih” beberapa waktu lalu terungkap transisi ke kendaraan listrik ternyata memicu kerusakan alam yang luar biasa.
Pembukaan hutan untuk tambang nikel serta pengolahan bijih nikel dengan menggunakan teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL) selain tinggi emisi juga menghailkan limbah beracun yang membahayakan lingkungan.
Lantas bagaimana membuat kendaraan listrik jadi solusi transisi energi? Transisi energi, khususnya di sektor transportasi, tidak cukup sekadar mengganti mesin berbahan bakar fosil ke baterai.
Langkah ini menuntut transformasi besar yang membutuhkan paradigma baru dalam membangun sistem transportasi yang efisien, terjangkau, dan rendah karbon.
Kepada konsumen, Direktur Eksekutif Aksi Ekologi dan Emansipasi Rakyat/AEER, Pius Ginting mengajak untuk tidak begitu saja mengamini kebijakan transisi ke kendaraan listrik ini.
”Alih-alih beralih ke kendaraan listrik, jauh lebih baik beralih ke transportasi publik,” ujarnya di akhir diskusi.
Baca: Komisi VII DPR soroti kesiapan pengolahan limbah baterai

Leave a Reply