Mengurangi Dampak Kesehatan yang Ditimbulkan Air Isi Ulang

Written by

in

7cloud.asia – Riset yang dilakukan tim dari Program Kesehatan Masyarakat UGM pada 2024-2025 di Kota Palembang dan Yogyakarta menemukan adanya kandungan bakteri Escherichia coli dan mikropastik dalam air isi ulang.

Hasil inspeksi kami terhadap 106 depot air minum di Palembang menunjukkan bahwa setiap depot memiliki rata-rata tiga sumber potensi kontaminasi.

Sumber yang paling umum diamati, yaitu retaknya tangki penyimpanan air, adanya tanda kontaminasi di dalam tangki penyimpanan air, serta depot air minum terlihat kotor. Hal ini menandakan bahwa aspek higienitas masih menjadi tantangan serius.

Selain itu, kami menemukan bahwa kebersihan tangki penyimpanan dan efektivitas alat pengolahan air (seperti penggunaan sinar UV) berhubungan positif dengan tingkat kontaminasi.

Hal ini berarti semakin bersih tangki penyimpanan dan semakin optimal penggunaan UV, maka kualitas air yang diedarkan ke masyarakat akan semakin baik.

Adapun di Yogyakarta, kontaminasi mikroplastik dalam air isi ulang diduga berasal dari proses pencucian. Sebab, galon disikat dengan bulu keras berbahan plastik (seperti PET atau nilon).

Gesekan berulang saat mencuci berisiko melepaskan partikel mikroplastik ke dalam galon. Belum lagi, terjadi proses degradasi pada permukaan galon akibat penggunaan berulang dalam jangka waktu lama.

Mengurangi dampak kesehatan air isi ulang
Masyarakat tidak perlu panik, karena temuan air galon isi ulang justru mendorong kita untuk lebih cermat.

Lakukan sejumlah cara di bawah ini guna mengurangi dampak kesehatan air isi ulang yang terkontaminasi:
1. Rebus kembali air isi ulang hingga mendidih, lalu diamkan selama 5-10 menit guna mematikan bakteri E.coli.

2. Hindari penggunaan galon yang sudah kusam, banyak goresan, atau terpapar sinar matahari langsung guna mengurangi risiko kontaminasi mikroplastik.
Idealnya, gunakan galon isi ulang maksimal satu tahun/40 kali pemakaian berulang.

3. Libatkan puskemas untuk mengawasi secara ketat dan rutin higienitas depot air minum maupun kualitas airnya sesuai dengan regulasi.

4. Laporkan depot air minum yang dirasa kurang higienis ke puskesmas atau dinas kesehatan setempat.

Air isi ulang tetap bisa menjadi solusi yang terjangkau dan layak, asalkan kita memiliki kesadaran bersama (baik pelaku usaha, konsumen, maupun pemerintah) dalam mengawasi secara ketat kualitas air minum kita.

Sebab, air minum bukan sekadar kebutuhan mendasar, tetapi juga fondasi bagi kesehatan jangka panjang yang tak boleh dikompromikan.

Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Daniel (Lecturer in Public Health, Universitas Gadjah Mada) dan Anindrya Nastiti (Associate professor, Institut Teknologi Bandung)

Mery Astri Yanni, Nurul Izza, dan Meilany Syabrina Daulay, mahasiswa program studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan, Universitas Gadjah Mada, turut berkontribusi dalam penelitian ini.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *