Tag: gaza

  • Kemlu Kecam Pengepungan Tentara Israel terhadap Rumah Sakit Indonesia di Gaza

    Kemlu Kecam Pengepungan Tentara Israel terhadap Rumah Sakit Indonesia di Gaza

    7cloud.asia – Indonesia mengutuk keras serangan tentara Israel di Jalur Gaza, Palestina, termasuk pengepungan terhadap Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara yang melanggar hukum internasional.

    “Serangan Israel terhadap fasilitas sipil merupakan pelanggaran berat atas hukum internasional, hukum humaniter internasional, dan hak asasi manusia,” demikian disampaikan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI melalui media sosial X, Selasa (20/5/2025).

    Indonesia mendesak Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) untuk memainkan perannya untuk menghentikan kekejaman yang ditunjukkan Israel melalui serangannya di Jalur Gaza.

    DK PBB dan komunitas internasional juga didorong mengambil tindakan tegas guna memastikan tegaknya hukum internasional atas serangan Israel.

    Baca: Unjuk rasa besar-besaran atas blokade Israel terhadap Gaza

    Selain itu, Indonesia memandang bahwa gencatan senjata permanen harus segera diwujudkan dan akses bantuan kemanusiaan kepada warga Palestina di Gaza harus dibuka seluas-luasnya.

    Sebelumnya organisasi kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) manyatakan bahwa Rumah Sakit Indonesia di Gaza mengalami kerusakan struktural parah akibat serangan Zionis Israel yang semakin masif.

    Rumah Sakit Indonesia ini merupakan fasilitas medis terakhir yang masih aktif di Gaza Utara itu.

    “Kondisi RS memprihatinkan. Kaca-kaca jendela pecah dan plafon berjatuhan di lantai, sehingga mengganggu berbagai layanan medis penting di ruang perawatan intensif, instalasi gawat darurat, dan ruang operasi,” menurut MER-C dalam rilis persnya, Minggu (18/5/2025).

    Baca: Israel hanya izikan 9 truk pembawa bantuan masuk Gaza

    Bom-bom yang dijatuhkan tentara Israel di sekitar area RS menimbulkan guncangan hebat seperti gempa yang semakin menambah kerusakan di RS.

    “Beberapa alat medis bahkan dilaporkan tertimpa reruntuhan akibat getaran (ledakan) tersebut,” ucap MER-C.

    Meski di tengah ancaman Israel dan keterbatasan makanan, puluhan staf medis dan relawan yang masih bertahan di RS Indonesia terus berusaha membersihkan bagian dalam rumah sakit, demikian MER-C.

    Sementara itu, menurut laporan Al-Jazeera sebagaimana dikutip Sputnik, sedikitnya 55 orang masih terjebak di dalam gedung RS Indonesia hingga Senin (19/5/2025) waktu setempat.

  • Hamas Sebut Israel Sengaja Menciptakan Kelaparan di Gaza

    Hamas Sebut Israel Sengaja Menciptakan Kelaparan di Gaza

    7cloud.asia – Kelompok Hamas menuduh Israel merekayasa kelaparan di Jalur Gaza dan memperingatkan agar tidak membangun kamp-kamp penahanan di wilayah selatan dengan dalih distribusi bantuan kemanusiaan.

    Dalam sebuah pernyataan, yang dirilis Kamis (22/5/2025) juru bicara Hamas mengatakan Israel secara sistematis membuat lebih dari 2 juta warga Palestina di Gaza kelaparan dengan membatasi bantuan kemanusiaan dan mengaitkannya dengan syarat politik dan keamanan.

    “Kebijakan ini merupakan bagian dari apa yang sekarang dikenal sebagai ‘rekayasa kelaparan’, yakni berupaya memaksakan fakta di lapangan melalui rencana ‘bantuan ghetto’, yang secara keliru digambarkan sebagai solusi kemanusiaan,” bunyi pernyataan Hamas tersebut.

    Hamas menambahkan bantuan yang diizinkan masuk ke Gaza setelah 81 hari blokade Israel “bahkan tidak ada setetes air di lautan jika dibandingkan dengan apa yang dibutuhkan.”

    Kelompok tersebut memperkirakan bahwa daerah kantong tersebut membutuhkan setidaknya 500 truk bantuan setiap hari untuk memenuhi kebutuhan dasar, tetapi jumlah yang diizinkan masuk kurang dari sepersepuluhnya.

    Baca: Hanya 9 truk bantuan kemanusiaan yang diizinkan masuk ke Gaza

    Krisis tersebut memburuk karena meningkatnya jumlah warga di lokasi pengungsian, runtuhnya sistem kesehatan, serta kondisi kelaparan yang meluas, terutama di kalangan anak-anak.

    Kantor Media Pemerintah Gaza mengonfirmasi 87 truk bantuan masuk pada Rabu (21/5/2025), pertama kalinya dalam hampir tiga bulan, namun menekankan bahwa dibutuhkan 500 truk bantuan dan 50 truk bahan bakar setiap hari untuk mempertahankan kehidupan di tengah kondisi kelaparan parah.

    Hamas memperingatkan militer Israel menggunakan bantuan sebagai kedok untuk menjalankan rencana yang menyerupai kamp penahanan di Gaza selatan.

    Hamas menggambarkan kondisi ini sebagai “skema kolonial yang pasti akan gagal menghadapi keteguhan rakyat kami.”

    Hamas menyerukan kepada komunitas internasional dan organisasi kemanusiaan untuk “segera menghentikan pengepungan, menolak kelaparan dan penghinaan yang direkayasa, serta memastikan koridor kemanusiaan yang bebas dan permanen.”

    Baca: Krisis kemanusiaan di Gaza semakin parah

    Israel dan Amerika Serikat mempromosikan mekanisme distribusi bantuan baru yang menurut para kritikus bertujuan untuk mengurangi jumlah pendudukan Gaza utara dengan mengarahkan warga Palestina ke wilayah selatan, terutama Rafah.

    Radio Tentara Israel pada Selasa (20/5/2025) melaporkan rencana tersebut menetapkan bahwa semua warga Jalur Gaza bagian utara yang menuju pusat distribusi bantuan di selatan poros Salah al-Din tidak akan diizinkan kembali ke utara Gaza.

    Ditambahkan bahwa dengan cara ini, Israel berniat mempercepat evakuasi warga Gaza dari jalur Gaza utara dan bahwa daerah tersebut dapat sepenuhnya dikosongkan dari penduduknya.

    Sebelumnya pada Kamis, lembaga penyiaran publik Israel, KAN, melaporkan bahwa distribusi makanan oleh perusahaan asal Amerika Serikat akan dimulai pada Minggu melalui empat pusat—satu di koridor Netzarim, Gaza tengah, dan tiga lainnya di dekat Rafah.

    Sejak 2 Maret, Israel telah menutup total semua penyeberangan ke Gaza, yang menurut lembaga bantuan telah menjebak wilayah kantong tersebut dalam kelaparan dan menyebabkan banyak korban jiwa.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

  • Aljazair Usulkan Resolusi Dewan Keamanan PBB untuk Hentikan Semua Pembatasan di Gaza

    Aljazair Usulkan Resolusi Dewan Keamanan PBB untuk Hentikan Semua Pembatasan di Gaza

    7cloud.asia – Aljazair mengusulkan sebuah resolusi Dewan Keamanan PBB yang menyerukan pencabutan segera dan tanpa syarat semua pembatasan yang menghambat pengiriman bantuan ke Gaza.

    Menurut dokumen yang diperoleh koresponden RIA Novosti pada Jumat (23/5/2025) rancangan resolusi Dewan Keamanan PBB tersebut ‘menuntut pencabutan segera dan tanpa syarat seluruh larangan masuk bantuan kemanusiaan dan pendistribusiannya di Jalur Gaza

    Juga menyerukan perbaikan listrik, pasokan air bersih, dan layanan penting lainnya sesuai dengan hukum humaniter internasional dan resolusi yang relevan oleh DK PBB.”

    Baca: Israel disebut sengaja menciptakan kelaparan di Gaza

    Lebih jauh dokumen rancangan tersebut menyatakan keprihatinan mendalam atas situasi bencana kemanusiaan dan perkembangan terakhir di Jalur Gaza setelah pelanggaran perjanjian gencatan senjata,”

    Resolusi itu juga menyerukan semua pihak mematuhi tanggung jawab di bawah hukum internasional.

    Yang terakhir, dokumen tersebut menyatakan mendukung upaya mediasi oleh Mesir, Qatar, dan AS “untuk segera membawa kembali para pihak dalam pelaksanaan perjanjian gencatan senjata dengan semua tahapannya”, sebagaimana tercantum dalam resolusi Dewan Keamanan 2735.

    Baca: Israel batasi jumlah bantuan yang bisa masuk ke Gaza

    Karena draf dokumen tersebut masih berupa usulan, perubahan mungkin muncul sebelum diajukan untuk pemungutan suara.

    Sebelumnya pada Kamis, Misi Israel di PBB menyampaikan pernyataan kepada wartawan, yang menyatakan ketidaksetujuannya dengan rancangan resolusi yang diusulkan Aljazair.

    Pernyataan tersebut mengatakan bahwa resolusi kemanusiaan tersebut akan diputuskan pada Rabu, 28 Mei.

    Masyarakat internasional sudah berulang kali mendesak Israel untuk menghentikan blokade terhadap Gaza, namun hingga hari ini Israel tidak bergeming

    Sumber: Antaranews.com/Sputnik

  • Israel Kuasai 77 Persen Wilayah Gaza: Upaya Genosida terhadap Rakyat Palestina

    Israel Kuasai 77 Persen Wilayah Gaza: Upaya Genosida terhadap Rakyat Palestina

    7cloud.asia – Tentara Israel saat ini menguasai lebih dari 77 persen wilayah geografis Gaza. Demikian pernyataan Kantor Media Pemerintah Gaza pada Minggu (25/5/2025).

    “Data lapangan dan analisis yang telah diverifikasi menunjukkan bahwa pasukan pendudukan Israel kini secara efektif menguasai sekitar 77 persen dari total luas wilayah (Jalur) Gaza,” ujar pernyataan tersebut.

    Penguasaan itu dilakukan melalui “serangan darat langsung, penempatan pasukan di kawasan permukiman dan area sipil

    Pernyataan itu juga menyebut tentara Israel dengan sengaja mencegah warga Palestina mengakses wilayah, tanah, dan properti mereka melalui tembakan intensif atau evakuasi paksa.

    Baca: Israel disebut sengaja ciptakan kelaparan di Gaza

    Kantor Media Gaza mengecam keras rencana Israel yang dinilai sebagai bentuk pemindahan massal penduduk, pembersihan etnis, genosida sistematis, dan kolonialisme pemukim secara paksa.

    “Semuanya dilakukan “di bawah kedok blokade dan perang terbuka yang menyasar warga serta infrastruktur”,” demikian pernyataan media Gaza tersebut.

    Pemerintah Gaza juga menyatakan bahwa Israel beserta para pendukungnya, termasuk Amerika Serikat, Inggris, Jerman, dan Prancis, bertanggung jawab penuh atas kejahatan genosida yang terjadi di wilayah tersebut.

    Sebelumnya, pada Kamis (22/5/2025) lalu, surat kabar Israel Hayom melaporkan bahwa militer Israel berencana menguasai 70–75 persen wilayah Jalur Gaza dalam waktu hampir tiga bulan sebagai bagian dari kampanye militer yang diperluas di kantong tersebut.

    Baca: Krisis kemanusiaan di Gaza semakin parah

    Menolak seruan gencatan senjata dari komunitas internasional, tentara Israel terus melancarkan serangan brutal ke Jalur Gaza sejak Oktober 2023, yang telah menewaskan lebih dari 53.900 warga Palestina — mayoritas perempuan dan anak-anak.

    Pada November lalu, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap pemimpin otoritas Israel Benjamin Netanyahu dan mantan kepala pertahanan Yoav Gallant.

    Keduanya dituduh telah melakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

    Israel juga sedang menghadapi gugatan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) atas kejahatan perang terhadap warga sipil tak bersenjata di Gaza.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

  • Dewan Eropa Tegaskan Israel Harus Tarik Tentaranya dari Gaza

    Dewan Eropa Tegaskan Israel Harus Tarik Tentaranya dari Gaza

    7cloud.asia – Presiden Dewan Eropa Antonio Costa pada Senin (26/5/2025) mendesak Israel untuk mencabut blokade Gaza dan mengizinkan akses kemanusiaan yang “segera, aman dan tanpa hambatan”

    Seruan ini disampaikan setelah Antonio Costa melakukan pembicaraan melalui telepon dengan Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas.

    Dalam unggahannya di platform media sosial X, Costa mengatakan bahwa dia telah menyampaikan “keprihatinan yang mendalam” terkait situasi kemanusiaan yang sangat memprihatinkan di Gaza dan kekerasan yang terus meningkat di Tepi Barat.

    Dia menyuarakan dukungan penuh terhadap rencana bantuan lima tahap Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres untuk Gaza.

    Baca: Israel kuasai 77 persen wilayah Gaza

    Bantuan itu meliputi pemeriksaan dan pemindaian pasokan bantuan di perlintasan perbatasan, pengangkutan ke fasilitas kemanusiaan, distribusi lanjutan, dan pengiriman kepada mereka yang membutuhkan.

    “Israel harus mencabut blokadenya dan mengizinkan akses yang segera, aman, dan tanpa hambatan untuk bantuan kemanusiaan dan bantuan, sesuai dengan hukum internasional dan prinsip-prinsip kemanusiaan,” tulis Costa.

    Dia juga menegaskan bahwa para sandera yang tersisa yang masih ditahan Hamas harus segera dibebaskan.

    Israel telah meningkatkan kampanye militernya di Jalur Gaza dalam beberapa hari terakhir.

    Sedikitnya 33 warga Palestina, termasuk 18 anak-anak dan enam wanita, tewas dan puluhan lainnya terluka dalam serangan udara Israel pada Senin (26/5/2025) pagi waktu setempat

    Baca: Israel sengaja menciptakan kelaparan di Gaza

    Serangan ini menargetkan sekolah Fahmi Al-Jarjawi yang menjadi tempat perlindungan bagi keluarga-keluarga yang mengungsi, menurut Pertahanan Sipil Gaza.

    Sebelumnya, pernyataan Kantor Media Pemerintah Gaza pada Minggu (25/5/2025) menyebut tentara Israel saat ini menguasai lebih dari 77 persen wilayah geografis Gaza.

    Penguasaan itu dilakukan melalui “serangan darat langsung, penempatan pasukan di kawasan permukiman dan area sipil

    Pernyataan itu juga menyebut tentara Israel dengan sengaja mencegah warga Palestina mengakses wilayah, tanah, dan properti mereka melalui tembakan intensif atau evakuasi paksa.

    Penerjemah: Antaranews.com/Xinhua-Anadolu

  • UNRWA: Bantuan untuk Warga Gaza Tertahan di Yordania Akibat Blokade Israel

    UNRWA: Bantuan untuk Warga Gaza Tertahan di Yordania Akibat Blokade Israel

    7cloud.asia – Badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) pada Jumat (30/5/2025) menyampaikan peringatan karena bantuan kemanusiaan ke Gaza terus terhambat akibat blokade Israel.

    Akibat blokade Israel pasokan penting dan bantuan kemanusiaan untuk penduduk Gaza masih tertimbun di Yordania.

    “Di gudang UNRWA di (ibu kota Yordania) Amman, hanya tiga jam berkendara dari Gaza, kami memiliki cukup pasokan untuk membantu lebih dari 200.000 orang selama sebulan penuh,” kata badan PBB tersebut.

    “Tepung, paket makanan, perlengkapan kebersihan, selimut, dan perlengkapan medis siap dikirim. Gaza membutuhkan bantuan dalam jumlah besar,” demikian UNRWA dalam pernyataannya.

    Baca: Kesepakatan gencatan senjata selama 60 hari di Gaza

    UNRWA menekankan bahwa “aliran pasokan yang lancar dan tak terputus harus diizinkan masuk.”

    Blokade Israel telah berlangsung sejak 2 Maret, atau hampir empat bulan. Israel menutup semua jalur penyeberangan perbatasan, menghentikan masuknya makanan, obat-obatan, bahan bakar, dan pasokan penting lainnya bagi 2,4 juta penduduk Gaza.

    Sejumlah badan bantuan telah memperingatkan risiko kelaparan lebih dari 2 juta penduduk di Gaza yang merupakan daerah kantong Palestina tersebut.

    Baca: Krisis kemanusiaan di Gaza akibat blokade Israel

    Blokade Israel ini menjadi kelanjutan agresi Israel yang berlangsung sejak Oktober 2023 yang telah menewaskan hampir 54.000 warga Palestina

    Pada November lalu, Mahkamah Pidana Internasional mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk kepala otoritas Israel Benjamin Netanyahu dan mantan kepala pertahanannya Yoav Gallant atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

    Israel juga menghadapi kasus genosida di Mahkamah Internasional atas kejahatan perangnya terhadap warga sipil di daerah kantong tersebut.

    Sumber: Anataranews.com/Anadolu

  • Hamas Desak AS Beri Jaminan Atas Gencatan Senjata di Gaza

    Hamas Desak AS Beri Jaminan Atas Gencatan Senjata di Gaza

    7cloud.asia – Kelompok perlawanan Palestina, Hamas meminta mediator dari Amerika Serikat, Steve Witkoff, untuk memberikan jaminan tertulis yang serius terkait penghentian serangan Israel di Jalur Gaza.

    Juru bicara Hamas, Jihad Taha mengatakan bahwa Hamas dalam koordinasi dengan kelompok perlawanan lainnya, sedang meninjau dengan cermat proposal yang diajukan Steve Witkoff

    Demikian Pusat Informasi Palestina sebagaimana dilaporkan IRNA pada Sabtu (31/5/2025) waktu setempat.

    Taha menyampaikan bahwa rencana yang diajukan Witkoff tidak memiliki jaminan yang diperlukan dan gagal mengakomodasi sejumlah permintaan dari Hamas.

    Kendati demikian, ia menegaskan bahwa Hamas tetap mempertahankan sikap positif terhadap setiap inisiatif atau usulan yang dapat mengarah pada penghentian perang dan penarikan pasukan Israel dari Gaza.

    Baca: Hamas dan Israel sepakati gencatan senjata selama 60 hari

    Ia juga menekankan bahwa setiap kesepakatan harus mencakup gencatan senjata penuh serta penarikan total militer Israel dari Jalur Gaza.

    Namun, versi final dari rencana Witkoff tidak mencantumkan jaminan langsung maupun bertahap untuk penghentian perang.

    Diberitakan sebelumnya Hamas dan Zionis Israel menyepakati gencatan senjata selama 60 hari ke depan di Jalur Gaza, lapor penyiar Al Arabiya yang mengutip berbagai sumber pada Kamis (29/5/2025).

    Hamas mengatakan pihaknya telah menerima usulan baru gencatan senjata di Gaza dari Utusan Khusus Amerika Serikat untuk Timur Tengah, Steve Witkoff.

    Sementara itu penyiar Israel Kan, dengan mengutip beberapa sumber, melansir bahwa Israel sepakat dengan usulan baru Witkoff.

    Baca: Blokade Israel picu krisis kemanusiaan di Gaza

    Namun Hamas keberatan dengan usulan tersebut lantaran tidak ada jaminan perang berakhir secara permanen dan penarikan penuh militer Israel dari wilayah kantong itu.

    Lebih lanjut, Taha menyerukan kepada organisasi-organisasi internasional untuk menyatakan status darurat guna menyelamatkan Gaza dari bencana kemanusiaan.

    Menurut kantor berita Wafa, agresi Israel di Gaza sejak 7 Oktober 2023 telah menewaskan 54.321 warga Palestina dan melukai 123.770 lainnya.

    Serangan Israel juga menghancurkan sebagian besar wilayah Gaza. Hingga saat ini tentara Israel masih menerapkan blokade terhadap Gaza yang dihuni lebih dari 2juta jiwa.

    Sumber: Antaranewscom/Sputnik-IRNA-OANA

  • Jebakan Gaza Humanitarian Foundation Telah Menewaskan 31 Warga Palestina

    Jebakan Gaza Humanitarian Foundation Telah Menewaskan 31 Warga Palestina

    7cloud.asia – “Jebakan”, itulah kata yang terucap dari mulut Nawal Al Masri, yang mendapati anak laki-lakinya termasuk korban terluka saat mendekati Gaza Humanitarian Foundation (GHF).

    Gaza Humanitarian Foundation (GHF) merupakan lembaga bikinan Amerika Serikat dan Israel, yang dikabarkan ingin memberikan bantuan kepada warga Gaza.

    Sebagaimana dikutip dari CNN, Al Masri mempertanyakan maksud lokasi yang didirikan oleh AS-Israel untuk mendistribusikan bantuan, tetapi ternyata menjadi tempat penembakan terhadap warga Palestina yang telah banyak menderita kelaparan akibat blokade Israel.

    “Apakah ini yang mereka sebut bantuan? Bantuan ini untuk membunuh orang,” kata Al-Masri dikutip CNN.

    Baca: Israel kuasai 72 persen wilayah Gaza

    Seperti diwartakan oleh berbagai media internasional, otoritas Gaza mengatakan 31 warga sipil tewas dan sekitar 200 orang lainnya terluka di dekat pusat bantuan di Rafah, Gaza selatan, pada Minggu (1/6/2025) dini hari.

    Para korban itu disebut ditembaki pasukan Israel (IDF). Sementara itu, gambar yang diperoleh CNN juga menunjukkan banyak korban tiba dengan tandu di Rumah Sakit Nasser di Khan Younis, juga terletak di wilayah Gaza selatan.

    Masih dari laporan tersebut, kepala rumah sakit lapangan itu, Marwan Al Hams, menyatakan bahwa mereka kewalahan dengan banyaknya jumlah korban yang masuk ke fasilitas kesehatan di sana.

    Al Hams mengungkapkan, luka-luka yang diderita korban umumnya merupakan hasil dari korban luka tembak dan terkonsentrasi di wilayah bagian atas para korban.

    Baca: Hamas sebut Israel sengaja menciptakan kelaparan di Gaza

    CNN memberitakan pula pernyataan IDF yang menyatakan bahwa pasukannya melepaskan tembakan beberapa kali setelah mengidentifikasi “beberapa tersangka bergerak ke arah mereka, menyimpang dari rute akses yang ditentukan.”

    Al Jazeera melaporkan bahwa pembunuhan terhadap warga Gaza pada Selasa pagi itu terjadi di dekat pusat bantuan yang dioperasikan Gaza Humanitarian Foundation (GHF). Peristiwa tersebut merupakan kejadian ketiga kalinya.

    Berdasarkan data dari sejumlah pemberitaan media internasional, peristiwa sebelumnya terjadi pada 27-28 Mei Mei 2025, saat GHF mulai mendistribusikan bantuan di pusat distribusi di Rafah di bawah pengawasan IDF.

    Ribuan warga Palestina yang telah menderita kelaparan karena blokade Israel berkumpul untuk mengakses paket makanan yang akan diberikan, tetapi kerumunan yang begitu besar mengakibatkan kekacauan.

    Warga Gaza banyak yang memanjat pagar dan mendorong koridor yang penuh sesak untuk mencapai pasokan bantuan itu, sehingga situasi menjadi ricuh bahkan terjadi penjarahan dan tindak kekerasan.

     

     

  • Amerika Serikat Veto Rancangan Resolusi Dewan Keamanan PBB Soal Gaza

    Amerika Serikat Veto Rancangan Resolusi Dewan Keamanan PBB Soal Gaza

    7cloud.asia – Amerika Serikat (AS) pada Rabu (4/6/2025) memveto rancangan resolusi Dewan Keamanan PBB terkait Gaza.

    Rancangan resolusi Dewan Keamanan PBB tersebut, yang akan menuntut gencatan senjata segera di Gaza dan pencabutan pembatasan bantuan kemanusiaan, mendapat dukungan 14 dari 15 anggota Dewan Keamanan PBB.

    AS menjadi satu-satunya negara yang memveto rancangan resolusi Dewan Keamanan PBB yang diharapkan dapat mengakhiri krisis di Gaza tersebut.

    Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengaku kecewa dengan sikap Amerika Serikat ini,

    Baca: AS diminta beri jaminan atas gencatan senjata di Gaza

    Ketika ditanya pada Kamis (5/6/2025) apakah dirinya kecewa dengan hasil tersebut, Guterres menjawab, “Tentu saja.”

    “Kami selalu kecewa ketika gencatan senjata tidak terwujud, pembebasan sandera (tidak terjadi), dan bantuan kemanusiaan tidak didistribusikan atau didistribusikan dengan cara yang membahayakan nyawa begitu banyak warga Palestina,” ujarnya kepada para wartawan.

    Guterres mengatakan PBB akan melakukan segala cara untuk membantu warga Gaza yang saat ini mengalami krisis kemanusiaan.

    Namun, ia menekankan upaya badan dunia itu hanya akan efektif jika terjadi gencatan senjata permanen, pembebasan semua sandera tanpa syarat dan segera serta akses tak terbatas untuk bantuan kemanusiaan

    Baca: Hamas dan Israel sepakati gencatan senjata selama 60 hari di Gaza

    Ia mengatakan sangat penting untuk tetap mempertahankan perspektif solusi dua negara.

    “Dan bagi mereka yang meragukan solusi dua negara, saya bertanya: Apa alternatifnya? Apakah solusi satu negara di mana warga Palestina diusir atau warga Palestina akan dipaksa untuk tinggal di tanah mereka tanpa hak? Itu sama sekali tidak dapat diterima,” katanya.

    Ia menambahkan “Saya sangat yakin bahwa adalah tugas masyarakat internasional untuk menjaga solusi dua negara tetap hidup dan kemudian mewujudkan kondisi yang diperlukan untuk mewujudkannya.”

    Sumber: Antaranews.com/Xinhua

  • UNRWA: Warga Gaza Diserang Saat Mengantri Makanan di Pusat Bantuan

    UNRWA: Warga Gaza Diserang Saat Mengantri Makanan di Pusat Bantuan

    7cloud.asia – Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), Sabtu (7/6/2025), melaporkan bahwa warga sipil yang kelaparan di Jalur Gaza menjadi sasaran serangan brutal pasukan Israel saat mereka berupaya mendapatkan makanan di pusat distribusi bantuan Rafah.

    Dalam pernyataannya, UNRWA mengutip kesaksian seorang warga Palestina yang selamat dari serangan di pusat distribusi bantuan yang dikelola Gaza Humanitarian Foundation (Yayasan Kemanusiaan Gaza/GHF) bentukan Amerika Serikat dan Israel dengan dalih bantuan kemanusiaan.

    Menurut pernyataan UNRWA itu, warga Palestina yang kelaparan, dalam keputusasaan mencari makanan, justru menghadapi serangan brutal dari militer Israel di pusat-pusat distribusi tersebut sehingga nyawa mereka terancam.

    Baca: Jebakan Gaza Humanitarian Foundation tewaskan puluhan warga Palestina

    Banyak di antara mereka pulang dengan tangan kosong setelah berhasil selamat dari serangan, tambah pernyataan itu.

    UNRWA menegaskan pentingnya segera mengaktifkan kembali distribusi bantuan yang aman bagi warga Gaza.

    Bantuan tersebut, menurut mereka, harus disalurkan melalui lembaga-lembaga resmi PBB, termasuk UNRWA.

    Sejak 27 Mei, militer Israel melakukan serangan ke sejumlah zona distribusi bantuan yang didirikan GHF.

    Baca: Amerika Serikat veto rancangan Resolusi Dewan Keamanan PBB soal Gaza

    Pasukan Zionis itu melepaskan tembakan ke arah warga sipil yang berkumpul di pusat-pusat distribusi yang berada di “zona penyangga” buatan Israel.

    Berdasarkan data Kantor Media Gaza, sejak 27 Mei hingga 6 Juni, serangan militer Israel di lokasi distribusi bantuan itu telah menewaskan 110 warga Palestina dan melukai 583 lainnya.

    Sementara itu, sembilan jenazah korban dilaporkan masih belum ditemukan hingga kini.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu