Tag: yogyakarta

  • Tradisi Nyadhong Warnai Grebeg Besar Tahun 2025 di Keraton Yogyakarta

    Tradisi Nyadhong Warnai Grebeg Besar Tahun 2025 di Keraton Yogyakarta

    7cloud.asia – Sebanyak enam gunungan hasil bumi diarak ratusan prajurit Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dalam prosesi Hajad Dalem Grebeg Besar memperingati Idul Adha Tahun Je 1958/2025, Sabtu (7/6/2025)

    Dalam prosesi pembagian gunungan ke Kompleks Kepatihan, pada tahun ini prosesi diwarnai dengan kembalinya tradisi “Nyadhong” yang selaras dengan tata cara pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VII.

    Sesuai tradisi itu, Pelaksana harian (Plh) Sekretaris Daerah (Sekda) DIY Tri Saktiyana menjemput langsung gunungan dari keraton, kemudian dibawa ke Kompleks Kepatihan dengan kawalan Bregada Bugis.

    “Dari Kepatihan yang datang ke keraton untuk ‘nyadhong’ atau meminta gunungan, lalu dibawa pulang dan dibagikan,” ujar Penghageng Kawedanan Hageng Kridhomardowo Keraton Yogyakarta KPH Notonegoro.

    Selain di Kepatihan, pembagian gunungan juga berlangsung di Masjid Gedhe Kauman, Pura Pakualaman, dan Ndalem Mangkubumen.

    Sebanyak enam gunungan tersebut diberangkatkan dari Bangsal Pancaniti, Keraton Yogyakarta, lalu diarak melewati Regol Brajanala, Sitihinggil Lor, dan Pagelaran menuju halaman Masjid Gedhe Kauman.

    Baca: Grebeg besar kirab sesaji puji jagat 

    Di lokasi itu, sebagian gunungan didoakan dan langsung dibagikan kepada masyarakat.

    Tiga gunungan lainnya didistribusikan ke Pura Pakualaman, Ndalem Mangkubumen dan Kompleks Kepatihan.

    Sebanyak 10 bregada prajurit Keraton Yogyakarta turut mengawal jalannya prosesi, yakni Wirabraja, Dhaeng, Patangpuluh, Jagakarya, Prawiratama, Ketanggung, Mantrijero, Nyutra, Bugis, dan Surakarsa.

    Bregada Bugis secara khusus mengawal jalur distribusi hingga ke titik akhir di Kepatihan, sementara dua bregada dari Pura Pakualaman, yaitu Dragunder dan Plangkir mengawal prosesi menuju Pura Pakualaman.

    Dalam prosesi kali ini, Keraton juga menampilkan rekonstruksi kehadiran prajurit putri Langenastra. Mereka tampil menari tayungan menuruni tangga Sitihinggil di belakang barisan Mantrijero saat lampah macak.

    Atraksi tersebut sebagai wujud menghidupkan kembali tradisi lama dari era kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono VII.

    Baca: Memaknai Idul Adha dengan kurban yang berkelanjutan

    “Tata cara ini mengacu pada pranatan adat lama untuk menjaga kesakralan dan kelancaran prosesi,” ujar Ketua Pelaksana Grebeg Besar 2025, KRT Kusumanegara.

    Selama rangkaian prosesi Grebeg Besar, kawasan Keraton Yogyakarta diberlakukan sebagai zona larangan terbang (no fly zone) dari permukaan tanah hingga 150 meter.

    Ketentuan ini dimaksudkan untuk menjaga kelancaran serta memberikan penghormatan terhadap jalannya Hajad Dalem tersebut.

    Berkaitan peringatan Idul Adha di lingkungan Keraton, jam operasional wisata Kedhaton ditutup selama dua hari, yakni Jumat dan Sabtu (6-7/6/2025). Sementara, wisata Tamansari dan Wahanarata hanya ditutup pada Jumat (6/6/2025).

    Tradisi Grebeg Besar Keraton Yogyakarta merupakan ritual yang digelar setiap tahun sebagai rangkaian perayaan Idul Adha. Grebeg Besar Keraton Yogyakarta sebagai simbol sedekah raja kepada rakyatnya sekaligus wujud syukur kepada Tuhan yang Maha Esa.

    “Grebeg bukan sekadar perayaan, tetapi manifestasi filosofi masyarakat Yogyakarta yang menjunjung keteraturan, hormat pada pemimpin, dan syukur atas berkah,” imbuh Notonegoro

    Baca: Wukuf dan penyerahan diri yang menjadi inti ibadah haji

  • Pemkot Yogyakarta Bangun IPAL Komunal di Pemukiman Pinggir Sungai Code

    Pemkot Yogyakarta Bangun IPAL Komunal di Pemukiman Pinggir Sungai Code

    7cloud.asia – Pemerintah Kota Yogyakarta menata kawasan permukiman di Kotabaru, khususnya di RT 18 RW 4, yang melibatkan pembangunan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) komunal serta hunian dua lantai berkonsep kluster.

    Penataan ini mengusung konsep Perumahan dan Permukiman Layak Huni (Mahananni). Selain itu juga mencakup konsolidasi lahan agar warga memiliki keamanan dalam bermukim dengan mendapatkan surat kekancingan dari Keraton Yogyakarta.

    Fokus utama kami adalah menyelesaikan permasalahan limbah dengan membangun instalasi pengolahan air limbah (IPAL) komunal dan menata rumah agar tidak kumuh.

    “Nanti akan dibuat rumah dua lantai yang dibangun dalam blok-blok atau kluster-kluster kecil yang tertata,” terang Kepala Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman Dinas PUPKP Kota Yogyakarta, Sigit Setiawan.

    Baca: Pembangunan septic tank komunal di Jakarta

    Dia menyebutkan bahwa total terdapat 32 rumah di wilayah tersebut yang selama ini limbah domestiknya langsung mengalir ke sungai.

    Selain membenahi aspek fisik rumah, program ini juga mencakup penataan infrastruktur lingkungan seperti jalan dan drainase, guna menciptakan kawasan yang lebih baik dan nyaman, serta mengurangi risiko banjir.

    Tidak hanya itu, ruang terbuka hijau dan saluran limbah yang layak akan turut dibangun untuk mendukung kualitas hidup masyarakat setempat.

    Sigit menjelaskan program ini tidak hanya bertujuan menyelesaikan persoalan limbah dan hunian, tetapi juga menghadirkan kawasan permukiman yang sehat, tertata, dan berkelanjutan.

    Baca: Penataan kawasan kumuh di Jakarta

    “Penataan dilakukan secara menyeluruh dengan membangun instalasi pengolahan air limbah (IPAL) komunal dan memperbaiki hunian warga yang selama ini berada dalam kondisi tidak layak,” kata Sigit saat ditemui di Kantornya beberapa waktu lalu.

    Lokasi penataan permukiman dari seberang sungai Code
    Untuk tahun anggaran 2025, Pemkot akan mengalokasikan dana sebesar Rp1 miliar dari APBD untuk pembangunan tujuh unit rumah.

    Selain itu, pihaknya akan mengupayakan pembangunan empat rumah tambahan, dengan kolaborasi melalui program tanggung jawab sosial lingkungan perusahaan (TSLP) atau corporate social responsibility (CSR).

    “Pembangunan akan dilakukan secara bertahap, dan kami targetkan dalam tiga tahun ke depan seluruh penataan dapat diselesaikan. Paling lambat, pembangunan fisik akan dimulai pada awal Juli 2025,” tambahnya.

  • Angka Kematian Akibat Penyakit Leptospirosis Meningkat, Pemerintah Kota Yogyakarta Galakkan Pembersihan Lingkungan

    Angka Kematian Akibat Penyakit Leptospirosis Meningkat, Pemerintah Kota Yogyakarta Galakkan Pembersihan Lingkungan

    7cloud.asia – Menyikapi kematian yang dipicu Leptospirosis Pemerintah Kota Yogyakarta telah menerbitkan Surat Edaran Wali Kota Nomor 100.3.4 / 2407 Tahun 2025 Tentang Kewaspadaan Kejadian Leptospirosis dan Hantavirus.

    Kebijakan ini sebagai bentuk penguatan kewaspadaan dan pengendalian penyakit Leptospirosis yang penularannya dipicu tikus tersebut.

    Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, hingga 9 Juli 2025 telah tercatat 19 kasus leptospirosis, dengan enam di antaranya meninggal dunia.

    Angka tersebut menunjukkan case fatality rate (CFR) sebesar 31 persen, atau meningkat jika dibandingkan tahun 2024, yang mencatatkan 10 kasus dengan 2 kematian, CFR nya sebesar 20 persen.

    Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Yogyakarta, Lana Unwanah mengatakan, salah satu upaya kami adalah akan melakukan sinergi antar OPD agar kasus tidak terus bertambah.

    “Kita nantinya juga melibatkan Dinas Perdagangan karena bahkan di pasar-pasar banyak barang-barang bertumpuk yang berpotensi menjadi sarang tikus,” ujar dalam jumpa pers di Kantor Diskominfosan, Kamis (10/7/2025).

    Baca: Mengenal apa itu Leptospirosis

    Ia menambahkan, kasus terakhir yang meninggal di Kota Yogyakarta merupakan seorang pekerja bengkel mengalami gejala demam pada tanggal 30 Juni 2025, kemudian meninggal dunia pada 8 Juli 2025 setelah sempat dirawat di rumah sakit.

    Namun aktivitas lain yang menyebabkan pasien menderita Leptospirosis sedang dalam proses penyelidikan lanjutan oleh pakar epidemiologi.

    Lana mengimbau masyarakat, jika mengalami gejala seperti demam lebih dari 38 derajat Celcius, disertai sakit kepala, nyeri otot nafas dan tubuh terasa lesu/lemas, maka segera ke fasilitas kesehatan terdekat.

    Selain Leptospirosis warga kota Yogyakarta juga diminta waspada terhadap kasus hantavirus. Walaupun masih jarang ditemukan, Pemkot Yogyakarta tetap meningkatkan kewaspadaan.

    “Gejalanya mirip dengan Leptospirosis seperti demam dan gangguan pernapasan. Hantavirus ditularkan melalui debu atau kontak dengan kotoran hewan terinfeksi. Penggunaan masker dan menjaga kebersihan menjadi langkah pencegahan utama,” imbuh Lana.

    Menurutnya, program Rumah Tidak Layak Huni yang digaungkan Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo juga sebagai salah satu upaya mencegah penyebaran bakteri Leptospirosis.

    Baca: Sejumlah penyakit yang sering muncul pascabanjir

    Pemerintah Kota Yogyakarta juga menggandeng lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk melakukan langkah cepat dalam memutus mata rantai penyakit Leptospirosis di Kota Yogyakarta.

    Dinas Kesehatan telah melakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE) pada kasus yang menyebabkan kematian serta melakukan desinfeksi lingkungan bersama Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta.

    Banyak kasus terjadi disebabkan lingkungan rumah yang masih ada sampah terbuka serta kondisi rumah yang kurang layak.

    Untuk itu, Dinas Kesehatan akan menggandeng Dinas Lingkungan Hidup dan dinas terkait lainnya agar penyakit yang ditularkan oleh tikus ini bisa ditekan.

    “Memang ada kenaikan yang cukup memprihatinkan. Kasus kematian cukup tinggi. Leptospirosis ini ditularkan dari hewan, terutama tikus, ke manusia melalui luka terbuka,” jelas

    Selain itu, Dinkes juga akan melakukan peningkatan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat, terutama kepada kelompok berisiko seperti petani, dan pekerja perkebunan, petugas kebersihan, aktivitas lain yang berhubungan dengan genangan air dan rekreasi air.

    Baca: Perubahan iklim mendorong penyebaran penyakit menular

  • Cegah Anak Stunting, Pemerintah Kota Yogyakarta Lakukan Intervensi pada Calon Pengantin

    Cegah Anak Stunting, Pemerintah Kota Yogyakarta Lakukan Intervensi pada Calon Pengantin

    7cloud.asia – Pemerintah Kota Yogyakarta melakukan intervensi kepada calon pengantin, ibu hamil, ibu bersalin dan bayi di bawah dua tahun (baduta) sebagai penguatan upaya pencegahan stunting.

    Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menyatakan, upaya pencegahan dilakukan dengan deteksi dini dan pendampingan bagi kelompok sasaran melalui Tim Pendamping Keluarga di tiap Kelurahan.

    Hasto menegaskan, data itu menjadi sangat penting, apalagi data stunting ini harus diperbarui secara rutin untuk tahu angka real time berapa dan siapa saja yang berisiko stunting.

    “Bukan hanya baduta saja tapi mencegah sejak dari awal ya dari calon pengantin, berapa yang sehat, anemia, kurang energi kronis (KEK) begitu juga dengan ibu hamil,” ujarnya pada Jumat (11/7/2025) dilansir jogjakota.go.id.

    Baca: Faktor sosioekonomi sumbang risiko stunting

    Untuk itu, lanjut Hasto, pihaknya memberdayakan Tim Pendamping Keluarga di tingkat kelurahan termasuk bidan yang dikerahkan dalam program satu kampung satu bidan.

    Para bidan ini wajib secara intens memantau perkembangan kelompok sasaran pencegahan stunting by name by address.

    “Dinas Kesehatan, DP3AP2KB, Puskesmas, Kemantren, Kelurahan, dan perangkat daerah terkait harus diperkuat koordinasinya supaya kelompok sasaran bisa diintervensi I sebelum terjadi stunting. Termasuk kaitannya dengan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) tepat sasaran,” terangnya.

    Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Emma Rahmi Aryani menjelaskan, per 7 Juli 2025 pihaknya telah mengintervensi 545 calon pengantin (catin) yang berdomisili di Kota Yogyakarta.

    Baca: Infrastruktur, layanan air dan sanitasi lingkungan pengaruhi risiko stunting

    Dari angka tersebut, 518 calon pengantin (catin) terpantau dalam kondisi sehat, 13 catin kurang energi kronis (KEK), 8 catin mengalami anemia, dan 5 catin terpantau KEK plus anemia.

    “Intervensi untuk 26  calon pengantin berisiko dilakukan dengan PMT dan atau tablet tambah darah selama tiga bulan, yang mana setiap bulan akan dipantau perkembangannya,” jelasnya.

    Sementara itu Sekretaris DP3AP2KB Kota Yogyakarta, Sarmin mengatakan per Juli 2025 ada 9 ibu hamil, 443 baduta dan 161 keluarga baru yang masuk dalam kategori Keluarga Berisiko Stunting.

    “Keluarga Berisiko Stunting tersebut diintervensi dengan PMT yang berasal dari dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK), Dana Keistimewaan (Danais) dan BKKBN,” katanya.

    Adapun prevalensi stunting di Kota Yogyakarta terus mengalami penurunan, pada tahun 2024 berada di angka 14,8 persen turun 2 persen dibandingkan tahun 2023 yang sebesar 16,8 persen.

  • Cara Kota Yogyakarta Menangani Kondisi Darurat Sampah

    Cara Kota Yogyakarta Menangani Kondisi Darurat Sampah

    7cloud.asia – Masalah darurat sampah yang dialami Kota Yogyakarta beberapa waktu terakhir secara bertahap mulai teratasi.

    Hal ini tak lepas dari keberadaan beberapa Unit Pengolahan Sampah yang dikelola Pemkot Yogyakarta yaitu Nitikan, Kranon, Karangmiri, Sitimulyo, Giwangan dan Tompeyan.

    Salah satu andalan Kota Yogyakarta adalah TPS3R Nitikan yang merupakan unit pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang telah beroperasi sejak tahun 2022.

    Dilansir yogyakarta.goid, setiap harinya, TPS3R Nitikan mampu menangani hingga 75 ton sampah dari wilayah di sekitarnya.

    Saat memimpin rapat koordinasi penanganan sampah secara rutin pada April lalu, Walikota Yogyakarta Hasto Wardoyo optimis, pihaknya dapat mengelola sampah real time karena potensi pengolahan sampah sudah lebih dari potensi sampah mingguan.

    Dalam rapat itu dipaparkan potensi sampah mingguan di kota Yogyakarta sekitar 1.423 ton. Sedangkan potensi pengolahan sampah mingguan per 15 April 2025 mencapai 1.650 ton/minggu.

    Baca: Peta jalan pengelolaan sampah di Kota Yogyakarta

    Pengolahan sampah dengan metode mesin gibrig menjadi refuse derived fuel (RDF) dan termal atau insinerator. Selain itu Pemkot Yogyakarta juga bekerja sama dengan sejumlah mitra pengelola.

    Meskipun secara matematis, pengolahan sampah real time dapat dilakukan, Hasto berpesan untuk tetap mengawal dan mencermati pelaksanaan di lapangan.

    Hal itu untuk memastikan rantai pengangkutan dan pengolahan sampah lancar. Jika kurang, truknya ditambah dan waktu pengangkutan dari depo juga harus diperhatikan agar tidak terlambat.

    “Secara matematis bisa. Cuma saya pesan supaya dikawal betul. Meskipun bisa harus memberikan layanan yang nyaman. Contohnya seperti truk tidak terlambat, sehingga warga merasa tidak terganggu,” tegas Hasto

    Sementara, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta Agus Tri Haryono menyebut kondisi 14 depo dalam posisi kosong dari tumpukan sampah. Sedangkan 31 TPS semua sudah ditutup dan 17 TPS di antaranya sudah dibongkar.

    Diakuinya masih ada TPS yang sebelumnya sudah dikosongkan tapi muncul sampah baru yaitu di TPS Sisingamaraja. Untuk mengatasi itu dilayani kontainer khusus dari personel depo sampah di THR Jalan Brigjen Katamso.

    Baca: Pemprov DIY tutup TPA Piyungan per April 2024

    Adapun jumlah transporter atau penggerobak sampah yang mengangkut sampah ke depo ada 1.130 orang, dengan peta assessment dari 45 lurah menyatakan jumlah penggerobak cukup melayani warga dan gerobak tersedia.

    Untuk jumlah kelurahan yang berstatus hijau ada 25 kelurahan dan berwarna kuning 20 kelurahan.

    Status hijau berarti kelurahan dalam pengelolaan sampah tidak ada masalah atau sudah baik. Untuk kelurahan berwarna kuning berarti masih ada persoalan seperti pembuangan sampah di luar depo.

    Anggota Komisi XII DPR, Meitri Citra Wardani, saat mengunjungi RDF Nitikan menegaskan pentingnya memaksimalkan inovasi pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif.

    “Unit ini menjadi bagian dari upaya strategis pemerintah daerah bersama masyarakat dalam mengelola sampah secara lebih efisien dan ramah lingkungan,” ujar Meitri dikutip Parlementaria usai mengikuti kunjungan kerja spesifik Komisi XII DPR ke DIY, Sabtu (19/7/2025).

    Ia mengapresiasi kehadiran fasilitas RDF di TPS3R Nitikan yang dinilai sebagai terobosan penting untuk mengatasi sampah-sampah yang sulit didaur ulang, seperti plastik dan kertas.

    “Inovasi RDF di TPS3R Nitikan merupakan hal yang potensial dalam pengolahan sampah di masyarakat. Terutama sampah yang sulit didaur ulang seperti plastik, hasilnya bahkan bisa menjadi alternatif bahan bakar,” jelasnya.

    Baca: Pengelolaan sampah berbayar jadi opsi penanganan darurat sampah di Kota Yogyakarta 

  • Akademi Sekolah Lestari Ciptakan Generasi Peduli Lingkungan

    Akademi Sekolah Lestari Ciptakan Generasi Peduli Lingkungan

    7cloud.asia – Kompas Gramedia dan Unilever Indonesia berkolaborasi menggelar program Akademi Sekolah Lestari (ASRI) untuk mendukung upaya mengatasi persoalan sampah dan pengelolaan lingkungan di Indonesia.

    Dimulai dari SMAN 3 Yogyakarta, Program ASRI berfokus pada tiga isu krusial seperti pengelolaan sampah, konservasi alam, dan kesehatan fisik.

    Melalui berbagai aktivitas seperti roadshow ke sekolah-sekolah, e-learning dan mentoring daring, kompetisi proyek, serta Grand Awarding ASRI Awards, program ASRI bertujuan menciptakan kesadaran dan aksi nyata kaum muda untuk lingkungan.

    Kegiatan ASRI ini juga mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Pendidikan dan Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta.

    Baca: UNESCO luncurkan pedoman kurikulum hijau

    “Kita harus bisa mengolah sampah dari hulu ke hilir. Sampah organik bisa dijadikan kompos, sedangkan yang anorganik bisa didaur ulang atau dijual,” jelas Kepala Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, Budi Asrori di sela acara Roadshow ASRI by Kompas Gramedia di SMAN 3 Yogyakarta, Rabu (30/7/2025).

    Ia menekankan pentingnya edukasi pemilahan sampah di lingkungan sekolah. Program ASRI yang dikenalkan lewat roadshow ini melibatkan lebih dari 100 sekolah di DIY dengan peserta 400 siswa.

    Sementara itu, Project Lead ASRI Menyapa, Arki Sudito menyampaikan, program ini akan berjalan melalui platform digital lestariakademi.id, di mana tersedia delapan kursus interaktif bagi guru dan murid.

    “Kontennya dirancang ringan dan menarik, seperti format reels atau video singkat, agar siswa mudah memahami prinsip keberlanjutan tanpa merasa terbebani,” jelas Arki.

    Baca: Ganjar Pranowo usulkan isu lingkungan dan perubahan iklim masuk kurikulum

    Ia menambahkan, setiap kursus akan diakhiri dengan aksi nyata berupa proyek yang bisa didaftarkan untuk kompetisi nasional.

    Dengan target menjangkau 3.500 sekolah dan 200.000 siswa-guru di seluruh Indonesia, ASRI diharapkan dapat mencetak Generasi Emas 2045 yang peduli lingkungan dan berdaya saing tinggi.

    Program ASRI ini juga diharapkan dapat mendukung Gerakan Sekolah Sehat.

    Saat ditemui, salah satu siswi SMA 3, Hemagita Maharani (XII-7), juga mengungkapkan antusiasmenya terhadap program ASRI.

    “Di sekolah kami sudah ada program pemilahan sampah dan greenhouse. Harapannya semoga program seperti ASRI ini semakin sering hadir agar lebih banyak yang peduli lingkungan,” katanya.

  • Jaringan Kota Pusaka Indonesia Perkenalkan Sumbu Filosofi

    Jaringan Kota Pusaka Indonesia Perkenalkan Sumbu Filosofi

    7cloud.asia – Rangkaian kegiatan Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) 2025 di Kota Yogyakarta tidak hanya menjadi ajang untuk memperkenalkan kekayaan budaya lokal

    Jaringan Kota Pusaka Indonesia juga menjadi sarana edukasi dan pengalaman langsung bagi para Kepala Daerah dari seluruh Indonesia mengenai warisan budaya dunia yang ada di Kota Yogyakarta, salah satunya Sumbu Filosofi Yogyakarta.

    Melalui agenda Fun Bike and City Tour JKPI 2025 pada Kamis (7/8/2025), puluhan peserta diajak bersepeda menyusuri jalur Sumbu Filosofi.

    Dimulai dari Hotel Tentrem Yogyakarta peserta diajak menyusuri sejumlah titik di jalur Sumbu Filosofi, seperti landmark ikonik seperti Tugu Yogyakarta, Jalan Malioboro, dan Kraton Yogyakarta.

    Jalur ini bukan hanya sekadar rute wisata, tetapi juga memiliki makna filosofis mendalam yang menghubungkan aspek kosmologis, budaya, dan spiritual masyarakat Yogyakarta.

    Baca: UNESCO akui Sumbu Filosofi Yogyakarta jadi Warisan Budaya Dunia

    Sumbu Filosofi Yogyakarta sendiri telah resmi diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia pada tahun 2023.

    “Ya, kita ingin mengenalkan pada mereka bahwa Jogja ini punya yang namanya sumbu filosofi. Banyak juga dari peserta yang bertanya, ‘Mana sih sumbu filosofi? Nah, dengan fun bike ini, mereka bisa melihat dan merasakan langsung maknanya,” jelas wali kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo dikutip jogjakarta.go.id

    Hasto menambahkan, kegiatan fun bike ini juga membuka wacana baru mengenai pentingnya budaya bersepeda di Yogyakarta. Hasto menambahkan, budaya bersepeda akan menjadi bagian dari strategi pembangunan kota yang berkelanjutan nantinya.

    Gerakan ini terinspirasi oleh gerakan “Sego Segawe” (sepeda kanggo sekolah lan nyambut gawe) yang pernah diinisiasi oleh Wali Kota Yogyakarta sebelumnya.

    “Saya itu jujur mengapresiasi ide dari program Sego Segawe. Saya ini baru akan merencanakan, mungkin nanti di Hari Jadi Kota Yogyakarta bisa kita jadikan momentum untuk menghidupkan budaya bersepeda,” ujarnya.

    Baca: Kawasan Malioboro ditataulang sesuai maknanya dalam Sumbu Filosofi Yogyakarta

    Hasto tidak ingin gerakan ini hanya bersifat euforia sesaat. “Saya ingin merealisasikannya secara bertahap dan berkelanjutan. Supaya tidak cepat hilang. Kita harus pikir strategi yang matang,” tambahnya.

    Jaringan Kota Pusaka Indonesia merupakan sebuah jaringan antarkota di Indonesia yang saat ini beranggotakan 33 (tiga puluh tiga) kota di Indonesia.

    Jaringan Kota Pusaka Indonesia didirikan pada 2005 dengan tujuan menjaga kelestarian benda cagar budaya (BCB) peninggalan sejarah di Indonesia.

    Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) Jero Wacik, pada saat deklarasi mengatakan Jaringan Kota Pusaka Indonesia sangat penting dalam upaya sosialisasi peraturan perundang-undangan tentang perlindungan benda cagar budaya (BCB)

    Kepala Bidang Destinasi dan Industri Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Belitung Timur, Wiwik Lestari, menilai pelaksanaan JKPI sangat bermanfaat bagi penguatan sektor pariwisata.

    Dia berharap JKPI tetap digelar setiap tahun. Selain sebagai ajang pertemuan antar daerah, kegiatan ini juga membangkitkan pariwisata di kota tuan rumah.

    ”Kegiatan fun bike ini sangat mendukung pelaksanaan JKPI karena menghidupkan spot pariwisata di daerah,” ujarnya.

    Baca: Makna Sumbu Filosofi dalam tata kota Yogyakarta

  • Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta Bakal Tambah Floating Trash Barrier

    Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta Bakal Tambah Floating Trash Barrier

    7cloud.asia – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta akan menambah pemasangan floating trash barrier atau alat penghadang sampah di sejumlah sungai.

    Setidaknya 7 trash barrier akan dipasang di empat sungai di Kota Yogyakarta. Penambahan pemasangan trash barrier untuk mempercepat dan pembersihan sampah di sejumlah sungai di kota itu.

    “Rencana penambahan trash barrier ada tujuh titik,” kata Kepala Bidang Perencanaan dan Pengendalian Lingkungan Hidup DLH Kota Yogyakarta Very Tri Jatmiko, dilansir yogyakarta.go.id Jumat (29/8/2025).

    Dia menyatakan penambahan 7 trash barierr akan dipasang di Sungai Winongo, Code, Manunggal dan Gajah Wong. Pengadaan tambahan trash barrier akan menggunakan anggaran APBD Perubahan 2025 dengan alokasi sekitar Rp100 juta.

    “Penambahannya di APBD Perubahan. Insya Allah (realisasi tambahan trash barierr) di November,” ujarnya.

    Baca: Kota Yogyakarta belum punya peta jalan pengelolaan sampah

    Sebelumnya 4 trash barrier sudah dipasang di Sungai Code dan Winongo. Trash barrier tersebut dipasang di hulu dan hilir sungai.

    Very menyampaikan rencananya penambahan trash barierr juga akan dipasang hulu dan hilir sungai. Terutama yang selama ini belum dipasangi trash barrier.

    Adapun fungsi trash barrier untuk menangkap sampah di aliran sungai agar tidak menyebar di sepanjang badan sungai. Menurutnya pemasangan trash barrier mempermudah dan mempercepat pembersihan sampah di sungai oleh petugas pembersih sungai atau ulu-ulu.

    “Penambahan pemasangan trash barrier bisa mempercepat pembersihan sampah di sungai. Jadi lebih efektif dan efisien, karena sampah terjaring di trash barrier,” terang Very.

    Sementara itu Ketua Pemerti Code, Totok Pratopo menilai pemasangan trash barrier di Sungai Code membantu menjaring dan memudahkan pembersihan ampah di sungai.

    Baca: Cara Kota Yogyakarta menangani kondisi darurat sampah

    Meskipun diakuinya belum sempurna karena jika aliran sungai meningkat dan deras sampah bisa lolos di bawahnya.

    “Tapi saya kira kita perlu apresiasi langkah Dinas Lingkungan Hidup yang memasang trash barrier. Hanya nanti perlu dipikirkan ketika terjadi banjir masih bisa menangkap sampah,” papar Totok ditemui saat bersih-bersih Sungai Code belum lama ini.

    Selain itu Totok mengutarakan ulu- ulu juga kesulitan saat mengangkut sampah yang diambil dari trash barierr di aliran Sungai Code yang dipasang di Jetisharjo.

    Mengingat aksesnya dari sungai ke atas bantaran talud masih belum cukup. Oleh sebab itu pihaknya akan mengusulkan tempat untuk menaruh kantong sampah dan membawa ke atas lebih mudah.

    Baca: Pemprov DIY tutup TPA Piyungan per April 2024

     

  • Sepertiga Produksi Sampah di Kota Yogyakarta Belum Tertangani

    Sepertiga Produksi Sampah di Kota Yogyakarta Belum Tertangani

    7cloud.asia – Pasca penutupan tempat pembuangan akhir atau TPA Piyungan, permasalahan sampah di Kota Yogyakarta belum sepenuhnya tertangani.

    Menurut data Dinas Lingkungan Hidup Daerah Istimewa Yogyakarta, setiap hari produksi sampah mencapai 290 ton. Dan, yang tertangani baru sekitar 190 ton, sisanya yang hampir 100 ton yang masih jadi permasalahan.

    Untuk itu Pemerintah kota Yogyakarta mengajak masyarakat agar turut terlibat dalam penanganan sampah, dimulai dengan memilah kemudian mengolah sampah dari rumah.

    Pemerintah Kota Yogyakarta terus mendorong Gerakan Masyarakat Jogja Olah Sampah (Mas Jos) agar diimplementasikan di tingkat rumah tangga juga unit masyarakat yang lain termasuk sekolah.

    Salah satunya seperti yang diterapkan di SD Muhammadiyah Sagan yang turut menggerakkan guru dan para siswa untuk menekan volume sampah yang dibawa ke Depo.

    Baca: TPA Piyungan per April 2024

    Lewat gerakan Ratu Melisa (radius satu meter lihat sampah ambil) para siswa dibiasakan untuk mengelola sampah di sekitarnya. Para siswa juga diedukasi untuk mengelola sampah organik menggunakan metode komposting.

    Dilansir jogjakarta.go.id, Kepala SD Muhammadiyah Sagan Suwarjo mengatakan, pemilahan sampah menjadi pembiasaan bagi seluruh guru dan murid, karena sudah disediakan empat tempat sampah sesuai jenisnya.

    Dia berharap, praktik baik tidak hanya dilakukan di sekolah tapi juga diterapkan di rumah. 

    Suwarjo menjelaskan, sampah dipilah dari hulu. Untuk jenis plastik dikumpulkan di SMP Muhammadiyah 10 yang ada pengepul yang membeli, kemudian kardus dan kertas dibawa ke bank sampah RW.

    Baca: Gerakan Mbah Dirjo untuk atasi masalah sampah di Kota Yogyakarta

    “Sementara sampah organik sisa makanan akan diambil oleh penjaga sekolah yang punya ternak ayam dan bebek,” katanya.

    Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo dalam Temu Alumni di SD Muhammadiyah Sagan, Sabtu (6/9/2025) menyampaikan apresiasi atas inisiatif serta langkah konkret yang dilakukan SD Muhammadiyah Sagan terkait Gerakan MAS Jos.

    Hasto menyatakan, komitmen SD Muhammadiyah Sagan untuk menekan sampah yang dibawa ke Depo, dengan mengolah sampahnya secara mandiri dapat menjadi praktik baik juga contoh bagi sekolah lain baik negeri maupun swasta.

    “Kita sebagai individu juga harus punya kesadaran dan kepedulian pada pengelolaan sampah, untuk itu mari kita gotong royong menuntaskan masalah sampah, agar lingkungan kita makin bersih, sehat dan nyaman,” ajaknya.

  • Darurat Sampah di Kota Yogyakarta Belum Sepenuhnya Teratasi, Apa yang Dilakukan Pemkot?

    Darurat Sampah di Kota Yogyakarta Belum Sepenuhnya Teratasi, Apa yang Dilakukan Pemkot?

    7cloud.asia – Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta menghadapi persoalan serius dengan menumpuknya ribuan ton sampah di sejumlah depo kota.

    Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta, Rajwan Taufiq menegaskan, dibutuhkan langkah darurat sekaligus strategi jangka panjang dalam menangani masalah sampah ini

    Ia menjelaskan, hampir seluruh depo penampungan sampah di Kota Yogyakarta dalam kondisi nyaris overload atau kelebihan kapasitas.

    “Kami segera koordinasi dengan DLHK Provinsi, agar penanganan sampah bisa lebih terintegrasi,” kata Rajwan, Jumat (12/9/2025) seperti dilansir rri.com

    Diungkapkan, kuota pembuangan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan juga terbatas, hingga Desember 2025, Kota Yogyakarta hanya dijatah maksimal 2.400 ton.

    Baca: Sepertiga produksi sampah di Kota Yogyakarta belum tertangani

    Artinya, setiap bulan hanya sekitar 600 ton sampah dari Kota Yogyakarta yang bisa dibuang ke TPA Piyungan.

    “Padahal sampah di depo sudah sekitar 2.000 ton, sementara produksi harian mencapai 260 ton, bahkan naik menjadi 300 ton saat libur,” jelas Rajwan.

    Kondisi ini, lanjutnya, membuat Yogyakarta harus menekan timbulan sampah dari sumbernya. Karena itu, ia menekankan, pentingnya partisipasi warga dalam mengelola sampah rumah tangga, terutama sampah organik yang mencapai 60 persen

    Jika sampah organik ini diolah masyarakat baik menjadi maggot ataupun kompos, ujarnya, maka beban depo akan berkurang signifikan.

    Baca: Pemerintah Kota Yogyakarta dorong pembuatan biopori untuk atasi masalah sampah

    Ditambahkan, strategi pengurangan sampah di Kota Yogyakarta harus berjalan paralel dengan pengelolaan jangka panjang.

    “Kolaborasi Pemkot, Pemprov, dan masyarakat menjadi kunci agar Yogyakarta tidak lagi terjebak dalam siklus krisis sampah,” ujarnya.

    Darurat sampah di Kota Yogyakarta makin terasa setelah TPA Piyungan ditutup pada 2023 lalu karena sudah melebihi kapasitas yang ditentukan.

    TPA Piyungan dirancang untuk menampung 650 ton sampah per hari, namun volume sampah dari Yogyakarta, Bantul, dan Sleman sering melebihi angka tersebut. Data tahun 2022 menunjukkan bahwa volume sampah mencapai rata-rata 747 ton per hari.

    Penutupan TPA Piyungan di Bantul Yogyakarta sejak 23 Juli 2023 mengakibatkan masalah sampah yang semakin tidak terkendali, mencerminkan ketidakmampuan dalam pengelolaan sampah meski regulasi sudah ada.