Tag: jakarta

  • Progres Pembangunan MRT Fase Bundaran HI-Kota Capai 40 Persen

    Progres Pembangunan MRT Fase Bundaran HI-Kota Capai 40 Persen

    7cloud.asia – PT MRT Jakarta (Perseroda) mencatat progres pembangunan fase 2A Bundaran Hotel Indonesia (HI)-Kota dengan panjang 5,6 kilometer sudah mencapai 40 persen.

    Proyek MRT Fase 2A terbagi dua segmen, yaitu segmen satu Bundaran HI-Harmoni yang ditargetkan selesai pada 2027.

    Sedangkan pembangunan segmen dua MRT fase 2A yaitu jalur Harmoni-Kota ditargetkan selesai pada 2029.

    “Progres kami Bundaran HI ke Kota rata-rata di 40 persen. Bahkan Bundaran HI sampai Harmoni mencapai 80 persen sudah terhubung tunnel (terowongan)-nya,” kata Direktur Utama PT MRT Jakarta (Perseroda) Tuhiyat.

    Baca: Indeks kepuasan pengguna MRT Jakarta meningkat

    Berbicara dalam diskusi panel GRC Series 2024 bertajuk “Defending Organizational Objectives: Strategies Against Fraud” pada Agustus lalu, Tuhiyat mengatakan terowongan dari Glodok ke Kota juga sudah terhubung.

    Sementara, untuk Harmoni sampai dengan Mangga Besar, dalam proses menghubungkan terowongan.

    Tuhiyat juga menuturkan, di waktu yang sama, PT MRT Jakarta juga bersiap membangun fase 3 dari timur ke barat, dari Cikarang, Jawa Barat hingga ke Balajara, Banten, dengan panjang 87 kilometer.

    Fase pertama tahap pertama yakni Medan Satria-Tomang dengan panjang 24,5 kilometer.

    “Insyaallah kalau tidak ada halangan akan groundbreaking (peletakan batu pertama) pada awal September oleh Presiden. Bertempat di perempatan Kebon Sirih, Bank Indonesia,” tutur dia.

    Baca: Jalur MRT Jakarta akan dikembangkan menjadi kawasan TOD

    Selain itu, sambung dia, PT MRT Jakarta sedang berproses fase 4 yakni Fatmawati-TMII yang akan terhubung dengan LRT Jabodebek.

    “Semuanya fully underground (bawah tanah sepenuhnya). Kami akan coba financing-nya dari berbagai skema. Tidak hanya melakukan skema loan (pinjaman), tetapi juga skema lain yang sedang kami jajaki,” jelas dia.

    Dia mengatakan pembangunan fase-fase lain tanpa menunggu selesai satu fase dilakukan dalam rangka memenuhi ekspektasi publik akan pentingnya transportasi publik.

    “Fase berikutnya, berikutnya, terus kami lakukan dalam rangka untuk mengintegrasikan transportasi publik sehingga publik tidak sulit untuk menempuh tujuan masing-masing,” kata Tuhiyat.

    Sumber:Antaranews.com

  • Cuaca Hari Ini: Termasuk Jakarta, Mayoritas Kota di Indonesia Bakal Hujan

    Cuaca Hari Ini: Termasuk Jakarta, Mayoritas Kota di Indonesia Bakal Hujan

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan sebagian besar kota di Indonesia termasuk Jakarta, diperkirakan hujan pada Minggu (08/09/2024).

    Dilihat dari akun youtube resmi BMKG, hujan berintensitas ringan diprediksi terjadi di Kota Banda Aceh, Jambi, Bengkulu, Pangkal Pinang, Lampung, Jakarta, Serang, Bandung, Yogyakarta, Mataram.

    Selain itu Kota Tanjung Selor, Samarinda, Makassar, Palu, Kendari, Ambon, Ternate, Manokwari dan Jayapura diprediksi terjadi hujan dengan intensitas ringan.

    Kemudian hujan berintensitas sedang berpotensi mengguyur Kota Palangkaraya, Mamuju, Manado, Jayawijaya dan Nabire.

    Sedangkan Kota Medan berpeluang terjadi hujan lebat. Kota Padang dan Tanjung Pinang, Palembang, Pontianak, Banjarmasin, Sorong diprediksi akan dilanda hujan disertai petir.

    Suhu udara rata-rata berkisar antara 16 hingga 34 derajat celsius dengan tingkat kelembaban berkisar antara 43 hingga 100 persen

    Suhu terendah diprediksi terjadi di Kota Jayawijaya dan suhu tertinggi diperkirakan akan dirasakan masyarakat yang berada di Kota Banda Aceh, Jambi dan Serang.

     

  • Cuaca Hari Ini: Sedia Payung Jakarta Berpotensi Hujan

    Cuaca Hari Ini: Sedia Payung Jakarta Berpotensi Hujan

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dalam perkiraan cuacanya menyebutkan, hujan berintensitas ringan hingga sedang berpotensi mengguyur sejumlah wilayah di Jakarta pada Senin (9/9/2024).

    Berdasarkan perkiraan cuaca yang dirilis di laman resmi BMKG, hujan berintensitas ringan diprediksi terjadi pada pagi hari di wilayah Jakarta Pusat, Jakarta Barat dan Jakarta Selatan.

    Kemudian pada siangnya hujan dengan intensitas ringan berpeluang terjadi di wilayah Jakarta Barat, Jakarta Pusat dan Jakarta Utara.

    Sementara hujan dengan intensitas sedang berpotensi mengguyur wilayah Jakarta Timur dan Jakarta Selatan. Lalu malamnya seluruh wilayah Jakarta diperkirakan berawan.

    Hujan dengan intensitas ringan juga berpotensi terjadi di kota-kota lainnya, seperti Kota Pangkal Pinang, Palembang, Lampung, Serang, Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Mataram, Palangkaraya.

    Kondisi cuaca seperti ini juga berpeluang terjadi di Kota Palu, Gorontalo, Ternate, Sorong, Nabire, Manokwari, Jayapura dan Jayawijaya.

    BMKG memperkirakan hujan dengan intensitas sedang berpeluang mengguyur Kota Tanjung Pinang, Samarinda  dan Manado.

    Sedangkan hujan disertai petir berpeluang melanda Kota Medan, Pekanbaru, Padang, Jambi, Bengkulu, Bandung, Tanjung Selor, Pontianak, Banjarmasin, Mamuju.

    Suhu udara berkisar antara 16 hingga 35 derajat celsius dengan tingkat kelembaban udara berkisar antara 41 hingga 100 persen.

    Suhu terendah diprediksi terjadi di Kota Jayawijaya. Sementara suhu tertinggi diperkirakan terjadi di Kota Semarang, Surabaya dan Makassar.

     

  • Penelusuran Cagar Budaya di Wilayah Menteng, Jakarta Pusat

    Penelusuran Cagar Budaya di Wilayah Menteng, Jakarta Pusat

    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melakukan penelusuran jalan dan cagar budaya di wilayah Menteng, Jakarta Pusat agar ciri khas kawasan tersebut tidak mudah ditinggalkan atau tergerus perkembangan zaman.

    Pelaksana Tugas (Plt) Asisten Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi DKI Jakarta, Suharini Eliawati mengatakan, kegiatan penelusuran kawasan cagar budaya Menteng ini sangat menarik.

    “Melalui kegiatan seperti ini, keaslian atau pelestarian lingkungan bersejarah di Jakarta, khususnya di kawasan Menteng dapat terus dilakukan dan dijaga bersama,” kata Eliawati dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (8/9/2024).

    Dalam kegiatan ini, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait seperti Dinas Kebudayaan, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Menteng Heritage Society, melakukan tur ke jalan atau lokasi bersejarah di kawasan Menteng.

    Turut hadir dalam kesempatan itu, Gubernur DKI Jakarta periode (2007-2012) Fauzi Bowo, antrolog dari Universitas Indonesia (UI) Meutia Hatta dan Halida Hatta.

    Baca: Merawat Gereja Immanuel salah satu gereja tertua di Jakarta

    “Dalam diskusi setelah acara ini, kami juga sampaikan Pemprov DKI akan melakukan beberapa tahapan, mulai proses jangka pendek, menengah dan panjang mengenai seluruh saran, masukan dan atensi yang disampaikan,” kata Eliawati seperti dikutip Antaranews.com

    Dia mengatakan tokoh yang hadir mengapresiasi penataan di kawasan Menteng. Salah satunya pembuatan Taman Setu Lembang yang bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat.

    Ketua Menteng Heritage Society Halida Hatta mengatakan, kegiatan bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI ini dilakukan dalam rangka menjaga kelestarian dan keaslian kawasan Menteng sebagai kawasan bersejarah.

    “Kami sebagai perkumpulan pelestari kawasan bersejarah di Menteng mengajak pihak yang berwenang dalam hal ini Pemprov DKI untuk bersama-sama melihat pelestarian dan penataan di kawasan Menteng sesuai dengan peruntukannya,” ujar dia.

    Halida menuturkan, kegiatan hari ini juga sebagai bentuk advokasi kebijakan dan pendekatan kepada pemangku kepentingan untuk menghasilkan sebuah energi dalam mencarikan suatu pendekatan atau keputusan-keputusan yang terbaik.

    Baca: Rencana besar penataan Kawasan Kebayoran Lama

    “Kami ingin Pemprov DKI dapat mengambil kebijakan atau keputusan terbaik, mulai dari penataan ruang publik hingga permasalahan hunian, seperti Izin Mendirikan Bangunan yang harus sesuai dengan yang diajukan,” tutur dia.

    Menurut dia, dalam menuju Jakarta ke-500 tahun nanti, Menteng Heritage Society menginginkan agar kawasan Menteng ini sudah sesuai penataannya seperti tempat ruang publik, penataan kawasan hijau, tata air dan lain sebagainya.

    Pihaknya ingin kawasan Menteng ini menjadi kawasan yang aman dan nyaman bagi semua masyarakat.

    “Semoga semua yang dibahas hari ini tercapai agar ciri khas kawasan Menteng sebagai kawasan dengan berjuta sejarah akan kembali kepada konsep semula,” ujar dia.

    Kawasan Menteng, Jakarta Pusat yang sudah dikenal sebagai permukiman elite di Jakarta sejak zaman kolonial Belanda, kini telah ditetapkan menjadi kawasan cagar budaya.

    Baca: Kisah Masjid Al Azhar dan Kebayoran Baru

    Kawasan ini mulai dikembangkan di akhir abad 19 jelang abad 20. Awalnya tanah yang kini bernama Menteng itu sering berpindah kepemilikan.

    Di pertengahan abad ke-18, tanah tersebut dikuasai orang Arab bernama Assan Nina Daud. Lalu berpindah lagi ke tangan kompeni bernama Jacob P. Barends. Setelahnya, jatuh lagi ke tangan orang Arab.

    Titik balik penggunaan lahan di Menteng menjadi hal fungsional terjadi pada 1908. Perusahaan real estate bernama NV De Bouwploeg (baca: boplo) membeli tanah daerah Menteng yang masih alami sebesar 238.870 Gulden.

    Kawasan ini kemudian dikembangkan menjadi pemukiman elit dengan menerapkan konsep kota taman yang saat itu sedang marak di Eropa.

    Esti Utami, dari berbagai sumber

  • Kemenko Marves Sebut Polusi Udara di Jakarta Serupa Kondisi Beijing 20 Tahun Lalu

    Kemenko Marves Sebut Polusi Udara di Jakarta Serupa Kondisi Beijing 20 Tahun Lalu

    7cloud.asia – Polusi udara di Jakarta saat ini serupa dengan masalah yang dihadapi Beijing, ibu kota China, 20 tahun lalu.

    Namun, dalam satu dekade terakhir pemerintah China sukses mengurangi polusi udara berat yang menyelimuti ibukota negeri itu.

    Pemerintah pusat China menginvestasikan lebih dari 30 miliar yuan atau sekitar Rp65 triliun untuk pencegahan dan pengendalian polusi udara setiap tahunnya, dengan nilai investasi kumulatif dalam beberapa tahun terakhir melampaui 200 miliar yuan.

    Dilansir Antaranews.com, pejabat dari Kementerian Ekologi dan Lingkungan Hidup China, Li Wei mengatakan kebijakan ini mampu mendorong jumlah investasi seluruh masyarakat mencapai 1 triliun yuan.

    Baca: WMO sebut polusi udara di Eropa dan China menurun pada 2023

    Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi Kemenko Maritim dan Investasi, Rachmat Kaimuddin dalam Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2024 di Jakarta, Kamis (5/9/2024) mengakui bahwa kondisi udara di Jakarta memang sedang tidak baik-baik saja.

    Akan tetapi, dia menangkis polusi udara yang menyelimuti Jakarta berasal dari pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara.

    Sebab, ujar Rachmat, tidak ada PLTU batu bara yang ada di sekitar Jakarta, meski fakta sesungguhnya ada PLTU Suralaya

    “Beberapa orang dengan kepentingannya menceritakan kisah-kisah yang mungkin mendistorsi kenyataan. Jadi, untuk Jakarta, kami telah memeriksa sumbernya,” kata Rachmat.

    Baca: Polusi udara dunia terkonsentrasi di enam negara termasuk Indonesia

    Rachmat menegaskan, polusi udara di Jakarta dan sekitarnya berasal dari emisi kendaraan dan pembakaran terbuka.

    Untuk itu, kata Rachmat, solusi utama dari polusi udara di Jakarta adalah menyetop kendaraan beremisi tinggi mengaspal di jalan raya.

    Salah satu cara untuk upaya tersebut yakni mendorong masyarakat untuk menggunakan kendaraan listrik.

    “Kami memberikan diskon dan insentif (kendaaraan listrik) yang cukup banyak bagi masyarakat”, papar Rachmatvdikutip kompas.com

    Baca: Polusi udara akibatkan 7 juta kematian dini setiap tahunnya

    Selain itu, pemerintah juga mendorong penerapan bahan bakar berkualitas tinggi agar mengurangi dampak polusi udara dari kendaraan bermotor.

    Rachmat menuturkan, Indonesia telah menerapkan standar ambang batas emisi kendaraan Euro 4, setidaknya untuk roda empat.

    Namun, sampai saat ini masih ada bahan bakar yang dijual dengan kualitas di bawah yang diperlukan. Akan tetapi, dia mengakui penerapan bahan bakar yang lebih bersih membutuhkan biaya.

    Selain itu, bahan bakar minyak adalah komoditas yang sangat politis sehingga perlu berhati-hati.

    “Bagaimana kita dapat meningkatkan kualitas dan juga memastikan bahwa itu tidak menambah beban anggaran negara kami, fiskal kami. Karena kami menyubsidi komoditas ini,” papar Rachmat.

     

  • Cuaca Hari Ini: Siap Payung, Jakarta dan Mayoritas Kota Bakal Hujan

    Cuaca Hari Ini: Siap Payung, Jakarta dan Mayoritas Kota Bakal Hujan

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofiska (BMKG) memperkirakan hujan berintensitas ringan hingga lebat mengguyur wilayah Jakarta dan sebagian besar kota pada Rabu (11/09/2024).

    Hujan berintensitas ringan berpeluang terjadi pada pagi hari di wilayah Kepulauan Seribu. Kemudian siangnya hujan ringan berpeluang terjadi di wilayah Jakarta Pusat dan Jakarta Barat.

    Sedangkan wilayah Jakarta Timur, Jakarta Selatan dan Jakarta Utara berpotensi hujan dengan intensitas sedang.

    Pada malam hari hujan dengan intensitas ringan berpeluang terjadi di wilayah Jakarta Pusat, Jakarta Barat dan Kepulauan Seribu. Hujan berintensitas sedang diperkirakan akan mengguyur wilayah Jakarta Utara.

    Di waktu yang sama, hujan disertai petir berpotensi melanda wilayah Jakarta Timur dan Jakarta Selatan.

    Tak hanya Jakarta, wilayah lainnya yang berpeluang hujan dengan intensitas sedang hingga lebat adalah sebagian wilayah Aceh, Sumatra Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan.

    Selain itu sebagian wilayah Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah juga berpotensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.

    Kondisi cuaca serupa berpotensi  mengguyur sebagian wilayah Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, Papua Tengah, Papua Pegunungan dan Papua.

    Suhu udara berkisar antara 16 hingga 34 derajat celsius dengan tingkat kelembaban udara antara 40 hingga 100 persen.

    Suhu terendah diperkirakan terjadi di Kota Jayawijaya dan suhu tertinggi diprediksi terjadi di Kota Kupang.

     

  • Seperlima Wilayah Jakarta Berada di Bawah Permukaan Laut, Seperti Ini Dampaknya pada Lingkungan dan Kehidupan Warganya

    Seperlima Wilayah Jakarta Berada di Bawah Permukaan Laut, Seperti Ini Dampaknya pada Lingkungan dan Kehidupan Warganya

    7cloud.asia – Salah satu masalah paling mendesak yang dihadapi Jakarta adalah naiknya permukaan laut yang bisa menenggelamkan sebagian wilayahnya.

    Dinas Sumber Daya Air Provinsi DKI Jakarta menyatakan bahwa sekitar 18-20 persen wilayah Jakarta telah berada di bawah permukaan laut, dan angkanya akan terus bertambah.

    Pada 2022, Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta menyorot kondisi ini lewat postingan di akun Instagramnya, @dinas_sda dan menyatakan kondisi permukaan laut lebih tinggi dari tanah Jakarta bukan mitos belaka.

    “Jakarta memangnya lebih rendah dari permukaan laut? Bukan sekadar mitos! Bukan sebuah rahasia lagi bahwa wilayah di #PesisirnyaJakarta lebih rendah dari permukaan air laut,” demikian kata Dinas SDA seperti dilihat, Kamis (8/12/2022).

    Dinas SDA menyebutkan dua faktor utama penyebab terjadinya kondisi tersebut. Pemanasan global (global warming) disebut menjadi faktor utama.

    “Cairnya es di daratan Kutub Utara menyebabkan peningkatan volume air dan membuat permukaan air laut menaik sehingga banyak daratan di bagian dunia lainnya berpotensi tenggelam,”

    “Kondisi ini juga diperburuk oleh penurunan muka tanah yang dipercepat oleh penggunaan air tanah yang masif dan luas,” tulis @dinas_sda dikutip detik.com.

    Baca: Naiknya permukaan laut menjadi masalah serius bagi lingkungan

    Melalui situs resminya, Dinas SDA menyatakan pada 2020 daerah Muara Baru, Jakarta Utara, permukaan tanahnya sudah hampir 1 meter di bawah permukaan laut.

    Sehingga dibutuhkan tanggul laut yang dapat menahan air laut masuk ke daratan yang dibangun dalam Kegiatan NCICD (National Capital Integrated Coastal Development).

    Pada 2021, berdasarkan penelitian yang dilakukan, sekitar seperlima wilayah Jakarta sudah berada di bawah permukaan air.

    “Pada Tahun 2021 Dinas Sumber Daya Air Provinsi DKI Jakarta bersama Institut Teknologi Bandung melakukan penelitian dengan hasil yang menyatakan bahwa sekitar 18-20 persen wilayah Jakarta sudah berada di bawah permukaan laut, dan angkanya terus bertambah,” tulis @dinas_sda 

    Dampak langsung dari naiknya permukaan air laut di Jakarta ini adalah risiko banjir yang semakin meningkat, yang selanjutnya akan mengancam ketahanan infrastruktur dan kehidupan sehari-hari warga Jakarta

    Dalam laporan Greenpeace, The Projected Economic Impact of Extreme Sea-Level Rise in Seven Asian Cities in 2030, hampir 17 persen dari total luas daratan Jakarta berada di bawah level kenaikan muka air laut jika banjir 10 tahunan terjadi pada tahun 2030.

    Baca: Pemanasan global mengakibatkan naiknya keasaman air laut

    Bagian utara Jakarta paling berisiko terkena banjir akibat kenaikan muka air laut karena memiliki elevasi rendah.

    ”Area yang berpotensi terkena dampak adalah bangunan perumahan dan komersial, Monumen Nasional dan Balai Kota Jakarta, serta pusat perbelanjaan di sepanjang pantai,” tulis Sherina Redjo di laman resmi greenpeace.org.

    Di sinilah keadilan kota menjadi isu utama, karena tak semua warga Jakarta memiliki kemampuan untuk melindungi diri dari dampak kenaikan permukaan laut ini

    Sementara sebagian warga mampu melindungi diri dengan membangun rumah yang lebih tinggi atau pindah ke wilayah yang lebih aman, banyak penduduk miskin tidak memiliki pilihan.

    Mereka terjebak dalam siklus kerugian ekonomi, sosial, dan kesehatan. Ketidakmampuan untuk beradaptasi dengan perubahan ini bukanlah semata-mata karena kekurangan sumber daya individu.

    Kondisi ini akibat dari ketidaksetaraan sistemik yang membuat mereka terpinggirkan dalam perencanaan kota.

     

  • Butuh Transportasi Publik Berkualitas untuk Atasi Polusi Udara di Jakarta

    Butuh Transportasi Publik Berkualitas untuk Atasi Polusi Udara di Jakarta

    7cloud.asia – Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) menyebut sumber utama polusi udara di Jakarta adalah sektor transportasi.

    Dimana hampir 70 persen sumber polusi udara Jakarta bersumber dari sektor tranportasi yakni emisi kendaraan bermotor, terutama kendaraan pribadi.

    Karena itu solusi tepat untuk mengatasi polusi udara di Jakarta adalah pembatasan kendaraan bermotor dan membenahi sistem transportasi publik yang hingga hari ini, bisa dibilang belum memadai.

    Seperti apa kondisinya dan apa rekomendasi yang ditawarkan berikut hasil kajian tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang telah terbit di The Conversation pada Agustus lalu,

    Upaya mengurai masalah transportasi publik seharusnya lebih difokuskan untuk menjadi jalan keluar masalah polusi udara Jakarta, tanpa menegasikan sumber-sumber polusi lainnya, seperti limbah pabrik dan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

    Kondisi transportasi Jabodetabek
    Selama ini, beberapa pihak menganggap pemerintah cenderung menyalahkan masyarakat yang enggan berpindah dari penggunaan kendaraan pribadi ke transportasi publik.

    Hingga saat ini, penduduk Jakarta dan sekitarnya cenderung masih memilih menggunakan kendaraan pribadi ketimbang kendaraan umum dalam melakukan mobilitas.

    Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kendaraan bermotor di Indonesia mencapai sekitar 148 juta kendaraan pada tahun 2022 dan didominasi oleh sepeda motor sebesar sekitar 125 juta unit.

    BPS juga mencatat produksi kendaraan bermotor dalam negeri mencapai 6,18 juta unit pada tahun 2021. Jumlah tersebut naik 42% dari tahun 2020 yang hanya berjumlah 4,35 juta unit.

    Di Jakarta, Korps Lalu Lintas Kepolisian Republik Indonesia mencatat jumlah kendaraan bermotor pada 2022 berjumlah sekitar 3,7 juta mobil dan 17,3 juta motor.

    Baca: Prokontra penerapan sistem ganjil genap pada sepeda motor

    Jumlah ini menunjukkan bahwa jumlah mobil dan motor meningkat sangat drastis berturut-turut sebesar 269persen dan 721persen dalam waktu dua puluh tahun terakhir.

    Dapat kita bayangkan betapa eksesifnya jumlah kendaraan bermotor di Jakarta saat ini.

    Di wilayah pinggiran Jakarta seperti Kota Tangerang, Banten, jumlah kendaraan pribadi (mobil dan motor) pada tahun 2022 juga tinggi, yakni mencapai sekitar 3,4 juta kendaraan.

    Sementara itu, jumlah kendaraan bermotor di kota penopang lainnya–Bogor, Depok dan Bekasi–berkisar 6,1 juta kendaraan.

    Dari sisi ekonomi regional, pemerintah daerah mungkin senang dengan banyaknya kendaraan bermotor, karena semakin banyak kendaraan, semakin banyak pula pajak yang dipungut; yang berpengaruh ke besaran Pendapatan Asli Daerah (PAD) masing-masing daerah.

    Namun dari sisi lingkungan, dapat kita bayangkan jika sekitar 30 juta kendaraan lalu lalang setiap harinya, berapa banyak emisi yang dikeluarkan ke udara?

    Transportasi publik belum memadai, kendaraan pribadi pilihan rasional
    Warga Jabodetabek memang lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi dalam melakukan mobilitas sehari-hari.

    Ini kemungkinan besar disebabkan oleh transportasi publik belum memadai serta mekanisme pembiayaan dan kepemilikan kendaraan pribadi yang kini semakin dipermudah.

    Baca: Pembatasan kendaraan bermotor mendesak dilakukan untuk atasi polusi udara di Jakarta

    Statistik Komuter tahun 2019 menyebutkan 91,6persen komuter Jabodetabek, alias pelaku perjalanan yang keluar-masuk Jakarta setiap hari, tidak memiliki keinginan untuk beralih ke moda transportasi umum.

    Beberapa alasannya adalah waktu tempuh lama, tidak praktis, dan jauhnya akses yang terintegrasi antarmoda transportasi. BPS juga mencatat bahwa 6 dari 10 komuter menggunakan sepeda motor sebagai moda transportasi utama.

    Belum memadainya sistem transportasi publik memantik berbagai siasat yang dilakukan oleh warga, di antaranya adalah mengompreng dan mengandalkan ojek daring, selain membeli dan menggunakan kendaraan pribadi.

    Pilihan ojek daring sebagai salah satu moda pengumpan juga sering kali dianggap menjadi alternatif, bahkan solusi, dari masalah yang ada.

    Namun, jika kita teliti lebih jauh, kepemilikan kendaraan pribadi dan adanya bisnis ojek daring justru menunjukkan bahwa sistem transportasi publik kita selama ini masih problematik.

    Upaya pemerintah yang sayangnya belum efektif
    Pembenahan transportasi publik di Jabodetabek sebetulnya bukan hal baru. Sudah banyak upaya untuk membangun dan memperbaikinya.

    Misalnya, DKI Jakarta sudah memiliki JakLingko, sebuah sistem transportasi terintegrasi mapan yang menggabungkan TransJakarta, minitrans (BRT) dan mikrotrans (non-BRT) sebagai moda pengumpan (feeder).

    Berbagai proyek infrastruktur besar seperti Moda Raya Terpadu (Mass Rapid Transit/MRT dan Lintas Raya Terpadu (LRT) juga dibangun untuk memenuhi kebutuhan transportasi publik massal di Jakarta.

    Baca: Penataan transportasi publik dan pembangunan kawasan berkonsep TOD

    Pertanyaannya, meski moda transportasi publik di ibu kota semakin beragam, apakah jalurnya sudah cukup menjangkau semua wilayah dan sistem pengumpannya sudah mendukung konektivitas dengan wilayah pinggiran?

    Di samping penyediaan infrastruktur, pemerintah juga sudah berupaya untuk mengajak warga untuk menggunakan transportasi publik demi lingkungan yang lebih baik.

    Misalnya, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memiliki program Gerakan Nasional Kembali Ke Angkutan Umum pada tahun 2022 dan Program Langit Biru.

    Kementerian Lingkungan Hidup (KLHK) juga melakukan uji emisi kendaraan sebagai bentuk dukungan terhadap pengendalian pencemaran udara.

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga telah mengajak warganya untuk turut menggunakan transportasi publik. Namun, semua itu belum mampu mengajak masyarakat beralih, sehingga butuh pembenahan struktural.

    Seperti apa seharusnya pembenahan itu harus dilakukan, akan diulas dalam tulisan selanjutnya.

    Penulis:
    Dwiyanti Kusumaningrum
    Researcher, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

    Anggi Afriansyah
    Peneliti, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

  • Cuaca Hari Ini: Jakarta Berpeluang Hujan dari Pagi Hingga Malam

    Cuaca Hari Ini: Jakarta Berpeluang Hujan dari Pagi Hingga Malam

    7cloud.asia – Hujan masih berpeluang mengguyur sejumlah kota di Indonesia. Bahkan wilayah Jakarta berpotensi hujan dari pagi hingga malam hari pada Kamis (12/09/2024).

    Dilihat dari akun youtube resmi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofiska (BMKG) hujan berintensitas ringan hingga hujan disertai petir berpeluang terjadi.

    Di seluruh wilayah Jakarta cuaca diperkirakan cerah dan berawan pada pagi hari, kecuali di wilayah Kepulauan Seribu. Di wilayah ini hujan dengan intensitas ringan berpeluang terjadi.

    Selanjutnya pada siang hari hujan berintensitas ringan berpotensi terjadi di wilayah Jakarta Barat, Jakarta Selatan dan Jakarta Timur.

    Kondisi cuaca serupa juga berpeluang terjadi di Jakarta Pusat, Jakarta Timur dan Jakarta Utara pada malam hari.

    Hujan dengan intensitas sedang berpotensi mengguyur wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Selatan.

    Untuk kota-kota lain di Indonesia, BMKG memperkirakan hujan berintensitas ringan terjadi di Kota Banda Aceh, Tanjung Pinang, Padang, Jambi, Pangkal Pinang, Bengkulu, Lampung.

    Selain itu Kota Bandung, Denpasar, Nabire, Jayapura dan Merauke juga diperkirakan hujan dengan intensitas ringan.

    Kemudian hujan dengan intensitas sedang berpeluang mengguyur Kota Mamuju dan Jayawijaya. Hujan disertai petir berpotensi melanda Kota Medan, Pekanbaru, Palembang, Pontianak dan Tanjung Selor.

    Suhu udara berkisar antara 11 hingga 34 derajat celsius dengan tingkat kelembaban udara antara 37 hingga 100 persen.

    Suhu terendah diperkirakan terjadi di Kota Jayawijaya dan suhu tertinggi diprediksi terjadi di Kota Palangkaraya dan Makassar.

  • BRIN: Butuh Pembenahan Struktural Transportasi Publik untuk Atasi Polusi Udara di Jakarta

    BRIN: Butuh Pembenahan Struktural Transportasi Publik untuk Atasi Polusi Udara di Jakarta

    7cloud.asia – Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) menyebut sumber utama polusi udara di Jakarta adalah sektor transportasi, yakni 70 persen sumber polusi udara bersumber dari emisi kendaraan bermotor, terutama kendaraan pribadi.

    Karena itu solusi tepat untuk mengatasi polusi udara di Jakarta adalah pembatasan kendaraan bermotor dan membenahi sistem transportasi publik yang hingga hari ini bisa dibilang belum memadai.

    Sudah banyak upaya yang dilakukan pemerintah untuk membangun dan memperbaiki transportasi publik di Jabodetabek. Namun, upaya itu belum cukup memadai.

    Misalnya, DKI Jakarta sudah memiliki JakLingko, sebuah sistem transportasi terintegrasi mapan yang menggabungkan TransJakarta, minitrans (BRT) dan mikrotrans (non-BRT) sebagai moda pengumpan (feeder).

    Berbagai proyek infrastruktur besar seperti Moda Raya Terpadu (Mass Rapid Transit/MRT dan Lintas Raya Terpadu (LRT) juga dibangun untuk memenuhi kebutuhan transportasi publik massal di Jakarta.

    Pemerintah juga terus berupaya mendorong warga untuk menggunakan transportasi publik demi lingkungan yang lebih baik.

     

    Baca: Butuh transportasi berkualitas untuk atasi polusi udara di Jakarta

    Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memiliki program Gerakan Nasional Kembali Ke Angkutan Umum pada tahun 2022 dan Program Langit Biru.

    Kementerian Lingkungan Hidup (KLHK) juga melakukan uji emisi kendaraan sebagai bentuk dukungan terhadap pengendalian pencemaran udara.

    Pembenahan struktural
    Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah, lalu mengapa belum optimal dalam mengajak masyarakat beralih ke transportasi publik?

    Pertama, solusi-solusi yang hadir selama ini hanya bersifat jangka pendek, seperti persuasi penggunaan kendaraan listrik, yang juga masih problematik, atau kebijakan ganjil genap dan 4-in-1.

    Meminjam pandangan sosiolog C. Wright Mills dari Columbia University, AS, transportasi publik pada dasarnya bukanlah personal troubles, tetapi merupakan isu publik yang perlu mendapat perhatian karena terkait dengan hajat hidup orang banyak.

    Baca: Metamorfosa Jakarta melalui penataan transportasi publik

    Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memiliki program Gerakan Nasional Kembali Ke Angkutan Umum pada tahun 2022 dan Program Langit Biru.

    Kementerian Lingkungan Hidup (KLHK) juga melakukan uji emisi kendaraan sebagai bentuk dukungan terhadap pengendalian pencemaran udara.

    Secara struktural, pemprov DKI Jakarta perlu membangun tata kelola transportasi publik yang terdesain dengan sistematik dan berkelanjutan.

    Sistem kereta rel listrik (KRL) CommuterLine bisa jadi contoh baik. Sistem transportasi berbasis rel warisan dari zaman Belanda ini berhasil mereformasi sistemnya dan menjadi salah satu moda paling diandalkan oleh komuter Jabodetabek karena jangkauannya (secara geografis dan ekonomis) yang baik.

    Namun demikian, sistem ini perlu didukung dengan transportasi publik pengumpan yang mendukung mobilitas warga menuju stasiun.

    Misalnya, pemerintah daerah khususnya di wilayah pinggiran dapat mengoptimalkan angkot menjadi pengumpan, sama halnya Jakarta mengoptimalkan mikrotrans sebagai feeder TransJakarta.

    Baca: Pemprov DKJakarta targetkan 55 persen warganya gunakan transportasi publik

    Di samping infrastruktur, pemerintah juga perlu membangun kultur bertransportasi publik. Dari sisi budaya publik, penggunaan transportasi publik akan optimal jika struktur penyediaan layanan transportasi yang aman, inklusif, aksesibel, dan ekonomis sudah berjalan.

    Penggunaan transportasi publik harus jadi bagian dari keseharian masyarakat dan ditanamkan sejak kecil.

    Dalam proses tersebut, proyeksi agar anak-anak terinternalisasi budaya menggunakan layanan transportasi publik sejak dini menjadi sangat krusial.

    Pembudayaan untuk menggunakan transportasi publik sejak dini perlu didukung dengan layanan infrastruktur yang memberi keamanan dan kenyamanan, seperti yang ada di Jepang.

    Kebijakan penyediaan bus sekolah di DKI Jakarta perlu diperluas cakupannya sehingga dapat dinikmati lebih banyak anak-anak usia sekolah di wilayah Jabodetabek.

    Upaya ini menjadi ikhtiar jangka panjang yang perlu diwujudkan dalam bentuk kebijakan yang lebih pro kepada masyarakat umum.

    Beriringan dengan kebijakan penanganan polusi udara lainnya, udara bersih yang merupakan hak setiap warga pasti dapat dihirup kembali.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Dwiyanti Kusumaningrum dan Anggi Afriansyah (Peneliti BRIN)