Tag: plastik

  • Komunitas Nol Sampah Desak Pemerintah Lebih Ketat Mengawasi Galon Sekali Pakai

    Komunitas Nol Sampah Desak Pemerintah Lebih Ketat Mengawasi Galon Sekali Pakai


    7cloud.asia – Komunitas Nol Sampah mengajak pemerintah untuk berkolaborasi dengan masyarakat dan LSM guna mengawasi tanggung jawab produsen galon sekali pakai dalam mengurangi sampah plastik.

    Dalam rilis yang disiarkan pada Selasa (30/7/2024), Koordinator Komunitas Nol Sampah Wawan Some mengatakan produsen galon sekali pakai wajib mendaur ulang sampah kemasan produknya.

    Wawan mendesak pemerintah membuka data produsen mana saja yang sudah mematuhi Permen 75 tahun 2019 tentang Pengurangan Sampah Plastik.

    “Faktanya saya yakin belum semuanya bisa didaur ulang, belum bisa semuanya ditarik sama mereka walaupun klaim mereka kan katanya ukuran besar akan memudahkan untuk ditarik kembali dan didaur ulang,” kata Wawan.

    Dia menegaskan berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 tahun 2018 yang diturunkan menjadi Peraturan Menteri KLHK No 75 tahun 2019 menyebutkan bahwa produsen bertanggung jawab atas sampah plastik yang mereka hasilkan.

    Baca: Penanganan krisis sampah plastik harus dari Hulu

    Artinya, sudah menjadi kewajiban produsen galon sekali pakai untuk mengumpulkan kembali sampah plastik yang dihasilkannya untuk didaur ulang.

    “Libatkan semua pihak karena pemerintah nggak mungkin akan bisa mengawasi sendiri. Sekian puluh ribu perusahaan, produsen dengan jumlah jutaan ton sampah. Ini tujuannya positif bukan untuk jelek-jelek produsen,” katanya.

    Dalam kesempatan berbeda, Direktur Pengurangan Sampah KLHK, Vinda Damayanti Ansjar menegaskan Permen LHK Nomor 75 tahun 2019 mewajibkan produsen untuk menyusun roadmap pengurangan sampah.

    Saat ini, jumlah produsen yang melaksanakan roadmap dan jumlah pengurangan sampah juga terus meningkat.

    Baca: Menyoal galon sekali pakai

    “Namun memang produsen lokal masih belum banyak yang menyusun roadmap pengurangan sampah,” kata Vinda.

    Dia mengatakan pengurangan sampah plastik itu tidak dapat dilakukan oleh pemerintah pusat atau pemerintah daerah saja, tetapi seluruh pemangku kepentingan.

    Lembaga terkait, masyarakat hingga produsen harus bekerja bersama untuk mengurangi timbulan sampah plastik.

    “Komunikasi, edukasi dan informasi harus secara masif dan terus menerus dilakukan untuk dapat merubah perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampahnya seperti melakukan pemilahan dari sumber sampah,” katanya.

    Baca: Pawai Bebas Plastik tolak plastik sekali pakai

    Keberadaan galon sekali pakai memang masih menjadi perdebatan. Temuan di lapangan di mana bekas galon sekali pakai itu sulit untuk dikumpulkan.

    Karena ukurannya yang terlalu besar membuat masyarakat juga kebingungan untuk mengumpukan sampahnya setelah airnya habis dipakai.

    Sebelumnya, sebuah video yang beredar di media sosial X menunjukkan adanya galon sekali pakai yang mengambang dan menjadi sampah di lautan.

    Keberadaan sampah galon tersebut telah mengotori perairan serta berpotensi merusak ekosistem dan biota laut di Indonesia.

    Sumber:Antaranews.com

  • Perdebatan Guna Ulang vs Daur Ulang Kemasan Plastik di Uni Eropa

    Perdebatan Guna Ulang vs Daur Ulang Kemasan Plastik di Uni Eropa

    7cloud.asia – Bulan Maret 2024 mengakhiri salah satu pertarungan kebijakan yang paling kontroversial di Uni Eropa dalam beberapa tahun terakhir, yakni antara daur ulang versus guna ulang kemasan plastik.

    Banyak yang berharap Peraturan Pengemasan dan Limbah Pengemasan (PPWR) akan menandai pertarungan sengit untuk mengakhiri era kemasan sekali pakai di Uni Eropa sekaligus beralih ke sistem guna ulang.

    Upaya mengakhiri kemasan sekali pakai ditandai dengan lobi besar-besaran para pendukung daur ulang di ruang-ruang kekuasaan, guna memastikan bahwa daur ulang tetap menjadi prioritas dalam pengelolaan limbah Uni Eropa dan bukan sistem guna ulang.

    Namun, jika dilihat lebih dalam, narasi yang ada bukan semata-mata tentang kekalahan. Seperti halnya di banyak sektor kehidupan, kesepakatan tentang guna ulang ini adalah revolusi diam-diam yang dimulai dari hal kecil dan terus tumbuh.

    Penggunaan kembali atau guna ulang –sebuah istilah yang dulunya hanya sekadar istilah pinggiran dalam dialog lingkungan hidup– kini menjadi buah bibir semua orang.

    Uni Eropa mencatat rekor 177 kilogram sampah kemasan sekali pakai per orang pada tahun 2020, sehingga tuntutan masyarakat ditambah dengan bukti ilmiah bahwa sistem penggunaan kembali dapat dikurangi.

    Baca: KTT Plastik Ottawa tak lahirkan kesepakatan pengurangan produksi plastik

    Apa yang dilakukan di Eropa untuk mencapai tujuan ini adalah dengan melakukan upaya-upaya nyata yang berbasis komunitas dan menghasilkan dampak nyata.

    Cerita selanjutnya adalah cetak biru penggunaan kembali yang dibuat oleh Reuse Vanguard Project (RSVP) yang memberikan peluang nyata bagi kota-kota di Eropa untuk melokalisasi kebijakan lingkungan hidup, meningkatkan keterlibatan masyarakat.

    Upaya penerapkan sistem guna ulang telah diterapkanvsejumlah kota di Eropa, seperti Paris (Prancis), Rotterdam dan Aarhus (Belanda). Ini akan kita ulas dalam tulisan selanjutnya.

    Kita tahu sekarang ada alasan bisnis untuk menggunakan kembali. Namun sistem guna ulang yang efektif bergantung pada desain sistem yang kuat yang dapat ditingkatkan oleh PPWR.

    Infrastruktur yang kuat termasuk jaringan pengantaran, logistik pengembalian, dan fasilitas pencucian, serta tata kelola yang ketat yang menetapkan aturan operasional yang jelas, sangat penting untuk efektivitas sistem guna ulang.

    Kepadatan populasi yang lebih besar hanya akan meningkatkan efisiensi dan kelayakan ekonomi dari sistem guna ulang ini.

    Baca: Perbedaan sistem guna ulang dengan daur ulang

    Inisiatif RSVP bertujuan untuk menetapkan target penggunaan kembali yang spesifik untuk industri dan memperkenalkan pajak atas kemasan sekali pakai, dengan tujuan menyeluruh yaitu Mencapai pengurangan sampah sebesar 15 persen pada tahun 2030.

    Ketika kita merenungkan pemilu di Eropa, pertaruhan terhadap kebijakan lingkungan hidup yang progresif masih tetap tinggi.

    Kemajuan yang mengkhawatirkan dari kelompok sayap kanan memberikan tantangan terhadap upaya yang sedang berjalan, namun dengan dukungan dari kota-kota seperti Rotterdam, Aarhus, dan Paris, masih akan ada peluang untuk mencapai tujuan tersebut.

    Komitmen untuk memperjuangkan sistem guna ulang dan kelestarian lingkungan hidup menyuntikkan energi untuk perjuangan ini.

    Mengingat pentingnya masalah ini, perlu dedikasi yang lebih kuat untuk tidak hanya melestarikan namun juga memajukan apa yang telah dicapai.

    Artikel ini diterjemahkan dari earth.org, Penulis: Nathan Dufour, kepala Zero Waste Europe’s.

     

  • Upaya Menerapkan Sistem Guna Ulang di Sejumlah Kota di Eropa

    Upaya Menerapkan Sistem Guna Ulang di Sejumlah Kota di Eropa

    7cloud.asia – Bulan Maret 2024 lalu menjadi akhir salah satu pertarungan kebijakan yang paling kontroversial soal kemasan plastik di Eropa dalam beberapa tahun terakhir, yakni antara daur ulang versus guna ulang. 

    Banyak yang berharap Peraturan Pengemasan dan Limbah Pengemasan (PPWR) akan  mengakhiri era kemasan plastik sekali pakai di Uni Eropa dan mendorong sistem guna ulang.

    Apa yang dilakukan Uni Eropa untuk mendorong sistem guna ulang adalah dengan melakukan upaya-upaya nyata yang berbasis komunitas dan menghasilkan dampak nyata.

    Cerita selanjutnya adalah cetak biru sistem guna ulang yang dibuat oleh Reuse Vanguard Project (RSVP) yang memberikan peluang nyata bagi kota-kota di Eropa untuk melokalisasi kebijakan lingkungan hidup, dan meningkatkan keterlibatan masyarakat.

    Sistem guna ulang telah coba diterapkan sejumlah kota di Eropa, seperti di Paris (Prancis), Rotterdam dan Aarhus (Belanda).

    Baca: Perdebatan guna ulang vs daur ulang di Eropa

    Di Paris, Florentin Letissier, Wakil Walikota Paris, mengatakan bahwa kota tersebut berfokus pada penerapan praktik berkelanjutan untuk acara berskala besar, termasuk Olimpiade Paris.

    Paris juga merencanakan pusat penyimpanan untuk mengelola bahan-bahan yang dapat digunakan kembali di tingkat regional.

    Paris juga untuk menargetkan untuk menggunakan kursi plastik daur ulang, namun hal ini belum mencapai standar ekonomi sirkular dibandingkan dengan masalah limbah besar lainnya.

    Olimpiade Paris menjadi ajang uji coba praktik berkelanjutan ini, dengan penggunaan sistem cangkir yang dapat digunakan kembali untuk pertama kalinya di acara olahraga terbesar di dunia.

    Meski menimbulkan pertanyaan tentang kelanggengan dan peningkatan inisiatif ini pasca-Olimpiade, dunia pantas merayakan inisiatif besar ini dan memastikan semua pembelajaran dipusatkan untuk mempersiapkan landasan bagi Olimpiade berikutnya guna meraih skor lebih tinggi lagi.

    Baca: KTT Plastik Ottawa tak hasilkan kesepakatan kurangi produksi plastik

    Guna ulang di Belanda
    Pada 2021, Belanda memajukan agenda lingkungannya dengan menerapkan sistem pengembalian deposit (DRS) baru sebesar 15 sen pada semua botol plastik di bawah satu liter.

    Langkah ini dilakukan Menteri Lingkungan Hidup Stientje van Veldhoven untuk melawan tindakan sukarela yang tidak efektif selama beberapa dekade oleh industri engemasan.

    Sistem ini telah memposisikan Belanda sebagai pemimpin dalam praktik pengelolaan sampah Eropa.

    Berdasarkan momentum ini, inisiatif “Evernew” di Rotterdam kini memelopori peralihan menuju praktik perkotaan berkelanjutan dengan uji coba inovatif yang bertujuan mengurangi sampah melalui ekosistem guna ulang yang terukur.

    Inovasi ini dilakukan inovator lingkungan Packback, didukung oleh Kementerian Infrastruktur & Waterstaat dan investor swasta seperti Invest NL, proyek ini mengembangkan ekosistem guna ulang yang mulai diuji-cobakan di Stasiun Pusat Rotterdam.

    Baca: Mengapa guna ulang lebih dianjurkan ketimbang daur ulang

    Di kota-kota lain seperti Aarhus, pejabat kota sedang mendiskusikan penyesuaian cetak biru proyek agar selaras dengan tujuan keberlanjutan kota yang lebih luas.

    Menghadapi biaya pengelolaan sampah tahunan sekitar 5 juta euro, yang 48 persen di antaranya berasal dari kemasan makanan dan minuman, pemerintah kota memandang inisiatif ini sebagai sebuah kegagalan.

    Didukung oleh investasi dari Tomra, proyek pertama dalam skala dan pendekatan ini memanfaatkan partisipasi sukarela dan insentif yang menarik secara ekonomi, termasuk sistem simpanan yang terintegrasi dengan perusahaan kartu kredit besar untuk pengembalian dana instan.

    Dalam waktu beberapa bulan, sistem yang dirancang dengan baik dan nyaman ini telah mencatat pengembalian hampir 300.000 cangkir melalui sistem dan tingkat pengembalian keseluruhan di atas 80 persen. Hasil yang cukup signifikan.

    Artikel ini diterjemahkan dari earth.org, Penulis: Nathan Dufour, kepala Zero Waste Europe’s.

  • Pemkot Surabaya dan Gresik Gandeng Rekosistem untuk Kelola Sampah Kemasan

    Pemkot Surabaya dan Gresik Gandeng Rekosistem untuk Kelola Sampah Kemasan

    7cloud.asia – Pemerintah Kota Surabaya dan Pemerintah Kabupaten Gresik, Jawa Timur, menjalin kemitraan untuk mengelola 1.400 metrik ton sampah kemasan dan botol plastik.

    Kedua pemerintah daerah tersebut telah menandatangani kesepakatan (MoU) dengan perusahaan air mineral kemasan PT Tirta Investama (Aqua) dan Rekosistem, perusahaan rintisan di bidang clean and climate tech. ​​​​

    Kepala Bidang Sarana, Prasarana dan Pemanfaatan Limbah Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya Mohamad Amin mengharapkan, kemitraan ini bisa mengatasi masalah yang ditimbulkan sampah plastik.

    “Kolaborasi AQUA dan Rekosistem menjadi implementasi konkrit dari tanggung jawab produsen sebagai alternatif solusi untuk mengurangi beban sampah yang menumpuk di Surabaya dan kota-kota penyangganya,” katanya usai penandatanganan MoU di Gresik, Sabtu (10/8/2024).

    Baca: Saset plastik FMCG jadi sumber utama sampah plastik

    Menurutnya pengumpulan 1.400 ton metrik sampah plastik dalam program ini memiliki potensi mengurangi emisi karbon hingga 2,2 juta kilogram karbon dari inisiatif daur ulang.

    Langkah ini sekaligus dapat mengurangi ketergantungan pada penggunaan virgin plastic.

    Sustainable Development Director Danone Indonesia Karyanto Wibowo menyebut pihaknya selalu berinovasi dengan menempatkan konsumen sebagai prioritas utama dan mengedepankan dampak pada lingkungan.

    “Sejak 1993, Aqua telah menginisiasi program untuk mengumpulkan kembali dan mendaur ulang sampah botol plastik pascakonsumsi dengan mengembangkan Program Aqua Peduli,” ujarnya.

    Baca: SIKLUS tawarkan solusi belanja minim sampah plastik

    Sementara Rekosistem adalah startup teknologi iklim yang menawarkan layanan pengelolaan dan daur ulang sampah untuk mengoptimalkan rantai nilai sampah.

    Solusi yang ditawarkan Rekosistem akan mengubah perilaku yang ada saat ini menjadi komunitas yang lebih ramah lingkungan.

    Solusi juga mendorong menyesuaikannya dengan bagaimana interaksi yang ideal dan organik seharusnya terjadi.

    Dikutip dari laman resminya, Rekosistem telah berhasil mendaur ulang dan memproses 2.500+ metrik ton sampah dan jumlahnya terus bertambah.

    Sumber:Antaranews.oom

  • NEWBitumen, Produk Perkerasan Jalan dari Sampah Plastik yang Tidak Dapat Didaurulang

    NEWBitumen, Produk Perkerasan Jalan dari Sampah Plastik yang Tidak Dapat Didaurulang

    7cloud.asia – NEWBitumen, demikian nama yang diterakan pada bahan perkerasan jalan yang menggunakan plastik yang dianggap tidak dapat didaur ulang.

    NEWBitumen merupakan produk dari perusahaan rintisan teknologi asal Singapura, Magorium yang didirikan Oh Chu Xian. NEWBitumen disebut turut menjadikan Singapura lebih hijau.

    Lewat Magorium, Oh yang kini berusia 29 tahun, mengembangkan teknologi baru untuk mengubah sampah plastik menjadi bahan perkerasan jalan atau pevemen yang disebut NEWBitumen.

    Solusi inovatif ini mengolah berbagai jenis sampah plastik termasuk yang terkontaminasi, seperti limbah medis dari rumah sakit.

    “Sampah ini, sejak lama, dianggap tidak dapat didaur ulang, baik di Singapura maupun di belahan dunia lainnya. Namun kami telah mampu melakukannya dan mengalihkan puluhan ribu kilogram sampah plastik dari insinerasi di Singapura,” terang Oh seperti dilansir straitstimes.com.

    Prestasi Magorium ditoreh pada tahun 2022, dengan mengalihkan lebih dari 8.000 kilogram sampah plastik dari pembakaran untuk finishing jalan masuk hijau di DBS Newton Green dengan menggunakan NEWBitumen.

    Dengan Magorium, Oh bertujuan untuk membangun masa depan yang berkelanjutan dengan memungkinkan dunia usaha dan pengembang membuang sampah plastik mereka secara bertanggung jawab, cepat, dan terjangkau.

     

    Baca: Robries mengolah sampah plastik menjadi produk bernilai tinggi

    Hal ini penting, tegas Oh, karena 95 persen sampah plastik di Singapura tidak dapat didaur ulang.

    “Misi saya adalah meningkatkan laju daur ulang Singapura dengan menggunakan plastik sebagai sumber daya, bukan memperlakukannya sebagai sampah.”

    Tumbuh dalam bisnis keluarga yang memproduksi bahan-bahan untuk pembangunan jalan, menjadi peletak dasar bagi “misi” Oh.

    “Bisnis keluarga saya mengajarkan saya pada sektor lingkungan binaan dan bagaimana sebagian besar infrastruktur yang dibangun mengorbankan sumber daya pertambangan dari bumi kita,” demikian Oh berbagi.

    Ditambah dengan kesadarannya bahwa negara-negara seperti Singapura tidak memiliki kemampuan daur ulang yang kuat –mengekspor sebagian besar limbahnya dan membakar sisanya– hal ini memicu keinginannya untuk mencari solusi.

    Dia lalu mendirikan Magorium pada tahun 2019 sebagai wirausaha sosial, untuk memastikan usahanya memberi dampak positif bagi sosial dan lingkungan sekitarnya.

    “Usaha sosial mempunyai tanggung jawab untuk memastikan bahwa kita menciptakan dampak sosial dan lingkungan yang sesuai, sekaligus meningkatkan pendapatan dan keuntungan. Ini menciptakan lapisan akuntabilitas tambahan.”

    Baca: SIKLUS tawarkan solusi efektif untuk kurangi sampah plastik

    Membuat terobosan baru
    Oh mulai mengembangkan teknologi untuk menciptakan NEWBitumen sejak delapan tahun lalu. Namun, tak mudah baginya untuk meyakinkan para veteran industri mengenai kelayakannya NEWBitmen ini.

    Metode konstruksi yang bergantung pada sumber daya alam bumi, seperti minyak mentah, untuk membuat material sudah sedemikian terpatri di kalangan pelaku industri ini membuat perubahan menjadi sulit.

    “Ada perasaan meremehkan dan menolak mencoba sesuatu yang baru baik di sektor pengelolaan limbah maupun lingkungan hidup,” katanya, meskipun ia memahami keengganan mereka untuk mengambil risiko.

    “Namun, karena kita hidup dalam iklim di mana perubahan semakin diperlukan untuk bertahan hidup, saya yakin inilah saatnya untuk memperbaiki sesuatu yang rusak,” tambahnya.

    Tidak terpengaruh, Ms Oh bertahan dan akhirnya menyelesaikan proyek pertama Magorium pada tahun 2020 – membangun jalan masuk ke tempat parkir pabrik menggunakan NEWBitumen.

    “Untuk meyakinkan pemilik agar mau mencoba, kami memberikan diskon, memberikan garansi untuk memperbaiki keadaan jika terjadi kesalahan, dan menawarkan laporan pengujian untuk menunjukkan bahwa jalan baru akan berfungsi seperti jalan normal,” kenangnya.

    “Setelah itu, kami mulai menjadi lebih kredibel di mata para profesional yang lebih tua dan berpengalaman.”

    Satu kemenangan kecil membuahkan kemenangan lain, dan Magorium dianugerahi DBS Foundation Grant pada tahun 2021. Setelah itu Magorium terus mengembangkan sayapnya.

    Baca: Aplikasi belanja Kecipir terapkan sistem guna ulang untuk kurangi sampah plastik

  • Tim UC Berkeley Temukan Cara Mendaurulang Plastik Menjadi Bahan Baru dengan Biaya Lebih Murah

    Tim UC Berkeley Temukan Cara Mendaurulang Plastik Menjadi Bahan Baru dengan Biaya Lebih Murah

    7cloud.asia – Hidup di tengah plastik, memang tidak menyenangkan. Namun sayangnya, ini adalah kenyataan.

    Plastik ada di mana-mana — berkumpul secara massal di tempat pembuangan sampah, membentuk petak-petak yang berukuran dua kali luas Texas di lautan, dan bahkan menyerang otak kita.

    Dan meskipun tempat sampah berwarna biru memberikan kesan baik, sebagian besar sampah plastik ternyata tidak didaur ulang. Meskipun perkiraannya bervariasi, hanya sekitar 5 hingga 6 persen yang didaur ulang setiap tahunnya di Amerika Serikat, menurut MIT Technology Review.

    Namun tetap ada kabar baik di tengah frustasi itu, penemuan terbaru di UC Berkeley menandakan sesuatu yang lebih positif seperti dilaporkan Los Angeles Times baru-baru ini.

    Sebagai bagian dari program yang didanai oleh AS. Departemen Energi, John Hartwig – seorang profesor kimia di UC Berkeley – memimpin tim yang menemukan proses baru di mana plastik biasa dapat diuapkan dan dipecah menjadi bahan untuk membuat plastik baru, tanpa menghasilkan gas metana (rumah kaca) sebagai produk sampingannya.

    Baca: Start Up Mesir olah sampah plastik jadi bahan bangunan

    Bersama dengan mahasiswa pascasarjana Richard J. “RJ” Conk, dan profesor teknik kimia dan biomolekuler UC Berkeley Alexis Bell, Hartwig telah bereksperimen pada proyek ini selama empat tahun.

    Steven Hanna, mahasiswa pascasarjana lainnya, juga telah mengerjakan hal ini sebelumnya selama beberapa tahun, namun pekerjaan tersebut diperlambat oleh pandemi, kata Hartwig kepada SFGATE melalui telepon.

    Para peneliti berurusan dengan polietilen (umumnya digunakan dalam kantong plastik) dan polipropilen (digunakan dalam botol dan wadah yogurt), yang merupakan hampir dua pertiga sampah plastik pasca-konsumen di seluruh dunia, menurut penelitian tersebut.

    Tim tersebut mencoba menemukan cara untuk mengubah bahan tersebut dengan harapan menciptakan ekonomi plastik sirkular, menghilangkan kebutuhan minyak bumi yang menghasilkan metana dalam produksi plastik baru.

    Meskipun banyak temuan yang menjanjikan, prosesnya tidak sesuai dengan perilaku konsumen saat ini. Sebagian besar bahan di tempat sampah daur ulang sudah terlalu terkorosi sehingga tidak bisa digunakan, kata Hartwig.

    Baca: Robries mengolah sampah plastik jadi furnitur cantik

    “Salah satu tujuannya adalah untuk mencoba memahami kotoran apa yang dapat ditoleransi dan sejauh mana,” katanya, seraya menambahkan bahwa, seperti yang tercantum dalam jurnal Science, pewarna pada kantong plastik berisi irisan roti tidak menjadi masalah bagi timnya.

    Aspek menarik dari penemuan ini adalah potensi skalabilitas, mengingat dua katalis yang digunakan untuk proses tersebut – natrium dan tungsten – merupakan logam yang melimpah dan murah.

    “Seringkali, proses seperti ini dilakukan dengan bahan seperti platinum dan rhodium,” kata Hartwig.

    Saat memikirkan kemungkinan lain dan cara penerapan proses ini, Hartwig mengatakan bahwa, seperti kebanyakan penemuan ilmiah, penerapan lain akan menjadi lebih jelas setelah berita tentang hal ini menyebar. Semoga!

    Sumber: sfgate.com, baca artikel asii di sini 

  • Produsen Air Minum Dalam Kemasan Terus Mendorong Penggunaan Galon Berbahan PET Daur Ulang

    Produsen Air Minum Dalam Kemasan Terus Mendorong Penggunaan Galon Berbahan PET Daur Ulang

    7cloud.asia – Produsen air minum dalam kemasan Aqua, terus berupaya memperluas penggunaan kemasan berbahan plastik jenis polyethylene terephthalate (PET) daur ulang

    Penggunaan kemasan berbahan plastik jenis PET ini akan diterapkan pada produk Aqua galon guna ulangnya melalui komitmen #BijakBerplastik.

    “Kami memakai plastik sesuai kebutuhan dan momen konsumsi produk kami. Hampir 70 persen bisnis AQUA menggunakan kemasan yang digunakan ulang sebagai komitmen untuk mengurangi sampah plastik,” kata Corporate Communications Director Aqua Arif Mujahidin dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis (16/1/2025).

    Arif menuturkan hal tersebut merupakan wujud komitmen Aqua dalam menerapkan penerapan ekonomi sirkular seklaigus menjadi lebih ramah lingkungan

    Galon bening guna ulang berbahan PET itu merupakan produk inovasi Aqua yang bertujuan untuk menjawab kebutuhan dan preferensi konsumen terhadap kemasan galon yang ramah lingkungan dan lebih jernih.

    Baca: Industri air minum dalam kemasan sembunyikan krisis air global

    Dengan galon berbahan PET ini, konsumen dapat melihat produk air di dalamnya dengan jelas.

    Ia mengklaim bahwa galon guna ulang PET yang sudah diperkenalkan di Manado, Sulawesi Utara dan wilayah Jabodetabek pada 2024 lalu merupakan produk resmi Aqua yang aman, dapat melindungi kualitas kandungan mineral dan ramah lingkungan.

    Galon serupa sudah didistribusikan sejak 2019 untuk para konsumen di Bali yang memiliki daya beli lebih tinggi dan lebih sadar kelestarian lingkungan.

    “Sebagian besar kemasan galon air minum masih menggunakan konsep kemasan guna ulang, salah satunya karena kesadaran akan pentingnya mengurangi sampah kemasan plastik yang bisa mengotori lingkungan,” ujar dia.

    Pemilik agen Aqua di Denpasar, Bali, Adi, mengatakan bahwa galon guna ulang berbahan PET terlihat lebih bersih, transparan dan tidak mudah pecah.

     

    Baca: Galon air minum dalam kemasan yang aman untuk kesehatan dan lingkungan

    “Penjualan galon bening guna ulang ini pun sangat menjanjikan untuk kami para agen, karena animo masyarakat untuk membelinya sangat tinggi,” ujarnya.

    Agen lainnya, Bagus dan Adhi Wijaya dari daerah yang sama, menambahkan bahwa tampilan galon yang lebih bersih dan transparan jadi salah satu alasan konsumen tertarik membeli galon itu.

    “Kelihatannya, galon bening guna ulang yang transparan ini lebih laku di Bali karena tampilannya yang terlihat lebih bersih dan transparan ini mungkin membuat masyarakat senang untuk membelinya,” ucap dia.

    Industri air minum dalam kemasan (AMDK) menyatakan mendukung dan siap bersinergi dengan pemerintah dalam mewujudkan kelestarian lingkungan serta memberi dampak perekonomian bagi masyarakat.

    Langkah ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk mendukung agenda pemerintah Indonesia, yakni Target Bersih Sampah 2025 melalui pengurangan sampah sebesar 30 persen dan penanganan sampah sebesar 70 persen.

    Baca: Kontroversi galon air minum dalam kemasan sekali pakai

    Sebelumnya, Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar, Kementerian Perindustrian Merrijantij Punguan Pintaria mengatakan industri AMDK di Indonesia sudah semakin maju dan memenuhi standar nasional serta internasional.

    Kemenperin, katanya lagi, mengapresiasi komitmen kalangan industri untuk terus berinovasi pada produk-produknya agar bisa mengedepankan tanggung jawab terhadap lingkungan sekaligus memberikan manfaat kebaikan bagi masyarakat.

    “Apa yang produsen AMDK dengan menghadirkan varian kemasan baru Galon Guna Ulang PET yang ramah lingkungan serta senantiasa mengikuti pedoman Standar Nasional Indonesia ini patut dicontoh oleh pelaku industri lainnya,” katanya saat mengunjungi pabrik Aqua, di Mambal, Bali, Rabu (31/7/2024) lalu.

    Periset Ahli Madya bidang Polimer dari Pusat Riset Teknologi Polimer BRIN, Syuhada menyatakan bahwa bahan PET aman digunakan digunakan secara berulang, selama kualitas kemasannya memenuhi standar yang berlaku, melalui proses pencucian menyeluruh dan proses sterilisasi.

    “Merupakan pilihan yang bijak bagi produsen AMDK dengan memanfaatkan Galon Guna Ulang PET sebagai varian kemasan produk mendampingi kemasan PC yang sebelumnya sudah hadir, karena bahan tersebut bisa digunakan kembali sekaligus didaur ulang,” katanya.

  • Berbicara di World Economic Forum, Direktur Eksekutif UNEP Soroti Sampah Plastik

    Berbicara di World Economic Forum, Direktur Eksekutif UNEP Soroti Sampah Plastik

    7cloud.asia – Setelah dua tahun perundingan yang cukup alot, dunia semakin dekat untuk mewujudkan perjanjian tentang pembatasan produksi plastik.

    Menurut Direktur Eksekutif Badan Lingkungan PBB (UNEP), Inger Andersen, perjanjian ini akan menangani masalah polusi plastik secara serius dan melindungi kesehatan manusia, ekonomi, dan planet Bumi.

    ”Tingkat konvergensi yang tinggi telah dicapai dalam 29 dari 32 pasal yang diusulkan dalam pembahasan perjanjian plastik dunia,” ujar Inge saat berbicara di pertemuan tahunan World Economic Forum, di Davos seperti dikutip dari laman resmi UNEP, unep.org.

    Dia menambahkan, ada tiga area yang memerlukan pekerjaan lanjutan yang signifikan yaitu produksi (termasuk masalah bahan kimia), konsumsi yang berkelanjutan dan pembiayaan (termasuk mekanisme dan penyelarasan arus keuangan).

    Dia melihat ada tekad yang kuat dari seluruh negara anggota, pihak terkait, seluruh masyarakat sipil dan seluruh industri untuk mewujudkan perjanjian plastik global.

    Baca: Emisi yang dipicu sampah plastik bakal lampaui emisi batu bara

    Namun demikian, ujarnya, tetap dibutuhkan dorongan politik dan diplomasi intensif dalam beberapa bulan mendatang demi terwujudnya perjanjian plastik global ini

    Dengan keterlibatan semua pemangku kepentingan dan kepemimpinan G20 yang kuat, untuk meletakkan dasar bagi keberhasilan perjanjian plastik di INC 5.2.

    ”Dunia usaha telah terlibat sejak awal dan terus memainkan peran penting, begitu pula lembaga swadaya masyarakat dan kelompok lainnya. Bisnis telah menyerukan aturan global,” imbuhnya

    UNEP, menekankan pentingnya tanggung jawab produsen yang diperluas guna memudahkan mereka melaksanakan tugasnya secara efisien mengingat bahan tambahan kimia dalam produk plastik akan menimbulkan risiko paparan.

    ”Kecuali jika negara dan bisnis mulai menerapkan solusi sekarang, biaya lingkungan untuk mengatasi masalah yang ditimbulkan limbah plastik akan terus meningkat,” tandasnya.

    Baca: Perjalanan panjang menuju terwujudnya Perjanjian Plastik Global

    Kebocoran plastik ke lingkungan yang mayoritas berakhir di laut, diperkirakan akan meningkat 50 persen pada tahun 2040.

    Biaya kerusakan akibat polusi plastik diperkirakan akan meningkat signifikan hingga mencapai 281 triliun dolar secara kumulatif antara tahun 2016 dan 2040.

    Seiring dengan meningkatnya biaya, risiko bisnis yang dipicu penggunaan plastik yang serampangan juga akan meningkat.

    ”Konsumen, pemegang saham, dan pasar mulai bergerak. Konsumen akan memilih dengan dolar, euro, dan shilling mereka. Pasar akan bergerak lebih cepat,” imbuh Inge.

    Inge meminta para pelaku bisnis dunia untuk tidak lagi hanya menunggu, dan segera bertindak saat ini juga.

  • UNEP Dorong Segera Terwujudnya Perjanjian Pembatasan Plastik Global

    UNEP Dorong Segera Terwujudnya Perjanjian Pembatasan Plastik Global

    7cloud.asia – Direktur Eksekutif Badan Lingkungan PBB (UNEP), Inger Andersen melihat ada tekad yang kuat dari seluruh negara-negara di dunia untuk mewujudkan perjanjian plastik global.

    Berbicara di pertemuan tahunan World Economic Forum, di Davos, Inge mengatakan dibutuhkan dorongan politik dan diplomasi intensif yang melibatkan semua pemangku kepentingan untuk meletakkan dasar bagi keberhasilan di INC 5.2.

    ”Dunia usaha telah terlibat sejak awal dan terus memainkan peran penting, begitu pula lembaga swadaya masyarakat dan kelompok lainnya. Bisnis telah menyerukan aturan global,” ujarnya seperti dikutip dari laman resmi UNEP, unep.org.

    Dalam kesempatan itu, Inge mengatakan masyarakat dunia sudah tahu apa yang harus dilakukan.

    Dunia, ujarnya, membutuhkan memiliki teks yang mempromosikan, mendorong, dan memastikan pengurangan produksi plastik sekali pakai dan berumur pendek.

    Baca: Sampah plastik dibahas di World Economic Forum

    Negara-negara di dunia, menurutnya harus bersama-sama merumuskan kebijakan tentang tanggung jawab produsen yang diperluas dan menetapkan target daur ulang sampah plastik.

    ”Kita perlu berpikir inovatif mengenai bahan kimia yang mengkhawatirkan, mengambil inspirasi dari perjanjian yang ada yang melindungi Bumi dari bahan kimia berbahaya,” tandasnya.

    Inge juga menyerukan kepada negara-negara di dunia perlunya memastikan bahwa daur ulang mekanis yang tidak terkontaminasi oleh bahan kimia berbahaya.

    Hal ini khususnya berlaku pada lokasi di mana daur ulang mekanis dilakukan dengan teknologi dasar—seringkali pada tingkat UKM yang lebih kecil.

    Kita perlu merancang produk untuk diisi ulang, digunakan kembali, dibongkar, dan didaur ulang. Meningkatkan transparansi, keterlacakan, dan pengungkapan.

    Baca: Perjalanan panjang wujudkan Perjanjian Plastik Global

    Inge mengajak para pemodal dan pemerintah di seluruh dunia untuk berinvestasilah dalam pengelolaan limbah yang ramah lingkungan.

    Ditegaskannya ada banyak hal yang harus dilakukan terkait masalah plastik ini, seperti pembersihan plastik warisan, menyiapkan pendanaan dan membatasi produksi.

    ”Saya menghimbau para negosiator untuk fokus pada tiga elemen yang perlu dikerjakan terkait polusi plastik ini,” ujarnya.

    Diakui adanya perbedaan pandangan soal produksi dan penanganan limbah plastik. Tetapi dunia harus bersatu, guna memastikan bahwa perjanjian menghilangkan polusi plastik (termasuk di lingkungan laut), benar-benar terwujud.

    Dunia telah sepakat untuk mengakhiri polusi plastik, karena itu UNEP mengajak semua aktor terkait melakukan bagiannya untuk memenuhi komitmen mengakhiri polusi plastik.

  • Peneliti Temukan Cara Mengurai Sampah Plastik Dengan Memanfaatkan Katalis dan Kelembapan Udara

    Peneliti Temukan Cara Mengurai Sampah Plastik Dengan Memanfaatkan Katalis dan Kelembapan Udara

    7cloud.asia – Untuk mengatasi masalah yang dipicu sampah plastik global, para peneliti telah mengembangkan berbagai metode untuk mengurai sampah plastik.

    Sebuah penelitian terbaru dari Northwestern University berhasil menemukan cara sederhana untuk memanfaatkan kelembapan dari udara guna mengurai sampah plastik.

    Melansir interestingengineering.com, proses mengurai sampah plastik ini dimulai dengan katalis murah yang memecah ikatan pada polietilen tereftalat (PET), plastik yang paling banyak digunakan dalam keluarga poliester.

    Setelah rusak, bahan tersebut cukup dibiarkan terkena udara sekitar untuk mengubah PET menjadi monomer, bahan penyusun utama plastik.

    Para peneliti meyakini monomer ini kemudian dapat didaur ulang atau ditingkatkan menjadi bahan yang lebih berharga.

    Teknik baru, yang lebih aman, lebih murah, dan lebih berkelanjutan daripada metode daur ulang plastik saat ini, menawarkan jalan yang menjanjikan menuju penciptaan ekonomi sirkular untuk plastik.

    Baca: Penggunaan reaksi atom untuk mengolah sampah plastik

    “Hal yang paling menarik dari penelitian kami adalah kami memanfaatkan kelembaban dari udara untuk memecah plastik, sehingga menghasilkan proses yang sangat bersih dan selektif,” kata Yosi Kratish, yang juga merupakan salah satu penulis korespondensi penelitian ini.

    Para peneliti memanfaatkan katalis molibdenum dan karbon aktif, keduanya diketahui murah, melimpah, dan tidak beracun.

    Molibdenum adalah unsur sejenis logam yang memiliki penampilan yang mirip dengan timbal atau bijih dan sering disalahartikan sebagai elemen-elemen ini pada tahun-tahun awal setelah penemuan awalnya.

    Molibdenum bukanlah logam bebas yang terbentuk secara alami dan biasanya dibeli dalam bentuk bubuk.

    Proses penguraian
    Untuk memulai prosesnya, para peneliti menggabungkan PET dengan katalis dan karbon aktif lalu memanaskan campuran tersebut.

    Lewat proses ini, plastik poliester (PET) yang terdiri dari molekul besar dengan unit berulang yang dihubungkan oleh ikatan kimia, ikatan ini putus dalam waktu singkat sehingga plastik terurai.

    Baca: Indonesia jadi pioner pengolahan sampah plastik dengan radiasi

    Berikutnya, para peneliti memaparkan materi yang terfragmentasi ke udara. Hanya dengan sedikit air, ia diubah menjadi asam tereftalat (TPA), prekursor poliester yang sangat berharga.

    Satu-satunya produk sampingan dari proses ini adalah asetaldehida, bahan kimia industri yang mudah dihilangkan dan memiliki nilai komersial.

    “Rata-rata, bahkan dalam kondisi yang relatif kering, atmosfer menyimpan sekitar 10.000 hingga 15.000 kilometer kubik air,” kata Naveen Malik, penulis pertama studi tersebut.

    “Memanfaatkan kelembapan udara memungkinkan kami menghilangkan pelarut dalam jumlah besar, mengurangi masukan energi, dan menghindari penggunaan bahan kimia agresif, sehingga menjadikan prosesnya lebih bersih dan lebih ramah lingkungan,” imbuhnya

    Kratish menyatakan bahwa sistem tersebut bekerja dengan sempurna tetapi rusak saat air ditambahkan, karena kelebihan air tersebut mengganggu fungsinya.

    Menjaga keseimbangan yang tepat sangatlah penting, dan pada akhirnya, kelembapan alami di udara menyediakan jumlah yang sempurna.

    Baca: Posisi Indonesia dalam mewujudkan Perjanjian Plastik Global