Tag: air

  • Walhi: Sumur Resapan Jadi Solusi Efektif Jaga Ketersediaan Air di Perkotaan

    Walhi: Sumur Resapan Jadi Solusi Efektif Jaga Ketersediaan Air di Perkotaan

    7cloud.asia – Sumur resapan merupakan salah satu solusi efektif untuk menjaga ketersediaan air di kawasan perkotaan dalam menghadapi musim kemarau yang semakin ekstrem.

    Penggunaan sumur resapan di perkotaan perlu diutamakan berdasarkan prioritas, dimulai dari kebutuhan pokok seperti air untuk konsumsi, diikuti kebutuhan lainnya selanjutnya untuk ternak dan tanaman pangan.

    Demikian diungkapkan Manager Kampanye Infrastruktur dan Tata Ruang WALHI Eksekutif Nasional Dwi Sawung seperti dikutip Antaranews.com, Kamis Kamis.(19/9/2024).

    “Sumur resapan sangat besar perannya ketika musim penghujan dan musim kemarau, menjaga neraca air seimbang, ini juga mesti dibarengi dengan menjaga RTH yang cukup di lingkungan sekitar,” kata Dwi,

    Ia menambahkan penting juga untuk memastikan bahwa semua sistem pipa dan tempat penyimpanan air tidak mengalami kebocoran, agar tidak ada air yang terbuang sia-sia.

    Baca: Konservasi air dengan memperbanyak pembangunan sumur resapan

    Selain itu, menjaga ruang terbuka hijau (RTH) di sekitar juga sangat mendukung fungsi sumur resapan.

    Dwi memaparkan efektifitas sumur resapan bergantung pada kondisi geologi daerah dan tingkat penggunaan air tanah.

    Dia mencontohkan, di daerah dengan penggunaan air yang masif dan tanah yang kurang mampu menyimpan air, manfaat sumur resapan mungkin kurang optimal.

    Namun, dia menegaskan sumur resapan tetap dirasa memiliki banyak dampak, baik jangka panjang maupun pendek.

    “Manfaat jangka panjangnya mengendalikan banjir dipermukaan dan penurunan muka air tanah dalam jangka panjang,” ungkapnya.

    Baca: Konservasi air di Jakarta andalkan pada waduk dan embung

    Dengan memanfaatkan sumur resapan secara optimal, masyarakat diharapkan dapat lebih siap menghadapi tantangan kemarau dan menjaga keberlanjutan sumber daya air.

    Dengan langkah-langkah yang tepat, sumur resapan dapat menjadi bagian penting dalam strategi pengelolaan air di masa depan.

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan 38 daerah di tujuh provinsi di Indonesia mengalami kekeringan ekstrem karena tidak ada hujan selama lebih dari dua bulan.

    Seperti daerah yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur meliputi Kota Kupang (144 hari), Sumba Timur (141 hari), Sabu Raijua (128 hari), Kupang (116 hari), Lembata (97 hari), Timor Tengah Selatan (97 hari), Sikka (72 hari), Rote Ndao (70 hari), Sumba Barat Daya (69 hari), dan Ende (69 hari).

    Kondisi serupa juga menimpa Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jawa Barat, dan Provinsi Banten.

  • Kekeringan dan Krisis Air Global Sudah di Depan Mata

    Kekeringan dan Krisis Air Global Sudah di Depan Mata

    7cloud.asia – Semakin jelas bahwa kekeringan di seluruh dunia semakin sering terjadi dan intens, serta terjadi dalam jangka waktu yang semakin lama.

    Hal ini paling jelas terlihat dari kekeringan serius yang sedang berlangsung di wilayah barat AS, yang selama ini dikenal sebagai wilayah dengan kondisi terkering dalam sejarah.

    Tidak ada benua di dunia yang tidak mengalami kelangkaan air, dan semakin banyak wilayah yang mencapai batas kemampuan menyediakan layanan air secara berkelanjutan, terutama di wilayah kering.

    Hampir dua pertiga penduduk dunia diperkirakan akan menghadapi kelangkaan air pada tahun 2025. Tren yang mengkhawatirkan ini menyebabkan banyak orang bertanya-tanya: “apakah dunia akan kehabisan air”?

    Jawaban singkatnya adalah ya, terutama didorong oleh perubahan iklim dan pertumbuhan populasi global. Kami menelusuri penyebab lain yang ada dan dampak besarnya di seluruh dunia.

    Baca: Banyak negara miskin tak punya pemantauan dan data kualitas air tawar

    Kekeringan dan Perubahan Iklim
    Kekurangan air terjadi karena beberapa faktor; salah satu penyebab terbesar kelangkaan air adalah kekeringan.

    Kekeringan merupakan fenomena alam dimana kondisi kering dan kurangnya curah hujan –baik hujan, salju, atau hujan es– terjadi di wilayah tertentu dalam jangka waktu tertentu.

    Meskipun jumlah curah hujan secara alami dapat bervariasi antar wilayah dan waktu dalam setahun, perubahan iklim dan peningkatan suhu global mengubah pola curah hujan, yang pada gilirannya berdampak pada kualitas dan distribusi spasial sumber daya air global.

    Temperatur yang lebih hangat berarti kelembapan di dalam tanah menguap lebih cepat, dan gelombang panas yang lebih sering dan parah memperburuk kondisi kekeringan dan berkontribusi terhadap kekurangan air.

    Kondisi ini juga menjadi tempat berkembang biaknya kebakaran hutan, yang selanjutnya memicu musim kemarau dan kekurangan air.

    Baca: Separuh ekosistem air tawar dunia mengalami degradasi

    Dalam laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) tahun 2018, para ilmuwan iklim mengatakan bahwa air tanah yang disimpan di akuifer, yang menyediakan 36persen pasokan air domestik dunia untuk lebih dari 2 miliar orang, sangat sensitif terhadap perubahan iklim di masa depan.

    Mereka juga menyimpulkan bahwa wilayah basah diperkirakan akan menjadi lebih basah, sedangkan wilayah kering akan menjadi lebih kering.

    Di China misalnya, Sungai Yangtze dan Sungai Kuning merupakan dua sumber air utama yang menyokong negara tersebut. Mereka mengandalkan air lelehan glasial dari Dataran Tinggi Qinghai-Tibet.

    Pemanasan global, dimana suhu di wilayah glasial meningkat sebesar 3-3,5C selama setengah abad terakhir, telah menghasilkan lebih sedikit salju dan massa es, menyebabkan limpasan glasial ke Sungai Yangtze berkurang sebesar 13,9 persen sejak tahun 1990an. (Sumber: earth.org)

  • Hari Air Sedunia: Mayoritas Sungai di Indonesia dalam Kondisi Tercemar

    Hari Air Sedunia: Mayoritas Sungai di Indonesia dalam Kondisi Tercemar

    7cloud.asia – Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menyoroti urgensi untuk melakukan konservasi air di Tanah Air ketika menghadapi kondisi cemaran di sungai-sungai, mengingat peran penting air dalam kehidupan.

    Hal ini diungkapkan oleh Deputi Bidang Tata Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Berkelanjutan KLH Sigit Reliantoro dalam diskusi Forum Air Indonesia di Jakarta, Rabu (26/3/2025).

    Sigit mengatakan banyak Daerah Aliran Sungai (DAS) di Indonesia yang berada dalam kondisi tercemar, sebagian besar karena limbah rumah tangga dan industri.

    Dari segi kualitas, Kementerian Lingkunan Hidup melakukan pemantauan di 2.198 sungai, dan 8.627 titik. Namun, yang memenuhi baku mutu hanya 2,19 persen.

    “Sebagian besar, 96 persen itu cemar ringan kemudian ada beberapa yang cemar berat,” kata Sigit dalam acara untuk memperingati Hari Air Sedunia yang dilakukan setiap 22 Maret.

    Baca: Sungai Citarum di Kelokan Cikukang kembali dipenuhi sampah

    Menghadapi kenyataan bahwa mayoritas sungai Indonesia berada dalam beragam tingkatan cemaran, dia menyebut untuk memenuhi kebutuhan air diperlukan teknologi pengolahan.

    Di sisi lain, lanjutnya, perlu juga dilakukan pemulihan ekosistem untuk memastikan terjadinya konservasi air.

    Dia menyoroti bagaimana kejadian banjir yang terjadi di Bekasi baru-baru ini dipengaruhi faktor kehilangan tutupan hutan di DAS Kali Bekasi, yang tersisa hanya 3,53 persen.

    Dalam kesempatan yang sama Wakil Menteri Pekerjaan Umum (PU) Diana Kusumastuti menyebut pemerintah terus berupaya untuk mengelola sumber daya air dan meningkatkan daya tampungnya.

    Baca: Warga di DAS Citarum diimbau tak lagi buang sampah ke sungai

    Hal ini terutama diperuntukkan bagi konsumsi masyarakat untuk berbagai kebutuhan.
    Pada saat bersamaan, lanjutnya, saat ini juga sedang mendukung ketahanan pangan.

    “Untuk ketahanan pangan ini, kita juga harus melakukan peningkatan efektivitas penggunaan air untuk pangan Dan salah satunya itu dengan melakukan penerapan irigasi yang hemat air,” katanya.

    “Teknologi yang tidak hanya teknologi yang harus modern, tapi yang tepat guna yang harus dilakukan di situ,” ucapnya.

    Dia memberikan contoh program penyediaan air minum berbasis masyarakat Pamsimas, mencari sumber air yang bisa dimanfaatkan. Selain itu itu terdapat juga teknologi Reverse Osmosis (RO) untuk proses pemurnian air.

  • Antisipasi Dampak Musim Panas Ekstrem, Otoritas Kota Tokyo Akan Gratiskan Layanan Air Dasar

    Antisipasi Dampak Musim Panas Ekstrem, Otoritas Kota Tokyo Akan Gratiskan Layanan Air Dasar

    ruangkotacom – Pemerintah Metropolitan Tokyo (Jepang) akan membebaskan biaya air dasar untuk rumah tangga selama empat bulan musim panas 2025 ini.

    Langkah tersebut diharapkan dapat mendorong warga untuk tidak ragu-ragu menggunakan alat pengkondisi udara agar tetap sejuk di tengah cuaca yang semakin panas.

    Rancangan undang-undang ini akan menghasilkan anggaran tambahan senilai 36,8 miliar yen (256 juta dolar atau sekira 4,2 triliun rupiah).

    Untuk menutupi biaya tersebut akan diserahkan ke dewan perwakilan rakyat metropolitan Tokyo pada bulan Juni mendatang.

    Baca: Ribuan warga Jepang dilarikan ke rumah sakit akibat musim panas ekstrem

    “Upah riil terus menurun karena melonjaknya harga, dan mengingat perkiraan musim panas yang sangat panas, kami ingin melindungi kehidupan serta keseharian penduduk Tokyo,” kata Gubernur Tokyo Yuriko Koike kepada wartawan pada Selasa (20/5/2025).

    Sekitar 8,2 juta rumah tangga di Tokyo diperkirakan akan mendapatkan manfaat dari rencana tersebut, menurut pemerintah metropolitan.

    Biaya air dasar di Tokyo umumnya berkisar antara 860 yen (98.000 rupiah) hingga 1.460 yen (167.000 rupiah), tergantung pada diameter pipa air rumah tangga.

    Pejabat Tokyo menyatakan bahwa rumah tangga yang menggunakan pipa air berdiameter 2 centimeter, jenis yang paling umum, diperkirakan dapat menghemat sekitar 5.000 yen pada tagihan air mereka selama empat bulan.

    Pemakaian air terukur di atas tarif dasar akan tetap ditagih seperti biasa.

    Baca: Suhu Bumi makin panas dan dampaknya semakin nyata

    Perubahan iklim mengakibatkan Jepang, khususnya Tokyo mengalami musim panas yang terik dalam beberapa tahun terakhir.

    Kondisi ini telah menyebabkan peningkatan jumlah orang yang dilarikan ke rumah sakit — bahkan kematian — karena sengatan panas.

    Hal ini juga terjadi pada musim panas tahun lalu, di mana ribuan orang di antero Jepang dilarikan ke rumah sakit akibat cuaca panas ekstrem.

    Kondisi ini membuat pihak berwenang mengeluarkan peringatan sengatan panas di sebagian besar negara. Warga juga diimbau untuk menghindari berolahraga di luar ruangan dan tetap menggunakan pendingin ruangan.

    Sumber: Antaranews.com/Kyodo

  • Air Galon Isi Ulang Rentan Tercemar Bakteri dan Mikroplastik

    Air Galon Isi Ulang Rentan Tercemar Bakteri dan Mikroplastik

    7cloud.asia – Di tengah kebutuhan akan air minum yang praktis dan terjangkau, banyak rumah tangga di perkotaan menjadikan depot air minum isi ulang sebagai pilihan utama.

    Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2023 memperkirakan, sekitar 40 persen rumah tangga di Indonesia menggunakan air kemasan sebagai sumber air minum utama.

    Konsumsi air isi ulang tiga kali lebih tinggi dibandingkan dengan air kemasan bermerek.

    Air isi ulang menjadi primadona, terutama bagi masyarakat ekonomi menengah ke bawah, karena harganya lebih ekonomis. Di Kota Yogyakarta, misalnya, satu galon air berkisar Rp5 ribu hingga Rp7 ribu.

    Meskipun banyak diminati, penelitian kami menunjukkan adanya risiko kesehatan tersembunyi dari kebiasaan mengonsumsi air isi ulang.

    Riset kami bersama mahasiswa pada 2024-2025 di Kota Palembang dan Yogyakarta menemukan kandungan bakteri Escherichia coli dan mikropastik dalam air isi ulang.

    Kedua kontaminan ini berisiko membahayakan kesehatan, dan berikut penjelasan detilnya.

    Baca: TransJakarta sediakan layanan air isi ulang gratis

    1. Bakteri E.coli dalam air isi ulang
    Dari 106 sampel air galon di Palembang, hampir setengahnya mengandung bakteri E. coli melebihi batas aman.

    Rata-rata jumlah bakteri E. coli yang ditemukan berkisar 18 CFU/100 ml. Berdasarkan klasifikasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), jumlah ini termasuk dalam kelas risiko kesehatan tinggi yang bisa memicu penyakit seperti diare.

    Melalui pendekatan quantitative microbial risk assessment (menakar dampak kesehatan akibat paparan mikroorganisme pakai pemodelan matematika), kami memperkirakan jumlah kasus diare akibat konsumsi air isi ulang sekitar 13 ribu kasus dalam setahun.

    Menariknya, hasil estimasi ini sejalan dengan data kasus diare balita yang dilaporkan oleh Dinas Kesehatan Kota Palembang pada 2023.

    Temuan ini mencerminkan dampak nyata kontaminasi mikrobiologis dalam air isi ulang terhadap kesehatan masyarakat. Karena itu, penting untuk memperketat pengawasan terhadap keamanan depot air minum guna melindungi kelompok rentan seperti anak-anak.

    Baca: Gunakan tumbler berdampak besar untuk lingkungan

    2. Mikroplastik dalam air isi ulang
    Riset mahasiswa kami di Yogyakarta (belum dipublikasikan) menunjukkan bahwa sampel galon depot air minum memiliki kelimpahan mikroplastik sebesar 28 partikel/liter.

    Artinya, jika seseorang rutin mengonsumsi 1,5 liter air galon isi ulang setiap hari, dia akan menelan lebih dari 15 ribu partikel mikroplastik per tahun.

    Angka ini nyaris 1,5 kali lebih tinggi dibandingkan kasus kontaminasi sampel air galon dari dua merek komersial yang beredar di pasaran.

    Meski begitu, otoritas kesehatan global (termasuk WHO) belum menetapkan standar ambang batas terkait kadar mikroplastik dalam air minum.

    Kendati berbagai studi menunjukkan bahwa partikel kecil (<1,5 mm) mungkin bisa menembus saluran pencernaan dan menyebar ke jaringan tubuh, dampak jangka panjangnya terhadap kesehatan manusia masih terus diselidiki.

    Jenis polimer dominan yang kami temukan adalah Cellophane (relatif aman karena berasal dari selulosa) dan Polyethylene Terephthalate (PET).

    Secara teoretis, keduanya dapat menimbulkan gangguan hormon jika terakumulasi dalam jumlah besar. Namun, bukti dampak kesehatan langsung pada manusia masih terbatas.

    Baca: Guna ulang lebih efektif kurangi sampah plastik

    Dari mana kontaminasi ini berasal?
    Hasil inspeksi kami terhadap 106 depot air minum di Palembang menunjukkan bahwa setiap depot memiliki rata-rata tiga sumber potensi kontaminasi.

    Sumber yang paling umum diamati, yaitu retaknya tangki penyimpanan air, adanya tanda kontaminasi di dalam tangki penyimpanan air, serta depot air minum terlihat kotor. Hal ini menandakan bahwa aspek higienitas masih menjadi tantangan serius.

    Selain itu, kami menemukan bahwa kebersihan tangki penyimpanan dan efektivitas alat pengolahan air (seperti penggunaan sinar UV) berhubungan positif dengan tingkat kontaminasi.

    Hal ini berarti semakin bersih tangki penyimpanan dan semakin optimal penggunaan UV, maka kualitas air yang diedarkan ke masyarakat akan semakin baik.

    Adapun di Yogyakarta, kontaminasi mikroplastik dalam air isi ulang diduga berasal dari proses pencucian. Sebab, galon disikat dengan bulu keras berbahan plastik (seperti PET atau nilon).

    Gesekan berulang saat mencuci berisiko melepaskan partikel mikroplastik ke dalam galon. Belum lagi, terjadi proses degradasi pada permukaan galon akibat penggunaan berulang dalam jangka waktu lama.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Daniel (Lecturer in Public Health, Universitas Gadjah Mada) dan Anindrya Nastiti (Associate professor, Institut Teknologi Bandung)

  • Mengurangi Dampak Kesehatan yang Ditimbulkan Air Isi Ulang

    Mengurangi Dampak Kesehatan yang Ditimbulkan Air Isi Ulang

    7cloud.asia – Riset yang dilakukan tim dari Program Kesehatan Masyarakat UGM pada 2024-2025 di Kota Palembang dan Yogyakarta menemukan adanya kandungan bakteri Escherichia coli dan mikropastik dalam air isi ulang.

    Hasil inspeksi kami terhadap 106 depot air minum di Palembang menunjukkan bahwa setiap depot memiliki rata-rata tiga sumber potensi kontaminasi.

    Sumber yang paling umum diamati, yaitu retaknya tangki penyimpanan air, adanya tanda kontaminasi di dalam tangki penyimpanan air, serta depot air minum terlihat kotor. Hal ini menandakan bahwa aspek higienitas masih menjadi tantangan serius.

    Selain itu, kami menemukan bahwa kebersihan tangki penyimpanan dan efektivitas alat pengolahan air (seperti penggunaan sinar UV) berhubungan positif dengan tingkat kontaminasi.

    Hal ini berarti semakin bersih tangki penyimpanan dan semakin optimal penggunaan UV, maka kualitas air yang diedarkan ke masyarakat akan semakin baik.

    Adapun di Yogyakarta, kontaminasi mikroplastik dalam air isi ulang diduga berasal dari proses pencucian. Sebab, galon disikat dengan bulu keras berbahan plastik (seperti PET atau nilon).

    Gesekan berulang saat mencuci berisiko melepaskan partikel mikroplastik ke dalam galon. Belum lagi, terjadi proses degradasi pada permukaan galon akibat penggunaan berulang dalam jangka waktu lama.

    Mengurangi dampak kesehatan air isi ulang
    Masyarakat tidak perlu panik, karena temuan air galon isi ulang justru mendorong kita untuk lebih cermat.

    Lakukan sejumlah cara di bawah ini guna mengurangi dampak kesehatan air isi ulang yang terkontaminasi:
    1. Rebus kembali air isi ulang hingga mendidih, lalu diamkan selama 5-10 menit guna mematikan bakteri E.coli.

    2. Hindari penggunaan galon yang sudah kusam, banyak goresan, atau terpapar sinar matahari langsung guna mengurangi risiko kontaminasi mikroplastik.
    Idealnya, gunakan galon isi ulang maksimal satu tahun/40 kali pemakaian berulang.

    3. Libatkan puskemas untuk mengawasi secara ketat dan rutin higienitas depot air minum maupun kualitas airnya sesuai dengan regulasi.

    4. Laporkan depot air minum yang dirasa kurang higienis ke puskesmas atau dinas kesehatan setempat.

    Air isi ulang tetap bisa menjadi solusi yang terjangkau dan layak, asalkan kita memiliki kesadaran bersama (baik pelaku usaha, konsumen, maupun pemerintah) dalam mengawasi secara ketat kualitas air minum kita.

    Sebab, air minum bukan sekadar kebutuhan mendasar, tetapi juga fondasi bagi kesehatan jangka panjang yang tak boleh dikompromikan.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Daniel (Lecturer in Public Health, Universitas Gadjah Mada) dan Anindrya Nastiti (Associate professor, Institut Teknologi Bandung)

    Mery Astri Yanni, Nurul Izza, dan Meilany Syabrina Daulay, mahasiswa program studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan, Universitas Gadjah Mada, turut berkontribusi dalam penelitian ini.

  • Air Adalah Elemen Penting Bagi Kehidupan, Tetapi Manusia Jarang Mempelajarinya

    Air Adalah Elemen Penting Bagi Kehidupan, Tetapi Manusia Jarang Mempelajarinya

    7cloud.asia – Air adalah kebutuhan pokok manusia dan elemen penting dalam kehidupan, tapi sayangnya masih jarang menjadi topik serius dalam berbagai percakapan di ruang pendidikan, media, atau kebijakan publik.

    Orang lebih sering membicarakan soal minyak, listrik, atau internet, ketimbang krisis air bersih yang mengintai di banyak daerah.

    Di bangku sekolah, pembahasan soal air juga cenderung berhenti dalam bentuk rumus kimia (H₂O) atau siklus hidrologi—mengalir dari langit ke bumi dan kembali lagi.

    Dunia pendidikan jarang membahas persoalan air yang lebih dalam, seperti distribusi air minum yang belum merata, saluran drainase tersumbat sampah, hingga sungai yang berubah jadi tempat pembuangan limbah.

    Semua ini, salah satunya terjadi karena masih minimnya edukasi dan pemahaman masyarakat soal pengelolaan air.

    Bukan ilmu populer
    Masih sedikit sekolah atau kampus di Indonesia yang menjadikan isu air—baik mengenai sumber daya, tata kelola, atau sistem distribusi—sebagai topik utama dalam pendidikan.

    Program studi yang secara khusus membahas air jumlahnya masih sangat terbatas jika dibandingkan dengan jurusan Teknik Sipil yang selalu ada di hampir seluruh perguruan tinggi di Indonesia.

    Program studi tentang air itu antara lain adalah Teknik dan Pengelolaan Sumber Daya Air (ITB), Teknik Sumber Daya Air (UGM), Rekayasa Sumber Daya Air (Unhan RI), dan Rekayasa Tata Kelola Air Terpadu (ITERA).

    Baca: Polusi dan pengelolaan yang buruk dapat memicu krisis air global

    Kurikulum pendidikan tinggi juga cenderung menekankan aspek teknis struktural, sementara pendekatan integratif yang mengaitkan air dengan dimensi sosial, ekonomi, budaya, hingga lingkungan hidup belum banyak dikembangkan.

    Sebagai gambaran, dalam kurikulum umum Teknik Sipil Universitas Diponegoro, atau Teknik Sipil Universitas Brawijaya misalnya, air biasanya hanya dibahas dalam konteks teknis seperti rekayasa hidraulika dan hidrologi, bukan sebagai bagian dari sistem kehidupan atau tata kelola lingkungan yang lebih luas.

    Kurikulum kurang lengkap
    Sebagian besar siswa di Indonesia umumnya mengenal air dari pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di tingkat sekolah dasar dan menengah.

    Meskipun pelajaran IPA mencakup berbagai topik, pembahasan tentang air sering kali juga terbatas pada aspek fisik dan kimiawi, seperti siklus air atau sifat-sifat air, tanpa menggali lebih dalam mengenai isu-isu seperti tata kelola air, akses terhadap air bersih, atau dampak lingkungan dari penggunaan air.

    Data dari survei PISA 2018 menunjukkan bahwa skor sains siswa Indonesia menduduki peringkat ke-70 dari 78 negara, dengan skor rata-rata 396. Hal ini mencerminkan tantangan dalam pemahaman konsep-konsep ilmiah, termasuk yang berkaitan dengan air.

    Selain itu, meskipun banyak siswa (90 persen) memilih jurusan IPA di jenjang SMA, pendekatan pembelajaran masih cenderung fokus pada aspek teoretis dan kurang mengaitkan materi dengan konteks kehidupan sehari-hari, termasuk isu-isu air yang krusial.

    Kondisi ini menunjukkan perlunya integrasi isu-isu air yang lebih luas dalam kurikulum pendidikan, agar siswa tidak hanya memahami aspek ilmiah, tetapi juga menyadari pentingnya pengelolaan air yang berkelanjutan dalam kehidupan mereka.

    Pembelajaran global dan lokal
    Di beberapa negara, pendidikan tentang air telah diintegrasikan secara menyeluruh dalam kurikulum dan menjadi bagian penting dari pembentukan kesadaran lingkungan warganya.

    Baca: Krisis air mengancam separuh populasi dunia

    Di Australia, misalnya, program seperti Waterwatch Australia memungkinkan siswa dari berbagai jenjang untuk belajar tentang air bukan hanya dari sisi ilmiah, tetapi juga dari perspektif sosial, ekologis, hingga kebijakan.

    Di sana, siswa diajak memahami pentingnya konservasi, distribusi air yang adil, serta dampaknya terhadap ekosistem dan perubahan iklim.

    Finlandia juga menerapkan pendekatan serupa melalui phenomenon-based learning (pembelajaran berbasis fenomena), di mana air dipelajari secara lintas mata pelajaran—dari sains, geografi, ekonomi, hingga etika.

    Dengan demikian siswa bisa memahami hubungan air dengan kehidupan dan masyarakat secara holistik.

    Belanda, dengan sejarah panjangnya dalam persoalan pengendalian air, menjadikan isu ini sebagai bagian dari identitas nasional dan pendidikan sejak usia dini.

    Mereka mengajarkan rekayasa air, adaptasi iklim, serta keterlibatan masyarakat dalam kebijakan tata kelola air melalui kurikulum, museum, dan program magang.

    Sementara itu, di Indonesia, pengetahuan lokal tentang air—seperti sistem irigasi tradisional, sumur resapan, atau budaya gotong royong dalam membangun saluran air justru mulai terlupakan.

    Padahal inilah yang membentuk daya tahan masyarakat terhadap perubahan iklim, misalnya sistem irigasi subak di Bali yang memungkinkan distribusi air yang adil dan berkelanjutan di antara petani, serta adaptasi terhadap perubahan iklim melalui manajemen air yang kolektif dan berbasis komunitas.

    Baca: Perlindungan zona imbuhan air tanah di Yogyakarta

    Mengapa penting belajar air?
    Krisis air bukan ancaman masa depan—ia sudah terjadi sekarang. Bappenas memperkirakan Indonesia akan mengalami kelangkaan air parah pada 2045, , jika tidak ada perubahan dalam cara kita mengelola sumber daya air.

    Di beberapa kota, konflik antar warga karena berebut air sudah mulai muncul. Di desa-desa, petani mulai kesulitan mendapat air irigasi, terutama di musim kemarau yang semakin panjang.

    Di Kabupaten Mojokerto misalnya, sepanjang musim kemarau tahun ini, tiga desa mengalami kekeringan parah yang berdampak pada sedikitnya 8.320 jiwa.

    Fakta ini menegaskan bahwa persoalan air bersih bukan lagi sekadar wacana lingkungan, melainkan krisis nyata yang menyentuh kehidupan sehari-hari jutaan orang, terutama di wilayah pedesaan yang minim infrastruktur air.

    Artinya, kita perlu menjadikan air sebagai isu lintas sektor dan lintas kurikulum. Tidak hanya dibahas di fakultas teknik, tapi juga di sekolah dasar, di kelas ekonomi, hukum, dan bahkan seni. Sebab, setiap keputusan tentang pembangunan, konsumsi, hingga desain kota mempengaruhi siklus air.

    Di level awal, kita bisa mulai dari hal-hal seperti belajar memilah air hujan dan air limbah, menghemat penggunaan air di rumah, atau mengenal kembali sistem pengairan tradisional.

    Kemudian di level berikutnya, kita bisa mendesak agar sekolah dan universitas memasukkan pendidikan air dalam kurikulum wajib sekaligus menjadikan air sebagai topik pembicaraan reguler, bukan sekadar respons saat bencana datang.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, penulis: Muhammad Hakiem Sedo Putra (Dosen Rekayasa Tata Kelola Air Terpadu, Institut Teknologi Sumatera)

  • Perubahan Iklim Memicu Cuaca Ekstrem: Sudah Saatnya Merombak Tata Kelola air

    Perubahan Iklim Memicu Cuaca Ekstrem: Sudah Saatnya Merombak Tata Kelola air

    7cloud.asia – Perubahan iklim membuat cuaca ekstrem makin sering terjadi. Sayangnya, sistem tata kelola air kita belum siap menghadapinya.

    Mayoritas infrastruktur dan sistem pengelolaan air di Indonesia masih dibangun berdasarkan asumsi lama saat iklim relatif stabil, belum mempertimbangkan skenario perubahan iklim.

    Hal ini terlihat dari bagaimana infrastruktur seperti bendungan, tanggul, dan sistem irigasi dirancang dengan mengacu pada pola curah hujan dan suhu yang stabil. Padahal, cuaca kini tak menentu.

    Akibatnya, sistem yang kita miliki mudah kolaps saat menghadapi cuaca ekstrem. Ketika hujan lebat mengguyur, jalan-jalan utama bisa tergenang hanya dalam hitungan jam. Sebaliknya, ketika kemarau datang, banyak wilayah mengalami kekeringan dan kekurangan air bersih.

    Butuh pendekatan baru
    Untuk menghadapi cuaca ekstrem dan krisis iklim, kita perlu merombak sistem tata kelola air menjadi lebih luwes, tersebar, dan terpadu, dengan melibatkan partisipasi masyarakat.

    Sistem yang luwes
    Sistem air masa depan harus mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang terus berubah.

    Salah satu contohnya ada di Bali. Beberapa kelompok subak—sistem irigasi tradisional berbasis komunitas—mulai menyesuaikan jadwal tanam berdasarkan curah hujan terkini.

    Dengan sistem ini, air irigasi tidak perlu membanjiri sawah secara terus-menerus. Kelompok subak membasahi lahan secara bergilir sesuai kebutuhan tanaman dan kondisi iklim.

    Baca: Air sebagai elemen penting kehidupan belum banyak dipelajari

    Metode ini dikenal sebagai intermittent flooding atau nyorog, meninggalkan kalender musiman konvensional.

    Data lapangan menunjukkan penerapan sistem pengairan selang-seling ini menghasilkan rata-rata panen padi 10,9 ton per hektare. Hasil panen tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan sistem pengairan terus-menerus atau FLD yang hanya menghasilkan 6,35 ton per hektare.

    Studi di Subak Guama mencatat peningkatan efisiensi penggunaan air irigasi dari 69,05 persen menjadi 86,52 persen melalui strategi nyorog—membagi jadwal tanam dalam empat kelompok bergilir per setengah bulan.

    Teknik ini juga mampu menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 85 persen dan meningkatkan hasil panen hingga 72 persen

    Artinya, penyesuaian jadwal tanam berbasis kondisi nyata bukan hanya menghemat air, tetapi juga meningkatkan hasil panen secara signifikan.

    Desentralisasi
    Saat ini, sebagian besar sistem air Indonesia sangat bergantung pada satu sumber besar seperti sungai atau bendungan utama. Hal ini membuat seluruh jaringan menjadi sangat rentan ketika sumber besar tersebut tergangggu.

    Kita perlu mendorong pendekatan desentralistik, yakni pengelolaan air secara mandiri di tingkat lokal atau individu. Caranya bisa melalui penampungan air hujan, sistem penyimpanan lokal (rain tank), dan sumur resapan di rumah, sekolah, kantor, serta fasilitas publik lainnya.

    Selain mengurangi tekanan pada sistem pasokan air terpusat dan memperkecil risiko gangguan layanan saat terjadi bencana atau kerusakan infrastruktur utama, pengelolaan air hujan seperti ini penting untuk ketahanan air jangka panjang.

    Baca: Separuh populasi dunia terancam kekurangan air

    Selain itu, sistem ini juga bisa membantu mengelola limpasan air hujan secara lebih efektif, sehingga banjir lebih mudah dicegah.

    Pemerintah DI Yogyakarta sudah mulai melakukan pendekatan ini dengan membangun lebih dari 2.700 sumur resapan di kawasan pemukiman.

    Dampaknya sudah terasa. Contohnya di kawasan Pogung Baru, Sleman, pembangunan sumur resapan mampu mengurangi limpasan air hingga sekitar 70 persen. Sementara di area kampus UGM, debit air permukaan menurun antara 5–11 persen.

    Di Lampung, tim Institut Teknologi Sumatra (ITERA) bekerja sama dengan sekolah-sekolah dasar membangun sistem pemanenan air hujan. Hasilnya, air hasil tangkapan cukup untuk keperluan domestik sekolah dan mengurangi ketergantungan pada air tanah.

    Terintegrasi lintas sektor dan wilayah
    Air tak mengenal batas administrasi. Namun pengelolaan air di Indonesia masih terkotak-kotak antara pusat dan daerah, antarkementerian, bahkan antar instansi di satu wilayah.

    Solusi jangka panjang pengelolaan air membutuhkan integrasi lintas sektor dan tata ruang, pertanian, lingkungan, dan masyarakat.

    Dalam hal ini, pemerintah pusat harus menjadi koordinator utama, menetapkan standar nasional. Pemerintah juga perlu membangun sistem pemantauan berbasis data.

    Indonesia memang mempunyai Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2019 yang mengatur tata kelola air. Namun, pelaksanaannya masih lemah.

    Baca: Mengenal Subak, tata kelola air berkelanjutan di Bali

    Indonesia tertinggal jauh dengan Singapura yang sudah menerapkan Four Taps Strategy. Melalui strategi ini, Singapura mnerapkan diversifikasi sumber air nasional mencakup daerah tangkapan lokal, air impor, air daur ulang, dan desalinasi, untuk memastikan ketahanan air jangka panjang.

    Pendekatan ini pun tak hanya fungsi sebagai drainase dan penyimpanan air, tetapi juga rekreasi, estetika, dan pelestarian lingkungan lewat ABC Waters Programme.

    Air sebagai hak dan tanggung jawab bersama
    Tata kelola air tak bisa lagi dianggap sebagai urusan teknis belaka. Ini menyangkut hak dasar warga, keadilan ekologis, serta ketahanan sosial-ekonomi dalam menghadapi perubahan iklim.

    Kita perlu menggeser paradigma dari “mengatasi krisis” menjadi “membangun ketahanan”. Oleh karena itu, kita perlu berinvestasi pada sistem yang lentur, kolaboratif, dan berbasis masyarakat.

    Sistem pengairan seharusnya tidak runtuh saat kondisi ekstrem melanda, tapi justru mampu beradaptasi dan bangkit lebih kuat.

    Air adalah milik bersama. Mengelolanya dengan bijak di tengah krisis iklim adalah tanggung jawab kita semua. Kita harus bertindak sekarang, jangan menunggu krisis air benar-benar terjadi.

    Krisis air adalah ancaman nyata dan sedang berlangsung yang memengaruhi banyak negara, termasuk yang kaya sumber daya alam jika pengelolaannya tidak optimal.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Muhammad Hakiem Sedo Putra (Dosen Rekayasa Tata Kelola Air Terpadu, Institut Teknologi Sumatera)

     

  • 2,2 Miliar Penduduk Dunia Sulit Mendapat Akses Air Bersih

    2,2 Miliar Penduduk Dunia Sulit Mendapat Akses Air Bersih

    7cloud.asia – Utusan Khusus bidang Air Sekretaris Jenderal PBB, Retno Lestari Priansari Marsudi mengatakan tantangan pemenuhan kebutuhan air di Indonesia sangat nyata.

    Data menunjukkan bahwa kebutuhan air nasional diperkirakan akan meningkat 31 persen pada tahun 2045. ika tidak terpenuhi, hal ini dapat menghambat cita-cita besar kita menuju Indonesia Emas 2045.

    Berbicara dalam Focus Group Discussion (FGD) dan seminar terkait Water Security, Jumat (15/8/2025) di Gedung Pusat UGM, mantan Menlu ini mengatakan ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengatasi persoalan tersebut.

    Pertama, melakukan inovasi dan implementasi teknologi air, mulai dari hal-hal kecil seperti efisiensi penggunaan air sehari-hari, hingga inovasi besar dalam pertanian dan industri.

    Baca: Polusi dan pengelolaan yang buruk dapat memicu krisis air global

    Kedua, memperbanyak ahli dan SDM di sektor air, karena saat ini setengah dari tenaga ahli air dunia sudah mendekati masa pensiun, sementara kebutuhan justru meningkat.

    “Peran universitas sangat penting untuk melahirkan inovasi dan mencetak ahli baru di bidang air. Kita harus bersiap, karena air bukan hanya isu teknis, tetapi menyangkut survival umat manusia,” terangnya.

    Di awal pemaparannya, Retno menyebutkan, dunia menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari pertumbuhan penduduk, perubahan tata guna lahan, hingga perubahan iklim yang sangat mempengaruhi keberlanjutan sumber daya air.

    Hampir seluruh negara di dunia sedang menghadapi ancaman krisis air. Data PBB menunjukkan lebih dari 2,2 miliar orang atau sekitar 1 dari 4 penduduk dunia tidak memiliki akses ke sumber air yang aman.

    Baca: Krisis air global sudah di depan mata

    “Sementara itu, lebih dari 3,5 miliar orang atau sekitar 4 dari 10 penduduk dunia tidak memiliki akses terhadap sanitasi yang layak,” kata Retno

    Menurut Retno, bencana yang berhubungan dengan air setiap tahunnya menyebabkan kerugian mencapai 550 miliar dolar, dan 95 persen kerusakan infrastruktur di dunia disebabkan oleh bencana terkait air.

    “Kita menghadapi tiga tantangan besar lain soal air, too much (banjir), too little (kekeringan), dan too polluted (pencemaran),” paparnya.

    Rektor UGM, Ova Emilia berharap FGD ini menjadi langkah awal bagi UGM untuk memperkuat jejaring akademik dan kontribusi jangka panjang dalam isu ketahanan air di tingkat nasional maupun internasional.

  • Menuju Kota Global, Jakarta Genjot Proyek JSDP untuk Atasi Air Limbah di Jakarta

    Menuju Kota Global, Jakarta Genjot Proyek JSDP untuk Atasi Air Limbah di Jakarta

    7cloud.asia – Pengelolaan sumber daya air di DKI Jakarta terus ditingkatkan seiring dengan upaya menjadi 50 besar kota global.

    Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan membangun sanitasi yang layak dengan melaksanakan Proyek Strategis Nasional (PSN) Jakarta Sewerage Development Project (JSDP) guna membangun sistem perpipaan air limbah bernama Jakarta Sewerage System (JSS).

    Pembangunan JSDP ini dilakukan Dinas Sumber Daya Air Provinsi DKI Jakarta bekerja sama dengan Kementerian Pekerjaan Umum (PU).

    Jakarta Sewerage System (JSS) merupakan Sistem Pengelolaan Limbah Domestik Terpusat dan Terintegrasi Skala Perkotaan di Provinsi DKI Jakarta yang terbagi ke dalam 15 Zona (termasuk Zona 0 yang telah beroperasi).

    JSDP bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan perairan dan akses sanitasi di DKI Jakarta dengan memperkenalkan sistem pengelolaan air limbah yang terdiri jaringan perpipaan dan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), dengan demikian diharapkan dapat berkontribusi untuk meningkatkan kesehatan dan pembangunan di masyarakat.

    Ada beberapa lokasi IPAL/JSDP yang tersebar di lima wilayah administrasi di Jakarta, salah satunya ada di Kawasan Waduk Pluit, Jakarta Utara.

    Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum, Dewi Chomistriana menambahkan, proyek JSDP sangat penting untuk kesehatan masyarakat karena bertujuan memisahkan air limbah dengan saluran air bersih, sekaligus mengurangi masalah pencemaran tanah.

    “Ini sangat penting untuk Jakarta, untuk warga Jakarta. Dan proyek zona satu ini baru melayani 7,8 persen dari total penduduk DKI Jakarta,” ungkapnya.

    Area pelayanan JSDP zona 1 mencakup sebagian wilayah Jakarta Utara dan Jakarta Barat yang seluas 4.901 hektare. Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) JSDP zona 1 terletak di area sebelah Barat Laut Waduk Pluit.

    Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung melakukan kunjungan kerja ke lokasi proyek Jakarta Sewerage Development Project (JSDP) Zona 1 Pluit di Waduk Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, Kamis (30/10/2025).

    Pramono melihat langsung perkembangan proyek strategis yang bertujuan menyediakan jaringan pipa air limbah terpusat dan terintegrasi di Ibu Kota.

    Proyek ini dimulai sejak 2023. Untuk Zona 1 ditargetkan selesai pada 2027 dan akan melayani sekitar 220 ribu rumah tangga atau sekitar satu juta penduduk. Sedangkan pembangunan di Zona 0 yakni di Setiabudi sudah rampung dikerjakan.

    “Sebenarnya proyek ini proyek yang sangat-sangat strategis. Sebagai kota global, kota inklusif, kota untuk ke depan, maka penanganan air limbah itu harus diatur dengan baik,” ujar Pramono.

    Menurut Pramono, proyek ini diperlukan bagi warga Jakarta untuk mengelola permasalahan limbah secara baik. Nantinya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta bekerja sama dengan pemerintah pusat akan mengatur layanan air bersih dan limbah secara bersamaan.

    Ia meyakini pengaturan layanan air bersih dan limbah secara bersamaan akan memudahkan masyarakat dalam mewujudkan lingkungan yang sehat.

    “Ke depan, saya akan mengatur nanti bersama-sama dengan pemerintah pusat untuk pengaturan air bersih dan limbah ini diatur secara bersamaan, menjadi di-bundling,” kata dia.

    Pramono menyadari, pengerjaan proyek ini akan berdampak terhadap kemacetan lalu lintas. Namun ia menjelaskan bahwa pekerjaan proyek JSDP ini sebagian besar dilakukan di bawah tanah, bahkan hingga kedalaman 20 hingga 30 meter.

    “Proyek ini berkaitan dengan kemacetan adalah hal yang tidak bisa dihindarkan. Tetapi karena pentingnya proyek ini harus dilakukan dan harus disiapkan di Jakarta sebagai kota masa depan, maka tetap harus dilakukan,” jelas dia.

    Karena itu, ia mendorong agar komunikasi dengan masyarakat terkait proses pengerjaan proyek harus dilakukan secara transparan dan terbuka. Selain itu, Pemprov DKI juga akan tetap melakukan rekayasa lalu lintas agar berjalan lancar.