Tag: kesehatan mental

  • Cara Sederhana Menjaga Kesehatan Mental Para Lansia

    Cara Sederhana Menjaga Kesehatan Mental Para Lansia

    7cloud.asia – Tidak hanya kesehatan fisik, lansia atau mereka yang telah berusia 60 tahun ke atas juga harus menjaga kesehatan mental mereka.

    Lansia yang sehat dapat berkontribusi banyak di masyarakat karena memiliki pengalaman dan keterampilan hidup yang banyak. Namun, banyak lansia yang mengalami disabilitas sehingga membatasi pergerakannya.

    Menurut Charles F. Reynold, dkk dalam tulisannya, Mental health Care for Older Adullts: Recent Advances and New Directions in Clinical Practice and Research (2022), seiring dengan bertambahnya usia, para lansia sering menghadapi peningkatan disabilitas.

    Gangguan kesehatan mental sering kali adalah faktor uutama yang menyebabkan disabilitas pada lansia tersebut.

    Sehingga, kesehatan mental lansia harus dijaga agar dapat tetap hidup dengan baik.
    Apa saja yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan mental lansia, berikut paparannya:

    1. Menjaga interaksi sosial
    Ini adalah mendorong lansia untuk tetap aktif berinteraksi di lingkungan sosial, baik dengan keluarga, tetangga, maupun masyarakat luas pada umumnya.

    Lansia harus bersosialisasi sesering mungkin agar tidak kesepian dan depresi dalam mengahadapi pertambahan usia juga kesehatan yang makin menurun.

    Baca: Rahasia agar lansia tetap terus berkembang

    2. Melakukan aktivitas sosial
    Melakukan aktivitas sosial seperti menjadi relawan di bidang yang dikuasainya juga efektif menjaga kesehatan mental para lamsia.

    Para lansia dapat mengajarkan banyak ilmu dan sharing pengalaman hidup yang telah dilewatinya.

    Dilansir dari World health Organization, aktivitas sosial yang bermakna secara signifikan meningkatkan kesehatan mental yang positif, kepuasan hidup, kualitas hidup, dan mengurangi gejala depresi.

    3. Berolah raga
    Olahraga adalah salah satu hal penting yang dapat menjaga kesehatan mental. Dengan berolahraga, energi akan terarah pada kegiatan yang positif dan menghindarkan dari stres dan emosi negatif lainnya.

    Dengan berolahraga, kesehatan tubuh juga dapat ikut meningkat.

    4. Melatih pikiran
    Dilansir dari St Luke’s Hospital, para lansia sebaiknya meluangkan waktu 30 menit setiap harinya untuk melakukan aktivitas yang menantang secara mental agar pikiran mereka tetap tajam.

    Contohnya adalah memecahkan teka-teki, bermain sudoku, mempelajari bahasa baru, dan memainkan alat musik. Dengan melatih pikiran, lansia dapat mengurangi kemungkinan menderita penyakit seperti dimensia dan alzheimer.

    Baca: Pembelajaran sepanjang hidup jadi kunci sukses lansia

    5. Makan makanan yang bergizi
    Untuk menjaga kesehatan mental lansia, makanan bergizi punya peran penting. Makanan yang bergizi membuat tubuh menjadi sehat dan bugar, juga menghindarkan dari penyakit.

    Lansia juga harus menghindari makanan yang tinggi gula, tinggi garam, dan mengandung berbagai pengawet buatan.

    6. Tidur yang cukup dan berkualitas
    Untuk menjaga kesehatan mental, lansia memerlukan tidur yang cukup dan berkualitas. Lansia memerlukan tidur berkualitas sekitar 7 jam setiap harinya.

    Sehingga, tubuh akan terasa lebh segar dan terhindar dari suasana hati negatif juga penurunan kemampuan kognitif akibat terganggunya tidur.

    7. Melakukan hobi
    Melakukan hobi dapat membuat suasana hati menjadi baik dan memelihara kemampuan kognitif.

    Lansia dapat melakukan berbagai hobi seperti memasak, meluskis, bermusik, bernyanyi, menulis, merajut, berkebun, yoga, mengikuti aktivitas klub, membaca, mendaki, bermain catur, juga berjalan-jalan.

    Baca: Persiapan menghadapi masa pensiun

  • Minimalisme: Mengapa Mengonsumsi Penuh Kesadaran Bagus untuk Kesehatan Mental

    Minimalisme: Mengapa Mengonsumsi Penuh Kesadaran Bagus untuk Kesehatan Mental

    7cloud.asia – Kita sering menganggap pola makan sangat menentukan kesehatan kita. Dan ada banyak kebenarannya. Apa yang kita makan sangat menentukan tubuh fisik tempat kita menjalani hidup.

    Tapi, apakah Anda sadar bahwa “diet” kita lebih dari sekadar apa yang kita makan. Setiap hari, kita mengonsumsi banyak hal lain: media yang kita tonton, buku yang kita baca, percakapan yang kita lakukan, berita yang kita temui, dan bahkan pemikiran yang kita pikirkan.

    Sama seperti makanan yang kita asup berdampak pada kesehatan fisik kita, bentuk konsumsi lainnya juga secara signifikan memengaruhi kesejahteraan emosional, spiritual, dan mental kita.

    Dan hidup di dunia yang dipenuhi dengan informasi dan stimulan, kesadaran dalam mengosumsi menjadi semakin penting untuk merawat kesehatan mental kita.

    Pilihan yang kita buat tentang apa yang akan dikonsumsi membentuk pikiran, sikap, dan pada akhirnya kehidupan kita. Mengonsumsi secara sadar mungkin merupakan salah satu upaya terpenting yang dapat kita lakukan.

    “Dengan menerapkan konsumsi yang sadar, kita tidak hanya mengatur pengaruh eksternal dalam pikiran kita tetapi kita juga dapat menyelaraskan tindakan kita sehari-hari dengan nilai dan tujuan kita yang lebih dalam,“ tulis praktisi minimalisme, Joshua Becker.

    Joshua mengajak para pembacanya untuk menjelajahi bagaimana orang dapat mendekati konsep ini dengan intensionalitas, membuat pilihan yang membawa nya menuju kehidupan yang lebih bermakna dan memuaskan.

    Sama seperti kesehatan fisik yang dipengaruhi oleh nutrisi (atau kekurangan nutrisi) dalam makanan, ujarnya, kesehatan mental dan emosional kita dipengaruhi oleh kualitas dan jenis masukan mental kita.

    Namun dalam urusan kesehatan mental ini, dampaknya tidak selalu langsung terasa. Dampak negatif penuh dari pola konsumsi yang tidak sehat tidak terasa pada hari pertama, namun sepanjang hidup, efek kumulatifnya menentukan akan menjadi siapa kita nantinya.

    “Pertimbangkan ini: jika kita terus-menerus mengonsumsi berita negatif, kita mungkin mulai merasa cemas atau pesimis terhadap dunia,“ imbuh Joshua.

    Jika kita mengikuti akun media sosial yang mempromosikan standar yang tidak realistis, kita mungkin mulai merasa tidak mampu atau tidak puas dengan kehidupan kita.

    Sebaliknya, jika kita memilih buku-buku yang membangkitkan semangat, podcast positif, spiritualitas yang memberi kehidupan, atau percakapan yang bermakna, kita dapat memupuk rasa harapan, inspirasi, dan motivasi.

    “Tidak selalu di hari pertama, tapi pada akhirnya… dan selalu seperti itu,“ ujar Joshua.

    Masyarakat kita, seperti yang Anda ketahui, sering kali menyamakan konsumsi dengan identitas—apa yang kita miliki, apa yang kita kenakan, dan apa yang kita tampilkan di media sosial.

    Namun, kepuasan terbesar dalam hidup sebenarnya tidak akan pernah datang dari akumulasi eksternal, namun dari keselarasan internal.

    Dengan memilih secara sadar, kita bisa berfokus pada konsumsi apa yang menyehatkan jiwa kita dan memberikan dampak positif pada perjalanan hidup kita, bukan pada apa yang hanya mengisi waktu kita atau, lebih buruk lagi, membawa kita ke jalan yang tidak kita inginkan.

    Tapi ada satu hal: Hidup dengan niat membutuhkan kerja keras dan usaha.

    Pentingnya Intensionalitas
    Konsumsi yang sadar mengharuskan kita untuk membuat pilihan yang disengaja, bukan sekadar mengikuti arus norma dan harapan masyarakat. Itu mengharuskan kita untuk muncul dalam kehidupan kita sendiri setiap hari.

    Ini berarti mengambil langkah mundur dan mengevaluasi apa yang kita izinkan masuk ke dalam hidup kita, memahami bahwa tidak semua konsumsi diciptakan sama.

    Hal ini menuntut kita untuk dengan berani mengevaluasi ketika orang lain memilih dengan tidak bijaksana dan mengambil keputusan untuk diri kita sendiri.

    Antrean di toko makanan cepat saji drive-thru lebih panjang dibandingkan kasir di bagian produksi toko kelontong, namun yang satu menghasilkan kesehatan jangka panjang, yang lainnya tidak sehat.

    Untuk hidup dengan sengaja, pertama-tama kita harus menyadari bahwa hidup kita memiliki nilai dan layak untuk dijalani dengan baik. Dan ini bukanlah langkah mudah bagi semua orang. Lebih dari itu, kita menyadari bahwa hidup adalah kumpulan dari pilihan-pilihan setiap hari.

    Setiap hari menghadirkan peluang baru untuk memilih secara berbeda, untuk memilih apa yang sejalan dengan nilai-nilai kita daripada apa yang nyaman atau populer.

    Setiap hari baru juga merupakan tanggung jawab, untuk memilih intensionalitas berulang kali. Karena jika kita tidak memilih kesengajaan setiap hari, orang lain akan mulai mengemudikannya.

    Landasan konsumsi yang sadar dimulai dengan kesadaran diri. Kita harus mengetahui siapa diri kita, apa yang kita hargai, apa yang ingin kita capai, dan apakah hidup kita mengarah ke arah tersebut.

    Setelah kita memiliki pemahaman yang jelas tentang elemen-elemen ini, kita dapat membuat pilihan yang mendukung tujuan dan aspirasi kita.

  • Apakah Gangguan Kesehatan Mental Dapat Menurun kepada Anak?

    Apakah Gangguan Kesehatan Mental Dapat Menurun kepada Anak?

    7cloud.asia – Gangguan kesehatan mental diyakini menjadi hal yang dapat menurunkan kualitas hidup seseorang dan orang-orang di sekitarnya.

    Sebagian orang beranggapan gangguan kesehatan mental menurun dalam suatu keluarga? Benarkah anggapan tersebut?

    Menurut Aktivis Kesehatan Mental Renggi Ardiansyah, salah satu penyebab gangguan mental adalah gen yang diturunkan orangtua ke anaknya ketika dia lahir.

    “Tetapi, tidak 100 persen ketika orangtua memiliki gangguan kesehatan mental pasti anaknya juga memiliki gangguan mental,” ujar Renggi dalam acara Kompas Editor’s Talks: Apakah Masyarakat Indonesia Sudah Cukup Siap Mental, belum lama ini.

    Dikutip Kompas.com, Rengi mencontohkan seorang ayah yang memiliki kecemasan belum tentu akan memiliki anak yang punya kecemasan.

    Baca: Rawat kesehatan mental anak dengan ucapan positif

    Hal tersebut tidak dapat dipastikan, karena banyak hal yang dapat memicu gangguan kesehatan mental yang dialami seseorang.

    “Ada sesuatu yang memicu kecemasan menjadi gangguan kesehatan mental. Karena, tidak semua kecemasan merupakan gangguan kesehatan mental,” jelas Renggi.

    Pemicu gangguan kesehatan mental tersebut dapat berupa faktor biologis dan psikologis yang tidak ada kaitannya dengan faktor genetik atau keturunan.
    “Sebenarnya ini dapat kita atasi dengan pola parenting yang sehat,” ungkap Renggi.

    Orangtua, ujarnya, sebaiknya tidak perlu membawa luka pengasuhan orangtuanya dulu di masa lalu dan menerapkannya kembali pada anaknya.

    Misalnya, ketika orangtua kita dulu menerapkan pola asuh yang keras dengan sering membentak dan memukul ketika anak salah, sehingga membuat kita depresi. Maka, sebaiknya hal itu tidak diterapkan pada anak.

    Baca: Survei satu dari tiga remaja alami gangguan kesehatan mental

    “Kadang-kadang orangtua merasa tidak memahami kondisi anaknya sehingga tidak bisa memberikan ruang aman,” ujar Renggi.

    Anak yang tidak memiliki ruang aman pada orangtua cenderung menutup dirinya. Ia merasa tertekan karena tidak bisa mengekspresikan diri, merasa dituntut dan dikekang, juga merasa cemas.

    Gangguan kesehatan mental yang semula tidak ada, dengan kondisi ini, malah bisa muncul karena kondisi tersebut.

    “Karena sebenarnya gangguan mental itu perlu pemicunya, tidak muncul bergitu saja,” ujar Renggi.

    Pola asuh yang keras tersebutlah yang menjadi pemicu gangguan kesehatan mental. Pemicu inilah yang harus diperhatikan dan dihilangkan, sehingga anak tidak mengidap gangguan kesehatan mental yang sama dengan orangtuanya.

  • My Happy Ending: Perjuangan Penyintas Bipolar Mengalahkan Penyakitnya

    My Happy Ending: Perjuangan Penyintas Bipolar Mengalahkan Penyakitnya

    7cloud.asia – Buat kamu yang penasaran dengan kesehatan mental, drama Korea My Happy Ending bisa membantu memahami bagaimana kehidupan para penyintasnya.

    My Happy Ending merupakan drama Korea yang mengusung genre thriller psikologis hasil besutan sutradara Jo Soo Won yang memang sering menggarap genre thriller.

    Lewat episode-episodenya, My Happy Ending menggambarkan bagaimana penyintas gangguan kesehatan mental khususnya bipolar harus berjuang sendiri melawan penyakitnya

    Masih banyak orang yang menganggap gangguan kesehatan mental sebagai aib dan bukan penyakit yang bisa menimpa siapa saja, membuat banyak penyintas kesehatan mental tidak mendapatkan pengobatan yang seharusnya.

    Kurangnya pengertian, serta ketidaktahuan orang-orang sekitar akan masalah yang dialami, sering membuat penyintas kesehatan mental menjadi korban perundungan yang justru memperburuk kondisi mereka.

    Baca: Drama Korea yang mengangkat kesehatan mental -1

    Drama Korea My Happy Ending terdiri dari 16 episode dan telah tayang di aplikasi VIU mulai 30 Desember 2023 lalu.

    Selain Jang Nara dan Son Ho Jun, ada sejumlah nama yang tidak asing bagi penggemar drama Korea seperti Lee Ki Taek, So E Hyun, dan Park Ho San yang turut membintangi My Happy Ending.

    Tokoh utama drakor My Happy Ending adalah Seo Jae Won (Jang Na Ra), perempuan dengan karier cemerlang namun memiliki masalah dengan kesehatan mental.

    Seo Jae Won adalah penyintas bipolar dan menyimpan masa lalu yang pahit yang terus menghantui kehidupannya.

    Posisi sebagai CEO sebuah merek furnitur ternama ‘Dereve’ dan memliki keluarga bahagia–suami yang penuh pengertian dan anak yang cerdas– tak lantas membuatnya terbebas dari bayang-bayang masa lalu.

    Baca: Drama Korea yang mengangkat kesehatan mental -2

    Seo Jae Won pun harus selalu mengonsumsi obat penenang untuk menjaga kesehatan mentalnya. Dan, semua itu dilakukan tanpa sepengetahuan suaminya, Heo Soon Young (diperankan Son Ho Jun).

    Soon Young yang berprofesi sebagai desainer lepas dan profesor desain industri lebih mengabdikan untuk mengurusi rumah tangga dan putri semata wayang mereka.

    Karir dan kehidupan rumah tangga Jae Won dan Soon Young mulai goyah karena perbuatan sahabatnya sendiri, Kwon Yoo Jin yang melakukan segala cara untuk merebut apa yang dimiliki Jae Won..

    Meski menjungkirbalikkan kehidupan Jae Won, tragedi ini ternyata juga membebaskannya dan memberinya jalan keluar dan berdamai dengan masa lalu yang menghantuinya.

    Tragedi ini sekaligus menjadi cara bagi Jae Won untuk jujur kepada orang-orang di sekitar akan kondisi dirinya. Dia juga bisa menerima dirinya apa adanya.

    Tragedi yang harus merengut nyawa Soon Young ini juga mengubah Jae Won dalam memandang dan menjalani hidupnya.

    Drama Korea My Happy Ending kini dapat ditonton secara legal dengan subtitle Bahasa Indonesia di Viu.

     

  • Calon Walikota Semarang Agustina WP Berjanji Akan Libatkan Anak Muda dalam Pembuatan Kebijakan

    Calon Walikota Semarang Agustina WP Berjanji Akan Libatkan Anak Muda dalam Pembuatan Kebijakan


    7cloud.asia – Calon walikota Semarang, Agustina WP mempunyai perhatian khusus terhadap kesehatan mental, terutama di kalangan anak muda.

    Salah satu solusi yang ditawarkan Agustina untuk menangani kesehatan mental adalah manajemen stress.

    “Jika kita bisa mengelola stress maka hidup kita akan lebih bahagia,” ujarnya saat menjadi pembicara di acara “Perempuan Mendengar”

    Program ini digagas oleh Riezky Delastama atau biasa dipanggil MasRD, dan menjadi ajang untuk membahas kesehatan mental khususnya untuk gen Z dan millenial.

    Topik yang dibahas beragam, mulai depresi, bullying, stress, anarkisme remaja dan sebagainya. Selain Agustina WP sebagai calon walikota Semarang, acara ini juga menghadirkan Riezky Delastama tokoh muda Semarang.

    Baca: Ratusan pengacara deklarasikan dukungan untuk Andika-Hendi

    Influencer kondang di Semarang Marsha Natika dan Psikolog Dewi Marianty juga dihadirkan dalam acara bertajuk Perempuan Mendengar ini.

    Agustina WP menyatakan siap membuka ruang publik gratis untuk aktivitas masyarakat guna memecahkan berbagai permasalahan sosial yang muncul.

    Dalam kesempatan itu, Agustina menyoroti peran serta anak muda, khususnya gen Z dan millenial dalam pemerintahan dan aktivitas sosial.

    Dia melihat, masih ada yang kurang sinkron, seperti missing link antara pembuat kebijakan (pemerintah) dan masyarakat khususnya anak muda, seperti yang dimau apa yang diberikan apa.

    “Karena itu perlu melibatkan anak muda secara aktif dalam pembuatan program dan kebijakan, salah satunya melalui wadah Musrenbang,” ujarnya.

    Baca: PDI Perjuangan berkoalisi dengan PKS di Pilkada Boyolali

    Dia menambahkan, kesehatan mental adalah tanggung jawab bersama, bukan cuma pemerintah tapi juga masyarakatnya mulai dari keluarga dan lingkungan sekitar.

    Maka penting jika pemerintah ke depan menyediakan ruang publik gratis lebih banyak. Karena, ujarnya, anak muda butuh ruang berekspresi dan aktualisasi diri yang positif sebut Riezky Delastama yang merupakan tokoh muda kota Semarang

    Agustina menambahkan bahwa sebetulnya pemerintah sangat bisa mendukung kegiatan dan program anak muda Semarang, karena dananya ada. Hanya penyalurannya harus tepat guna dan sesuai aspirasi anak muda

    “Maka pemerintah harus mendengar bukan lagi mendikte masyarakat,” ujarnya.

  • Hari Kesehatan Mental Sedunia: Gangguan Kesehatan Mental Bukan Kelemahan

    Hari Kesehatan Mental Sedunia: Gangguan Kesehatan Mental Bukan Kelemahan

    7cloud.asia – Setiap tanggal 10 Oktober masyarakat dunia memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia. Tahun ini atau 2024, Hari Kesehatan Mental telah menginjak usianya yang ke-75.

    Tema tahun ini ditetapkan oleh Federasi Kesehatan Mental Dunia adalah kesehatan mental di tempat kerja. Tema ini menyoroti pentingnya menangani kesehatan mental dan kesejahteraan di tempat kerja, demi kepentingan individu, organisasi, dan masyarakat.

    Dikutip dari laman World Mental Health Day (WMNHD), tujuan peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia ini untuk meningkatkan kesadaran dan memobilisasi upaya mendukung masalah kesehatan mental di seluruh dunia.

    Sejarah Hari Kesehatan Mental Sedunia tak lepas dari kesadaran atas pentingnya kesehatan di luar kesehatan fisik pasca-Perang Dunia II silam.

    Kesadaran ini bermula dari pembentukan Federasi Kesehatan Mental Dunia (WFMH) pada 18-21 Agustus 1948, yang diprakasai badan kesehatan dunia, WHO.

    WFMH dibentuk setelah WHO menilai perlu adanya advokasi kesehatan mental setelah Perang Dunia II, seiring peningkatan standar perawatan bagi penderia sakit mental.

    Wakil Sekretaris Jenderal WFMH saat itu, Richard C. Hunter lalu berinisiatif membuat peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia pertama pada 10 Oktober 1992. Baru pada 1994, peringatan ini mulai menggunakan tema.

    Baca: Masih banyak yang mengabaikan kesehatan mental

    Tema awal yang digunakan yakni “Meningkatkan Kualitas Layanan Kesehatan Mental di Seluruh Dunia”. Sejak saat itu, Hari Kesehatan Mental Sedunia secara resmi diperingati di seluruh dunia setiap tahun pada 10 Oktober.

    Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat global tentang kesehatan mental melalui kerja sama dalam mengambil tindakan dan menciptakan perubahan berkelanjutan.

    Hari Kesehatan Mental Sedunia 2024 Tema Hari Kesehatan Mental Sedunia 2024 yakni “It is Time to Prioritize Mental Health in the Workplace (Saatnya Memprioritaskan Kesehatan Mental di Tempat Kerja)”.

    Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan tema yang tak jauh berbeda, yaitu “Mental Health at Work (Kesehatan Mental di Tempat Kerja”.

    Lewat Hari Kesehatan Mental Sedunia, masyarakat diajak memahami bahwa kesehatan mental bukanlah tanda kelemahan, melainkan tanda keberanian untuk meminta bantuan.

    Stres adalah bagian dari hidup. Kelola dengan bijak. Setiap individu memiliki peran penting dalam menciptakan dunia yang lebih peduli terhadap kesehatan mental.

    Selain twibbon, masyarakat juga bisa membagikan ucapan Hari Kesehatan Mental Sedunia 2024 sebagai caption atau keterangan unggahan twibbon di media sosial.

    Berikut sejumlah ucapan Hari Kesehatan Mental Sedunia, sebagaimana dikutip dari Kompas.com:

    Setiap pikiran positif adalah langkah kecil menuju kesehatan jiwa yang lebih baik. Peluklah diri sendiri dengan cinta. Kesehatan mental dimulai dari diri sendiri. Cinta diri adalah langkah pertama menuju kesehatan mental yang baik.

    Baca: Ketahui usia kritis bagi kesehatan mental

    Kita semua berhak untuk merasa baik dan bahagia. Jangan ragu untuk mencari bantuan. Satu langkah kecil untuk berbicara tentang perasaan kita adalah langkah besar menuju penyembuhan.

    Jangan terlalu keras pada diri sendiri; semua orang berjuang. Kesehatan mental adalah fondasi kebahagiaan.

    “Mental health…is not a destination, but a process. It’s about how you drive, not where you’re going.” – Noam Shpancer, PhD.

    “You are not your illness. You have an individual story to tell. You have a name, a history, a personality. Staying yourself is part of the battle.” – Julian Seifter.

    “Happiness can be found even in the darkest of times, if one only remembers to turn on the light.” — Albus Dumbledore.

    “Not until we are lost do we begin to understand ourselves.” – Henry David Thoreau.

    “Health does not always come from medicine. Most of the time. It comes from peace of mind, peace in the heart, peace in the soul. It comes from laughter and love.”

    “Just because no one else can heal or do your inner work for you doesn’t mean you can, should, or need to do it alone.” – Lisa Olivera.

     

  • Hari Kesehatan Mental Sedunia: Pakar Tekankan Pentingnya Kesehatan Mental untuk Fisik yang Sehat

    Hari Kesehatan Mental Sedunia: Pakar Tekankan Pentingnya Kesehatan Mental untuk Fisik yang Sehat

    7cloud.asia – Dalam rangka Hari Kesehatan Mental Sedunia (World Mental Health Day) yang diperingati setiap 10 Oktober, Psikolog klinis, A. Kasandra Putranto menekankan pentingnya kesehatan mental generasi penerus bangsa dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.

    “Menurut riset, kesehatan mental lebih penting daripada kesehatan fisik. Penelitian efek kimiawi pikiran pada tubuh, bahwa kesehatan mental adalah pendorong kesehatan fisik,” kata Kasandra ketika dihubungi ANTARA di Jakarta, Kamis (10/10/2024).

    Psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia (UI) itu menyampaikan, mempersiapkan generasi Indonesia Emas yang sehat mental memerlukan pendekatan komprehensif yang melibatkan banyak pemangku kepentingan.

    Baik orang tua, pendidik, pembuat kebijakan, serta masyarakat luas harus dilibatkan untuk kepentingan ini.

    Adapun beberapa strategi untuk mendukung kesehatan mental dan kesejahteraan dalam menyongsong Indonesia Emas di antaranya pendidikan karakter dengan menanamkan nilai-nilai seperti empati, kesadaran diri, dan pengaturan diri pada anak sejak usia dini.

    Baca: Gangguan kesehatan mental bukan kekurangan

    Menurut dia, hal ini dapat dicapai melalui program pendidikan karakter di sekolah dan di rumah.

    Kemudian, literasi kesehatan mental bagi anak-anak, orang tua, dan pendidik untuk mengenali tanda-tanda masalah kesehatan mental melalui lokakarya, program pelatihan, dan kampanye kesadaran.

    Perlunya lingkungan yang mendukung terciptanya komunikasi terbuka, empati, dan pengertian sehingga meningkatkan hubungan positif antara anak, orang tua, dan pendidik.

    Selanjutnya, akses ke layanan kesehatan mental termasuk konseling, terapi, dan perawatan psikiatris.

    “Hal ini dapat dicapai dengan meningkatkan ketersediaan tenaga profesional kesehatan mental, mengurangi stigma seputar masalah kesehatan mental, dan mempromosikan layanan kesehatan mental yang terjangkau,” ujarnya.

    Baca: Usia kritis untuk kesehatan mental

    Lebih lanjut Kasandra mendorong adanya mekanisme penanganan yang sehat seperti olahraga, perhatian, dan ekspresi kreatif untuk mengelola stres dan emosi.

    Ia mengatakan, pada orang tua, pendidik, dan pemimpin masyarakat juga diharapkan agar menunjukkan kebiasaan kesehatan mental yang baik dengan mempromosikan nilai-nilai positif sehingga dapat dijadikan panutan.

    Tidak hanya itu, perlu adanya keterlibatan masyarakat dalam mempromosikan kesehatan mental dan kesejahteraan melalui acara, kampanye, dan inisiatif yang meningkatkan kesadaran dan memberikan dukungan.

    Dari sisi pemerintah, diharapkan adanya kebijakan dan peraturan yang mendukung seperti menyediakan hari kesehatan mental, mengurangi tekanan akademis, dan mempromosikan keseimbangan kehidupan kerja.

    “Memanfaatkan teknologi dan inovasi untuk menyediakan layanan kesehatan mental yang mudah diakses dan terjangkau, seperti konseling daring dan aplikasi kesehatan mental,” katanya.

    Baca: Jalan kaki bagus untuk kesehatan mental dan fisik

    Kasandra kembali menegaskan pentingnya menjaga kesehatan mental untuk menghindari penyakit.

    Ia mengungkapkan, depresi dapat meningkatkan risiko berbagai jenis masalah kesehatan fisik khususnya kondisi jangka panjang seperti diabetes, penyakit jantung, dan stroke.

    Sebaliknya, memiliki penyakit kronis yang berasal dari kebiasaan kesehatan yang buruk juga dapat menyebabkan depresi.

    Oleh karena itu, pikiran adalah penghubung mental yang perlu dijaga untuk membuat pilihan yang memungkinkan bertahan hidup dan berkembang.

    “Jika pikiran kita menyenangkan, tubuh kita akan mengeluarkan zat kimia seperti oksitosin , serotonin, dan dopamin yang menciptakan rasa rileks dan sejahtera,” pungkasnya.

  • Kenali Gejala dan Cara Mengatasi Kelelahan di Tempat Kerja yang Bisa Pengaruhi Kesehatan Mental

    Kenali Gejala dan Cara Mengatasi Kelelahan di Tempat Kerja yang Bisa Pengaruhi Kesehatan Mental

    7cloud.asia – Beban kerja dan stres berkepanjangan yang didapati di tempat kerja bisa menyebabkan kelelahan fisik maupun emosional sehingga berpengaruh pada kesehatan mental.

    Dilansir Hindustan Times, Minggu (13/10/2024) Konsultan Psikiater, Rumah Sakit Fortis Mumbai, Dr. Kedar Tilwe mengatakan memburuknya kesehatan mental di tempat kerja dapat terjadi dalam berbagai bentuk.

    Tilwe menjelaskan tanda kelelahan adalah kelelahan emosional, kurangnya motivasi, ketidakpedulian terhadap kinerja pekerjaan, perasaan terpisah atau menarik diri, kelelahan, gangguan tidur, dan meningkatnya kecemasan.

    Di sisi medis, Dr Sreystha Beppari, Konsultan Psikolog, Apollo Clinic, Viman Nagar, mengungkapkan stres dan kelelahan akibat pekerjaan tidak hanya terbatas pada dampak mental, melainkan juga memengaruhi kesehatan fisik secara signifikan.

    Stres yang terus-menerus, ujarnya, dapat menimbulkan sakit kepala yang disebabkan oleh ketegangan otot, masalah perut, peningkatan denyut nadi, dan nyeri otot.

    “Namun, seiring waktu, hal itu mengurangi efektivitas pertahanan tubuh yang membuat seseorang rentan terhadap infeksi,” kata Beppari.

    Baca: Beban kerja memicu stres dan keinginan bunuh diri

    Tilwe juga menambahkan, stres dan kelelahan akibat pekerjaan dapat menyebabkan tekanan darah tinggi, peningkatan denyut jantung, dan risiko penyakit jantung yang lebih tinggi.

    Stres di tempat kerja juga dapat menyebabkan gangguan tidur dan kenaikan berat badan.

    “Paparan stres dan kelelahan yang berkepanjangan dapat menyebabkan kondisi kronis seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit terkait gaya hidup lainnya,” kata Tilwe.

    Sementara itu Konselor dan Terapis Keluarga, pendiri Mindwell Counsel, Delhi Archana Singhal, mengatakan hubungan antara stres kerja dan kesehatan mental sangatlah kompleks.

    Lingkungan kerja yang sehat dapat meningkatkan kesehatan mental dan kesejahteraan karyawan, sebaliknya lingkungan yang buruk dapat menurunkan kesehatan.

    Para ahli menyarankan cara menghilangkan stres dengan segera mempraktikkan teknik relaksasi seperti latihan pernapasan dalam dan aktivitas kesadaran penuh seperti latihan panca indra, pernapasan penuh kesadaran, dan makan penuh kesadaran.

    Baca: Cara mengusir stres dengan latihan pernapasan

    Yoga dan meditasi juga dapat membantu terutama jika dilakukan secara teratur. Menggunakan mainan penghilang stres seperti meremas bola smiley juga dapat membantu.

    Membangun hubungan sosial seperti mengobrol dengan keluarga, teman, atau orang kepercayaan membantu merasa ringan dan mengurangi tingkat stres.

    Mengambil jeda untuk istirahat sejenak dan relaksasi dengan gerakan fisik atau berjalan-jalan, juga membantu menenangkan pikiran.

    Jangan lupa juga untuk memberi tambahan energi dengan camilan sehat dan cukup minum air putih sehingga dapat berkonsentrasi dengan baik.

  • Perubahan Perilaku Anak Bisa Jadi Indikasi Adanya Masalah pada Kesehatan Mental

    Perubahan Perilaku Anak Bisa Jadi Indikasi Adanya Masalah pada Kesehatan Mental

    7cloud.asia – Para orang tua diminta untuk mewaspadai perubahan perilaku yang mengindikasikan tanda-tanda timbulnya masalah kesehatan mental pada anak remaja mereka.

    Ketua Satgas Remaja Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr. Rodman Tarigan SpA(K), M.Kes mengatakan apabila remaja tiba-tiba berubah dari seseorang yang ceria menjadi lebih tertutup, menarik diri dari kegiatan sekolah dan pergaulan, bisa jadi mereka sedang alami masalah kesehatan mental

    Gejala lainnya adalah sering mengeluh sakit fisik tanpa sebab yang jelas, hal tersebut bisa dicurigai sebagai perubahan perilaku yang mengindikasikan masalah kesehatan mental pada anak.

    “Jadi kalau ada satu saja yang kita temukan, kita sebagai orang tua perlu menyadari bahwa ada perubahan perilaku dari anak tersebut,” ujar Dr. Rodman dalam seminar media “Mendidik Remaja yang Kuat Secara Mental dan Sosial” yang digelar beberapa waktu lalu.

    Dr. Rodman mengatakan salah satu permasalahan pada anak usia sekolah dan remaja adalah kesehatan mental dan emosional. Dalam data yang dipaparkannya, sebanyak 10 persen anak usia 15 hingga 24 tahun memiliki gangguan mental dan emosional.

    Baca: Gangguan kesehatan mental bukan kelemahan

    Dia mengatakan orang tua dan lingkungan sekitar harus mampu merespons perubahan perilaku pada remaja.

    Anak dengan masalah mental umumnya mengalami stres, depresi, bahkan melakukan tindakan-tindakan negatif seperti tawuran, kekerasan hingga mencuri.

    Menurutnya, jika ada setidaknya satu tanda perubahan perilaku yang mencolok, langkah pertama yang harus dilakukan adalah berkomunikasi dengan remaja tersebut.

    Berikan kesempatan kepada anak untuk berbicara tentang perasaan dan pengalaman yang dialami. Orang tua harus menjadi pendengar yang baik dan memahami permasalahan yang dihadapi remaja tersebut.

    Orang tua juga harus memberikan dukungan yang kuat dan memastikan bahwa sang anak tidak sendirian menghadapi masalahnya. Selain itu, orang tua juga dapat mengenalkan anak pada aktivitas yang produktif dan positif.

    Baca: Banyak orang abaikan kesehatan mental

    Namun, Dr. Rodman tidak memungkiri bahwa pada sejumlah kasus terdapat remaja yang enggan berbicara tentang permasalahan mereka kepada orang tuanya. Hal ini bisa dipicu oleh kurangnya kepercayaan atau faktor lain yang memengaruhi hubungan.

    Jika hal tersebut terjadi, proses identifikasi akar permasalahan bisa menjadi lebih sulit dan membutuhkan kesabaran.

    Apabila orang tua merasa bahwa mereka tidak mampu menangani permasalahan sang anak, mencari bantuan dari ahli bisa menjadi pilihan.

    Dr. Rodman mengatakan bahwa layanan konseling bisa dimanfaatkan untuk menangani remaja dengan masalah mental.

    Pemerintah telah menyediakan layanan konseling melalui program Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) di puskesmas, yang dirancang untuk memberikan dukungan psikologis kepada remaja.

    “Itu sudah ada di semua puskesmas dan itu di-cover oleh BPJS. Apabila tidak bisa diatasi di puskesmas, itu akan dirujuk ke rumah sakit PPK (pemberi pelayanan kesehatan) 2, di situ ada dokter anak, mungkin juga layanan psikolog atau layanan dari psikiater,” katanya.

  • Aktivitas Fisik Punya Peran Besar Bagi Kesehatan Mental Anak

    Aktivitas Fisik Punya Peran Besar Bagi Kesehatan Mental Anak

    7cloud.asia – Aktivitas fisik tidak hanya penting bagi orang dewasa, tetapi juga untuk anak-anak. Aktivitas fisik secara rutin berperan besar dalam menjaga kesehatan fisik dan kesehatan mental anak.

    Sebuah studi yang dipublikasikan di “Journal of Autism and Developmental Disorders” mengungkap masalah serius, yakni anak-anak yang kurang aktif dalam aktivitas fisik cenderung lebih mudah mengalami kecemasan dan depresi.

    Dikutip dari The Hindustan Times, Kamis (23/1/2025) tren ini sangat terlihat pada anak-anak dengan gangguan spektrum autisme (ASD) dan attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD).

    Anak-anak yang lebih aktif dalam aktivitas fisik menunjukkan tingkat kecemasan dan depresi yang lebih rendah, baik mereka memiliki gangguan perkembangan atau tidak.

    Di antara anak-anak dengan autisme, 69 persen dari mereka yang sepenuhnya tidak aktif dalam aktivitas fisik menunjukkan tingkat kecemasan tinggi.

    Baca: Penyintas ADHD berpotensi berperilaku berisiko

    Sedangkan anak-anak dengan autisme yang berolahraga setidaknya satu hari per minggu hanya 55 persen yang menunjukkan kecemasan.

    Selain itu, 39 persen anak autisme yang tidak aktif secara fisik mengalami depresi, dibandingkan dengan 29 persen anak yang aktif 1–3 hari per minggu, dan 23 persen dari mereka yang aktif 4–7 hari per minggu.

    Tren serupa juga ditemukan pada anak-anak dengan ADHD. Tingkat depresi mengikuti pola yang sama.

    Sebanyak 42 persen anak ADHD yang tidak aktif melaporkan kecemasan, dibandingkan dengan 40 persen anak yang aktif 1–3 hari per minggu, dan 32 persen dari mereka yang aktif 4–7 hari per minggu.

    Anak-anak yang tidak memiliki gangguan perkembangan juga merasakan manfaat yang signifikan dari aktivitas fisik.

    Baca: Peran gagal dalam perkembangan mental anak

    Tingkat kecemasan menurun dari 16 persen di antara anak yang tidak aktif menjadi 7 persen pada mereka yang aktif 4–7 hari per minggu.

    Hasil ini menunjukkan bahwa bahkan aktivitas fisik minimal dapat memberikan manfaat besar bagi kesehatan mental, terlepas dari kondisi perkembangan seorang anak.

    Langkah kecil menuju aktivitas fisik secara rutin dapat membawa dampak besar bagi kesehatan mental anak-anak.

    Gangguan perkembangan, seperti autisme (ASD) dan ADHD, memengaruhi kemampuan fisik, pembelajaran, bahasa, atau perilaku anak.

    ASD memengaruhi cara anak berinteraksi, berkomunikasi, belajar, dan berperilaku, sementara ADHD menyebabkan anak menjadi gelisah dan kesulitan berkonsentrasi.

    Gangguan ini berdampak besar pada banyak anak di seluruh dunia dan memengaruhi cara mereka belajar dan berinteraksi dengan orang lain.