7cloud.asia – Pada tahun 2023, kota-kota di seluruh dunia bergulat dengan kemacetan lalu lintas yang parah, dengan kecelakaan lalu lintas merenggut 3.260 nyawa setiap hari.
UN Habitat juga mencatat, emisi terkait transportasi menyumbang hampir seperempat dari seluruh emisi gas rumah kaca di sektor energi.
Untuk mengatasi tantangan ini, terdapat kebutuhan mendesak akan sistem transportasi yang lebih aman, lebih terjangkau, mudah diakses, terintegrasi, dan berkelanjutan yang memanfaatkan teknologi terkini untuk mengurangi kemacetan.
Reformasi di sektor transportasi juga diharapkan dapan menekan angka kecelakaan, dan menurunkan polusi udara.
Namun, kenyataannya banyak kota merespons kebutuhan transportasi secara tradisional yakni memperluas infrastruktur yang berpusat pada mobil untuk mengakomodasi permintaan mobil yang terus meningkat.
Baca: Konsep slow city untuk wujudkan kota yang lebih memanusiakan
Pendekatan ini terbukti hanya memperburuk masalah transportasi dan juga memperparah kerusakan lingkungan. Pendekatan ini memicu perluasan kota, meningkatkan ketergantungan pada mobil, dan memicu siklus permintaan infrastruktur yang terus meningkat.
Untuk memutus siklus ini membutuhkan pergeseran transformatif menuju solusi mobilitas perkotaan yang berpusat pada manusia dengan memprioritaskan transportasi publik, dan ketahanan iklim untuk kota yang lebih layak huni dan berkelanjutan.
Untuk mengatasi tantangan mobilitas perkotaan, pergeseran paradigma dalam perencanaan perkotaan sangatlah penting. Fokusnya haruslah pada penciptaan kota-kota yang kompak dengan pemanfaatan lahan yang beragam untuk meningkatkan aksesibilitas dan mengurangi kebutuhan perjalanan.
Perencanaan perkotaan harus berpusat pada masyarakat, yang bertujuan untuk meminimalkan jarak tempuh, meningkatkan pangsa moda berkelanjutan, dan mengoptimalkan emisi, mengikuti kerangka kerja ASI (Hindari-Pergeseran-Tingkatkan).
Elemen penting dari pergeseran ini adalah Pembangunan Berorientasi Transit (TOD), yang dikembangkan di sekitar pusat transportasi umum.
Baca: Konsep “Kota 15 Menit” mungkinkan warganya berktivitas tanpa kendaraan bermotor
TOD mendorong kehidupan bebas mobil dengan menjadikan transportasi umum yang berkualitas tinggi, mudah diakses, dan berkelanjutan sebagai tulang punggung mobilitas perkotaan.
Sistem transportasi umum harus menawarkan kapasitas tinggi, jangkauan luas, dan emisi rendah, sehingga mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi.
Dalam konteks ini, kota harus mengembangkan transportasi umum yang aksesibel, terjangkau, dan efisien bagi seluruh penduduk, terutama masyarakat berpenghasilan rendah.
Mengingat sebagian besar perjalanan melibatkan beberapa moda transportasi, kota harus berinvestasi dalam sistem multimoda dan memastikan integrasi yang lancar.
Moda transportasi berkapasitas tinggi, seperti metro atau BRT, harus terhubung dengan layanan pengumpan dan terintegrasi dengan baik dengan moda mobilitas aktif untuk memaksimalkan efisiensi.
Baca: Kota di Kolombia ini dulang sederet manfaat dari penerapan konsep TOD
Meningkatkan “akses jarak dekat” adalah kunci untuk memastikan bahwa penduduk dapat dengan mudah terhubung ke layanan transportasi umum.
Lebih lanjut, ruang perkotaan perlu didesain ulang untuk memprioritaskan keselamatan, terutama bagi pengguna jalan yang rentan, seperti pejalan kaki dan pesepeda.
Jalan-jalan harus dirancang dengan jalur khusus untuk pejalan kaki, dilengkapi dengan penyeberangan yang aman, dan jalur sepeda.
Singkatnya, untuk mentransformasi mobilitas perkotaan, kota harus mengadopsi pendekatan holistik dan berkelanjutan yang mengintegrasikan tata guna lahan, mobilitas aktif, transportasi umum, dan langkah-langkah keselamatan.
Pendekatan ini akan menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih tangguh, aksesibel, manusiawi dan layak huni.
Baca: Kota-kota di Afrika berlomba kembangkan jalur untuk pesepeda dan pejalan kaki

Leave a Reply