Tag: banjir sumatera

  • Update Banjir Sumatera: Ribuan Kepala Keluarga di Pesisir Selatan Sumbar Masih Terisolasi

    Update Banjir Sumatera: Ribuan Kepala Keluarga di Pesisir Selatan Sumbar Masih Terisolasi

    7cloud.asia – Kunjungan Spesifik (Kunspek) Komisi VIII DPR   menemukan ada lebih dari 4.000 Kepala Keluarga (KK) di Kecamatan Bayang Utara, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat masih terisolasi akibat banjir bandang beberapa waktu lalu

    Lisda Hendrajoni yang memimpin kunjungan kerja spesifik Komisi VIII DPR meminta percepatan penanganan bencana di wilayah tersebut

    Pesisir Selatan merupakan salah satu titik terdampak paling berat sejak banjir dan longsor besar melanda pada 2 Desember lalu.

    Lisda menegaskan, kondisi kritis ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut mengingat akses jalan utama putus total dan jembatan ambruk. Akibatnya, bantuan logistik tidak dapat menjangkau warga tanpa dukungan udara. 

    “Kalau tidak dengan helikopter, sangat sulit masuk. Bantuan banyak, tapi nge-drop-nya yang sulit,” ujarnya saat meninjau lokasi bencana, Sabtu (6/12/2025).

    Baca Juga: Banjir Sumatera: Kekerasan Tersembunyi yang Mematikan

    Karena itu, Komisi VIII mendorong agar pemerintah pusat segera mempertimbangkan penetapan status bencana nasional.

    Hal ini yang dinilai sangat penting untuk mempercepat mobilisasi personel, logistik, dan peralatan berat ke titik isolasi. 

    “Sudah 13 hari warga terjebak dan tidak semua bisa mendapatkan makanan cukup. Dua hari mungkin aman, tapi dua minggu sangat berbahaya,” tegasnya. 

    Di sisi lain, Bupati Pesisir Selatan, AKBP (Purn) Hendrajoni, membenarkan bahwa akses menuju Bayang Utara hampir tidak dapat ditembus melalui jalur darat.

    Relawan bahkan harus berjalan kaki hingga 32 kilometer untuk membawa sembako ke permukiman terdalam. 

    Baca Juga: Korban Jiwa Akibat Banjir dan Longsor di Sumatera Nyaris 1000, Terbanyak di Aceh

    Ia juga menyebut adanya titik kritis yang mengancam 23 rumah dengan total 1.336 jiwa akibat retakan besar yang semakin melebar.

    Lisda menegaskan bahwa Komisi VIII, bersama BNPB, Kemensos, dan mitra kerja lainnya, akan menyalurkan bantuan tambahan untuk mendukung Pemda dan relawan. 

    Ia memuji seluruh jajaran daerah yang telah bergerak cepat, namun menekankan perlunya intervensi lebih besar dari pemerintah pusat.

    “Koordinasi pusat dan daerah tidak boleh kalah cepat dari bencananya,” tegasnya. 

     

  • Civitas Academica Universitas Paramadina Desak Presiden Tetapkan Banjir Sumatera sebagai Bencana Nasional

    Civitas Academica Universitas Paramadina Desak Presiden Tetapkan Banjir Sumatera sebagai Bencana Nasional

    7cloud.asia – Civitas Academica Universitas Paramadina mendesak Presiden Prabowo Subianto menetapkan banjir Sumatera menjadi bencana nasional.

    Desakan itu disampaikan mengingat kerusakan luas yang diakibatkan banjir Sumatera sebagaimana disebutkan  dalam surat terbuka, yang diterima 7cloud.asia Senin (8/12/2025).

    Dalam surat itu juga disampaikan sejumlah rekomendasi langkah yang perlu dilakukan pemerintah agar bencana banjir Sumatera ini tidak kembali terulang.

    Berikut selengkapnya surat terbuka dari Civitas Academica Universitas Paramadina, Jakarta  

    Salam Sejahtera buat Kita Semua

    Kami segenap Sivitas Akademika Universitas Paramadina mendoakan Bapak Presiden Prabowo Subianto selalu diberikan keberkahan, kesehatan dan kebaikan oleh Allah SWT dalam menjalankan tugas-tugas kenegaraan, memimpin Pemerintahan untuk mensejahterakan seluruh rakyat Indonesia.

    Bapak Presiden yang Baik

    Bencana alam banjir bandang dan tanah longsor yang melanda tiga provinsi di Wilayah Sumatera; Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah berlangsung selama sekitar dua pekan. Bencana ini dimulai pada akhir November 2025, dipicu oleh hujan lebat yang tak henti-hentinya semenjak tanggal 22 hingga 25 November 2025.

    Berdasarkan data dari Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, sampai dengan hari ini, Minggu 07 Desember 2025, terdapat 916 korban meninggal dunia, 389 orang yang hingga kini masih dinyatakan hilang, 4.200 korban luka dan ratusan ribu pengungsi.

    Selain itu ratusan ribu rumah, kantor, jalan, jembatan, persawahan, ladang, kebun, hewan ternak yang dinyatakan rusak dan hilang, tersebar di tiga Provinsi terdampak.

    Bapak Presiden yang Baik

    Dengan melihat korban jiwa, luka-luka, dan kerusakan yang ditimbulkan, sampai saat ini, belum ada tanda-tanda bencana alam di tiga provinsi ujung barat pulau Sumatera tersebut, ditetapkan sebagai bencana nasional. 

    Kami tidak tahu apakah Bapak Presiden Prabowo sudah mendapat informasi yang sesungguhnya mengenai kondisi lapangan dari para pembantu dekat Bapak Presiden. Jika memang ada pertimbangan lain, mohon disampaikan kepada seluruh rakyat Indonesia, agar kami bisa memahami langkah dan kebijakan Bapak Presiden. 

    Bersama dengan Surat Terbuka ini, semoga Bapak Presiden membacanya, izinkan kami bermohon sebagai warga negara, sebangsa dan setanah air, agar Bapak segera menetapkan bencana alam yang menimpa saudara-saudara kami di tiga provinsi tersebut sebagai Bencana Nasional, dengan segala konsekuensi dan tindakan yang mengikutinya. Agar seluruh masyarakat di 3 (tiga) provinsi tersebut memiliki kepastian dalam penanggulangan dan pembangunan pasca bencana.

    Kami berkeyakinan bahwa keselamatan nyawa adalah hukum tertinggi dalam penanganan bencana (Salus populi suprema lex esto).

    Prinsip ini menjadi landasan etis serta operasional, diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana yang mewajibkan negara hadir melindungi segenap warga negara dari bencana, memastikan respons yang cepat, terkoordinasi, dan mengedepankan perlindungan jiwa di atas segalanya.

    Bapak Presiden yang Baik

    Tentunya kami berharap kejadian bencana alam, banjir bandang dan tanah longsor, selain karena faktor alam, tetapi karena kelalaian dan kezholiman kita sebagai manusia tidak akan terulang kembali di masa yang akan datang.

    Oleh sebab itu, pasca menetapkan sebagai Bencana Nasional, kami bermohon Bapak Presiden segera menetapkan langkah-langkah sebagai berikut.

    Pertama, segera hentikan segala bentuk perizinan baru dan mencabut izin Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) yang melakukan pelanggaran dan penyalahgunaan izin di seluruh Indonesia.

    Kedua, usut tuntas pelanggaran yang dilakukan oleh Perusahaan yang melakukan penebangan pohon yang tidak memiliki izin, melakukan tindakan pembalakan ilegal dan menjual hasil hutan secara ilegal.

    Ketiga, memberikan bantuan dan santunan yang layak bagi masyarakat yang kehilangan anggota keluarganya, yang sedang dirawat, kehilangan rumah, sawah, ladang, ternak dan harta benda lainnya. Berupa uang, makanan, obat-obatan, pakaian, terapi dan bantuan kemanusiaan lainnya.

    Keempat, memastikan adanya pembangunan pasca bencana untuk membangun kembali perumahan yang layak, perkantoran, jalan, jembatan, irigasi, dan seluruh infrastruktur yang rusak serta memastikan seluruh pelayanan publik kembali berfungsi.

    Kelima, memprioritaskan pembangunan fasilitas infrastruktur dasar yang rusak, seperti sekolah, rumah sakit, puskesmas agar pelayanan fungsi pendidikan bisa kembali normal.  

    Bapak Presiden yang Baik

    Kami yakin Bapak Presiden Prabowo adalah orang yang paling memahami dan mencintai seluruh rakyat Indonesia.

    Langkah Bapak untuk membantu anak-anak sekolah melalui Makanan Bergizi Gratis (MBG), membangun sekolah rakyat, pemeriksaan kesehatan gratis serta menaikkan gaji guru adalah bentuk kepedulian dan kecintaan Bapak terhadap rakyat Indonesia.

    Oleh sebab itu, kami mohon pada kesempatan ini Bapak juga bisa mengambil langkah cepat untuk menyelamatkan saudara-saudara kami di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.

    Semoga surat terbuka ini menjadi suara dan rintihan hati nurani rakyat yang kami rasakan dalam beberapa hari terakhir.

    Kami yakin Bapak Presiden akan mengambil langkah terbaik untuk membuat kebijakan terbaik dalam penanganan bencana dan pasca bencana di tiga provinsi di Pulau Sumatera tersebut.

    Terima Kasih Bapak Presiden Prabowo, kami mendoakan Bapak selalu diberikan petunjuk, kesehatan dan keberkahan oleh Allah SWT dalam memimpin seluruh rakyat Indonesia. Amiin.

    Jakarta, 7 Desember 2025

    Hormat Kami

    Civitas Academica Universitas Paramadina

     

  • Kondisi Keuangan Daerah Menipis, DPR Desak Presiden Tetapkan Banjir Sumatera Sebagai Bencana Nasional

    Kondisi Keuangan Daerah Menipis, DPR Desak Presiden Tetapkan Banjir Sumatera Sebagai Bencana Nasional

    7cloud.asia – Anggota Komisi VIII DPR, Matindas J. Rumambi, menegaskan perlunya banjir Sumatera ditetapkan menjadi bencana nasional.

    Usulan ini diajukan menyusul kondisi keuangan daerah yang semakin menipis dalam menangani dampak kerusakan. Hal itu ia sampaikan saat meninjau langsung lokasi terdampak bencana di Kabupaten Pesisir Selatan, Sabtu (6/12/2025).

    “Kondisi keuangan daerah saat ini agak kesulitan, sehingga penting untuk ditetapkan sebagai bencana nasional,” ujar Matindas usai melihat sejumlah titik kerusakan di Pesisir Selatan.

    Dia menilai penanganan bencana banjir Sumatera sudah tidak lagi memadai jika hanya mengandalkan kemampuan fiskal daerah. 

    Baca Juga: BNPB Perkirakan Dana yang Dibutuhkan untuk Pemulihan Banjir Sumatera Capai Rp 51,82 Triliun

    Dalam kunjungan kerja spesifik tersebut, Matindas memastikan bahwa seluruh mitra kerja Komisi VIII, termasuk BNPB dan Dinas Sosial, telah turun membantu masyarakat. 

    Namun, ia menilai skala kerusakan akibat banjir Sumatera membutuhkan dukungan penuh dari pemerintah pusat. 

    “Kami ingin memastikan bahwa mitra kerja kami telah turun langsung ke lapangan. Tapi kebutuhan daerah jauh lebih besar dari kapasitas saat ini,” tegasnya.

    Salah satu kebutuhan mendesak yang disampaikan Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan adalah pembangunan jembatan sementara untuk menghubungkan wilayah yang terisolasi. 

    Baca Juga: Banjir Sumatera: Kekerasan Tersembunyi yang Mematikan

    Jalan yang terputus membuat distribusi bantuan tidak dapat sepenuhnya dilakukan melalui jalur darat.

    Untuk beberapa wilayah, bantuan makanan dan kebutuhan penting lainnya terpaksa dikirim menggunakan helikopter. 

    “Kami sudah lihat bahwa recovery jalan sedang dilakukan. Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa cepat teratasi,” jelas Matindas. 

     

    “Pertemuan ini untuk melihat apa yang bisa kita sinergikan demi mempercepat recovery bencana,” tandasnya.

     

  • Masa Depan Pendidikan Siswa Korban Banjir Sumatera

    Masa Depan Pendidikan Siswa Korban Banjir Sumatera

    7cloud.asiaWakil Ketua Komisi X DPR, Maria Yohana Esti Wijayati mendesak Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk segera melakukan realokasi anggaran guna mempercepat penanganan pendidikan di daerah yang terdampak bencana

    Dia mengusulkan agar pos anggaran pengadaan peralatan teknologi yang belum mendesak, seperti papan tulis pintar (smartboard), dialihkan untuk memenuhi kebutuhan dasar siswa dan revitalisasi sekolah yang hancur akibat bencana.

    “Bukan saya mengatakan smartboard tidak penting, tetapi situasi seperti ini kan mereka tidak bisa menggunakan. Kita alihkan pada sesuatu hal yang lebih penting untuk mereka,” tegas Esti di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (8/12/2025).

    Legislator PDI Perjuangan ini juga meminta agar penyaluran Program Indonesia Pintar (PIP) di wilayah terdampak bencana dilakukan dengan mekanisme khusus tanpa verifikasi data kemiskinan yang kaku. 

    Menurutnya, bencana alam secara otomatis mengubah status ekonomi keluarga menjadi rentan, sehingga bantuan PIP harus segera didistribusikan atas nama kemanusiaan agar siswa bisa membeli seragam dan perlengkapan sekolah yang hanyut.

    Esti  juga mendorong Mendikdasmen menerbitkan Peraturan Menteri terkait situasi bencana untuk menggantikan regulasi lama (Permendikbud No. 33 Tahun 2019) yang dinilai perlu penyempurnaan. 

    Baca Juga: BNPB Perkirakan Dana yang Dibutuhkan untuk Pemulihan Banjir Sumatera Capai Rp 51,82 Triliun

    Regulasi baru ini diharapkan dapat memberikan payung hukum bagi sekolah swasta yang terancam kolaps serta kepastian mengenai peniadaan ujian akademik yang memberatkan siswa korban bencana. 

    Dalam kesempatan yang sama, Anggota Komisi X DPR lainnya, Mercy Chriesty Barends meminta Kemendikdasmen memastikan proses pembelajaran pasca kebencanaan tetap berjalan di Sumatera. 

    Menurutnya, pemerintah harus segera memetakan keperluan untuk memastikan anak-anak tetap bisa belajar, serta pemberian layanan psikososial bagi para korban.

    “Kemendikdasmen harus memastikan bagaimana proses pembelajaran tetap berjalan pasca kebencanaan, dan apabila terjadi relokasi pembelajaran jarak jauh juga harus dipastikan terlaksana”, ujarnya.

    Ia menegaskan pentingnya langkah cepat agar hak pendidikan anak-anak tetap terpenuhi. Menurutnya, pemulihan fasilitas pendidikan juga harus menjadi prioritas utama dalam penanganan pasca bencana.

    Dia mengatakan menyelamatkan sarana belajar sama dengan menjaga masa depan generasi muda.

    Baca Juga: Update Banjir Sumatera: Ribuan Kepala Keluarga di Pesisir Selatan Sumbar Masih Terisolasi

    Di sisi lain, ia menekankan bahwa pemulihan psikososial bagi siswa dan guru yang terdampak bencana banjir Sumatera juga harus menjadi prioritas utama pemerintah. 

    Menurutnya, penanganan pasca bencana banjir Sumatera tidak boleh hanya fokus pada infrastruktur pendidikan.

    “Pemulihan psikosisal pascabencana memang harus menjadi perhatian utama, namun pemerintah juga perlu memikirkan aspek-aspek lainnya yang berpotensi terjadi pada saat di penampungan termasuk kekerasan”, imbuhnya.

    Dia mendorong pemerintah pusat dan daerah menggandeng konselor sekolah, psikolog, dan tenaga pendidik untuk mengadakan kegiatan trauma healing, kelas kreatif, seni, hingga permainan terstruktur. 

    Lebih lanjut, ia meminta Kemendikdasmen memastikan anggaran yang ada tersedia. Menurutnya, kebijakan yang direncanakan akan percuma apabila anggaran tidak tercukupi. 

    “Intinya anggarannya harus ada, jangan hanya kebijakan saja yang direncanakan,” katanya.

    Baca Juga: Banjir Sumatera: Kekerasan Tersembunyi yang Mematikan

     

  • Tanpa Bantuan Asing, Pemulihan Dampak Banjir Sumatera Diperkirakan Butuh Waktu Puluhan Tahun

    Tanpa Bantuan Asing, Pemulihan Dampak Banjir Sumatera Diperkirakan Butuh Waktu Puluhan Tahun

    7cloud.asia – Sejumlah negara menyampaikan ucapan belasungkawa atas banjir bandang dan longsor di tiga provinsi di Sumatera (banjir Sumatera) yang menewaskan setidaknya 961 orang. 

    Para pemimpin negara tersebut, tidak hanya menyampaikan simpati, tapi berkomitmen untuk memberikan bantuan yang dibutuhkan kepada Indonesia.

    Namun demikian, Presiden Prabowo Subianto hingga hari ini menolak tawaran tersebut, dan percaya bahwa pemerintahannya sanggup menangani bencana banjir Sumatera tanpa bantuan pihak luar.

    “Bencana ini sekali lagi, musibah. Tapi di sisi lain menguji kita. Alhamdulillah kita kuat, kita mengatasi masalah dengan [kekuatan] kita sendiri,” ucap Prabowo di Hari Ulang Tahun ke-61 Partai Golkar di Istora Senayan, Jakarta, Jumat (5/12/2025).

    Menteri Luar Negeri Sugiono mengatakan, pemerintah Indonesia hingga saat ini belum membuka bantuan internasional untuk bencana di tiga provinsi tersebut.

    “Saya yakin kita bisa menyelesaikan masalah ini,” ujar Sugiono di Gedung Pancasila Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Jumat (5/12/2025)

    Baca Juga: Pemprov Sumatera Barat Perpanjang Masa Tanggap Darurat Bencana hingga 22 Desember

    Sugiono menambahkan, pemerintah baru akan meminta bantuan kepada negara asing jika pemerintah “merasa perlu.

    Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyebut pemerintah memiliki Dana Siap Pakai (DSP) untuk penanggulangan bencana di Sumatera. Besaran anggarannya dalam APBN sekitar Rp500 miliar yang diperuntukkan untuk kesiapsiagaan bencana.

    Sementara di lapangan, korban sudah sangat membutuhkan bantuan. Sejumlah kepala daerah menyatakan tidak sanggup menangani dampak bencana banjir bandang ini.

    Setidaknya tujuh bupati di Aceh telah menyatakan ketidaksanggupan dalam penanganan tanggap darurat banjir dan longsor yang menimpa wilayah itu pada pekan lalu.

    Di sisi korban, masih banyak yang mengeluhkan ketiadaan bantuan. Pun komunikasi dan layanan air bersih yang masih terputus.

    Sejumlah kalangan sudah mendesak agar banjir Sumatera ditetapkan menjadi bencana nasional karena jumlah korban tewas yang cukup besar dan kerusakan yang masif. 

    Baca Juga: Banjir Sumatera: Kekerasan Tersembunyi yang Mematikan

    “Bencana ini kan sebetulnya membutuhkan respon cepat. Tapi sense of crisis (kepekaan terhadap situasi) kurang sekali,” menurut mantan Pelaksana Tugas Sekretaris Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) Aceh-Nias, Teuku Kamaruzzaman dikutip BBC Indonesia.

    Dia menilai bencana banjir Sumatera sudah bisa ditetapkan sebagai bencana nasional seperti halnya pada tsunami Aceh.

    Menurutnya, banjir Sumatera memiliki skala kerusakan yang lebih besar. Merujuk pada data BNPB, total ada 3,2 juta jiwa terdampak di 51 kabupaten di Sumatera-Aceh. Sebagian besar daerah yang terdampak, sepanjang pengamatannya, banyak di perkotaan.

    “Yang akibatnya banyak manusia terkena. Belum dari sisi infrastruktur, seperti di Aceh. Jadi kalau secara ekonomi, ini yang paling parah terdampaknya,” tuturnya.

    Teuku Kamaruzzaman khawatir jika hanya mengandalkan kemampuan yang ada dan terbatas, maka pemulihan di tiga provinsi di Sumatera bakal memakan waktu lebih lama.

    “Saya khawatirkan membutuhkan waktu paling tidak 20-30 tahun,” ucapnya.

    Baca Juga: Kondisi Keuangan Daerah Menipis, DPR Desak Presiden Tetapkan Banjir Sumatera Sebagai Bencana Nasional

    Ia mendasarkan perkiraannya itu pada luasnya daya rusak akibat banjir dan longsor yang dirasakan di 51 kabupaten/kota di tiga provinsi.

    Kebun, sawah, tambak milik warga yang tertimbun lumpur setebal dua meter, mustahil bisa dipulihkan seperti semula.

    Kondisi ini memaksa warga, mau tidak mau, harus mencetak sawah baru. Belum lagi seluruh harta benda warga terdampak yang ludes tersapu banjir. Baik materiil maupun immateriil.

    Khusus untuk Aceh, katanya, bencana ini akan membuat kemiskinan di Provinsi Aceh lebih tertinggal lagi dari wilayah-wilayah lain.

    “Sekarang ini Aceh baru membangun ketertinggalan dari wilayah lain karena kemiskinan paling tertinggal di Sumatera. Nah dengan bencana ini, drop lagi dia [Aceh].”

    “Karena ini [bencana] lebih dahsyat, secara ekonomi juga [menghancurkan] lebih besar. Karena alat-alat produksi masyarakat menjadi tidak bisa digunakan lagi,” sambungnya.

    Sumber: BBC Indonesia 

     

  • Komisi IV DPR Beri Waktu Sebulan Pada Kemenhut untuk Bongkar Pelaku Illegal Logging Pemicu Banjir Sumatera

    Komisi IV DPR Beri Waktu Sebulan Pada Kemenhut untuk Bongkar Pelaku Illegal Logging Pemicu Banjir Sumatera

    7cloud.asiaKomisi IV DPR memberi waktu satu bulan kepada Menteri Kehutanan untuk membongkar pelaku illegal logging yang diduga memicu bencana banjir Sumatera.

    Anggota Komisi IV DPR, Riyono menegaskan Rapat Kerja Komisi IV dengan Kementerian Kehutanan (Kemenhut) beberapa waktu lalu menghasilkan kesimpulan bahwa adanya indikasi pelanggaran yang dilakukan oleh perusahaan atau orang sehingga mengakibatkan bencana banjir Sumatera.  

    Raker  tersebut antaralain memerintahkan Kemenhut untuk segera menindak perusahaan pemegang perizinan berusaha atau Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan dan Tambang ilegal.

    “Artinya segera itu ya secepatnya, mungkin maksimal 1 bulan ya. Itu pendapat saya” papar Riyono dalam keterangan tertulis, Selasa (9/12/2025).

    Baca Juga: Tanpa Bantuan Asing, Pemulihan Dampak Banjir Sumatera Diperkirakan Butuh Waktu Puluhan Tahun

    Kerusakan alam hebat dan korban meninggal dunia yang mencapai 900 orang lebih membawa duka nasional.

    Banyak daerah yang terisolasi dan belum mampu dijangkau oleh bantuan pemerintah dan relawan. Kerugian material bisa mencapai Rp10 triliun lebih, baik infrastruktur maupun sektor ekonomi. 

    “Raker memberikan gambaran, paparan Menhut belum sepenuhnya memuaskan wakil rakyat. Angka dan data lapangan perlu divalidasi, faktanya kerusakan bencana ini sangat besar. Saat ini proses evakuasi terus dilakukan, tapi tugas Kemenhut harus juga cepat,” tambah politisi PKS ini. 

    Ia pun merespons adanya video viral yang memperlihatkan log-log kayu yang terbawa banjir bandang.

    Baca juga: Banjir Sumatera: Kekerasan Tersembunyi yang Mematikan

    Kayu-kayu tersebut diduga hasil illegal logging yang dilakukan oleh pemegang izin usaha, tetapi justru melakukan tindakan ilegal dengan penebangan dan membuka tambang. 

    “Sampai sekarang Kemenhut belum bisa jelaskan, siapa pemilik kayu – kayu yang terbawa oleh arus banjir ini? Apakah dari aktivitas illegal atau legal? Mungkin jumlahnya bisa ratusan kubik? Semua belum jelas sampai saat ini?!” tambahnya.

    “Menhut Raja Juli menyebutkan ada 12 obyek hukum yang sedang dalam proses, siapa saja mereka? Belum ada yang disampaikan kepada publik,” tanyanya.

    Karena itu Riyono mendesak Menhut harus tegas dan cepat, yang sesuai dalam waktu 30 hari bersamaan dengan dimulainya kembali masa sidang DPR tahun 2026. 

    “Jangan sampai dalam Raker 2026 belum ketemu siapa yang bertanggung jawab atas kerusakan sehingga bencana besar ini,” tutup Riyono.

     

     

  • DPR: Status Bencana Nasional Penting untuk Dorong Pemulihan Korban Banjir Sumatera

    DPR: Status Bencana Nasional Penting untuk Dorong Pemulihan Korban Banjir Sumatera

    7cloud.asiaAnggota Komisi X DPR Muhamad Nur Purnamasidi dalam Raker Komisi X DPR bersama Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek)  dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), di Gedung Nusantara I, DPR, Senayan, Jakarta, Senin (8/12/2025), menekankan perlunya perencanaan pemulihan yang matang oleh Kemendiktisaintek.

    Dia mengingatkan bahwa dampak bencana banjir Sumatera bukan hanya dirasakan oleh institusi pendidikan, tetapi juga oleh orang tua mahasiswa yang kehilangan sumber penghidupan. 

    Kerusakan sawah, kebun sawit, pasar, hingga infrastruktur dasar dinilai akan sangat memengaruhi kemampuan keluarga untuk membiayai pendidikan anak-anak mereka, baik yang kuliah di wilayah terdampak maupun di luar daerah tersebut.

    Politisi Partai Golkar itu juga berpendapat bahwa fokus pada penanganan darurat banjir Sumatera selama satu hingga dua bulan ke depan belumlah cukup.

    Pemerintah, menurutnya, perlu mulai memikirkan skenario pemulihan enam bulan hingga satu tahun ke depan agar kebutuhan anggaran dapat diproyeksikan secara realistis dan disepakati bersama antara pemerintah dan DPR.

    Dia mengingatkan bahwa fase pemulihan seringkali terabaikan ketika sorotan media mulai menghilang. 

    “Pemulihan ini seringkali ketika video (bencana) sudah tidak ada, (pemberitaan) di TV sudah tidak ada, semua tidak ada, menghilang semuanya. Masyarakat (yang terdampak bencana) ditinggalkan,” ujarnya

    Purnamasidi menegaskan bahwa tahap pemulihan pascabencana merupakan kunci utama untuk memastikan pelayanan pendidikan dapat berjalan secara berkelanjutan di wilayah terdampak. 

    Penanganan darurat, ujarnya, harus segera diikuti dengan perencanaan pemulihan jangka menengah dan panjang yang jelas, terutama terkait kepastian anggaran dan dukungan bagi keluarga mahasiswa.

    “Tahap pemulihan adalah kunci dari bagaimana kita memastikan pelayanan pendidikan itu betul-betul bisa kita laksanakan dengan baik. Dan karena itu, terkait dengan anggarannya pun menurut saya harus disampaikan,” ujarnya.  

    Dalam rapat tersebut, Purnamasidi mengapresiasi langkah cepat Kemendiktisaintek dan BRIN dalam penanganan darurat bencana di Aceh dan Sumatera. Ia menilai respons awal tersebut sudah sesuai harapan, mengingat dalam fase darurat seluruh pihak sudah bergerak cepat untuk mempercepat bantuan. 

    Meski demikian, secara pribadi dia menyampaikan pandangan bahwa bencana banjir Sumatera semestinya ditetapkan sebagai bencana nasional agar seluruh potensi dan sumber daya dapat dimaksimalkan.

    Lebih lanjut, Purnamasidi juga menyoroti persoalan anggaran pemulihan. Ia mempertanyakan sumber pendanaan, khususnya alokasi anggaran sekitar Rp75 miliar yang disampaikan pemerintah. Menurutnya, pengalaman menghadapi bencana besar, termasuk pandemi Covid-19, menunjukkan bahwa pemulihan tidak bisa diselesaikan dalam waktu singkat.

    “Pemulihan ini tidak bisa kita hitung satu sampai dua bulan, bisa setahun,” katanya, seraya menambahkan bahwa rusaknya infrastruktur seperti jembatan dan akses penghubung turut memperlambat pemulihan ekonomi. 

    Dalam konteks riset dan inovasi, Purnamasidi mendorong BRIN untuk mengembangkan teknologi yang lebih tepat guna bagi masyarakat terdampak bencana. Ia menyoroti pola bantuan yang berulang berupa beras dan mie instan yang tidak selalu dapat langsung diolah.

    Kondisi tersebut, menurutnya, memicu munculnya fenomena viral warga yang terpaksa mengonsumsi makanan mentah, yang seharusnya dapat diantisipasi melalui riset yang lebih aplikatif.

    Ia menilai teknologi air siap minum yang murah, masif, dan dapat diproduksi secara mandiri oleh masyarakat harus menjadi prioritas pengembangan. Selain itu, Purnamasidi mendorong inovasi pangan berbasis potensi lokal di daerah rawan bencana agar ketika bencana terjadi, masyarakat dapat segera memenuhi kebutuhan dasar secara mandiri.

    Menutup pernyataannya, Purnamasidi kembali menegaskan bahwa pemulihan harus menjadi fokus utama dalam kebijakan penanganan bencana di sektor pendidikan.

    Dia meminta agar perencanaan dan kebutuhan anggaran pemulihan disampaikan secara terbuka, serta riset dan teknologi pangan siap pakai dikembangkan secara serius untuk daerah-daerah yang setiap tahun berulang kali terdampak bencana. 

     

     

  • Kondisi Korban Bencana di Sumatera Kian Memprihatinkan, Anggota DPR Desak Status Bencana Nasional

    Kondisi Korban Bencana di Sumatera Kian Memprihatinkan, Anggota DPR Desak Status Bencana Nasional

    7cloud.asia – Kondisi korban yang terdampak banjir bandang dan longsor di Provinsi Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat hingga kini masih memprihatinkan. Pemerintah harus segera menetapkan status bencana nasional.

    Anggota DPR RI Komisi lll, Nasir Djamil kepada wartawan di Menteng Jakarta Pusat pada Selasa (09/12/2025) mengatakan penetapan status tersebut perlu dilakukan demi menyelamatkan manusia dan proses rehabilitasi di wilayah yang terkena bencana dapat lebih cepat dilakukan.

    “Pemerintah tidak ragu untuk menetapkan status bencana nasional dengan segala resiko yang diambil oleh negara. Jadi upaya menyelamatkan manusia di daerah bencana itu menjadi sangat prioritas,” jelas Nasir.

    Baca: Tanpa Bantuan Asing Pemulihan Akibat Bencana di Sumatera Butuh Puluhan Tahun

    Selanjutnya, anggota DPR yang berasal dari Aceh ini menjelaskan dirinya baru melakukan kunjungan ke Aceh. Menurutnya hingga kini masih banyak daerah yang belum tersentuh bantuan. Karena infrasturktur yang rusak.

    “Jadi memang kondisi kesehatan, terutama ibu hamil yang di lokasi pengungsian, masih banyak warga yang belum mendapatkan kebutuhan sehari-hari seperti sembako, kesehatannya terancam ISPA, penyakit kulit, dan lainnya,” katanya.

    Kondisi terparah, lanjut Nasir, di wilayah Bener Meriah, Aceh Tengah, Aceh Tamiang, sebagian di Aceh Utara dan Aceh Timur.

    “Jadi memang situasi di dalam itu belum terjangkau sama sekali. Apalagi jalur darat itu kalau dari Bener Meriah ke Aceh Tengah itu bener-bener nggak bisa dilalui kecuali dengan transportasi udara,” ungkapnya.

    Baca: Banjir Sumatera, Kekerasan Tersembunyi yang Mematikan

    Anggota Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (FPKS) ini menjelaskan pemerintah pusat harus berorientasi bahwa pemerintah pusat itu pusatnya daerah, daerah itu adalah daerahnya pusat.

    “Jadi kalau semangat ini diserap oleh negara, maka negara itu tidak perlu berpikir lama untuk menetapkan status bencana tersebut. Karena pusat merasa bahwa, daerah itu adalah daerahnya pusat,” katanya.

    Lebih lanjut Nasir menjelaskan agar pemerintah pusat terbuka dengan bantuan luar negeri. Hal ini menurutnya sangat dibutuhkan agar warga yang terkena bencana dapat segera memperoleh bantuan.

    “Bukan berarti pemerintah itu tidak mampu ya, dalam arti keterbatasan logistik, keterbatasan personil dan keterbatasan untuk melakukan rehabilitasi,” ujarnya.

    Baca: Anjing Pelacak Ini Gugur Dalam Pencarian Korban di Sumatera dan Dikubur Secara Kedinasan

    Presiden Prabowo Subianto hingga hari ini menolak tawaran tersebut, dan percaya bahwa pemerintahannya sanggup menangani bencana banjir Sumatera tanpa bantuan pihak luar.

    “Bencana ini sekali lagi, musibah. Tapi di sisi lain menguji kita. Alhamdulillah kita kuat, kita mengatasi masalah dengan [kekuatan] kita sendiri,” ucap Prabowo di Hari Ulang Tahun ke-61 Partai Golkar di Istora Senayan, Jakarta, Jumat (5/12/2025).

    Menteri Luar Negeri Sugiono mengatakan, pemerintah Indonesia hingga saat ini belum membuka bantuan internasional untuk bencana di tiga provinsi tersebut.

    Menurutnya pemerintah baru akan meminta bantuan kepada negara asing jika pemerintah “merasa” perlu.

    Baca: BNPB Perkirakan Dana yang Dibutuhkan untuk Pemulihan Banjir Sumatera Rp 51,82 Trilyun

    Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyebut pemerintah memiliki Dana Siap Pakai (DSP) untuk penanggulangan bencana di Sumatera. Besaran anggarannya dalam APBN sekitar Rp500 miliar yang diperuntukkan untuk kesiapsiagaan bencana.

    Sementara di lapangan, korban sudah sangat membutuhkan bantuan. Sejumlah kepala daerah menyatakan tidak sanggup menangani dampak bencana banjir bandang ini.

    Setidaknya tujuh bupati di Aceh telah menyatakan ketidaksanggupan dalam penanganan tanggap darurat banjir dan longsor yang menimpa wilayah itu pada pekan lalu.

     

  • Tiga Poin Utama Pemulihan Pendidikan Pasca Banjir Sumatera

    Tiga Poin Utama Pemulihan Pendidikan Pasca Banjir Sumatera

    7cloud.asiaAnggota Komisi X DPR Furtasan Ali Yusuf  memaparkan tiga poin utama yang perlu segera menjadi perhatian pemerintah agar masa depan pendidikan mahasiswa tidak terhenti akibat bencana banjir Sumatera di tiga provinsi.

    Dia menekankan pentingnya pemulihan pendidikan pascabencana banjir Sumatera yang dilakukan secara tuntas dan terstruktur dan perencanaan jangka panjang, bukan sekadar respon darurat.

    “Saya tidak bicara soal apa sebab terjadinya musibah ini, tapi bagaimana cara kita menangani persoalan ini sampai tuntas, ada tiga hal yang ingin saya sampaikan,” ujar Furtasan dalam Rapat Kerja Komisi X DPR bersama Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), di Senayan, Jakarta, Senin (8/12/2025). 

    Poin pertama yang disoroti Furtasan adalah revitalisasi sarana dan prasarana pendidikan di wilayah terdampak bencana. 

    Dia menilai pemerintah perlu mengambil peran lebih aktif dalam mempercepat pemulihan bangunan-bangunan pendidikan yang rusak agar kegiatan akademik dapat segera kembali berjalan normal.

    Menurutnya, penyelesaian persoalan fisik kampus menjadi prasyarat penting bagi keberlanjutan proses belajar-mengajar.

    Baca Juga: DPR: Status Bencana Nasional Penting untuk Dorong Pemulihan Korban Banjir Sumatera

    Poin kedua berkaitan dengan kewajiban mahasiswa, khususnya di perguruan tinggi swasta (PTS). Furtasan menjelaskan bahwa pada perguruan tinggi negeri, kebijakan keringanan umumnya dapat ditempuh melalui rektor.

    Namun, kondisi berbeda di PTS yang sangat bergantung pada pembayaran SPP mahasiswa sebagai sumber utama operasional. Ia menilai PTS menjadi kelompok yang paling rentan ketika mahasiswa terdampak bencana mengalami kesulitan ekonomi. 

    “Saya meminta pemerintah hadir untuk mengatasi persoalan tersebut agar operasional PTS tidak terganggu dan harapan mahasiswa untuk melanjutkan pendidikan tidak terputus,” tegasnya.

    Poin ketiga yang ditekankan Furtasan adalah kebutuhan akan payung hukum yang jelas dalam pengambilan kebijakan pemulihan pendidikan.

    Furtasan menilai setiap kali terjadi krisis, respons kebijakan kerap bersifat gagap dan sporadis, tanpa dasar aturan yang kuat. 

    Ia berkaca pada pengalaman penanganan pandemi Covid-19 pada 2020, di mana banyak kebijakan akhirnya memunculkan persoalan hukum karena tidak dilandasi regulasi yang memadai.

    Baca Juga: Tanpa Bantuan Asing, Pemulihan Dampak Banjir Sumatera Diperkirakan Butuh Waktu Puluhan Tahun

    Menurut Furtasan, meskipun para rektor telah mengambil kebijakan-kebijakan untuk membantu mahasiswa terdampak, kebijakan tersebut masih bersifat sementara dan rentan secara hukum. 

    “Oleh karena itu, saya mendorong Kemendiktisaintek untuk menerbitkan payung hukum berupa surat edaran atau keputusan menteri yang dapat melindungi pimpinan perguruan tinggi dalam mengambil kebijakan strategis, termasuk terkait UKT dan dispensasi akademik,” jelas Politisi Fraksi Partai NasDem ini.

    Ia menilai bahwa kebijakan pemulihan pendidikan harus memiliki kepastian dan legitimasi agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.

    Furtasan pun mengingatkan agar kebijakan tersebut tidak hanya didasarkan pada rasa empati sesaat, melainkan dirancang untuk jangka panjang dan berlandaskan aturan yang jelas.

    Menutup pernyataannya, ia pun menegaskan pentingnya kesepakatan bersama antara pemerintah dan DPR agar tidak ada satu pun mahasiswa dari Aceh, Sumatera Utara, maupun Sumatera Barat yang terpaksa menghentikan pendidikannya akibat bencana. 

    “Pendidikan tinggi merupakan fondasi masa depan ekonomi keluarga sekaligus modal utama bagi generasi muda untuk membangun kembali daerah asalnya,” pungkasnya. 

    Baca Juga: BNPB Perkirakan Dana yang Dibutuhkan untuk Pemulihan Banjir Sumatera Capai Rp 51,82 Triliun

     

  • Update Banjir Sumatera: 969 Orang Meninggal 262 Hilang

    Update Banjir Sumatera: 969 Orang Meninggal 262 Hilang

    7cloud.asiaBadan Nasional Penanggulangan Bencana (BNBP) dalam keterangan pers terkait perkembangan penanganan darurat banjir Sumatera memaparkan data terbaru 

    Berdasarkan data yang dihimpun  BNBP, Selasa (10/12/2025), pukul 13.59 WIB, total korban meninggal akibat banjir dan longsor di Provinsi Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat mencapai 969 jiwa. 

    Sedangkan 262 jiwa lainnya dilaporkan hilang dan masih dalam pencarian dan korban luka mencapai 5.000 jiwa yang tersebar di sejumlah daerah terdampak banjir Sumatera.

    Wakil Kepala Pusat Penerangan TNI, Brigjen TNI Osmar Silalahi, dilansir CNBC Indonesia mengatakan per hari Rabu (9/12/225), jumlah korban banjir Sumatera yang mengungsi masih berjumlah 902.545 orang

    Baca Juga: DPR: Status Bencana Nasional Penting untuk Dorong Pemulihan Korban Banjir Sumatera

    Berikut data rinci per jumlah korban di tiap provinsi:

    Aceh
    Meninggal 391 jiwa
    Hilang 31 jiwa
    Terluka 4.300 jiwa

    Sumatera Barat
    Meninggal 238 jiwa
    Hilang 93
    Terluka 113 jiwa

    Sumatera Utara
    Meninggal 340 jiwa
    Hilang 138
    Terluka 650

    Kerusakan bangunan

    Jumlah rumah rusak juga bertambah mencapai 157,9 ribu yang tersebar di 52 kabupaten/kota yang terdampak. 

    Selanjutnya, sejumlah fasilitas publik turut terdampak banjir, di mana  215 fasilitas kesehatan dilaporkan mengalami kerusakan,  584 fasilitas pendidikan rusak, 287 gedung perkantoran rusak, 423 rumah ibadah rusak, 498 jembatan rusak dan 1200 fasilitas umum rusak

    Baca Juga: Tanpa Bantuan Asing, Pemulihan Dampak Banjir Sumatera Diperkirakan Butuh Waktu Puluhan Tahun

    BNBP memastikan proses evakuasi korban bencana banjir terus dilakukan.  

    Para kepala daerah memimpin penanganan dampak banjir Sumatera di daerahnya masing-masing. Sementara pemerintah pusat memberikan dukungan alat dan bantuan lainnya

    Penanggung jawab BNPB wilayah Padang Panjang Rudi Supriyadi menyampaikan, pihaknya terus memantau dan memastikan dukungan sumber daya yang dibutuhkan dalam operasi pencarian.

    “Komitmen klaster pencarian dalam mencari korban yang hilang optimal dalam memasuki tambahan tiga hari ke-2 dan memberikan kepercayaan masyarakat bahwa pemerintah dan pemerintah daerah siap melaksanakan pencarian bagi korban yang saat ini belum ditemukan di Lembah Anai, Kota Padang Panjang,” ujar Rudi dalam keterangan resminya, Selasa (9/12/2025). 

    Selain itu, BNPB juga terus  melakukan pendampingan untuk mendata perkiraan nilai usulan infrastruktur jalan dan jembatan maupun bantuan logistik yang dibutuhkan di wilayah terdampak.

    Baca Juga: BNPB Perkirakan Dana yang Dibutuhkan untuk Pemulihan Banjir Sumatera Capai Rp 51,82 Triliun