Tag: lingkungan

  • Simak Cara Pegiat Lingkungan Asal Texas Menyelidiki Bagaimana Penanganan Sampah Plastik di Kotanya

    Simak Cara Pegiat Lingkungan Asal Texas Menyelidiki Bagaimana Penanganan Sampah Plastik di Kotanya

    7cloud.asia – Pegiat lingkungan asal Texas yang penasaran dengan komitmen daur ulang kotanya, memasukkan AirTag ke dalam sampah plastik yang dia buang untuk melihat apa yang terjadi pada plastik tersebut setelah diambil.

    Kecurigaan Brandy Deason bahwa sampah plastik yang terkumpul di kotanya, Texas tidak didaur-ulang akhirnya terkonfirmasi.

    Brandy Deason, koordinator keadilan iklim untuk Air Alliance Houston—sebuah organisasi nirlaba yang bertujuan mengurangi dampak polusi udara terhadap kesehatan masyarakat—mengatakan, dia khawatir dengan program “daur ulang bahan kimia” baru di Houston.

    Program tersebut mencantumkan jenis plastik tertentu yang sulit didaur ulang seperti Styrofoam, dapat diterima.

    “Orang-orang sangat peduli, dan mereka melakukan banyak hal untuk mencoba memilah [barang daur ulang],” kata Deason kepada Newsweek pada Senin (2/9/2024).

    Baca: Penanganan sampah plastik harusnya dimulai dari hulunya

    “Ini bukan masalah kesalahan kami. Ini masalah kelebihan produksi barang-barang yang diketahui tidak dapat didaur ulang di industri plastik.” imbuhnya.

    Investigasi Deason yang mendukung AirTag menemukan bahwa hampir setiap tas yang dia masukkan pelacak akhirnya mengiriminya pesan dari bisnis penanganan limbah 20 mil barat laut pusat kota Houston bernama Wright Waste Management.

    Perusahaan, yang disebut-sebut sebagai pendaur ulang karton, berupaya untuk beroperasi sebagai pendaur ulang plastik dan “sampah padat” tahun lalu

    Perusahaan ini merupakan bagian dari inisiatif daur ulang yang diluncurkan pada tahun 2022 yang berupaya menjadi model nasional untuk daur ulang plastik tingkat lanjut.

    Namun permohonan Wright untuk mendaur ulang plastik masih ditinjau hampir dua tahun kemudian, dan plastiknya pun semakin menumpuk.

    Sebagai bagian dari investigasi bersama antara CBS News dan Inside Climate News, Deason pergi ke fasilitas Wright untuk melihat secara langsung kemajuan inisiatif dua tahun ini.

    Baca: Saset Produk FMCG jadi penyumbang terbesar sampah plastik

    Dari total 12 AirTag yang ditempatkan di kantong daur ulang terpisah, sembilan di antaranya berakhir di Wright.

    Video drone CBS menunjukkan tumpukan sampah plastik yang belum diolah menumpuk setinggi lebih dari 10 kaki atau sekitar 3 meter di fasilitas pengelolaan sampah.

    Ketika video tersebut diperlihatkan dan diberi tahu bahwa permohonan Wright untuk mengolah plastik masih belum disetujui oleh regulator lingkungan hidup negara bagian.

    Pejabat tinggi limbah padat Houston, Mark Wilfalk, mengatakan bahwa dia terkejut namun plastik masih lebih baik di fasilitas Wright daripada di tempat pembuangan sampah.

    Newsweek menghubungi Wright Waste Management dan Kantor Ketahanan dan Keberlanjutan Houston melalui email untuk memberikan komentar pada Senin pagi.

    Wilfalk juga mengakui Houston telah mengumpulkan 250 ton sampah plastik sejak akhir tahun 2022, belum ada satupun yang didaur ulang.

  • Seperti Ini Dampak Kenaikan Suhu Bumi hingga 2°C pada Pola Cuaca

    Seperti Ini Dampak Kenaikan Suhu Bumi hingga 2°C pada Pola Cuaca

    7cloud.asia – Menurut Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA), kenaikan suhu bumi sejauh ini telah mencapai 1,2°C, dan banyak proyeksi yang menunjukkan bahwa kita “sedang dalam perjalanan” menuju suhu 2°C.

    Jika suhu Bumi lebih hangat 2°C akan menjadikannya dunia dengan perubahan dan perbedaan kondisi lingkungan yang sangat besar.

    Menurut Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), daratan akan lebih panas dibandingkan lautan dan Arktik akan memanas 2-3 kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global.

    Beberapa perubahan suhu bumi dalam skenario 2°C antara lain:
    – Gelombang panas yang lebih sering dan lebih intens terjadi di daerah tropis.
    – Lebih sedikit suhu dingin di daerah lintang tinggi atau subtropis.
    – Siang dan malam yang lebih hangat secara global.
    – Lebih banyak variabilitas suhu di beberapa daerah, yang akan menyebabkan cuaca lebih tidak menentu.

    Perubahan suhu Bumi ini akan berdampak pada berbagai aspek ekosistem Bumi, mulai dari pola cuaca hingga ekosistem darat dan perairan.

    Baca: Ini yang terjadi pada kehidupan jika pemanasan global mencapai 2°C

    Cuaca Ekstrem
    Salah satu dampak paling nyata dari pemanasan 2°C adalah meningkatnya frekuensi dan intensitas kejadian cuaca ekstrem.

    Peristiwa-peristiwa ini dapat menimbulkan dampak buruk terhadap masyarakat, infrastruktur, dan lingkungan.

    Gelombang panas
    Gelombang panas akan menjadi lebih umum, lebih intens, dan bertahan lebih lama di dunia yang suhunya lebih hangat 2°C.

    Penelitian menunjukkan bahwa kemungkinan terjadinya gelombang panas seperti yang melanda Eropa pada tahun 2003, yang menyebabkan lebih dari 30.000 kematian, akan meningkat dari setiap 100 tahun sekali menjadi setiap 4 tahun pada suhu pemanasan 2°C.

    Daerah-daerah yang sudah rentan terhadap suhu tinggi, seperti Timur Tengah dan Afrika Utara, akan mengalami “gelombang panas super” dengan suhu melebihi 50°C (122°F).

    Hal ini akan membuat beberapa wilayah berpotensi tidak dapat dihuni jika tidak dilakukan upaya adaptasi yang signifikan.

    Baca: Perubahan iklim dan pemanasan global mengancam sektor pariwisata

    Sebuah studi pada bulan Oktober 2023 memperingatkan bahwa tingkat panas dan kelembapan akan mencapai tingkat yang mematikan selama berjam-jam, berhari-hari, dan bahkan berminggu-minggu di beberapa bagian dunia pada akhir abad ini – bahkan di bawah suhu pemanasan 2°C – sehingga mustahil untuk tetap berada di luar ruangan.

    Kekeringan
    Kekeringan akan semakin sering terjadi dan semakin parah di banyak belahan dunia. IPCC memproyeksikan luas daratan global yang terkena bencana kekeringan akan meningkat sebesar 50% untuk 2°C dibandingkan 1,5°C.

    Wilayah Mediterania, Afrika bagian selatan, dan sebagian Australia serta Amerika Selatan akan terkena dampak paling parah.

    Selain mempengaruhi sumber daya air, kekeringan yang parah dan berkepanjangan akan menghancurkan tanaman pangan dan menyebabkan tingginya angka kematian ternak, sehingga menyebabkan kerawanan pangan.

    Banjir
    Meskipun beberapa wilayah akan menjadi lebih kering, wilayah lainnya akan mengalami lebih banyak banjir.

    Dengan pemanasan sebesar 2°C, IPCC memperkirakan bahwa populasi global yang terpapar banjir sungai akan meningkat hingga 170persen dibandingkan dengan skenario 1,5°C.

    Curah hujan lebat akan menjadi lebih intens dan sering terjadi di banyak wilayah, khususnya di wilayah lintang tinggi dan di daerah tropis.

    Peningkatan curah hujan ekstrem ini akan menyebabkan lebih banyak banjir bandang dan banjir perkotaan.

    Baca: Cara kota-kota di dunia hadapi pemanasan global

    Siklon Tropis
    Meskipun jumlah total siklon tropis mungkin tidak banyak berubah, intensitasnya akan lebih besar.

    Studi menunjukkan bahwa dalam skenario 2°C, proporsi badai Kategori 4 dan 5 akan meningkat sebesar 13persen dan intensitas rata-rata sebesar 5persen.

    Badai yang lebih dahsyat akan membawa angin yang lebih kencang, curah hujan yang lebih banyak, dan gelombang badai yang lebih tinggi, sehingga membahayakan masyarakat dan infrastruktur pesisir.

    Sumber:earth.org

  • Kemenko Marves: Nilai Ekonomi Hutan Mangrove Capai 900 Juta Dolar

    Kemenko Marves: Nilai Ekonomi Hutan Mangrove Capai 900 Juta Dolar

    7cloud.asia – Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) menyebut, peningkatan luasan hutan mangrove Indonesia tidak hanya berdampak kepada lingkungan hidup tapi juga ekonomi.

    Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan Kemenko Marves Nani Hendiarti mengatakan berdasarkan data pada 2023 terdapat 3,44 juta hektare ekosistem mangrove tersebar di Indonesia.

    Diharapkan, ke depan, angka ini dapat meningkat menjadi 3,5 juta hektare atau 23 persen dari luas area dunia pada tahun 2024 ini.

    Hutan mangrove diketahui bisa menjadi barier atau penahan abrasi dan mencegah turunnya muka air tanah.

    Fungsi ekologis hutan mangrove adalah sebagai habitat binatang laut untuk berlindung, mencari makan, dan berkembang biak, serta melindungi pantai dari abrasi air laut.

    Baca: BRIN sebut butuh waktu ratusan tahun untuk rehabilitasi hutan mangrove yang rusak

    Hutan mangrove juga berguna untuk meminimalkan dampak tsunami, mengurangi polusi lewat kemampuan sekuestrasi dengan menyerap karbondioksida (CO2) dan memproduksi oksigen (O2).

    Ada juga dan juga menyimpan karbon dalam kerimbunan hutan mangrove yang memiliki kemampuan 5 sampai 8 kali kemampuan hutan tropis.

    “Itu berarti Indonesia memiliki potensi nilai ekonomi, yang bisa mencapai lebih dari 900 juta dolar AS,” kata Nani saat membuka sesi diskusi tematik di International Sustainability Forum (ISF) 2024 di Jakarta, Jumat (6/9/2024)

    Sementara itu fungsi ekonomis hutan mangrove adalah kayu pepohonan yang bisa digunakan sebagai bahan kayu bakar atau bahan pembuat arang serta dapat dijadikan bahan pembuat kertas.

    Baca: Seperempat hutan mangrove dunia ada di Indonesia

    Buah yang dihasilkan dari hutan mangrove juga bisa dimanfaatkan menjadi makanan ataupun sirup.

    Hutan mangrove juga menjadi habitat beragam jenis fauna yang memiliki nilai ekonomi, misalnya udang dan jenis ikan lainnya. Hutan mangrove yang terjaga dapat menjadi sumber pendapatan sektor perikanan seperti ikan dan kepiting.

    Tapi di saat bersama, negara-negara yang memiliki pesisir berhadapan dengan ancaman sampah plastik di laut yang tidak hanya mendegradasi kondisi lingkungan hidup.

    Sampah plastik ini juga mengancam biodiversitas dan berdampak dalam aspek sosial serta ekonomi masyarakat.

    Baca: Kenali beragam jenis mangrove di Kebun Raya Mangrove Surabaya

    Karena itu dia mengajak berbagai pihak untuk berkolaborasi dalam penanganannya dan membantu membentuk strategi untuk merawat ekosistem mangrove di negara masing-masing.

    Termasuk bergabung dalam Mangrove Alliance for Climate (MAC) yang diluncurkan pada COP27 dan terus didorong pada G20 Bali dan juga COP28.

    MAC, menurut Nani, juga terus bertumbuh dan per Agustus 2024. Saat ini MAC sudah memiliki 45 negara yang bergabung untuk menjaga mangrove.

    “Jumlah ini akan bertambah seiring dengan peningkatan kesadaran global tentang pentingnya mangrove,” demikian Nani Hendiarti.

  • Jelajah Keong Darat Wallacea: Spesies Penting yang Terlupakan

    Jelajah Keong Darat Wallacea: Spesies Penting yang Terlupakan

    Spesies keong darat yang ditemukan dalam penelitian di Taman Nasional Laiwangi Wanggameti, Nusa Tenggara Timur pada 2016. A. bimaensis cochlostyloides, b. C. argillacea, c. A. latestrigatus (Sumber: Mujiono & Isnaningsih, 2021)

    7cloud.asia – Keong darat (land snail) adalah kelompok hewan yang berperan penting bagi kesuburan tanah. Keong darat dapat memperkaya kandungan nitrogen dan senyawa organik pada tanah, didukung oleh kebiasaannya memakan bahan organik.

    Keong darat dapat ditemukan di berbagai lanskap: hutan hujan, pertanian, karst, dan dataran tinggi maupun rendah. Kebanyakan keong dalam kelompok ini memiliki cangkang, meski ada juga yang tidak.

    Sayangnya, keong darat seolah terabaikan dalam perbincangan publik seputar pelestarian kehidupan liar. Tak banyak pula peneliti, penjelajah, dan naturalis Indonesia yang memerhatikan kelompok spesies ini.

    Eksplorasi keong darat di Indonesia, berdasarkan catatan sejarah, sudah berlangsung sejak tiga ratus tahun silam.

    Catatan ekspedisi keong darat terawal di Wallacea diterbitkan oleh seorang naturalis asal Jerman, Georgius Everhardus Rumphius. Ia dipekerjakan oleh Perusahaan Perdagangan India Timur atau VOC.

    Pada abad 20, ulasan dari para ilmuwan banyak berfokus pada penemuan spesies keong darat di Indonesia. Misalnya, ekspedisi Siboga yang dipimpin oleh Max Carl Wilhelm Weber, Direktur Museum Zoologi Amsterdam, selama 1899-1900.

    Weber adalah salah satu naturalis penting penggagas konsep kawasan biodiversitas khusus di sepanjang Maluku hingga Timor Leste—dikenal dengan garis Weber.

    Baca: Mengenal spesies bernama keong darat dan perannya dalam kelestarian lingkungan

    Ekspedisi penting pada era tersebut dilakukan Karl Friedrich (Fritz) Sarasin dan sepupunya, Paul Benedict Sarasin ke Sulawesi. Pada tahun 1899 mereka mempublikasi temuan 198 spesies keong darat hasil ekspedisinya di Pulau Sulawesi.

    Ekspedisi penting lainnya dilakukan oleh Bernhard Carl Emmanuel Rensch ke kepulauan Sunda Kecil pada tahun 1927. Ia berhasil mendata spesies keong darat dari Bali (32 spesies), Lombok (9 spesies), Sumbawa (19 spesies), dan Flores (27 spesies).

    Walaupun tidak melakukan ekspedisinya sendiri, Woutera (Tera) Sophie Suzanna Van Benthem Jutting, Malakologist Belanda yang lahir di Batavia, juga menelaah keong darat dari kawasan Walacea yang dikoleksi oleh banyak penjelajah.

    Setidaknya terdapat 125 spesies keong darat yang tercatat di Maluku dari publikasinya.Pada abad 21, sejumlah ekspedisi keong darat di Wallacea juga dilakukan ahli Malakologi Indonesia.

    Misalnya, pada Ekspedisi Sumba yang dilakukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Nova Mujiono dan Nur Rohmatin Isnaningsih mengoleksi 44 spesies keong darat dan sungai di pulau Sumba.

    Pada 2022, tim peneliti melakukan ekspedisi keong darat di Maluku Utara yang dilakukan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Universitas Muhammadiyah Maluku Utara di bawah koordinator Ayu Savitri Nurinsiyah dari Research Center for Biosystematics and Evolution BRIN.

    Berdasarkan ekspedisi tersebut, tim menemukan satu spesies baru Palaina motiensis dari Pulau Moti. Ada juga setidaknya delapan kandidat spesies baru dari Pulau Ternate, Pulau Bacan, dan Pulau Morotai.

    Baca: Dampak rusaknya keanekaragaman hayati pada lingkungan

    Walau begitu, ekspedisi kami turut menyoroti beberapa spesies yang ditemukan oleh Wallace belum dapat ditemukan kembali.

    Ada dua kemungkinan mengapa hal ini dapat terjadi. Pertama, lokasi pengambilan sampel yang kami tidak sama dengan Wallace, atau kedua Lanskap lokasi pengambilan sampel sudah berubah dan spesies tersebut sudah punah.

    Melampaui penemuan spesies
    Keong darat merupakan kelompok fauna yang rentan punah. Spesies ini bergerak sangat lambat. Ia juga sangat rentan terhadap kekeringan.

    Keduanya juga menjadi faktor penyebab beberapa spesies keong darat memiliki daerah sebaran yang terbatas atau dikenal dengan spesies endemik.

    Sayangnya, hingga saat ini, belum ada spesies keong darat yang masuk ke dalam daftar satwa dilindungi di Indonesia. Hanya sebagian kecil dari spesies ini yang berada dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN).

    Padahal, spesies ini banyak menghadapi ancaman seperti kehilangan habitat akibat perubahan tata guna lahan dan penambangan, dan keberadaan spesies asing invasif.

    Walau begitu, beberapa upaya telah dilakukan beberapa pihak di Indonesia untuk menghadapi kendala-kendala tersebut.

    Baca: Mengenal apa itu Hari Spesies Terancam Punah Sedunia

    Misalnya, Masyarakat Moluska Indonesia, gerakan lintas kelompok yang gencar melakukan penyadartahuan melalui Buletin Moluska Indonesia dan Jurnal Moluska Indonesia.

    Upaya yang tidak kalah pentingnya adalah mencetak generasi penerus pemerhati dan peneliti terutama keong darat. Selain bekerja sama dengan beberapa universitas, kami juga memanfaatkan platform untuk mencetak taksonom baru keong darat melalui Bantuan Riset Tugas Akhir (Barista), Research Assistant (RA) dan lain-lain.

    Dalam dokumen Strategi dan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati yang diterbitkan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional pada Agustus lalu, Indonesia memiliki misi pengelolaan keanekaragaman hayati melalui perlindungan, pemanfaatan berkelanjutan, pengayaan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta penguatan sumber daya dan tata kelola.

    Hal tersebut untuk mencapai visi hidup selaras dengan alam untuk keberlangsungan seluruh bentuk kehidupan di Indonesia.

    Seluruh strategi rencana aksi di atas perlu mencakup tujuan pelestarian populasi fauna endemik Indonesia termasuk keong darat di Wallacea.

    Artikel ini telah terbit di The Converstaion, Penulis: Vinna Windy Putri
    (Post-doctoral Researcher BRIN) dan Ayu Savitri Nurinsiyah (Researcher in the Research Center for Biosystematics and Evolution BRIN; Presiden Indonesian Mollusk Society BRIN)

  • Ini yang Terjadi pada Kondisi Lingkungan Jika Pemanasan Global Mencapai 2°C

    Ini yang Terjadi pada Kondisi Lingkungan Jika Pemanasan Global Mencapai 2°C

    7cloud.asia – Dalam tulisan sebelumnya dipaparkan bagaimana dampak kenaikan suhu global atau pemanasan global yang mencapai 2°C sangat besar pengaruhnya pada kondisi iklim dan pola cuaca.

    Karena itu para pakar dan pemerhati lingkungan dunia terus berupaya untuk mencegah agar pemanasan global bisa dihambat kurang dari 1,5°C dengan berbagai cara.

    Salah satu cara menghentikan pemanasan global tidak mencapai 2°C adalah dengan memotong emisi dan menghijaukan kembali kawasan yang sudah rusak.

    Mengapa? Karena, pada tahap selanjutnya, pemanasan global  yang mencapai 2°C mengakibatkan dampak serius pada lingkungan, yang bisa disebut satu per satu seperti berikut ini, seperti dikutip dari earth.org:

    Baca: Dampak pemanasan global pada pola cuaca

    Kenaikan Permukaan Laut
    Kenaikan permukaan laut adalah salah satu dampak jangka panjang terbesar dari pemanasan global.

    Dengan pemanasan sebesar 2°C, rata-rata permukaan laut global diperkirakan akan meningkat sebesar 0,46-0,99 meter (1,51-3,25 kaki) pada tahun 2100 dibandingkan dengan kondisi pada tahun 1986-2005.

    Bahkan jika pemanasan global dapat dihentikan, permukaan air laut akan terus meningkat selama berabad-abad.

    Kenaikan permukaan air laut ini tidak akan terjadi secara merata di seluruh dunia karena penurunan permukaan tanah setempat dan perubahan arus laut. Beberapa dampak kenaikan permukaan air laut di dunia yang menghangat 2°C meliputi:

    1. Lebih banyak banjir dan erosi di wilayah pesisir, yang mengancam wilayah pesisir dataran rendah dan negara-negara kepulauan kecil.

    2. Intrusi air asin ke akuifer atau perairan pesisir, mempengaruhi sumber daya air tawar.

    3. Hilangnya lahan basah pesisir dan hutan bakau, yang menyediakan fungsieko sistem penting dan penyangga alami terhadap badai.

    4. Krisis pengungsi iklim didorong oleh pengungsian jutaan orang yang tinggal di wilayah pesisir.

    Baca: Ini yang terjadi pada kehidupan jika pemanasan global mencapai 2°C

    Dampak terhadap Ekosistem
    Ribuan spesies, baik yang hidup di darat maupun laut, akan menghadapi peningkatan risiko kepunahan karena mereka kesulitan beradaptasi terhadap kondisi yang berubah dengan cepat.

    Gangguan-gangguan ini akan berdampak besar pada keanekaragaman hayati, penyimpanan karbon, dan berbagai jasa ekosistem yang menjadi sandaran masyarakat.

    Beberapa dampak utama meliputi:
    1. Terumbu karang: Penelitian menunjukkan bahwa 99% terumbu karang akan hilang karena meningkatnya frekuensi gelombang panas laut dan pengasaman laut.

    2. Ekosistem Arktik: Pemanasan yang cepat di Arktik akan menyebabkan hilangnya es laut secara signifikan dan mengubah jaring makanan, sehingga berdampak pada spesies seperti beruang kutub dan anjing laut.

    3. Hutan: Peningkatan suhu dan perubahan pola curah hujan akan menyebabkan perubahan komposisi hutan dan peningkatan risiko kebakaran hutan dan wabah hama.

    4. Hilangnya keanekaragaman hayati: Laju kepunahan spesies diperkirakan akan semakin cepat, dengan sebuah penelitian memproyeksikan bahwa 18% serangga, 16% tumbuhan, dan 8% vertebrata akan kehilangan lebih dari separuh wilayah geografis yang ditentukan oleh iklim dengan pemanasan sebesar 2°C.

  • Waspada! Hepatitis A Dapat Menular dari Makanan Mentah dan Lingkungan yang Kotor

    Waspada! Hepatitis A Dapat Menular dari Makanan Mentah dan Lingkungan yang Kotor


    7cloud.asia – Lingkungan yang kotor dan sampah yang tidak terkelola dengan baik berpotensi menimbulkan penularan penyakit Hepatitis A.

    Dilansir di laman who.int, Hepatitis A adalah peradangan hati yang disebabkan oleh virus hepatitis A (HAV).

    Virus Hepatetis A terutama menyebar ketika orang yang tidak terinfeksi (dan tidak divaksinasi) menelan makanan atau air yang terkontaminasi tinja orang yang terinfeksi.

    Penyakit Hepatetis A terkait erat dengan air atau makanan yang tidak aman, sanitasi yang tidak memadai, kebersihan pribadi yang buruk, dan seks oral-anal.

    Tidak seperti hepatitis B dan C, hepatitis A tidak menyebabkan penyakit hati kronis, tetapi dapat menyebabkan gejala yang melemahkan dan jarang terjadi hepatitis fulminan (gagal hati akut), yang sering berakibat fatal.

    Baca: Suspek Mpox bermunculan, pemerintah diminta terapkan protokol kesehatan

    Dokter Spesialis Penyakit Dalam dr. Ihsan Panji Santiko, mengimbau agar masyarakat menjaga kebersihan dan berhati-hati dalam mengonsumsi makanan dan minuman yang tidak matang atau jajan di lingkungan yang kotor.

    Ihsan mencontohkan, lalat menghinggapi makanan atau minuman juga bisa membawa virus Hepatitis A.

    “Makanan dan minuman yang tidak matang juga bisa tertular virus tersebut,” kata Ihsan dalam diskusi daring Dinas Kesehatan DKI Jakarta yang disiarkan di Jakarta, Senin (9/9/2024) seperti dikutip Antaranews.com

    Lebih lanjut Ihsan menjelaskan apabila virus tersebut masuk ke dalam tubuh, Hepatitis A akan berkembang biak dan menimbulkan gejala.

    Ketika seseorang mengalami Hepatitis jenis A, gejala yang akan timbul antara lain demam, badan kuning, buang air kecil berwarna seperti teh, lemas, mata berubah kekuningan, hingga mual dan muntah.

    Baca: Polusi udara berkepanjangan bisa memicu gangguan pernapasan

    Ihsan mengatakan, Hepatitis jenis A perlu diwaspadai karena dapat menjadi akut. Jenis Hepatitis ini juga langsung menimbulkan gejala.

    Oleh sebab itu, masyarakat perlu segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala-gejala tersebut. Karena, lanjut Ihsan, Hepatitis A dapat membaik dan sembuh sempurna jika tertangani dengan baik.

    “Kalau terdiagnosa Hepatitis, jangan stres dulu ya. Berpikir tenang dan segeralah berkonsultasi ke dokter untuk mengetahui fase dari virusnya,” kata Ihsan.

    Pada fase awal, biasanya pasien masih dipantau dan belum mendapat pengobatan. Sebab tubuh memiliki daya tahan tubuh yang dapat melawan infeksi virus.

    Namun, daya tahan tubuh orang berbeda-beda, kata Ihsan. Oleh karena itulah dokter memantau fase ini. Apabila tak memiliki daya tahan tubuh yang cukup kuat, dokter akan memberikan obat-obatan.

  • BRIN: Sampah Plastik Indonesia terbawa ke Perairan Afrika Selatan

    BRIN: Sampah Plastik Indonesia terbawa ke Perairan Afrika Selatan

    7cloud.asia – Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Muhammad Reza Cordova mengatakan sampah plastik yang berakhir di perairan tidak hanya berdampak kepada lingkungan sekitar, tapi juga dapat berakhir di benua lain.

    Menurut penelitian BRIN, sampah plastik yang berasal dari kegiatan di Indonesia sekitar 10-20 persen akan berakhir di perairan internasional dan bahkan bisa hanyut sampai ke Afrika Selatan dalam periode sekitar satu tahun.

    “Jadi sampah yang kita impor dalam tanda petik bukan sesuatu yang baik, tapi malah jadi buruk,” ujar Peneliti Pusat Oseanografi BRIN itu dDalam diskusi membahas kebocoran sampah plastik di laut diadakan di Jakarta, Rabu (11/9/2024).

    Reza mengatakan pengelolaan sampah di Tanah Air masih belum optimal dengan masih terjadi kebocoran sampah yang berakhir di laut Indonesia.

    Menurutnya 70 persen sampah plastik yang mencemari perairan berasal dari aktivitas manusia di daratan.

    Baca: BRIN rekomendasikan konsep ekoregion dalam mengelola sampah plastik

    Berdasarkan data BRIN, kata dia, jenis sampah plastik yang paling banyak ditemukan di perairan Indonesia adalah plastik sekali pakai seperti plastik sachet, kantong plastik, botol minuman, dan sedotan.

    Sampah-sampah tersebut membutuhkan ratusan tahun untuk terurai, mencemari laut, dan merusak habitat biota laut.

    Tapi wilayah yang paling terdampak bocornya sampah ke perairan adalah lingkungan sekitar, termasuk bahaya mikroplastik yang dapat terlepas ke lingkungan dari sampah tersebut.

    Dia menjelaskan penelitian menunjukkan bahwa mikroplastik telah terdeteksi pada semua sampel air dan sedimen dan ditemukan pada berbagai spesies ikan dan kerang yang dikonsumsi masyarakat.

    Untuk penanganan, pihaknya tengah meninjau potensi pengelolaan dari proses bioremidiasi, yaitu penggunaan organisme seperti mikroba untuk membantu mengurangi pencemaran lingkungan.

    “Jadi ketika sampah sudah bocor ke lingkungan, apa yang kita lakukan? Kita coba cari mikroba apa yang paling tepat untuk bisa memakan dalam tanda petik si sampah plastik itu,” katanya.

    Baca: Pengurangan sampah plastik harus dari hulunya

    Dia juga mengusulkan, potensi pengelolaan secara ekoregion dengan memperbanyak fasilitas di daerah-daerah Indonesia, mengingat ujung tombak pengelolaan sampah berada di pemerintah daerah.

    BRIN sendiri terus melakukan penelitian untuk mendeteksi, mengumpulkan, dan mendaur ulang sampah plastik.

    Salah satu pendekatan yang sedang dikembangkan adalah pemanfaatan teknologi penginderaan jarak jauh, sensor bawah air serta kecerdasan buatan untuk memetakan sebaran sampah plastik secara lebih akurat.

    Menurut data Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKN PSL), telah terjadi penurunan sampah plastik yang bocor ke lautan dari 615.675 ton pada 2018 menjadi 359.061 ton pada 2023 atau turun 41,68 persen.

    Pemerintah memiliki target penurunan sampah plastik yang berakhir di laut sebesar 70 persen sampai dengan 2025.

    Sumber:Antaranews.com

  • BRIN: Kerugian Lingkungan yang Ditimbulkan Sampah Plastik Capai Rp 225 Triliun Setahun

    BRIN: Kerugian Lingkungan yang Ditimbulkan Sampah Plastik Capai Rp 225 Triliun Setahun

    7cloud.asia – Pemerintah menargetkan, kebocoran sampah plastik dari aktivitas masyarakat yang dibuang ke alam bebas, dapat diturunkan sebesar 70 persen pada 2025.

    Namun faktanya, perhitungan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat hingga tahun 2024 ini baru 41,68 persen sampah plastik yang tidak dibuang ke alam bebas.

    Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Oseanografi BRIN, Muhammad Reza Cordova menyatakan, potensi kerugian negara akibat kebocoran sampah plastik ke laut mencapai Rp 225 triliun per tahun.

    Dari perhitungan BRIN dari 2018 sampai 2023 secara kasar, rata-ratanya kurang lebih sekitar 484 ribu ton per tahun (sampah plastik) yang bocor ke lautan dunia dari kegiatan masyarakat kita.

    ”Kerugian kita antara Rp 125 triliun sampai Rp 225 triliun per tahun,” kata Reza, pada Media Lounge Discussion (MELODI), bertajuk Kebocoran Sampah Plastik ke Laut Indonesia dan Strategi Penanganannya, di Gedung B.J Habibie, Jakarta, Rabu (11/9/2024).

    Baca: 10-20 Persen sampah plastik Indonesia cemari perairan global

    “Bisa kita bayangkan secara kasar, dari 2018 sampai 2023 ini sudah enam tahun. Sekarang masuk tahun ke tujuh. Berarti secara kasar kita sudah kehilangan Rp 2.000 triliun akibat sampah plastik,” tambah dia.

    Estimasi kerugian tersebut, terang Reza, dilihat dari kerugian secara ekonomi, pariwisata, kesehatan, hingga dari sisi teknis.

    BRIN, kata dia, terus melakukan penelitian dengan memanfaatkan kecerdasan buatan dalam mendeteksi jenis sampah plastik. Termasuk, melibatkan akademisi dari berbagai multidisiplin ilmu.

    “Karena kalau kita bicara plastik, sampah plastik ini ketika terkena sinar matahari, angin, dan lain-lain, akan jadi mikroplastik. Semakin kecil ukuran plastik, semakin mudah pula akan masuk ke dalam tubuh kita,” katanya.

    Baca: BRIN tawarkan konsep ekoregion dalam menangani sampah plastik

    Upaya lainnya, menurut Reza, perlu dilakukan proses bioremediasi yang membutuhkan waktu panjang.

    “Ketika sampah sudah bocor ke lingkungan, apa yang kita lakukan? Kita coba cari mikroba apa yang paling tepat untuk bisa ‘memakan’ sampah plastik itu,” ucapnya.

    Reza juga menyoroti komitmen pimpinan daerah dalam penyediaan anggaran untuk pengelolaan sampah khususnya sampah plastik.

    Anggaran pengelolaan sampah, sebut dia, disebut optimal bila mencapai 3 hingga 4 persen dari total Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

    “Tapi yang terjadi saat ini, baru mencapai 0,07 persen. Satu persen saja enggak sampai, Itu satu problematika besar,” tandasnya.

  • Proyek Listrik Biomassa Mengancam Kelestarian Hutan Kalimantan

    Proyek Listrik Biomassa Mengancam Kelestarian Hutan Kalimantan

    7cloud.asia – Di tengah krisis iklim yang semakin parah, ancaman hilangnya hutan di Kalimantan semakin meningkat, terlebih dengan maraknya proyek listrik biomassa.

    Juru Kampanye Energi Trend Asia, Bayu Maulana Putra mengungkapkan hal ini saat menjadi pemantik diskusi lingkungan bertajuk No Music on a Dead Planet di Kabupaten Ketapang, Sabtu (14/9/2024).

    Diskusi lingkungan ini menggandeng Las!, band lokal Pontianak yang konsentrasi di bidang lingkungan.

    “Setelah bertahun-tahun dieksploitasi oleh industri kayu dan pertambangan, hutan kini menghadapi ancaman baru dari pengembangan energi yang kembali mengorbankan ekosistem,” kata Bayu.

    Bayu menambahkan, proyek-proyek, seperti kebun kayu energi, kebun sawit biofuel, dan tambang mineral kritis menjadi ancaman nyata bagi kelestarian lingkungan.

    Baca: Madani Berkelanjutan nilai proyek listrik biomassa picu penebangan hutan

    Bayu mengungkapkan beberapa tahun terakhir, pemerintah gencar mengembangkan proyek listrik biomassa, mencampur kayu dengan batubara untuk menghasilkan listrik di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

    Pemerintah mengklaim bahwa langkah ini bisa menekan emisi karbon yang memicu krisis iklim, namun kenyataannya proyek ini sangat rakus lahan.

    Dibutuhkan sekitar 2,3 juta hektare lahan atau 35 kali luas Jakarta, untuk memenuhi pasokan biomassa kayu ke 52 PLTU.

    Dari total lahan tersebut, setidaknya 1 juta hektare hutan alam akan dikorbankan untuk kebun kayu monokultur.

    Praktek ini, menurut Trend Asia, hanya menguntungkan para konglomerat industri kehutanan. Sementara itu, masyarakat adat yang hidup berdampingan dengan hutan justru semakin terdesak.

    Baca: Penurunan emisi harus mengarah ke nol energi fosil

    Dia mencontohkan kondisi di Kualan Hilir, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, di mana ada perusahaan kebun kayu seluas 136 ribu hektare yang dicurigai kayunya akan dibakar untuk energi.

    “Selama 2021 hingga 2023, mereka telah menghilangkan hutan alam seluas 33 ribu hektare, yang mengancam keberadaan satwa endemik dan membuat masyarakat adat Dayak terusir dari ruang hidup mereka,” kata Bayu.

    Padahal, menurutnya, Kalimantan memiliki potensi besar untuk mengembangkan energi terbarukan dari sumber daya air, surya dan angin.

    Selain mendukung transisi energi, pengembangan energi terbarukan ini juga diharapkan mampu menyediakan listrik untuk daerah-daerah terpencil yang masih belum terjangkau jaringan listrik nasional.

    “Pemanfaatan optimal energi terbarukan di Kalimantan dapat meningkatkan kemandirian energi, mengurangi emisi karbon, dan memperluas akses energi ke wilayah yang membutuhkan,” kata Bayu.

    Sumber:Antaranews.com

  • No Music on a Dead Planet: Ketika Kampanye Lingkungan Diusung di Panggung Musik

    No Music on a Dead Planet: Ketika Kampanye Lingkungan Diusung di Panggung Musik

    7cloud.asia – Perhatian terhadap krisis iklim kini menjadi prioritas utama masyarakat dari berbagai lapisan. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengampanyekan sikap peduli lingkungan, tak terkecuali para seniman dan musisi di tanah air.

    Pun demikian yang dilakukan dalam diskusi lingkungan bertajuk No Music on a Dead Planet di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, pada Sabtu (14/9/2024).

    Diskusi lingkungan ini menggandeng Las!, band lokal Pontianak yang banyak menyorot isu lingkungan.

    Lead Training Lembaga Gemawan, Arniyanti Arni mengatakan butuh kolaborasi berbagai pihak dalam menyikapi isu lingkungan dan krisis iklim yang sudah mengkhawatirkan.

    NGO (organisasi non-pemerintah) yang fokus di isu lingkungan harus memanfaatkan teknologi dalam menjalankan program kerjanya.

    Baca: Konser musik ramah lingkungan ala Coldplay

    Dalam hal ini, NGO harus memanfaatkan media sosial untuk kampanye lingkungan. Kampanye harus lebih masif agar bisa menyentuh generasi muda yang menjadi penerus dalam merawat kelestarian lingkungan.

    NGO juga harus meningkatkan kerjasamanya dengan menggandeng sejumlah pihak terkait, Seperti musisi dan influencer serta media.

    “Ini penting untuk menyuarakan keberlangsungan lingkungan yang lebih baik agar bisa meningkatkan kesadaran pemerintah dan masyarakat agar bersama-sama menjaga lingkungan kita,” kata Arni.

    Baca: Piknik Bebas Plastik, tetap happy tanpa cemari lingkungan

    Di tempat yang sama, Direktur Eksekutif Walhi Kalbar Hendrikus Adam mengatakan pemerintah Indonesia memiliki komitmen menekan laju emisi karbon, namun dalam perjalanannya pemerintah menjadi terkesan ambigu.

    Pasalnya, banyak wilayah hutan dan lahan gambut yang seharusnya dilindungi, malah diberikan kepada perusahaan perkebunan dan pertambangan untuk dibabat, demi mempercepat pertumbuhan ekonomi.

    Belum lagi rencana pembangunan PLTN yang jelas-jelas akan berdampak besar bagi lingkungan dan mengancam kehidupan masyarakat.

    “Saya rasa ini harus menjadi perhatian bersama, untuk meluruskan komitmen awal pemerintah terhadap lingkungan,” kata Adam menggarisbawahi pentingnya kolaborasi semua pihak.

    Baca: Perjalanan Pawai Bebas Plastik, cara happy tanpa cemari lingkungan

    Slogan No Music on a Dead Planet mulai digaungkan para musisi di Indonesia yang tergabung dalam Music Declares Emergency sejak tahun lalu.

    Dilansir goodnewsfromindonesia.id, Music Declares Emergency Indonesia ini resmi terbentuk pada 22 April 2023 saat peringatan Hari Bumi.

    Gede Robi, vokalis Navicula, pemrakarsa MDE Indonesia mengatakan isu lingkungan saat ini menjadi revolusi para musisi yang tergabung dalam MDE Indonesia.

    “Maksudnya, tidak ada musik di planet yang mati. Tidak ada euforia ketika bumi mengalami kerusakan dahsyat,” ujarnya kala itu seperti dikutip dari Kompas.com.