Tag: Pemilu 2024

  • Cara Berbeda PDIP dan PSI Memandang Pemilih Muda di Pemilu 2024

    Cara Berbeda PDIP dan PSI Memandang Pemilih Muda di Pemilu 2024

    7cloud.asia – Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menetapkan jumlah daftar pemilih tetap dalam Pemilu 2024 adalah sekitar 204 juta pemilih.

    Dari angka tersebut, sebanyak 52% pemilih di Pemilu 2024 atau 107 juta adalah pemilih muda, dengan rentang usia 17-39 tahun.

    Jika dikategorikan lebih rinci, dari jumlah pemilih di Pemilu 2024 tersebut adalah sebagai berikut:

    kelompok generasi baby boomer (lahir tahun 1946-1964) adalah sebesar 13,73%, generasi milenial sebanyak 23,60% (lahir tahun 1980-1995), dan generasi Z (lahir tahun 1997-2000) sebanyak 22,85%.

    Jumlahnya yang tinggi membuat pemilih generasi milenial dan Z menjadi salah satu aspek signifikan dan akan sangat berpengaruh terhadap penentuan hasil Pemilu 2024. 

    Baca: Jumlah pemilih di Pemilu 2024 ada 204 jutaan

    Ini membuat ceruk milenial menjadi bidikan partai politik (parpol) untuk mengeruk suara elektoral di Pemilu 2024 yang akan digelar pada Februari 2024 mendatang.

    Tentu saja, seperti yang sudah diyakini secara luas, kedua generasi ini adalah kelompok yang paling banyak menggunakan saluran komunikasi modern yang berbasiskan jaringan internet, termasuk media sosial.

    Laporan “Profil Internet Indonesia 2022” oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) yang dipublikasikan pada Juni 2022 menemukan bahwa tingkat penetrasi pengguna internet oleh kelompok usia 13-18 tahun adalah 99,16%, pada kelompok usia 19-34 tahun sebesar 98,64% dan pada kelompok usia 35-54 tahun adalah sebesar 87,30%.

    Untuk dapat menggaet suara generasi milenial dan Z di Pemilu 2024, parpol perlu mempersiapkan diri dan memahami pola, karakter dan jenis konsumsi media komunikasi mereka.

    Baca: Menebak arah pilihan pemilih muda di Pemilu 2024

    Saya melakukan riset tentang pandangan parpol terhadap media sosial dalam menjangkau pemilih muda dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) sebagai objek penelitian utama.

    PDI-P dipilih karena merupakan parpol pemenang Pemilu 2019 dan menjadi partai tertua kedua di Indonesia.

    PDI-P juga salah satu partai yang mampu tetap eksis dan dapat mempertahankan akar rumputnya selama melewati fase pergantian rezim serta perubahan perkembangan teknologi informasi yang memberikan pengaruh besar pada perilaku komunikasi politik publik.

    Sementara, PSI dipilih karena merupakan parpol baru di Pemilu 2019 dan berada pada urutan enam terbawah dalam hasil Pemilu.

    PSI juga disebut-sebut sebagai partai anak muda karena 60% dari total calegnya berusia di bawah 45 tahun.

    Baca: Pemilih muda diajak gunakan hak pilihnya di Pemilu 2024

    Hasil studi saya menemukan bahwa PDI-P cenderung hanya melihat media sosial sebagai sarana branding partai – hanya terjadi komunikasi satu arah.

    Sedangkan PSI menganggap media sosial tidak hanya sebagai media untuk branding dan mengenalkan program partai tetapi juga wadah untuk berdialog dengan publik, sehingga terjadi komunikasi dua arah.

    Pandangan yang berbeda antara dua parpol ini dalam memanfaatkan media sosial untuk komunikasi politik kurang lebih akan memengaruhi bentuk pesan politik yang mereka sampaikan pada publik.

    Dan yang pasti, cara pandang mereka terhadap media sosial pun mencerminkan cara pandangan mereka terhadap pemilih milenial dan generasi Z.

    Baca: Saatnya memilih pemimpin yang peduli lingkungan di Pemilu 2024

    Jelang Pemilu 2024, Saya menemukan cara pandang terhadap media sosial di mata PDI-P dan PSI juga berbeda.

    Dengan menggunakan metode kualitatif dan teknik pengumpulan data melalui wawancara dan studi kepustakaan, saya menemukan bahwa aktivitas komunikasi politik PDI-P dan PSI di media sosial akan terlihat sama secara sepintas.

    Keduanya sama-sama memanfaatkan kemudahan, efisiensi biaya dan kemampuan untuk menjangkau luas untuk mendistribusikan iklan politik mereka. Ini mereka lakukan guna memperkenalkan dan sekaligus membangun citra partai yang positif.

    Namun, jika ditelaah lebih lanjut, bentuk iklan politik yang mereka tampilkan masing-masing menunjukkan arah yang berbeda.

    Baca: Warga diajak cegah kemungkinan obral izin lahan jelang Pemilu 2024

    PDI-P, misalnya, memosisikan media sosial seperti halnya media lama (media massa non elektronik), selayaknya sifat iklan adalah bentuk komunikasi persuasif, yakni tidak memiliki ruang dialog di dalamnya.

    Model komunikasi politik satu arah inilah yang masih diterapkan oleh PDI-P melalui jaringan media sosialnya.

    Berdasarkan hasil wawancara saya dengan sejumlah narasumber yang merupakan pengurus partai dan organisasi sayap partai, hingga saat ini PDI-P masih meyakini bahwa komunikasi politik secara interpersonal dan interaksi secara langsung dengan konstituen masih lebih efektif, termasuk dengan konstituen yang merupakan anak muda.

    Jadi, alih-alih membangun ruang dialog di media sosial, PDI-P masih lebih bergantung pada organisasi-organisasi sayap partai, baik pusat maupun daerah, untuk berinteraksi langsung dengan pemilih muda.

    Baca: KPU setuju buka 2 TPS khusus di IKN

    Ini berbeda dengan strategi PSI. Partai yang lahir tahun 2014 ini memandang bahwa media sosial dapat menjadi wadah untuk membangun komunikasi dua arah antara partai dengan masyarakat di dunia maya.

    Bagi PSI, dialog adalah bagian dari edukasi politik bagi masyarakat, khususnya kelompok muda, agar mereka mampu memahami pentingnya partisipasi dalam dunia politik.

    PSI juga bermaksud memperlihatkan pada generasi muda bahwa politik bukanlah sebuah proses yang asing dan harus dijauhi dari keseharian mereka.

    Partai ini percaya bahwa melakukan dialog yang intensif dengan kelompok muda lewat media sosial dapat membantu membangun citra positif partai.

    Selain itu, PSI juga gencar mengemas pesan yang berisi program dan gagasan partai dengan bahasa yang lebih ringan dan mudah dipahami oleh generasi milenial dan Z.

    Baca: MK putuskan Pemilu 2024 gunakan sistem proporsional terbuka

    PSI menghindari retorika yang berlebihan dalam menyusun narasi pesan di media sosial, serta menggunakan gambar dan video untuk menarik perhatian anak muda.

    Dalam kaitannya dengan politik, media sosial dan komunikasi lain yang berbasiskan internet telah menawarkan kemudahan dialog tanpa batas. Parpol seharusnya bisa memaksimalkan fungsi ini.

    Basis massa yang kuat dan rekam jejak yang panjang jelas membuat PDI-P mampu meraup banyak suara, setidaknya dalam Pemilu terakhir.

    Namun, PDI-P – serta parpol-parpol lainnya – juga perlu belajar mengenai kebutuhan dan gaya komunikasi yang dimiliki oleh pemilih muda.

    Parpol harus meninggalkan pemahaman yang menyamakan fungsi media sosial dengan media mainstream. Jika paradigma tersebut terus dipelihara, maka budaya politik yang tidak sehat akan terus berlangsung.

    Baca: Polri endus adanya aliran dana jaringan narkoba untuk biaya kampanye

    Masyarakat tidak akan dapat memainkan perannya sebagai kontrol terhadap wakil rakyat yang telah mereka pilih.

    Jika ini terus terjadi, menurut narasumber yang merupakan pengurus DPP PSI, konsekuensinya adalah munculnya sikap apatis dari generasi milenial dan Z terhadap politik pada kehadiran parpol.

    Hal ini karena mereka menganggap parpol hanya membutuhkan mereka ketika mendekati pemilihan saja.

    Selain itu, parpol juga harus memandang pemilih muda sebagai kelompok komunikan yang aktif dan kritis, sehingga sangat penting untuk membicarakan isu yang menyentuh langsung kebutuhan hidup mereka.

    Dengan terus melajunya perkembangan digital, sudah saatnya komunikasi politik lebih mengarah kepada dialog dua arah, bukan lagi satu arah dan hanya sebatas retorika.

    Penulis: , Peneliti Pusat Riset Politik, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

  • Ratusan Nama Gagal Masuk DCS di Pemilu 2024, Masukan Masyakarat Ditunggu Hingga 28 Agustus

    Ratusan Nama Gagal Masuk DCS di Pemilu 2024, Masukan Masyakarat Ditunggu Hingga 28 Agustus

    7cloud.asia – Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada Jumat (18/8/2023) menetapkan 9.919 bakal calon legislatif (bacaleg) DPR RI untuk Pemilu 2024 memenuhi syarat dalam Daftar Calon Sementara (DCS).

    Pengumuman DCS ini disampaikan melalui konferensi pers yang dipimpin Ketua KPU Hasyim Asy’ari, Anggota KPU Idham Holik, August Mellaz, Mochammad Afifuddin, Parsadaan Harahap, Yulianto Sudrajat.

    “KPU Pusat pada hari ini, menetapkan Daftar Calon Sementara (DCS) untuk Anggota DPR RI dan juga untuk Anggota DPD dari 38 daerah pemilihan provinsi,” ujar Hasyim seperti dilansir di laman resmi KPU.

    Baca: Kampanye simpatik Ganjar Pranowo tuai apresiasi

    Selanjutnya, KPU akan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memberikan masukan terkait nama-nama yang masuk dalam DCS Pemilu 2024 hingga 28 Agustus 2023 mendatang.

    Untuk DPR RI yang berasal dari 84 daerah pemilihan, sejak Sabtu 19-23 Agustus KPU akan mengumumkan kepada masyarakat secara luas kepada publik soal DCS tersebut.

    Pengumunan akan dilakukan melalui media yang ditentukan oleh KPU dan juga melalui laman-laman yang dimiliki oleh KPU dan juga media sosial KPU.

     

    Baca: Sejumlah kader PSI mundur demi dukung Ganjar Pranowo

    “Siapapun warga negara Indonesia yang berkepentingan, untuk membaca melihat mencermati siapa nama-nama bakal calon yang masuk dalam Daftar Calon Sementara,” imbuh Hasyim. 

    Hal yang sama juga dilakukan KPU provinsi dan KPU kab/kota yang juga menetapkan bacaleg DPRD provinsi dan DPRD kab/kotanya di 18 Agustus 2023 dan dilanjutkan dengan mengumumkan hingga 23 Agustus 2023.

    Sebanyak 9.919 DCS ini dipilih dari pengajuan oleh 18 partai politik pada 1-14 Mei 2023, dengan jumlah bacaleg yang diajukan sebanyak 10.323 orang.

    Baca: Jokowi tugaskan tujuh nama untuk menangkan Ganjar Pranowo

    Selanjutnya pada masa perbaikan, jumlahnya kemudian berkurang 127 baceleg sehingga jumlahnya menjadi 10.196 orang.

    Jumlahnya kemudian kembali berkurang 11 orang pada masa pencermatan rancangan DCS 6-11 Agustus 2023, menjadi 10.185 orang.

    “Dari 10.185 orang ini, yang memenuhi syarat hanya 9.919 orang bacaleg, yang nanti kami akan umumkan pada tanggal 19 sampai dengan tanggal 23 Agustus 2023,” ungkap Idham.

    Baca: Golkar, PAN dan PKB resmi dukung Prabowo Soebianto

    Idham menyampaikan, dari 9.919 jumlah bacaleg yang memenuhi syarat di DCS, 37,11 persennya adalah perempuan. Dari total tersebut ada 6.245 bacaleg DPR laki-laki (62,89%) dan 3.674 jumlah bacaleg DPR perempuan.

    Pada pertemuan ini, Idham juga menyampaikan daftar bakal calon untuk DPD sebanyak 674 orang, dengan jumlah bakal calon DPD terbanyak 54 orang di Provinsi Jawa Barat, dan paling sedikit Provinsi Sulawesi Utara sebanyak 8 orang.

    “Dari total 674 orang itu terdapat 134 bakal calon DPD perempuan (19,9 persen), laki-lakinya 540 orang (80,1 persen),” tutup Idham.

    Baca: Rocky Gerung hadapi 13 pengaduan ke polisi

  • ICW Temukan 15 Mantan Terpidana Korupsi Masuk Dalam DCS Pemilu 2024

    ICW Temukan 15 Mantan Terpidana Korupsi Masuk Dalam DCS Pemilu 2024

    7cloud.asia – Indonesian Corruption Watch (ICW) menemukan setidaknya 15 mantan terpidana korupsi masuk dalam Daftar Calon Sementara atau DCS Pemilu 2024 yang diumumkan KPU pada 19 Agustus 2023 lalu.

    Para mantan terpidana korupsi itu mencalonkan diri untuk Pemilu 2024, baik di tingkat Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) maupun Dewan Perwakilan Daerah (DPD).

    Nama-nama mantan terpidana korupsi yang akan berlaga diemilu 2024 ini berasal dari berbagai partai politik. 

    Peneliti ICW, Kurnia Ramadhana mengatakan, fakta ini membuktikan bahwa partai politik masih memberi karpet merah kepada mantan terpidana korupsi di Pemilu 2024.

    Baca: Masukan masyarakat soal DCS Pemilu 2024 ditunggu hingga 28 Agustus 2023

    Ia menyayangkan sikap KPU yang terkesan menutupi karena tidak kunjung mengumumkan status hukum mereka.

    Kurnia mengatakan, tak adanya pengumuman status terpidana korupsi dalam DCS tentu akan menyulitkan masyarakat untuk memberikan masukan terhadap DCS secara maksimal.

    Terlebih, informasi mengenai daftar riwayat hidup para bakal caleg juga tidak disampaikan dalam laman KPU.

    “Jika akhirnya nanti, para mantan terpidana korupsi tersebut lolos dan ditetapkan dalam Daftar Calon Tetap (DCT) tentu probabilitas masyarakat memilih calon yang bersih dan berintegritas akan semakin kecil,” kata Kurnia seperti dikutip VOA Indonesia. 

    Baca: MK putuskan Pemilu 2024 gunakan sistem proporsional terbuka

    Menurut Kurnia, kondisi saat ini berbeda dengan yang terjadi di Pemilu 2019. KPU saat itu, tambahnya, justru sangat progresif karena mengumumkan daftar nama caleg yang berstatus sebagai mantan terpidana korupsi.

    Artinya, langkah penyelenggara pemilu saat ini merupakan suatu kemunduran dan tidak memiliki komitmen antikorupsi.

    KPU juga dinilai tidak menunjukkan itikad baik untuk menegakkan prinsip pelaksanaan pemilu yang terbuka dan akuntabel.

    Untuk itu, tegas Kurnia, lembaganya mendesak KPU untuk segera mengumumkan nama bacaleg baik tingkat DPRD kota/kabupaten, provinsi, DPR RI dan DPD RI yang berstatus sebagai mantan koruptor.

    Baca: Polarisasi diperkirakan masih akan warnai Pemilu 2024

    Keterbukaan informasi soal nama bacaleg yang berstatus koruptor juga diinginkan oleh masyarakat yang ditemui VOA Indonesia.

    Nadia, salah satunya. Mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Jakarta ini mengatakan informasi soal riwayat hidup bakal calon legislatif sangat penting bagi masyarakat dalam memilih orang yang akan menjadi wakilnya di parlemen.

    “Kita kan tidak mau mempunyai wakil rakyat yang justru pernah memakan uang rakyat,” ujar perempuan berusia 23 tahun itu.

    Hal yang sama juga diungkapkan Mardiono. Warga Bekasi berusia 55 tahun itu berharap KPU segera memberikan informasi yang jelas soal nama caleg yang berstatus mantan koruptor.

    Baca: Polri endus adanya aliran dana jaringan narkotika untuk biaya kampanye

    “Saya berharap KPU mau memberikan informasi yang jelas soal ini, jangan ditutup- tutupi,” ujar Mardiono.

    Anggota KPU, Idham Holik menyatakan mengenai riwayat hidup baru akan dibuka saat penetapan daftar calon tetap pada November mendatang.

    Menurut Idham, KPU akan meminta izin kepada bakal caleg melalui partai politik untuk mengumumkan daftar riwayat hidup mereka kepada masyarakat.

    Dalam hal ini, KPU memandang daftar riwayat hidup merupakan informasi yang dikecualikan sesuai Pasal 17 huruf h Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik.

    Baca: Penjelasan Jokowi soal keterlibatannya di Pemilu 2024

    Untuk mengumumkan profil caleg, KPU harus mengantongi izin lebih dulu dari partai politik, katanya.

    “Selanjutnya nanti pada tanggal 4 November 2023, pada saat kami mengumumkan DCT, kami akan meminta kepada calon anggota DPR maupun caleg pada umumnya se Indonesia untuk mempublikasikan daftar riwayat hidup mereka seizing caleg yang bersangkutan,” jelas Idham.

    Lebih lanjut, Idham menjelaskan, pada pemilu 2019 hanya ada 49,5 persen caleg DPR yang mau mengumumkan daftar riwayat hidup.

    Pada pemilu 2024 mendatang tambahnya diharapkan dapat meningkat bakal caleg yang ingin membuka riwayat hidup.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Ganjar Pranowo: Jangan Korbankan Persatuan Demi Kemenangan

    Ganjar Pranowo: Jangan Korbankan Persatuan Demi Kemenangan

     

    7cloud.asia – Bakal calon presiden yang diusung PDI Perjuangan (PDIP), Ganjar Pranowo menegaskan demokrasi adalah satu-satunya cara untuk mewujudkan cita-cita pendiri pendiri bangsa  yakni mewujudkan bangsa Indonesia yang sejahtera, damai, adil berdaulat dan dihormati dunia.

    Dan, demokrasi itu diwujudkan melalui kontestasi di pemilu. Karena itu, menurut Ganjar Pranowo, dalam setiap upaya berdemokrasi itu harus dilakukan untuk melihat apa sejatinya cita-cita yang dirumuskan pendiri bangsa dalam bernegara.

    Ganjar Pranowo mengajak semua pihak yang berkontestasi di Pemilu 2024 memperhatikan cita-cita para pendiri bangsa tersebut. 

    “Kita harus mengadu gagasan bukan perseteruan, bubuhkan persatuan bukan perpecahan, merawat kerukunan bukan kebencian,” ujar Ganjar Pranowo dalam video bertajuk ManifestoGanjar#1 yang diunggah di akun Youtubenya pada Selasa (12/9/2023).

    Baca: Falsafah kepemimpinan Ganjar dalam pagelaran wayang Wahyu Makutharama

    Ganjar Pranowo menegaskan, apa yang diperjuangkan di Pemilu 2024 bukan tentang bangsa lain. Tetapi untuk masa depan bangsa Indonesia dan juga nasib 280 juta jiwa rakyat Indonesia.

    Karena itu Ganjar Pranowo mengajak semua yang berkontestasi di Pemilu 2024 untuk tidak mengorbankan kerukunan, kedamaian dan kesatuan bangsa hanya untuk meraih kemenangan.

    “Jangan pernah!” tegas Ganjar Pranowo yang baru saja mengakhiri masa jabatannya sebagai Gubernur Jawa Tengah itu.

    Ia mengajak semua pihak bersaing secara sehat. Meski berkompetisi, ia mengajak untuk tetap saling bergandengan tangan untuk Indonesia tercinta.

    Baca: Deklarasi pasangan Anies-Muhaimin Iskandar

    Dalam video berdurasi 7 menit itu, Ganjar Pranowo juga menjelaskan bagaimana pengalaman masa lalunya sangat menentukan caranya dalam menjalani hidup termasuk dalam berpolitik.

    Ganjar menceritakan, ia dilahirkan di keluarga yang sangat sederhana. Tapi kesederhanaan dan kesulitan masa lalu itu justru menempa dirinya menjadi siapa dia saat ini.

     Ganjar belum lupa, bagaimana ibundanya sering harus utang di warung mbak Yarni agar dapurnya tetap mengebul. Keluarganya juga pernah diusir dari rumah kontrakan. Bahkan kuliah Ganjar hampir putus karena ketiadaan biaya.

    Ganjar bersyukur dengan apa yang dialami, sehingga ia bisa memahami dan mengerti bagimana menjadi rakyat biasa.

    Baca: Golkar dan PAN resmi dukung Prabowo Subianto

    Dari pengalaman ini, Ganjar bertekad, jika dia diberi amanah memimpin akan berusaha sekuat mungkin agar tidak ada rakyat yang  merasakan kesulitan tanpa ada yang peduli.

    “Jangan pernah ada. Mimpi saya semua rakyat Indonesia sejahtera dan memiliki masa depan yang jauh lebih baik,” ujarnya.  

    Ganjar menegaskan dari keluarganya yang sederhana ia mewarisi nilai kehidupan yang diterapkannya dalam perjalanan hidupnya termasuk saat terjuan ke panggung politik.

    “Ini jauh berharga ketimbang harta,” tegas Ganjar Pranowo.

    Baca: MK putuskan Pemilu 2024 gunakan sistem proporsional terbuka

    Dari sang ayah, Ganjar belajar tentang keberanian, ketaatan, kerja keras dan setia pada tujuan. Sedangkan dari ibu, Ganjar belajar kasih saying, ketulusan, kepedulian dan penghargaan kepada sesame serta ketulusan menjalani kehidupan.

    Ayahnya yang seorang pensiunan polisi dan ibunya yang ibu rumah tangga biasa, selalu mengajarinya untuk tidak pernah menyerah.

    “Kita orang kecil tapi harus mimpi besar. Bapak mengajari untuk tidak pernah menyerah,” ujar Ganjar Pranowo menirukan pesan ibundanya.

    Dalam kesempatan itu, Ganjar juga menekankan pentingnya memuliakan dan melibatkan perempuan dalam membangun negeri ini.

    “Kasih sayang dan ketulusan mereka penting untuk membesarkan anak Indonesia yang punya peran sangat penting bagi masa depan bangsa,” ujarnya. 

  • Jumlah Pemilih Disabilitas Capai 1,1 Juta, KPU Diminta Siapkan Pemilu 2024 yang Ramah Disabilitas

    Jumlah Pemilih Disabilitas Capai 1,1 Juta, KPU Diminta Siapkan Pemilu 2024 yang Ramah Disabilitas

    7cloud.asia – Komisi Pemilihan Umum (KPU) diminta menciptakan Pemilu 2024 yang ramah bagi pemilih dari kelompok disabilitas yang jumlahnya sebanyak 1,1 juta orang.

    Inklusifitas dan aksesibilitas untuk disabilitas menjadi isu yang harus disiapkan secara serius oleh KPU di gelaran Pemilu 2024 pada Februari tahun depan.

    “Jangan sampai hak pilih kaum disabilitas ini tidak terfasilitasi dengan baik yang ujungnya membuat tingkat partisipasinya rendah di Pemilu 2024,” kata Deputi V Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Jaleswari Pramodhawardani dalam keterangan tertulis di Jakarta.

    Baca: KND menilai belum ada kebijakan afirmatif bagi penyandang disabilitas di Pemilu 2024

    Jaleswari mengatakan persoalan fasilitasi hak pilih dari kelompok-kelompok disabilitas menjadi salah satu isu yang dibahas dalam Rakor Kesiapan Pemilu 2024, di Surabaya, pada 12-13 September 2023.

    Pembahasan dilakukan atas fakta yang diungkapkan Komisi Nasional Disabilitas, di mana penyandang disabilitas masih menghadapi beberapa hambatan dalam menyalurkan hak pilihnya.

    Hamabtan itu, seperti soal pendataan, tantangan kondisi geografis, dan kesadaran masyarakat.

    Baca: Akankah polarisasi warnai Pemilu 2024

    Menjawab tantangan tersebut, tegas Jaleswari, Kantor Staf Presiden mendorong Komisi Pemilihan Umum (KPU) segera melakukan upaya untuk memfasilitasi kebutuhan penyandang disabilitas dalam Pemilu 2024.

    “Misalnya, terkait penyediaan template surat suara dengan huruf braille di TPS, lokasi TPS yang harus dapat diakses oleh kursi roda, dan kesiapan petugas di TPS. Pemilu 2024 harus ramah disabilitas,” ujarnya.

    Selain persoalan fasilitasi hak pilih dari kelompok disabilitas, tutur Jaleswari, Rakor Kesiapan Pemilu 2024 juga membahas dua isu lain yang tak kalah pentingnya, yakni penguatan pencegahan politik uang dan penanganan ujaran kebencian.

    Baca: Mengapa Jokowi cawe-cawe dalam pelaksanaan Pemilu 2024

    Menurutnya, isu-isu terkait penyelenggaraan Pemilu 2024 harus ditangani dengan cepat, mengingat kerangka waktunya semakin ketat.

    Kantor Staf Presiden sendiri, tambah Jaleswari, akan segera melakukan debottlenecking dan langkah-langkah koordinatif lanjutan bersama stakeholder terutama pada kelompok-kelompok pemilih.

    “Isu-isu yang masih ada ini harus ditangani dengan cepat dan dapat terselesaikan secara tuntas sehingga pemilu dapat berjalan luber, jurdil, dan demokratis sesuai cita-cita kita bersama,” kata Jaleswari.

    Baca: Ganjar Pranowo dapat surat cinta dari penyandang disabilitas

    Sebagai informasi, Rapat Koordinasi Kesiapan Pemilu 2024 dihadiri perwakilan KPK, Bawaslu, Bappenas, perguruan tinggi, dan DPP partai politik se-Jawa Timur.

  • Ketua Bawaslu Ajak Pemilih Kaji Rekam Jejak Capres dan Caleg yang Berlaga di Pemilu 2024

    Ketua Bawaslu Ajak Pemilih Kaji Rekam Jejak Capres dan Caleg yang Berlaga di Pemilu 2024

    7cloud.asia – Pemilihan Umum atau Pemilu 2024 beberapa bulan lagi digelar. Beberapa bakal calon presiden (capres) maupun bakal calon anggota  legislatif (caleg) mulai melakukan sosialisi.

    Para pemilih perlu mempelajari rekam jejak capres dan caleg yang akan dipilih pada Pemilu 2024 nanti.

    Hal ini diungkapkan oleh Ketua Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu), Rahmat Bagja. Menurutnya para pemilih perlu mencari tahu profil gan rekam jejak para caleg dan capres yang akan dipilih di Pemilu 2024.

    Rahmat juga meminta para pemilih mempelajari visi dan misi serta program-program kerja para caleg dan capres yang akan berkontestasi di Pemilu 2024.

    “Lihat dapilnya (daerah pemilihan) mana, siapa dia, rekam jejak seperti apa. Pegang janjinya, lihat visi, program, misi sehingga jangan beli kucing dalam karung,” jelas Bagja seperti yang dikutip Antaranews.

    Baca: Jumlah pmeilih disabilitas capai 1,1 juta orang

    Selain mencari tahu profil caleg dan capres, pemilih juga jangan sampai terjebak dalam politik uang, yaitu memilih calon tertentu karena ada imbalan uang.

    ” Semua warga memilih dengan tanpa tekanan, jadi jangan tergiur dengan politik uang. Kenali siapa calonmu, capres-cawapres, caleg dapil mana,” ujarnya.

    Selain itu Bagja mengajak para pemilih termasuk pemilih muda dari kalangan milenial dan Generasi Z (Gen Z) untuk mengecek nama-nama mereka di laman resmi KPU.

    Hal ini untuk memastikan kembali nama-namanya di dalam daftar pemilih tetap (DPT) yang tersedia di laman dpt.kpu.go.id.

    Baca: Riset ungkap polarisasi masih mungkin warnai Pemilu 2024

    Cara pengecekan cukup mudah karena para pemilih tinggal memasukkan data nomor induk kependudukan (NIK).

    Pemungutan suara Pemilu 2024 akan dilakukan serentak pada 14 Februari 2024 dengan memilih Capres/cawapres, anggota DPD dan anggora DPR, DPRD ! dan DPRD II.

    Sementara itu, pendaftaran bakal capres dan cawapres  dijadwalkan pada 19 Oktober 2023 sampai dengan 25 November 2023.

    Berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu (UU Pemilu) pasangan calon presiden dan wakil presiden diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik peserta pemilu yang memenuhi persyaratan perolehan kursi paling sedikit 20 persen dari jumlah kursi DPR.

    Baca: Cara beda PDIP dan PSI memandang pemilih muda

    Pasangan capres dan cawapres juga bisa diajukan partai dan gabungan partai yang memperoleh 25 persen dari suara sah secara nasional pada pemilu anggota DPR sebelumnya.

    Saat ini ada 575 kursi di parlemen sehingga pasangan calon presiden dan wakil presiden pada Pilpres 2024 harus memiliki dukungan minimal 115 kursi di DPR RI.

    Bisa juga pasangan calon diusung oleh parpol atau gabungan parpol peserta Pemilu 2019 dengan total perolehan suara sah minimal 34.992.703 suara.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Tiga Kandidat Capres Pemilu 2024 Adu Gagasan

    Tiga Kandidat Capres Pemilu 2024 Adu Gagasan

    7cloud.asia – Tiga kandidat calon presiden (capres) di Pemilu 2024 memaparkan gagasan mereka di acara Mata Najwa “3 Bacapres Bicara Gagasan” yang dilangsungkan di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Selasa (19/9/2023) sore hingga malam hari.

    Kandidat capres dari KPP Anies Baswedan mendapatkan kesempatan pertama. Dia memaparkan gagasannya untuk memwujudkan keadilan dan kesetaraan. Ia juga menekankan akses yang setara untuk kebutuhan dasar.

    Ia juga menekankan pentingnya pendidikan murah, penciptaan lapangan kerja yang adil.

    Di kesempatan kedua, kandidat capres dari PDIP Ganjar Pranowo memaparkan tiga pondasi utama yakni pelipatgandaan pendapatan negara, pemberantasan korupsi dengan digitalisasi pemerintahan. 

    Baca: Adu gagasan kandidat Capres

    Ganjar memaparkan visinya untuk meletakkan dasar untuk mengantarkan menuju Indonesia Emas 2045. 

    Ganjar juga menegaskan komitmennya untuk memberantas korupsi di Indonesia dengan memperkuat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk dapat mencegah praktik penyimpangan tersebut.

     

    Ganjar juga mengatakan dibutuhkan revisi regulasi terkait KPK. Dengan revisi regulasi tersebut, Ganjar berharap KPK menjadi lembaga yang semakin kuat di dalam memberantas praktik korupsi di Indonesia.

    “Harus saya jawab ketiga kalinya, satu dikuatkan, dua revisi regulasi,” ungkap Ganjar menjawab pertanyaan Najwa Shihab

    Baca: Tiga pondasi dasar yang ingin dibangun Ganjar Pranowo

    Menurut Gubernur Jawa Tengah dua periode keinginan memperkuat lembaga KPK adalah sebuah sikap dirinya sebagai calon presiden (Capres). Ia sengaja menekankan hal tersebut agar publik mengetahui sikapnya terhadap KPK.

    “Biar semua publik audiens tau sikap saya sebagai Capres. Agar tetap diperkuat,” tandasnya. 

    Sementara Prabowo Subianto kandidat capres yang diusung Koalisi Indonesia Maju yang mendapatkan kesempatan terakhir dan memaparkan misinya untuk transformasi Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.

    Untuk lompatan ini Indonesia harus lepas dari jeratan negara menengah dengan pertumbuhan ekonomi 6-7 persen setahun.

    Baca: Ibukota pindah ke IKN, KTP warga Jakarta harus diubah

    Ada 17 program prioritas untuk mencapai tujuan tersebut, salah satunya adalah swasembada pangan, mengentaskan kemiskinan, pemberantasan korupsi, pelayanan kesehatan, perkuat pertahanan negara. 

    Prabowo juga menjelaskan tekadnya untuk melanjutkan hiliriisasi dan industrialisasi. 

    “Dengan hilirisasi meningkatkan nilai tambah komoditas nasional, meski Indonesia harus mendapatkan tantangan itu,” ujarnya. 

    Dalam kesempatan ini, Prabowo juga mengungkapkan keinginannya untuk meneruskan sejumlah program yang telah dijalankan Presiden Joko Widodo atau Jokowi.

  • Kaum Muda di Pemilu 2024, Yang Mewarisi Previlese dan Yang Harus Berjuang Sendiri

    Kaum Muda di Pemilu 2024, Yang Mewarisi Previlese dan Yang Harus Berjuang Sendiri

    7cloud.asia – Pada Pemilu 2024, lebih dari 50 persen pemilih, atau sekitar 114 juta dari total 204,8 juta daftar pemilih tetap, adalah kaum muda yang berusia di bawah 40 tahun.

    Ini bisa menjadi kabar baik di Pemilu 2024, karena pemilih dari kaum muda diyakini memiliki pemikiran yang lebih kritis, seperti terhadap kinerja parlemen dan dalam mengawal pembuatan undang-undang, serta memiliki banyak gagasan segar.

    Banyak pula diberitakan bahwa pemilihan anggota legislatif (Pileg) yang menjadi bagian dari Pemilu 2024 akan dipenuhi oleh calon legislatif (caleg) dari kaum muda, bahkan banyak yang baru lulus kuliah sarjana strata 1 (S1).

    Ini menjadi angin segar bagi perpolitikan Indonesia, karena menurut survei, partisipasi kaum muda yang terjun ke politik atau Pemilu 2024 sebagai caleg masih sangat minim dan minat mereka terhadap politik cenderung kecil.

    Baca: Perjuangan caleg bermodal cekak siasati politik biaya tinggi

    DPR periode 2019-2024 hanya memiliki sekitar 30 persen, dari total 575 anggota legislatif, yang berusia di bawah 40 tahun.

    Setidaknya ada 10 politikus muda DPR periode ini yang memiliki orang tua atau berasal dari keluarga yang sudah memiliki rekam jejak panjang di panggung politik Indonesia.

    Ini menunjukkan bahwa meskipun kita bisa berharap banyak pada kaum muda, di saat yang bersamaan kita mesti melihat kenyataan bahwa kaum muda yang maju dalam kontestasi politik masih didominasi oleh mereka yang memiliki akses khusus terhadap partai.

    Mereka biasanya adalah anak dari keluarga yang telah lama berkecimpung di dunia politik (dinasti politik), anak dari pimpinan partai tertentu, atau anak dari figur tokoh partai tertentu.

    Baca: Cara berbeda PDIP dan PSI perlakukan pemilih muda

    Tak ada yang salah dengan status itu. Namun, kita sebagai pemilih harus hati-hati, karena belum tentu mereka benar-benar memiliki kapabilitas dan gagasan yang solid.

    Jangan sampai kita memilih kaum muda yang hanya mendompleng status dari dinasti politik atau yang hanya akan membentuk oligarki.

     

    Lantas bagaimana dengan kaum muda non-dinasti politik? Jika kaum muda yang memiliki hubungan kekerabatan dengan penguasa mudah mendapatkan posisi politik strategis, lain halnya dengan kaum muda pada umumnya yang sulit, bahkan tidak, mendapatkan privilese tersebut.

    Kita masih banyak mendengar kaum muda mengeluh lantaran aspirasi mereka tidak dipenuhi. Mereka juga kerap tidak tahu harus berbuat apa untuk mengekspresikan pemikiran dan pendapat mereka.

    Baca: Jumlah pemilih di Pemilu 2024 capai 204 jutaan

    Rendahnya keterwakilan generasi muda di parlemen juga membuat aspirasi kaum muda belum mendapat cukup ruang, lalu terabaikan begitu saja.

    Penelitian mengungkap bahwa kesulitan terberat bagi generasi muda untuk terjun langsung ke politik adalah masalah finansial.

    Di Indonesia, biaya politik terlampau tinggi, mulai dari mahar politik untuk partai, biaya untuk tim pemenangan, hingga ongkos membayar saksi di tempat pemungutan suara (TPS).

    Ini membuat kaum muda–yang mayoritas masih mencoba merintis karier–sulit memenuhinya.

    Tak heran jika pada akhirnya yang mampu terjun langsung ke dalam politik aktif mayoritas adalah mereka yang memiliki banyak uang atau berasal dari dinasti politik keluarga.

    Baca: Saatnya memilih pemimpin pro lingkungan di Pemilu 2024

    Akhirnya, generasi milenial lebih memilih untuk bekerja di NGO atau melakukan kerja-kerja kewirausahaan sosial.

    Sangat disayangkan ketika kita memiliki sosok kaum muda yang berdedikasi untuk masyarakat, tetapi harus berhenti hanya karena urusan biaya politik.

    Perlu kaum muda ‘berkualitas’ dalam politik
    Survei menunjukkan bahwa generasi muda cenderung lebih peduli dan kritis terhadap isu lingkungan dan perubahan iklim serta hak asasi manusia (HAM) dan kesetaraan.

    Dalam buku Next Generation Democracy karya Jared Duval, kaum muda digambarkan dengan berbagai potensi yang dapat memberikan perubahan nyata di lingkungan.

    Mereka merupakan generasi digital dan memahami pentingnya konektivitas.

    Baca: Survei Indikator Politik ungkap Ganjar Pranowo masih unggul

    Oleh karena itu, penting untuk mendorong kaum muda dengan pemikiran berkualitas dan idealisme yang kuat untuk berpartisipasi dalam proses politik aktif.

    Namun, jika budaya politik kita masih dikuasai oleh politik warisan dan kekerabatan, sulit berharap partai dapat menghasilkan politikus muda yang kritis.

    Di tengah tantangan ini, kaum muda juga mesti memiliki strategi dan upaya untuk dapat masuk ke dalam dunia politik dan berjuang mempertahankan idealisme yang mereka miliki.

    Namun, upaya tersebut tidak akan bisa maksimal tanpa adanya dukungan khusus dari setiap partai politik. Sudah semestinya setiap partai mulai membenahi sistem kaderisasinya.

    Baca: Meluruskan sejarah Gerakan 30 September

    Rekrutmen kader muda berkualitas yang tidak berasal dari dinasti politik harus diutamakan.

    Ini akan memerlukan strategi yang matang dan komitmen jangka panjang, mulai dari membuka akses, mentorship, dan pendidikan berkelanjutan bagi kaum muda yang menaruh minat dan memiliki bakat di dunia politik.

    Pemerintah pun perlu memberikan perhatian khusus terkait bagaimana keterhubungan partai dan kaum muda, agar semuanya mendapatkan akses politik yang setara.

    Sekali lagi, persoalan kaderisasi membutuhkan komitmen yang tinggi dan butuh waktu yang panjang.

    Jika kaum muda belum mendapat perhatian lebih, kita mungkin patut curiga pada pemerintah dan partai politik, jangan-jangan mereka memang tidak mau komitmen pada masa depan bangsa yang lebih baik.

    Disarikan dari tulisan , Peneliti di Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia, Universitas Indonesia yang telah terbit di The Conversation

  • Gelar Aksi Damai Pemilu 2024 Tanpa Oligarki, Aktivis Greenpeace Ditahan Polisi

    Gelar Aksi Damai Pemilu 2024 Tanpa Oligarki, Aktivis Greenpeace Ditahan Polisi

    7cloud.asia – Greenpeace Indonesia mendesak Kepolisian Republik Indonesia untuk segera membebaskan sepuluh aktivis yang masih ditahan usai menggelar aksi damai menuntut aksi iklim dan menyerukan ‘Pemilu 2024 Tanpa Oligarki’ di Bundaran HI, Jakarta, pada Jumat (6/10/2023)

    Hingga Jumat malam, polisi masih menahan aktivis Greenpeace dan delapan kru kendaraan yang membawa ‘Monster Pemilu 2024 Tanpa Oligarki’.

    Para aktivis Greenpeace yang menuntut Pemilu 2024 tanpa oligarki menjalani proses pemeriksaan yang berlarut, didampingi kuasa hukum dari sejumlah organisasi masyarakat sipil.

    Baca: Kaum muda di Pemilu 2024, ada yang mewarisi previlese dan ada yang berjuang dari bawah

    Kuasa hukum yang terdiri dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, LBH Pers, dan IM57+ Institute ini  tergabung dalam Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD).

    Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Iqbal Damanik mengatakan, aksi mereka dilindungi Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH), khususnya pasal 66.

    Di sana tertulis: “Setiap orang yang memperjuangkan hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat tidak dapat dituntut secara pidana maupun digugat secara perdata.”

    “Kami meminta Kepolisian membebaskan para aktivis yang masih ditahan. Aksi Greenpeace di Bundaran HI tadi pagi merupakan aksi damai tanpa kekerasan. Para aktivis juga sudah membubarkan diri dengan tertib ketika petugas keamanan memerintahkan untuk menyudahi aksi,” kata Iqbal.

    Baca: Perjuangan caleg bermodal cekak di Pemilu 2024

     

    Menjelang pendaftaran capres-cawapres pada 19 Oktober mendatang, aksi damai tanpa kekerasan yang dilakukan Greenpeace Indonesia menjadi momentum untuk mengajak publik mengingat pentingnya penyelamatan lingkungan hidup dan Bumi dari ancaman krisis iklim.

    Aksi oleh Greenpeace ini juga untuk memastikan Pemilu 2024 mendatang bebas dari cengkeraman oligarki.

    Greenpeace mendesak para kandidat yang akan berlaga di Pemilu 2024, seperti calon presiden, calon wakil presiden, dan calon anggota legislatif–harus tegas dan berani melepaskan diri dari cengkeraman oligarki.

    Dengan demikian, ada langkah konkret yang bisa ditempuh untuk menjalankan pemerintahan tanpa kendali orang-orang yang turut berkontribusi merusak lingkungan dan memperparah krisis iklim.

    Baca: Pilih pemimpin pro lingkungan di Pemilu 2024

    “Sudah seharusnya pemilu 2024 yang akan datang bebas dari kepentingan oligarki, sebab selama ini oligarki telah membajak kebijakan-kebijakan yang menyangkut hajat hidup orang banyak, mengorbankan kelestarian lingkungan, dan menindas hak-hak rakyat demi kepentingan mereka sendiri,” kata Iqbal.

    Aksi damai Greenpeace ini dilakukan dengan membawa boneka besar berbentuk gurita. juga menjadi momentum protes atas Omnibus Law UU Cipta Kerja yang disahkan pada 5 Oktober 2020 lalu.

    Aksi serupa juga pernah Greenpeace Indonesia lakukan pada 2021 di depan gedung DPR, Senayan dan di Kodingareng, Sulawesi Selatan pada 2022.

    Baca: 

    Greenpeace Indonesia adalah organisasi kampanye lingkungan yang independen.

    “Kami menyuarakan pentingnya penyelamatan lingkungan dengan cara-cara damai tanpa kekerasan, demi masa depan Bumi yang lebih baik dan selamat dari krisis iklim,” tegas Iqbal dalam keterangan tertulis yang diterima Jumat malam.

     

  • Pemilu 2024 Sarat oleh Pemilih Muda, Apa yang Akan Terjadi?

    Pemilu 2024 Sarat oleh Pemilih Muda, Apa yang Akan Terjadi?

    7cloud.asia – Pada Juli lalu, KPU telah menetapkan 204,8 juta daftar pemilih tetap pada Pemilu 2024.

    Dari angka pemilih tetap di Pemilu 2024 itu, sekitar 114 juta diantaranya masuk sebagai pemilih muda atau berusia di bawah 40 tahun.

    Artinya nasib Indonesia, setidaknya dalam lima tahun ke depan, ditentukan oleh pemilih muda yang mendominasi pemilih di Pemilu 2024. 

    Dari jumlah itu, lebih dari 68 juta pemilih di Pemilu 2024 adalah kaum milenial yang lahir antara awal 1980-an dan pertengahan 1990-an.

    Sebanyak 46 juta sisanya adalah anggota dari apa yang disebut Generasi Z, lahir antara pertengahan 1990-an hingga dekade pertama milenium ini, sebagian dari mereka adalah pemilih pemula.

    Baca: Kaum muda di Pemilu 2024, ada yang mewarisi previlese dan yang berjuang sendiri

    Dengan angka tesebut, maka Pemilu 2024 kali ini akan menjadi pertama kalinya warga Indonesia menyaksikan lebih banyak Gen Z — kelompok demografis yang secara luas dianggap apatis secara politik — terlibat dalam pemilu.

    Kajian ini memperkirakan generasi muda Indonesia cenderung apatis terhadap perkembangan politik dan tidak se-nasionalis generasi sebelumnya.

    Pemilih muda juga tidak bisa dengan mudah didorong oleh preferensi keluarga mereka terhadap kandidat tertentu.

    Karena jumlah pemilih muda di Pemilu 2024 sangat besar, partai politik dan kandidat potensial mulai menerapkan strategi media sosial untuk menarik mereka.

    Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Khoirunnisa Nur Agustyati mengatakan, pemilih muda ini erat hubungannya dengan media sosial.

    Baca: Beda cara PSI dan PDIP dalam menangani pemilih muda

    Media sosila, ujarnya, menjadi salah satu sarana distribusi informasi mengenai pemilu hingga kampanye.

    “Namun belum ada mitigasi risiko-risiko di media sosial, seperti disinformasi dan transparansi sehingga dibutuhkan penanganan terkait penangkalan disinformasi,” kata Khoirunnisa.

    Praktik pencemaran nama baik, fitnah, berita bohong, ujaran kebencian, dan politik identitas rentan mewarnai kampanye Pemilu 2024 di media sosial.

    Pemilu 2024 kali ini akan menjadi pertama kalinya warga Indonesia menyaksikan lebih banyak Gen Z—kelompok demografis yang secara luas dianggap apatis secara politik—terlibat dalam pemilu.

    Pemilih pemula, demikian halnya pemilih lama, diimbau untuk menjadi pemilih yang cerdas oleh KPU dan Bawaslu.

    Baca: Perjuangan caleg bermodal cekak hadapi politik biaya tinggi

    Bagaimana jadi pemilih yang cerdas?, berikut beberapa hal yang bisa dilakukan sebagaimana dipaparkan Khoirunnisa:

    Sebelum mendatangi tempat pemilihan suara, pastikan bahwa identitas Anda terdaftar sebagai pemilih.

    Caranya, siapkan Nomor Induk Kependudukan, lalu masuk ke situs KPU, masukkan nomor NIK dalam kolom, dan status Anda akan nampak di dalamnya termasuk lokasi Tempat Pemungutan Suara (TPS).

    Jika Anda belum terdaftar, maka bisa menghubungi kantor KPU terdekat untuk pendaftaran.

    Beberapa hal yang perlu dipahami pemilih —terutama pemilih pemula— menurut Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)

    1. Visi misi partai dan kontestan pemilu
    2. Rekam jejak kontestan pemilu
    3. Hindari politik uang.

    Disarikan dari BBC Indonesia